Do Simple Things with Great Love

ad1Oleh: Alexandra Dewi*

Selama kita masih menjadi manusia dan berdomisili di bumi, pastinya kita akan punya yang namanya keinginan, masalah, tujuan hidup, desire, atau apalah namanya, yang membuat kita setiap pagi bangun tidur dengan suatu tujuan atau pekerjaan.

Setiap manusia, siapa pun itu, punya kisah hidup yangbilamana kita simakada pelajaran atau hikmah di dalamnya yang bisa kita ambil, dari cerita kehidupan setiap manusia.

Contoh, seorang anak kecil yang berjualan koran, yang saya dan suami temui suatu hari, menolak menerima uang yang ingin kami berikan kepadanya. Ketika kami mengeluarkan uang sepuluh ribu untuk uang ekstra dari harga koran yang kami beli, si anak menjawab, “Saya tukang koran, bukan pengemis. Hebat! Kecil-kecil sudah tahu bahwa walau miskin, walau hanya jualan koran, tapi dia tetap punya yang namanya dignity atau harga diri.

Sedangkan cerita lain adalah orang yang sudah kaya raya, sudah umur kepala 8. Bukannya menggunakan uangnya untuk menikmati masa tua dengan anak cucu, masih ibaratnya serakah main saham besar-besaran sehingga ketika global economy crisis datang, hampir semua sahamnya anjok, bahkan ada yang sampai habis sama sekali .

Jadi, apakah benar orang semakin berumur semakin bijaksana? Bisakah ada kemungkinan bahwa manusia berumur 21 tahun lebih dewasa dan bijaksana dari pada seseorang yang berumur 41 tahun? Is it older means wiser?

Kembali ke si anak kecil yang punya dignity tadi. Saya jadi berpikir bahwa siapa ya yang mengajari anak itu? Saya berasumsi bahwa ia mungkin tidak ada uang untuk sekolah sehingga harus jualan koran. Tapi, dengan tidak berpendidikan pun, karakternya bisa lebih dari mereka yang berpendidikan.

Contoh lain yang membuat saya tersentuh adalah pembantu rumah tangga saya, Mbak Ti. Mbak Ti kerja dengan sungguh-sungguh dan saya hampir tidak pernah harus menyuruh. Dia sudah tahu apa yang harus dikerjakan. Tapi, yang membuat saya tersentuh adalah suatu kejadian ketika Mbak Ti membawa keranjang berisi baju kotor yang harus dicuci di rumah Mama saya. Waktu itu, saya masih tinggal di apartemen yang tidak ada mesin cucinya. Mbak Ti jalan kaki membawa keranjang berisi baju dan handuk kotor. Pada hari itu, ketika ia sedang berusaha menyeberang jalan, sebuah motor menabraknya. Dan, Mbak Ti terkapar di pinggir jalan dengan kepala bocor, berdarah, dan perlu dijahit.

Si pengemudi motor bertanggung jawab dengan mengantarkan Mbak Ti berobat ke puskesmas. Setelah itu dia juga mengantarkan Mbak Ti pulang ke rumah Mama saya. Pulang kantor saya kaget mendengar kabar itu, dan langsung saya ke kamar menengok Mbak Ti. Bukannya saya yang minta maaf karena dia kecelakaan selagi bekerja untuk saya, tapi Mbak Ti malahan yang menangis begitu melihat saya. Serta merta dia minta maaf soal keranjang baju dan handuk kotor yang tidak bisa dia selesaikan dengan baik, karena hilang tercecer di pinggir jalan ketika tertabrak motor!

Saya tidak pandai menghibur orang, tapi saya segera katakan bahwa saya tidak peduli dengan baju dan handuk kotor saya. Saya LEGA bahwa Mbak Ti tidak apa apa. Maksud saya, dia tidak sampai cacat, atau lebih parah lagi koma, atau pindah alamat ke surga.

Sekarang, Mbak Ti masih bekerja di keluarga saya. Dan, ketika saya naikkan gajinya awal tahun ini, Mbak Ti malah bilang, “Tidak usah…!” Katanya, kalau dia bekerja hanya karena gaji tok, dia sudah ke mana-mana.

Baru sekali ini saya dapat orang yang menolak gajinya dinaikkan!

