Hitung, Lalu Syukuri
Editor | Kolom Lepas | April 28th, 2009
Oleh: Emmy Angdyani Erawati*
Masa ujian sekolah bagi saya, seorang ibu, adalah masa yang cukup membuat “tegang”. Saya akan mengerahkan seluruh tenaga , waktu, dan pikiran untuk mendampingi buah hati saya, agar sukses melewati ujian. Sebenarnya hanya Ujian Tengah Semester (UTS) untuk seorang murid yang masih duduk di Sekolah Dasar, tepatnya kelas 4. Mungkin, karena atmosfir persaingan di kelasnya begitu terasa, atau mungkin juga atmosfir dalam pikiran dan hati saya yang begitu bersemangat sekali untuk tampil perfect, yang membuat kami memberi ekstra perhatian pada moment ini.
Semaksimal mungkin saya memanfaatkan waktu saya. Kesempatan senggang di kantor, saya pakai untuk membuat soal latihan. Begitu sampai di rumah, saya segera mendampingi anak saya untuk belajar. Dini hari ketika semua terlelap, bahkan ayam jantan yang ada di rumah saya belum berkokok, saya sudah berlutut berdoa, tentu termasuk mendoakan anak saya. Di alam supranatural, selain berdoa, saya juga lengkapi dengan puasa.
Pagi-pagi sekali saya bangunkan anak saya untuk mengulang pelajaran. Referensi soal-soal ujian tahun lalu sudah saya kumpulkan, jauh-jauh hari sebelum tanggal ujian. Pokoknya, DO OUR BEST. Ketika ujian selesai, kami mempunyai keyakinan pasti semua hasil nilai UTS anak saya di atas 90. Dan, itulah target kami.
Memang hampir benar, hasil ujian anak saya Matematika 92, Agama 92, Bahasa Inggris 97, Bahasa Jawa 97, Sains 88, IPS 90, PKN 92, Bahasa Indonesia 100 dan 90. Puaskah kami? Maksud saya, puaskah saya ? Betul sekali, saya puas. Suenang dan buangga, namun hanya sebentar, tidak lebih dari dua menit. Begitu melihat jawaban-jawaban dari anak saya pada UTS, ternyata yang membuat salah adalah hal yang sepele. Misalnya, ia tidak teliti, tidak cermat membaca, lupa menulis, kelewatan, dll.
Entah apa namanya, tiba-tiba desire, passion, ambition, menjadi begitu terstimulus. Saya langsung berandai-andai, dan dilanjutkan dengan sedikit complain. Seandainya saja anak saya tidak terburu-buru, mau membaca ulang, lebih cermat, mau meneliti kembali jawabannnya, pasti nilainya bisa 100 atau minimal di atas nilai yang sekarang. Lho? Bukankah kami mempunyai target nilai di atas 90? Bukankah sudah tercapai?
Ini yang namanya tidak pernah puas. Tetapi, bukankah ini manusiawi? Mungkin pembenaran bahwa itu adalah nature dari seorang manusia bisa diterima, dan menjadi alasan saya tidak lupa untuk bersyukur.
Malam itu, pemikiran saya menjadi berubah. Ketika kami melaksanakan doa keluarga, bersama anak dan suami, anak saya berdoa dengan kalimat yang membuat saya terhenyak. “Tuhan, Obed bersyukur, Tuhan sudah memberkati dan memberi hikmat Obed sehingga Obed bisa dapat nilai bagus pada UTS. Terima kasih Tuhan.”
Wow… saya ingin segera membuka mata saya dan memeluk anak saya. Ia lebih memahami arti sebuah process oriented dan mengakhiri dengan ucapan syukur. Anak saya sudah melakukan semua proses dengan baik. Belajar ekstra dan men-delete jadwal bermain dari agenda sehari-harinya. Mengesampingkan kegemarannya main Play Station di hari libur. Melupakan nonton TV. Tentu “penyangkalan diri” seperti itu bukan hal mudah. Toh, ia sudah melakukannya tanpa keluhan. Tidak ada gerutu sedikit pun.
Saya tahu benar, ia berdoa dengan sungguh-sungguh. Ketika hasil telah dicapai, ia sangat senang, puas, dan kemudian sangat bersyukur. Targetnya jelas dan terukur, serta diakhiri dengan rasa terima kasih. Untuk selanjutnya ia membuat target yang baru, UTS ke depan nilai seratusnya harus lebih banyak. Jadi, ia harus lebih teliti, lebih tenang , dan tidak terburu-buru. Thus... intinya ia sangat menikmati semua proses dan hasil yang dicapai. Ketika saya sempat khawatir pada reaksi anak saya dengan complain yang saya utarakan, ia hanya tersenyum, tanpa beban. Tidak ada kata “nyesek” seperti yang saya alami. Benar-benar happy.
“Obed getun enggak dengan nilai ulangan yang dibagi, Nak?” tanya saya.
“Iya, sih, tetapi Obed senang nilainya sudah di atas 90 semua,” jawab anak saya dengan mata berbinar. “Tenang saja Mam, nanti UAS diusahakan dapat nilai 100.”
Bukankah yang kerap terjadi pada “dunia hidup dewasa” kita adalah sering kali menaikkan goal kita pada garis yang imajiner, menariknya terus dan terus ke atas tanpa ada waktu jeda, menengok ke belakang, me-review proses yang kita lewati dan mencermati hasil yang kita capai. Jika sudah tercapai, kita bersyukur dan kemudian membuat target baru. Tentu, itu membuat kita lebih menikmati setiap proses dan hasil yang kita capai. Dan bahkan, kita memiliki multiplikasi energi karena ada sukacita dan rasa syukur di dalamnya.
So, mari kita hitung apakah kita sudah mengumpulkan poin dengan do our best dan memberi finishing touch dengan thanks God.[eae]
* Emmy Angdyani Erawati adalah seorang Insinyur Teknik Kimia yang lahir di Surabaya, 2 Maret 1969. Emmy adalah ibu dari seorang anak berusia 10 tahun dan pernah berkarier di perbankan selama sepuluh tahun. Sekarang ia bekerja di sebuah perusahaan pelayaran nasional di Surabaya sekaligus menjalankan wirausaha persewaaan mobil. Ia dapat dihubungi di Pantai Mentari M-40, Surabaya, HP: 081.2358.7773 atau pos-el: angdyany[at]telkom[dot]net.

May 15th, 2009 at 8:01 pm
Ibu Emmy, ibu yang luar biasa. Seharusnya ibu teramat sangat bersyukur memiliki putra yang luar biasa pula.
Anak saya prestasi akademiknya biasa-biasa saja, namun saya sanggat bangga padanya kerena mereka berdua sudah mampu mencari jadi dirinya, berjuang meraih mimpi-mimpinya. Berani berjuang jadi pemimpin, terutama memimpin dirinya sendiri.
Salam kenal dan Selamat malam.