Forgiveness (2)
Editor | Kolom Tetap | February 10th, 2009
Oleh: Miranda Suryadjaja*
Bagian kedua dari dua tulisan.
Adalah wajar mengalami emosi apa pun yang timbul sebagai reaksi atau reflex kita terhadap suatu situasi, sesuai dengan programming dan conditioning yang ada dalam diri kita. Itu adalah hasil dari persepsi kita terhadap kejadian yang punya dinamika, mirip dengan kejadian yang saya ceritakan sebelumnya.
Salahnya, kebanyakan orang tidak paham bahwa semua perasaan, pikiran, dan emosi itu hanyalah sekadar passing phenomena, seperti awan lewat, tidak mengakar, dan tidak berbentuk nyata. Jadi, tidak ada sesuatu yang solid yang dapat dipegang.
Namun, sering bertahun-tahun orang ngotot tidak mau melepaskan persepsinya terhadap suatu event. Malahan, persepsi yang dibentuk di masa balita misalnya, itu diaplikasikan pada berbagai situasi di masa dewasa, sehingga timbullah konflik. Secara rasio, dia bisa melihat sesuatu secara cerdas dan memakai akal sehat. Namun reaksi, motivasi, dan persepsinya memakai persepsi waktu dia umur empat tahun, misalnya.
Kemarin, saya bertemu dengan seorang teman lama. Kebetulan, saya lagi belajar untuk menjadi seorang agen asuransi dan minta kesediaan beberapa teman dekat saya untuk menjadi sparring partner, soal beli atau tidak bukan tujuan utamanya. Justru saya mau mendengar penolakan-penolakan dari orang-orang yang saya kenal baik, dan dengan demikian saya bisa mempersiapkan diri saya terlebih dahulu.
Nah, saya bawa senior saya untuk menemani dan membantu saya. Saya membuka percakapan dengan banyak bertanya hal-hal yang tidak berhubungan dengan asuransi. Kebetulan, saya punya banyak minat tentang apa saja. Termasuk apa yang dilakukan teman saya dalam bisnis perlengkapan agama, sehingga kami bisa berbincang dalam soal itu. Sementara, pendamping atau leader saya bercakap-cakap dengan istri teman saya. Setelah hampir satu jam, saya merasa sudah waktunya kembali ke tujuan berkunjung. Dan, dengan cekatan saya menyetir topik ke arah asuransi.
Teman saya ternyata cukup pengetahuan dan pemahamannya tentang hal ini. Segera saja dia meng-establish bahwa dia tidak perlu polis baru. Dalam percakapannya, dia lebih banyak mengingatkan saya bahwa tidak mudah masuk ke kancah industri asuransi zaman sekarang, serta hal-hal yang mungkin akan menyulitkan saya, atau memberatkan saya untuk melakukannya. Intinya, pesannya adalah, “Jangan di-seriusin-lah bisnis ini!”
Beberapa kali pendamping saya berusaha menyetir pembicaraan, yang ujung-ujungnya mengajak teman saya supaya melihat manfaat membeli polis lebih besar atau lebih banyak. Dan, salah satu kalimat yang tercetus dari mulutnya, lebih dari sekali, adalah, “Kalau sampai dipanggil Tuhan….” Yang saya tangkap, ini adalah suatu kalimat yang umum dipakai di bisnis asuransi.
Rupanya, teman saya ini punya tombol alarm atas kalimat tersebut. Sehingga, terungkap bahwa dia sangat tidak suka kalimat tersebut diucapkan. Dan, dengan hormat teman saya itu meminta pendamping saya untuk meninggalkan ruangan. Alasannya, yang dia setujui untuk bertemu adalah saya, dan dia merasa tidak pernah mengundang pendamping saya itu.
Woaa….. Untuk beberapa detik terjadi kekakuan. Kalau dulu, mungkin saya merasa sangat bersalah telah membuat orang kecewa dan marah. Kali ini, saya bisa melihat apa adanya, dan dalam dinamika interaksi tiga orang pada saat itu, atau lima kalau juga menghitung istri dan anak teman saya (yang berada di luar lingkaran percakapan namun tak jauh duduknya). Masing-masing orang akan merasakan hal yang berbeda dalam dirinya.
Tentu, ada kata-kata maaf yang terucapkan, momen yang kikuk. Namun, pada dasarnya semua yang terjadi, baik kejadian bahwa teman saya marah, ataupun bahwa pernyataan tersebut tercetus, sifatnya netral. Teman lama saya ter-trigger tombol alarmnya. Pendamping saya—kepada siapa kemarahan itu ditujukan—mungkin merasa marah juga. Atau dia tidak marah, itu tergantung dari bagaimana dia mencermati situasi tersebut. Si istri dan anak, mungkin, dan ini hanya mungkin, merasa sungkan dan enggak enak. Atau, mungkin malah bangga dengan sang bapak atas keberaniannya berekspresi.
Sementara, saya bisa memilih untuk merasa enggak enak, bersalah karena sudah membawa leader saya tanpa izin, atau semata-mata menyadari ketidakjelasan dari tindakan saya. Atau, saya perlu meminta maaf pada teman lama saya atas kelancangan saya, karena menurut saya dia benar. Dia sudah welcome saya dengan tangan dan hati terbuka, tapi tidak demikian terhadap leader saya yang belum dia kenal, yang nyata-nyata bawa bendera asuransi. Atau, saya hanya melihat semuanya sebagai suatu rising phenomenon!
Yang timbul dari misteri kehidupan: Mengapa pada suatu saat yang matang atau tepat, suatu hal terjadi? Bukan sebelum atau sesudahnya? Dan, hal tersebut memberikan kesempatan pada setiap orang untuk melihat serta menyadari apa yang terjadi dalam dirinya sebagai hasil dari persepsinya. Hal itu juga memberi setiap orang yang terlibat pilihan akan apa yang dirasakan, diterima sebagai berkah pelajaran, dan kesempatan untuk membuka hati lebih besar, sehingga mampu merangkul yang terjadi dengan hati terbuka, serta mengambil tindakan sesuai dengan pilihannya.
Banyak orang mengatakan dirinya pemaaf, gampang memaafkan. Namun, apa yang sebenarnya dimaksud dengan memaafkan? Apakah dengan tetap menganggap bahwa yang salah itu di luar dirinya? Karena selama persepsinya masih: “Dia bersalah, tapi saya masih mau memaafkan,” atau “Saya sudah memaafkannya, tapi dia juga harus bisa memaafkan saya,” atau “Aku sudah berkali-kali memaafkanmu (biasanya ini soal selingkuh), tapi kali ini adalah terakhir kali aku memaafkanmu, lain kali tiada maaf bagimu.” Lho…. Maaf kok pakai syarat?
Berpulang pada ajaran Jeshua, permaafan hanya mengembalikan seseorang, suatu hal, situasi, keadaan, atau kondisi pada kondisi asalnya, yaitu suci, tak bersalah, tak ternoda, dan sempurna. Sebelum kita memberi arti, menafsirkan, atau menilai suatu kejadian, maka kejadian apa pun itu, termasuk pikiran kita, perasaan kita, semua sifatnya netral.
Dulu, ketika saya baru kenal dengan pemahaman ini, dan saya telah bisa menerima maupun memahami bahwa kejadian itu netral, saya masih harus bergulat untuk bisa menerima, bahwa pikiran dan perasaan saya itu netral juga. Jadi, pikiran negatif saya, rasa marah, rasa kecewa, perasaan benci, sedih, tidak berarti, tidak baik itu netral? Bagaimana mungkin? Susah pokoknya menerima itu, karena saya ngotot bahwa hal itu benar-benar datang dari saya. Dan, saya bersikukuh, bersikeras, bahwa kalau punya pikiran buruk, dengki, culas, perasaan marah, dan ingin menyakiti orang lain karena merasa tersakiti, pasti karena saya bukan orang yang baik dan suci. Sehingga, ujungnya saya merasa sebagai orang yang sangat buruk, yang tidak layak disayangi, disukai, dan dihormati.
Sampai suatu saat, saya paham bahwa pikiran, perasaan, dan emosi kita itu timbul dari suatu pembelajaran. Kalau kita bereaksi terhadap sesuatu, itu berarti apa yang kita rasakan sudah ada pendahulunya. Sebab, kalau kita tidak bereaksi, berarti kita tidak punya programming yang berhubungan dengan situasi seperti itu.
Contoh gampangnya, tatkala ada suatu kejadian atau situasi, coba tanya apa perasaan dan pendapat sepuluh orang di sekitar tentang kejadian tersebut. Anda akan mendapatkan reaksi yang berbeda-beda dari setiap orang.
Saya kenal baik dengan seseorang yang bereaksi sangat negatif apabila ada yang mengatakan: “Kamu gemuk ya sekarang!” Dia akan jadi kesal sekali dengan orang yang mengatakan hal tersebut, menuduhnya tidak tahu aturan dan sopan santun. Kemarahannya ditumpahkan pada orang yang mengatakannya, dan dia bisa uring-uringan untuk beberapa waktu lamanya. Padahal, kalau mau jujur pada diri sendiri, sebetulnya sudah ada bibit kemarahan atau kepedihan yang menghubungkan pernyataan yang tidak membuatnya nyaman itu dengan yang dianggap sebagai pencelaan, dengan persepsi atau keyakinan, bahwa kalau dicela berarti ada yang tidak baik atau kurang pada dirinya. Sehingga, dia tidak cukup baik untuk disayangi dan diinginkan oleh orang lain.
Pikiran-pikiran ini kemudian dianggap dan disamakan dengan emosi atau perasaan. Padahal, ini murni hasil pikiran dan ego manusia saja, yang bisa diciptakan kapan saja, tapi juga bisa dihilangkan atau diubah kapan saja, semata-mata hanya dengan kemauan kita, at will.
Kalau kita paham soal ini, maka jelas terlihat urusan maaf-memaafkan itu sebenarnya tidak perlu. Atau, bahkan bisa dianggap hanya sebagai formalitas, tradisi, khususnya di negara kita, yang setahun sekali melakukannya secara massal. Tapi, apakah jelas bagi para pelakunya, apa yang mereka mintakan maaf, atau apa yang mereka maafkan?
Dan, kalau kita sudah bisa untuk tidak menyalahkan apa-apa lagi di luar diri kita, menyadari bahwa tidak ada yang terjadi pada atau atas diri kita, melainkan untuk kita, wow…. Tidak ada lagi permusuhan, peperangan, baik di dalam maupun di luar diri kita. Dan, hidup bisa jadi ringan serta lepas dari beban mental maupun moril.
Bisakah ini terjadi? Mari kita lihat bagaimana hal ini bisa diciptakan. Mungkin, ada yang ingin tahu apakah dengan demikian semua kejadian bisa dianggap sah-sah dan benar saja? Saya akan bahas pada tulisan-tulisan berikutnya.[ms]
* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

Leave a Reply