How Are You?
Editor | Kolom Tetap | November 25th, 2009
Oleh: Lina Kartasasmita*
“Give what you have. To someone, it may be better than you dare to think.”
~ Henry Wadsworth Longfellow
Berada di tengah anak-anak kelas 3 sekolah dasar, memberikan gambaran ketika saya kecil dahulu. Beberapa anak tampak sibuk sendiri dengan kotak pensilnya, ada yang sibuk membaca dan ada yang berbincang-bincang dengan teman-temannya. Ketika guru yang mengajar memulai pelajaran, anak-anak memusatkan perhatiannya ke ibu guru yang berdiri di depan kelas.
Saya berada di dalam ruangan kelas untuk melakukan observasi proses belajar dan mengajar di kelas tersebut, duduk mengamati selama 40 menit, saya menuliskan beberapa hal di catatan saya. Sekali-kali saya melayangkan pandangan saya ke murid-murid. Terlihat ada anak yang aktif bertanya, ada yang pasif, dan ada yang menghindar dari segala bentuk pertanyaaan.
Seusai jam pelajaran saat saya hendak beranjak keluar kelas, seorang anak perempuan menghampiri saya dengan membawa selembar kertas sobekan dari buku tulisnya. Dia menyodorkan kepada saya kertas itu. Saya bertanya, “Untuk saya?” Dia hanya tersenyum dan menaruhnya di tangan saya, lalu berlari keluar.
Saya melihat kertas yang agak lusuh tersebut, tertulis, “How are you, Ibu Lina?” Dan, di situ ada gambar wanita berambut pendek. Saya tertegun sejenak. Tak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa seorang anak akan memberikan perhatian kepada saya yang hanya duduk diam selama 40 menit di kelas tersebut. Kertas yang sedikit lusuh tersebut dan gambaran tangan seorang anak kecil itu menjadi suatu yang berharga bagi saya saat itu. Ada hikmah yang bisa di petik dari suatu peristiwa sederhana itu.
Betapa sering kita berpikir pemberian kita harus barang yang berharga mahal. Kita berupaya memberikan impresi yang salah kepada orang-orang dengan memberikan barang yang mahal. Tapi kita lupa ketika memberi, ketulusan tidak menjadi dasar pemberian kita. Kita tidak lagi melihat kebutuhan yang sesungguhnya dari orang di sekitar kita. Mungkin orang di sekitar kita hanya butuh pujian, hanya butuh didengarkan, hanya butuh ditegur, atau melihat senyuman. Kita sering tidak lagi peduli ketika orang di sekitar kita telah kering semangat hidupnya. Ketika kepahitan dan kesulitan hidup telah menjadi beban sehari-hari. Ada banyak orang yang menjalani aktivitasnya tanpa semangat tapi seperti membawa beban di punggungnya.
Ketulusan anak itu menggambar saya, adalah suatu ketulusan yang murni dari seorang anak. Dari suatu yang sederhana, anak itu belajar memberi sesuatu dengan tulus. Dia berupaya membuat saya senang. Ya … anak itu membuat saya merasa bahagia, karena dia peduli dengan keberadaan saya. Dia menanyakan “How are you, apa kabar…” kalimat sederhana yang bermakna lebih ketika kita ingin seorang menyapa kita.
Saya menulis di sebagian kertas lusuh itu, “I am fine, thank you. I love your picture. Please keep writing and drawing.” Lalu, saya menyobeknya sebagian dan memberikan kepada seorang anak untuk mengembalikan potongan dari bagian kertas itu kepada si gadis cilik tersebut. Di sela waktu istirahat, ketika saya berada di tengah guru-guru. Ada bayangan di jendela ruang guru, si gadis cilik itu melambaikan tangannya sambil memegang bagian dari kertas lusuhnya, dan mengucapkan “Thank you.” Saya tersenyum dan melambaikan tangan kembali. Dan, si gadis cilik itu tersenyum sambil lari bergabung bermain dengan teman-temannya. Sebuah senyuman tertinggal di hati saya sepanjang hari itu. Dan, saya yakin si gadis cilik itu juga punya kebahagiaan sendiri yang cukup untuk disimpannya.
Ketulusan dan perhatian tidak membutuhkan banyak uang untuk di wujudkan. Untuk tersenyum dan melambaikan tangan kita tidak perlu izin khusus. Hanya keinginan untuk peduli akan memberikan kita kesempatan untuk menciptakan keindahan dan kebahagiaan di hati sahabat dan kerabat kita.[lkk]
* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Tulisan-tulisan Lina terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.
November 26th, 2009 at 2:05 am
Miss , I’ve read this post before in ur fb
It is a nice experience
I had a dream to b a teacher but . .
Hope I can’t make my dream come true
December 3rd, 2009 at 8:00 am
I remember when I was first appointed as a Manager in a small firm. I wasn’t prepared to be a manager and very inexperience dealing with subordinates. Luckily my GM was a good mentor(He was from Belgium and has passed away few years ago. God bless his soul). He asked me to read a book called “One Minute Manager”. I didn’t buy the book, I just browsed and read it in the book store.
What I did change in my management style (after reading the “One Minute Manager”)was I started to greet my staff and people around me every morning when I see them. The result was amazing. They seem to like the attention even it’s small, but it meant alot to them. It’s now part of my built-in characters and personality to greet people like “good morning”, “how are you?”.
“It’s feel great if you can make somebody happy even only with a simple greeting”
December 3rd, 2009 at 2:19 pm
Perbuatan yg sgt terlihat hanya kecil dan sederhana tetapi berefek besar bagi orang2 yg kebetulan memang “membutuhkan”nya. It was simpel but it was really such a luxurious experience, I think.