Coming Home to God
Editor | Kolom Tetap | May 18th, 2009
Oleh: Miranda Suryadjaja*
Dulu, saya berpikir bahwa Jesus adalah sesosok mahluk suci, yang bersemayam di bagian paling suci dari setiap gereja, seseorang untuk dipuja, seseorang yang bisa membantu kita, dan mengabulkan semua doa kita. Ia seseorang yang suci dan istimewa karena ia dilahirkan dari seorang wanita yang masih perawan. Ia seorang yang berperawakan agak ringkih, berjubah putih, yang pengasih, baik hati, lembut dan bisa menciptakan mujizat. Pendeknya, Ia seseorang yang istimewa, yang tinggal di kerajaan Tuhan, tetapi hidup jauh dari saya, dari umat manusia. Saya melihatnya sebagai seseorang milik dan merupakan bagian dari, yang menciptakan dan menemukan agama Kristen dan derivatifnya.
So, apa yang terjadi? Saya suka Jesus, dia tampaknya sangat baik, welas asih, dan lain-lain, tetapi agama yang diasosiasikan dengannya tidak menarik buat saya. Saya sekolah di SMA Katolik. Saya ingat ketika suatu saat saya berpikiran untuk menjadi seorang Katolik, karena dua sahabat saya punya aktivitas gereja bersama. Dan, karena saya bukan Katolik, saya merasa agak terasingkan karena tidak bisa mengikuti kegiatan mereka. Jadi, saya pikir kalau saya ikut menjadi Katolik, saya akan bisa bergabung dengan mereka.
Saya kemudian pergi ke suster kepala sekolah dan mengatakan bahwa saya ingin masuk agama Katolik. “Kenapa kamu ingin masuk agama Katolik?” tanya beliau. Rupanya, alasan saya tidak dianggap cukup jelas, jadi saya disuruh pulang dan mengontemplasi alasan saya.
Itu saya lakukan dan memang jadi jelas bagi saya, bahwa keinginan saya semata-mata didasari kerinduan untuk diterima dan menjadi bagian dari suatu grup, bukan karena ketertarikan pada agamanya. Itulah yang pertama dan terakhir kalinya saya pernah berkeinginan untuk beragama Katolik atau Kristen.
Secara pribadi saya tidak pernah anti terhadap Jesus. Namun, dari ajarannya, saya punya masalah dengan konsep dosa, bahwa kita dilahirkan berdosa dan harus menghabiskan seluruh hidup kita untuk menebus dosa kita. Semakin dewasa saya, semakin konsep itu tidak masuk akal untuk saya. Mungkin tidak secara analitis, tetapi saya tidak bisa menerima bahwa orang terus berdoa dan berdoa memohon pengampunan dari dosa-dosanya. Dosa apa? Terhadap siapa? Apa yang telah kita lakukan? Saya tidak pernah merasa berdosa. Benar, mungkin saya telah banyak kali melakukan hal yang nakal, jelek, dan salah. Tetapi, dosa adalah hal yang berbeda. Apakah dosa itu? Kita telah diajarkan konsep yang sangat abstrak.
Saya mendengar orang berdoa di gereja, “Saya berdosa, saya sungguh berdosa, ampunilah saya Tuhan….” Lalu, mereka terus mengulangi apa yang mereka anggap dosa.
Bagi saya, rasanya pernyataan tersebut sangat tidak memberdayakan. Akibatnya, saya tidak pernah merasa lebih dekat dengan gereja, dan memilih untuk berdoa dan bercakap-cakap langsung dengan Tuhan.
Sebaliknya, dengan Tuhan saya merasa saya bisa langsung berbicara dengan-Nya. Percakapan saya dengan Tuhan adalah doa-doa saya, dan saya selalu merasa Ia bisa mendengar saya dan menjawab doa-doa saya.
Saya bersyukur dengan didikan orang tua saya yang tidak mengharuskan saya untuk menganut suatu agama. Orang tua saya tidak pernah mengharuskan saya untuk mengikuti agama mereka, ataupun lebih menghargai suatu agama tertentu. Orang tua saya penganut agama konghucu ketika saya bertumbuh, tetapi bagi mereka lebih sebagai cara atau gaya hidup daripada agama, yang intinya menghargai dan memuja para leluhur.
Dalam perjalanan spiritual saya, saya telah menjelajah mencari kebenaran yang hakiki. Saya mendapatkan bahwa di setiap agama dan ajaran spritual ada kebenaran dasar yang beresonansi dengan kebenaran saya. Saya telah membaca buku-buku suci dari agama-agama besar, dan menemukan hal-hal yang baik dalam semuanya. Saya juga membaca banyak buku tentang ajaran Jesus yang diturunkan lewat medium, sebagai sananda dan sebagai Jesus sendiri. Topiknya beragam, ada yang khusus tentang kesehatan badan manusia, serta bagaimana cara memelihara dan membangun sel-sel baru dalam tubuh.
Bagi saya, Jesus tak beda dengan guru-guru dan master-master lainnya, yang semua mempunyai sesuatu yang berharga, sesuatu yang baru yang berguna bagi mahluk hidup.
So, when I hear about the guy who channels Jesus, I was more curious about meeting someone who claims to be a channel for Jesus than wanting to know what he has to say about Jesus.
Karenanya, tatkala saya mendengar tentang seseorang yang jadi medium untuk ajaran-ajaran Jesus berada di Bali, saya merasa lebih tertarik untuk melihat seseorang yang katanya menjadi medium bagi Jesus daripada mendengar apa yang Jesus ajarkan lewatnya.
Darshan (istilah Sansekerta bagi sebuah ceramah spiritual) itu mengubah hidup saya. Kesan saya yang pertama adalah bahwa ini beda dari grup-grup spiritual lain yang pernah saya kenal.
Saya tiba di ruang makan terbuka, di mana telah ada beberapa orang yang hadir dan lalu-lalang antara ruang makan dan dapur menyiapkan makan pagi mereka. Pakaian mereka sangat casual seadanya, beberapa wanita dan laki-laki memakai sarung pantai, beberapa pria tidak memakai baju atas, seolah-olah mereka sedang berlibur di pantai atau di samping kolam renang.
Saya tidak bisa menebak yang mana sang guru, sampai semua duduk di meja, dan seorang laki-laki botak mengambil tempat duduk terakhir di ujung meja. Matanya memancarkan kelembutan dan kebaikan, gerakannya pasti namun sangat luwes dan mengalir. Ia menunggu sampai semua orang menghentikan bicaranya, mengulurkan tangannya, dan kami semua saling berpegangan tangan dengan orang-orang di sebelah kami.
Kemudian, ia memimpin kami dalam doa, yang mana tidak seperti doa Kristen lain yang pernah saya dengar. Begini doa pertama yang saya dengar:
Ayah bunda Tuhan cahaya kemilau dari segala yang ada
Kemilau tak berbatas, sumber tak bernama, asal tak berasal dari segalanya
Engkau begitu dekat dengan kami sehingga kami tak bisa melihat-Mu
Engkau menyentuh kami begitu dalam sehingga kami tak mampu menyentuh-Mu
Engkau adalah napas dari napas kami, hidup dari kehidupan kami, gairah dari keinginan kami
Kerinduan untuk kembali pulang pada-Mu tak lain adalah kerinduan-Mu untuk mengembalikan kami pada-Mu
Bukalah hati kami pada dasar keyakinan yang paling dalam
Akan misteri tak terpahami dari kebesaran dan kesempurnaan-Mu
Bantulah kami untuk sampai di tempat di mana Engkau tak pernah terlupakan
Hanya di sanalah ada kedamaian, hanya di sana perjalanan ini berakhir, hanya di sana terpenuhi segala pencaharian
Bukan untuk melarikan diri dari hal-hal yang terikat ruang dan waktu
Melainkan transformasi dari semua itu dan keteringatan akan Engkau untuk selamanya
Terima kasih Tuhan, terima kasih Tuhan, terimakasih Tuhan
Amin.
Seiring dengan perjalanan waktu, saya mendapatkan bahwa setiap kali doanya berbeda; tidak ada text tetapi serangkaian kata khusuk dan bijak yang datang dari sumber kearifan yang begitu dalam. Saya tidak ingat seluruhya, apa yang disampaikan selanjutnya di darshan tersebut. Tetapi, saya ingat bahwa hal-hal yang saya dengar di sana sangat berbeda dari apa yang telah pernah saya dengar; caranya menuturkan, dan apa yang sebenarnya disampaikan.
Dan, yang paling saya ingat dengan sangat jelas adalah perasaan bahwa saya telah tiba di haribaan Tuhan, di Rumah Abbaku. Saya telah ditaklukkan, bukan oleh pembicaranya, ataupun suasananya, tetapi oleh kebenaran yang disampaikan. Doanya menyentuh saya di lubuk hati yang paling dalam, tidak ada pemisahan, tidak ada pembatas apa pun antara saya dan Tuhan, tidak ada permohonan pengampunan ataupun permohonan untuk hal-hal duniawi, hanya permintaan untuk membawa kita lebih dekat kepada Tuhan serta konfirmasi atas apa yang sudah ada. Kebenaran ini terasa sangat benar. Saya telah sampai dan pulang ke Rumah asal saya.
Saya tidak lagi melihat ke belakang. Sepertinya, seumur hidup saya telah mencari Tuhan, mencari pengalaman akan keberadaan Tuhan dalam hidup sehari-hari, di setiap saat, dan sekarang saya telah tiba di jarak yang terjauh dari perjalanan saya menjauhi Tuhan. Seperti karet gelang elastik, saya telah meregang sampai batas maksimum, dan sekarang hanya ada perjalanan tak berbatas, ke tujuan yang selamanya tak pernah berubah, kembali ke haribaan Tuhan.[ms]
* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

May 23rd, 2009 at 6:16 am
Melihat perjalanan ruhani mbak Miranda sangat menarik ketika tidak menerima dogma manusia terlahir dalam keadaan berdosa dan menggunakan seluruh hidupnya untuk menebus dosa,dosa apa? pertanyaan manusiawi dari fitrha(kesucian hati Mbak)yang mungkin masih bersih,dalam keyakinan yang saya percayai bahwa manusia terlahir dalam keadaan Fitrah dan setelah usia baligh manusia terkena bebab hukum agama,kita terlahir tak mewarisi dosa tapi disuruh beramal baik untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada umat dan kita bisa berdosa apabila menyengaja untuk berbuat durhaka itu pun bisa dihapus dengan taubat nasuha(taubat sebenar-benarnya) dan sebagai manusia tak ada dari kita yang sempurna,keyakinan ini menjadikan saya tenagng dan mantap dalam melangkah,semoga komentar saya ini cepat mbak baca dan renungkan,yang pada ahirnya ingin saya katakan keyakinan itu ada pada Islam.