Hiduplah dalam Kehidupanmu
Editor | Kolom Lepas | June 8th, 2009
Oleh: Guntur Novizal*
“Dalam hidup ada kehidupan. Kita harus mampu menghidupkan kehidupan ini agar kita bisa benar-benar hidupdalam menjalani hidup kita. Setelah kita benar-benar hidup, kita dapat menghidupkan kehidupan orang lain sehingga hidup kita tidak sekedar hidup-hidupan.”
~ Adi W. Gunawan
Tulisan ini saya mulai dengan untaian kata filosofis yang didapat dari salah satu buku bestseller milik Adi W. Gunawan. Dia salah satu guru imajiner dari sekian banyak orang-orang hebat yang saya kagumi. Dia sendiri senang menyebut dirinya sebagai Re-Educator dan Mind Navigator. Kalimat dalam bukunya tersebut jelas cukup menggelitik saya untuk bisa merenungkan kembali dan bertanya pada diri tentang apa itu hidup. Mengapa saya hidup? Untuk apa saya hidup?
Mencoba menjawab pertanyaan tersebut di atas—dengan menggunakan pendekatan akademis yang tersisa dari proses pendidikan di kampus dulu semasa kuliah—hasilnya ternyata masih belum bisa menjawab pertanyaan sesulit itu. Maklum, selama di kampus dosen saya banyak mengajarkan tentang pengetahuan dan keterampilan teknis yang masih bersifat semu dan maya. Konsekuensi logisnya tidak mengherankan jika saya masih bingung dalam menghadapi dunia yang riil, dan tidak jarang saya merasa terasing dengan diri sendiri.
Sistem pendidikan yang ada sekarang masih belum mampu menghasilkan lulusan yang bisa menjawab pertanyaan di atas. Apalagi untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai kualitas dan mental yang kuat, serta menghasilkan manusia-manusia yang bijak dan bisa bermanfaat buat sesama. Maka, dalam konteks ini tidaklah mengherankan kalau Topatimasang (1998) mengatakan bahwa pendidikan tidak ubahnya seperti candu yang memabukan, membuat banyak orang terlena dan terbius sehingga tidak bisa mengenal realitas yang ada di sekitarnya. Tentunya ini bertolak belakang dengan apa yang inginkan oleh salah satu tokoh pendidikan dunia, yaitu Paulo Freire yang berpendapat bahwa tujuan akhir dari upaya proses pendidikan adalah memanusiakan manusia (humanisasi), yang berarti pemerdekaan atau pembebasan manusia dari situasi batas yang menindas dari kehendak mereka.
Dalam praktiknya pendidikan yang kita dapat selama ini belum mengakui sepenuhnya bahwa manusia itu sosok yang unik, artinya sosok yang satu akan berbeda dengan sosok yang lain. Buktinya, untuk bisa mengukur kecerdasan seseorang masih saja digunakan kecerdasan tunggal, yaitu kecerdasan intelektual, dengan melihat dari keterampilan menghitung, merinci, dan menganalisis. Tidak heran kalau nilai raport dan IPK (Indek Prestasi Kumulatif) menjadi ukuran kebanggaan yang mutlak bagi anak didik dan orang tua, sehingga tidak jarang anak didik dan mahasiswa yang menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan nilai yang bagus. Hal inilah yang menyebabkan Adi W. Gunawan mengatakan dengan bahasa provokatif di salah satu artikelnya, bahwa sekolah hanya dirancang untuk menghasilkan orang-orang gagal.
Dalam kehidupan ini, ternyata secara tidak sadar kita sering merasa minder dengan kelemahan yang dimiliki. Dan celakanya proses itu muncul dari interaksi dengan lingkungan terdekat kita. Lingkungan dalam keluarga, pertemanan dan sekolah sering menjadi titik awal rasa minder dan lemah itu muncul. Sebagai contoh kecil, ketika kita dulu sekolah pernah mengalami kesulitan dengan salah satu pelajaran, semisal bermasalah dengan pelajaran matematika. Ketidakmampuan kita dalam menyelesaikan soal-soal matematika membuat kita berpikir bahwa ”Akulah anak paling bodoh di kelas ini!” atau ”Akulah siswa yang pantas gagal!”. Bahkan tidak jarang ucapan yang bernada pengecilan terhadap kemampuan anak itu berasal dari orang tua dan guru.
Kondisi di atas, bila dipelihara terus, akan sangat berbahaya. Ini akan menyebabkan seseorang terpenjara mentalnya seumur hidup. Karena, ketika persepsi ketidakmampuan kita terus dipelihara, bahkan didukung oleh lingkungan terdekat kita, maka lama kelamaan ini akan menjadi belief system yang akan mengakar kuat, sehingga pada akhirnya akan menempel dan mengendap pada alam bawah sadar kita. Keadaan ini akan membelenggu dan membenamkan setiap potensi besar kita untuk diaktualisasikan. Jelas kalau sudah pada tahap ini tidak mudah untuk “disembuhkan”. Perlu upaya yang cukup keras dan lumayan rumit untuk bisa mengembalikan pada kondisi semula. Ibarat sebuah komputer yang sudah terkena virus ganas, maka harus cepat-cepat diinstal ulang, dengan menghilangkan program-program lama diganti dengan yang baru.
Berbicara masalah cerdas atau tidak cerdasnya seseorang, jawabannya mungkin ada pada hasil penelitian Howard Gardner. Dia menemukan bahwa dalam diri seseorang terdapat kecerdasan majemuk. Artinya, beberapa kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Beberapa jenis kecerdasan tersebut adalah linguistic, logical-mathematical, bodily-kinesthetic, spatial-visual, musical, intrapersonal, dan interpersonal. Penemuan tersebut disempurnakan oleh Daniel Goleman dengan hasil penelitian yang cukup menggemparkan dan mengubah tatanan nilai yang dianut serta dipercaya sebelumnya. Dia mengatakan bahwa kecerdasan intelektual hanya berpengaruh 20 persen terhadap kesuksesan dalam hidup. Selebihnya itu ditentukan oleh kecerdasan lain, yaitu kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional itu sendiri merupakan kemampuan untuk memahami diri sendiri sehingga bisa memahami orang lain dan bisa membina hubungan baik dengan orang lain. Kecerdasan inilah yang sangat dibutuhkan seseorang dalam menghadapi kesulitan dalam hidup.
Hanya saja sangat disayangkan, karena banyak orang yang tidak mengetahui dan menyadari hal ini. Kelemahan yang kita miliki telah membutakan mata hati kita untuk mengali potensi dan kekuatan yang telah diberikan Tuhan pada kita. Kita sering fokus untuk membanding-bandingkan kelemahan kita dengan kelebihan yang dimiliki orang lain. Mengutip ucapan Mario Teguh bahwa ketika kita berfokus pada satu hal, maka kita akan tumbuh pada hal tersebut. Jadi, ketika hanya berfokus pada kelemahan yang dimiliki hasilnya kita akan semakin menyesali diri dan merasa inferior. Sehingga, ketika kesulitan datang kita sudah buru-buru mengatakan bahwa kita tidak mampu, ini terlalu berat buat kita, atau ini tidak mungkin untuk diselesaikan. Ketika perasaan ini muncul, maka sebenarnya kita telah mati dalam kehidupan ini.
Kembali pada ucapan indah di atas, ternyata banyak di antara kita belum benar-benar hidup dalam kehidupan. Ini bisa dilihat dari belum maksimalnya atau bahkan masih terkuburnya potensi besar dalam diri kita. Jelas ini tugas kita untuk bisa membangunkan setiap kemampuan terpendam yang masih tertidur, dengan harapan kita akan semakin merasa percaya diri dan bersyukur pada Tuhan karena telah diberi kemampuan sehebat ini. Sehingga, tugas kita tinggal satu lagi, yaitu memberi manfaat dari kehadiran kita dengan membantu dan menolong orang lain untuk bisa menghidupkan kehidupannya. Karena, ketika kita berhasil membantu orang untuk menemukan dan mengembangkan potensinya, maka kehadiran kita bisa memberi manfaat buat orang lain. Bukankah orang hebat dan terbaik itu, adalah orang yang paling bermanfaat? SALAM SUKSES!!![gn]
* Guntur Novizal lahir di Brebes pada 11 Noverber 1984. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jenderal Soedirman dengan predikat Cum Laude. Ketika masih aktif kuliah dulu pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Akuntansi UNSOED. Sekarang sehari-hari bekerja sebagai auditor disalah satu Kantor Akuntan Publik di Jakarta. Web: www.gunturnovizal.tk, pos-el: vizal_jr[at]yahoo[dot]com.
