Elegant Exit

Sulmin GumiriOleh: Sulmin Gumiri*

Terkait dengan hasil pemilu legislatif beberapa waktu yang lalu, mungkin masih lengket di ingatan kita betapa ramainya pemberitaan di televisi tentang terombang-ambingnya Partai Golkar dalam mencari mitra koalisi setelah ia secara sepihak memutuskan komunikasi politik dengan Partai Demokrat. Karena “perceraian” kedua parpol yang telah lama bersahabat tersebut tidak pernah diantisipasi sebelumnya oleh para politisi Partai Golkar, akibatnya terjadi kepanikan yang luar biasa di kalangan para politisi yang “haus kekuasaan” tersebut untuk secepatnya membangun koalisi dengan partai lain di luar Partai Demokrat.

Karena waktu yang semakin mepet dan partai-partai lain semuanya sudah merapat ke PDIPyang merupakan partai besar dan sekaligus musuh bebuyutan Partai Demokratmula-mula kedatangan Partai Golkar yang sudah dicampakkan Partai Demokrat tersebut, disambut dengan hangat oleh PDIP dan teman-teman koalisinya seperti Partai Hanura dan Partai Gerindra. Bergabungnya Partai Golkar dalam koalisi mereka diyakini akan merupakan tambahan amunisi yang luar biasa untuk mengalahkan Partai Demokrat di pemilihan presiden bulan Juli nanti. Namun, ketika topik pembicaraan koalisi mulai mengerucut ke isu calon presiden dan wakil presiden yang akan diajukan, PDIP dan kawan-kawannya terkesan menolak jika calon presiden koalisi mereka berasal dari Partai Golkar.

Akibatnya, Partai Golkar yang pernah sangat berkuasa di masa Orde Baru tersebut seperti terperangkap ke dalam lingkaran setan. Partai ini menghadapi ancaman perpecahan karena sebagian dari politisinya menghendaki agar mereka kembali menjalin hubungan dengan Partai Demokrat meskipun dengan risiko belum tentu mendapat kursi wakil presiden, tetapi sebagian lagi memilih tetap berada di kubu PDIP demi menjaga harga diri partai dengan risiko harus rela walaupun tidak kebagian kursi presiden.

Dua-duanya sulit dan apa pun yang dipilih tetap saja akan menjatuhkan pamor Partai Golkar karena mereka sudah terlanjur menetapkan harga mati untuk mengusung Jusuf Kalla sebagai calon presiden. Situasi semakin sulit, karena mereka tidak mungkin bisa mengajukan calon presiden sendiri tanpa berkoalisi dengan partai lain akibat dari jumlah perolehan suara mereka pada pemilu legislatif lalu yang tidak mencukupi.

Dalam salah satu acara dialog di telivisi, salah seorang pengamat politik mengatakan “yang diperlukan oleh Partai Golkar saat ini adalah mencari Elegant Exit agar bisa keluar dari situasi sulit tersebut tanpa harus kehilangan muka”. Dan, seperti yang kita semua telah ketahui, setelah bersusah payah, “Elegant Exit” itu akhirnya didapatkan juga oleh Partai Golkar dengan mengajak Partai Hanura untuk mau berkoalisi dan membujuk Wiranto agar bersedia menjadi calon wakil presiden.

Partai Golkar sebenarnya sangat tidak puas dan terlihat kurang happy dengan jalan keluar ini, karena Wiranto sebenarnya tidak lain adalah tokoh sempalan dari Partai Golkar itu sendiri. Tetapi paling tidak, Partai Golkar telah berhasil keluar dari situasi sulit yang membelitnya. Ia terhindar dari perpecahan internal partai, dan yang paling penting, Jusuf Kalla tetap bisa mempertahankan kedudukannya sebagai Ketua Umum Partai Golkar dan sekaligus terpilih sebagai calon presiden. Situasi sulit pun segera berakhir dan martabat Partai Golkar tetap terjaga, baik di mata partai lain maupun di mata seluruh rakyat Indonesia.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengulas peta perpolitikan di Indonesia saat ini. Saya lebih tertarik kepada istilah “Elegant Exit” yang digunakan oleh pakar politik di atas yang mungkin juga relevan dengan permasalahan kehidupan kita sehari-hari.

