Gelas Setengah Penuh Setengah Kosong
Editor | Kolom Lepas | April 6th, 2009
Oleh: Abidin Noor*
“The more you distribute it the more you receive it in return.
When you stop giving you stop receive it.”
“Apakah gelas ini berisi setengah penuh, setengah kosong, atau penuh?” tanya Indrato kepada saya lewat email. Tanpa pikir-pikir lagi, saya jawab email-nya, ”Gelas itu berisi setengah penuh karena saya termasuk orang yang selalu berpikir positif dan optimis.” Tak lama kemudian, saya menerima email lagi yang menyatakan bahwa jawaban saya salah. Saya jadi penasaran untuk mencari tahu jawaban yang benar. Karena, yang saya ketahui selama ini jawabannya adalah gelas itu berisi setengah penuh.
Ternyata, jawabnya bukan setengah penuh atau kosong, namun gelas itu isinya penuh. Lalu, saya memberikan argumentasi, “Bukankah airnya hanya setengah?”
“Anda betul, yang tampak mata memang setengah gelas air. Namun, yang tak tampak mata adalah setengah gelas udara,” sanggah Indrato. Kemudian, Indrato menunjukkan buku Cracking the Millionaire C.O.D.E yang ditulis oleh Mark Victor Hansen dan Robert G Allen (2006), yang menjelaskan bahwa jawaban saya tadi itu kurang tepat.
Kemudian saya berpikir, “Betul juga apa yang disampaikan kawan tersebut, bahwa di balik yang isi itu ada udara yang mengandung oksigen, yang membuat kita dapat bernapas dan hidup.” Lebih jauh lagi saya berpikir, “Kalau saja tidak ada udara dalam tiga puluh menit, saya akan mati karena tidak dapat menghirup oksigen.”
Nah, pernahkah kita bersyukur betapa besar nikmat hidup yang diberikan oleh Allah SWT? Selama ini, kita hanya melihat yang kasat mata saja. Padahal, di balik yang kasat mata itu tersimpan kekuatan yang mahadahsyat.
Begitu juga saat Anda memberikan sejumlah uang untuk sedekah. Secara kasat mata uang Anda berkurang. Namun, di balik itu Anda menciptakan ruang hampa yang akan diisi oleh—bisa jadi—rezeki atau keberhasilan-keberhasilan lain dalam kehidupan Anda.
Sebagaimana yang difirmankan dalam Alquran, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada setiap butir seratus biji, dan Allah melipatgandakan bagi barang siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. (QS. Abaqarah: 261)
Kesimpulannya, bahwa di balik yang kasat mata itu tersimpan kekuatan yang mahadahsyat. Pada saat Anda memberikan uang untuk sedekah, pada hakikatnya Anda menciptakan ruang hampa atau vakum, yang akan diisi atau menarik berbagai kemudahan-kemudahan. Bisa jadi diisi atau menarik kemudahan-kemudahan pada saat Anda berusaha, sehingga Anda mendapatkan hasil yang berlipat ganda, atau keberhasilan-keberhasilan lain dalam kehidupan Anda. Allahualambisawab.[an]
* Abidin Noor banyak menghabiskan waktu berkarya di sebuah perusahan minyak asing selama lebih dari 22 tahun. Saat ini, ia masih aktif berkarya pada perusahaan minyak lokal, di Jakarta. Ketertarikannya dalam dunia tulis-menulis memang sudah lama, tetapi karya tulisnya selama ini untuk koleksi pribadi. Abidin menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Ekonomi, Universitas Pancasila, Jakarta tahun 1988, dan telah mengikuti berbagai pelatihan dan sertifikasi yang berhubungan dengan dunia perminyakan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el:
October 20th, 2011 at 9:57 pm
mantab