Honey Money
Editor | Kolom Tetap | March 16th, 2009
Oleh: Iftida Yasar*
Siapa yang tidak suka uang? Hampir semua orang punya impian muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga. Tidak ada yang salah dengan impian dan keinginan untuk memiliki uang banyak, sangat manusiawi. Yang menjadi salah adalah jika keinginan untuk memiliki uang itu dilakukan dengan berbagai cara. Kalau kita seorang pekerja dengan gaji misalnya Rp 2.000.000 sebulan, maka seharusnya pengeluaran kita disesuaikan dengan pendapatan yang kita punya. Prioritaskan apa yang harus kita bayar pada awal bulan, seperti biaya makan sebulan di muka, uang sekolah anak, listrik, telpon, dan biaya transportasi. Sisihkan, walaupun sedikit, dana cadangan yang dapat dipergunakan untuk keperluan darurat, seperti sakit, musibah, dsb.
Rasanya, memang pas sekali jika penghasilan yang kita terima untuk memenuhi kebutuhan hidup. Padahal, keinginan lain masih banyak; mau jalan-jalan ke mal, mau beli baju baru, mau ganti handphone, mau ini, mau itu, semua mau. Begitu banyak barang yang belum kita miliki atau keinginan yang belum terlaksana, semuanya butuh uang. Kalau kita tidak kuat menahan keinginan dan menyelaraskannya dengan kemampuan, maka sudah dapat dipastikan hidup kita akan kacau.
Sebetulnya, bukan berapa besar uang yang kita miliki yang dapat membuat hidup kita senang dan teratur. Tetapi, yang lebih penting lagi adalah seberapa besar kemampuan kita mengatur uang yang kita miliki itu agar hidup kita aman dan senang. Berapa pun banyaknya uang yang kita miliki tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keinginan kita.
Sesungguhnya, kitalah yang berperan besar dalam menentukan bagaimana kita mau mengatur hidup ini. Kalau kita kaji, sebenarnya berapa pun kecilnya gaji yang diterima, itu selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Walaupun, menurut kacamata orang lain yang pendapatannya lebih banyak, “Kok, ya bisa ya hidup dengan penghasilan segitu?” Sebaliknya, berapa pun besarnya uang atau penghasilan yang diterima, kok ya rasanya ada saja alasan untuk merasa kurang. Bagaimana enggak merasa kurang, sebab selalu ada keinginan memilki sesuatu yang nilainya lebih besar dari penghasilan yang diterima. Sehingga, rasanya enggak ada habisnya mencari jalan keluar untuk memenuhi keinginan itu.
Memiliki impian atas suatu barang yang mahal seperti mobil, rumah, atau perhiasan dapat memacu kita bekerja keras agar keinginan suatu saat terwujud. Gantungkan cita-cita kita setinggi langit, miliki impian, dan terus-menerus dengungkan itu di kepala kita agar dapat tercapai. Biasanya, keinginan yang kuat akan terwujud asalkan secara spesifik kita bisa memvisualisasikannya dengan jelas, lalu mentargetkan kapan harus terwujud, dan membuat perencanaan serta strategi bagaimana melaksanakannya. Jangan lupa memasukan ke dalam kepala kita, bahwa untuk mencapai impian itu tidak mudah, ada kendalanya, perlu kerja keras, kreativitas, dan mental baja untuk mewujudkannya. Jika hal ini tidak dimasukan ke dalam paket impian kita, maka sudah dapat dipastikan yang terjadi adalah bagaimana meraih impian tadi dengan segala cara.
“Cara cepat jadi kaya: investasikan uang Anda, dan dalam waktu cepat uang Anda akan berkembang tanpa perlu bekerja keras. Anda akan menerima 5 persen sebulan, ditambah bonus akhir tahun jika Anda memercayakan uang Anda untuk kami kelola,” kata sebuah iklan di koran. Begitu serakahnya orang karena ingin segera meraih keuntungan sehingga langsung tergiur oleh tawaran itu. Hasilnya, bukan keuntungan yang didapat, malah malapetaka yang didapatkan. Uang tidak kembali, apalagi keuntungan manis yang dijanjikan.
Karena kemalasan bekerja keras, akal sehat kita bisa tidak bekerja dengan baik. Jika saya memiliki usaha yang sangat bagus dengan keuntungan sebesar 5 persen sebulan atau 60 persen setahun, itu artinya saya mempunyai pohon uang yang akan saya sembunyikan dari orang lain. Usaha itu akan saya jalankan sendiri secara diam-diam agar keuntungannya dapat saya nikmati sendiri. Buat apa saya mengajak orang lain, apalagi orang yang tidak saya kenal untuk bersama-sama menikmati pohon uang itu? Kalaupun saya mau membaginya, sudah barang tentu keluarga, saudara, dan sahabat saya yang akan mendapatkan prioritas menikmati pohon uang itu, bukan orang lain.
