Forgiveness (1)

ms1Oleh: Miranda Suryadjaja*

Bagian pertama dari dua tulisan.

Beberapa hari menjelang akhir tahun lalu, saya mendapat telepon dari nomor yang tidak saya kenal, dengan sapaan pembukaan, “Apa kabar Bu, siapa ini hayo….? Orang yang sudah bikin susah Ibu dan menyakiti hati Ibu…” sambil nyerocos dengan ramah dan familiar.

Dalam hati saya berpikir, Siapa, ya? Siapa yang sudah bikin sakit hati saya sedemikian rupa, tapi saya enggak bisa ingat siapa? Mestinya, kalau sudah dikecewakan dan disakiti, pasti saya bisa menebak.

Namun saya juga senang, karena kalau enggak ingat berarti saya sudah tidak menyimpan dendam ke orang.

Akhirnya, si penelepon membuka siapa dirinya, seseorang yang pernah bekerja pada saya. Dia orang yang sangat dekat dengan saya, saya sayangi bagai anak sendiri. Namun, pada akhir masa kerjanya, ia berusaha menilep uang perusahaan yang menyebabkan dirinya—tidak ada pilihan lain selainberhenti bekerja, yang menurut pernyataannya terjadi delapan tahun yang lalu. Saya sendiri sudah tidak ingat kapan persisnya hal itu terjadi.

Selama beberapa menit kami bertukar kata. Sedikit kaku. Dari sisi saya, itu karena saya masih rada kaget dan tercengang saat mencermati apa yang saya rasakan dalam diri saya. Saya tanggapi seadanya permohonan maafnya dan keinginannya untuk bertemu saya. Saking tercengangnya, mungkin saya hanya bilang, Ya… Ya…!”

Setelah pembicaraan terakhir, barulah saya mencerna apa yang baru saja terjadi. Pertama, saya bersukacita karena di dalam diri saya tidak ada reaksi gejolak marah, kecewa, ataupun pengulangan memori tentang apa yang terjadi. Saya masih ingat samar-samar saja kejadiannya, secara garis besar, seperti suatu mimpi yang sudah lama sekali, dan lupa-lupa ingat kalau saya pernah mimpi. Oh mimpi saya yang itu, to…? Agak lucu juga.

Di sisi lain, saya merasa bahwa perasaan saya datar-datar saja. Tidak ada keinginan khusus untuk ketemu dan merangkai kembali tali silaturahmi yang putus. Ataupun, curious untuk tahu lebih lengkap tentang kejadian tersebut maupun yang terjadi dalam waktu delapan tahun terakhir. Sehingga, tatkala orang ini menyatakan sangat ingin bertemu saya, saya tidak terlalu berusaha untuk mencari waktu bertemu. Kebetulan saat itu masa liburan, di mana saya sendiri cukup sibuk dengan tamu-tamu luar kota lainnya, dan tidak mudah bertemu orang tanpa harus menyisihkan waktu secara khusus.

Pertanyaan yang terngiang-ngiang dalam benak saya adalah, “Apa yang perlu dimaafkan? Karena, sejatinya tidak ada yang perlu dimaafkan….” Di sini saya melihat hasil ajaran Jeshua (Yesus: red) pada saya.

FORGIVENESS, atau pemaafan, semata-mata berarti kembali pada asal yang suci, tidak ternoda, tidak bersalah, melihat segala sesuatunya sebagai hal yang netral. Sehingga, yang diluruskan adalah persepsi kita terhadap sesuatu. Kalau kita menganggap sesuatu sebagai suatu kesalahan, semata-mata persepsi kita yang menganggap hal itu salah. Namun, kejadian yang sesungguhnya, bahkan pelakunya pun hanyalah sekadar sebuah fenomena, sesuatu yang timbul dan kemudian hilang.

Ini yang dimaksud dengan semua kejadian adalah netral sifatnya. Persepsi kita yang menilai dan memberi arti dari suatu kejadian, suatu event, atau apa pun itu. Sehingga, pada waktu memaafkan, yang kita beri maaf adalah persepsi kita yang telah menilai bahwa kejadian tersebut salah, orangnya salah, yang menilai bahwa hal tersebut sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.

