Dunia Sinema Anak yang Ramah
Editor | Kolom Lepas | August 3rd, 2009
Oleh: Sayuri Yosiana*
Saya kagum dengan pasangan suami istri Nia Zulkarnaen dan Arie Sihasale, karena dedikasi mereka yang konsisten pada film anak-anak yang mendidik. Setelah Denias yang sangat mengeksplorasi keindahan alam Papua dan kebiasaan adat masyarakat setempat itu, kini pasangan Nia dan Ale sudah mempersembahkan lagi film anak-anak berjudul King yang di dedikasikan bagi dunia perbulutangkisan Indonesia.
Film King memang diambil dari kisah hidup pahlawan bulutangkis era 70-80-an bernama Liem Swie King, yang seangkatan dengan maestro bulutangkis Indonesia lainnya, Rudi Hartono yang fenomenal itu karena juara All England delapan kali. Lalu, mengapa King dan bukan Rudi yang di filmkan kisah hidupnya? Dalam suatu talkshow di sebuah televisi swasta, Nia mengatakan bahwa karena Liem Swie King terkenal dengan King Smash-nya yang melegenda itu.
King Smash adalah julukan publik. Awalnya dari para kuli tinta yang terkagum-kagum dengan gaya smash seorang King yang, sampai saat ini, menurut kabar yang pernah saya baca belum ada yang benar-benar bisa menyamainya. Jadi, yang tetap terkenang ya hanya King Smash. Bukan Rudy Smash atau Taufik Smash.
Namun, di sini saya tak bermaksud bercerita tentang film King. Anda bisa melihatnya sendiri di bioskop karena sudah beredar. Saya hanya ingin menyampaikan ketertarikan saya pada idealisme pasangan Nia dan Ale tentang film anak-anak yang mendidik, membumi, dan tetap asyik ditonton oleh orang dewasa sekalipun.
Saya kadang kecewa melihat film atau sinetron anak-anak dan remaja di televisi yang rata-rata isi ceritanya kurang mendidik. Bahkan, ada yang bernuansa klenik. Penyakit orang Indonesia adalah suka latah hehehe…. Termasuk di dunia hiburan sekalipun. Lihat saja acara-acara televisi kita. Hampir semua tayangannya hasil produk luar yang didaur ulang. Terkesan miskin ide. Cuma bisa megekor acara-acara yang sudah ada sebelumnya.
Yang lebih parah tentunya acara-acara yang segmennya remaja. Nah, yang satu ini tak ada lagi yang namanya visi, misi, dan edukasi. Yang penting rating, pemain-pemainnya lagi digandrungi, dan lewat SMS sinetronya pun bisa menang, lho... asyik, kan?
Dalam suatu acara bincang-bincang tentang film anak dan remaja di sebuah radio swasta, hal ini pernah dibahas. Siaran tersebut menarik karena langsung mendatangkan produser, sutradara, penulis skenario film dan sinetron anak serta remaja. Plus dialog interaktif antara pendengar dengan para narasumbernya. Dan, lewat acara itu saya baru tahu bahwa jalan cerita, penunjukkan para pemeran, sampai penulisan skenario pun kadang harus tunduk pada produser.
Seorang sutradara muda yang rajin membuat sinetron anak dan remaja berkata bahwa sebagai sutradara kadang dirinya merasa hanya sebagai orang suruhan. Dia tidak bisa membuat keputusan apa dan siapa yang terbaik untuk sinetron garapannya tersebut, termasuk film. Dan, tidak hanya itu saja menurutnya. Sebagai sutradara pencari bakat kadang penunjukan pemeran sebuah sinetron atau film pun tak bisa lepas dari titip-menitip.
Dalam hal ini ternyata orang tua para calon bintanglah yang banyak ikut berperan. Banyak orang tua yang ingin anaknya jadi bintang. Tidak bisa lewat cara fair, ya ditempuhlah cara pintas. Menurut sang sutradara, dengan modal sendiri para orangtua yang keuangannya mumpuni bahkan sudah mewanti-wanti agar nanti anaknyalah yang jadi pemeran utama. Tak peduli baru sampai mana kualitas aktingnya. Begitu berkuasanya para orang tua yang ingin anaknya jadi bintang, mereka tak segan-segan all out demi kemajuan putra-putrinya di dunia hiburan. Termasuk salah satunya, ya itu tadi, ikut memproduksi sendiri sinetron yang akan dibintangi anaknya, dengan syarat anaknya yang jadi pemeran utama.
