Jangan Berhenti di Tengah!
Editor | Kolom Lepas | February 2nd, 2009
Oleh: Relon Star*
Ada sebuah tempat pendakian di Gunung Swiss Alps yang memberikan pelayanan bagi para pengusaha, untuk mendorong para karyawan mereka bersama-sama mendaki lintasan menuju puncak pegunungan. Sasarannya adalah untuk membangun hubungan persahabatan dan mengajarkan teamwork. Perjalanan menuju puncak dapat ditempuh kira-kira delapan jam. Biasanya, sebelum mereka mulai mendaki, para pendaki berkumpul dulu di bawah untuk saling memberi semangat. Mereka terlihat sangat bersemangat karena tidak sabar menunggu segera mendaki lereng-lereng pegunungan, untuk mengambil foto bersama, dan merayakan kemenangan mereka.
Di pertengahan perjalanan menuju puncak pegunungan, ada sebuah restoran tua. Restoran ini sudah lama ada, tapi sangat menarik, sehingga para pendaki biasanya berhenti di sana. Para pendaki tersebut berhenti untuk minum kopi atau cokelat panas, dan makan siang. Dengan susah payah mereka akan melepaskan perlengkapan pendakian mereka, sambil beristirahat dan menikmati duduk dekat perapian dan minum kopi.
Saat seperti itu tentunya sangat mereka nantikan. Mereka juga bisa menikmati pemandangan indah dengan latar belakang pegunungan—sangat indah dan menyenangkan. Kelelahan mereka segera tergantikan.
Setelah makan dan kenyang, mereka harus melanjutkan perjalanan. Tapi anehnya, yang memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan jumlahnya kurang dari setengah. Beberapa orang memilih turun lagi. Bukan karena mereka tidak mampu, karena pendakian tersebut tidaklah terlalu sulit. Bukan pula karena arena pegunungan yang semakin curam tingginya, sehingga lebih sulit bagi mereka.
Keenganan melanjutkan perjalanan ke puncak pegunungan itu dikarenakan mereka merasa puas telah mencapai setengah dari perjalanan, dan terlanjur merasakan nikmatnya kopi panas di restoran tua tersebut. Mereka puas di tempat mereka berada. Mereka telah merasakan sedikit keberhasilan dan berpikir, ”Ini sudah cukup baik.”
Sering kali kita melakukan hal yang sama. Kita memiliki sasaran untuk suatu keberhasilan, namun ketika ada sedikit keberhasilan yang telah diraih, kita tidak melanjutkan perjalanan. Mulanya, Anda begitu bersemangat. Anda begitu berapi-api, maka dari itu Anda memulai perjalanan tersebut. Namun selang beberapa waktu, Anda menjadi malas dan puas diri.
Mungkin kita telah melihat adanya sedikit perkembangan dan kita puas. Kita nyaman di tempat di mana kita berada. Di tempat kita berada itu bukanlah tempat yang buruk, tapi ada sesuatu yang lebih baik lagi yang seharusnya dapat kita raih. Masalahnya, kita tidak sedang mengejar yang terbaik, hanya yang baik.
Ada seorang teman mengatakan, ”Re, saya telah berhasil dengan sasaran saya. Saya cukup berhasil.”
Saya katakan, ”Selamat untuk keberhasilan Anda. Tapi, Anda harus mengembangkan sayap Anda, dengan memperbesar sasaran Anda. Sebelum Anda menjadi puas, lalu tidak melakukan apa-apa lagi.”
Memang, itu suatu permulaan yang baik, dan dibutuhkan suatu usaha untuk bisa mencapai sasaran Anda sekarang. Tapi, jangan cepat merasa puas. Jangan puas dengan perkembangan, jangan puas dengan sedikit keberhasilan, Anda masih bisa mencapai yang lebih besar lagi.
Mungkin Anda telah memiliki sebuah bisnis dan Anda telah mengalami sedikit keberhasilan. Perusahaan yang Anda miliki mengalami perkembangan, di saat yang lainnya mengalami krisis. Anda mulai bangga akan hal itu. Lalu, sama seperti pendaki gunung yang setengah itu, Anda tidak melanjutkan perjalanan. Anda tidak memikirkan lagi cara-cara inovatif lainnya untuk bisnis Anda. Anda terlalu bergembira dengan hasil yang Anda capai.
Hati-hati dengan rasa puas diri, karena jika tidak, Anda akan terbuai, dan akhirnya pemain yang lainlah yang akan melambung melebihi Anda. Kejarlah yang terbaik yang Tuhan berikan pada Anda, bukan berhenti pada yang baik saja.
Raihlah yang terbaik. Setiap hal yang baik, pasti ada yang lebih baik lagi. Saya percaya, setiap Anda, siapa pun Anda, Anda masih belum berada di puncak pegunungan. Karena dunia ini memberikan banyak sekali kesempatan untuk hal-hal yang terbaik untuk dapat dicapai.
Jadi, jangan berhenti sebelum Anda sampai di puncak pegunungan. Kita akan bertemu di sana.[rs]
* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui email relonstar[at]yahoo[dot]com.
April 3rd, 2009 at 6:33 am
Very good material!
We don’t reliaze that we often get too focus on the negativity (what we can’t do) then the positiveness (what we can do). And the bad part is, we allows ourself to believe that negativity and stop right there, without even trying a little bit more harder with self confident!
May 4th, 2009 at 12:49 am
Thanks untuk motivasinya bermimpi.