Jangan Mencela Sebelum Mencoba
Editor | Kolom Tetap | March 1st, 2009
Oleh: Sribudi Astuti*
Apakah arti profesi bagi Anda? Apakah Anda berada di posisi yang rendah, menganggap itu tidak berguna, merupakan profesi yang hina, dan tidak bergengsi? Atau justru sebaliknya, Anda berada di posisi yang tinggi dan Anda pantas berbangga diri dengan semua itu, dan profesi yang ada di bawah Anda adalah profesi yang tidak ada artinya?
Ada sebuah pepatah Amerika mengatakan, “Jangan pernah mencela seseorang sebelum kau berjalan sejauh 1 mil dengan sepatu mereka” mengandung makna yang dalam dan berkaitan dengan alenia divatas. Dalam hal ini, saya tidak akan menyamaratakan semua profesi. Karena saya tahu, masing-masing profesi mempunyai peran sendiri dalam kehidupan ini. Entah besar, entah kecil, orang yang menekuni sebuah profesi apa pun itu tetap mempunyai kontribusi dalam kehidupan ini, mulai dari tukang cuci, tukang sampah, pemulung, terlebih lagi direktur atau presiden.
Agak janggal dan mengganjal perasaan, ketika suatu pagi saya menjumpai seorang pengusaha sedang memarahi petugas cleaning service di kantornya dengan mengatakan, “Apa kerjamu, jam segini semua ruangan belum beres!” Padahal, sedari pagi petugas tersebut telah datang, membereskan semuanya yang ada. Memang apes sedang hinggap pada diri petugas tersebut. Untuk sebuah urusan mendadak, sang pengusaha datang lebih awal dari biasanya, dan ia menjumpai petugas cleaning service belum menyelesaikan pekerjaannya.
Jika dinalar dengan pikiran sehat dan tanpa embel-embel emosi, sebenarnya hal tersebut wajar. Sang pengusaha datang lebih pagi dari biasanya, tentu saja akan menjumpai pemandangan yang berbeda dari kebiasaannya, yang mana petugas cleaning service belum menyelesaikan pekerjaannya. Justru, yang tidak wajar adalah sang pengusaha sendiri. Ia tidak memandang situasi, tapi langsung marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya, hanya karena apa yang ia lihat tidak sesuai dengan keinginannya, dan didorong oleh emosi serta anggapan, bahwa dirinya adalah orang yang bisa memerintah apa saja, termasuk mengatakan apa saja pada orang yang dianggap lebih rendah.
Berdasarkan ilustrasi di atas, mari kita coba pikirkan, bagaimana bila situasi kita balik? Kita mencoba berada ada posisi orang lain yang sering termarjinalkan, hanya karena profesi mereka tidak tergolong dalam profesi-profesi elit menurut pandangan banyak orang. Kita kenakan sepatu seperti yang dikiaskan dalam pepatah Amerika pada bagian awal artikel ini. Kita kenakan atribut-atribut yang sering disandang oleh orang tersebut, baik berupa fisik maupun julukan-julukan yang bernada meremehkan dan merendahkan. Kemudian perhatikan, sejauh mana kita menjalani posisi orang lain itu, dan ukurlah sendiri sampai di mana batas kesanggupan yang kita miliki.
Belakangan ini saya baru saja mencoba berada di posisi seorang sahabat saya yang sering menemani saya ngobrol di kala senggang, atau di kala saya sedang merindukan keluarga saya di Yogyakarta. Sahabat saya itu menjalani profesi, yang bagi sebagian orang anggap remeh, ya remeh sekali. Karena, hampir semua orang yang pernah saya lihat berhubungan dengan orang tadi menggunakan nada yang, menurut saya, kasar. Dialah si pengangkut sampah, sekaligus menyapu, dan sesekali merapikan pagar tanaman.
Pada suatu sore, saya sengaja berjalan mendekatinya, ketika ia tengah memangkas tanaman pagar agar nampak rapi. Sekilas dalam pandangan mata saya, pekerjaan memotong dan merapikan tanaman adalah pekerjaan yang sangat mudah. Sekadar membuka dan menutup gunting, lalu diarahkan pada pucuk-pucuk tanaman yang tidak beraturan. Akhirnya, tanaman terpotong dan tampak rapi. Saya sangat, saya berminat mencobanya. Saya merayu dan mencoba memangkas tanaman. Tetapi, tahukah Anda ternyata itu sangat sulit. Setidaknya saya tidak mampu melakukannya dengan rapi, dengan depat, dan ternyata kuncinya adalah pada entakan dan arah guntingan. Ini yang tidak saya kuasai.
Sebuah pelajaran berharga waktu itu saya peroleh. Ternyata, untuk sebuah pekerjaan sepele yang selama ini saya anggap mudah dan enteng, hanya karena sedikit kesombongan saya yang menganggap diri saya lebih berpendidikan, ternyata tidak dapat saya lakukan dengan baik. Ilmu yang saya peroleh dari pendidikan yang saya jalani, dan penguasaan saya untuk bidang tertentu yang saya tekuni, ternyata tidak berlaku untuk pekerjaan memotong dan merapikan tanaman di taman.
Tuhan Mahaadil, menciptakan manusia yang beraneka ragam dengan kepintaran dan keahlian masing-masing, untuk berkontribusi sewajarnya bagi kehidupan ini. Kita tidak perlu mencela. Apabila di benak muncul hasrat mencela, berarti secara tidak langsung kita mencela Tuhan kita. Berhubung Tuhan menciptakan manusia untuk berkontribusi sewajarnya dalam berbagai sendi kehidupan, berarti kita juga harus bertindak sewajarnya, mengapresiasi apa pun profesi orang secara positif.
Tanamkan dalam diri, bahwa jangan pernah mencela apa yang telah digariskan Tuhan, yang berupa profesi orang sebelum mencobanya. Karena, belum tentu kita mampu menjalani di luar profesi yang kita jalani sekarang.[sba]
* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP:081342259894/085656450918.
Leave a Reply