Untuk pekerja, ada juga cara cepat menjadi kaya; lakukan korupsi, misalnya penggantian uang perjalanan dinas sesuai dengan penggunaaan at cost, maka masukkan semua kemungkinan untuk memperoleh cash dengan jalan mengeluarkan kwitansi fiktif. Untuk pekerja yang menempati posisi basah, misalnya bagian pengadaan barang, menangkan vendor yang bersedia memberikan sebagian keuntungannya kepada kita. Nilai proyek yang hanya Rp 10 juta, naikan menjadi Rp 15 juta agar sisanya dapat kita kantongi.
Cara cepat lainnya untuk mendapatkan gaji lebih tinggi adalah dengan jalan menjilat atasan agar disayang dan cepat naik pangkat, atau diberikan berbagai macam proyek tambahan. Usahakan hanya kita yang mendapat penghasilan tambahan tadi. Kalau perlu, sikut kanan kiri dan injak kaki bawahan agar semua masuk kantong. Mempunyai hubungan khusus atau intim dengan atasan, atau hubungan dengan si pemberi proyek dapat juga menjadi jalan pintas untuk menggelembungkan pundi-pundi kita.
Apakah hanya uang satu-satunya yang dapat membuat kita bahagia? Ada penelitian yang mengatakan, bahwa uang atau dalam bentuk kenaikan gaji misalnya, hanya dapat membuat orang senang atau bahagia selama tiga bulan. Ada hal lain seperti ketenangan kerja, penghargaan, suasana kerja sama, dan suasana kekeluargaan yang jauh lebih membuat orang senang dan bahagia lebih lama. Tidak heran, saya pernah bekerja di perusahaan yang memberikan penghargaan berupa uang atau fasilitas yang sangat baik. Tetapi, karyawannya banyak yang hanya bertahan sebentar di sana. Perusahaan membesarkan karyawannya atau merasa hanya uanglah yang mampu membahagikan karyawannya.
Banyak komentar atau ketidakpuasan yang dilontarkan karyawan, justru pada saat mereka naik pangkat atau naik gaji. Kalau naik gaji komentarnya, “Kok, cuma segini naiknya?” Atau, kalau naik pangkat diberikan misalnya mobil Corolla Altis, komentarnya bukan berterima kasih tapi, “Kok, bukannya BMW?” Mungkin, itu adalah buah yang dipetik karena membesarkan karyawan dengan hanya berdasarkan nilai material semata. Sehingga, mereka tidak merasa bersyukur apalagi berterima kasih. Sebaliknya, ada juga perusahaan biasa-biasa saja dalam memberikan paket material kepada karyawannya, tetapi kok herannya mereka betah di sana. Malahan, mereka tidak mau dibajak walaupun dengan iming-iming gaji yang besar.
Sebagai manusia kita diberi akal pikiran oleh Tuhan untuk dapat menilai mana yang benar mana yang salah, sebelum memutuskan sesuatu. Mestinya, kita dapat belajar dari pengalaman orang-orang terdahulu. Lihat bagaimana kehancuran suatu keluarga yang kaya raya, tetapi mungkin mendapatkannya dengan jalan pintas.
Lihat juga contoh keberhasilan tokoh yang sukses mengembangkan usahanya, juga berkah, serta selamat, karena semua kekayaannya didapatkan dengan jalan halal, kerja keras, kreatif, dan juga berbagi dengan sesama. Usaha yang langgeng adalah mempunyai mesin uang yang dilumasi dengan minyak halal, hasil dari kerjasama seluruh tim yang percaya bahwa intergritas, kerja keras, dan keadilan dijalankan dalam usaha itu.
Jadi, jangan pernah percaya dengan orang yang mengatakan, “Mencari uang haram saja susah apalagi, yang halal?!” Uang memang manis bagai madu, tetapi akan berubah menjadi racun jika kita mendapatkannya tidak dengan jalan yang benar.[iy]
* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau email: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

March 23rd, 2009 at 12:00 am
Saya suka dengan nilai fitriah ketuhanan yang tersirat dalam tulisan anda ini.
Penghargaan anda terhadap orang-orang terdahulu juga suatu hal yang saya suka.
March 26th, 2009 at 8:22 pm
terima kasih atas komentarnya
semoga saya bisa bermanfaat