Hidup Nyaman dengan Kesempurnaan yang Tidak Sempurna
Editor | Kolom Tetap | June 1st, 2009
Oleh: Eni Kusuma*
“Jika kesempurnaan sebagai motivasi maka ketidaksempurnaan sebagai investasi.”
~ Eni Kusuma
Memang tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi, bisakah ini dijadikan acuan dalam tindakan-tindakan kita untuk meraih suatu keberhasilan? Kita tentu setuju bahwa hakikat kemanusiaan adalah ketidaksempurnaan. Tetapi, benarkah tuntutan, perintah, atau ajakan untuk menjadi sempurna sama sekali tidak realistis?
Jika Anda bertanya pada saya—yang notebene pernah menjadi pembantu rumah tangga—apakah kesempurnaan itu penting? Ya, bagi saya kesempurnaan itu penting sekaligus tidak perlu!
Penting, yaitu sebagai tujuan dari usaha-usaha kita. Coba bayangkan, jika kesempurnaan bukan tujuan dari usaha kita, kita akan setengah-setengah dalam menjalankannya. Bahkan, gampang meremehkan dengan alasan: “Ah, aku kan manusia, manusia itu tidak sempurna, wajar kalau aku salah lagi, salah lagi.” Malah, kita mungkin akan terjebak pada kesalahan yang sama karena tidak serius dalam belajar.
Apa jadinya jika pekerjaan saya sebagai PRT di Hong Kong kala itu tidak menjadikan kesempurnaan sebagai tujuan? Bukan tidak mungkin saya akan mengalami kekerasan karena tidak memenuhi standar yang majikan berikan. Menyetrika harus licin, mencuci dan mengepel harus kinclong, menjaga baby harus bernilai seratus, dan sebagainya.
Demikian juga dengan belajar menulis dan berbicara di depan umum. Bisa-bisa saya tidak serius dalam belajar karena tidak menjadikan kesempurnaan (nilai seratus) sebagai goal-nya. Saya yakin orang-orang luar biasa seperti penemu telepon, penemu lampu pijar, penemu mobil, pembangun Microsoft, dan lain sebagainya harus demikian berusahanya melakukan eksperimen demi mencapai goal-nya, yaitu kesempurnaan hasil temuannya.
Tidak perlu. Kesempurnaan tidak perlu dijadikan beban. Apalagi merasa dikejar-kejar oleh tuntutan yang memang memberatkan itu. Bagaimana tidak berat, keahlian dan keberhasilan apa sih, yang tidak didahului oleh trial and error, coba-salah-coba lagi? Masih ada “lain kali” dan “yang akan datang” untuk memperbaikinya. Tidak perlu stres memikirkannya.
Sebagai pemula, jika kita terobsesi oleh kesempurnaan, bisa-bisa kita tidak bergerak ke mana-mana. Karena takut salah, takut malu, takut dicemooh, takut dinilai tidak bermutu, takut gagal, takut ditolak. Mudah menyalahkan sesuatu yang lain (mencari kambing hitam) yang sebenarnya adalah alasan untuk malu mengakui kelemahannya.
Dan, jika saya terobsesi oleh kesempurnaan (meski saya pribadi menjadikannya sebagai tujuan) saya tentu tidak akan bergerak ke mana-mana. Saya tidak akan sampai ke Hong Kong karena takut tidak bisa bekerja dengan baik dan takut dimarahi majikan. Juga saya tidak akan pernah bisa menulis dan berbicara di depan umum karena takut dicemooh, takut dibilang tidak bermutu, dan takut ditertawakan. Untunglah, saya tidak terobsesi memikirkan: “Saya harus OK sampai detail dan njelimet dari menulis sampai berbicara.”
Bagi seseorang yang telah memiliki keahlian, jika orang ini terobsesi oleh kesempurnaan ia akan menjadi seorang pengkritik yang sinis, penilai yang “keji”, dan penghantam kesalahan orang lain karena tidak mencapai standar yang ia bayangkan. Secara psikologis, sebenarnya ini sangat menyiksa yang bersangkutan. Sangat merasa tidak nyaman karena harus marah dengan orang lain yang dianggapnya tidak sesuai standar. Juga merasa jengkel dan bosan dengan dirinya sendiri yang terbebani dengan tuntutan kesempurnaan.
Jika kesempurnaan sebagai motivasi maka ketidaksempurnaan sebagai investasi. Sebagai pendekatan hidup, panggilan kepada kesempurnaan cukuplah sebagai sumber motivasi untuk belajar serius demi meraih yang lebih baik dan lebih baik lagi. Meski kita tahu, sangat mustahil meraih kesempurnaan 100 persen.
Sebaliknya, ketidaksempurnaan dipahami sebagai investasi yang suatu saat diambil lagi untuk pembelajaran dan pemahaman agar kita terhindar dari kesalahan yang sama pada situasi yang sama pula. Melakukan kesalahan adalah wajar. Yang keterlaluan adalah melakukan kesalahan yang sama pada situasi yang mirip. Ini berarti ia tidak menginvestasikan kesalahannya sebagai pembelajaran, tetapi hanya membuang dan melupakannya. Sehingga, tak heran kesalahan yang sama pada situasi yang sama terulang kembali.
Kesempurnaan adalah tujuan dan ketidaksempurnaan adalah realitas. Usaha-usaha yang tidak memiliki tujuan menuju sempurna adalah semu. Dan, tidak mengakui ketidaksempurnaan sebagai realitas berarti menyalahi kodrat, yang memang dunia ini adalah ketidaksempurnaan, ketidakpastian, ketidakmapanan, penuh perubahan, dan persaingan. Maka, kita dituntut belajar untuk itu.
Hidup ini kaya dimensi. Mengambil yang satu dan meremehkan yang lain kiranya bukan cara yang bijaksana. Keseimbangan di antaranya dan tahu pemanfaatan masing-masing adalah kunci keefektivan dan kenyamanan kita dalam menjalani hidup.
Demikiankah?[ek]
* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.
June 2nd, 2009 at 4:20 pm
Very interesting Mba Eni,
No one is perfect, but we must be optimist that we can do the best.
June 4th, 2009 at 3:23 pm
GOOD ARTIKEL…kesempurnaan hanya milikNya (Khaliq)…dan ketidaksempurnaan adalah sifat alami kita (makhluk)…dan walaupun ketidaksempurnaan adalah realitas. Kita berupaya untuk memberikan value kpd diri kita sendiri untuk setidaknya”mendekati” kesempurnaan…itulah mengapa kita diharuskan berusaha n berupaya terus sepanjang hidup kita. thx.