Jangan Remehkan Potensi Anda!
Editor | Kolom Lepas | October 13th, 2009
Oleh: Radinal Mukhtar Harahap*
Kapal besar itu berlayar kencang menentang ombak. Seluruh awak bekerja keras untuk menjaga keseimbangan kapal. Begitu pula dengan kapten kapal. Walaupun terlihat santai, otaknya tetap berjalan untuk berpikir. Hingga akhirnya, terjangan ombak pun menyurut dan kapal dapat berlayar dengan tenang.
“Kapten, di salah satu badan kapal ada sekumpulan rayap!” ujar salah seorang awak kapal.
“Apakah mereka banyak?” tanya kapten.
“Tidak kapten. Hanya satu atau dua rayap saja!”
“Ah.. tidak apa-apa!” jawab kapten acuh.
Kapal pun kembali berlayar. Hari demi hari berganti. Hingga suatu hari, salah satu awak kapal melaporkan bahwa salah satu badan kapal mengalami kebocoran. Kayu yang menjadi badan kapal tersebut dimakan oleh rayap. Dan yang lebih parahnya, rayap yang awal mulanya hanya dua, kini telah menjadi banyak. Bahkan, di setiap sudut kapal rayap tersebut ada.
Kapten kapal kebingungan. Namun apa boleh buat. Kebocoran yang ada di mana-mana tak lagi dapat diperbaiki. Dan, kapal besar itu akhirnya tenggelam hanya karena sebuah rayap kecil yang terus berkembang biak.
****
Sungguh, Tubuh manusia adalah sebuah maha karya yang sangat luar biasa. Manusia memiliki jantung yang mampu berdetak 100 ribu kali sehari secara otomatis dan mampu memompa 1.500 galon darah setiap harinya. Manusia juga memiliki pembuluh darah yang apabila diurutkan dari ujung awal hingga ujung akhir, panjangnya akan cukup untuk mengelilingi bumi pada garis ekuator sebanyak dua kali. Begitu pula dengan mata yang mampu mendeteksi lebih dari 10 juta warna yang berbeda secara instan. Otot yang jika dioptimalkan untuk bekerja sama, akan memiliki kekuatan yang setara dengan 25 ton. Sungguh luar biasa.
Belum lagi jika kita membahas tentang otak yang mampu membentuk koneksi belajar hingga kecepatan 3 miliar koneksi per detiknya. Ini menunjukkan bahwa dalam satu detik, otak mampu membuat koneksi lebih banyak dibanding dengan koneksi yang dibuat oleh pengguna internet di seluruh dunia dalam tiga hari. Sekali lagi, sungguh sangat luar biasa.
Namun, tanpa kita sadari, kita sering meremehkan potensi besar yang berada dalam diri kita tersebut. Kita lebih sering mengandalkan kalkulator, walaupun untuk hitungan yang sangat sederhana sekalipun, untuk menghitung padahal kita mempunyai otak yang lebih brilian dari pada kalkulator itu sendiri. Kita juga sering meremehkan keberhasilan-keberhasilan kecil yang kita raih. Padahal, sebagaimana kisah di atas tadi, dari hal-hal kecil sering muncul sesuatu yang besar, yang tidak kita pikirkan sebelumnya.
Apa yang dialami oleh Joe Sandy, The Master, mungkin dapat menjadi contoh. Siapa yang menyangka bahwa keberhasilan mengisi TTS, sesuatu yang sering kita lakukan untuk mengisi waktu-waktu kosong, telah menjadikannya sebagai The Master perdana dalam acara tersebut? Siapa pula yang menyangka bahwa ia yang dahulunya adalah seorang sales, pekerjaan yang bagi sebagian orang adalah pekerjaan yang tidak bergengsi, telah mendidiknya untuk lancar berkomunikasi, sehingga jika dibandingkan dengan para peserta The Master lainnya, komunikasi yang disampaikan Joe adalah yang terbaik akibat teraturnya kata-kata (Majalah Motivasi Luar Biasa, No. 10, Hal 32-34).
****
Jika potensi yang ada dalam diri manusia dikelompokkan, setidaknya kita mendapatkan bahwa manusia tersebut mempunyai empat:
1. Potensi yang berada dalam tubuh (Physical Quotient), yaitu potensi-potensi ataupun kecerdasan-kecerdasan yang terdapat dalam tubuh kita masing-masing.
2. Potensi yang berada dalam perasaan (Emotional Quotient) yaitu potensi-potensi yang berada dalam pengelolaan perasaan atau emosi.
3. Potensi yang berada dalam otak (Intellectual Quotient), yaitu potensi-potensi yang menjamin kemampuan seseorang untuk melakukan tugas tertentu dengan hasil yang baik.
4. Potensi yang berada dalam keyakinan (Spiritual Quotient), yaitu potensi-potensi yang menjadikan seseorang mampu memilih antara yang benar dan yang salah.
Nah, tugas utama kita bukanlah memilih salah satu potensi tersebut dan mengabaikan potensi lainnya. Tugas yang paling utama adalah mengoptimalkan segala potensi tersebut untuk menjadi manusia-manusia yang luar biasa, yang mampu melihat peluang di segala hal. Bukan manusia yang selalu mengeluh karena tidak adanya peluang.