Dalam menjalani kehidupan ini, ada kalanya kita secara tiba-tiba dihadapkan kepada situasi yang sangat sulit sehingga kita dituntut untuk melakukan “Elegant Exit”. Suatu hari saya check out dari salah satu hotel berbintang di Jakarta dengan terburu-buru sekali karena ingin mengejar jadwal penerbangan pertama di bandara. Meskipun terburu-buru, saya masih menyempatkan sarapan pagi ala kadarnya di restoran hotel tersebut. Saat saya akan menyelesaikan sarapan saya, tiba-tiba saya berpapasan dengan seorang teman lama yang ternyata juga menginap di hotel tersebut. Kami pun saling bertegur sapa dan akhirnya berkembang menjadi pembicaraan hangat tentang isu-isu yang pernah kami bahas pada pertemuan terakhir kami sebelumnya.

Karena semakin asyik, teman itu pun menawarkan untuk mencari tempat duduk agar bisa mengobrol lebih enak. Saya mulai “terperangkap” dan dihadapkan kepada pilihan yang sulit: Apakah saya harus berterus terang bahwa saya buru-buru mau ke bandara dan menolak ajakannya dengan risiko dianggap tidak menghargai teman tersebut? Atau, saya ikuti saja ajakannya tetapi dengan risiko saya bisa terlambat sampai di bandara. Dalam situasi ini, saya memerlukan “Elegant Exit”.

Beberapa saat sebelum saya menulis artikel ini, saya baru saja ditelepon oleh seorang kolega saya. Ia bercerita tentang sebuah tugas yang baru saja diberikan oleh pimpinan universitas kepadanya. Karena sadar bahwa penugasan itu bisa menyeret dia untuk terperangkap dalam dunia perpolitikan kampusyang kadang-kadang tidak kalah kotornya dengan yang ditontonkan oleh partai-partai politik sungguhania merasa sangat terbebani dengan tugas itu. Ingin menolak takut dikira tidak loyal kepada pimpinan, tetapi kalau menerima, maka ia akan menjadi korban karena pekerjaannya sangat berisiko konflik dengan sesama rekan dan bahkan dengan pimpinan itu sendiri.

Karena takut mengambil keputusan yang salah, ia meminta waktu satu hari kepada pimpinan tersebut untuk berpikir dan baru kemudian memutuskan apakah ia akan menyanggupi atau menolak penugasan tersebut. Entah karena kebingungan bagaimana cara menyampaikannya, akhirnya ia menelepon saya untuk meminta saran bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan penolakan terhadap tugas tersebut, tanpa menyinggung perasaan atasan yang memerintahkannya. Dilihat dari permasalahan yang sedang ia hadapi, teman saya tersebut juga memerlukan “Elegant Exit”.

Pada kasus lain, ada kalanya seorang pimpinan kantor dihadapkan kepada sebuah dilema terkait dengan sebuah keputusan yang telah ia ambil. Sebagai atasan, ia ingin meningkatkan kinerja institusinya dengan menerapkan manajemen modern yang menerapkan prinsip reward dan punishment berdasarkan hasil penilaian objektif terhadap kinerja setiap staf yang berada di bawah tanggung jawabnya. Kepada yang berprestasi ia berikan penghargaan, sebaliknya kepada yang melanggar maka perlu untuk diberikan sangsi atau teguran.

Namun pada kenyataannya, tidak ada seorang pun pemimpin yang sempurna. Tidak jarang, seorang pimpinan mendapatkan informasi yang kurang akurat terhadap kinerja seorang staf sehingga reward dalam bentuk promosi jabatan yang ia berikan kepada seorang staf kadang-kadang akan ditentang dengan keras oleh staf yang lain. Atau sebaliknya, seorang staf yang mendapatkan punishment ada kalanya merasa keberatan dan tidak bisa menerima sangsi yang dijatuhkan pimpinan kepadanya.

Akibatnya, keputusan pimpinan akan digugat dan sang pemimpin tersebut mulai terperangkap kepada situasi yang sulit. Jika ia menolak keberatan mereka maka ia akan dicap sebagai pemimpin yang tidak bijaksana dan otoriter, tetapi jika ia menuruti dan kemudian mencabut keputusannya, maka risikonya adalah ia akan kehilangan kewibawaan dan kepemimpinannya tidak akan pernah berjalan dengan efektif lagi. Situasi ini juga menuntut sang pemimpin tersebut untuk menerapkan “Elegant Exit”.

Melakukan “Elegant Exit” sebenarnya mengandung dua dimensi. Dimensi yang pertama adalah berkaitan dengan keberanian untuk mengatakan “tidak” kepada segala sesuatu yang tidak sejalan dengan kepentingan kita. Dimensi yang kedua adalah bagaimana kita menyampaikan kata “tidak” tersebut kepada orang lain dengan bahasa dan sikap yang santun dan diplomatis sehingga orang tersebut tidak tersinggung dan juga tidak berprasangka kepada kita saat kita menyampaikan penolakan terhadapnya. Kepiawaian dalam menyampaikan kata “tidak” kepada orang lain inilah yang perlu kita pelajari dan kita latih terus-menerus agar kita tidak panik dan tidak kehilangan harga diri saat menghadapi berbagai situasi sulit dalam menjalani pergaulan hidup ini.

Ada beberapa kiat yang mungkin bisa membantu kita agar terbiasa menerapkan “Elegant Exit”. Yang pertama adalah kita harus berpusat kepada prinsip. Prinsip adalah suatu kebenaran yang dalam dan fundamental yang memiliki aplikasi universal. Prinsip berlaku pada individu, perkawinan, keluarga, dan segala jenis organisasi baik swasta maupun pemerintah. Dalam situasi sesulit apa pun, jika sesuatu itu adalah benar dan baik serta akan menunjang kesuksesan kita, maka sepahit apa pun risikonya kita harus berani mengatakan “tidak” kepada setiap tindakan atau orang yang akan menghalangi kita untuk mendapatkan kesuksesan tersebut.

Yang kedua adalah belajar untuk selalu menggunakan kata dan bahasa tubuh yang akan membuat lawan bicara kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita sedang menggiring dia untuk “setuju” dengan alasan penolakan kita. Masyarakat Inggris sangat dikenal dengan budaya menolak secara halus ini. Ungkapan-ungkapan mereka seperti, “Saya sebenarnya mau ikut, tetapi….”, atau “Saya sangat senang dengan kedatangan Anda, sayangnya….”, atau “Secara umum saya sangat sependapat dengan Anda, hanya saja....” adalah bentuk-bentuk penolakan halus sebagai pengganti kata “tidak” yang biasa mereka gunakan agar tidak menyinggung lawan bicaranya.

Agar kita benar-benar terlihat elegan saat menyampaikan penolakan tersebut, ada baiknya kita juga berlatih menggunakan gesture ala orang Prancis. Untuk meyakinkan lawan bicaranya, mereka selalu membelalakkan mata, mengerenyitkan dahi, dan membuka kedua tangan sambil mengangkat kedua bahunya untuk menunjukkan kepada lawan bicaranya bahwa sebenarnya ia juga tidak tega untuk menyampaikan kata “tidak” tersebut. Tetapi, bagaimanapun penolakan itu tetap harus dilakukannya karena ia sudah tidak punya pilihan lain lagi.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardeningdan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri [at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox