Frenemy
Editor | Kolom Lepas | April 28th, 2009
Oleh: Fatma Kartika Sari*
Pernah enggak merasakan teman yang awalnya sangat baik dan dekat dengan kita, tiba-tiba dia berubah menjadi musuh dan menusuk kita dari belakang? Banyak orang yang sudah mengalaminya, bilang sama saya, kalau hal itu membuat sakit hati banget! Enggak percaya, orang yang mulanya kita percaya dan yakini bahwa dia baik-baik saja, ternyata tega melakukan hal yang menyakitkan, baik di sengaja ataupun tidak.
Ada seorang teman yang pernah cerita pada saya. Sahabat teman saya ini tega main hati dengan cowoknya ketika ia sedang kuliah di luar negeri. “Lu bayangin, dong Fat… Gimana perasaan gue lihat cowok yang gue sayang direbut sama sahabat gue sendiri!” cerita teman saya sambil berurai air mata dan napas yang tidak beraturan karena rasa sesak di dadanya. Sementara, saya masih memutar otak membayangkan perasaannya yang tersakiti oleh perbuatan sahabatnya. Hhmm… membayangkan saja rasanya sakit, bagaimana kalau merasakannya, ya? Pasti sumpah serapah sudah dikeluarkan dari hati teman saya itu, gara-gara sakit hatinya.
Sejak saat itu, dia tidak pernah mau bertemu mantan sahabatnya maupun mantan kekasihnya, sampai sekarang. Begitu mengetahui kalau ternyata hubungan mantan sahabat dan kekasihnya itu akhirnya putus juga, teman saya itu bercerita lagi kepada saya. “Syukurin deh, akhirnya putus juga tuh hubungan mereka!” Dan, setelah putus dari mantan sahabatnya, kekasih teman saya itu langsung memutuskan menikahi wanita lain.
Ada seorang teman saya yang lain juga bercerita tentang perbuatan temannya yang menjelek-jelekan dirinya kepada orang lain. “Semua aib saya dibongkar sama dia, Fat! Kurang ajar banget!” Kelihatan sekali, teman saya yang masih keturunan keraton ini ingin melampiaskan kemarahannya. Tetapi, akhirnya ia mampu menguasai diri dan mengendalikan kemarahannya itu.
Namun, suatu hari teman saya ini menemui saya dengan wajah yang sumringah. “Habis dapat arisan, Bu?” goda saya ketika itu. Ternyata, dugaan saya salah. Teman saya bilang, kalau orang yang dulu pernah menjelek-jelekannya itu mendapat musibah yang memalukan.
“Tuhan tuh tidak pernah tidur Fat! Saya lega banget, sekaligus bahagia… akhirnya dia merasakan juga apa yang saya rasakan dulu, malah lebih memalukan!” ujar teman saya sembari senyum berganti derai tawa. Sedangkan saya masih bingung mengartikan ucapannya, bahwa Tuhan tidak pernah tidur.
“Ya, iyalah… Kalau Tuhan tidur, apa jadinya dunia!?”
Terlepas dari permasalahan teman-teman saya itu, saya pun pernah—bahkan cenderung sering—merasakan hal serupa dengan mereka. Saya selalu merasa bahagia jika mendengar kabar buruk dari orang yang tidak saya sukai. Meskipun, saya tidak sampai hati untuk mendendam. Saya tahu dan sadar, itu bukan perbuatan yang baik. Tetapi, saya sering tidak bisa mengelak dari perasaan-perasaan saya itu, yang mana banyak orang berkata, bahwa perasaan itu adalah hal yang manusiawi.
Hmm… aneh juga ya, kalau dipikir-pikir… kenapa banyak manusia—yang seperti saya khususnya—tidak mampu sekadar tersenyum atas keberhasilan dan kebahagiaan seseorang yang tidak saya sukai? Tetapi, kenapa saya bisa terbahak-bahak ketika orang itu mengalami cobaan dan musibah? Padahal, sudah berapa ustaz yang pernah saya dengar tausyiah-nya yang membahas tentang hati? Begitu banyak buku yang telah saya baca tentang kisah Nabi Muhammad SAW yang begitu sabar dan bersikap baik terhadap orang-orang yang tidak menyukai beliau.
Pada akhirnya, hikmah yang dapat kita petik dari pengalaman-pengalaman ini, bahwa tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri dan hati. Semoga saja saya—dan makhluk-makhluk seperti saya khususnya hehehe—mampu menyingkirkan perasaan-perasaan jelek yang mengintai. Tak ada lagi istilah teman menjadi musuh. Kalau memang mereka ada kesalahan, belajarlah untuk cepat memaafkan dan tak mendendam.
Dan, hal yang paling sulit tetapi ingin saya wujudkan adalah menjadikan musuh-musuh saya—maksudnya orang-orang yang memusuhi saya—sebagai teman dan sahabat saya. Dunia pasti indah hehehe…[fks]
* Fatma Kartika Sari lahir di Jakarta pada 14 juni 1980. Sehari-hari ia adalah seorang wiraswasta di bidang travel haji, umroh, dan katering. Fatma dapat dihubungi melalui pos-el: fatma45_ibrahim[at]yahoo[dot]com.
April 28th, 2009 at 7:58 am
Halo Fatma, tulisannya bagus & mudah dicerna, mengangkat tema keseharian kita. Saya bersyukur tidak pernah mendapat sahabat yang berbalik menjadi musuh, tapi tentu pernah juga mendapat curhatan serupa.
Saya meyakini bahwa apapun yang masuk ke otak kita bersifat ‘netral’, dalam hal ini otak menjadi andalan untuk mengartikannya.
Pada awalnya memang berat untuk memaafkan orang yang sudah sangat melukai kita, tapi harus terus berlatih dan ingat selalu Tuhan saja Mahapemaaf. thanks. fita.
April 30th, 2009 at 7:19 pm
Hallo mbak fita yang cantik.. Thx ya untuk commentnya, semoga kedepannya tulisan saya lebih baik lagi.Enggak ada manusia yang sempurna, namun alangkah baiknya manusia mau untuk merubah keburukan pada diri Mereka. Semoga saya dan mbak fita termasuk golongan manusia - manusia yang mau merubah keburukan pada diri kita
April 30th, 2009 at 8:30 pm
Pada dasarnya manusia itu baik, hanya saja lemah. Lemah terhadap godaan. Jadi kalau ada “teman” yang diam-diam berubah menjadi “lawan”, itu karena ia tidak cukup kuat untuk menjaga pertemanan. Istilah “frenemy” cerdas! Good writing!