Don’t Open Your Mouth When …
Editor | Kolom Lepas | January 17th, 2011 | 9 Comments »
Oleh : Emmy Angdyani Erawati*
Ketika saya membuka e-mail lama yang masuk ke inbox saya, saya tertarik membaca kembali e-mail yang dikirim oleh seorang teman. “Don’t open your mouth when : “, demikian judulnya. Ada lebih kurang 15 point singkat petunjuk praktis tentang judul di atas.
01. In the heat of anger
Jika panas sudah sampai di ubun-ubun, hati kita sudah panas mendidih, tentu Anda setuju siapa pun dan sepandai-pandainya orang me”manage” hati, pasti kecenderungan kalimat yang kontraproduktif bahkan destruktif akan terlontarkan.
02. When you don’t have all the facts and you haven’t verified the story .
Check and recheck mungkin itu singkatnya. Acapkali kita sudah memperbincangkan bahkan telah membroadcast kemana-mana, padahal kevalidan berita atau cerita belum ada.
03. If you can’t say it without screaming it.
Saya pernah mendapat pertanyaan dari mentor rohani saya begini, “Mengapa jika dua orang bertengkar, maka volume suara akan begitu keras, bahkan sampai berteriak-teriak?” Jawabannnya adalah karena secara fisik ke dua orang itu berdekatan, tapi jiwa ke dua orang itu berjauhan sehingga dalam menyampaikan sesuatu , satuan “decibel” suara akan berlipat agar sampai kepada lawan bicara. Biasanya naiknya emosi berbanding lurus dengan volume suara.
04. If you would be ashamed of your words later or you may eat your words later
Istilah yang umum dipakai adalah “menjilat ludah sendiri”. Lebih baik tidak berkata apa-apa dari pada kita sendiri yang malu di kemudian hari. Atau pepatah “mulutmu harimaumu” juga tepat dikaitkan dengan point ini.
05. If your words will damage a friendship
Tidak jarang pertemanan atau relationship lainnya yang sudah dibangun dengan susah payah seringkali ternodai karena kita tidak mampu mengendalikan kata kata yang keluar dari mulut kita.
06. If your words will damage someone else’s reputation
Biasanya diawali dengan “bisik bisik” menceritakan kejelekan atau aib orang lain, lama-kelamaaan reputasi orang lain akan tercoret dengan tinta merah. Berawal dari bisik-bisik, secara sistemik akan mampu merusak reputasi seseorang. Bukankah ini berarti secara sistemik pula kita menghancurkan hidup orang lain?
Ada pepatah yang mengatakan: “Pikiran hebat membicarakan ide, pikiran biasa membicarakan kejadian, pikiran bodoh membicarakan orang.” Tentu membicarakan orang di sini dalam konotasi membicarakan kejelekan atau aib orang. Apakah kita memilih untuk berpikiran bodoh?
07. It is time to listen
Ada waktu untuk berbicara, ada waktu untuk mendengar. Mengapa Tuhan menciptakan kita dengan dua telinga dan satu mulut, agar kita ingat bahwa kita perlu cepat mendengar dan lebih lambat untuk berbicara.
Jadi, jika saat kita membuka mulut, malah membuat panas suasana, mendemotivasi, tidak jelas kebenarannya atau membuat perpecahan, adalah lebih bijak jika kita berdiam diri.[eae]
* adalah seorang Insinyur Teknik Kimia yang lahir di Surabaya, 2 Maret 1969. Emmy adalah ibu dari seorang anak berusia 10 tahun dan pernah berkarier di perbankan selama sepuluh tahun. Sekarang ia bekerja di sebuah perusahaan pelayaran nasional di Surabaya sekaligus menjalankan wirausaha persewaaan mobil. Ia dapat dihubungi di Pantai Mentari M-40, Surabaya, HP: 081.2358.7773 atau pos-el: angdyany[at]telkom[dot]net.
March 13th, 2011 at 11:37 pm
Tidak mudah untuk dilaksanakan karena ada faktor pembawaan, kepribadian……..yg kadang memang lebih suka ngomong dari pada mendengar………ada solusi cara mudah melaksanakannya Ibu Emmy ???
March 31st, 2011 at 8:04 pm
Dalam kondisi seperti itu, yang terbaik ikut kata leluhur:Diam itu emas alias sabar..dan sabar
April 16th, 2011 at 8:58 am
salam kenal bu Emmy..
yang saya baca baru tujuh point bu..yang delapan point lagi apa?
July 14th, 2011 at 11:45 am
dari poin 1 hingga 7 saya berusaha menerapkannya di keseharian saya meski terkadang saya tidak bisa menghindari akibat ketidaksengajaan.
Tetapi jika yang terjadi sebaliknya, misalnya ada orang yang tidak sesuai dengan dari poin 1-7 dan tidak sengaja atau ada unsur becanda, saya lebih baik berpikir “Ah dia bcanda, kan lo jg suka becanda” atau “Oh dia ingin mencoba u/ bcanda tapi bcandanya spt itu, terima aja” atau “Lo mungkin pernah nyakitin hati orang lain, makanya skrng lo disakitin, santai aja” atau “hayoo, lo jg pnh kali tuh bcanda yg nyakitin, skrng ada orng yg begitu lo ga boleh sakit hati”
——————————
sudi mampir PERTAMINA
July 31st, 2011 at 3:31 pm
Mudah2 an saya bisa melaksanakan, meski gak mudah….
August 12th, 2011 at 2:36 pm
Jangan ach!.. aku gak mau punya pikiran bodoh. meski aku ngomongin orang.
Orang cerdas akan berkata mbak emmy emang cerdas n cuantik.
November 11th, 2011 at 4:47 pm
sangat susah mempratekkan hal diatas karena budaya kita sekecil masalah yang kita lakukan akan terlihat sangat besar sedangkan sebesar besarnya keberhasilan yang kita lakukan akan terlihat sangat kecil ataupun bisa juga tak berarti- hal tsb. apa yang harus dilakukan?
July 20th, 2012 at 3:00 pm
wahh ini nihh,,
kerenn don’t openn..
January 3rd, 2013 at 1:00 am
membaca artikel ibu emmy, jadi teringat salah ajaran agama yang saya imani
“jika kamu mengaku beriman kepada Tuhan, dan Hari Akhir… maka hendaklah berkata-kata yang baik, jika tidak bisa. maka diamlah”
(hadist)
Salam Damai Sejahtera