Emotional Transformation Skill
Editor | Kolom Lepas | October 13th, 2009
Oleh: Agung Webe*
“Keahlian mengubah emosi menjadi kekuatan diri.”’
~ Agung Webe
Ketika banyak orang berbicara tentang kecerdasan emosi, kemudian banyak pula buku yang terbit dan membahas ‘apa’ itu kecerdasan emosi, maka kita bisa mendapatkan ‘definisi’, arti, dan apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosi tersebut. Atau, Anda bisa search di mesin pencari internet dan masukkan kata kunci ‘kecerdasan emosi’, maka Anda bisa mendapatkan ‘definisi’ kecerdasan emosi dari tokoh mana pun juga. Beres? Selesai?
Apakah dengan mengerti tentang definisi atau pemahaman intelektual Anda tentang ‘apa’ itu kecerdasan emosi maka emosi Anda bisa dikatakan cerdas? Apakah hanya dengan menjejali otak Anda dengan teori tentang kecerdasan emosi maka emosi Anda bisa dikatakan cerdas? Tunggu dulu… perjalanan kita tentang emosi belum selesai..
Dalam buku saya RECOLLECTION—Menata Kembali Program Pikiran untuk Hidup yang Lebih Baik (Elexmediacomputindo), saya menuliskan panjang lebar tentang perjalanan manusia menaiki tangga dari IQ (kecerdasan intelektual) kepada EQ (kecederdasan emosi), lalu SQ (kecerdasan spiritual) dan AQ (kecerdasan menghadapi hambatan). Lalu, dalam buku saya 7 Langkah Sederhana Membuat Hidup Menjadi Lebih Bermakna saya telah memberikan langkah-langkah praktis dan sederhana tentang bagaimana mengolah kecerdasan emosi untuk membuat hidup menjadi lebih bermakna.
Sekarang apa lagi? Apalagi yang akan saya tulis? Tentu saja saya tidak akan memenuhi otak Anda dengan teori-teori baru tentang kecerdasan emosi. Cukup sudah teori yang Anda terima. Kini saatnya Anda memulai merasakan pengalaman tentang emosi ini. Saya akan mengajak Anda melangkah lebih dalam lagi, lebih jauh lagi daripada sekadar kata ‘kecerdasan’!
Pertanyaan saya sederhana: “Setelah Anda tahu tentang kecerdasan emosi; atau bahkan Anda hafal teorinya; atau sekarang Anda bahkan bisa menahan ‘marah’; bisa ‘sabar’ ketika ada persoalan; bisa ‘tersenyum’ ketika mendapat hujatan dan ledekan; bisa ‘mengulurkan tangan’ ketika Anda merasa tertekan.... Aapa lagi setelah ini?”
Apalagi setelah ini?
Ketahuliah bahwa ketika Anda berlaku ‘sabar’ pada saat Anda akan marah, Anda belum sabar. Anda masih menyabar-nyabarkan diri, memaksa diri untuk sabar. Ketika Anda berlaku untuk ‘mencintai’ pada saat orang membenci Anda, Anda belum penuh cinta. Anda masih memaksakan diri untuk berlaku cinta. Sadarlah bahwa masih ada ‘gejolak’ dan ‘gemuruh’ di dada Anda pada saat Anda berlaku sabar, cinta, tenang, dan kondisi sejenis itu.
Masih ada emosi lama yang tertinggal di dalam bawah sadar Anda dan belum berubah bentuk atau belum menjadi sesuatu yang meningkat.
Kebanyakan orang akan berhenti di tahap ini dan terus berlatih sabar, berlatih tenang, berlatih memberi dengan cinta, berlatih sopan, dan berlatih apa pun juga yang menurut dia mewakili kecerdasan emosi.
Kondisi ini tidak akan mengubah apa pun tentang emosi lama Anda!
Anda hanya menciptakan mental block baru tentang kesabaran, cinta, ketenangan, dan sebagainya seperti itu. Mengapa saya katakan menciptakan mental block baru? Untuk lebih jelasnya saya akan sedikit mundur ke belakang dengan penjelasan tentang emosi sebagai energi dan emosi sebagai sebuah kecerdasan.
EMOSI adalah ENERGI
Sekarang rasakan marah Anda….
Rasakan benci Anda….
Rasakan kegelisahan Anda….
Rasakan pula cinta Anda.…
Bisakah Anda melihat semua itu? Tentu saja tidak. Makanya, perintah saya adalah ‘rasakan’. Marah, benci, gelisah, dan cinta hanya bisa dirasakan. Apa yang terjadi pada saat marah, benci, gelisah, dan cinta? Apakah itu membawa perubahan pada tataran fisik Anda seperti tubuh gemetar, dada berdegup kencang, lemas atau perut menjadi sakit? Jawabannya tentu saja ‘ya’.
Mengapa ‘marah, benci, gelisah dan cinta’ bisa mengakibatkan perubahan pada tataran fisik? Jawabannya adalah karena rasa-rasa tersebut mengandung energi. Energi tidak terlihat tetapi bisa dirasakan. Dengan demikian, emosi yang bisa berupa marah, benci, gelisah, cinta itu adalah energi, emosi adalah energi!
Ketika saya mengatakan emosi, jangan beranggapan bahwa emosi itu hanya hal-hal yang sudah diberi label negative seperti marah, benci, gelisah, namun hal yang sudah diberi label positive juga merupakan emosi seperti cinta, sayang, dan tenang.
EMOSI sebagai sebuah KECERDASAN
Mengapa emosi diberi label ‘kecerdasan’? Karena emosi ini memang bagian dari energi yang cerdas. Saya katakan cerdas, karena emosi ini bisa hidup dengan dirinya sendiri. Atau bahkan emosi ini bisa menguasai seseorang yang seseorang itu notabene mempunyai pikiran atau akal sehat bagi dirinya sendiri. Hal itulah yang membuktikan bahwa emosi mempunyai kecerdasan untuk hidup di dalam dunia energi.
Di manakah emosi ini berada? Apakah ia ada di dalam otak kita atau di dalam jantung kita? Atau, di dalam darah kita? Atau di mana? Ada yang berpendapat bahwa emosi ini ada di jantung, karena terbukti kalau marah jantungnya berdegup kencang dan merasakan sakit di dadanya. Sebenarnya tidak tepat juga karena degupan keras dan rasa sakit itu hanya efek dari perubuahan fisiologis ketika energi emosi ini menyentuh dan memengaruhi kelenjar-kelenjar pada tubuh.
Saya akan memberitahu Anda sebuah rahasia yang selama ini belum Anda ketahui tentang tempat dari emosi ini.
Emosi ini hidup bersama pikiran dalam tingkatan frekuensi yang berbeda. Otak hanyalah sebuah alat di kepala manusia yang dapat menangkap dan menerjemahkan pikiran dan juga emosi, dan kemudian meneruskan impuls-impuls listrik kepada kelenjar-kelenjar lainnya. Seperti halnya pikiran, emosi ini jauh lebih besar dan luas daripada besarnya otak itu sendiri. Emosi berada di luar tubuh manusia, dia ada di alam semesta!
Tadi saya sudah mengatakan bahwa emosi ini adalah sebuah kecerdasan. Emosi ini cerdas! Dia dapat menipu Anda, memanipulasi Anda dan melindungi dirinya sendiri. Atau bahkan dia dapat menguasai seluruh hidup manusia.
Ketika yang Anda ketahui adalah emosi ada di jantung Anda dan pada saat Anda marah Anda harus berusaha menahan marah Anda, Anda telah ‘ditipu’ oleh emosi tersebut supaya emosi lama itu tetap mengendap di sana. Emosi ini telah memanipulasi pikiran Anda dan berhasil berlindung di dalam bawah sadar Anda. Dia menciptakan mental block baru tentang definisi emosi ini sehingga keberadaannya tidak terusik oleh Anda.
Saya telah memberitahu Anda sebuah rahasia besar keberadaan emosi. Pada saat Anda menyadari ini maka langkah berikutnya adalah ‘mengubah’ energi emosi ini (karena sifatnya energi maka energi tidak dapat dimusnahkan sebagaimana hukum kekekalan energi. Energi hanya dapat berubah bentuk). Langkahnya bagi Anda adalah ‘Mentransformasikan Emosi’!
Anda harus mempunyai keahlian untuk mentransformasikan emosi Anda kepada bentuk yang lebih tinggi dan lebih berguna bagi kehidupan (Emotional Transformation Skill). Marah, benci, gelisah, cinta, sayang, dan tenang adalah emosi dari sumber energi yang sama. Sekarang tinggal kita mau untuk mengubah emosi-emosi tersebut menjadi sesuatu kekuatan yang dapat kita manfaatkan entah itu dalam pekerjaan atau kehidupan pribadi kita, atau kita hanya tetap membiarkan emosi itu mengendap tak berguna di relung bawah sadar kita?
Jangan berhenti! Segera transformasikan emosi Anda menjadi kekuatan-kekuatan yang dapat membuat manusia menjadi tangguh, percaya diri, profesional, dan mandiri.[awb]
* Agung Webe adalah seorang recollectionist, penulis dari tujuh buku motivasi dan pemberdayaan diri. Bukunya Javanese Wisdom yang mengangkat leadership Jawa dari serat Wulang Reh karya Pakubuwono IV telah menjadi koleksi dan kajian di National Library of Australia di Canbera. Selain menulis buku, Agung Webe juga memberikan training pemberdayaan diri ‘Hypno-Empowerment’ dengan menggunakan metode RECOLLECTION, yaitu menata kembali program pikiran. Lewat seminar dan training yang dibawakan, Agung Webe berusaha berbagi tentang rahasia-rahasia otak manusia untuk menjadi manusia tangguh, percaya diri, profesional, dan mandiri. Kegiatan dan profil Agung Webe lainnya bisa dilihat di http://www.agungwebe.com.

October 14th, 2009 at 1:04 pm
Setuju Mas Agung Webe, emosi bisa berakibat dahsyat. Positive maupun negative. Tinggal kita saja yang mengarahkannya.