Disiplin Itu Nomor Satu

fiOleh: Fita Irnani*

Jika Anda berdomisili di kota Bogor, tentunya cukup akrab dengan kondisi lalu lintas di kota ini. Bagi Anda yang pada akhir minggu meluangkan waktu menghabiskan liburan untuk berwisata belanja atau kuliner di kota ini, sudah pasti hafal dengan antrian angkutan umum, yang akrab dinamai angkot, di jalanan kota hujan ini. Pun bagi saya, yang sudah belasan tahun berdiam di kota ini, masih saja direpotkan dengan kemacetan yang terjadi. Kadang sempat bertanya dalam hati, apakah penduduk kota ini yang demikian banyak yang memerlukan angkot, atau justru jumlah armada angkot yang luar biasa banyaknya?

Hampir setiap saat, ketika saya dan suami, melintas di jalanan kota ini, entah berangkat menuju kantor, pulang menuju rumah, atau sekadar menuju pusat-pusat belanja di Bogor, seolah dipaksa meluaskan hati, menyabarkan diri, dan mengalah menghindari serobotan angkot memotong jalan. Kadang, pada posisi dua jalur pun mendadak dengan cerdik angkot berhasil mengubah satu sisi jalur menjadi dua lajur. Kami yang semula berjalan pada jalur yang benar, terkondisi sedikit demi sedikit justru berjalan di atas marka tengah jalan, mengambil sedikit space jalur arah berlawanan. Tentu saja karena deretan kendaraan dalam jalur kami, terpaksa dibagi dengan angkot yang membuka jalur baru di sisi kiri, mengambil hampir seluruh bahu jalan.

Lain hari, dalam antrian cukup cantik, mendadak bisa terjadi putar balik angkot tidak pada lokasi U-turn. Tentu saja, satu gerakan contoh yang dirasa menguntungkan dan mempersingkat waktu tempuh akan diikuti oleh kelompok sejenis lainnya. Kami yang tidak terbiasa, atau tepatnya tidak berani melakukan manuver pelanggaran lalu lintas hanya mengurut dada, menerima ‘macet’ yang semakin lama. Belum lagi jika terjadi gerakan menyalip dengan jeda body angkot beberapa sentimeter dari kendaraan kami. Biasanya, secara refleks justru kami yang mengurangi kecepatan, lebih suka mempersilahkan angkot berjalan lebih dahulu. Ditambah lagi jika mengantri atau berhenti menunggu penumpang pada tempat-tempat tidak semestinya, dua lajur pula dibentuk, yang berarti mengambil space jalur cepat kendaraan lainnya, semakin menambah kesemrawutan saja, seolah benang kusut, yang membuat menyerah siapa pun yang berusaha mengurainya.

Satu hal sederhana yang dapat membuat segala sesuatunya berjalan dengan tertib, lancar, dan mempercepat kita dengan apa yang menjadi tujuan, apakah itu? Tentu saja disiplin. Satu kata yang dapat mengubah dunia. Tidak saja di jalan raya, namun juga di mana saja, jika diawali dengan disiplin, tidak hanya kita si pelaku, namun juga semua orang di sekitar kita akan memperoleh dampaknya. Bagi sebagian orang, disiplin akan terasa sulit dilakukan. Disiplin kadang diartikan sebagai suatu keterpaksaan. Sesutu yang dianggap justru memperlambat proses pencapaian sukses.

Jika dikaitkan dengan kemacetan pada cerita sebelumnya, barangkali akan muncul banyak pembenaran dari sana, misalnya, jika tidak menyerobot jalan, akan didahului angkot lainnya; jika tidak ‘ngetem’ atau mengantri di tempat-tempat tertentu, mana mungkin cepat dapat penumpang; atau jika tidak segera putar balik mana mungkin cepat sampai tujuan; atau jika tidak buka jalur baru pada bahu jalan, mana mungkin cepat sampai terminal dan kembali ke pusat kota mengambil penumpang lagi.

Satu hal yang dilupakan, tidak ada jalan cepat menuju tujuan, semua ada tahapannya, butuh pertimbangan menentukan cara terbaik yang digunakan, menguntungkankah? Merugikankah? Atau, menguntungkan kita namun justru merugikan orang lain? Mana yang akan ditempuh? Untuk mengejar impian tidak cukup dengan niat yang bulat, tidak cukup dengan berpikir dan bertindak positif. Satu hal yang penting dan harus ditambahkan adalah disiplin. Menjalankan rencana dengan tindakan positif disertai dengan disiplin tinggi dan tidak pernah berhenti.

Mulai dari hal yang paling kecil setiap hari, disiplin selalu tepat waktu memulai aktivitas kerja di kantor, akan membuka kesempatan untuk berdisiplin jam berapa bangun pagi untuk menghindari terlambat tiba di kantor. Menyelesaikan pekerjaan dengan deadline waktu yang sudah jelas setiap bulan, lakukan dengan disiplin, selesaikan pada waktunya, jangan membuka peluang untuk memundurkan barang setengah bahkan satu hari. Kebiasaan memberi toleransi pada diri sendiri untuk sedikit saja mis-deadline akan memorak-porandakan bangunan jembatan menuju impian.

Jika impian Anda memperoleh tabungan sejumlah tertentu pada akhir tahun, lakukan dengan disiplin, sisihkan beberapa persen penghasilan Anda, sejumlah berapa besar Anda berkomitmen untuk menyimpan penghasilan bulanan. Letakkan komitmen ini sebagai prioritas utama. Pada awalnya akan terasa berat, karena memerlukan penyesuaian pengurangan pengeluaran bulanan Anda. Cara jitu untuk mengesampingkan gangguan yang timbul adalah fokuskan pada hasil akhir, abaikan godaan hari ini. Mulai komitmen Anda dengan target penyisihan penghasilan sejumlah tertentu, dan jika Anda berhasil menjalani dengan disiplin tinggi, naikkan target penyisihan penghasilan di tahun berikutnya. Cobalah untuk mengalkulasi hasil akhir jika seluruh rencana Anda jalani dengan disiplin.

Bagi saya yang sehari-hari melintasi jalan tol menuju kantor, sering mendapati kendaraan besar berjalan pada jalur tengah atau jalur cepat, suatu contoh pengabaian kedisiplinan karena sudah sangat jelas bahwa kendaraan besar harus berada pada jalur kiri. Akibatnya tentu saja, antrian kendaraan mengekor si keong dengan kecepatan di bawah standar pada jalur cepat. Contoh lain, banyak kita jumpai kendaraan-kendaraan yang naas karena nekat memotong jalan dengan laju tinggi menyusuri bahu jalan atau pindah jalur tanpa memberikan sinyal lampu sein yang akibatnya mengagetkan kendaraan di belakangnya. Bersyukur jika kendaraan di belakang sigap dan tidak menghentikan laju mendadak. Bagaimana jika melakukan hal sebaliknya? Apakah itu tujuan kita?

Sebulat apa pun niat kita untuk menggapai impian, atau setinggi apa pun tekad kita menuju sukses, tanpa dilengkapi dengan kedisiplinan yang tinggi dan terus-menerus, mustahil akan kita dapatkan. Mulai berdisiplin dari diri sendiri. Lakukan sedikit demi sedikit pada satu bidang, karena keberhasilan menerapkan displin pada satu bidang akan menular pada bidang lainnya. Jika disiplin sudah terbina dalam setiap bidang kehidupan dan menjadi kebiasaan, bukan hal sulit untuk meraih sukses kita.[fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai Learning & Development Specialist pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

2 Responses to “Disiplin Itu Nomor Satu”

  1. Agung Praptapa Says:

    Wah…kalau begitu saat menghadapi kemacetan di Bogor yang nomor satu bukan disiplin tapi “sabar” he..he… Salam.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. wisata medan Says:

    numpang lewat yaa… mau jalan-jalan ke medan? atau mau wisata kuliner di medan? jangan lupa mampir di blog http://www.indrahalim.com ya. Blog kuliner top kota medan. Situs yang lengkap reviewnya tuk resto or kedai yg menyediakan makanan enak di medan.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox