Hukum Toleransi
Editor | Kolom Tetap | March 30th, 2009
Oleh: Sulmin Gumiri*
Secara alamiah, ada satu ketentuan yang diajarkan oleh kehidupan kepada kita. Ketentuan tersebut bernama “Hukum Toleransi” yang mana kebutuhan semua makhluk hidup sudah ditentukan oleh Yang Kuasa dalam suatu rentang antara batas minimum dan maksimum. Tumbuhan tidak akan bisa hidup tanpa sinar matahari, tetapi ia pun akan layu dan mati jika kepanasan terus-menerus. Seekor harimau lapar akan mengerahkan segala kekuatannya untuk menaklukan seekor banteng, tetapi setelah kenyang ia pun akan merelakan saja sekawanan burung gagak yang datang tiba-tiba dan berebut makanan gratis sisa hasil kerja kerasnya. Begitu juga dengan manusia, selapar apa pun kita, tidak mungkin kita bisa menghabiskan semua macam masakan lezat yang ditawarkan oleh para pelayan restoran padang di depan mata kita.
Prinsip adanya faktor pembatas di atas berlaku untuk setiap pemenuhan kebutuhan dasar semua makhluk dalam upaya mempertahankan hidupnya. Namun demikian, berbeda dengan tumbuhan dan hewan, ternyata kebutuhan manusia tidak cukup hanya berupa kebutuhan primer untuk bertahan hidup, seperti kebutuhan akan air, udara, makanan, dan tempat tinggal. Karena manusia mengenal tingkat kemakmuran, maka kebutuhan kita pun menjadi begitu banyak mulai dari minyak rambut di atas kepala sampai kepada sepatu di ujung kaki, dan mulai dari sesederhana jarum untuk menjahit sampai kepada yang kompleks dan mahal seperti komputer, mobil, dan pesawat terbang.
Untuk mendapatkan semua kebutuhan sekunder itu, kita semua memerlukan uang. Dan, karena mengejar uang itulah maka kita kadang-kadang perlu memengaruhi orang lain untuk meraih kekuasaan, kerja keras mencari harta , dan berusaha memoles diri untuk mendapatkan popularitas. Apakah kebutuhan sekunder manusia akan kekuasaan, harta, dan popularitas ini juga diatur oleh hukum tolerasi? Uraian berikut mencoba mendiskusikannya.
Beberapa waktu yang lalu, saya tertarik dengan sebuah berita di koran lokal yang berjudul “Janji Tidak Akan Permalukan Najib”. Berita tersebut mengulas tentang kenegarawanan Abdullah Ahmad Badawi yang berjanji untuk tidak mempermalukan pemerintah kelak, yang rencananya akan ia serahkan kepada Wakil Perdana Menteri Najib Razak, setelah ia lengser dari jabatan Perdana Menteri Malaysia bulan Maret 2009.
Yang menggelitik saya adalah rencana sederhana sang Perdana Menteri pascaturun tahta nanti, yang mana beliau hanya ingin menjadi rakyat biasa dengan menghabiskan sisa usianya untuk bercocok tanam, memancing, dan menanam pohon. Keinginan tersebut sebenarnya bukanlah sesuatu yang luar biasa dan tidak ada istimewanya sama sekali. Namun, setelah dihubung-hubungkan dengan kejadian-kejadian serupa yang menimpa kalangan mantan penguasa, para miliarder, dan selebriti, akhirnya saya merenung. Jangan-jangan, hukum toleransi juga berlaku dalam setiap aspek kehidupan manusia.
Di deretan para mantan pejabat negara, bukan hanya Abdullah Ahmad Badawi saja yang akhirnya mengalami “antiklimaks” dengan berkeinginan menjalani kehidupan sebagai rakyat jelata, setelah sebelumnya menikmati masa-masa jayanya sebagai penguasa negara. Di dalam negeri, kita mungkin masih ingat dengan kebiasaan Pak Harto, yang setelah berkuasa sebagai presiden Republik Indonesia selama lebih dari 30 tahun, di saat-saat akhir masa jabatan beliau justru suka menyepi dengan menghabiskan hari libur di lahan pertanian Tapos.
