Jangan Sampai Terlambat dalam Singkatnya Hidup

lhOleh: Lianny Hendranata*

Malam terasa panjang bagi orang yang berjaga,

Jalan terasa jauh bagi orang yang lelah,

Waktu terasa semakin lama bagi orang yang sedang menanti. Itulah waktu.

Waktu adalah salah satu berkat dari Tuhan yang boleh kita nikmati dan kita pakai sebagaimana kita mau. Tetapi, waktu juga adalah sesuatu di mana kita harus bertanggung jawab terhadap penggunaannya. Suatu hal yang pasti adalah setiap orang mempunyai waktu yang sama, yaitu 24 jam dalam satu hari perjalanan hidupnya. Pertanyaan kita, berapa waktu yang kita siapkan untuk pasangan hidup kita?

Banyak dari kita mengejar kesuksesan karier, sampai kita lupa dengan orang-orang yg kita sayangi. Kadang kita tinggal mereka berhari-hari. Dan seandainya kita ada di rumah pun, sering kali mereka hanya kebagian pemandangan ‘kesibukan’ kita yang selalu menatap layar monitor.

Tak akan pernah terlalu awal untuk mengucapkan kata-kata yang baik bagi seseorang yang kita sayangi. Tak akan pernah terlalu awal untuk melakukan sesuatu yang membahagiakan bagi pasangan kita. Karena, Anda dan saya tidak akan pernah tahu seberapa cepat hal tersebut akan terlambat dikatakan dan terlambat untuk dilakukan! Maka, katakanlah hari ini, dan lakukanlah hari ini. Jangan tunda sampai besok karena mungkin besok sudah terlambat!

Cerita tentang Penyesalan

Seorang dokter berpangkat kolonel di suatu negara berprestasi sangat cemerlang. Dengan demikian, dia dipercaya oleh kalangan atas untuk merawat kesehatan diri mereka pada dokter yang sangat pandai tersebut. Setiap hari, hidupnya dipenuhi oleh jadwal tugas yang membuat orang lain berdecak kagum, karena tidak semua dokter mendapat kesempatan berprestasi seperti itu. Hari demi hari dilalui dengan prestasi yang menjulang. Semakin tinggi dan tak terbilang hadiah dan fasilitas hidup yang menggiurkan telah diterimanya.

Begitu penuh jadwal hidupnya untuk mengurus orang lain, pergi berhari-hari menemani jenderal ini dan itu, pergi berminggu-minggu untuk menemani presiden ke luar negeri, dan sebagainya. Untuk bertemu muka dengan istri dan anak-anaknya sungguh hal yang langka. Dan, keadaan ini terus berlanjut dari waktu ke waktu.

Sampai suatu hari sepulang dari luar negeri menemani dan merawat pejabat tinggi yang sedang sakit, setiba di depan rumahnya, sang dokter melihat tenda terpasang dan kerumunan para kerabat dan tetangganya. Dalam hati sang dokter bertanya: “Ada apa gerangan di rumahku?” Begitu keluar dari mobil, dia langsung bergegas masuk menguak kerumunan para tamu yang menyampaikan ucapan belasungkawa.

Setiba di ruang tamu rumahnya, sang istri tercinta telah terbujur kaku. Wanita yang menjadi belahan jiwanya, wanita yang selama ini ditinggalkannya bepergian demi menjalankan tugas-tugas merawat dan mempertahankan hidup orang lain. Tapi, satu-satunya wanita yang diinginkan dalam hidupnya saat itu terdiam kaku. Sang istri meninggal setelah menderita sakit parah yang cukup lama, dan dia tidak mampu merawatnya, apalagi memperpanjang masa hidupnya.

Maka, tercenunglah sang dokter. Dia bertanya, “Ke mana saja aku ini? Kapan terakhir aku makan bersama dengan wanita kesayanganku? Kapan terakhir kali aku memeriksa kesehatannya? Kapan terakhir kali aku mengucapkan selamat berulang tahun untuknya? Oh, sudah lama, lama sekali…!”

“Sekarang aku ingin mengucapkannya, sekarang aku ingin makan bersamanya, sekarang aku ingin tidur bersamanya, tapi sudah terlambat! Tidak ada hari esok lagi untuk melakukannya,” keluh sesal sang dokter.

Seorang penulis tak dikenal telah menuliskan kata-kata yang menggugah perasaan:
Lebih baik kumiliki setangkai mawar mungil dari kebun seorang sahabat daripada memiliki bunga-bunga pilihan ketika hidupku di dunia harus berakhir.

Lebih baik mendengar kata-kata yang menyenangkan yang disampaikan dengan kebaikan kepadaku pada saat aku hidup daripada pujian saat jantungku berhenti berdetak dan hidupku berakhir.

Lebih baik kumiliki senyum penuh kasih dari sahabat-sahabat sejatiku daripada air mata di sekeliling peti jenazahku ketika pada dunia ini kuucapkan selamat tinggal.

Bawakan aku semua bungamu hari ini. Lebih baik kumiliki setangkai yang mekar saat ini daripada satu truk penuh ketika aku meninggal dan diletakkan di atas pusaraku.

Jangan sampai kita menyesal dalam hidup ini. Hidup terlalu singkat untuk dipakai “tidak peduli terhadap pasangan, anak dan keluarga” serta memendam “merasa kecewa dan marah”. Jadikan sentuhan, pelukan, dan kemesraan sebagai alat untuk membangun fondasi yang kuat dalam hal membina hubungan suami-istri. Sama seperti otot, kasih dapat menjadi kuat jika sering digunakan. Sebaliknya, kasih juga bisa mati jika tidak disertai perbuatan.

Mudah-mudah belum terlambat bagi saya dan pembaca untuk memulai mengatakan apa yang seharusnya dikatakan, apa yang seharusnya dilakukan untuk membahagiakan pasangan, anak dan keluarga.[ln]

* Lianny Hendranata adalah penulis enam buku kesehatan, kolomnis harian Suara Pembaruan, majalah Wanita & Kesehatan, portal Okezone.com, dan majalah Indonesie yang terbit di Belanda. Selain itu, ia adalah seorang pembicara seminar, instruktur healing energy, trainer autohipnosis, konsultan kesehatan energi aura dan cakra, instruktur kesehatan dan kecantikan dengan metode Tai Chi, sekaligus Direktur Srikandi Internusa dan Inspiration Centre. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: ray_and_mel[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 4.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

4 Responses to “Jangan Sampai Terlambat dalam Singkatnya Hidup”

  1. edjanuari Says:

    terimakasih atas tulisannya, menyentuh dan tepat sasaran bagi yang bersedia merenungkannya. 24 jam sehari lebih dari cukup untuk berkarya tanpa melupakan orang terdekat kita.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. sofa nurdiyanti Says:

    Bagus banget… sangat menyentuh….
    makasih bu lia…
    hamasah

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Lianny Hendranata Says:

    Sofa, Trims sdh membacanya, semoga jd bahan renungan utk kita semua,

    salam bahagia selalu utk semua.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Lianny Hendranata Says:

    Edjanuari, trims sdh membaca, mari kita ambil hikmah dari cerita ilustrasinya, semoga ada manfaat yg bisa kita ambil utk hidup ini.

    salam bahagia selalu

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox