Hasrat Seorang Penulis

fa

Oleh: Fida Abbott*

Berbicara mengenai hasrat atau keinginan, setiap orang pasti memilikinya. Entah itu hasrat dengan sebuah cita-cita, atau impian yang sangat tinggi atau sederhana saja, tidak memandang profesi dan status.

Sebuah contoh, seorang anak bimbingan les privat yang pernah saya asuh, tahun sebelumnya tidak naik kelas. Masalahnya sederhana, bukan karena anak itu bodoh, tetapi takut bertindak dan menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh sang guru. Hal ini menghalangi konsentrasinya selama menerima pelajaran di kelas. Setelah saya melihat beberapa sisi permasalahannya, ternyata faktor yang membuatnya seperti itu adalah karena kedua orang tuanya sering bertengkar. Hal itu membuatnya merasa takut bahkan tidak berani berbicara dengan siapa pun. Padahal, usianya masih sangat muda, sekitar delapan tahun.

Setelah saya dipercaya untuk membimbingnya, fokus utama saya adalah melakukan pendekatan yang tidak sangat mudah. Butuh waktu sekitar tiga bulan sampai dia mau memanggil nama saya. Bahkan, berkata ‘ya’ dan ‘tidak’ pun belum pernah ia katakan saat itu. Melihat kemajuan ini, saya pun sangat senang. Selanjutnya, saya berusaha memberinya sebuah motivasi yang sangat sederhana. Saya katakan kepadanya, apabila ia ingin naik kelas, maka ia harus berani menjawab pertanyaan saya. Salah atau benar, tidak menjadi masalah. Dengan begitu dia akan mendapatkan sebuah petunjuk apabila menjawab sesuatu yang tidak benar.

Ternyata, trik saya benar-benar manjur. Oleh karena hasrat yang besar untuk naik kelas, dia mulai memberanikan diri melakukan pembicaraan-pembicaraan sederhana dengan saya selama bimbingan berlangsung. Hal ini menimbulkan rasa percaya diri terhadap dirinya. Tidak terduga, ternyata hasilnya sangat memuaskan. Sebuah warta yang menggemparkan di akhir tahun pelajaran sekolah tiba, dia naik kelas dan berhasil meraih juara kedua di kelasnya. Sejak saat itu, saya kebanjiran permintaan untuk menerima anak-anak les privat.

Apabila Anda seorang penulis, saya yakin Anda pasti memiliki sebuah hasrat tertentu dalam dunia tulis-menulis yang sedang Anda geluti. Entah itu terjadi pada para penulis pemula atau yang sudah professional sekalipun. Tidak jarang kita mendengar ucapan-ucapan atau tulisan-tulisan dari mereka yang menunjukkan impian dan cita-cita masing-masing dalam meraih hasrat atau keinginannya itu.

Ada penulis pemula yang ingin tulisan-tulisannya dapat dipublikasikan di surat-surat kabar, ingin menulis sebuah buku, dan sebagainya. Ada juga penulis yang telah menulis banyak buku, memiliki keinginan yang lain, yaitu menjadi penerbit sekaligus, dan sebagainya. Apa pun hasrat dan keinginan Anda, tanpa ada semangat untuk melakukannya dan berjuang untuk mewujudkannya, maka hasrat dan keinginan itu tak akan pernah diraih.

Sebagai seseorang yang menyukai dunia tulis-menulis, ada sebuah hasrat tinggi yang ingin saya capai setelah kepindahan saya ke AS. Sama halnya dengan
rekan-rekan penulis pada umumnya, yaitu menulis buku. Buat saya, menulis sebuah buku
tidaklah hal yang sangat sulit dilakukan
. Tetapi masalahnya, bagaimana menembus
pasar AS, karena s
istem penerbitan buku di AS tidaklah sama dengan di Indonesia.

Untuk dapat mencapai penerbit, para penulis harus melalui agen-agen resmi yang menghubungkan para penulis dengan para penerbit, sehingga penerbit tidak melakukan hubungan langsung dengan para penulisnya. Untuk keperluan ini, penulis melakukan sebuah kontrak beberapa bulan dengan seorang agen resmi. Apabila agen tersebut gagal meloloskan manuscript-nya ke para penerbit, maka penulis berhak melakukan perpanjangan dengan agen tersebut atau memutuskan kontrak dengannya dan memilih agen resmi lainnya.

