Innovation @ Work
Editor | Kolom Tetap | February 2nd, 2010
Oleh: Avanti Fontana*
“Sebagai seorang pekerja dalam sebuah perusahaan, ia menciptakan nilai manfaat yang lebih besar (menurut persepsi perusahaannya) dibanding uang atau imbalan yang harus perusahaan bayar kepadanya. Sebaliknya, ia juga melihat perusahaannya memberikan nilai manfaat yang jauh lebih besar kepadanya dibanding pengorbanan-pengorbanan dan kenikmatan-kenikmatan yang ia berikan untuk perusahaan di mana ia bekerja. Nilai manfaat apakah yang ia ciptakan? Nilai manfaat apakah yang perusahaan berikan untuknya?”
Tantangan bisnis sekarang dan mendatang adalah bagaimana berinovasi hingga hasilnya jauh melebihi harapan konsumen. Beyond customer’s imagination. Di satu sisi, sebagian orang dan perusahaan merasa masih berat dalam mengejar target keberhasilan inovasi. Target inovasi berupa kemampuan perusahaan dan individu-individu yang ada di dalam perusahaan. Targetnya adalah menciptakankan nilai manfaat atas barang atau jasa yang jauh lebih besar dibanding harga atau pengorbanan yang harus konsumen atau pengguna keluarkan. Targetnya adalah kinerja ekonomi dan sosial yang tinggi. Ini biasanya didahului oleh dicapainya kinerja teknis dan komersial.
Di sisi lain, banyak pula perusahaan sangat mendalami roh inovasi ini. Hal ini membuat output inovasi mereka luar biasa. Pertanyaannya, apa dan siapa penentu keberhasilan inovasi? Sementara, kita tahu bahwa inovasi adalah keberhasilan secara sosial ekonomi berkat diperkenalkannya cara baru atau kombinasi baru dari cara lama dalam mengubah input menjadi output. Hasil perubahan itu membawa perubahan besar atau drastis dalam hubungan antara nilai manfaat menurut persepsi konsumen dan harga yang konsumen harus bayar.
Menjadi menarik untuk melihat penentu keberhasilan inovasi dari sisi pandang input inovasi. Input inovasi yang paling sering diucapkan adalah iklim inovasi, lingkungan yang kondusif, struktur, people, dan culture. Dalam rutinitas pekerjaan, sering orang tidak sadar bahwa banyak hal bisa ia perbaiki. Mengubah cara duduk dari yang biasanya lunglai tanpa lurus tulang belakang menjadi duduk lebih tegak dan menerapkannya setiap saat pada saat sedang menulis di depan layar laptop atau desktop. Mengubah cara memimpin rapat dari yang biasanya tanpa agenda ketat menjadi dengan agenda ketat. Mengubah cara berkomunikasi dari tadinya lebih banyak berbicara dan mengarahkan menjadi lebih banyak mendengar dan bertanya.
Baru-baru ini saya berdialog dengan sekelompok supervisor dan manajer pada satu perusahaan besar yang berbasis di Jakarta. Tergambar di situ begitu banyaknya isu dan masalah dalam perusahaan ternyata bisa diselesaikan dengan cara yang lebih sederhana dan lebih efisien. Antara lain hanya dengan mengubah gaya mereka berkomunikasi, dari yang biasanya lebih banyak berbicara dan mengkritik serta menuding ke gaya komunikasi yang lebih banyak mendengar, memperhatikan, dan bertanya. Kebiasaan baik ini dapat menular dengan cepat sejalan dengan semakin seringnya kebiasaan ‘baru’ itu dipraktikkan.
Mengubah cara-cara kita bekerja merupakan cara kita mengubah cara-cara kita mengubah input menjadi output. Hasilnya adalah cara kerja yang lebih efisien dan sehat. Cara kerja lebih berkualitas. Cara kerja lebih menghasilkan tidak saja imbalan finansial tetapi juga non-finansial. Cara kerja lebih menggembirakan. Cara-cara ini dapat menunjang pencapaian tujuan-tujuan kerja yang lebih besar, seperti menghasilkan produk 100 buku per bulan oleh sebuah penerbitan besar, menghasilkan kunjungan toko 100 orang per hari dengan tingkat pembelian 100% (yang datang pasti membeli minimum satu produk), dan lain sebagainya.
Inovasi-inovasi dalam proses kita bekerja menghasilkan output penting dilakukan sebelum kita berpikir jauh-jauh untuk melakukan inovasi pada output itu sendiri. Ada individu dan perusahaan berlomba menghasilkan output sebaik mungkin dan pada saat yang sama lupa untuk melakukan perbaikan dan/atau perubahan-perubahan dalam proses kerja mereka dalam menghasilkan output. “The means are not justified by the ends.”
Inovasi dalam bekerja dan pekerjaan juga berarti menemukan atau menciptakan peluang-peluang baru dalam melakukan pekerjaan. Contoh: biasanya bekerja di kantor lima hari kerja. Seorang karyawan mampu memenangkan hati pemimpin perusahaan untuk ia dapat bekerja di rumah tiga hari kerja dan dua hari kerja di kantor.[af]
* Avanti Fontana: fasilitator & coach inovasi, pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, penulis Innovate We Can! (Grasindo 2009). Sebagai analis inovasi bisnis, ia aktif meriset tema inovasi bisnis dan sosial, peran inovasi untuk kepemimpinan, indeks inovasi fungsional dan indeks inovasi nasional.

Leave a Reply