Jadi, untuk menyalahkan kru film ataupun bintang-bintang muda itu juga tak fair kalau melihat bagaimana peran orang tuanya sendiri yang mungkin lebih ambisius daripada anak-anaknya. Tentu saja tak semua orang tua bersikap seperti ini.
Tak heran bila keadaanya seperti ini, maka yang dihasilkannya juga rata-rata asal jadi. Cerita hanya seputar kisah cinta, putus cinta, anak durhaka, melawan orang tua, geng-gengan, rebutan cowok atau cewek, dll, yang sebenarnya sudah membosankan penontonnya (atau terpaksa karena tak ada pilihan tema cerita?).
Maka, bersyukurlah kita masih mempunyai orang-orang seperti pasangan Nia dan Ale, Mira Lesmana, dan beberapa kru film yang tetap berdedikasi membuat film anak dengan segala keindahannya namun tetap mendidik, membumi, dan tak mengada-ngada.
Saya sendiri belum bisa melupakan film Petualangan Sherina yang menjadi ikon film anak beberapa tahun lalu. Sayangnya, film Joshua dan beberapa film anak lainnya yang menyusul kemudian, tak begitu kedengaran gaungnya (lagi-lagi sekadar latah tanpa memikirkan visi dan misinya). Lagi pula, mungkin di otak penonton pada waktu itu belum bisa melupakan kisah Petualangan Sherina dengan sahabat nakalnya, yang dalam ceritanya sempat memberi pengetahuan tentang benda-benda antariksa bagi anak-anak seusianya.
Tak heran bila kemudian banyak anak yang memilih pergi ke Lembang untuk melihat benda-benda angkasa lewat teropong Bosscha. Padahal, menurut petugasnya sebelum film Petualangan Sherina tersebut beredar, hanya sedikit anak sekolah yang mengunjunginya. Lewat film Petualangan Sherina itulah anak-anak mendadak punya ketertarikan lebih pada dunia astronomi dengan cara yang sederhana.
Sama halnya dengan film Laskar Pelangi dan Denias yang juga mendatangkan inspirasi bagi penontonya. Film ini mengajarkan kepada kita akan pentingnya arti pendidikan, khususnya bagi anak-anak di daerah yang sering luput dari perhatian pemerintah. Kedua film tersebut memberi gambaran tentang dunia pendidikan kita yang masih bak menara gading bagi sebagian masyarakat. Masih ada diskriminasi.
Di Kick Andy pernah ada seorang pemuda yang sampai berkirim surat pada si empunya acara dan menyatakan bahwa film Laskar Pelangi—melalui salah seorang tokohnya bernama Lintang—telah mampu menggerakkan hatinya untuk berhenti bernarkoba-ria dan memilih hidup baik-baik serta kembali ke kampus. Si pemuda merasa malu sekaligus terharu melihat perjuangan seorang Lintang, yang terpaksa harus berhenti sekolah karena ayahnya meninggal. Padahal, Lintang paling cerdas di sekolah dan menjadi bintang di daerahnya dalam suatu acara cerdas cermat. Ironis.
Saya berharap, film-film seperti inilah yang seharusnya diperbanyak. Mendidik sekaligus humanis. Lebih bagus lagi kalau seperti Denias yang juga mengangkat budaya masyarakat setempat plus mengeksplorasi keindahan alamnya.
Semoga film King yang baru beredar bisa kembali menjadi ikon film anak yang berkualitas, menginspirasi banyak orang, dan penuh dengan nilai pendidikan. Tanpa harus kaku tetapi tetap bernilai seni tinggi. Begitu juga dengan dunia sinetron Indonesia dan acara televisi lainnya. Bravo dunia sinema Indonesia![sy]
* Sayuri Yosiana lahir di Jakarta, senang membaca dan menulis. Pernah mengikuti kuliah jurnalisme di Institut Ilmu Sosial dan Politik. Menyukai sejarah dan kesehatan holistik. Aktivitas sehari-hari adalah mengelola sebuah situs kesehatan holistik Kabarsehat.com dan membantu mempromosikan Sekolah Online Visikata.com. Nama penanya adalah DaraJingga. Karya-karya Sayuri Yosiana dapat dilihat melalui blog pribadi Kuberpuisi.wordpress.com dan Penakubicara.wordpress.com. Yossi demikian nama panggilan dari Sayuri Yosiana dapat dikontak melalui pos-el: darajingga28[at]gmail[dot]com.
August 4th, 2009 at 2:14 pm
Sekalipun iklannya kenceng, KING tetap film yang bagus…