GBU

lc2Oleh: Lily Choo*

“Ly, lu jangan keseringan pakai kata GBU, dong!” tegur teman saya yang antik dan unik saat kami berada di rumah makan Hao Chek. “Masak lu aja yang GBU. Gua tiap hari juga GBU. Gua Butuh Uang!” rupanya, teman saya ini tahu sekali kebiasaan saya yang sering menggunakan kata ‘GBU’ dalam setiap SMS dan komen di Facebook.

Gubrakkkkk! Saya tertawa ngakak. Memang, teman yang satu ini paling kreatif sedunia. Bersama teman yang satu ini, kerutan dan garis-garis ketuaan di sekitar mulut dan mata saya tambah dalam. Tawa yang satu menuju tawa lainnya hanya butuh waktu paling lama 10 menit! Bayangkan, frekuensi ketawa bersamanya. Tukul saja kalah!

“Sebenarnya, gua kasihan banget ama lu juga. Kenapa sampai tiap hari, tiap saat lu beri tahu ke gua soal GBU? Memangnya bisnis lu seret?” tanyanya dengan lugu namun penuh makna. Entah dia bertanya beneran (ini jarang terjadi) atau ngeledek beneran, rasanya sudah tidak ada bedanya buat saya.

Selain saya tertawa akan singkatan dari GBU itu, dalam hati sebenarnya, sedalam-dalamnya, dan sesungguhnya, saya ini malu. Kenapa saya malas sekali menulis lengkap akan kalimat “God bless you” dan seenaknya membuat singkatannya menjadi GBU? Di mana rasa hormat dan takut akan Tuhan? Niat enggak sih untuk memberkati teman dengan kalimat ‘God bless you’? Entah sudah berapa ratus kali atau sudah ribuan kali saya gunakan kata ‘GBU’ ini. Entah sudah berapa banyak teman saya mengirimkan kata ‘GBU’ ini. Satu kata yang saya dapat setelah tertawa akan GBU tersebut, MALU!

Teringat cerita dari Kitab Perjanjian Lama, bagaimana suci dan kudusnya nama ALLAH. Untuk menyebut ALLAH pun, manusia tidak berani. Ada hukum tertulis “Janganlah menyebut Tuhan ALLAH-mu dengan sembarang”. Bila salah sebut, hukuman mati adalah sangsinya. Oleh sebab itu ditambahkanlah kata di depannya menjadi Tuhan ALLAH atau Gusti ALLAH. Dalam penulisan pun tidak boleh sembarangan, harus huruf besar semuanya. Gawatnya lagi adalah bila yang menyebut dan menulis nama ALLAH ini tidak suci dan kudus luar dalam, hukuman mati di tempat buat orang tersebut sudah pasti terjadi. Bayangkan hal ini, bulu kuduk saya pun berdiri.

Kenapa tidak terpikir pula bila manusia saja marah, menganggap saya tidak sopan, kurang ajar, dan belagu bila saya panggil namanya begitu saja? Terutama mereka yang memiliki gelar ‘DR’ atau ‘dr’, tidak terkira besar maupun kecil tetaplah harus dilafalkan dengan bunyi ‘doktor’ dan ‘dokter’ dulu sebelum menyebut namanya. Dan, bagaimana saya diajarkan sejak kecil lagi, bahwa kepada yang lebih tua, saya harus memanggil mereka dengan kata tambahan: bapak, ibu, tante, om, abang, kakak, dan bahkan kepada yang lebih muda saya juga mesti merendah dengan menyebutnya adik. Nah, bila kepada manusia saja saya tahu harus hormat dan respek, apalagi kepada Tuhan? Malah seenaknya saya singkat namanya dengan huruf ‘G’ saja. Sesak rasanya dada saya, terasa kurang ajarnya saya selama ini.

Mengapa pula saya sebagai manusia bermartabat dan beradab di abad ini, memakai nama ALLAH dengan sesukanya, seenaknya, kapan saja, dan di mana saja? Bahkan, termasuk pelecehan dengan kalimat ‘Oh My God’ atau ‘OMG’. Setiap kali saya terkejut (terutama berita yang menyedihkan dan mendukakan) saya mengeluarkan kata-kata ini. Contoh ketika kaki saya terinjak orang di bus, saya pun menjerit ‘Oh my God’. Hingga seorang teman dari Penang memberitahukan bila saya sering menyebut ‘Oh my God’ setiap kali saya terkejut. Tidak heranlah bila banyak kejadian ‘Oh my God’ akan muncul di hadapan saya. Terasa pedih di ulu hati, kata-katanya telak mengena buat saya.

Kerennya lagi, banyak sebutan baru termasuk salah satunya ciptaan teman saya hahaha…. Beginilah bila yang sesat menulis, sukanya melempar batu sembunyi tangan. Teman saya ini (bukan saya ya….) kesal membaca banyaknya singkatan seperti ‘GBU’ dan ‘JLU’. Akhirnya, dia balas dengan singkatan juga ‘PTL’. Yang terima balas tanya via SMS, “Apa itu ‘PTL’? Dengan tenang dia jawab balik, ‘Praise the Lord’. Hehehe…. Tidak terbayangkan bila dia membaca catatan saya ini. Moga-moga dia juga sudah bertobat bersama saya. Tidak semena-mena dan sesuka-suka menyingkat kata maupun kalimat, terutama yang menyangkut nama dan sebutan untuk Tuhan ALLAH, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Mestinya Tuhan ALLAH mengerti semua bahasa, bukan? Kalau begitu, boleh dong saya tulis ‘GBU’, ‘JLU’, dan ‘PTL’. Tuhan mengerti bahasa, berarti mengerti juga singkatan. Bahasa itu ya cuma bahasa, yang penting itu hati. Tuhan kan tahu hati dan pikiran kita? Hehehe…. Benar juga. Kok tiba-tiba ada suara mengatakan, “Ly, apa yang tersurat itu pasti keluar dari yang tersirat. Apa yang tersirat itu pasti akan keluar tersurat.” Jadi,no comment’ lagi. Tidak ada koma, hanya titik. Tidak ada tawar-menawar, hanya harga mati. Sama Tuhan kok tawar-menawar ya? Nanti berkat saya ditawar sama Tuhan, bagaimana?

Lagipula, bila saya hendak memberikan salam dan berkat dengan kalimat ‘God bless you’ itu kenapa mesti disingkat segala? Mengapa malas mengetiknya? Mengapa mesti berhemat kata? Toh sudah pada pakai BBM maupun YM, ya…? Kan tidak ada beda harganya untuk ketik ‘GBU’ atau ‘God bless you’? Sama-sama gratis, bo! Supaya singkat waktunya? Ya, bedanya sekian detik toh…. Kok perhitungan sih sama Tuhan dan teman? Niat sedikit dong kalau mau memberikan salam dan menyampaikan berkat ke teman-teman. Ayo, makin malulah saya ketika memikirkan hal ini kembali dan kembali. God bless you all.[lc]

* Lily Choo adalah seorang pebisnis perempuan berusia 37 tahun yang lebih sering beredar di antara Jakarta, Malaysia, dan Singapura. Ia berminat pada bidang leadership, anak-anak, wisata, menulis, dan kesehatan. Lily dikarunai dua anak perempuan yang cantik yang senantiasa menjadi inspirasi hidupnya. Lily mengaku sebagai perempuan biasa yang punya mimpi besar untuk menjalani hidup yang luar biasa serta menjadi inspirasi bagi semua perempuan di seluruh penjuru dunia. Lily dapat dihubungi melalui pos-el: lily.choo@gmail.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

One Response to “GBU”

  1. Praevasi haloho Says:

    ntar klo saya dah dapat istri,,saya akan merekomendasikan bu lily sebagai konselornya..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox