Hidup Nyaman di Luar Zona Nyaman
Editor | Kolom Lepas | June 22nd, 2009
Oleh: Supandi*
“Pak, Anda termasuk guru senior di sekolah kita. Kata Bapak Kepala Sekolah, Anda akan diusulkan untuk mewakili sekolah kita mengikuti lomba guru teladan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional tingkat Kabupaten,” kata Pak X kepada Pak Y.
“Ah, yang lain saja. Saya tidak pantas menjadi guru teladan. Menjadi guru teladan itu sangat berat, harus memiliki kelebihan dari yang lain. Lagipula, sekarang saya lagi banyak kerjaan di rumah,” kata Pak Y.
“Kalau Anda tidak bersedia, lalu siapa yang pantas untuk maju, menurut Anda?” tanya Pak X.
“Kalau menurut saya kita tidak usah ikut-ikutan lomba. Sekolah kita sekolah di desa. Begitu pula guru-guru di sini, menurut saya tidak ada yang mampu. Di kabupaten akan ketemu sama guru-guru dari kota yang lebih pintar, lebih berpengalaman dari kita. Pokoknya kalau mau percaya sama omongan saya, kita tidak usah macam-macam. Percuma, tidak mungkin menang,“ kata Pak Y.
Sikap yang ditunjukkan oleh Pak Y dalam dialog di atas hanya merupakan salah satu contoh saja dari sekian banyak sikap yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Sikap menolak terhadap kepercayaan yang diberikan oleh atasan dan rekan-rekan guru seperti itu merupakan tindakan yang sangat popular. Sikap yang membuat dirinya merdeka, aman, dan terbebas dari beban.
Hal yang demikian merupakan kecenderungan sikap yang bisa dimaklumi. Mengingat, pada kenyataannya dalam hidup ini orang memang cenderung mencari yang aman-aman saja, yang biasa-biasa saja. Meminjam istilah Bobbi DePorter dan Mike Hernacki dalam bukunya Quantum Learning, bahwa apa yang dilakukan Pak Y merupakan kondisi di mana dia terperangkap dalam sebuah “Zona Nyaman”.
Orang yang merasa enjoy berada di dalam zona nyaman biasanya cenderung mengingkari change (perubahan). Sebagai imbas dari keadaan nyaman—sebagaimana yang dimaksud dalam uraian di atas—maka seseorang akan terperangkap ke dalam sebuah kehidupan yang statis. Mereka belum menyadari bahwa secara kodrati “hidup” itu sendiri adalah perubahan. Sehingga, bagaimanapun juga manusia hidup harus melakukan perubahan, minimal mengikuti perkembangan zaman. Mengapa demikian? Karena, apabila seseorang tidak melakukan perubahan, dikhawatirkan mereka akan tertindas oleh perubahan zaman yang bergerak lebih cepat.
Pertumbuhan manusia secara kontinum dapat dibagi menjadi dua arah, yaitu tumbuh menjadi tua saja, atau tumbuh menjadi dewasa. Orang yang hidupnya senantiasa enjoy berada di zona nyaman sangat dimungkinkan akan tumbuh menjadi tua saja, yang minim dengan prestasi dan minim ilmu. Sebaliknya, seseorang yang sarat dengan perubahan maka akan tumbuh menjadi dewasa, sarat dengan ilmu, dan rendah hati (seperti ilmu padi). Bahkan, disinyalir orang yang sarat dengan ilmu, ketika menginjak masa tua, orang tersebut tidak akan mengalami pikun.
Satu hal yang penting untuk disikapi secara bijak adalah bahwa semua manusia memiliki potensi diri, memiliki bakat, dan juga punya minat. Tumbuh tidaknya potensi diri tergantung pada seberapa besar kepercayaan seseorang dalam memunculkan potensi dirinya tersebut. Dengan demikian manakala seseorang sudah berhasil melakukan hal tersebut, maka akan muncul dalam dirinya sebuah kesadaran (awareness) bahwa sesungguhnya hidup pascaperubahan ternyata lebih nyaman.
Seorang siswa yang jarang belajar akan merasa nyaman (dalam ketertinggalan). Toh, dia bisa menyontek, atau kerja sama dengan temannya, dan bisa naik kelas. Akan tetapi, kenyamanan yang sesungguhnya akan dapat dirasakan olehnya apabila dia mampu membuktikan bahwa dirinya hebat melalui sebuah rutinitas giat belajar. Seorang guru akan merasa nyaman ketika dia melaksanakan tugasnya secara monoton sebatas masuk kelas dan mentrasfer ilmu. Akan lebih nyaman ketika dia mampu melakukan berbagai inovasi pembelajaran yang lebih profesional. Seorang penjual bakso akan merasakan hidup lebih nyaman ketika dia berhasil membuka agennya di berbagai tempat dengan menu dan label yang sama. Seorang pejabat akan merasakan hidup lebih nyaman ketika dia mampu keluar dari sistem yang tidak baik.
Demikian pula orang sukses akan merasa lebih nyaman apabila dia mampu mewariskan kesuksesannya kepada anak keturunannya dan kepada orang lain. Yang demikian ini adalah merupakan keunggulan dari orang sukses yakni apabila mampu mewariskan kesuksesannya kepada anak cucunya dan kepada orang lain. Sedangkan keunggulan orang miskin adalah tidak ingin mempertahankan kemiskinannya, apalagi mewariskannya kepada anak cucu.[sup]
* Supandi lahir di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.

February 3rd, 2010 at 6:19 am
Betul, pak Pandi. Tapi bukankah pada realita masyarakat kita sekarang, yang mudah diterima dan disukai masyarakat justru yang biasa-biasa saja (zona nyaman). Jadi guru yang biasa-biasa saja, akan tanpa tekanan dan tuntutan. Jadi seorang muslim yang biasa-biasa saja, akan terlepas dari sorotan masyarakat, dan lain-lain. Pertanyaannya, kalau yang biasa-biasa saja, bukan saja nyaman tapi diterima masyarakat, untuk apa kita menjadi yang tidak biasa (luar biasa)?
February 4th, 2010 at 6:22 pm
Hidup adalah perubahan. Siapa yg tidak berubah maka akan tertinggal oleh perubahan jaman yg bergerak begitu cepat, jd harus keluar dari zona nyman pak Zaenal. Sukses buat Anda.