Kalau Bisa Dipersulit Kenapa Harus Dipermudah?
Editor | Kolom Tetap | November 25th, 2009
Oleh: Iftida Yasar*
Ingat iklan layanan masyarakat yang menggambarkan buruknya pelayanan publik di Indonesia? Sebagai rakyat, kadang untuk mengurus segala sesuatu harus dilalui dengan susah payah, dan waktu juga terbuang sia-sia. Urusan KTP sekarang sudah lancar, begitu juga pengalaman saya mengurus perpanjangan pasport, lancar dan pembayaran sesuai dengan harga yang tertera di loket. Sepanjang pengalaman saya, PLN sebagai satu-satunya perusahaan yang menyediakan listrik bagi kita, masih memberikan pelayanan yang buruk. Listrik bisa saja mati tiba-tiba, hanya PLN dan Tuhan yang tahu kapan listrik akan mati.
Coba bagi Anda penggemar olahraga sepeda, apakah anda menikmati enaknya bersepeda di kota Jakarta yang macet, berdebu, dan penuh dengan lalu lalang kendaraan yang tidak mau mengalah? Jika Anda nak bus kota, hanya busway yang agak lumayan, baik kebersihan, kenyamanan, maupun kelancarannya. Yang lain seperti metromini, angkot, ojek, bus kota, kereta api rakyat, semua memerlukan kesabaran, dan juga hati yang lapang untuk tidak protes karena tidak ada pilihan lain.
Hal ini berbeda dengan Jepang, teman! Di Jepang pepatah di atas tidak berlaku. Jepang sebagai negara yang memahami dan menjalankan dengan baik konsep negara kesejahteraan, mampu membuat rakyatnya menikmati dan bangga menjadi orang Jepang. Begitu memasuki bandara Narita, terlihat segala sesuatunya telah ditata dengan rapi. Mulai dari penataan interior yang menyejukkan, baik warna maupun perabot yang sederhana dan berkelas, sampai petugas yang melayani di bandara. Mereka menyambut tamu dengan ramah dan menggunakan bahhsa Inggris yang jauh lebih baik dibandingkan ketika saya ke Jepang tahun 1991. Petugas mampu menerangkan cara mengisi formulir barang yang kita bawa masuk Jepang. Petugas imigrasi berdandan ala anak muda sekarang, rambut gondrong tapi rapi, setelan jas yang modis, ramah, dan tidak berwajah angker.
Dari Narita ke Chiba kami naik bus limousin yang bersih dan mewah. Kopor bawaan juga dilayani sampai masuk ke dalam bagasi. Ada buku saya ketinggalan di dalam bus dan baru ingat dua jam kemudian. Oleh petugas hotel dibantu dicarikan pengemudi yang tadi mengantar saya. Dan, kami bertemu jam 16.16 sore, tepat di tempat yang sama dan dengan buku dikembalikan secara utuh. Sungguh pelayanan yang sopan, cepat, dan ramah.
Sore hari di tengah cuaca dingin saya belanja di Carefour terdekat dari hotel dengan berjalan kaki. Terlihat orang Jepang dengan santai naik sepeda di trotoar lebar yang khusus disediakan bagi pejalan kaki dan pemakai sepeda. Cuaca dingin tidak menghalangi semangat untuk bersepeda karena memang suasana kota memungkinkan untuk itu.
Di depan hotel tersedia payung umum yang boleh dipinjam bagi pengunjung hotel yang kebetulan tidak membawa payung. Jika sudah selesai harap dikembalikan dan lama meminjam tidak boleh lebih dari tiga hari. Tidak ada petugas yang mencatat siapa yang memakai payung dan kapan mengembalikannya, apakah lebih dari tiga hari, dan sebagainya. Tetapi, orang Jepang yang taat aturan akan mengikuti aturan pinjam-meminjam payung. Taman kota tertata rapih, gedung asrama bersih, dan di mana-mana tersedia fasilitas umum yang baik. Seperti: lobi ruang tunggu, kamar mandi yang bersih, kantin, serta kamar asrama yang rapih dan bersih. Wow, rasanya enak ya jadi rakyat Jepang, semuanya diperhatikan dengan baik oleh pemerintahnya.
Bagi saya, yang paling berkesan adalah fasilitas kamar mandi umum yang sangat nyaman. Toilet umum dilengkapi dengan berbagai tombol dengan warna berbeda sesuai kegunaannya. Ada tombol merah dengan tulisan stop, ada tombol hijau untuk membilas kalau kita buang air kecil, ada tombol pink untuk bilas buang air besar, dan yang paling hebat ada tombol putih yang jika dipencet akan mengalunkan lagu. Bagaimana pemerintah Jepang ingin membahagiakan dan melayani rakyatnya terjawab melalui kelengkapan toilet umum tadi. Bahkan, pada musim dingin seperti sekarang, jika kita duduk di toilet maka akan terasa hangat, begitu juga air bilasan disetel hangat.
Di tempat saya menginap dan mengikuti pelatihan namanya OVTA (Oversea Vocational Training Association), terlihat banyak pekerja Indonesia yang mengikuti kerja magang di Jepang. Anak-anak muda yang kelihatan gagah, tampan, dan memiliki semangat serta harga diri sebagai pekerja. Setiap kali bertemu mereka akan mengucapkan ”konichiwa” atau selamat siang, sambil menunduk dengan sopan. Sungguh membanggakan melihat anak bangsa yang kalau dididik dengan benar mampu membuat dirinya berkualitas. Budaya Jepang yang sopan, disiplin, dan semangat bekerja yang tinggi mampu dengan cepat diserap oleh mereka yang berada di lingkungan ini.
Indonesia kamu bisa! Hai…hai dozo, tapi kapan?![iy]
* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.
Leave a Reply