Ibu, Hatimu Sebening Embun Pagi
Editor | Kolom Lepas | April 13th, 2009

Oleh: Tri Wahyuni*
Terkadang kita tidak menyadari betapa besar cinta kasih sayang dan perhatian ibu kepada kita sebagai anaknya. Sampai akhirnya kita menjadi seorang ibu untuk menyadari hal tersebut. Pernyataan itu bukan sebuah peribahasa ataupun kata-kata mutiara. Namun, hal itu adalah sebuah kenyataan yang terjadi pada sebagian orang, termasuk yang terjadi pada diri saya.
Saya baru benar-benar menyadari besar kasih sayang dan perhatian Ibu kepada saya, tepat pada saat saya sendiri menjadi seorang ibu. Kasih sayang dan perhatian Ibu begitu besar dan tulus kepada saya, serta saudara-saudara saya, sejak kami dilahirkan hingga detik ini. Kasih sayang dan perhatian tersebut tidak berkurang sedikit pun, meski sebagian dari kami telah dewasa, menikah, bahkan telah memberikan cucu yang lucu-lucu kepada beliau.
Sebenarnya, mungkin hal ini terdengar sangat klise. Tetapi, coba sama-sama kita renungkan kembali, kebaikan apa yang selama ini telah kita berikan secara tulus kepada ibu kita. Kemudian, kita bandingkan dengan semua kebaikan yang ibu berikan secara tulus kepada kita.
Ya, saya sudah bisa menebaknya. Anda pasti berpikir sama dengan saya. Bahwa, apa yang kita berikan kepada ibu selama ini, ternyata sangat jauh dibanding dengan apa yang beliau berikan kepada kita.
Sebagai anak, kita sering kali berpikir secara kuantatif atas segala bentuk pemberian kita kepada ibu. Contoh sederhana saja, coba kita ingat-ingat kembali, berapa banyak yang kita berikan kepada ibu selama ini. Tentu saja, selain dalam bentuk perhatian dan kasih sayang. Karena, bila perhatian dan kasih sayang, saya bisa katakan bahwa setiap hari saya selalu memberikan berjuta-juta perhatian dan kasih sayang terhadap Ibu saya. Namun dalam hal ini, yang saya maksudkan hanya kasih sayang dalam bentuk materi saja.
Bukan bermaksud materalistis dalam hal ini. Tetapi, saya sekadar memberikan contoh dari sisi materi. Andaikata setiap bulan kita memberikan sekian rupiah kepada ibu, misalnya Rp 500.000 saja, yang kita ambil dari uang bulanan kehidupan kita sendiri. Saya yakin, sebagian besar dari para ibu kita tidak pernah protes dengan pemberian kita. Atau, mungkin beliau bahkan merasakan keberatan bila kita memberi uang kepada mereka, dengan berbagai alasan. Misalnya, khawatir nanti kita kekurangan uang setelah memberi beliau. Atau, meminta kita untuk menyimpan saja uangnya buat kebutuhan kita nantinya.
Sekarang, coba kita balik kasusnya, yaitu bila Ibu kita yang bertindak sebagai pemberi uang dan kita sebagai penerima, terutama saat kita masih tingal bersamanya. Apa yang terjadi? Ya, tentu sebagian besar dari kita akan menjawab, kita akan dengan senang hati menerima pemberian uang Ibu karena merasa itu adalah hak kita. Dan, syukur-syukur kalau jumlahnya bisa ditambah. Bukankah begitu biasanya?
Contoh sederhana tadi tentunya bisa membuka pikiran kita tentang perhatian dan kasih sayang tulus seorang ibu kepada anaknya. Dan, sebagian besar kita sebagai anak, baru benar-benar menyadari hal tersebut setelah akhirnya kita menjadi seorang Ibu bagi anak-anak kita. Hal itu pula yang terjadi pada saya.
Setiap saat saya menghabiskan waktu bersama buah hati saya, baik dalam keadaan senang, bahagia, tertawa, terkadang dalam keadaan sedih, dan mengeluh karena kerepotan mengurus mereka. Pada saat itulah, saya sering teringat Ibu saya.
