Cermin Hidup
Editor | Kolom Lepas | July 21st, 2009
Oleh: Hanna Fransisca*
Ini hanya satu peristiwa kecil, ketika suatu siang saya melepas lelah di kantin sebuah Mal di Jakarta. Menghirup secangkir kopi hangat sambil menyaksikan kesibukan manusia-manusia yang berlalu lalang, melepas kepenatan dan kejenuhan berkeliling, serta membiarkan pikiran bebas berimajinasi. Itulah saat-saat yang begitu mengasyikkan bagi saya. Ketika itulah peristiwa kecil itu tiba-tiba terjadi.
Mata saya menangkap sesuatu dari jauh. Sosok manusia bertubuh putih dengan perut buncit. Dia berjalan dengan sangat pelan, mirip manusia batu yang kaku menyeret langkah. Bibirnya lebar memerah. Rambutnya dicat putih. Ia hanya mengenakan celana dalam dengan tubuh dipoles serba putih. Alamak! Tanpa bermaksud mengatakan ia seksi (sebab ia sama sekali tidak seksi), saya terus memerhatikannya. Badannya subur membesar. Tampak ia memang sengaja meniru gaya sumo.
Nah, yang paling spesial dari sumo tiruan ini adalah ia selalu tersenyum ramah dan menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada siapa saja, dan selalu berusaha membuat suasana lucu. Tak perduli apakah orang-orang yang disapanya kemudian berlalu begitu saja. Beberapa anak ABG tampak memanfaatkan keramahannya dengan mengolok-olok, kemudian berpotret ria dengan ponsel bersama dirinya, dan meninggalkan gelak tawa riang. Lagi-lagi, sosok itu selalu memamerkan senyum lucunya. Melayani segala tingkah laku apa pun—termasuk juga yang kurang ajar seperti memegang atau mengelus kepala misalnya—dengan sabar. Saya yang duduk menyaksikan dari jauh, tentu saja ikut tersenyum.
Sumo itu terus menjalar, seolah berjalan di atas batu yang memelintir telapak kakinya. Berjalan berkeliling, dan terus mengangguk, tersenyum kepada siapa saja. Tiba-tiba, serombongan bocah lelaki kecil berlarian mengejar dirinya. Seorang di antaranya dengan sengaja mendorong tubuh sumo itu, dan, uff! Saya terperanjat. Ah, syukurlah keseimbangan tubuhnya sangat baik hingga ia tidak terjerembab. Sumo itu tersenyum. Saya bernapas lega.
Hal yang kemudian tidak saya duga adalah, kerumunan bocah itu tampak tak puas dengan kegagalannya mendorong. Mereka tak sudi merespon lelucon yang kemudian diperankan sumo itu, untuk mencairkan suasana. Seseorang di antaranya (yang tubuhnya paling besar) kemudian menusukkan jemarinya di pantat sumo. Tentu saja saya terperanjat. Kaget oleh kenekatan anak-anak, yang bagi saya sudah mulai keterlaluan. Tidak hanya saya saja yang kaget, saya lihat sumo itu juga terperanjat. Nah lho, ini dia juga yang tak saya duga, ternyata tampang sumo yang terkejut sungguh sangat lucu. Hampir saja saya tertawa.
Adegan selanjutnya adalah sudah bisa ditebak, sang sumo tiruan kembali melancarkan jurus sabar. Ia mencoba kembali melucu dengan mengangkat tangan kanannya ke atas, dan bocah cilik itu, ya ampun, salah satu di antaranya menarik bulu ketiaknya. Astaga! Orang-orang yang lalu-lalang mulai tertarik dengan insiden aneh itu, dan mulai berkumpul. Mereka tertawa lalu memberi semangat pada bocah-bocah cilik untuk bertindak lebih nekat lagi. Si sumo menurunkan tangannya buru-buru. Saya menunggu peristiwa berikutnya. Saat itu, saya sudah mulai tak enak untuk tertawa.
Sang Sumo masih berusaha memamerkan gigi. Saya bernapas lega dan berpikir, sungguh luar biasa kesabaran sumo itu. Tak lama kemudian ketika Sumo itu menghindar, dan melintas di depan meja saya. Saya bersitatap mata dengannya. Ya Tuhan… mata itu begitu sendu. Menyimpan banyak kisah. Hati saya trenyuh dan tersentak seketika. Betapa berdosa saya yang sudah menertawakan penderitaannya. Dipermainkan anak-anak. Menyerahkan diri untuk ditertawa-tawakan. Penderitaannya justru menjadi hiburan bagi sebagian orang, dan tak luput juga saya.