Jimmy Carter, seorang mantan presiden Amerika Serikat di era 80-an yang sangat berkuasa dan terkenal di seantero dunia karena permusuhannya dengan Iran, kembali menjadi petani kacang setelah ia lengser dari jabatannya. Baru-baru ini, George Walker Bush yang sangat arogan karena berhasil mengekspansi Irak dan membunuh musuh bebuyutan ayahnya, Saddam Husein, juga langsung luruh hatinya. Dia menyingkir ke lahan pertanian keluarganya di Texas, sesaat setelah menyerahkan tampuk kekuasaannya sebagai presiden Amerika Serikat kepada Barack Obama.
Kalau para mantan pejabat negara cenderung ingin menyeimbangkan kekuasaan berlebihan yang pernah didapatnya dengan kembali hidup sebagai rakyat jelata, “antiklimaks” juga biasa terjadi di kalangan orang-orang kaya dan selebritis. Bill Gates, si pemilik Microsoft dan merupakan orang terkaya di dunia saat ini, telah menyumbangkan 70 persen kekayaannya kepada yayasan Bill & Melllinda Gates Foundation, yang ia dirikan bersama istrinya untuk membiayai pemeliharaan kesehatan dan menanggulangi kemiskinan di seluruh dunia. Seperti tidak mau kalah, Warren Buffet si raja properti yang merupakan orang terkaya kedua di dunia setelah Bill Gates, juga menyumbangkan 85 persen hartanya kepada yayasan yang sama.
Setelah puas menikmati kehidupan bebas sebagai artis Hollywood yang penuh glamour, sehingga menjadikannya tidak ingin menikah dan memiliki anak, akhirnya Angelina Jolie menyadari bahwa ia tetaplah seorang manusia biasa. Dan kemudian, ia memilih menjadi seorang ibu dengan mengadopsi sepasang anak miskin dari Kamboja dan Ethiopia.
Apa jadinya jika seseorang lupa diri dengan kekuasaan, harta, dan popularitas yang ia miliki? Rasanya, sudah tidak terhitung lagi “antiklimaks tragis” yang terjadi di seputar kehidupan kita. Di kalangan penguasa, kita pernah mendengar nasib mantan Presiden Ferdinand Marcos, sang diktator dari Filipina. Marcos bukan hanya diturunkan secara paksa dan diusir ke luar negeri oleh rakyatnya, tetapi setelah ia meninggal pun, mayatnya sangat sulit dibawa kembali ke negara yang pernah dipimpinnya.
Sang superstar dunia Michael Jackson tidak pernah membayangkan bahwa akibat popularitas yang dicapainya, akhirnya ia tercabut dari akar kehidupan ini. Karena ingin terus mempertahankan ketenarannnya, ia nekat mempermak wajahnya dengan operasi plastik untuk memperbaiki hidungnya yang kurang mancung. Celakanya, bukan wajah tampan yang ia dapat, tetapi malah wajahnya berubah menjadi bak monster hidup. Dengan wajah mengerikan yang tidak bisa dikembalikan ke bentuk semula tersebut, ia menjadi malu dan berusaha menghindari para penggemarnya. Karena perasaan malu ketemu orang itulah, konon ia akhirnya memilih menjalani kehidupan dengan mengurung diri terus-menerus di ruang persembunyiannya dengan bantuan tabung oksigen.
Siapa yang tidak ingin berkuasa, kaya raya, dan menjadi orang terkenal? Tetapi, setelah semua itu kita dapatkan, “pejabat yang sadar” sebenarnya rindu menjadi rakyat biasa; “miliarder yang sadar” ternyata perlu menyumbangkan sebagian hartanya; dan para “selebritis yang sadar” dengan rela akan meluruskan gaya hidupnya karena merasa tampilan wajahnya yang kian meredup akibat termakan usia.
Bagaimana dengan mereka yang tidak menyadari faktor pembatas alamiah tersebut? Jadilah mereka seperti Marcos, yang karena kehausannya akan kekuasaan, akhirnya setelah meninggal pun orang tidak bersimpati kepadanya. Atau seperti Michael Jackson, yang karena kehausannya akan ketenaran malah akhirnya terpaksa mengurung diri, hidup sendirian tanpa teman.[sg]
* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui email: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri [at]yahoo[dot]com.

March 30th, 2009 at 3:20 pm
Saya curiga dengan tulisan ini anda hanya ingin menggelitik pembaca saja.