Padahal, bak langit biru, apa pun di dunia ini hanyalah awan lewat. Sekarang ada kemudian hilang, kadang cepat, kadang lambat. Suatu fenomena yang pada waktunya dia timbul, kemudian lenyap.
Atau bisa dianalogikan sebagai riak-riak gelombang. Gelombangnya sendiri tidak lepas dari laut di mana dia berada, namun dalam perwujudannya dia bisa berbeda bentuk, kecepatan, dan sifat dari asalnya. Pikiran, perasaan, dan perbuatan kita bisa dibandingkan dengan anak ombak, sementara roh kita yang kekal, yang tak berubah, adalah dasar lautan yang diam, tak terganggu, dan terefek (terpengaruh) oleh apa yang terjadi di permukaan.

Sehingga, ketika saya disodorkan permohonan maaf dari seseorangyang tampaknya telah merugikan, menyakiti, mengecewakan sayasaya tidak lagi memandangnya dari sudut bahwa dia telah berbuat sesuatu yang tidak mengenakkan terhadap saya. Saya juga kesulitan untuk memberi maaf, bahkan mengatakan kalau saya telah memaafkan orang tersebut. Karena sesungguhnya, tidak ada yang perlu dimaafkan di luar diri saya. Dan, kalaupun orang tersebut merasa bersalah, yang perlu dia maafkan adalah persepsi atau penilaian dia tentang persepsinya itu sendiri.

Untuk saya sendiri, cukup saya sadari bahwa semua kejadian sifatnya netral, dan yang terjadi dalam diri sayaemosi, perasaan, penilaian, pikiranbukan akibat atau hasil dari apa yang terjadi di luar diri saya. Tapi, itu semua hasil ciptaan saya sendiri, sejalan dengan pemahaman bahwa saya menciptakan pengalaman saya sendiri.

Setelah mencerna dan memproses apa yang terjadi—yang sempat menimbulkan rasa tercengang dan kaku karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana—saya sikapi dengan banyak bernapas lewat perut, seolah-olah sesuatu sedang mencair dan melembut dalam diri saya. Lalu, saya balas SMS mantan karyawan saya itu, dan pada intinya mengatakan bahwa dari saya sendiri tidak ada yang perlu dimaafkan. Dan, kalaupun ada yang mungkin membutuhkan maaf, itu adalah persepsi dia sendiri, terhadap apa yang telah terjadi; rasa bersalah, berdosa, ataupun anggapan tentang saya, bahwa mungkin saya marah, kecewa, dan lain sebagainya.

Dalam diri saya kemudian timbul rasa welas asih atau compassion terhadap seorang anak manusia. Apalah yang terjadi selama delapan tahun, mungkin dia banyak memikirkan kejadian itu, mungkin terus berasa bersalah, andandand…. Dan, timbul keinginan yang sesungguhnya untuk bertemu sekadar untuk menyembuhkan dan membantu dia melepaskan diri dari perasaan-perasaan negatif tersebut.[ms](Bersambung ke tulisan kedua)

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email:sayamiranda[at]gmail.com atau HP: 081389432.


VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

2 Responses to “Forgiveness (1)”

  1. Elsa Sakina Says:

    Memaafkan juga menyehatkan, lho…

    Menurut penelitian, memaafkan atau
    “forgiving” bisa memberi efek positif
    pada sistem kardiovaskuler kita.

    Salam Sukses,

    Elsa Sakina
    http://www.targetpositif.com

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Iftida Yasar Says:

    Dear mbak Miranda
    Dalam perjalanan hidup saya juga mengalami beberapa kali disakiti dan dikhianati oleh orang-orang dekat. Seperti mbak Miranda saya biasanya memaafkan dan melupakan dengan catatan saya merasa tidak perlu lagi bergaul dan berteman dengan mereka. Kenyataannnya ybs mungkin tidak merasa atau mencoba menjalin kembali silaturahmi yang pada akhirnya membuat saya menjadi ingat rasa sakit itu dan enggan untuk bertemu atau menjalin hubungan. Bagi orang yang masih punya perasaan bersalah sebaiknya cukup minta maaf dan tidak usah memaksakan diri masuk kedalam kehidupan orang yang disakiti atau dikhianatinya

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox