From Zero to Zero
Editor | Kolom Tetap | February 2nd, 2010
Oleh: Iftida Yasar*
Kalau kita orang Islam mendapatkan kemalangan, baik itu kehilangan seseorang atau kehilangan suatu benda, atau mendapatkan musibah, kalimat yang biasanya diucapkan adalah “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun” yang artinya; semua yang berasal dari Allah akan kembali kepada Allah. Jika kalimat ini diresapi artinya, akan jelas tergambarkan bahwa kita ini sekadar menikmati, sekadar mampir sekejap untuk menumpang minum di suatu kedai. Dan selesai minum kita akan pergi. Artinya, kehidupan di dunia ini singkat, sekejap saja, dibandingkan nanti dengan kehidupan kita di akhirat. Kehidupan yang sangat singkat itu menjadi bekal kita di kemudian hari dalam menjalani kehidupan di dunia kekal yaitu akhirat.
Jika di dunia kita mendapatkan kesempatan mendapatkan rezeki yang lebih dibandingkan orang lain, bukan berarti kita adalah orang yang hebat yang bisa mendapatkannya sendiri tanpa izin Allah. Banyak orang yang merasa bahwa harta dunia yang diperolehnya karena jabatan, pangkat, dan kepercayaan orang lain itu jatuh dari langit. Ada juga yang merasa tidak ada campur tangan dari Yang Maha Kuasa dalam hal keberkahan yang diperolehnya. Ingat cerita tentang ”Karun”, seorang kaya raya yang tidak mau bersyukur dan berterima kasih kepada Allah. Bahkan, dengan sombongnya ia mengatakan semua kekayaannya didapatkan atas usahanya sendiri. Maka, Allah menghukumnya dengan menimbun dan menenggelamkan Karun ke dalam bumi. Makanya, sekarang kalau kita menemukan harta yang tertimbun di dalam tanah, maka itu disebut ”harta karun”.
Perjalanan kehidupan manusia seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Pada saat kita di atas jangan sombong dan selalu ingat bahwa ada kemungkinan kita akan berada di posisi bawah. Kalau kita sedang susah—dalam arti tidak punya uang atau mampu memenuhi kebutuhan hidup—jangan putus asa. Selalu berdoa dan berharap bahwa roda akan berputar ke atas. Jadi, selalu ada harapan dan keyakinan bahwa dengan kerja keras dan doa suatu saat kita akan selamat.
Ada yang sudah mendapat amanah dari Allah dalam bentuk harta kekayaan yang luar biasa dan keberkahan dalam mencari rezeki. Tetapi, ia tidak mau menafkahkan sebagian hartanya kepada orang lain. Ada juga yang seakan tidak pernah susah selalu mendapatkan kemudahan, karena apa yang diberikan kepadanya disampaikan lagi kepada orang yang membutuhkan. Sedekah, apalagi kepada orang yang sangat membutuhkan, akan membuat rezeki kita dilipatgandakan Allah.
Dalam melakoni usaha, kadang apa yang kita sudah bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun runtuh dengan begitu saja dalam sekejap mata. Banyak yang menjadi penyebabnya; bisa karena produk atau jasa yang kita berikan kepada pelanggan menjadi tidak layak jual lagi, atau karena kalah bersaing dengan produk dan layanan baru. Pada saat krisis global melanda dunia, banyak sekali perusahaan kecil, bahkan perusahaan raksasa seperti General Motor kebanggaan Amerika Serikat, juga bangkrut. Perusahaan kecil yang selama ini melayani atau menjadi subkontraktor perusahaan besar juga tutup karena dampak krisis.
Gaya hidup sang pemilik perusahaan juga berpengaruh terhadap kelanggengan jalannya perusahaan. Jika semua keuntungan digunakan untuk membeli berbagai barang mewah, maka bisa jadi tidak ada sisa keuntungan yang dialokasikan untuk investasi atau diversifikasi usaha. Semua barang mewah atau gaya hidup mewah seperti bepergian keluar negeri, tinggal di hotel yang mewah, dan membeli barang mewah yang tidak penting dapat membuat kita bangkrut. Maha jutawan almarhun Michael Jackson yang demikian kaya raya, meninggal dunia dengan meninggalkan hutang sebesar Rp 4 triliun. Sungguh suatu angka yang sangat fantastis. Yang mana kalau dibuat atau diinvestasikan dalam bentuk usaha rakyat akan menghasilkan ribuan unit usaha yang akan menyerap jutaan tenaga kerja.
Bisa juga apa yang kita miliki hilang, kita harus menanggung utang, atau harus bertanggung jawab atas kesalahan bawahan kita. Sebagai pimpinan sudah pasti bahwa keberhasilan adalah milik bersama dan layak dinikmati oleh semua pihak yang terlibat dalam melakukan usaha tersebut. Jika rugi, walaupun kerugian itu diakibatkan oleh kesalahan karyawan, apakah kita bisa berkata kepada pelanggan bahwa perusahaan tidak dapat melakukan pekerjaan atau tidak bertanggung jawab terhadap kesalahan karyawan? Dalam situasi seperti ini, perusahaan yang mempunyai komitmen tinggi akan mengambil alih tanggung jawab. Pada waktu pekerjaan itu diberikan kepada kita, sudah barang tentu nama perusahaan dan reputasinya memegang peranan penting dalam mendapatkan pekerjaan itu. Adalah wajar jika perusahaan kita mau menjaga reputasi dan kelanggengannya, maka perusahaan akan tetap berkomitmen menyelesaikan pekerjaan itu.
Apa pun yang terjadi dalam hal kehilangan seluruh harta benda, baik karena kesalahan kita sendiri maupun karena kesalahan karyawan, tetap yakin dan percaya bahwa kita yang tadinya lahir ke dunia tanpa membawa apa pun juga, atau dengan modal nol, lalu mendapatkan kesempatan memperoleh banyak rezeki, lalu kehilangan dan dalam kondisi nol lagi. Harta benda yang kita dapatkan adalah dengan modal kerja keras, kejujuran, keyakinan bahwa harta itu hanya titipan. Dalam keadaan nol, yang hilang hanya harta benda yang tadinya memang tidsak ada. Semangat, keyakinan dan kemampuan kita kembali bangkit tidak akan hilang dan tidak akan tergantikan. Pelanggan yang sudah mengenal kemampuan kita akan kembali kepada kita dan dengan usaha yang tidak pantang menyerah, Insya Allah kondisi nol akan naik menjadi seperti semula. Bahkan, mungkin jauh lebih baik. Orang yang mampu mengatasi masalahnya sebesar apa pun akan tetap bertahan dan kembali berjuang untuk meraih sukses.[iy]
* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

Leave a Reply