Eksplorasi Karakter Semar dan Harapan Pemimpin Baru Indonesia
Editor | Kolom Tetap | July 14th, 2009
Oleh: Sribudi Astuti*
Kegilaan saya pada tokoh Semar yang menurut saya lucu, unik, dan simbolisasi kesahajaan hidup sudah bukan menjadi rahasia bagi orang-orang di sekitar saya. Minggu ini seorang teman menyodorkan artikel mengenai eksplorasi karakter Semar dalam karya keramik F. Widayanto dan tulisan budayawan Sindhunata, yang dibacakan dalam pembukaan pameran keramik F. Widayanto baru-baru ini. Rupanya setiap ada Semar, dia selalu mengingat saya. Sebenarnya cukup terlambat jika membahas tokoh Semar jika dikaitkan dengan pameran F. Widayanto yang bertajuk “Semarak 30 Semar”. Akan tetapi, saya rasa tidak terlambat jika dikaitkan dengan Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009 yang baru saja usai.
Semar adalah tokoh pewayangan yang merupakan tokoh yang berjiwa pamomong (pengasuh), yakni mengasuh para kesatria dalam kisah Mahabarata dan Ramayana. Semar dengan jiwa pengasuh dimaknai sebagai melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap ke atas, maknanya; “Dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang ke atas (Tuhan) yang Mahapengasih serta penyayang umat.”
Semar dalam bahasa Jawa disebut Badranaya (mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia). Tradisi Jawa juga menyatakan bahwa Semar itu berasal dari samara, tidak nyata atau maya, bahkan tak jelas apakah Semar itu laki-laki atau perempuan. Tetapi, di dalam dirinya Semar merupakan sosok manusia dengan karakter yang mengejawantahkan rasa ingat (eling) dan waspada.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa tokoh Semar dalam kisah pewayangan di tanah Jawa merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap batinnya, dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya. Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe, sepi akan maksud, rajin dalam bekerja, dan memayu hayuning bawana (menjaga kedamaian dunia).
Terakhir, tampilan fisik tokoh Semar adalah giginya yang tunggal dan berhiaskan batu mulia, yang menyimbolkan bahwa setiap pitutur (perkataan) Semar adalah perkataan yang sangat bermakna, sarat dengan petuah-petuah bijak.
Lalu, apa kaitan Semar dengan pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2009 ini? Baiklah, sebelumnya kita simak cuplikan tembang sinom ramalan Serat Kalatidha karya Pujangga Ranggawarsita berikut ini:
Ratune ratu utama
Patihe patih linuwih
Pra nayaka tyas raharja
Panekare becik-becik
Paranedene tan dadi
Paliyasing Kala Bendu
Mandar mangkin andadra
Rubeda angrebedi
Beda-beda ardaning wong saknegara
(Artinya: Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik, patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik, namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan, oleh karena daya zaman Kala Bendu. Bahkan, kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi. Lain orang lain pikiran dan maksudnya).
Jika dikaitkan dengan situasi negara kita saat ini, sebenarnya pemimpinnya dan orang-orang yang ada di bawahnya adalah orang-orang pilihan dan terbaik di antara putra bangsa yang lainnya. Namun, karena masing-masng pribadi mempunyai pemikiran, orientasi yang berbeda, bahkan sering kali teracuni oleh orientasi pribadi yang cenderung serakah, maka tak jarang terjadi kekisruhan, korupsi yang sulit dibasmi, dan sebagainya.
Ramalan Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha memang telah tersurat, tetapi bukan berarti harapan kita atas negeri yang damai dan sentosa harus pupus, bukan? Pemerintah kita telah melaksanakan pemilihan umum baik legislatif maupun eksekutif dengan baik, sebuah gerbang harapan baru pun terbuka. Rakyat sudah berusaha memilih calon-calon pemimpin yang terbaik di negeri ini.
Rasanya karakter Semar, yang merupakan karakter tokoh yang cukup dikenal dalam budaya rakyat Indonesia mampu mewakili karakter pemimpin Indonesia yang seharusnya. Rakyat tentu berharap mempunyai pemimpin yang rendah hati, bersikap melayani masyarakat tanpa pamrih, mengayomi, dan dapat dijadikan teladan bagi rakyatnya.
Karakter samar dalam diri Semar juga dapat dijadikan petunjuk bagi pemimpin baru negeri ini, di mana dalam setiap karyanya tidak perlu digembar-gemborkan dalam berbagai kesempatan dan dipamerkan melalui pidato dan orasi-orasi yang cenderung mengobral janji semu. Tetapi, sebaiknya entah itu karya besar maupun karya kecil, yang penting bagi rakyat adalah bagaimana karya dari pemimpin negeri ini mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat. Dan, situasi tersebut mendorong hadirnya generasi-generasi baru yang berkualitas dan bermanfaat bagi umat manusia.
Terakhir, hal yang paling diharapkan rakyat atas pemimpinnya adalah adanya kesatuan kata, kesepahaman antara pemimpin tertinggi dan punggawa-punggawanya mempunyai satu kata sepakat dalam setiap peraturan yang dikeluarkan. Sikap integritas yang tinggi, satunya kata dengan perbuatan seperti layaknya pitutur Semar yang sangat bermanfaat, dan tak pernah menimbulkan keraguan bagi siapa pun yang mendengarnya. Selamat menyongsong masa depan Indonesia yang baru di bawah pemerintahan yang baru. Jayalah Indonesiaku.[sba]
* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP: 085656450918.
September 12th, 2009 at 9:34 pm
Tak bermaksud mengurangi kebesaran nama Ronggowarsito salahsatu pujangga Keraton Surokarto Hadiningrat, juga tak bermaksud mengurangi penghargaan terhadap jasa-jasanya dalam mengajarkan budi-luhur & laku-utomo melalui karya-karya sastra [sastra jawi]dan tindakannya, sebenarnya beliau bukanlah seorang peramal, dan karya-karyanya tidak dimaksudkan untuk meramal, tetapi sebagai protes-keras atas keadaan yang terjadi pada masa itu dimana para nayoko-projo [pejabat pemerintahan] saling menjatuhkan untuk merebut hati Raja agar diberi kedudukan yang lebih tinggi. Ronggowarsoito yang tak mau terbawa arus memutuskan keluar dari lingkungan Kraton lalu kembali ke desa asalnya Palar-Klaten hingga wafatnya. Salahsatu bagian dari karyanya yang sangat terkenal yang juga dianggap oleh banyak orang sebagai ramalan, adalah JAMAN EDAN [hanemoni jaman edan - ewuh oyo ing pambudi - melu edan ora tahan - tan melu edan datan keduman - yo mung begja-begjane sing lali - maksih begjo wong sing eling lan waspodo]. Sekali lagi, itu bukan ramalan, melainkan ungkapan kekecewaan hati Sang Pujonggo Agung Ronggowarsito. Nuwun.
September 13th, 2009 at 2:19 pm
Terimakasih Pak Siswoto untuk koreksinya, setelah saya diskusikan dengan Bapak saya.. ternyata memang begitu ceritanya, bukan ramalan tetapi ungkapan hati melihat kondisi yang ada.
September 18th, 2009 at 1:03 pm
Tulisan Ibu Sribudi Astuti sangat bagus dan bermanfaat untuk kita semua yang sering melupakan pentingnya moralitas. Mengenai Ronggowarsito yang disebut sebagai peramal, itu memang anggapan/tafsiran banyak orang. Demikian pula tentang tokoh Semar yang Ibu tulis, banyak orang menyebutnya sebagai gambaran figur pemimpin. Untuk Semar ini, mohon maaf jika saya juga perlu “meluruskan pendapat” dengan catatan bahwa pendapat saya ini belum tentu yang paling benar. Orang Jawa menghadirkan Tokoh Semar bukan untuk gambaran seorang pemimpin tetapi untuk menggambarkan rakyat kecil yang tak segan2 mengingatkan pemimpinnya jika sang pemimpin melakukan kekeliruan. Dalam posisinya yang demikian, Semar [bersama anak2 angkatnya: Gareng - Petruk - Bagong] disebut sebagai punokawan atau kawulo kecil yang menjadi sahabat-dekat pemimpin, dimana kawulo ini selalu mengingatkan perilaku dan tindakan dari pemimpin yang didampinginya. Karena Semar adalah gambaran rakyat kecil maka wajah & postur Semar dilukiskan seperti gabungan antara pria dan wanita dengan tampilan busana dan bahasa tutur-kata yang sederhana. [Bukankah rakyat kecil itu terdiri atas pria & wanita, dan berpenampilan serta berbahasa sederhana?]. Jika Semar sebagai pendamping pemimpin yang berkarakter baik agar tetap baik, maka pemimpin yang jahat didampingi oleh Togog [atau Antogo] agar yang jahat tsb sadar lalu berubah menjadi baik. Konsep ini tak bisa disamakan dengan Parlemen yang mengontrol Pemerintah karena kedua lembaga ini sama2 sebagai penyelenggara negara dan punya kedudukan yang sama/setingkat, sedangkan konsep pengadaan Tokoh Semar ini sebetulnya lebih ditujukan untuk pemimpin, yaitu agar pemimpin tidak jauh-jauh dari rakyat kecil seperti Arjuna tidak jauh dari Semar. Ketika Arjuna jauh dari Semar atau ketika Arjuna melupakan / meninggalkan Semar, maka kegagalan demi kegagalan dialami oleh Arjuna. Jika pemimpin ingin sukses mengemban tugasnya, dekatilah dan dengarkanlah rakyat. Itulah sebetulnya yang menjadi inti pesan dari pengadaan Tokoh Semar.
Ibu Sribudi, teruslah menulis Bu.
Nuwun…
October 16th, 2011 at 7:10 pm
Ella ello wong jowo kari separo cino londho kari sejodho. . . . . .