Hati-Hati Memilih dan Menjadi Pemimpin
Editor | Kolom Lepas | March 23rd, 2009
Oleh: Akhmad Sirodz*
Dalam menghadapi musim penggantian kepemimpinan legislatif maupun eksekutif, baik di daerah maupun tingkat nasional melalui pemilu, dan pilpres 2009 yang semakin dekat dan semakin hangat, sebaiknya kita berhati-hati memilih sosok pemimpin. Sebab, baik buruknya kehidupan masyarakat, tergantung kepada peminpinnya.
Prof. Dr. Achmad Mubarok, MA mengemukakan, seorang pemimpin harus memiliki kelebihan dibanding orang kebanyakan, dan kelebihan itulah yang diberikan kepada yang dipimpinnya. Apa yang bisa diberikan? Bisa kesejahteraan, rasa aman, petunjuk, pengetahuan, dan yang terpenting keteladanan.
Risiko pemimpin
Namun kenyataannya, beberapa pemimpin dan mantan pemimpin kita—baik pemimpin daerah maupun tingkat nasional—berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena dalam kepemimpinannya belum memberikan keteladanan yang baik.
Meskipun beberapa dari mereka belum tentu terbukti bersalah secara hukum, namun berurusan dengan KPK tersebut telah membuat yang bersangkutan maupun yang lainnya jadi layu atau lunglai, baik itu teman sejawat, keluarga, maupun kaum kerabat.
Setiap orang hakikatnya merupakan pemimpin. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban dari kepemimpinannya itu.” Sehingga, penyidikan mapun penyelidikan sampai penjemputan oleh aparat hukum terhadap beberapa pemimpin kita, hakikatnya merupakan konsekuensi logis dari pertanggungjawaban seorang pemimpin pada saat kepemimpinannya.
Bila penjelasan di atas dikaji dengan hadist, maka dapat dikatakan bahwa keberhasilan seorang pemimpin, pada dasarnya ditentukan oleh bagaimana keberhasilan yang bersangkutan dalam memimpin dirinya sendiri.
Pepatah mengatakan, orang yang mampu memimpin diri sendiri, ia akan mampu memimpin keluarganya, dan insya Allah akan mampu memimpin masyarakat, lingkungannya, malah memimpin bangsa dan negaranya.
Menjadi pemimpin itu berat risikonya. Pada zaman sekarang, masih banyak orang yang belum mampu memperlihatkan prestasi memimpin dirinya sendiri dan keluarganya, namun sudah berani dan berusaha menjadi pemimpin masyarakat, memimpin bangsa dan negara. Sehingga, untuk menunjukkan ambisinya, tak segan-segan mereka mengumbar janji demi menarik perhatian masyarakat. Bahkan, mereka berlomba-lomba menobatkan diri sendiri sebagai pemimpin, membuat tim sukses, mengadakan kampanye besar-besaran, pasang poster diri, politik uang, dan lain sebagainya, yang semuanya mencerminkan ambisi serta arogansi mereka sendiri. Karena, menjadi pemimpin identik dengan fasilitas melimpah dan pemanjaan hidup yang luar biasa.
Seandainya tingkat pengetahuan publik sudah matang, mengetahui apa dan bagaimana sosok pemimpin, tentu publik pun akan berhati-hati memilih seorang pemimpin. Mereka tidak akan gegabah mengangkat seseorang menjadi pemimpin, sebelum melihat sendiri kemampuan si tokoh itu dalam memimpin diri sendiri dan keluarganya.
Begitu pula jika seseorang ingin menjadi pemimpin, dia harus mengerti akan peran, fungsi, dan tanggung jawab seorang pemimpin, baik itu di dunia maupun di akhirat nanti. Dan, yang pasti si calon pemimpin itu akan berhati-hati dalam mengejar jabatan kepemimpinan di tingkat mana pun, serta yang terpenting ia tidak hanya mengincar fasilitas, gaji tinggi, dan kekuasaan yang besar.
Jika orang hafal dan mengerti fungsi dan peran pemimpin, serta sanksi apa yang akan didapat jika tidak mampu menjalankan kepemimpinan, mereka pasti tidak akan mau mengejar posisi pemimpin, terutama bila itu ditinjau dari sudut ajaran agama.
Sesungguhnya, membantu orang yang membutuhkan, baik akibat kemiskinan, maupun desakan oleh hal-hal lain, lebih baik daripada mengejar-ngejar jabatan yang belum tentu dapat dijalankan dengan baik dan benar (al hadist).
Padahal, baik buruknya kehidupan masyarakat, tergantung kepada peminpinnya. Sebuah kaidah lama menyebutkan, “Rakyat tergantung kepada yang memimpinnya. Jika bagus, ikut bagus, dan jika jelek, terbawa jelek.”
Akhirnya, kita sebagai masyarakat pemilih berharap supaya pada priode mendatang, semoga Indonesia tercinta ini dapat dipimpin oleh seorang pemimpin yang lebih amanah dan dapat dijadikan teladan yang baik. Amin.[as]
* Akhmad Sirodz adalah Widyaiswara/Fasilitator Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur (PKP2A) III, Lembaga Administrasi Negara, Samarinda. Saat ini, ia bekerja sama dengan SFGG-GTZ memfasilitasi peningkatan pelayanan publik di beberapa daerah Kota/Kabupaten, khususnya Wilayah Kalimantan. Akhmad Sirodz dapat dihubungi melalui email: sirodz_as[at]yahoo[dot]co[dot]id.
March 30th, 2009 at 12:46 pm
bener sekali pak…saya pribadi,menginginkan pemimpin yg adil,dalam artian yg korup ya dipenjarakan/diadili tanpa rasa takut…dan pemimpin yg sangat peduli dengan pendidikan dan kesehatan bagi rakyatnya…itu aja dibenerin dulu…”selanjutnya perhatikan apa yang terjadi”…(ngikutin kata2 mario teguh..hehe)..sukses pak..
April 6th, 2009 at 7:46 am
Maunya sih ada pemimpin yang integritasnya tidak diragukan lagi. Yang kedua ya leadership & akhlaknya. Coba ada integrity detector ya…