Home » Kolom Tetap » Consumer Safety

Consumer Safety

sj1Oleh: Sri Julianti*

Beberapa waktu yang lalu, saya membuka website Food Review, dan mencoba menjawab pertanyaan di website tersebut. Pertanyaannya adalah, “Kasus keracunan makanan disebabkan oleh?” Jawaban yang tersedia adalah makanan olahan, makanan restoran, makanan catering, dan makanan kaki lima. Saya langsung memilih makanan catering. Dan begitu saya kirimkan ternyata keracunan makanan catering memberikan angka sekitar 42%, peringkat utama dari keracunan makanan. Peringkat berikutnya adalah makanan kaki lima, sedangkan makanan restoran, dan olahan menduduki peringkat terakhir serta dalam presentase yang hampir sama. Data ini dapat diartikan bermacam-macam tergantung dari sudut mana kita meninjaunya. Saya tidak akan membahas data ini lebih lanjut, tetapi bahsan saya akan fokus kepada consumer safety.

Masih ingat peristiwa susu yang mengandung melamin di China? Korban dan keluarganya tentunya sangat sedih dan berapa pun uang pengganti dan pengobatan yang diberikan oleh produsen susu, tidak akan dapat menggantikan masa depan anak dan keluarganya. Di sisi lain kerugian yang dialami oleh pabrik susu adalah pejabat tinggi di pabrik susu tersebut yang dihukum mati atau seumur hidup oleh pemerintah China dan ribuan buruh yang kehilangan pekerjaan karena pabrik tersebut tidak boleh beroperasi lagi. Sudah tak terhitung lagi kerugian material dan dampak psikologis dari kejadian ini. Belum lagi dampak ini juga merambah ke negara lainnya.

Produk kosmetik, mainan anak-anak juga pernah berkali-kali dilarang beredar oleh pemerintah karena kandungan logam berat, mainan anak-anak maupun produk lainnya. Teman kuliah saya menggunakan pearl cream, semacam foundation dan akhirnya seluruh wajahnya jadi “rusak” akibat logam berat. Akhirnya dia harus dirawat seorang dokter kulit untuk memulihkan kulit wajahnya dengan biaya yang tidak sedikit.

Banyak contoh lain, produk baby walker yang tidak stabil dan dapat menyebabkan anak mudah terguling bila menggunakan baby walker tersebut. Jaket anak-anak lengkap dengan topinya yang di lengkapi tali, menyebabkan anak mudah terjerat lehernya.

Ketika anak saya masih sekolah di Taman Kanak-kanak, salah seorang temannya meninggal dunia karena terjerat alat fitnes di kamar pamannya. Beritanya sangat mengejutkan dan orang tuanya sangat shock, demikian juga kami yang mengenalnya.

Pernah mendengar atau membaca anak-anak yang tercekik kantong plastik? Kantong plastik yang jatuh di wajah dan mulut anak ketika anak rebahan akan mencekik mereka, dan menyebabkan mereka tidak dapat bernapas. Kejadian ini banyak terjadi di negara lain yang pada umumnya anak-anak tidak didampingi penjaga (baby sister atau anggota keluarga yang lainnya) seperti di Indonesia. Alat magnet dapat menyebabkan anak sakit parah bila tertelan, bahkan sampai meninggal dunia.

Rumah Anda dan peralatannya juga dapat menyebabkan bahaya kepada anggota keluarga. Seperti, kabel listrik, stop kontak, pisau dll. harus di tempatkan pada tempat yang seharusnya. Baik produsen maupun konsumen dilindungi hak-hak dan kewajibannya oleh undang-undang. Pihak produsen harus bertanggung jawab terhadap keamanan produk yang dibuatnya selama konsumen mengikuti cara pakai yang disarankan. Konsumen akan terlindungi bila dia menggunakan produk tersebut sesuai dengan cara yang di sarankan produsen. Kita sebagai orang tua juga harus bertanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri dan anggota keluarga.

Standar keamanan adalah standar yang di desain untuk menjamin keamanan produk, aktivitas, jasa atau proses dll. Secara undang-undang, baik konsumen maupun produsen mempunyai hak dan kewajibannya masing-masing, dan jika kewajiban ini di langgar tentunya akan ada sanksinya. Di Indonesia, undang-undang ini pun ada dan di lapangan di kontrol oleh departemen terkait (Misal, BPOM dan DepKes) dan Yayasan Lembaga Konsumen yang berada di pihak konsumen. Di negara maju, masyarakatnya amat kritis, sehingga mereka tidak akan segan-segan mengkomplain dan mengajukan produsen ke pengadilan bila produknya tidak aman. Tetapi sebaliknya, ada juga konsumen yang “nakal” dengan tujuan “tertentu” untuk mengkomplain produsen atas hal-hal yang tidak realistik.

Di negara kita pun tidak kurang maraknya berita di koran tentang keracunan makanan yang menyebabkan jatuhnya korban bahkan sampai meninggal, meskipun fokusnya masih pada produk makanan. Kalau ada akibat pasti ada penyebabnya.

Apa saja sih penyebab bahaya? Penyebab bahaya ini dapat di golongkan dalam empat hal:

  • Bahaya keracunan
  • Bahaya microbiologi
  • Bahaya fisik
  • Bahaya merusak lingkungan

Contohnya, sesorang makan bakmi goreng, apa saja kemungkinan bahaya yang dapat saja terjadi? Keracunan (bakminya kadaluwarsa, saosnya dari bahan yang non food grade), microbiologi (tempat penggorengan, bahan tidak higienis, dan tempat menyajikan), fisik (ada campuran paper klip, staples, dan pecahan piring), bahaya merusak lingkungan (bila bakmi tersebut dibungkus oleh packaging yang tidak ramah lingkungan)

Contoh pada bahan kemasan seperti pewarna, tinta, cara penggunaan, dan proses daur ulang bila packaging-nya sudah tidak digunakan.

Misalnya kemasan kaleng untuk makanan dan minuman dari kaleng, apa saja bahaya yang mungkin terjadi? Bahaya keracunan, jika bahan pelapis pada kaleng rusak dan bahan kaleng bereaksi dengan produknya. Bahaya microbiologi, bila proses selama pengemasan tidak sempurna atau formulasi produk tidak cukup menahan tumbuhnya microbiologi. Bahaya fisik, jika kaleng tersebut ada bagian yang tajam, terutama pada bagian pembukanya atau pada bagian sambungan kaleng. Bila ada bagian yang tajam, tangan konsumen atau petugas toko atau restoran dapat terluka. Bahaya merusak lingkungan, tidak terjadi karena semua bahan kemasan kaleng dapat didaur ulang

Untuk produk farmasi, digunakan child resistance proof cap (tutup yang tidak dapat dibuka oleh anak-anak), hal ini dimaksudkan untuk keamanan anak-anak.

Barang-barang seperti sendok kecil, jepit rambut, penghapus pensil, magnet, kancing dll. yang kecil sekali ukurannya, akan membahayakan bila tertelan anak-anak. Produk dari bahan plastik seperti styrofoam yang sering digunakan untuk wadah makanan, sebaiknya tidak digunakan pada makanan panas, karena terjadi migrasi dari residu stiren yang membahayakan kesehatan. Kantong kresek berwarna hitam, yang dibuat plastik daur ulang dan tidak jelas sumber dan higienisnya, dianjurkan tidak digunakan untuk makanan.

Melalui media, baik koran maupun elektronik, BPOM maupun instansi terkait sudah cukup aktif mengeluarkan himbauan agar masyarakat maupun produsen lebih berhati-hati dalam memilih kemasan makanan. Hal ini harus diperluas untuk menjangkau lapisan masyarakat kelas menengah kebawah, seperti penjual makanan kaki lima agar mereka pun dapat memproduksi makanan yang aman bagi anak-anak kita.

Bila Anda sebagai pedagang atau produsen UKM, mungkin Anda berpikir, “Wah… Buat apa ya repot-repot memikirkan yang sulit ini, toh produk yang kami buat selama ini tidak pernah ada kejadian seperti contoh di atas?” Bila Anda produsen, Anda punya tanggungjawab moral untuk keamanan konsumen Anda, dan berguna untuk menjamin kelangsungan bisnis Anda.

Tanda-tanda bahaya lengkap dengan tulisan awas bahaya, barang beracun, hindari dari jangkauan anak-anak pada umumnya sudah dikomunikasikan oleh produsen pada kemasannya. Bila konsumen teliti, mestinya peringkatan ini langsung dimengerti oleh konsumen. Tanda peringatan ini pada umumnya digunakan pada bahan kimia, insektisida, pestisida, pembasmi nyamuk, bahan mudah terbakar, dan mudah meledak. Untuk bahan makanan, minuman, dan kosmetik tentunya tidak dengan cara yang langsung seperti itu, tetapi disampaikan pada cara pakai atau peringatan lainnya.

Misalnya, jangan menggunakannya, bila kaleng rusak atau bila merasa kulit Anda panas setelah menggunakan produk ini, hentikan pemakaian. Sebagai konsumen Anda bertanggungjawab juga terhadap keamanan diri sendiri dan orang sekitar Anda.

Bila Anda sebagai konsumen, Anda harus membaca, mengerti isi produk, dan peringatan yang dicetak di kemasannya. Bila toh masih terjadi sesuatu, segera hubungi alamat, nomor telpon, atau nomor hotline yang tertera pada kemasannya, kemudian sampaikan keluhan Anda. Produsen akan segera memberikan respon. Tetapi mungkin saja karena birokrasi internal atau tidak kompetennya bagian hotline service, sehingga responnya dirasa lambat.

Beberapa undang-undang penting yang mengatur hak-hak dan kewajiban produsen dan konsumen adalah sebagai berikut.

  • UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen
  • UU No. 23/1992 tentang Kesehatan
  • UU No. 2/1981 tentang Metrologi Legal
  • UU No. 18/2002 tentang Sisnas dan Iptek

Khusus untuk Industri Makanan, undang-undang yang penting selain diatas adalah

  • UU No. 7/1996 tentang Pangan
  • PP No. 69/1999 tentang Label dan Iklan Pangan
  • PP No. 102/2000 tentang Standardisasi Nasional.

Kita bertanggung jawab untuk menjaga keamanan diri kita sendiri dan orang di sekitar kita.[sj]

*Sri Julianti adalah praktisi packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui e-mail : julipackaging@yahoo.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Komentar