Hidup yang Menjulang Versi Koloni Rayap
Editor | Kolom Tetap | June 16th, 2009
Oleh: Sribudi Astuti*
Sebuah lelucon bodoh yang tidak perlu ditanggapi, begitulah kira-kira saya menganggap candaan teman baru saya waktu dia mendeskripsikan tentang serangan rayap di plafon rumahnya hampir tiga tahun yang lalu. Pada waktu itu saya masih dengan segala kesombongan sebagai seseorang yang baru saja keluar dari dunia kampus. Dan kemudian, saya masuk ke lingkungan yang jauh, yang bagi sebagian orang masih dianggap kalah dengan lingkungan di mana saya berasal.
Jika mengingat kesombongan itu rasanya saya malu pada diri sendiri. Terlebih yang menjadi bahan candaan yang saya remehkan itu adalah sekelompok rayap, makhluk ciptaan Tuhan yang meskipun remeh mempunyai keunikan yang menakjubkan, dan akhirnya menjadi “guru” dalam perajalanan saya hingga saat ini.
Kala itu, saya menyangkal realita yang disampaikan teman saya. Mana mungkin rayap bisa menjangkau plafon? Sebuah kemustahilan menurut saya. Hal yang terpatri di kepala saya adalah bahwa rayap menggerogoti kayu mulai dari tempat yang paling dekat dengan tanah, kayu yang menempel tanah, atau kayu yang tumbang dan dibiarkan dalam waktu yang lama menyentuh tanah yang lembab.
Beberapa bulan kemudian, ketika saya mulai mengamati alur-alur aneh yang memenuhi dinding di sebuah rumah kosong, saya perhatikan dan saya korek-korek alur tersebut. Dan, ternyata alur-alur itu adalah alur-alur kecil yang dibuat koloni rayap untuk melindungi rayap dari panasnya udara alam Sulawesi, dan menjangkau tempat teduh nun jauh di atas plafon untuk menggerogoti kayu yang ada di situ.
Sampai di sini saya mulai mengamati perbedaan koloni rayap di sebagian Pulau Jawa yang tanahnya subur di mana rayap membentuk alur-alur atau lorong-lorong pelindung rayap dalam ukuran besar dan rapuh. Sementara, rayap yang ada di Sulawesi lorong-lorong yang dibuat itu adalah untuk menjangkau sumber makanan yang sangat kuat, padat, dan sulit untuk dihancurkan.
Proses belajar tentang rayap ternyata tak cukup sampai di sini. Sebuah realitas yang menakjubkan yang benar-benar menghancurkan kesombongan akan kepintaran saya yang belum seberapa terbentang di Taman Nasional Wasur, Merauke. Koloni rayap yang sepele membangun “istana” yang menjulang, kokoh, dan menakjubkan lengkap dengan lorong-lorong pelindung dari air hujan dan penghambat udara panas di tengah ganasnya alam Papua.
Saya benar-benar tersentak, menjelajahi tiga daerah waktu, membawa saya menjelajahi tiga pengetahuan yang ditampilkan oleh koloni rayap. Pengetahuan itu adalah tentang kehidupan yang terus menjulang karena tempaan kehidupan.
Wilayah Jawa, dengan segala kesuburan yang dimunculkan akibat letusan berberapa gunung berapi telah mengubah tanah menjadi tanah yang banyak memberikan kemudahan bagi manusia, hewan, dan tumbuhan. Karena dimanjakan oleh alam, rayap yang ada di tempat tersebut tak pernah menjangkau tempat-tempat yang tinggi.
Lain halnya jika menelusuri kawasan Indonesia Tengah dan Timur, kerasnya alam membuat makhluk yang sepele berjuang untuk hidup dan melanjutkan kehidupan. Alam yang keras disiasati dengan membangun lorong-lorong yang menjadi “benteng” pertahanan hidup yang kokoh dan menakjubkan hanya dengan mengikatkan partikel-partikel tanah yang keras dan rumput kering.
Tuhan selalu menyiratkan kearifan dalam setiap ciptaannya, tak terkecuali lewat koloni-koloni rayap yang tersebar di wilayah yang karakteristiknya berbeda. Lewat koloni rayap dari tiga daerah waktu ini kita dapat belajar bahwa tempaan alam dan kehidupan bukan satu hal untuk dipersalahkan, tetapi menjadi satu hal yang memicu kelangsungan kehidupan agar terus menjulang dan menciptakan keajaiban-keajaiban yang pantas untuk dikagumi. Bukankah hidup seharusnya merupakan perjuangan dalam melakukan petualangan hidup, dan tumbuh menjulang dengan penuh kemuliaan yang akan menyuburkan jiwa?[sba]
* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP: 085656450918.

June 16th, 2009 at 7:33 am
[...] Hidup Yang Menjulang Seperti Koloni Rayap Posted on June 16, 2009 by toeti http://www.andaluarbiasa.com/hidup-yang-menjulang-versi-koloni-rayap [...]
June 22nd, 2009 at 5:45 pm
Alam melakukan pembelajaran yang unik, sampai-sampai rayap pun dapat mensiasati alam itu sendiri secara unik dan kreatif. Sudah seharusnya kita lebih kreatif dari rayap-rayap itu toh, Terima kasih atas tulisan yang kreatif.Salam Kaizen
July 24th, 2009 at 7:05 pm
Dari artikel rayap ini akhirnya saya tergelitik membuat kata-kata mutiara tentangnya: Bagaimana pun hancurnya, menderitanya, tersiksanya, sakitnya, sengsaranya dan sedihnya hidup yang Anda alami, Anda harus bangkit dan bangkit. Jika belum memungkinkan, minimal merayap pun jadilah, dan kemudian bangkit lagi.
Ingat, ternyata dalam dunia medan tempur pun tehnik merayap pun bisa diandalkan untuk memenangkan suatu suatu pertempuran.
August 21st, 2009 at 7:32 am
Yupp…setuju rayap adalah salah satu binatang pekerja keras….soal nya seperti contoh bahwa di temukan di hawai rayap jenis coptotermes itu bisa mencapai gedung di lantai 56….bukan kah ini luar biasa….so kita bisa belajar dari hewan yang terbilang kecil bahkan buta ini….^^