Jubah Kebesaran
Editor | Kolom Lepas | June 22nd, 2009

Oleh: X.L. Effendi Budi P.*
Baju yang dikenakannya malam itu nyaris seluruhnya hitam, tak terkecuali topinya yang tinggi menjulang, seperti topi pamannya orang Amerika. Dua buah kopor, warnanya juga hitam, tergeletak di atas meja malam itu menemaninya membuka praktik profesionalnya.
Malam itu, ia praktik tidak seperti biasanya; ia melakukannya di bawah kilatan cahaya yang saling silang, berikut backsound pun turut menyemarakkan suasana. Bukan di jalanan, tetapi di sebuah panggung megah yang ditonton jutaan orang, langsung maupun lewat televisi.
Dipraktikkannya beberapa nomor keahliannya yang selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir ini telah mampu menopang kehidupannya bersama keluarga. Selalu ada mantra yang diucapkannya setiap kali ia akan mengeksekusi praktiknya. Saya tak tahu pasti, apakah mantra yang diucapkannya adalah untuk memohon kekuatan kepada Yang Mahakuasa? Ataukah untuk meyakinkan para undangan, bahwa ia adalah ahlinya? Selalu ada tepuk tangan yang riuh untuknya; antara kekaguman atau rasa geli, saya tak paham. Dan, di akhir penampilannya terjadi standing applaus yang panjang sampai membuatnya nyengir kebingungan.
Dia adalah Sutarno. Pesulap jalanan yang Jumat Pahing malam lalu menjadi peserta acara ‘The Master-Mencari Bintang Tanpa Mantra’ yang disiarkan secara live oleh RCTI. Laiknya setiap laga, setiap peserta selalu dikomentari oleh para dewan juri, tidak terkecuali Sutarno yang sudah cukup sepuh (61 tahun) dengan pembawaan lugunya.
Juri pertama yang memberikan komentar adalah master mentalist yang baru memenangkan duel sebelumnya, yaitu Joe Sandy. Sambil berkaca-kaca, ia bercerita bahwa 30 tahun lalu, satu-satunya hiburan yang mampu disediakan oleh orangtuanya adalah menonton pesulap di pasar. Kesan tersebut sangat kuat tersimpan di memori otaknya, sehingga mendorongnya untuk belajar dan belajar tentang dunia magician, dan mengantarnya menjadi juara The Master.
Pengalaman yang sama juga dialami oleh master hypnosis Romy Rafael. Di masa kecilnya ia sering sekali melihat atraksi pesulap jalanan. Yang kemudian menginspirasinya untuk mempelajarinya. Ia menabung uang jajannya hanya untuk membeli ‘rahasia sulap’ yang dijual para pesulap jalanan.
Berbeda dengan pendapat dua juri terdahulu, master mentalist Deddy Corbuzier memberikan penilaian yang tidak merdu untuk didengar oleh siapa pun, apalagi oleh Sutarno. Deddy menilai, bahwa penampilan Sutarno tidak layak untuk disejajarkan dengan para kontestan lainnya, yang usianya jauh lebih muda dan lebih kreatif. Namun, di balik cacian yang dilontarkannya, Deddy mengakui tanpa Sutarno dan Sutarno-Sutarno yang lain, Indonesia (barang kali) tidak akan pernah lahir master-master baru yang sekarang ada. Sutarno, malam itu ditahbiskan sebagai The Master of Traditional Magician untuk pengabdiannya sebagai pesulap jalanan. Sutarno telah memenangkan laga tanpa tanding. Dan, jubah kebesaran The Master telah dikenakan kepadanya. Salut!
Drama di atas memicu syaraf saya, mengontak otak saya untuk membongkar memori, mencari para inspirator yang telah menanamkan benih hikmatnya untuk bekal perjalanan hidup saya. Saya jadi teringat guru bahasa yang mangajar sewaktu masih di SD, yaitu Pak Hasyim.
Ia yang mengajari saya bagaimana berbahasa yang baik. Dia bertutur bukan hanya mengajarkan bahasa, tetapi ia menanamkan nilai-nilai. “Bahasa menunjukkan bangsa,” katanya suatu ketika. Saat itu, saya mengartikannya sebagai ‘nasionalisme’, tentang keutuhan bangsa dengan bahasa sebagai pemersatunya. Dalam perjalanan waktu, saya bisa menemukan nilai-nilai lain dari ungkapan itu. Bahasa yang ia ajarkan sudah memberikan banyak capaian dalam hidup saya.
Selain ia, masih banyak master lain yang menginspirasi perjalanan ziarah hidup saya. Saya yakin, masih ada master-master lain yang akan memberikan warna-warna baru dalam setiap perjalanan.
Sering kali kita lupa dengan benih-benih hikmat yang sudah ditanamkan pada diri kita oleh leluhur, guru, sahabat, teman, atau siapa saja. Bahwa, sekarang benih-benih hikmat itu sudah menghasilkan banyak buah, dan membuat hidup kita kaya. Saya percaya mereka ikhlas melakukannya untuk kita, tetapi sudah layak dan sepantasnya bila kita memberikan penghargaan kepada mereka semua atas dedikasi dan pengabdian mereka kepada hidup kita. Saya akan berusaha mencarinya, dan akan kukenakan jubah The Master kepada mereka dalam lawatan silaturahmi saya. Semoga![ebp]
* XL. Effendi Budi P. adalah seorang public speaker dan penulis buku Branding You with Your Smile dan Rahasia Sukses Membangun dan Mengelola Bengkel/Toko Spare Parts Motor. Ia adalah pendiri GroEdu yang bergerak di bidang konsultansi bisnis dan pelatihan.
June 23rd, 2009 at 4:14 pm
Setiap kali melihat atau menikmati suatu produk, mungkin kita hanya terpancang pada performance produk ybs, lalu memuji atau sebaliknya mencemoohkannya. Kebanyakan dari kita tidak mau menengok bagaimana suatu produk dilahirkan dan siapa yang bergulat melahirkannya, padahal tak jarang terdapat nilai-nilai kehidupan yang tak kecil di dalam proses dan pergulatan pelakunya. Dalam kasus produk permainan sulap Pak Sutarno yang mungkin sangat sederhana ini, Deddy Corbuzier termasuk orang yang bersedia menengok proses dan pergulatan pelakunya, yang lalu tampaknya Deddy Corbuzier mampu menangkap sebuah nilai di dalamnya. Salut untuk Deddy dan juga untuk RCTI yang memberi tempat bagi orang kecil semacam Pak Sutarno, mudah-mudahan selalu ada tempat di RCTI juga di media penyiaran yang lain untuk orang-orang kecil. Penghargaan setinggi-tingginya saya tujukan kepada Pak Sutarno, yang dengan keterbatasannya, beliau telah berjuang mengalahkan tantangan hidup dengan cara yang dipilihnya: bergulat menampilkan pertunjukan yang sederhana untuk menghidupi keluarga dengan memberikan hiburan kepada sejumlah orang. Meskipun ada yang geli melihat produk Bapak, tetapi bukankah rasa geli itu mendatangkan rasa senang, alias menghibur juga?