Dari Shopaholic menjadi Writerholic (II)
Editor | Kolom Tetap | June 1st, 2009
Oleh: Maria Saumi*
Dimuatnya artikel pertama saya di website AndaLuarBiasa.com ini menyebabkan terlahirnya kembali artikel kedua, ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya, dan seterusnya. Pemuatan hasil karya tulis saya tersebut menggerakkan saya untuk tulis, tulis, dan tulis lagi. Saya menulis hal apa pun yang tiba-tiba saja terbersit di pikiran saya. Apa pun kondisinya, di mana pun, dan kapan pun sehingga dalam satu bulan, tak terasa empat artikel saya telah dimuat di dua website motivasi yang berbeda.
Suatu prestasi bagi diri saya, kalau saja saya boleh berbangga. Terlebih saya adalah orang yang tidak pernah menulis, buta sama sekali dalam hal tulis-menulis sebelumnya. Pelatihan menulis dan bantuan para mentor/guru sedikit banyak telah membantu saya hingga seperti saat ini. Keranjingan menulis.
Mungkin dengan alasan keaktifan dan semangat saya yang berapi-api tersebut, menyebabkan saya akhirnya dipercaya mengisi Kolom Tetap di website AndaLuarBiasa.com, yang pengelolanya sekaligus adalah mentor/guru saya. Mungkin, ditambah lagi dengan background saya yang unik, yang sebelumnya hanyalah “si pembelanja”. Sekarang, si pembelanja ini diberi kesempatan untuk bertransformasi menjadi “si penulis”. Prestasi yang mungkin bagi sebagian orang biasa saja, tetapi tidak bagi saya. Ini benar-benar prestasi yang membuat saya bangga. Perasaan saya pribadi seperti “menemukan dan ditemukan”.
Ketika pertama kali saya ditawari menjadi kolomnis, perasaan saya campur aduk. Antara senang, bangga, takut tidak bisa berkomitmen, takut nanti harus menulis—padahal sedang mengalami kebuntuan ide—alias “mati gaya” istilah anak muda saat ini. Tetapi, teman-teman dan kerabat menguatkan dan mendukung saya. Hingga saya “telanlah” ketakutan-ketakutan saya itu, suatu perasaan takut yang saya ciptakan sendiri.
Seperti yang telah saya singgung di atas, inspirasi bisa datang kapan saja, di mana saja, dan berbentuk apa saja. Memasuki dunia tulis-menulis ini, kadang kala memang membuat saya merasa “gila”. Seperti pagi tadi contohnya. Inspirasi itu datang ketika saya sedang di kamar mandi, membasuh diri, sedang membasuh muka dengan sabun. Bayangkan saja repotnya. Ketika selesai, tentunya saya bergegas pergi ke kamar, menangkap ide tersebut ke dalam buku catatan kecil saya, mencegahnya supaya tidak hilang hingga menguap ke udara—sia-sia.
Kemarin lalu, inspirasi datang tiba-tiba ketika sedang berada di taksi. Sore lalu, inspirasi datang ketika sedang makan di suatu tempat. Pernah juga ketika sedang menonton suatu acara di televisi. Aktivitas berbelanja juga pernah menjadi inspirasi tulisan saya. Sedang curhat-curhatan dengan sahabat di Facebook juga pernah. Bahkan, ketika berdiskusi dengan teman-teman dan para guru saya di kolom diskusi, dan masih banyak lagi.
Ada beberapa hal yang menurut saya jadi lucu. Terus-terang saya menulis dengan tujuan membagi apa yang saya rasa, saya lihat, dan pengalaman saya akan pemaknaan terhadap sesuatu di suatu waktu. Hingga pada suatu hari, saya merasa lucu akan respon teman-teman kepada saya, terutama setelah beberapa artikel saya dimuat di website AndaLuarBiasa.com ini.
Ada yang sedang curhat lalu tersadar. “Mar, obrolan kita di chat ini jangan lu bikin artikel, ya!?” Bahkan, ada teman lainnya yang “narsis” malah ingin diceritakan keeksisannya (perilaku berbuat baik dalam suatu waktu) sebagai teman saya di dalam suatu artikel. “Masukin gua dalam atikel lu dong, Mar!” Setengah bercanda dan setengah serius sepertinya hahaha…. Saya tersenyum geli, ada-ada saja. Tentu saja saya tidak dapat menulis “pesanan” tersebut. Lagipula, saya bukan koki.
Saya hanya ingin mengatakan bahwa dalam menulis saya ingin lepas. Lepas tanpa keterikatan beban maksudnya. Saya tidak dibebani oleh harapan bahwa tulisan saya harus sangat bagus, sangat menyentuh, sangat diterima, dan disukai oleh semua kalangan. Karena, saya tentulah tidak sempurna. Kesempurnaan hanya milik-NYA, saya paham sekali akan hal itu. Saya hanya mencoba berbagi semuanya, yang saya lihat, saya rasa dan saya jalani. Saya hanya berharap bahwa dengan menuangkannya ke dalam suatu tulisan, maka akan ada makna dan hikmah yang dapat diambil dan dipelajari oleh pembaca. Tidak terkecuali saya, si penulis.[msa]
* Maria Saumi lahir di Jakarta, 27 Agustus 1976 dengan nama lengkap Mariatun Meima Saumi. Lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000 ini bekerja sebagai praktisi di bidang investasi, spesialisasi future trading investment di sebuah perusahaan investasi berjangka di kawasan Sudirman, Jakarta. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi [at]yahoo[dot]com.
June 4th, 2009 at 8:22 pm
Jeng Maria memang sip!
Asyik yah kalau sudah senang menulis, apa ajah bisa ditulis.. biarpun untuk disimpan sendiri, puas banget kalau sudah keluarin apa yg ada di otak. Yg paling indah adalah pada saat kita berikan hadiah pada seorang teman berupa artikel tentang dirinya.. wah..katanya gak akan hilang dari otak, lebih indah dari kado manapun. Sukses ya jeng, Mar.
June 10th, 2009 at 11:02 am
thx juga . sukses buat mbak fita juga ya..hehe
June 12th, 2009 at 8:53 pm
Maria, saya punya dosen yg ketika sakit bilang begini,”sya hidup dlm vita animalia artinya sya hidup spt binatang selama sait krn tidak membaca. Maria adl pmbaca yg baik. Lwt artikel2 yg Maria tulis sya amat termotivasi. Ingat bahwa “tempus fugit” yg artinya waktu terbang, berlari. Kita gunakan waktu utk membaca dan menulis
June 17th, 2009 at 6:33 pm
Thx pak markus..sy senang sekali apabila dari tulisan sy ada yg dpt “diambil”…sukses terus ya pak