Sumo itu telah menjauh dari pandangan saya, tetapi ia tidak benar-benar pergi sebab ia menari-nari di benak saya. Saya teringat senyumnya yang menurut saya sangat dipaksakan. Saya ingat bola matanya. Saya membayangkan bagaimana hatinya menahan amarah terhadap bocah-bocah itu. Saya membayangkan bagaimana harga dirinya saat melumuri tubuhnya dengan cat putih, dan melintas di antara orang banyak hanya dengan celana dalam saja. Saya membayangkan bagaimana ia berusaha membersihkan tubuhnya seusai berperan. Bercermin di depan kaca dan menertawakan dirinya.
Sungguh sebuah peran yang tak mudah bagi kebanyakan orang. Di atas luka, ia dipaksa tertawa demi membahagiakan orang lain. Demi mempertahankan hidup. Barangkali hanya dirinya yang tahu seberapa dalam ia menyimpan cerita di balik senyum ramahnya. Sungguh saya telah belajar banyak pada sumo itu.[hf]
* Hanna Fransisca adalah ibu dari empat anak yang sehari-hari bekerja di Singkawang Motor, Jl. Sultan Agung Km 27, Pondok Ungu, Bekasi Barat dan Bintang Perkasa Jaya Motor Jl. Mauk/Mohammad Toha No 1, Bugel, Tangerang. Ia gemar membaca, menulis puisi, cerpen, dan esai kehidupan. Hanna dapat dihubungi di pos-el: h4n4_1979[at]yahoo[dot]com, Hp: 0812-8833-1772, dan telepon: (021) 88963625, (021) 55798650.
July 21st, 2009 at 4:53 pm
Kadang sadar atau tidak sadar kita sering tertawa di atas penderitaan orang lain. Ini saya kira tidak lepas dari para pelawak kita yang membikin tertawaan dengan metode ada orang yang dilanda “kesialan”. Sikap ini kemudian dijadikan “kebiasaan” kita.
Kisah sumo ini saya yakin dia “hanya” dibayar sebagai upah harian.
July 22nd, 2009 at 11:32 am
terimakasih mbak atas kisahnya…
July 23rd, 2009 at 7:03 am
Luar biasa. Saya suka kisah ini
July 23rd, 2009 at 7:12 am
.
Wah,…
Bu Hanna Fransisca ternyata cantik sekali…
Alamatnya juga lengkap….
Boleh dong, dihubungi sewaktu-waktu…???
July 23rd, 2009 at 7:48 am
Sebuah kisah yang menarik….memberikan sebuah renungan bahwa berilah senyum yang tulus pada setiap orang, meskipun mereka mengganngap kita sebagai musuhnya, karena dengan senyum yang tuluslah kita bisa berikan kasih sayang kita ke sesama makhluk ciptaan Tuhan.
July 23rd, 2009 at 10:34 am
“Barangkali hanya dirinya yang tahu seberapa dalam ia menyimpan cerita di balik senyum ramahnya..” Aku suka sekali kalimat ini Han… Cermin Hidup yang sumo palsu perankan hmm…aku hanya bisa diam merenung seberapa sabarkah diriku? Terimakasih Han,sungguh menarik kisah ini…Bahan renungan kita.
July 23rd, 2009 at 10:39 am
Tidak ada yang mengetahui beban di dalam hati kecuali kita sendiri, semua bisa kita tipu dengan senyum manis dan tertawa sementara batin kita menjerit. Betapa kita pantas mengacungkan jempol bagi mereka yang mampu melalui semua derita dengan senyuman. Dan betapa sedikitnya orang yang bisa melalui penderitaan dengan minimum keluhan. Sungguh suatu perjuangan hidup yang tidak mudah. Hanna..kau seorang mulia dan welas asih, makanya kamu bisa mengerti dengan mudah penderitaan orang. Tulisanmu ini semoga menggugah perasaan semua orang untuk selalu peka dengan apa yang menimpa orang lain. Bravo Adikku sayang. You’re the best.