Mengapa demikian? Karena, di AS banyak sekali orang yang menulis buku sehingga persaingan maupun syarat penerbitan sebuah naskah sangatlah ketat. Agen dan penulis harus melakukan kerja sama yang baik untuk menampilkan sebuah proposal yang sempurna pada saat melakukan submitting naskahnya. Tidak diperkenankan ada kesalahan ketik sekali pun, tanda baca, punctuation, tahu dengan baik pangsa pasarnya, marketable, menarik, dan sebagainya.

Hal tersebut bukanlah hal yang mudah, mengingat bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu saya. Tentu saya akan kalah jauh deangan mereka para penulis dari AS atau negara lainnya yang mana bahasa Inggris adalah sebagai bahasa ibu mereka. Lalu, apakah saya akan hilang semangat? Tentu tidak. Sebagai seseorang yang memiliki hasrat, saya mencari alternatif lain dengan cara self-publishing.

Saya belajar banyak mengenai hal ini karena sistemnya pun sangat berbeda sekali antara di Indonesia dan AS. Dari sana saya mulai menanjak untuk melirik kemungkinan self-publishing yang melibatkan pihak profesional lainnya untuk proses pengeditan, penyusunan, dan marketing yang bertaraf internasional. Masalahnya, ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apakah saya berhenti mencoba? Tentu tidak juga. Saya mulai memberanikan diri untuk menulis sebuah novel dan saya kirimkan ke sebuah komunitas workshop, tempat para penulis novel internasional mengirimkan tulisan-tulisannya untuk saling di-review.

Apakah yang saya dapatkan dengan bergabung sebagai anggota di sana? Saya mendapatkan banyak hal postitif, antara lain:

Pertama, mereka mengenal saya dan membaca bab-bab novel saya.

Kedua, pengalaman belajar dari masukan-masukan yang saya terima, dan yang tak kalah pentingnya adalah,

Ketiga, yaitu mendapatkan compliments dan dukungan dari mereka.

Tidak tanggung-tanggung, seorang ambassador lembaga internasional terkenalyang juga telah menulis beberapa bukutelah me-review sebuah bab di novel saya yang saat ini masih sedang saya tulis kelanjutan bab-babnya.

Berikut kutipan sebagian komentarnya: “There is an honesty about this story which is wonderfully captivating. We want her enthusiasm to succeed. We are on her side; and, in the end, we read what she has to say with just as much enthusiasm as she has herself.”

Pernyataan tersebut membuat mata dan hati saya terasa ingin mengeluarkan air mata karena terharu. Meskipun hanya beberapa kalimat yang ditulisnya, sangat berarti bagi saya untuk tetap semangat meneruskan penulisan novel hingga akhir. Apakah harapan saya berikutnya? Saya yakin bahwa segalanya memerlukan proses dan perjuangan.

Berapa lama? Saya tidak peduli berapa lama karena dengan kesungguhan dan
semangat, maka waktulah yang akan menjawabnya. Satu keinginan
atau langkah sederhana saya, novel yang sedang saya tulis akan tampil dan tersedia di sejumlah website internasional yang sangat popular, yaitu Amazon, Barne & Noble, dan toko-toko buku online/offline internasional lainnya.

Ternyata keinginan ini terwujud dengan sebuah cara lain. Hari Sabtu kemarin, tanggal 6 Juni 2009, saya mendapatkan sebuah e-mail dari perusahaan self-publishing, tempat buku-buku digital dan print saya diterbitkan, yang menyebutkan bahwa buku memasak berseri pertama saya (First Amerindo Kitchen in Series) telah dipilih untuk masuk dan dipasarkan dalam list buku-buku di Amazon. Benar-benar suatu kejutan untuk saya. Entah kriteria apa yang menentukannya, saya yakin mereka memilihnya karena sebuah alasan sederhana, yaitu judul dan isinya yang menarik.

Pagi itu rasanya saya sedang menerima energi yang berlipat ganda, lebih semangat lagi daripada hari-hari sebelumnya. Ternyata usaha-usaha dan kerja keras saya membuahkan hasil. Kalau yang tidak pernah saya pikirkan saja telah terpenuhi, apalagi yang telah saya pikirkan. Saya beriman, selama memiliki semangat untuk berjuang mencapai cita-cita dan impian disertai dengan doa dengan bermacam-macam cobaan yang mungkin akan dilalui, atau bahkan harus melewati Sodom dan Gomora sekalipunmenerima hinaan dan cibiransaya pribadi akan memanfaatkannya untuk semakin menumbuhkan semangat saya.

Selama kita bertahan dan terus mengejarnya, maka ada satu hal yang ada, yaitu sebuah harapan. Harapan ini akan membantu kita memberikan semangat yang tak berkesudahan untuk mengejar dan mencapai cita-cita dan impian kita.

Saya sependapat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Sylvester Stallone, salah seorang aktor termahal di AS yang berasal dari keluarga yang sangat miskin dan dengan keterbatasan fisiknya, dia masih tetap memiliki cita-cita dan impian yang sangat luar biasa pada saat itu. Cita-cita dan impiannya itu tercapai setelah bertahun-tahun dia berjuang untuk menjadi salah seorang actor terkenal dan termahal di AS, hanya oleh karena dia percaya dan memiliki sebuah prinsip: “When you are committed enough, there is always a way.”[fa]

* Fida Abbott adalah Arek Suroboyo yang lahir pada 11 Pebruari 1970 di Surabaya dan sekarang tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia mengenal dunia tulis menulis sejak usia 8 tahun hasil didikan langsung ayahndanya, Imam Sujono, dan melahirkan cerpen remaja pertamanya berjudul “Kidung Kasih untuk Lintang” pada usia 13 tahun. Menulis merupakan aktivitas lulusan Pertanian jurusan Agronomi dari UPN ‘Veteran’ Surabaya ini. Fida memiliki beberapa pengalaman kerja di bidang landscape, dari proyek kecil hingga besar, dari perumahan tunggal, real estate, hingga hotel, kondominium, apartemen berbintang lima di Surabaya. Ia pernah berkarier di AIG-Lippo, jadi guru les privat, dan kini tercatat sebagai WALMART Associate, menjadi Redaktur Pelaksana Harian Online KabarIndonesia (HOKI), www.kabarindonesia.com sekaligus Direktur Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH). Tulisan-tulisannya tersebar di beberapa media online, antara lain di KabarIndonesia, Helium, Cross-Written, The Daily Avocado, dan ketiga blog-nya di www.fidaabbott.com, www.buanainspiration.blogspot.com dan www.abbottsbooks.com. Fida adalah penulis buku What Prayers does Mommy Teach Me, Dancing in My World, dan buku seri Amerindo Kitchen. Buku seri pertama Amerindo Kitchen sudah terbit dengan judul Fabulous Leftover Turkey.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

6 Responses to “Hasrat Seorang Penulis”

  1. Henny Listyowati Says:

    Selamat ya mbak,

    Saya bangga dan terharu, tulisan ini merupakan sebuah kesaksian dan motivasi yang sangat besar buat saya.

    Selamat berkarya terus dibidang tulis menulis…

    Salam hangat dari Jakarta

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Fida Says:

    Mbak Henny,

    Saya bersyukur apabila tulisan di atas telah memberikan motivasi dan semangat kepada Mbak Henny untuk terus berkarya.

    Salam hangat dari PA

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Agus Ruswinarno K Says:

    Selamt ya, thanks

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Fida Abbott Says:

    Helo Agus,

    Terima kasih telah berkenan membaca bagian ini.

    Salam dari PA

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. G Says:

    Dear Fida, wow, luarbiasa, mmg membutuhkan komitmen dan kesungguhan agar dapat benar2 menjadi seorang penulis. Saya suka menulis namun saya menyadari satu kekurangan saya, yaitu saya belum memiliki komitmen dan kesungguhan untuk berkarya secara serius. Tulisan ini sungguh2 menggugah dan membuat saya secara serius berpikir apa yg saya ingin capai dan bagaimana saya seharusnya bergerak untuk merealisasikannya. Terimakasih Fida. GBU.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Fida Abbott Says:

    Hello G,

    Senang aku mendengar pengakuanmu bahwa tulisan ini dpt menggugah semangatmu utk berkarya.

    Selamat berkarya ya. Aku melihat G punya talenta menulis yg sangat luar biasa dan berbeda.

    Salam hangat dari PA

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox