Dari Shopaholic menjadi Writerholic (I)
Editor | Kolom Tetap | May 18th, 2009
Oleh: Maria Saumi*
Zaman sekarang, fashion digandrungi tidak saja oleh kaum wanita saja, kaum pria pun tidak mau kalah. Tetapi, bisa dibilang kaum hawa “memonopolinya”. Kaum wanita tersebut, tidak terkecuali saya. Shopping atau berbelanja adalah suatu aktivitas kesukaan saya.
Apabila yang dikatakan “bermerek” itu adalah Prada, Burberry, Hermes, Versace, Manolo Blahnik, nama-nama merek yang sangat ternama baik mutu dan brand-nya, seperti tertera dalam banyak majalah dan film, tentu saja saya tidak punya (belum? Hehehe). Kemampuan daya beli saya baru pada beberapa level jauh di bawah itu. Mungkin, kalau boleh disebutkan seperti merek Guess, Esprit, Nike, Adidas, Mango, dan sebagainya. Itu adalah nama-nama merek original yang “ramah” bagi kantong saya untuk menjangkaunya.
Dalam hal kisaran level harga, tentulah saya bukan si shopaholic di dalam karya Isla Fisher dalam film Confession of a Shopaholic itu. Saya tentu sangat jauh beberapa level di bawahnya, dalam kisaran skala belanjanya. Mungkin, hanya tingkat antusiasme saya yang menyamainya
Harga asli merek sangat ternama yang saya sebutkan tadi, di pasaran ada pada kisaran puluhan juta, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Selebritas Hollywood sudah pasti tergolong sebagai buyers-nya. Saya pernah punya pengalaman lucu sewaktu window shopping di suatu mal megah di Jakarta Selatan. Saya melihat harga sebuah tas ternyata hingga Rp 25 juta-an. Waktu itu, saya salah lihat. Awalnya saya mengira harganya sepersepuluhnya. Wah, saya langsung sadar diri dan menggeser diri saya jauh-jauh darinya. Tentu saja saya tidak mampu dan juga tidak mau membelinya bila harganya di area itu. Hahaha….
Untuk merek ternama tersebut, saya hanya mampu beli di tingkat “kw-kw”-nya hehehe…. Kw-kw adalah istilah yang dipakai pedagang untuk barang nonorisinalnya. Itu pun juga sudah relatif agak sedikit mahal bagi saya. Mau bagaimana lagi? Sebenarnya, dalam hal ini saya pun tidak memiliki pengetahuan merek lokal yang mempunyai model sebagus buatan luar tersebut. (Saya tahu, dalam hal ini ada pelanggaran hak merek di sini, hehehe). Memang, biarpun tingkatan kw-kw, tetapi model dan kualitasnya bisa dibilang bagus. Jadi, saya pun tergiur membeli dan memilikinya. Dan sepengetahuan saya, setidaknya perempuan-perempuan di sekeliling saya juga melakukan hal yang sama. Jadinya, saya tidak ambil pusing. Yang terpenting bagi wanita, juga bagi saya adalah berbelanja, titik. Begitulah barangkali memang kondisinya si Pembelanja.
Biasanya barang-barang bermerek nonorisinal kualitas kw-kw tersebut diimpor dari negara Korea, Cina, ataupun Taiwan. Barang-barang tiruan tersebut sudah terkenal, beredar dengan bebasnya khususnya di daerah Mangga Dua dan beberapa trade center lainnya. Walaupun barang tiruan, harga jual barangnya berada dalam kisaran ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Mereka sebut dengan kw-1-nya. Harga tersebut relatif menguras kantong juga. Yang saya mau katakan di sini adalah kenyataan bahwa biarpun merek tiruan, ternyata juga banyak sekali peminatnya. Lihat saja sekeliling Anda. Saya, ternyata tidak sendirian.
Seiring dengan peningkatan penghasilan yang didapat, ternyata diiringi juga oleh tingkat konsumerisme dalam diri saya. Tidak hanya barang-barang konsumtif yang telah saya sebutkan di atas. Kadang kala barang-barang “printilan” (aksesories tambahan; jepitan, karet pengikat rambut, stocking, dan lain sebagainya) khas perempuan, saya juga latah ikut membelinya. Tahu-tahu, setelah tiba di rumah, baru menyadari mengapa membelinya.
Ketika saya ungkapkan ini, walaupun tidak semuanya, tetapi saya dapat melihat para pembaca khususnya wanita, mengangguk-anggukan kepalanya. Tanda setuju dan dipahami. Kadang kala, saya tidak merasa cukup apabila sudah memiliki sepatu berwarna merah yang baru saya beli, lalu tidak mengikutsertakan tas yang berwarna senada. Setidaknya, tas yang mempunyai semburat warna yang serasi, bagi saya. Begitupula dengan padu-padan lainnya.
Saya mempunyai beberapa sahabat dan teman wanita yang juga melakukan hal yang tidak jauh berbeda. Berbelanja menjadi salah satu upaya refreshing diri. Dengan demikian, saya merasa biasa saja. Tidak merasa aneh. Komunitas saya tidak menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang perlu “dipikirkan”. Taken for granted saja. Lagi pula, saya belum memiliki tanggungan biaya yang cukup berarti. Jadi, saya santai saja.
Tetapi, lama-kelamaan hal tersebut menjadi bola salju yang menggelinding, kian lama kian membesar. Karena, memiliki barang-barang konsumtif ini, kita memang akan masuk dalam pusaran “semakin banyak membeli, semakin kita merasa tidak memiliki”. Itu memang “kalimat” yang saya temukan sendiri dalam perenungan saya baru-baru ini.
Selalu ada rasa haus dan lapar yang tak akan dapat terpenuhi. Kadang kala ketika berangkat kerja kantor, saya malah dihinggapi kebingungan karena merasa tidak punya baju. Malahan, sering juga baju yang sudah terbeli hanya terpakai satu-dua kali dari saat pembeliannya. Kebanyakan tergantung tak berdaya di lemari. Menurut saya, kadang shopping membuat para wanita jadi “gila”. Tetapi sebaliknya, mereka juga akan jadi “gila” bila tidak melakukan aktivitas shopping tersebut. Benar-benar lucu dan membingungkan, bukan? Tidak percaya? Sekali lagi coba tanyakan dan perhatikan saja para kaum hawa di sekitar Anda.
Saya juga berdalih ketika ibu saya menegur dengan habit saya ini dengan berkata: “Ah, nanti kan kalau ada saudara-saudara berkunjung ke rumah, kita bisa memberikan kepada mereka?” Barang-barang yang tentunya sudah tidak saya minati lagi. Lagi pula, saya tahu dengan persis, waktu ibu saya muda dulu, melakukan hal yang tidak berbeda dengan saya hehehe…. Begitulah, saya dulu (sekarang agak mereda skalanya) konsumtif membabi buta. Tetapi saat ini, sepertinya saya sudah “tergiring” untuk mengalokasikan budget untuk habit baru saya, yaitu membeli buku.
Buku menjadi suatu distraction bagi saya, dari kebiasaan beli tas baju-sepatu dan sebagainya. Benda yang tentunya tidak hanya akan memperkaya wawasan saya, tetapi juga akan melincahkan pola berpikir saya. Buku juga berguna dalam dunia hobi saya yang baru, yaitu tulis-menulis.
Bukan berarti saya baru menemukan keasikan baru dari buku. Tetapi, lebih tepatnya mungkin menemukan buku kembali. Saya kenal buku, pastinya sudah lama, waktu masa pendidikan. Saya tentulah harus mengakrabinya. Suatu keharusan. Analisis saya adalah: Mungkin, sekali lagi mungkin, karena memasuki dunia kerja sudah dibebaskan—oleh guru atau dosen, dari keharusan membaca buku ini dan buku itu. Jadi, seakan-akan kita bebas mau membeli buku atau tidak. Kita mau membacanya atau tidak. Serasa dibebaskan dari keinginan dan keharusan berdekatan dengan buku atau tidak. Atau, mungkin juga karena banyak hal yang menyita fokus saya selama ini. Seperti disibukkan oleh pekerjaan, keluarga, pasangan, dan lain sebagainya sehingga buku ditinggalkan.
Sedari kecil, sebenarnya hobby saya adalah membaca. Saya juga ingat waktu kecil, daripada membeli hal-hal lain, biasanya saya malah menggunakan uang saku saya untuk membeli buku-buku pelajaran, buku cerita, majalah pengetahuan, dan buku-buku lainnya. Tetapi, entah mengapa semakin ke arah sini, saya seakan terlupa dengan hal itu. Saya juga tidak tahu mengapa kok saya bisa melupakan buku.
Dan, memang bukan hal yang mengada-ada, kadang saya membeli buku beberapa tahun lalu, tetapi hingga sekarang masih belum juga khatam dibaca. Parahnya lagi, masih ada yang terbungkus rapi. Artinya, halaman pertamanya pun saya belum pernah melihat dan menyentuhnya.
Saya mencoba lagi menganalisis, sewaktu beli buku masih dengan susah payah, kita malahan langsung tidak sabar membacanya. Dibandingkan dengan masa-masa sekarang, yang mungkin beli buku bukan dengan susah payah lagi, malah cenderung menyepelekan. Tunggu ada waktu luang dan kondisi yang memungkinkan, baru membaca. Malahan biarpun ada kadangkala lupa, atau justru mengerjakan hal lainnya.
Tetapi, semua itu ternyata telah lalu (saya berharap begitu hehehe…). Saat ini, saya menemukan dan menggeluti lagi buku sebagai suatu bahan bacaan. Hal tersebut, sedikit-sedikit menggeser dan menurunkan keinginan berbelanja saya. Buku dan menulis sangat berkaitan erat, lengket! Hingga rasanya tak ingin dipisahkan dan dilupakan seperti beberapa waktu lalu. Saya pun merasa dunia buku saya yang hilang telah saya temukan kembali, seiring dengan saya temukannya dunia baru saya, tulis-menulis.
Keduanya memilin, menyatu erat, dan saling bekerja secara sinergis untuk keberadaan saya yang sekarang, yaitu sebagai seorang penulis. Walaupun jujur saja, saya belum merasa percaya diri mengatakan—bahkan kepada diri saya sendiri—bahwa sekarang saya sudah bertransformasi dari si pembelanja menjadi si penulis. Perlu waktu untuk itu pastinya. Mohon didukung dan didoakan.[msa]
* Maria Saumi lahir di Jakarta, 27 Agustus 1976 dengan nama lengkap Mariatun Meima Saumi. Lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000 ini bekerja sebagai praktisi di bidang investasi, spesialisasi future trading investment di sebuah perusahaan investasi berjangka di kawasan Sudirman, Jakarta. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi [at]yahoo[dot]com.
May 19th, 2009 at 10:37 am
Selamat datang di dunia penuh keajaiban,
dunia Transformer!
May 20th, 2009 at 10:33 am
Saya agak sangsi nih ama maria, apa bener bisa ninggalin shopaholicnya…he..he…. Saya duga dua-duanya (malah tiga2nya bahkan empat2nya) jalan. Shoping jalan terus, beli buku jalan terus, baca buku jalan terus, nulis buku jalan terus. Jadi, shopawriterholic….he..he.. gimana?
May 24th, 2009 at 8:49 am
mba maria, salut nih sama mba. tapi memang shopaholic ama writerholic sah-sah kan aja kalo dijalanin dua-duanya..
May 27th, 2009 at 2:56 pm
Saya pria, tetapi kok pengalaman dengan buku mirip betul?
May 28th, 2009 at 5:35 pm
@all:thx atas dukungan semuanya….sip…sip…sip…sukses utk semua ya…
May 29th, 2009 at 12:20 am
@pak agung praptapa: anda itu kok lama2 bisa baca saya ya?..hehe
May 30th, 2009 at 9:46 am
amin amin di doain deh jeng Mar…., kalo dari dulu sudah jadi writerholic, hmmm tentunya sudah punya perpustakaan yah.