Enaknya Hidup di Indonesia
Editor | Kolom Tetap | September 8th, 2009
Oleh: Iftida Yasar*
Wah, ternyata jadi orang Indonesia enak dan asyik. Hal ini terasa banget setelah saya baru kembali dari pelatihan di Jepang selama dua minggu. Mendarat di bandara tercinta Soekarno-Hatta, lumayan sekarang toiletnya baru, bersih, dan ada tisunya, lho! Senang melihat pak porter berseragam hijau yang dengan sigap membantu membawakan tas. Di Jepang lumayan, sopir bus dan taksi masih mau membantu menaikan dan menurunkan tas ke bus dan taksi. Di Italia misalnya, no way deh…. Semua urus sendiri.
Pelayanan imigrasi dan kostum di bandara kita juga cepat dan baik, hanya perlu agak ramah. Begitu keluar dari bandara, wah udara enak betul, nyaman dan sejuk. Di Jepang dua minggu, kalau mau keluar ruangan harus berjuang dengan hawa dingin, hujan, dan angin yang menyengat dengan suhu tiga derajat celsius. Baju harus pakai sampai dengan lapis empat, ditambah sarung tangan dan topi, dan di dalam ruangan juga harus dibantu dengan hangatnya heater. Di dalam ruangan dengan heater apalagi tidur dengan udara panas buatan, membuat napas kering dan tidak nyaman. Kulit saya yang cukup sensitif mulai terasa gatal pada hari ke tujuh, walaupun sudah mengoleskan begitu banyak krem kulit.
Yang namanya lagu anak TK “bangun tidur ku terus mandi” mungkin hanya cocok di Indonesia. Sebab, siraman air dingin di pagi hari membuat segar dan semangat. Di Jepang, bangun tidur berjuang dulu mengatasi rasa malas, ngantuk, dingin, dan takut kena air. Walau mandi air hangat, tetap saja habis mandi kedinginan lagi.
Senang rasanya bertemu tempat tidur saya yang besar dan hangat dengan banyak bantal. Di Jepang kami tinggal di asrama, dengan tempat tidur cukup satu orang, dan bantal hanya satu yang ada isinya semacam jagung. Bantal di Jepang diisi semacam butiran sebesar jagung, yang kalau kita tidur terasa seperti dipijat. Tadinya saya mau beli satu, tetapi ternyata harganya cukup mahal, sekitar Rp1 juta.
Habis mandi lewatlah berbagai tukang makanan seperti bubur ayam, roti, bubur kacang hijau, bahkan jamu sehat langganan saya. Jam 7 sudah siap meracik jamu yang membuat tubuh segar dan kuat. Di rumah saya lihat juga sudah tersedia makan pagi, ada nasi goreng, roti, dan teh manis. Sementara di asrama saya harus turun ke lantai 2 dari lantai 18 kamar saya, hanya untuk mengambil air panas karena mau membuat teh atau kopi. Kalau mau makan juga harus ke kantin di lantai satu. Kadang kami beli makanan di supermarket dan makan bersama di dalam kamar dengan teman-teman.
Pagi hari saya hanya mengeluarkan uang Rp 10.000 buat jamu, dan dua mangkok bubur ayam juga Rp 10.000. Di Jepang saya baru merasakan lezatnya Indomie Indonesia. Sebab, makanan di sana mahal sekali. Untuk makan nasi, sop, salad, atau satu macam lauk di kantin sana, kita harus membayar 850 yen atau setara dengan Rp 100.000. Pop Mie harganya sekitar Rp 12.000 ampai Rp 16.000 per bungkus, di sini kita bisa dapat lima buah. Semua makanan serba mahal, tetapi bagusnya buat saya, saya malah bisa diet di sana.
Yang sangat saya senang di Jepang adalah melihat bagaimana makanan khas mereka yang sangat sederhana seperti moci (beras ketan diisi kacang merah manis yang dihaluskan), juga kacang hijau kupas yang dibentuk berbagai macam boneka jepang menjadi souvenir yang sangat cantik dan menarik buat oleh-oleh. Tetapi, rasanya jadi sayang untuk memakannya karena bentuknya bagus banget. Di sepanjang bandara Narita memang dipajang berbagai oleh-oleh khas Jepang, yang mestinya kita dapat meniru melakukan hal tersebut.
Home sweet home, biar bagaimana Indonesia adalah negara kelahiran kita. Maka, apa pun yang ada mari kita syukuri dan mari terus berkontribusi membuat negeri tercinta ini menjadi lebih baik lagi.[iy]
* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.
Leave a Reply