I Really Love Mondays

Fita IrnaniOleh: Fita Irnani*

Tentu kita sering mendengar orang berucap: “I don’t like Monday” atau tidak sedikit pula status update pada Facebook teman-teman kita, tertulis kalimat yang sama menjelang hari Senin. Sebenarnya, punya salah apakah hari Senin sehingga orang kerap membencinya ? Ataukah sekadar mempertahankan kepopuleran lagu Sir Bob Geldof yang berjudul sama? Sementara, Bob Geldof sendiri menciptakan tembang ini karena mengutip alasan Brenda Ann Spencer, gadis 16 tahun pelaku pembunuhan dan serangan pada sebuah sekolah dasar di San Diego, Amerika Serikat. Sejatinya, memang Sir Bob Geldof pun tidak memiliki sejarah membenci hari Senin.

Bagi saya yang bertempat tinggal di luar kota Jakarta, keunikan hari Senin ditandai dengan tumpah ruahnya masyarakat yang menjejali terminal bus dan stasiun kereta sejak subuh. Tentu saja angkutan kota menuju kedua tempat tersebut selalu sarat penumpang meskipun hari masih gelap. Pemandangan ini memang tidak dijumpai pada hari-hari lainnya. Masyarakat yang selama ini bekerja di Jakarta dan memilih kos di kota, memanfaatkan hari Sabtu Minggu untuk berlibur pulang ke tempat asal dan kembali ke Jakarta pada hari Senin pagi. Ini pun dijalani oleh mahasiswa yang tengah berstudi dan kos di Jakarta. Tidak salah jika hari Senin pagi dipadati orang yang hilir mudik ke Jakarta. Bisa dibayangkan jalan-jalan utama kota Jakarta akan terkena imbas tumpah ruahnya penumpang. Kemacetan inilah yang dijadikan alasan untuk tidak menyenangi hari Senin.

Ketidaksukaan terhadap hari Senin, barangkali juga karena hari ini mengawali aktivitas pekerja kantoran, selepas dua hari menjalani liburan. Mungkinkah dua hari libur tidak cukup untuk me-recharge baterai penyadangan energi baru, guna menjalani aktivitas senin hingga Jumat berikutnya? Ataukah sebenarnya ada keengganan untuk kembali menenggelamkan diri dalam setumpuk deadline tugas-tugas kantor? Lantas muncul pernyataan “I don’t like Monday” dan kalimat ini tersimpan dalam pikiran. Selama tidak ada usaha mengenyahkannya, lambat laun pernyataan itu akan menetap di alam bawah sadar yang melahirkan pembenaran atas ‘parahnya’ hari Senin.

Menjelang hari Senin, orang sering berucap: “Cepat sekali liburan berlalu”,Yah, sudah Senin lagi“, atau “Ah, besok sudah kerja lagi”. Lantas, jika hari Senin adalah hari libur, akankah mereka membenci hari Selasa? Dari ungkapan-ungkapan yang barangkali juga terlontar tanpa sadar ini, sebenarnya kita bisa mencari jawab atas beberapa alasan membenci hari Senin.

1. Pemanfaatan libur yang tidak optimal.

Libur Sabtu dan Minggu pada dasarnya adalah waktu yang tepat untuk melepaskan kepenatan setelah lima hari bekerja. Beberapa sahabat menceritakan, mereka lebih suka menikmati liburan bersama keluarga di hari Sabtu, entah berjalan-jalan keluar rumah atau menyibukan diri berlibur di rumah, sementara hari Minggu dimanfaatkan untuk beribadah dan mempersiapkan tenaga untuk beraktivitas keesokan harinya.

Sebagian orang berpikir untuk mengisitirahatkan tubuh dengan tidur seharian setelah lelah bekerja seminggu. Rasa malas lahir karena tubuh justru terlalu banyak beristirahat, misalnya terlalu banyak tidur selama liburan. Hal ini tidak berbeda pada saat kita berpuasa seharian penuh, lalu ‘balas dendam’ pada saat berbuka puasa. Perlu berhati-hati, berlama-lama tidur justru akan membuat tubuh terasa berat untuk bangkit kembali. Lakukan tidur dengan waktu yang cukup selama liburan.

2. Menghadapi kemacetan.

Secara normal Senin pagi memang identik dengan kemacetan, seperti tertulis diawal bahwa hari itu menjadi awal beraktivitasnya pekerja atau mahasiswa. Semua orang tumplek blek (tumpah ruah) di jalanan, mobil dan angkutan umum antri sepanjang jalan, termasuk jalan tol yang katanya bebas hambatan. Kondisi ini sudah sering terjadi, dan akan terjadi. Jika memang demikian tentu kita perlu mempersiapkan mental atau strategi untuk menghadapinya, toh kita tidak akan berhasil menghilangkan kemacetan, bukan? Mengeluh saja tidak cukup untuk menghindari kemacetan.

Cara yang saya pakai adalah mengubah jam berangkat ke kantor, biasanya saya majukan 30 menit atau satu jam dari jam biasa saya berangkat. Tidak masalah jika terlalu pagi tiba di kantor. Masih lebih baik daripada terjebak kemacetan di tengah jalan. Sebenarnya, untuk kota sesibuk Jakarta, kemacetan tidak selalu identik dengan hari Senin. Pulang kantor pun ada kalanya terkena macet, terlebih pascahujan lebat. Jadi, tidak tepat jika lantaran alasan ini, muncul pernyataan “I don’t like Monday”.

3. Tenggelam dalam rutinitas pekerjaan.

Anda patut waspada jika di hari pertama mengawali aktivitas kerja tiba-tiba rasa enggan muncul, lalu mengambing-hitamkan hari Senin. Bisa jadi justru bukan “I don’t like Monday” namun “I don’t like my job”. Seseorang bisa saja menjadikan pekerjaannya sebagai beban, bekerja sebagai sebuah keterpaksaan. Jika kita mencintai pekerjaan, mustahil muncul keengganan menyambutnya. Perlu kajian lebih jauh jika isyarat enggan bertemu rutinitas pekerjaan mulai muncul, bisa jadi fisik atau mental kita gagal beradaptasi dengan pekerjaan. Dan, itu menjadikan kita tidak menyukai pekerjaan. Bisa jadi stres tengah menghinggapi kita.

Terkait masalah pekerjaan, sesungguhnya tidak ada perbedaan antara hari Senin dengan hari yang lain. Barangkali justru kita sendiri yang membuatnya berbeda. Untuk meminimalisir ketidaksukaan terhadap hari Senin, menjelang liburan pastikan tidak ada pekerjaan yang di-pending, selesaikan segala sesuatunya dengan baik, asumsikan setelah hari Jumat adalah hari Senin. Hal ini akan membantu menambah semangat menjemput rutinitas.

Tidak ada yang salah dengan hari, Tuhan menciptakan hari bersama nikmat di masing-masing hari. Setiap hari akan memiliki ceritanya sendiri. “I don’t like Monday” hanya permainan pikiran yang menyugesti kita. Mulai dengungkan kalimat positif untuk mencintai hari Senin. Lakukan dengan berulang, tularkan kepada yang lain, bayangkan indahnya hari Senin. “I really love Mondays!”[fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai HR Executive pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

One Response to “I Really Love Mondays”

  1. maria saumi Says:

    Fita..I really want to love Monday dear!, but bla bla bla..hehe. tapi asik juga tuh pemikiran I love monday..dicoba ah!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox