Jangan Pernah Berhenti Bertumbuh
Editor | Kolom Lepas | September 29th, 2009
Oleh: Surya Rachmannuh*
“Hanya dengan bertindaklah kita akan melihat suatu saat nanti
kita akan memetik hasil dari yang telah kita tanam hari ini.”
~ Surya Rachmannuh
Bila Anda merasakan hari-hari ini beban menekan Anda, Anda harus bertahan. Teruslah bertumbuh dan mencari ke dalam diri untuk melihat potensi Anda kembali. Agar lebih jelas, saya berikan ilustrasi berikut ini yang berjudul “Cara Menanam Pohon Kurma di Padang Pasir”. Kisah ini hasil modifikasi dari situs Wikipedia yang saya ambil dari naskah buku saya yang akan terbit dengan judul “Menjadi Pribadi Champion”.
Ada seseorang melakukan percobaan untuk menanam benih kurma di padang pasir. Kelompok bibit kurma yang pertama ditanam dengan cara diletakkan sebuah batu besar di atasnya. Sedangkan kelompok bibit kurma kedua ditanam dengan cara yang biasa yaitu ditanam dalam lubang dengan kedalaman kurang lebih 20 cm.
Sebagai informasi, pohon kurma termasuk jenis pohon palem dan akan menghasilkan buah setelah mencapai usia 8 tahun. Kelompok bibit kedua dengan cepat menunjukkan pertumbuhan dan perkembangannya, sedangkan kelompok bibit pertama belum menunjukkan pertumbuhannya sama sekali.
Satu windu berlalu, kelompok bibit kedua mulai menampakkan hasil dan manis sekali buahnya. Sedangkan kelompok bibit pertama baru berkembang dan belum menghasilkan buah sama sekali. Pada tahun kesembilan, kelompok bibit kedua barulah menghasilkan panen yang berikutnya, sedangkan kelompok bibit pertama baru menampakkan hasil panennya. Demikianlah, secara hasil kita dapat mengatakan bahwa kelompok bibit kedua merupakan kelompok bibit yang cepat membawakan hasil dibandingkan denagn kelompok bibit pertama.
Suatu ketika atas penentuan alam, terjadilah badai besar. Kekuatan alam yang ada di padang pasir menunjukkan kedahsyatannya. Seluruh area padang pasir itu penuh dengan gemuruh, topan badai melanda termasuk area penanaman pohon kurma tersebut. Kelompok bibit kedua yang ditanam dengan cara yang biasa, hilang lenyap ditelan badai, tidak ada yang tersisa.
Kelompok bibit pertama yang ditanam dengan cara meletakkan batu besar di atasnya juga mengalami banyak kerusakan. Buah kurma yang tergantung dan terbungkus itu pun hilang ditelan badai. Beberapa helai daun patah, namun kelompok pertama ini tetap berdiri tegak, tidak tergoyahkan oleh badai topan di gurun pasir.
Sekarang baru terlihat apa alasan kelompok bibit pertama ini ditanam dengan meletakkan batu besar di atasnya. Cara ini kelihatannya tidak lazim. Tetapi, karena ada batu besar yang menghambat pertumbuhan pohon kurma ke atas, itu menyebabkan mereka bertumbuh ke bawah. Akar mereka tumbuh ke bawah mencari sumber mata air yang cukup untuk bertahan hidup. Setelah akar-akar itu menjadi kuat, tibalah saatnya bagi kelompok bibit yang pertama itu untuk membalikkan batu besar yang menekan diri mereka.
Sebuah momentum terjadi. Sejak saat itu, barulah mereka bertumbuh dan berkembang secara alami dan memang sedikit kurang cepat dibandingkan dengan kelompok bibit kedua yang tumbuh dengan normal tanpa ada tekanan batu besar di dalamnya. Terkadang, lewat proses penekanan ini mereka belum menampakkan potensi aslinya. Namun, bila sudah benar-benar matang, mereka akan menghasilkan buah, manis rasanya, dan dapat dinikmati oleh banyak orang.
Kita perlu mengubah cara pandang kita, bahwa segala sesuatu hal yang menekan kita itu sejatinya adalah sebuah peluang bagi kita. Maksudnya adalah peluang untuk menyikapi perubahan yang terjadi di sekitar kita dengan mengubah pola pikir, dengan menggali potensi, dengan harapan kita juga dapat mengubah tindakan kita. Maka, tindakan itulah yang akan mewujudkan harapan kita menjadi sebuah kenyataan. Terbaliklah “batu besar” yang menjadi beban kita selama ini sehingga kita dapat bertumbuh dan berkembang sesuai dengan hukum alam.
Dalam hidup ini, setiap orang diuji dengan cara yang berbeda. Semua orang akan tampak sama dan penuh dengan motivasi dalam hidup ini. Namun, ketika badai kehidupan datang, yang dapat membuat orang bertahan adalah pengenalan diri akan potensi, bakat, minat, dan pengalaman pribadi dalam menghadapai tantangan hidup sebelumnya. Itulah yang membuat kita kembali kuat menahan seluruh eksistensi keberadaan diri kita.
Lebih baik kita melakukan inisiatif perubahan tindakan dibandingkan kita mengeluhkan keadaan di luar kita yang seakan mengimpit kita. Ingat, keluhan saja tidak akan membawa perubahan dalam hidup kita. Hanya dengan bertindaklah kita akan melihat suatu saat nanti kita akan memetik hasil dari yang telah kita tanam hari ini.[sr]
* Surya Rachmannuh lahir di Jakarta 1970, lulusan S1 dari Bunda Mulia dan S2 dari Jakarta Institute of Management Studies, Certified ISO Lead Auditor dari SGS, Certified Webmaster dan Problem Solving & Decision Making. Aktif di PT. Kalbe Farma, tbk sebagai “Training Specialist”. Hasil tulisannya dapat dilihat di www.webiddesign.com dan suryarachmannuh.blogspot.com
October 15th, 2010 at 5:33 pm
Saya terkesan dengan apa yang saya baca ini. Banyak orang yang mengalami tekanan hidup yang berbeda. Tetapi baiklah kita tetap berjuang karena kita masih bisa bertumbuh.