Do What You Love, Love What You Do
Editor | Kolom Tetap | July 14th, 2009
Oleh: Fita Irnani*
Pernah suatu ketika, pada senin pagi seorang kawan di kantor mengajak saya breakfast bersama. Memang, perusahaan tempat kami bekerja memberikan fasilitas menjadi member pusat kebugaran tertentu di mana salah satu privilege-nya adalah kesempatan breakfast gratis ala hotel berbintang.
Belakangan, ajakan seperti ini kerap saya tolak. Saya lebih memilih untuk melahap bekal makan pagi yang sengaja saya beli di perjalanan menuju kantor. Alasan saya karena lebih cepat dan rasanya kok sayang jika harus melewatkan waktu untuk meninggalkan keasyikan saya bekerja meski sejenak. Setidaknya 30 menit bisa terlepas untuk berjalan menuju ke lokasi yang berjarak lima belas lantai, ditambah sedikit ngobrol santai dengan kawan-kawan. “Fasilitas kok tidak dimanfaatkan, yang namanya pekerjaan sampai kapan pun akan selalu datang,” demikian komentar kawan saya.
Selama karier saya, tercatat sudah tiga kali saya berkantor pada tiga perusahaan berbeda. Dan, satu kebiasaan saya yang tidak pernah berubah adalah datang pagi ke kantor, setidaknya satu jam sebelum jam kantor dimulai. Petugas cleaning service pun kalah. Kebiasaan ini tidak dipengaruhi oleh jenis transportasi yang saya pilih. Menggunakan kendaraan pribadi atau jasa kereta api, tetap saja saya akan memilih waktu berangkat lebih pagi meski bertempat tinggal di Bogor.
Sering kali kawan-kawan kantor bertanya mengenai stamina tubuh dalam menjalani kebiasaan pergi pagi pulang malam. Atau, tidak jarang mereka melontarkan kelakar, “Wah... tampaknya menginap di kantor, nih!” Bahkan, mereka ada yang menyimpulkan bahwa saya termasuk kelompok yang tidak menikmati hidup, pecandu kerja, atau pemuja hidup untuk kerja.
Pada awalnya saya sempat terusik dengan respon kawan-kawan saya. Namun tetap saja, day to day-nya saya keukeuh untuk tidak mengubah pola hidup saya. Toh saya bahagia menjalani hidup saya, dan kehidupan sosial saya masih berada pada level seimbang. Lunch break di kantor tetap saya pergunakan untuk makan siang, waktu ibadah tetap setia termanfaatkan, berbincang dengan kawan-kawan di kantor selama istirahat, sharing atau menampung ‘curhat’ karyawan tetap menjadi bagian saya sehari-hari.
Tak terlintas dalam pikiran saya, ada sesuatu yang terampas dari hidup saya karena saya menjalaninya dengan ikhlas. Barangkali itu sebabnya saya tidak sekadar menjalani sebagai rutinitas, melainkan saya justru asyik menikmati apa yang saya sukai. Tidak menjadikan pekerjaan sebagai beban atau sekadar sarana transaksi penopang kesejahteraan. Tidak sekadar menghitung telah sebulan bekerja, kemudian akhir bulan menanti imbalan.
Jika dibandingkan dengan penikmat pekerjaan yang lain, tentu saja apa yang saya jalani masih belum seberapa. Dari kalangan musisi, sebut saja Ahmad Dhani, puluhan tembang hit berhasil tercipta dari kepiawaiannya menggubah nada. Andrias Harefa dari kalangan penulis, sudah berapa judul buku, bahkan bestseller, terbit dari hasil pemikirannya. Program televisi, berapa banyak acara televisi diciptakan dari ide Helmy Yahya. Dari kalangan desainer, sebut Anna Avatie, berapa macam sudah model rancangan gaun pengantin menjadi koleksinya.
Saya percaya, hasil karya mereka bukan semata-mata karena tuntutan pekerjaan, namun lebih jauh karena mereka menikmati pekerjaannya, mereka mencintai dunianya. Do what you love, Love what you do. Namun, ada satu pertanyaan, apabila kita sudah mencintai apa yang kita kerjakan dan kita menikmati kegemaran ini, lantas tidak akankah kejenuhan suatu saat menghampiri? Adakah pekerjaan yang selamanya mengasyikkan?
Suatu ketika, satu tim dalam departemen saya tengah menjalani satu project mendadak dengan deadline kurang dari seminggu. Saya pun terlibat dengan tanggung jawab yang telah dibagi untuk masing-masing. Tidak mudah mengumpulkan kembali hard copy data-data satu tahun yang lalu secara detail lalu menduplikasinya. Sementara, data mentah berada dalam tumpukan file di gudang arsip. Pekerjaan sepele, membosankan, dan tentu saja takes times. Namun the show must go on, saya hanya membekali diri dengan keikhlasan. Saat itu, ikhlas menjadi satu-satunya cara untuk mengenyahkan keberatan-keberatan dari separuh hati saya.
Deadline satu hari pengumpulan data terlampaui meski terbeli dengan ekstra kerja lembur hingga benar-benar larut. Anehnya, segalanya berlalu seperti biasa, tak ada beban, bahkan ingatan akan ekstra lembur yang telah dikeluarkan. Luar biasanya lagi, meski pada akhirnya data yang terkumpul batal dimanfaatkan, tak ada kekecewaan telah memubazirkan waktu untuk pekerjaan yang sia-sia.
Dalam perjalanannya, pastilah kejenuhan akan tetap ada, kendala suatu saat akan menyambangi, tekanan dari pekerjaan yang kita cintai akan tetap datang. Namun, asalkan dalam menjalaninya diawali dengan keikhlasan, tetap kita akan mencintainya.
Beruntunglah bagi siapa pun yang telah memperoleh pekerjaan yang dicintai, memandangnya sebagai hal yang mengasyikkan, mencintai sebagaimana hidupnya dan ikhlas mengerjakannya. Ini berarti Anda dekat apa yang anda cita-citakan.[fi]
* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai Learning & Development Specialist pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

July 14th, 2009 at 11:44 pm
Yes, agree. Do what you love, love what u do. Do it!