Memang, untuk mencapai manusia yang mampu mengoptimalkan potensi-potensi tersebut bukanlah hal yang mudah. Butuh latihan dan juga kerja keras yang tidak sebentar. Namun percayalah, tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau terus berproses. Berproses untuk terus berkembang.
Akhir kata, jangan pernah meremehkan potensi yang ada dalam diri Anda walaupun terlihat kecil. Sebagaimana rayap, dari potensi-potensi kecil tersebut akan mampu menenggelamkan kapal dunia. Potensi-potensi tersebut, jika terus diasah, akan menjadi kekuatan yang besar. Yang bukan saja akan bermanfaat bagi diri kita sendiri, namun akan sangat bermanfaat bagi orang-orang yang di sekitar kita. Semoga![rmh]
* Radinal Mukhtar Harahap adalah alumnus PP. Ar-Raudhatul Hasanah Medan. Kini dipercaya sebagai ketua Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSS MoRA). Dapat dihubungi di pos-el: radinal88[at]gmail[dot]com atau di nomor telepon: 081331185527.
October 19th, 2009 at 5:45 pm
mumtaz brother brother
lanjut truz………
October 19th, 2009 at 5:45 pm
great…
ana mw nanya, gimana cara kita merasakan ke-4 potensi itu? kemudian setelah kita merasakannya, bagaimana kita merespon ke-4 potensi itu??
October 19th, 2009 at 5:47 pm
Wah ANDA LUAR BIIASA !!!!!!
Kami bangga !!!!
October 19th, 2009 at 6:05 pm
good news.. tp kita sendiri bingung menempatkan diri kita sendiri, kurang pandai mencari peluang atau bahkan malu akan suatu hal yamg kecil…
mungkin karena adanya keragu-raguan,
tpi bgaimana cara menghilangkan problem tsbt???
pa bedanya nasib seseorang dgn potensi diri seseorg itu??/
October 19th, 2009 at 6:38 pm
ini merupakan ilmu yang gak pernah aku dapatkan. karena aq emang sering meremehkan potensi q sendiri.
mungkin karena aku ak percaya diri kalee..
tapi mudah2n aku bisa sadar diri agar bisa mawas diri,
thanks sob atas kolomnya
October 19th, 2009 at 10:12 pm
mantappppppp
bangetttt
October 20th, 2009 at 7:09 am
@ Nurul Fahmi:
Bagaimana cara kita merasakan ke empat potensi itu?
Sejak kita lahir, potensi itu telah ada pada diri kita. Kita tidak perlu mencari bahkan menunggu potensi itu datang. Dalam kegiatan sehari-hari, pastilah kita merasakan ada ‘Kelebihan-kelebihan’ yang kita punya. Dan pada kelebihan itulah kita harus fokus untuk menjadi seorang yang spesialis…:D
Bagaimana kita merespon ke empat potensi tersebut?
Tugas kita adalah mengembangkannya. Sekali lagi, bukan menunggu atau mencari potensi tersebut. Hanya mengembangkannya. Potensi itu telah ada pada diri kita masing-masing.
October 20th, 2009 at 7:14 am
@ Saad:
Bagaimana cara menghilangkan problem tersebut?
Percayalah pada diri sendiri. Karena siapakah yang akan mempercayai diri kita kalau kita sendiri tidak mempercayai diri sendiri. Hilangkan rasa malu dan ragu-ragu terebut. Take Action Stop Dreaming….. Laa Tuakhir ‘amalaka ilal ghod, ma tastati’ an ta’malal yauma…:D
Nasib vs potensi?
Setiap manusia diciptakan untuk menjadi yang terbaik karena diciptakan sebagai makhluk yang terbaik. Dengan mengembangkan potensi yang ada, kita telah menjalani proses untuk menjadi yang terbaik. Namun sayangnya, banyak orang yang ‘malas’ mengembangkan potensinya. sehingga ujung-ujungnya mengatakan, “ya dah lah.. ini memang nasibku..!”
Jadi konsentrasi kepada potensi lebih baik dari pada menyerahkan diri pada nasib….:D
October 20th, 2009 at 8:05 am
T.O.P B.U.A.N.G.E.T.
Ini bs menjadi penambah motivasi n m’btk kepercayaan diri..
Thanks nal..;)
October 20th, 2009 at 10:35 am
Ini membuat kita jadi lebih percaya diri ..
Maju Terus__
October 20th, 2009 at 3:21 pm
sungguh kata-kata yang MENGGUNCANG JIwa sang pembaca, pembangkit semangat, pemusnah rasa takut untukmenatap mas depan, saatnya menataap dunia
October 20th, 2009 at 5:20 pm
kira2 latihan nya pa ja tuh..
yang perlu..
October 20th, 2009 at 5:21 pm
sebenarnya ana iri liat semua rang bisa nulis pa lagi kaya tulisan akhi ne
gmna se akhi caranya kok bisa keren gne
jangan lupa akhi ajari ana