Dispersal: Strategi Sukses Semua Makhluk
Editor | Kolom Tetap | February 15th, 2009
Oleh: Sulmin Gumiri*
Dalam mata kuliah Ekologi yang saya ajarkan kepada para mahasiswa pascasarjana, ada satu topik yang selalu hangat diperbincangkan mahasiswa setiap angkatan. Topik itu adalah tentang kebiasaan untuk melakukan dispersal pada sebagian individu organisme baik tumbuhan, hewan, dan juga pada manusia. Kata dispersal sebenarnya berasal dari istilah ekologi untuk menggambarkan penyebaran organisme dari tempat asalnya. Fenomena penyebaran berbagai jenis makhluk hidup ini bisa kita lihat, misalnya pada melentingnya sebuah biji tumbuhan pada saat kulit buah yang sudah masak tiba-tiba merekah, sehingga ia terlempar jauh dari pohon induknya.
Pada binatang misalnya, kita melihat bagaimana seekor rusa jantan muda tiba-tiba berjalan sendiri keluar dari lintasan perjalanan kelompoknya dan mencari arah baru pengembaraannya. Gejala dispersal pada manusia bisa kita lihat pula pada hijrahnya seseorang dari desa ke kota, atau dari satu kota ke kota yang lain, dan bahkan dari negara satu ke negara yang lain. Mengapa makhluk-makhluk itu melakukan dispersal? Jawabannya hanya satu, yaitu untuk mencari kehidupan yang lebih baik atau menemukan kesuksesan.
Dispersal dan sukses adalah proses alami yang diciptakan oleh Sang Pencipta bagi semua makhluknya. Dispersal sebenarnya sangat terkait dengan tantangan yang telah saya tulis di artikel saya sebelumnyan (baca: “Jangan Pernah Lari dari Tantangan!”). Untuk melakukan dispersal tidaklah mudah, karena makhluk yang melakukannya pasti akan menghadapi risiko. Sebuah biji yang melenting paling jauh dan terpisah dari tumpukan biji-biji lain sekitar pohon induknya, akan menghadapi risiko tersangkut di pohon, mendarat di pasir gersang sehingga mengering dan mati, atau juga mungkin akan ditemukan oleh hewan pemakan biji, sehingga ia gagal melanjutkan proses kehidupan untuk menjadi sebatang pohon baru.
Seekor rusa jantan yang keluar dari lintasan kelompoknya akan menempuh perjalanan panjang yang mirip judi. Ia bisa mati kehausan jika tidak menemukan sumber air di lintasan barunya, atau ia juga bisa diterkam predator, atau ditembak oleh pemburu yang menemukannya pada saat ia sendirian.
Sementara, orang yang melakukan hijrah dari satu tempat ke tempat yang lain bisa stres karena tidak punya teman, tidak paham bahasa orang di sekitarnya, atau mungkin terlunta-lunta akibat tidak berhasil menemukan pekerjaan di tempat barunya.
Meskipun penuh risiko dan bahkan bisa berujung kepada kematian, tetapi tetap saja ada individu makhluk hidup yang mencoba melakukan dispersal. Mereka yang nekat melakukan dispersal ini tentulah makhluk-makhluk luar biasa yang berani menghadapi tantangan, karena mereka sadar bahwa di balik tantangan dan risiko tentu ada imbalan kesuksesan yang sengaja disembunyikan oleh Sang Pencipta.
Bayangkan, jika biji yang melenting jauh tersebut jatuh di tanah yang subur dan tidak ditemukan oleh hewan pemakan biji-bijian. Ia akan sangat cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya, kemudian mulai membelah diri dan tumbuh subur menjadi pohon yang tinggi menjulang, tanpa harus berebut unsur hara atau sinar matahari dengan saudara-saudaranya yang memilih tumbuh berdesak-desakan di sekitar pohon induk mereka.
Setelah berpetualang tersesat ke sana kemari dengan melawan haus dan dahaga, sang rusa jantan “nyeleneh”, yang keluar dari kerumunannya dan mencari jalan sendiri, mungkin akhirnya akan bertemu dengan padang rumput yang luas menghampar di pinggiran sungai. Dengan sumber makanan yang melimpah ia akhirnya menjadi pejantan muda yang besar dan kuat sehingga menjadi raja di teritori baru yang dikuasainya, sesuatu yang tidak akan ia dapatkan seandainya ia terus bersama kelompoknya. Sebab, ia akan selalu dihardik dan dihajar oleh pejantan senior yang memimpin kelompok mereka karena persaingan makanan dan pasangan.
Setelah setengah putus asa karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaaan di Kota Jakarta yang katanya sekejam ibu tiri, seorang Andrie Wongso, sang petualang dari Malang yang tidak tamat Sekolah Dasar itu, akhirnya berhasil menjadi seorang aktor film laga di Hongkong karena usaha kerasnya sendiri. Berbekal success story yang dialaminya, sekarang Andrie benar-benar sukses menjadi motivator nomor satu di Indonesia. Ia mengajarkan kiat-kiat mencapai kesuksesan, tidak saja bagi orang kebanyakan, tetapi juga untuk orang-orang intelektual di perguruan tinggi.
Bagi kita manusia, strategi menggapai kesuksesan dengan melakukan dispersal ini telah dipraktikkan sejak dulu kala. Di luar negeri kita bisa melihat bagaimana para petualang Eropa dulu, yang berlomba-lomba bermigrasi ke Benua Amerika, dan akhirnya sukses membangun negara Amerika Serikat yang merupakan kekuatan ekonomi nomor satu dunia saat ini. Atau, lihat orang-orang Cina yang sejak dulu—meskipun tidak bisa berbahasa Inggris—mereka terus-menerus menyebar di hampir seluruh negara dan berhasil menguasai jaringan perdagangan dunia.
Di negeri sendiri, kita bisa belajar dari pemuda-pemuda Minang yang selalu gerah tinggal di desa mereka, dan akhirnya merantau sehingga, tidak saja para pedagang garmen dan restoran padang yang menyebar di mana-mana di seluruh pelosok Indonesia, tetapi juga para ilmuan tersohor dan tokoh politik nasional pun banyak yang berasal dari suku perantau ini.
Dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa, hampir tidak ada satu pun pulau di Indonesia ini yang tidak didiami oleh suku Jawa. Dan, mereka rata-rata menjadi contoh bagaimana membangun keberhasilan di tempat yang baru mereka tinggali.
Ada yang unik dari orang-orang luar biasa yang sukses karena melakukan dispersal. Ternyata, kesuksesan mereka bukan karena faktor tempat tujuan dan bukan pula karena faktor keberuntungan. Ada orang sukses karena ia pindah dari desa ke kota, tetapi ada juga orang yang justru sukses setelah putus asa mencari pekerjaan di kota dan akhirnya ikut transmigrasi di desa.
Banyak orang Jawa yang sukses setelah pindah ke Sumatera, tetapi tidak sedikit pula orang Sumatera yang justru sukses karena ia merantau ke Jawa. Apakah orang-orang yang sukses karena melakukan dispersal hanya didominasi oleh kalangan pria saja? Tidak juga. Ir. Ciputra adalah contoh pemuda Sulawesi yang berhasil membangun raksasa bisnisnya setelah menaklukkan kerasnya kehidupan Jakarta, tetapi Jenie S. Biev justru sukses menjadi penulis wanita Indonesia terkemuka setelah berhasil mengalahkan para pesaingnya di Amerika.
Lalu, apa sebenarnya rahasia kesuksesan yang dicapai oleh makhluk-makhluk luar biasa yang melakukan dispersal di atas? Yang pertama adalah tekad mereka yang memang benar-benar luar biasa. Hanya makhluk yang punya nyali besar yang berani menghadapi risiko dispersal. Selain memiliki nyali besar, mereka juga memiliki visi yang besar yaitu “sukses”. Karena, tujuan dispersal mereka hanya untuk sebuah kesuksesan, maka mereka biasanya menyusun strategi atau rencana untuk mencapai kesuksesan tersebut.
Agar bisa melenting jauh, sebuah biji yang akan melakukan dispersal biasanya kecil dan ringan serta membentuk dirinya seperti bersayap, agar bisa terbang jauh dan menentukan arah sendiri ketika ditiup angin. Rusa jantan muda yang akan melakukan dispersal biasanya sudah terlihat dari kebiasaannya yang agresif dan suka berlari-lari ketika berjalan bersama rombongan, sebagai persiapan agar dapat berlari kencang saat menghindari predator yang mungkin menyerangnya selama pengembaraan.
Orang yang akan berpindah ke tempat baru biasanya sudah menyiapkan bekal dengan meminta nasihat orang tua, melatih kesabaran, memperdalam keterampilan, menyiapkan dokumen, atau belajar bahasa agar cepat dapat beradaptasi, bergaul, dan berkompetesi di tempat baru yang akan ditujunya.
Orang-orang yang berpindah ke tempat baru biasanya sangat percaya bahwa jika tekad sudah dihujamkan dalam hati, dan dengan berbekal strategi yang sudah dipersiapkan sebelumnya, maka perwujudan visi besar untuk menggapai kesuksesan itu hanya tinggal menunggu waktu saja. Karena keyakinan yang sangat besar untuk meraih kesuksesan tersebut, mereka tidak segan-segan bekerja keras. Mereka percaya bahwa tidak ada cara instan untuk mencapai suatu kesuksesan. Sukses harus melalui sebuah proses dan karenanya memerlukan waktu lama untuk mencapainya.
Dan di atas segalanya, orang-orang sukses adalah mereka yang sadar bahwa sukses ternyata tidak identik dengan harta, popularitas, kedudukan, dan pangkat. Orang yang sukses adalah orang yang mengetahui tujuan hidupnya, bermanfaat bagi orang lain, dan terus bertumbuh untuk menuju potensi maksimum yang ada pada dirinya. O.A. Batista mengatakan, “Anda telah mencapai puncak sukses segera setelah Anda tidak lagi tertarik kepada uang, pujian, dan publisitas.”
Untuk melihat salah satu potret orang sukses, tidak ada salahnya kalau kita belajar dari Ir. Ciputra, sang raja bisnis properti Indonesia. Bos PT Pembangunan Jaya, Metropolitan Development, dan Ciputra Group yang bisnisnya menggurita di kota-kota besar Indonesia, dan bahkan di luar negeri, ini benar-benar mewakili orang sukses karena tradisi dispersal yang ada di keluarganya.
Pada masa kanak-kanak Pak Ci, panggilan akrabnya, ternyata cukup sengsara. Pria keturunan dengan nama cina Tjie Tjin Hoan ini lahir di Parigi, Sulawesi Selatan. Sejak usia 12 tahun, ia telah menjadi yatim karena ayahnya dituduh anti-Jepang, ditangkap, dan akhirnya meninggal dalam penjara. Sejak itu, ia harus membantu sang ibu dengan bangun pagi-pagi mengurus sapi piaraan, sebelum berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki sejauh 7 km. Mereka hidup dari penjualan kue ibunya. Setelah lulus SMA, berkat kerja keras sang ibu, ia kemudian berhasil masuk ke ITB dan memilih Jurusan Arsitektur.
Setelah Ciputra meraih gelar insinyur pada tahun 1960, ia kemudian pindah ke Jakarta. Di Ibu Kota inilah awal kesuksesan Ciputra. PT Pembangunan Jaya yang pada awal didirikannya pada tahun 80-an cuma dikelola oleh lima orang, dan berkantor di sebuah kamar kerja Pemda DKI Jakarta Raya, kini 20-an tahun kemudian telah menjadi perusahaan raksasa di bawah konsorsium Pembangunan Jaya Group, yang memiliki sedikitnya 20 anak perusahaan dengan 14.000 karyawan.
Namun, Ir. Ciputra, sang pendiri, belum merasa puas. Ia terus bekerja dan berkreativitas untuk mewujudkan mimpi besarnya. Pada suatu kesempatan beliau pernah berkata, “Kalau sudah merasa berhasil, biasanya kreativitas akan mandek.” Sadar akan makna hidup yang sesungguhnya, di usianya yang ke-75, ia malah berkiprah ke bidang pengabdian masyarakat dengan memilih bidang pendidikan. Lalu, didirikannyalah sekolah dan Universitas Ciputra. Bukan sekolah biasa, tetapi sekolah ini menitikberatkan pada enterpreneurship. Dengan sekolah kewirausahaan ini Pak Ci ingin menyiapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa pengusaha. Demikianlah, kesuksesan Pak Ci tidak didapatkannya di tanah kelahirannya di Sulawesi, tetapi justru di Kota Metropolitan Jakarta yang penuh dengan tantangan dan risiko.
Kepada kita yang mungkin mulai putus asa dengan permasalahan kehidupan yang tidak ada titik terang dan jalan keluarnya, mengapa kita tidak mencoba strategi dispersal? Yaitu dengan mencari peruntungan baru di tempat lain, seperti telah dicontohkan oleh Pak Ciputra?[sg]
* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui email: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri [at]yahoo[dot]com.
July 18th, 2009 at 7:41 am
Dispersal itu bagus, dan akan lebih bagus lagi kalau orang tidak melupakan desanya, dan ikut membangun tempat asalnya itu.