Justru karena Mbak Ti orang yang penuh rasa syukur, saya jadi kekeuh bahwa saya mau naikkan gajinya. Diam-diam saya mengkhayal, Mbok ya orang-orang yang lebih berpendidikan itu bisa punya rasa bersyukur seperti Mbak Ti, yang paling-paling tidak sampai lulus SMP….”

Kadang saya bingung, dengan segala keterbatasannya, si anak kecil yang jual koran dan Mbak Ti pembantu rumah tangga saya, kok bisa tetap baik hatinya ya….? Sedangkan orang-orang yang berpendidikan (tinggi) belum tentu punya kebijaksanaan seperti mereka.

Contoh: Seorang teman saya komplain soal pegawainya yang ketika di-PHK malah membawa kabur kendaraan kantor. Padahal, tittle-nya Sarjana Hukum, lho! Atau, kenalan saya yang punya pegawai kantoran, yang kerjanya malah chatting di jam kantor, atau bahkan download situs-situs porno. Atau juga kenalan saya lainnya yang komplain soal pegawainya yang ahli desain grafis, tetapi korupsi budget cetakan. Dan ketika ketahuan, si pegawai ini malah menuntut perusahaan teman saya itu untuk tidak menggunakan hasil desain grafisnya, yang mana sudah jasanya sudah dibayar penuh oleh perusahaan.

Yang lebih aneh lagi, dari ketiga pegawai yang ‘korup’ itu, semuanya juga selalu menanyakan kapan perusahaan mau menaikkan gaji mereka. Padahal, jika penghasilan ketiga pegawai itu saya bandingkan dengan penghasilan Mbak Ti sebagai pembantu rumah tangga, atau dibandingkan dengan hasil jual koran si anak kecil tadi, tentu penghasilan para karyawan berpendidikan itu jauh lebih besar.

Jadi, kadang saya jadi berpikir, “Mungkin, semakin berpendidikan seseorang, semakin banyak pengetahuannya, dan semakin banyak pula keinginannya. Dan, semakin banyak keinginan, semakin stres pula kalau tidak kesampaian.” Tentu saja, mereka akan semakin sulit untuk merasa bahagia.

Namun, di sisi lain saya bersyukur bahwa orang tua saya menyekolahkan saya sehingga saya punya pengetahuan dan keinginan. Makanya, saya suka wondering, “Apa yang Mbak Ti atau si anak penjual koran kecil itu miliki, tapi tidak saya miliki?

Saya intropeksi diri, mungkin saya kurang sederhana dalam berpikir. Hidup Mbak Ti, saking sederhananya, membuat dia stay in a moment. Dia tidak berpikir banyak soal masa depan. Hari ini ya hari ini. Dan setiap hari, saya lihat dia bisa tertawa-tawa dan raut wajahnya tidak pernah mencerminkan orang lagi stres. Tapi kalau saya, dengan pengetahuan yang saya tahu sekarang, disuruh kerja seperti Mbak Ti, pastinya saya akan bersungut sungut. Aneh juga dunia ini!

Apakah berpendidikan artinya lebih bahagia? Apakah yang uangnya lebih banyak pasti lebih bahagia? Apakah berpendidikan pastinya tahu mana yang baik serta benar, dan tahu juga mana yang salah? Apakah orang kaya pastinya lebih pintar dari orang yang tidak punya uang? Tidak ada suatu teori yang pasti, tidak ada pukul rata akan suatu formula tentang bagaimana mendapatkan rasa bahagia dan rasa syukur.

Akhirnya, saya seperti bertanya jawab dengan diri saya sendiri. Bagaimana caranya supaya saya sendiri bisa tahu yang namanya rasa bersyukur? Bagaimana saya bisa jadi manusia yang ada gunanya? Dengan segala pengetahuan saya, kok rasanya saya tidak bisa berbuat hal-hal besar atau gebrakan yang membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik?

Akhirnya, saya belajar dari Mbak Ti, dan anak kecil si penjual koran tadi. I learn to do small things with great love.

Penjual koran jasanya adalah mendistribusi koran di jalan, di mana pekerjaan itu dia lakukan dengan pride. Dari pride dan dignity yang dipunyainya saja dia bisa menyebarkan kekaguman dan menghapus pandangan atau stereotype bahwa penjual koran pastinya mengemis juga. He is doing simple thing – menjual koran, but he do it with great love–asal halal dan bisa membantu kehidupan rumah tangga orang tuanya.

