Jika Masih Hak Kita, Akan Tetap Milik Kita
Editor | Kolom Lepas | March 23rd, 2009
Oleh: Fita Irnani*
Suatu ketika, saya menerima sebuah pesan melalui SMS dari seorang teman saya, yang berbunyi, “Ini nomor saya yang baru, mohon di-save. Nomor lama hilang berikut handphone-nya. Terima kasih.” Dalam hati terbersit perasaan iba, karena saya pernah mengalami kehilangan yang sama.
Sekitar lima tahun yang lalu, di bulan Desember, handphone saya tertinggal di dalam taksi. Suami saya yang kala itu bersama saya, segera menghubungi pool taksi tersebut. Sialnya, saya tidak mampu mengingat dengan pasti nomor pintu ataupun nama si sopir taksi. Saat itu, saya benar-benar mengalami apa yang namanya kehilangan benda kesayangan dan kebanggaan, karena kala itu masih sedikit orang yang memiliki handphone berkamera seri terbaru keluaran sebuah merek terkenal.
Butuh cukup lama untuk melupakan kekecewaan saya. Berbagai pertanyaan muncul di kepala saya, mungkinkah ini hukuman Tuhan untuk saya? Benarkah selama ini saya kurang berbuat amal? Apakah saya pernah mengambil apa yang bukan hak saya? Apakah sopir taksi atau penumpang lain, atau siapa pun yang menemukan handphone itu adalah orang jahat yang, yang dengan sengaja mengambil keuntungan atas kehilangan barang saya? Begitu banyakkah orang tidak jujur saat ini? Sejak saat itu, saya trauma untuk memiliki handphone bernilai jutaan rupiah.
Dua tahun setelah kejadian tersebut, saya tergoda untuk kembali membeli handphone merek yang sama dengan tipe berbeda. Tentu saja dengan tingkat kecanggihan yang berlipat lebih tinggi. Ada cerita menarik dari handphone milik saya ini. Suatu ketika, entah bagaimana ceritanya, saya tidak menyadari jika handphone ini tertinggal di meja salah satu teman kerja di kantor. Berselang sekitar satu jam, tiba-tiba teman saya menghampiri saya, dan berkata, “Ini handphone kamu, barusan ketinggalan di meja saya.” Saya hanya terpaku dalam keheranan. “Astaga, rupanya handphone saya tertinggal di meja orang,” batin saya.
Beberapa waktu kemudian, kembali handphone saya tertinggal di sebuah pusat jajan yang berlokasi di depan kantor saya, di kawasan Sudirman. Kala itu, bahkan saya sudah beranjak sekitar 60 meter meninggalkan kedai bakso tempat saya makan siang. Saya terkejut dengan panggilan si ibu pemilik warung, yang berusaha menghentikan langkah saya sambil melambai-lambaikan handphone saya. Masya Allah, untuk kedua kalinya handphone saya tertinggal di tempat umum. Selama dua tahun ini, saya mencatat sudah lima kali handphone saya tertinggal di tempat umum, dan saya bersyukur karena barang ini selalu kembali kepada saya.
Pada saat terjadi kehilangan barang, terkadang kita merasa mendapat kesialan, merasa diperlakukan tidak adil, berpikir negatif terhadap si pengambil, dan bahkan kita mulai menghitung jasa ataupun amalan yang pernah kita keluarkan. Kita sering menjumpai berbagai kasus kriminal yang bermula dari masalah kehilangan. Orang sanggup menghilangkan nyawa orang lain karena kehilangan kekasih, kehilangan pekerjaan, kehilangan jabatan, kehilangan tanah, dan kehilangan hak-hak yang lainnya. Namun, kita sering lupa bahwa kehidupan berjalan karena diatur oleh Sang Mahapengatur. Apa yang terjadi pada diri kita merupakan bagian dari rencana-Nya.
Hal yang paling mudah untuk menjauhkan diri kita dari pikiran-pikiran buruk, sebagai upaya memaknai kehilangan, adalah dengan mencoba bertanya kepada diri sendiri, apakah yang sudah kita lakukan selama ini? Apakah kita pernah sedikit saja tergelincir mengambil hak orang lain, tanpa kita sadari? Apakah kita pernah—sengaja atau tidak sengaja—menghilangkan hal yang sama dari orang lain? Sudahkah kita penuhi keranjang amal kita dengan amalan baik? Apakah kita sudah menjalani kehidupan sesuai rambu-rambu yang ditetapkan oleh Sang Pencipta melalui ajaran agama masing-masing?
Menjauhkan fikiran negatif dalam memaknai kehilangan dapat pula dilakukan dengan mendatangkan pikiran-pikiran positif, “Barangkali, hal itu masih bukan hak kita; barangkali orang yang menemukan barang itu lebih membutuhkan; barangkali ini teguran dari Tuhan atas kekhilafan kita di masa lalu; barangkali saat ini kita masih belum pantas untuk memilikinya; barangkali akan ada sesuatu yang lebih besar yang lebih berharga akan kita dapatkan.”
Saya percaya, dengan mendatangkan pikiran-pikiran positif dalam memaknai kehilangan, itu akan menumbuhkan energi positif yang membawa kita pada suatu bentuk keikhlasan.
Sesungguhnya, tidak ada asap jika tidak ada api. Sesungguhnya, Sang Mahamengetahui tidak pernah lalai mencermati sepak terjang umat-Nya. Saya meyakini, apa yang ditetapkan Tuhan masih menjadi hak kita, walaupun seberapa sering hal itu terambil dari kita. Maka, dengan sendirinya melalui tangan-tangan-Nya, Tuhan akan mengembalikannya kepada kita dalam bentuk yang sama, atau dalam bentuk yang lebih istimewa.[fi]
* Fita Irnani, lahir 13 Juni 1975, menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota Semarang. Saat ini bertempat tinggal di kota Bogor dan bekerja sebagai HR Executive pada sebuah perusahaan multinasional di Jakarta. Fita dapat dihubungi melalui email: acho_fit[at]yahoo[dot] co[dot]id.
March 24th, 2009 at 9:25 am
Tulisan yang cerdas.
Apakah anda tidak merasa memerlukan seorang pembimbing spiritual?
March 25th, 2009 at 11:24 pm
wah..bagus..ceritanya..saya juga pernah mengalami hal seperti itu..mula2 dongkol,tetapi pelan2 bisa memahami mengapa diberi “kado ujian” tersebut dariNYA…terus nulis ya bu…sukses ya
March 26th, 2009 at 10:17 pm
Gak ada barang yang hilang, cuma berpindah tangan. Apa lagi cuma barang, energi yang tidak nampak pun tak pernah hilang, hanya berubah bentuk. Enak dibaca lho Bu Fita. Cheers…
March 27th, 2009 at 12:45 pm
menurut saya ,semua rentetan kemujuran itu terjadi karena kita sudah mampu mengkondisikan diri dalam keadaan pasrah dan lepas dari sifat keterikatan akan barang…