June 9th, 2009 at 2:38 pm
Sangat menarik tulisannya Mas Vizal
Orang yang berpikir dirinya lemah maka kelemahan itu akan benar-benar ada, dan sebaliknya
orang yg selalu berpikir besar maka dia akan menjadi besar.
Supandi-Kroya (0282) 494921 (Alumnus Unsoed 2007)
June 9th, 2009 at 7:31 pm
Makasih maz Adnan atas comment nya, salam buat teman-teman di cilacap sana….
June 9th, 2009 at 8:25 pm
mantep Lah gun………..sukses selalu…….
June 10th, 2009 at 1:22 am
akhirnya… terus berkarya bung.. suatu saat engkau bakal jadi orang besar!! be consistent yap..!!
June 10th, 2009 at 6:19 am
Great..
Maaf dan tlg dibenarkan kl saya slh.
Jd,pertanyaan mengapa dan untuk apa saya hdp adalah untuk menjadi org hebat dan t’baik,
Org yg hbt dan t’baik adlh org yg bs m’hidupkan kehidupan org lain (b’manfaat).
Untk bs m’hdpkn khdpn org lain hrs bs m’hdpkn khdpn diri sndr t’lbh dahulu.
Yaitu dgn menggali potensi besar yg ada dlm diri kita.
Dan sistem pendidikan kita msh blm bs menjadi sistem pendidikan yang mendidik manusia untk hdp dlm kehidupannya.
Spt itu?
June 10th, 2009 at 2:44 pm
Sebuah kesimpulan yang sempurna mz frans, itulah inti yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Anda berhasil mengikuti alur dalam tulisan yang saya buat….makasih atas comment nya….
June 10th, 2009 at 3:55 pm
mas, aku pernah ikutan workshopnya Adi W. Gunawan. emang keren sie orangnya. Great Idea.Moga bs menginspirasi…
June 11th, 2009 at 11:40 am
Sangat menginspirasi Gun, aku bangga punya teman yang bisa menjadi motivator. Sukses GUN!
June 11th, 2009 at 2:56 pm
very inspirational….good work bang guntur
semakin membuktikan ungkapan “other people experience is the best teacher”
June 11th, 2009 at 5:46 pm
Untuk apa kita hidup? memang tidak gampang untuk dijawab.Tanpa teoritis menurut saya sperti ini. Anggaplah Kelahiran sebagai START. Kemudian bertumbuh sebagai PERJALANAN.Dalam perjalanan,kita akan menjalani berbagai PROSES kehidupan . Proses inilah HIDUP yang sebenarnya.Seperti pepatah mengatakan Hidup adalah perjalanan.dan JOURNEY is the DESTINATION.Kita dapat mencapai tujuan hidup kita dalam perjalanan itu sendiri.Hudup itu berarti belum MATI. So apa tujuan hidup kita, ya hidup itu sendiri.Kita ingin hidup yang seperti apa? Ya terserah, Kita diberi TUHAN pilihan. Kurang lebihnya saya minta maaf.Salam Kaizen
June 17th, 2009 at 8:41 am
Buat achim, maz arief, frans, Yuli, Danie, Yudho, dan Doharman.Terima kasih atas komentarnya, tentu ini semakin melecut saya untuk terus belajar dan terus belajar. Sem0oga bisa bertemu lagi dengan tulisan saya selanjutnya….