Home » Kolom Lepas » Cerita untuk Dikenang

Cerita untuk Dikenang

rsuOleh: Ridwan Sumantri*

“Ada pertanyaan lain? Kalau tidak ada, kita lanjut dengan break 20 menit,” demikian ujar Edy Zaqeus, saat menutup sesi yang ia bawakan mengenai Menyunting dan Memoles Naskah. Sesaat kemudian, beberapa peserta mulai keluar menuju selasar yang berada tepat di depan pintu ruangan pelatihan.

Setelah hampir semua peserta keluar, barulah saya mengikuti mereka. Ketika keluar, saya mendapati Her Suharyanto (trainer Proaktif Writen Schoolen lainnya) sedang duduk sambil menatap sesuatu di laptop-nya. Melihatnya tidak sedang berbicara dengan siapa pun, terbersit keinginan saya untuk bertanya kepadanya. “Mohon maaf Pak, saya mau bertanya...” saya membuka obrolan dengan Pak Her.

“Saya mempunyai kebiasaan membuat kalimat yang panjang dengan maksud memberikan informasi yang lengkap. Bagaimana menyiasatinya ya, Pak?”

“Sekarang Anda harus bertanya kepada diri Anda, kapan dan di mana bisa titik,demikian Pak Her menjawab.Alangkah lebih baik jika kalimat tersebut bisa dibagi menjadi beberapa kalimat. Bisa dipecah dengan koma atau bahkan titik, lanjutnya.

Pada saat saya akan melanjutkan pertanyaan berikutnya, tiba-tiba muncul Bu Rina, peserta pelatihan, meminta foto bersama dengan Pak Her dan juga saya. Melihat kami sedang berpose, lantas Pak Bono yang sedang asyik makan pun ikut bergabung dengan kami. Begitu juga dengan Kevin, yang tadinya bertindak sebagai juru foto, kini digantikan oleh Mbak Santi (Proaktif) dan ikut bergabung berfoto bersama kami.

Satu, dua, tii….ga!” terdengar Mbak Santi memberi aba-aba, dan sejurus kemudian terdengar bunyi ‘crek, dan kilatan cahaya kamera memancar.

“Ok, terima kasih,” ujar Bu Rina kepada Mbak Santi.

Setelah berfoto bersama, akhirnya saya memutuskan pamit untuk mengambil makanan yang tersedia. Di meja sudah tersedia the, kopi panas, dan tiga jenis kue yang saya tidak ketahui namanya. Saya mengambil dua jenis kue, lalu mengambil teh. Pada saat mengambil cangkir, ternyata Bu Grace sedang menuangkan teh ke dalam cangkirnya.

“Pak Ridwan mau minum teh atau kopi?” tanya Bu Grace, seraya menawarkan bantuan untuk menuangkannya.

Teh saja Bu, terima kasih,” jawab saya sambil mendekatkan cangkir kepada Bu Grace. Kemudian, saya menuangkan satu bungkus gula dan dua creamer ke dalamnya. Setelah selesai, saya pun mencari tempat yang lengang untuk menikmatinya. Baru beberapa saat, saya dihampiri kembali oleh Bu Rina untuk foto bersama. Kali ini pun personelnya hampir sama, ada Bu Rina yang berdiri di samping kiri saya, Kevin berdiri di samping Bu Rina, dan juga Pak Bono memosisikan diri di samping Kevin. Namun, kali ini bertambah Agung yang berdiri di samping kanan saya. Sementara, yang kebagian mengambil gambar juga tetap Mbak Santi.

Bu Rina, memang kalau saya perhatikan paling antusias mengabadikan setiap momen. Seingat saya, saat itu sudah lebih untuk yang ketiga kalinya kami berfoto bersama. Setelah selesai berfoto, masing-masing kembali menikmati hidangan, begitu juga dengan saya.

Setelah saya merasa cukup. Saya pun masuk ke ruangan. Di dalam saya mendapati Mesti sedang asyik menikmati hidangan. Ia hanya tersenyum saat saya melihat ke arahnya. Ia satu-satunya peserta yang hanya mengerti orang berbicara bahasa Indonesia, tetapi ia hanya bisa menjawab dengan menggunakan bahasa Inggris, begitu karena ia lama tinggal di negeri Paman Sam.

Di tempat lain di sebelah kanan saya melihat Pak Bono sedang asyik berbincang dengan Edy Zaqeus. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan, karena suaranya tidak sampai terdengar ke telinga saya. Beberapa saat kemudian, di depan sudah tampak Pak Wandi S. Brata, Direktur Penerbit Gramedia Pustaka Utama yang berdiri dan memulai berbicara.

“Bapak Ibu sekalian, apa ada yang akan Anda tanyakan?” tanyanya langsung membuka pembicaraan. Tampak beliau berbicara dalam gaya yang santai. Beberapa saat dari peserta tidak ada yang menjawab ataupun mengacungkan tangan pertanda akan bertanya.

Mendapati itu, Pak Wandi kembali bertanya, “Apa tidak ada yang mau bertanya? Kalau tidak ada, saya berterima kasih karena saya pun tidak ada yang akan saya bicarakan…” Pak Wandi mengucapkannya sambil tertawa kecil.

Tak lama Bu Grace mengacungkan tangan, “Pak, tema buku apa saja yang laku di jual?”

“Tema apa saja Bu, yang penting marketable,” jawab Pak Wandi dengan santainya.

Setelah itu barulah para peserta lain bergiliran mengacungkan tangan untuk bertanya seputar penerbitan. Yang paling banyak bertanya di antaranya Bu Rina. Beliau ini saya lihat memang orangnya easy going sekali, jadi ia sangat lepas dalam hal apa pun.

Mendengar kawan-kawan bertanya, saya pun ikut mengacungkan tangan, “Sekarang ini sedang hangat mengenai isu global warming. Kaitannya dengan kertas sebagai bahan untuk membuat buku, apakah Gramedia menggunakan kertas apa adanya atau kertas daur ulang?” tanya saya kepada Pak Wandi.

“Sebagian kecil kami memakai kertas daur ulang, namun lebih banyak menggunakan kertas apa adanya kertas. Karena, harga kertas daur ulang yang cukup mahal. Pertanyaan Anda bagus, sehingga kami pernah berpikir, mau dikemanakan bisnis penerbitan ini?” jawab Pak Wandi sekaligus bertanya. Kemudian Pak Wandi mencoba menjelaskan keadaan dan langkah-langkah Gramedia dalam menghadapi kenyataan lingkungan yang semakin hari semakin memperihatinkan.

Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan, dan Pak Wandi berusaha menjelaskannya dengan terperinci. Tidak terasa waktu pun cepat berlalu hingga sampailah di penghujung acara. Setelah Pak Wandi menutup sesinya, dilanjutkan dengan penutupan oleh Pak Andrias Harefa dengan menjelaskan visi beliau ke depan. Dan, ada juga sebagai evaluasi, kami diberikan kuosioner. Setelah itu, kami dibagi sertifikat tanda telah selesai mengikuti workshop.

Yang menarik, dari pembagian sertifikat ialah panitia menyerahkan sertifikat yang bukan milik kami. Setiap peserta harus menyerahkan sertifikat yang dipegangnya berdasarkan nama yang tercantum di dalamnya. Saya menerima sertifikat atas nama Bu Emmy Liana Dewi. Saya segera bergegas menuju meja Bu Emmy, yang dengan tersenyum ia menyambut kehadiran saya, “Selamat ya, Bu. Sukses buat Ibu,” ujar saya kepadanya sambil menyalami.

“Terima kasih Pak Ridwan, selamat juga buat Pak Ridwan,ujar Bu Emmy sambil menjabat erat tangan saya.

Demikian juga dengan kawan-kawan lainnya sibuk mencari nama pemilik sertiffikat yang dipegangnya. Suasana pun menjadi hangat dan mengharukan. Pada akhirnya, kami semua satu per satu bersalaman sambil mengucapkan selamat. Itulah akhir pertemuan “Workshop Cerdas Menulis Buku Bestseller”.[rsu]

* Ridwan Sumantri lahir di Sukabumi pada 17 Agustus 1980. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: rsumantri[at]gmail.com.

Catatan: Tulisan ini saya persembahkan kepada: Ibu Endang Setyati, Pak Tantowi, Ibu Rina Dewi Lina, Pak Andrias Harefa, Pak Her Suharyanto, Pak Edy Zaqeus dan semua peserta Workshop. Sukses untuk semua.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Komentar