July 23rd, 2009 at 11:04 am
Sedikit tambahan lagi buat Hanna Fransisca teman dan juga sahabat tercintaku…Aku suka kisah sumo palsu ini,jadi bahan renungan buat kita-kita sebagai cermin kehidupan.Just want to say Good Luck for you sista..Aplaus dan jempolku untukmu selalu…
July 23rd, 2009 at 11:09 am
Sekali lagi boleh dong…hehehe Han,udah buruan terbitin aja karya-karyamu karena karya tulismu memang pantas dan layak. Tak kalah sama penulis prof deh..Ok doaku kesuksesan selalu menyertaimu tetap semangat dan tebarkan senyum tulusmu. Jangan lupa kirimi aku buku2mu… Salam Semesta Mentari Pagiku…
July 23rd, 2009 at 11:32 am
***Mas Sugeng, setiap kita pasti pernah menertawakan ‘kesialan’ atau penderitaan orang lain secara langsung atau tidak. Yang terpenting bagaimana kita memanej diri untuk tidak mengulang hal yang sama jika kita tahu itu tak baik atau keliru. Terima kasih banyak ya apresiasinya. Semoga bermanfaat.
***Mbak Nur, saya yang harusnya berterima kasih karena sudah berkenan membaca tulisan ini. Satu kebanggaan dan kehormatan tersendiri bagiku tentunnya. Salam!
July 23rd, 2009 at 2:54 pm
Hana telah membuktikan kepada kita sebuah contoh kecil namun kadang luput dari perhatian kita. Bahwa ternyata kesabaran dan prakteknya sebenarnya banyak sekali di alam ini dan dilakoni oleh orang-orang yang tanpaknya mustahil melakukan itu.
Seorang SUMO, postur pegulat ala Jepang ini bertubuh besar dan kuat, mestinya dengna kekuatan itu ia bebas melakukan apa saja, namun kenyataaanay tidak! bahkan oleh anak kecilpun si besar mengalah demi kesenangan si kecil. Penderitaan yang sia-sia terlihatnya, namun seimbang dengan image kekar, kuat dan besar.
Sering2 postingan seperti ini ci saya sederhana namun bermakna. thanks
July 24th, 2009 at 8:44 am
***Koko Nata
Koko, makasih ya sudah memberi apresiasi.
***Mbel, Um, kalau mau hubungi silah saja. Tentu dalam urusan kerja. hehe…BTW, makasih ya.
***Mas Arif, terima kasih sangat atas apresiasinya. Setiap apa yang terjadi di sekitar kita adalah renungan. Bukankah demikian?
***Fira, terima kasih ya. Doakan ya semoga tahun depan buku-bukuku bisa terbit. Terima kasih sekali lagi karena selalu ‘menghasut’ diriku agar menjadi penulis.
***Kak Sabrina, terima kasih komentarnya. Semoga aku bisa menjadi seseorang yang punya welas asih seperti yang ditulis Kakak. Amiin. Sukses selalu untuk kakak ya. Semangat.
***Kang Kurt. Aku sungguh tak menduga pak Kyai mau memberi komen di sini. Satu penghormatan dan kebanggaan bagiku, Kang. Ya, ya, semoga Tuhan selalu memberikan aku inspirasi meski kata orang jaman kini, inspirasi harus diciptakan. Dan jemari ini selalu mengalirkan kata-kata yang baik hingga membawa manfaat tersendiri bagi yang membacanya. Amiin. Salam untuk santri-santri Buntet, ya, Kang. Salam sukses selalu.
July 24th, 2009 at 4:04 pm
kenapa kita tidak selalu memperdulikan orang yang selalu tertawa dan menganggapnya ia seorang yang jauh dari sebuah masalah besar????
padahal orang yang selalu tertawa dan seolah tampak bahagia adlah orang yang menyimpan beribu luka di dadanya
July 24th, 2009 at 4:13 pm
Cerita yang sangat menyentuh.
Cerita tentang seorang manusia, dan menampilkan nilai seorang manusia, nilai kehidupan…
Terima kasih sudah menuliskan dan membagikannya…
July 24th, 2009 at 4:28 pm
thanks sudah berbagi,
July 24th, 2009 at 4:51 pm
Mengagumkan dan menakjubkan
July 25th, 2009 at 9:34 am
Pemeran Sumo itu telah sukses menjalani perannya. Saya mewakili dia merasa bangga krn telah berhasil mengalahkan emosinya, berhasil terbebas dari simpul kemarahan yg mengendalikan banyak orang.
Salut…
July 25th, 2009 at 10:59 am
***Ida, Ito Frans, mbak Dwi, pak Ewa, terima kaish ya atas apresiasinya. Mari saling berbagi.
July 25th, 2009 at 5:04 pm
hmmm … sungguh tidak mudah utk bisa menjadi seorang sumo dalam narasi cermin hidup ini, mbak hanna. entah, cerita macam apa yang ia rasakan hingga ia tampak begitu sendu dan menderita. di tengah derita seperti itu ternyata dia masih sanggup utk menjaga elan kesabaran di tengah cercaan bocah2 nakal. benar2 cermin hidup yang layak diapresiasi.
July 26th, 2009 at 4:16 pm
***Koko Cy dan Pak Sawali, terima kasih ya.
July 29th, 2009 at 9:28 am
Kesabaran, ah, alangkah langkanya sekarang ini. Di manakah kini kita bisa memungut kembali kesabaran yang bagai hilang dari keseharian kita? Tulisanmu bisa memperlihatkan sisi ironis dari kesabaran yang terjadi hari ini. Apakah kesabran adalah kebutuhan ataukan keharusan ataukah malah hanya formalitas karena (kerjaan, misalnya)? Orang sabar adalah orang yang menerima dunia. Orang bijak adalah orang yang memahami dunia. Bila keduanya menyatu, itulah sesungguhnya orang yang mulia. Karena sekarang ini, seringkali kita sabar, hanya ketika melakukan pekerjaan, saat menghadapi atasan — atau kita bisa menyabar-nyabarkan diri, bila menghadapi klien, misalnya. Tapi kita tak bisa sabar saat menghadapi kerewelan dan kemanjaan anak kita sendiri…
Belajar sabar adalah belajar memahami keadaan. Bersikap sabar adalah wujud kematangan jiwa kita saat menghadapi kenyataan.
Rasanya, saya pribadi masih masih pada tahap yang pertama itu: masih terus menjadi orang yang gagap dan gagal belajar sabar…
July 31st, 2009 at 11:31 am
***Mas Agus Noor, aduh, terimakasih banyak sudah meluangkan waktu untuk memberiku apresiasiku di sini. Saya sangat tersanjung. Komentarnya mencerahkan. Iya, Mas, saya sendiri sedang belajar untuk bisa lebih sabar menghadapi persoalan hidup dan orang-orang di sekeliling saya.
August 8th, 2009 at 11:43 am
bgus bgnt cerita nya ce.
kadang kala kita tidak bisa bersabar. dan dengan cepat emosi.
tetapi dengan baca ini, saya akan belajar untuk bersabar, and selalu tersenyum pada saat di isengin oleh teman.
thx cc buat tulisan ini.
September 18th, 2009 at 10:14 pm
akh, sebuah tubuh dan jiwa yang dipertaruhkan untuk sebuah yang disebut pertahanan terakhir bagi hidup. dalam kisah itu, aku tak tahu, apakah si penonton yang jadi sumo (yang dipandang) ataukah kita (aku juga) yang dipandang. dan gejala ini makin kentara ketika melihat betapa banyaknya peristiwa2 yang membuat orang lain susah, tapi bagi yang lain malah sebagi hiburan yang begitu wah. akh, kita seringkali terlambat untuk memahami bolak-balik memandang dan dipandang itu…
September 19th, 2009 at 9:07 am
***Deisy, terima kasih kunjungan dan apresiasinya. Salam hangat selalu, Des.
***Kakak Hung, satu kehormatan bagi saya mendapat komentar dari seorang penyair hebat seperti Kakak. Terima kasih komentarnya yang justru membuatku merenung kembali. Kita tahu dipandang karena memandang. Kita memandang karena ingin dipandang. Aiii, dunia ini terlalu banyak peristiwa yang bukan hanya terlambat kupahami, tapi juga gagal untuk kumengerti. Salam sejuta puisi, Kak.
November 23rd, 2009 at 8:14 pm
untunglah (untung gak ya) anak saya tidak suka melihat badut atau sejenis hiburan yang sengaja dihidupkan seperti cerita sumo dngn kesabaran luar biasa ini.
tapi setidaknya kisah mas sumo ini bisa menjadi cermin malu untuk diri sendiri, kala kita sudah merasa sabar. ternyata tak ada apa2nya. huh…emang susyaah jadi sabar !
kisah yang menginspirasi mbak hanna. ^_^
April 30th, 2010 at 10:23 pm
hanya orang-orang yang memiliki sensitivitas yang tinggilah yang mampu memaknai esensi dari perjalanan hidup seserang dan saya mendapatkan beberapa poin kehidupan yang sebelumnya tak terpikirkan. tengkiu..
May 23rd, 2010 at 3:48 pm
Terus menulis sahabatku………………..Aku tunggu karya terbarumu………..