Mungkin, inilah perasaan yang dulu Ibu saya rasakan ketika mengurus saya dan saudara-saudara, yang mungkin sangat merepotkan beliau, mengingat semua saudara saya adalah laki-laki. Namun, tetap saja Ibu begitu ikhlas memberikan cinta, kasih sayang, dan perhatian kepada kami anak-anaknya. Hati Ibu memang seluas samudera dan sebening embun pagi. Dan, saya berharap bisa memiliki hati seperti Ibu dalam menjalani kehidupan bersama keluarga kecil saya.
Hingga detik ini, saya sadar mungkin belum banyak yang bisa saya berikan kepada Ibu, setelah begitu banyak kasih sayang dan perhatian yang begitu tulus dan ikhlas yang telah beliau berikan. Selama ini, saya berusaha membahagiakan beliau, walaupun rasanya hal itu belum cukup untuk membalas cinta dan kasih sayang beliau. Tetapi, saya tetap berusaha sampai kapan pun agar bisa menjadi anak yang berbakti dan menjadi kebanggaan Ibu. Saya selalu berusaha untuk tetap memberikan yang terbaik untuk ibu.
Mungkin, apa yang terjadi pada saya ini pun telah terjadi pada sebagian orang. Setidaknya, saya masih bersyukur kepada Tuhan, bahwa saya masih diberi umur dan kesempatan untuk membahagiakan Ibu saya. Dalam setiap doa dan salat, saya selalu berharap agar Tuhan pun dapat memberikan umur panjang kepada Ibu saya, agar beliau dapat melihat dan merasakan setiap usaha saya untuk membahagiakannya. Seorang Ibu yang memiliki hati sebening embun pagi. Semoga.[tw]
* Tri Wahyuni, yang lahir di Samarinda tanggal 1 Mei, adalah lulusan Universitas Brawijaya, Malang. Selain menjadi ibu rumah tangga, ia juga berprofesi sebagai pengusaha dan sekarang sedang membangun aset secara profesional. Hobi menulis dilakukannya sejak duduk di bangku sekolah. Selama ini, Tri lebih banyak menulis artikel opini, sekaligus belajar menulis sastra secara otodidak, dan telah dipublikasikan di sejumlah media cetak maupun internet. Akftivitasnya menulis dilakoni dengan sepenuh hati dan dengan motivasi maupun dukungan suami tercinta. Tri dapat di hubungi pos-el: aryamandira[at]telkom[dot]net.
April 13th, 2009 at 10:03 pm
…I love my mom so much..this article suddenly reminds me of her..thx ya.
April 16th, 2009 at 4:28 pm
Berbahagialah seorang ibu yang dibekali talenta menulis seperti mbak Tri Wahyuni ini, sebab ia bisa menjadi “ibu” dan penghIBUr bagi banyak orang…!
Tetap semangat…!
August 6th, 2009 at 8:27 pm
Bagi saya pribadi kasih sayang ibu bahkan lebih lembut dibanding dengan embun pagi sekali pun. Apa pun jabatan, pangkat, siapa pun kita, tanpa ibu mustahil kita lahir di muka bumi ini.Namun persoalannya, berapa banyakkah di antara kita yang rela menyisihkan atau menganggarkan sekian persen dari penghasilan bulanan kita untuk ibu yang telah susah payah mengasuh kita dari bayi yang tidak tahu apa-apa dan tidak berdaya apa-apa hingga akhirnya kita dewasa dan “jadi orang”. Padahal biasanya kita sanggup menggaji baby sitter yang mengasuh anak kita berapa pun mahalnya. Anehnya, tatkala ibu kita telah pergi meninggalkan kita untuk selamanya, barulah kita insaf seinsaf-insafnya betapa berutang budinya kita padanya, kitapun hanya bisa menangis, menyesal, minta ma’af dan berdo’a.Kini pertanyaannya, apakah do’a kita akan sampai padanya jika kita sendiri semasa hidupnya tidak begitu peduli dan begitu kikirnya ?