That is great love. Karena banyak anak yang orang tuanya kaya tapi malah bersungut-sungut ketika ulang tahunnya tidak dipestakan oleh orang tuanya. Atau, mereka malah membentak orang tuanya ketika orang tuanya membelikan handphone, tapi handphone-nya bukan merek Nokia yang terbaru, atau bukan Blackberry Bold. Haiya...!

Mbak Ti kerjanya ‘hanya’ pembantu rumah tangga, tapi pekerjaannya dilakukan dengan teliti dan suka cita. Wong saya enggak pernah suruh, Mbak Ti malah dengan kreatifnya menyusun sepatu saya di lemari. Padahal, saya biasa copot sepatu seenaknya sehabis pulang kantor. Dan bahkan, Mbak Ti mau mencuci sandal gym saya yang kotor, yang mana saya sendiri sebagai si pemilik sandal malah tidak sadar, bahwa sandal itu bisa dicuci. She is doing simple thingsbut with great love.

Akhirnya, saya taruh pesan itu di Blackberry saya, di Face Book saya, dan di Yahoo Messanger saya. Do simple things with great love. Supaya saya ingat, setiap kali saya bayar gaji karyawan tepat waktu, bukan saja tanggung jawab, tapi saya lakukan dengan suka cita dan rasa syukur, bahwa saya bisa membantu keuangan rumah tangga para karyawan saya.

Waktu tahun baru Cina lalu, semua karyawan saya beri amplop merah, masing masing Rp50 ribu, tidak peduli posisi manajer atau satpam, semua dapat sama rata, yaitu Rp 50 ribu. Mungkin,—mana saya tahumanajer saya mengumpat saya pelit. Tapi saya tidak peduli. Yang penting, walau kecil saya rela memberi. Do simple, litte things with great love. Biar kecil asal datang dari hati yang tulus.

Kalau ada teman yang curhat, walau buat saya masalah itu sepele, saya dengarkan dengan penuh perhatian. Saya tahu, biasalah kalau bukan kita sendiri yang mengalami, kita akan anggap remeh. Sedangkan bagi yang mengalami, pastinya itu hal yang sangat berarti.

Saya buang sampah pada tempatnya, supaya yang harus membersihkan tempat itu minimal saya enggak menambah kerjaan mereka. All in all, tiap hari saya membaca pesan di handphone sayato do simple things with great love. Saya jadi berpikir, apa yang bisa saya kerjakan supaya setiap hari saya masih diberi kesempatan untuk bangun tidur dengan sehat oleh Tuhan, maka hari itu saya membuat suatu yang bermanfaat buat keberadaan saya di dunia ini, sekecil apa pun itu.

Karena saya tidak bisa melakukan hal-hal yang besar, seperti menghilangkan macet di kota Jakarta, atau menguatkan kurs rupiah terhadap mata uang asing, dan saya tidak bisa jadi pawang hujan, bukan berarti saya tidak ada gunanya. Semua orang ada gunanya, kalau dia mau jadi berguna. Selama kita masih diberi kesempatan tinggal atau berdomisili di dunia ini, dan selama Tuhan masih memberi kita kemampuan untuk bangun dari tidur setiap harinya, saya yakin hari itu kita diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari rencana-rencana Tuhan.

So, I start with small, simple things but always with great love. Seperti diberi tanggung jawab: Kalau tanggung jawab kecil saja kita tidak mau menjalankannya, bagaimana kita bisa mendapat tanggung jawab yang lebih besar? Siapa tahu suatu ketika saya bisa-bisa jadi pawang hujan beneran? Hey, you never knows…! J[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku Queen of Heart dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang ketiga tentang fashion, dan yang keempat tentang kehidupan rumah tangga.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

One Response to “Do Simple Things with Great Love”

  1. syanti Says:

    Dear Mba Alexandra Dewi yang baik ^_^

    Setelah saya membaca buku Anda (The heart inside the heart), Saya jadi tertarik dengan tulisan2 Mba yang lain. Terimakasih telah memberikan “Aha Moment” 4 me :D

    Wish U All The Best, and always wait for your beautifull ‘n inspiring word

    GBU

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox