How Are You?

lkk1Oleh: Lina Kartasasmita*

“Give what you have. To someone, it may be better than you dare to think.”

~ Henry Wadsworth Longfellow

Berada di tengah anak-anak kelas 3 sekolah dasar, memberikan gambaran ketika saya kecil dahulu. Beberapa anak tampak sibuk sendiri dengan kotak pensilnya, ada yang sibuk membaca dan ada yang berbincang-bincang dengan teman-temannya. Ketika guru yang mengajar memulai pelajaran, anak-anak memusatkan perhatiannya ke ibu guru yang berdiri di depan kelas.

Saya berada di dalam ruangan kelas untuk melakukan observasi proses belajar dan mengajar di kelas tersebut, duduk mengamati selama 40 menit, saya menuliskan beberapa hal di catatan saya. Sekali-kali saya melayangkan pandangan saya ke murid-murid. Terlihat ada anak yang aktif bertanya, ada yang pasif, dan ada yang menghindar dari segala bentuk pertanyaaan.

Seusai jam pelajaran saat saya hendak beranjak keluar kelas, seorang anak perempuan menghampiri saya dengan membawa selembar kertas sobekan dari buku tulisnya. Dia menyodorkan kepada saya kertas itu. Saya bertanya,Untuk saya?” Dia hanya tersenyum dan menaruhnya di tangan saya, lalu berlari keluar.

Saya melihat kertas yang agak lusuh tersebut, tertulis,How are you, Ibu Lina?Dan, di situ ada gambar wanita berambut pendek. Saya tertegun sejenak. Tak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa seorang anak akan memberikan perhatian kepada saya yang hanya duduk diam selama 40 menit di kelas tersebut. Kertas yang sedikit lusuh tersebut dan gambaran tangan seorang anak kecil itu menjadi suatu yang berharga bagi saya saat itu. Ada hikmah yang bisa di petik dari suatu peristiwa sederhana itu.

Betapa sering kita berpikir pemberian kita harus barang yang berharga mahal. Kita berupaya memberikan impresi yang salah kepada orang-orang dengan memberikan barang yang mahal. Tapi kita lupa ketika memberi, ketulusan tidak menjadi dasar pemberian kita. Kita tidak lagi melihat kebutuhan yang sesungguhnya dari orang di sekitar kita. Mungkin orang di sekitar kita hanya butuh pujian, hanya butuh didengarkan, hanya butuh ditegur, atau melihat senyuman. Kita sering tidak lagi peduli ketika orang di sekitar kita telah kering semangat hidupnya. Ketika kepahitan dan kesulitan hidup telah menjadi beban sehari-hari. Ada banyak orang yang menjalani aktivitasnya tanpa semangat tapi seperti membawa beban di punggungnya.

Ketulusan anak itu menggambar saya, adalah suatu ketulusan yang murni dari seorang anak. Dari suatu yang sederhana, anak itu belajar memberi sesuatu dengan tulus. Dia berupaya membuat saya senang. Ya … anak itu membuat saya merasa bahagia, karena dia peduli dengan keberadaan saya. Dia menanyakan “How are you, apa kabar” kalimat sederhana yang bermakna lebih ketika kita ingin seorang menyapa kita.

Saya menulis di sebagian kertas lusuh itu,I am fine, thank you. I love your picture. Please keep writing and drawing.” Lalu, saya menyobeknya sebagian dan memberikan kepada seorang anak untuk mengembalikan potongan dari bagian kertas itu kepada si gadis cilik tersebut. Di sela waktu istirahat, ketika saya berada di tengah guru-guru. Ada bayangan di jendela ruang guru, si gadis cilik itu melambaikan tangannya sambil memegang bagian dari kertas lusuhnya, dan mengucapkan “Thank you.” Saya tersenyum dan melambaikan tangan kembali. Dan, si gadis cilik itu tersenyum sambil lari bergabung bermain dengan teman-temannya. Sebuah senyuman tertinggal di hati saya sepanjang hari itu. Dan, saya yakin si gadis cilik itu juga punya kebahagiaan sendiri yang cukup untuk disimpannya.

Ketulusan dan perhatian tidak membutuhkan banyak uang untuk di wujudkan. Untuk tersenyum dan melambaikan tangan kita tidak perlu izin khusus. Hanya keinginan untuk peduli akan memberikan kita kesempatan untuk menciptakan keindahan dan kebahagiaan di hati sahabat dan kerabat kita.[lkk]

* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Tulisan-tulisan Lina terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Silaturahmi: Cara Mudah Mendapatkan Jodoh

gg1Oleh: Gagan Gartika*

Kemudahan bagi seseorang, bisa dianggap sukar bagi orang lain, kecuali bagi mereka yang pandai bersilaturahmi segalanya menjadi mudah.

~ Gagan Gartika

Mendapatkan pasangan hidup, misalnya, bagi sebagian orang sangat mudah, tetapi bagi yang lainnya sukar. Saya mempunyai teman yang susah sekali dapat jodoh. Saya ambil contoh seorang teman wanita lajang, yang sampai saat ini sudah berumur lima puluh lima tahun, ia sukar sekali mendapatkan jodoh. Bukan tidak berkeinginan menikah, namun sulit banget mendapatkan pasangan hidup sehingga ia stres, hilang harapan.

Semula parasnya menunjukan dia wanita cantik, tapi kini sudah mulai memudar, kuyu, bahkan suka berpakaian asal-asalan. Dirinya merasa tak ada lagi yang akan memerhatikan. Kalau ditanya dia cepat tersinggung. Kini dia menumpahkan perhatian pada kucing sehingga kucing di rumahnya semakin banyak. Ia memelihara, memberi makan, memandikan, memakaikan baju, dan menjadikan semua kucingnya lucu-lucu.

Saya sendiri sempat bertanya, “Kenapa masih sendiri, apa enggak ingin menikah? Jawabannya, datar-datar saja, menunjukan dia frustrasi dalam usaha mendapatkan laki-laki.

Lain cerita dengan teman saya yang satu ini. Teman pria ini malah hobinya kawin, padahal pekerjaan belum punya. Bila ada pekerjaan, ya hanya sekali-kali. Itu pun kalau ada yang menyuruh menyopir sehingga penghasilan tidak jelas. Tetapi aneh, kok istrinya banyak? Ketika saya tanya, “Istrinya makan dari mana? Jawabannya enteng banget, “Mereka masing-masing cari sendiri.

Nah, bagi seseorang, berpoligami ini mudah sekali dijalankan. Sementara bagi yang lain, susah sekali, bahkan bisa menimbulkan stres karena harus membagikan keadilan.

Lalu, apa rahasianya, agar mudah mendapatkan pasangan hidup? Ternyata sederhana, yaitu mau membuka diri untuk bisa bergaul dan bersilaturahmi.

Dengan bersilaturahmi, kita bisa menceritakan keinginan kita kepada teman. Siapa tahu sebagai teman mereka bisa membantu? Sebab, yang susah mendapatkan jodoh itu tidak hanya dialami kaum wanita, tetapi banyak juga dari kaum laki-laki.

Teman saya, sering dipanggil Pak Ong, ia hidupnya membujang (usia 48 tahun). Sehingga, segala keperluan hidupnya serba dikerjakan sendiri, mulai dari mencuci, menjemur, menyeterika, sampai keperluan makan. Lagi-lagi, bujang lapuk ini ketika ada masalah sedikit saja juga sering tersinggung. Saya sendiri tak mengerti kok setiap orang yang belum dapat jodoh, apa berperilaku begitu ya, cepat tersinggung? Jawabannya, biarlah kalangan psikolog yang bisa menjawab. Tetapi kenyataan yang saya temui hampir sama.

Makanya, saya pikir kenapa ya mereka sulit mendapatkan jodoh? Sementara, yang lain tampaknya gampang-gampang saja. Akhirnya, penyelenggara biro atau lembaga kontak jodoh pun ramai dikunjungi. Biro-biro jodoh ini sebagai mediasi untuk mempertemukan mereka yang kesulitan mendapatkan pasangan. Dalam kegiatannya, lembaga ini lebih banyak menerapkan pola silaturahmi untuk menyandingkan mereka.

Biro-biro tersebut membuat serangkaian event agar para bujang dan lajang itu bisa dekat, berkumpul bersama, menyanyi bersama, olah raga bareng, piknik, sehingga memungkinkan mereka saling mengenal dan bercerita.

Ketika berkumpul bersama, misalnya, mereka perlu saling menyapa, bersalaman, saling menceritakan tentang hobi, kesenangannya, pekerjaan sehari hari sampai kepada tipe idaman yang diinginkan. Kagiatan pertemuan sering diadakan terus-menerus sehingga mereka mendapatkan pasangan yang cocok.

Melihat model itu, ternyata silaturahmi mempunyai kekuatan yang ampuh bagi orang yang susah mendapatkan jodoh.

Menyontek model yang dilakukan biro jodoh ini, bagi kita yang masih jomblo, namun tidak berkenan datang ke sana, bisa berusaha mendapatkan pendamping hidup dengan sering melakukan silaturahmi. Caranya ya dengan mendatangi perkumpulan-perkumpulan yang banyak massanya, bertegur sapa lewat internet, karena di sana pasti akan mendapatkan peluang dan ketemu berbagai macam orang.

Dalam silaturahmi, supaya lancar kita perlu memilki sikap penolong dan mau membantu orang yang sedang dalam kesusahan. Hasil bantuan kita akan mendapat perhatian dari orang lain sehingga citra kita sebagai seorang penolong dan peduli terhadap orang lain makin melekat.

Makanya, saya yakin bagi orang yang tadinya susah mendapatkan jodohdengan sering melakukan silaturahmiakan cepat memperoleh apa yang dicita-citakan. Kita bisa meluaskan hubungan, meluaskan relasi. Dan, dengan banyaknya kenalan, masak sih enggak ada yang melirik kemampuan kita? Apalagi memiliki jiwa penolong. Pasti deh, dapat dan mudah. Hehehe….[gg]

* Gagan Gartika adalah praktisi Silaturahmi Marketing (SiMark), pengusaha di bidang forwarding, transportasi, dan pengurusan jasa kepabeanan pada PT Kumaitu Cargo dan PT Penata Logistic. Ia adalah pemilik Lembaga Pendididikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhirnya adalah S-2 Manajemen dari Ibii, Jakarta. Selain itu, pada bidang pengajaran Gagan mengabdi sebagai dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Per November 2009, Gagan tergabung sebagai Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com. Artikel di atas merupakan bagian dari naskah yang hendak diterbitkan menjadi buku dengan judul The Power of Silaturahmi. Gagan dapat dihubungi melalui pos-el: gagan[at]kumaitucargo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Samurai Sejati 9: Jangan Bangunkan Satpam!

rm1Oleh: Risfan Munir*

Tugas satpam ialah menjaga dan memberi rasa aman pada penghuni area yang dijaganya. Dia akan menahan atau mengusir pengganggu kenyamanan penghuni.

Ternyata di otak kita ada yang berfungsi “menjaga kenyamanan” diri kita, yaitu yang disebut amygdala. Sebagaimana satpam, tugasnya menangkal dan melumpuhkan ide, informasi yang potensial “mengancam kenyamanan” diri kita. Saat tiba-tiba kita dikejutkan oleh benda jatuh, ada kendaraan mau menabrak kita, atau ancaman lainnya, amygdala “memerintahkan” pikiran dan tubuh kita untuk bereaksi sangat cepat dan mengenyampingkan hal-hal lain, sebagai refleks mempertahankan diri. Cara kerjanya adalah “reaksi cepat”. Ini bagus tentu, tapi kelemahannya sering emosional, kurang berpikir panjang. Kelemahan ini yang sering merepotkan kita.

Rupanya amygdala ini juga “menjaga” diri kita dari ide “perubahan ” yang akan kita lakukan, yang potensial mengganggu zona kenyamanan (comfort zone) kita. Mengapa upaya peningkatan kualitas atau pengembangan diri seperti niat berolah raga, menurunkan berat badan, meskipun pikiran rasional kita menyatakan itu sangat penting, tetapi nyatanya kita sulit melakukannya. Itu antara lain karena amygdala menolak, karena dia spontan ingin “menyelamatkan” kita agar tetap  dalam kenyamanan.

Ide perubahan seperti mengurangi berat badan dengan olah raga dan diet. Ide berhenti merokok. Ide menulis artikel, apalagi menulis buku, semuanya mengganggu “kenyamanan” diri kita. Biasa pagi baca koran sambil minum kopi kok harus olah raga. Biasa makan jerongan yang lezat, kok harus diet. Biasa menikmati sedapnya menghisap rokok, kok harus distop. Biasa santai kok harus mengerahkan pikiran untuk menulis. Maka, amygdala bagaikan satpam, bereaksi cepat mempertahan diri kita agar tidak usah melaksanakannya, agar nyaman dan tenteram.

Oleh karena itu, jika rasio kita mengendaki kita berubah, atau melakukan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi diri dan tujuan kita, maka lakukanlah itu “tanpa membangunkan amygdala“. Caranya ialah bergerak tanpa menimbulkan “suara, kegaduhan”, berjingkat, menyelinap bagaikan ninja, agar si satpam tak terbangun.

Lakukanlah perubahan mulai dengan langkah-langkah kecil sederhana, sehingga “radar amygdala” tidak mendeteksinya, sehingga tak ada penolakan. Inilah prinsip dari “kaizen” alias continuous process improvement, yaitu proses perbaikan berkelanjutan.

Saya sendiri sudah merasakan manfaatnya. Di rumah saya punya persoalan dengan tumpukan dokumen dan buku ada di mana-mana, di ruang kerja, di garasi, dan di gudang. Tumpukan kertas yang menurut saya “nanti ada manfaatnya.” Saking berantakannya sehingga untuk menyortir dan merapikannya, bayangan saya perlu waktu dan kerja ekstra. Jadi kalau diingatkan istri, saya selalu mengatakan,”Nanti kalau libur panjang.” Tapi bisa ditebak, kalau libur panjang, Lebaran dan Tahun Baru, pasti untuk santai atau bepergian. Jadilah tumpukan kertas itu makin menggunung.

Saya berpikirnya nanti saja sekalian kerja bakti besar-besaran. Dan, masalahnya ternyata bukan kerja fisiknya saja. Masalah membuang barang milik adalah masalah psikologis, “Sayang dibuang, siapa tahu proyek berikutnya perlu, atau ada kenangannya.” Sehingga, penolakan batin ini juga faktor besar. Walau tumpukan barang membuat rumah seperti gudang, dan omelan terus datang.

Akhirnya, saya pilih menerapkan prinsip “kaizen” ini. Pelan-pelan tumpukan demi tumpukan saya tangani. Walau kadang cuma “tega” membuang satu dua paper tak apa, kalau teganya memang baru segitu. Saya jaga agar tidak seperti “kerja bakti”, tapi kegiatan rutin seperti merapikan meja sebelum dan setelah bekerja. Ternyata, ini berjalan tanpa perlawanan berarti dari “satpam amygdala.” Setelah beberapa waktu, mulai tampak rak dan lemari jadi longgar. Ruang kerja jadi longgar, garasi dan gudang kelihatan dindingnya.

Bidang penerapan yang lain ialah olah raga. Bagi yang tidak hobi, anjuran pikiran untuk berolah raga itu selalu ada alasannya. Alasan paling klasik ialah tidak ada waktu. Apalagi bagi yang tinggal di wilayah Bodetabek, yang berangkat sebelum jam 6.00 pagi dan sampai di rumah paling cepat jam 18.00 malam. Tapi ternyata masih sempat nonton TV. Saran untuk gerak badan (tak usah disebut olah raga kalau ‘mengerikan’) di depan TV, mulai dari stretching, jalan di tempat, lari di tempat beberapa menit sambil tetap menikmati acara TV ternyata luamayan juga. Tanpa sadar sudah gerak badan 15 menit. Kalau ini bisa dikerjakan sungguh berbeda dibanding dengan beralasan tak oleh raga selama seminggu, sebulan, setahun sebelumnya. Seorang senior saya di kantor yang usianya di atas 60 tahun tapi masih menunjukkan kebugaran. Sungguh mengagumkan. Ketika ditanya apa olah raganya, ternyata jawabannya “lari-lari kecil di dalam rumah, atau di kamar hotel kalau sedang travelling.”

Saya sekarang sedang menerapkannya dalam meningkatkan volume minum air putih. Sekali lagi saya kapok gagah-gagahan, sehingga saya minum sedikit demi sedikit, tapi botol air mineral selalu ada di samping. Tanpa sadar 3-4 botol terminum juga tiap hari. Sekali lagi kuncinya adalah kaizen, perlahan agar “satpam amygdala” tidak sampai bangun, sehingga menciptakan alasan untuk menunda.

Kesimpulannya, “think big, start small, act now.” Biasanya kita gagah-gagahan pasang target besar, tapi selalu ada alasan, “Tunggu kalau ada waktu, ada uang, kalau yang lain juga siap.” Nyatanya, comfort zone kita juga terlalu nyaman untuk ditinggalkan.

“Change or die!” kata orang. Iyalah, tapi mulai pelan-pelan, jangan sampai satpam amygdala di otak kita bereaksi. Kata ludruk Suroboyoan,ojo nggugah asu turu,” jangan bangunkan anjing tidur. Kalau amygdala kita sadar, ada saja argumen yang dibisikkan ke pikiran untuk tetap nyaman, tunggu waktulah, uanglah, temanlah, nanti saja sekalian. Act now! Selamat mencoba.[rm]

* Risfan Munir adalah penulis buku Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati (Gramedia Pustaka Utama, 2009) dan Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif (LGSP-USAID, 2004, 2008). Kolumnis tetap pada www.AndaLuarBiasa.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Kalau Bisa Dipersulit Kenapa Harus Dipermudah?

iyOleh: Iftida Yasar*

Ingat iklan layanan masyarakat yang menggambarkan buruknya pelayanan publik di Indonesia? Sebagai rakyat, kadang untuk mengurus segala sesuatu harus dilalui dengan susah payah, dan waktu juga terbuang sia-sia. Urusan KTP sekarang sudah lancar, begitu juga pengalaman saya mengurus perpanjangan pasport, lancar dan pembayaran sesuai dengan harga yang tertera di loket. Sepanjang pengalaman saya, PLN sebagai satu-satunya perusahaan yang menyediakan listrik bagi kita, masih memberikan pelayanan yang buruk. Listrik bisa saja mati tiba-tiba, hanya PLN dan Tuhan yang tahu kapan listrik akan mati.

Coba bagi Anda penggemar olahraga sepeda, apakah anda menikmati enaknya bersepeda di kota Jakarta yang macet, berdebu, dan penuh dengan lalu lalang kendaraan yang tidak mau mengalah? Jika Anda nak bus kota, hanya busway yang agak lumayan, baik kebersihan, kenyamanan, maupun kelancarannya. Yang lain seperti metromini, angkot, ojek, bus kota, kereta api rakyat, semua memerlukan kesabaran, dan juga hati yang lapang untuk tidak protes karena tidak ada pilihan lain.

Hal ini berbeda dengan Jepang, teman! Di Jepang pepatah di atas tidak berlaku. Jepang sebagai negara yang memahami dan menjalankan dengan baik konsep negara kesejahteraan, mampu membuat rakyatnya menikmati dan bangga menjadi orang Jepang. Begitu memasuki bandara Narita, terlihat segala sesuatunya telah ditata dengan rapi. Mulai dari penataan interior yang menyejukkan, baik warna maupun perabot yang sederhana dan berkelas, sampai petugas yang melayani di bandara. Mereka menyambut tamu dengan ramah dan menggunakan bahhsa Inggris yang jauh lebih baik dibandingkan ketika saya ke Jepang tahun 1991. Petugas mampu menerangkan cara mengisi formulir barang yang kita bawa masuk Jepang. Petugas imigrasi berdandan ala anak muda sekarang, rambut gondrong tapi rapi, setelan jas yang modis, ramah, dan tidak berwajah angker.

Dari Narita ke Chiba kami naik bus limousin yang bersih dan mewah. Kopor bawaan juga dilayani sampai masuk ke dalam bagasi. Ada buku saya ketinggalan di dalam bus dan baru ingat dua jam kemudian. Oleh petugas hotel dibantu dicarikan pengemudi yang tadi mengantar saya. Dan, kami bertemu jam 16.16 sore, tepat di tempat yang sama dan dengan buku dikembalikan secara utuh. Sungguh pelayanan yang sopan, cepat, dan ramah.

Sore hari di tengah cuaca dingin saya belanja di Carefour terdekat dari hotel dengan berjalan kaki. Terlihat orang Jepang dengan santai naik sepeda di trotoar lebar yang khusus disediakan bagi pejalan kaki dan pemakai sepeda. Cuaca dingin tidak menghalangi semangat untuk bersepeda karena memang suasana kota memungkinkan untuk itu.

Di depan hotel tersedia payung umum yang boleh dipinjam bagi pengunjung hotel yang kebetulan tidak membawa payung. Jika sudah selesai harap dikembalikan dan lama meminjam tidak boleh lebih dari tiga hari. Tidak ada petugas yang mencatat siapa yang memakai payung dan kapan mengembalikannya, apakah lebih dari tiga hari, dan sebagainya. Tetapi, orang Jepang yang taat aturan akan mengikuti aturan pinjam-meminjam payung. Taman kota tertata rapih, gedung asrama bersih, dan di mana-mana tersedia fasilitas umum yang baik. Seperti: lobi ruang tunggu, kamar mandi yang bersih, kantin, serta kamar asrama yang rapih dan bersih. Wow, rasanya enak ya jadi rakyat Jepang, semuanya diperhatikan dengan baik oleh pemerintahnya.

Bagi saya, yang paling berkesan adalah fasilitas kamar mandi umum yang sangat nyaman. Toilet umum dilengkapi dengan berbagai tombol dengan warna berbeda sesuai kegunaannya. Ada tombol merah dengan tulisan stop, ada tombol hijau untuk membilas kalau kita buang air kecil, ada tombol pink untuk bilas buang air besar, dan yang paling hebat ada tombol putih yang jika dipencet akan mengalunkan lagu. Bagaimana pemerintah Jepang ingin membahagiakan dan melayani rakyatnya terjawab melalui kelengkapan toilet umum tadi. Bahkan, pada musim dingin seperti sekarang, jika kita duduk di toilet maka akan terasa hangat, begitu juga air bilasan disetel hangat.

Di tempat saya menginap dan mengikuti pelatihan namanya OVTA (Oversea Vocational Training Association), terlihat banyak pekerja Indonesia yang mengikuti kerja magang di Jepang. Anak-anak muda yang kelihatan gagah, tampan, dan memiliki semangat serta harga diri sebagai pekerja. Setiap kali bertemu mereka akan mengucapkan ”konichiwa” atau selamat siang, sambil menunduk dengan sopan. Sungguh membanggakan melihat anak bangsa yang kalau dididik dengan benar mampu membuat dirinya berkualitas. Budaya Jepang yang sopan, disiplin, dan semangat bekerja yang tinggi mampu dengan cepat diserap oleh mereka yang berada di lingkungan ini.

Indonesia kamu bisa! Hai…hai dozo, tapi kapan?![iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Menguak Sukses Lewat Inventarisasi Keahlian

rs1Oleh: Relon Star*

“Jangan pusing dengan apa yang orang lain lakukan,

tetapi sibuklah dengan apa yang bisa Anda lakukan.…”

~ Relon Star

Saat ini saya sedang membimbing komunitas pelajar di SMA yang ada di dekat rumah. Mereka sedang menapaki kelas 3 SMA, dan mulai sibuk memikirkan kuliah. Beberapa dari mereka sudah menemukan bidang masing-masing, dan memilih jurusan kuliah sesuai dengan minat mereka. Sebagian lagi konsultasi pada saya apa yang harus mereka pilih. Salah seorang dari mereka di setiap kali pertemuan sangat mendominasi pembicaraan. Makanya, saya menyarankan untuk memilih jurusan komunikasi.

Tetapi, selalu ada orang yang seperti ini. Simak pernyataan yang diberikan oleh salah seorang pelajar ini: “Ci, saya iri pada temanku. Dia itu memiliki kelebihan di bisnis. Sejak SMA saja dia sudah mengerti tentang bagaimana berbisnis. Wah, pasti masa depannya cerah. Setiap kali saya ke rumah dia, pasti dia sudah berada di depan komputer untuk mengikuti perkembangan saham—bisnis yang juga digeluti oleh orang tuanya. Dia calon orang sukses.”

Kemudian saya bertanya, “Bagaimana dengan kamu? Apa yang kamu rencanakan dalam hidup kamu?”

Ah, saya enggak bisa apa-apa”, ujarnya.

Dan, Anda pasti bisa menebak apa yang saya katakan padanya. Tentunya, motivasi. Belakangan saya baru tahu bahwa dia berminat di perminyakan dan akan mengambil kuliah di ITB.

Fokus pada keahlian yang kita miliki akan memunculkan kekuatan yang bermuara pada kesuksesan. Ditambah lagi dengan kekonsistenan untuk terus melatih diri mengasah keahlian tersebut.

Saya menemukan keterampilan dalam menulis ketika berusia 28 tahun. Agak terlambat, memang. Idealnya, orang mulai menemukan keahliannya saat berusia dua puluhan.

Namun, daripada terus menyesali keterlambatan saya dalam menemukan keahlian menulis, saya memilih untuk fokus pada kekuatan saya ini. Minimal, sebulan dua kali Anda dapat menikmati tulisan saya di website Andaluarbiasa.com. Menulis di Andaluarbiasa.com juga merupakan salah satu usaha saya dalam mengasah keterampilan menulis.

Siapa pun yang bekerja di toko eceran tahu apa arti kata “inventarisasi barang”. Sebagai seorang karyawan, bila Anda melakukan inventarisasi itu berarti Anda mulai mendata produk-produk yang ada di atas rak. Anda menghitung satu persatu setiap barang sampai Anda memeroleh catatan yang akurat tentang apa yang Anda miliki dan apa yang Anda butuhkan. Kebanyakan toko melakukan inventarisasi sekali atau dua kali setahun. Beberapa toko melakukannya setiap bulan. Sebenarnya, Anda tidak dapat benar-benar menjalankan bisnis dengan baik tanpa mengetahui apa yang Anda miliki di daftar inventaris Anda.

“Hal-hal yang merupakan hobi di masa lampau, kalau dikembangkan secara profesional pun akan menghasilkan karya yang tidak tanggung-tanggung,” demikian diungkapkan Jennie S.Bev.

Seorang pemain tenis meja, jika ia ahli dalam melakukan backhand, sebaiknya ia terus menggunakan backhand tersebut untuk melumpuhkan lawannya. Ada lagi yang ahli melakukan forehand, kenapa harus memaksakan diri melakukan backhand jika dengan forehandnya saja lawan bisa mati kutu?

Sewaktu saya mulai mendaur ulang hidup saya di tahun 1999—setelah sembuh dari kecanduan narkoba—saya mulai menginventarisasi keterampilan saya untuk menata masa depan. Okelah, waktu saya sudah terbuang selama tujuh tahun karena terjerumus narkoba. Tapi, saat itu saya berusia sembilan belas tahun. Saya memilih melihat puluhan tahun yang masih bisa saya benahi, ketimbang tujuh tahun yang sudah porak-poranda. Tidak ada gunanya menyesali yang tujuh tahun, sedangkan puluhan tahun ke depan masih ada dalam genggaman saya.

Saya meyakini bahwa Tuhan memberikan setiap orang kemampuan yang berbeda. Daripada Anda terlihat lemah karena terus meratapi kekurangan Anda, lebih baik mulai fokus pada keahlian Anda. “Jangan pusing dengan apa yang orang lain lakukan, tapi sibuklah dengan apa yang bisa Anda lakukan.”

Masakan Anda kalah dengan mantan morfinis ini?[rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 4.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

5 Elemen dan 5 Aspek Kehidupan: Kesadaran, Bakat, Sifat, Profesi, Kesehatan

ahg1Oleh: Aleysius H. Gondosari*

Di China, konsep Wu Xing serta Yin dan Yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan seperti spiritual (Tao), kesehatan (akupunktur), pernapasan sehat (Chi), olahraga kesehatan dan bela diri (Tai Chi dan Chi Kung), geomansi (Feng Shui), dan astrologi (Shio).

Demikian pula di India, konsep Pancha Mahabutha dan Tiga Guna diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan seperti spiritual (Yoga), pernafasan sehat (Pranayama), olahraga sehat (Asana), dan pengobatan (Ayurveda).

5 Aspek Kehidupan

Dari hasil analisis energi, saya menemukan adanya energi dari 5 aspek kehidupan dari 5 Elemen, yaitu:

1. Aspek Spiritual: spiritual, kesadaran, nilai-nilai, meditasi, intuisi, konsentrasi.

2. Aspek Pendidikan: bakat, kecerdasan, pendidikan.

3. Aspek Karakter: karakter, sifat.

4. Aspek Kekayaan: kekayaan, penghasilan, rejeki, bisnis, usaha, karir, pekerjaan, profesi.

5. Aspek Kesehatan: kesehatan, panjang umur, kekuatan, perlindungan.

Pada setiap orang, aspek yang menonjol akan berbeda-beda, tergantung kepada elemen-elemen yang aktif. Kita akan mengambil contoh 5 orang dengan elemen aktif yang berbeda-beda.

Orang yang pertama mempunyai energi yang menonjol pada aspek Kesadaran. Ia bisa mempunyai beberapa elemen yang aktif pada aspek Kesadaran sehingga ia lebih suka bergerak di bidang yang berhubungan dengan spiritual, kesadaran, nilai-nilai, intuisi, doa, dan meditasi.

Orang yang kedua mempunyai energi yang menonjol pada aspek Bakat dan Kecerdasan. Ia bisa mempunyai beberapa elemen yang aktif pada aspek Bakat, sehingga ia lebih menyukai hal-hal yang berhubungan dengan bakat dan kecerdasan. Sebagai contoh, orang yang mempunyai bakat sepakbola akan senang bermain bola sejak kecil.

Orang yang ketiga mempunyai energi yang menonjol pada aspek Karakter. Ia bisa mempunyai beberapa elemen yang aktif pada aspek Karakter, sehingga ia selalu lebih mementingkan karakter, sifat, dan penampilan.

Orang yang keempat mempunyai energi yang menonjol pada aspek Kekayaan. Ia bisa mempunyai beberapa elemen yang aktif pada aspek Kekayaan, sehingga ia lebih fokus pada bagaimana meningkatkan kekayaan, penghasilan, rezeki, bisnis, usaha, profesi, karier, dan pekerjaan.

Orang yang kelima mempunyai energi yang menonjol pada aspek Kesehatan. Ia bisa mempunyai beberapa elemen yang aktif pada aspek Kesehatan, sehingga ia tampak selalu memerhatikan aspek kesehatan, panjang umur, kekuatan, serta perlindungan dari bahaya.

Tentu orang tidak dibatasi hanya mempunyai kemampuan pada aspek tertentu saja. Orang bisa saja mempunyai energi yang cukup untuk dua aspek kehidupan atau lebih. Jadi, bisa saja ada orang yang mempunyai kemampuan yang menonjol pada aspek Kesadaran, Sifat, dan Kesehatan tetapi kurang menonjol pada aspek Bakat dan Profesi.

Orang yang lain bisa saja mempunyai kemampuan yang menonjol pada aspek Bakat, Karakter, dan Profesi, tetapi kurang menonjol pada aspek Kesadaran dan Kesehatan.

Hal ini menjelaskan mengapa tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Sebab, jarang sekali ada orang yang energinya aktif pada seluruh aspek kehidupan. Jadi, kita akan menemukan orang-orang seperti contoh berikut ini:

* Orang pertama yang mempunyai bakat yang sangat menonjol, tetapi kariernya tidak cemerlang.

* Orang kedua mempunyai kecerdasannya biasa-biasa saja, tetapi karier dan bisnisnya luar biasa.

* Orang ketiga mempunyai kesadaran yang tinggi, menjunjung nilai-nilai yang baik, dan kariernya juga sukses.

* Orang keempat sangat berbakat, kariernya juga sukses, tetapi kesehatannya kurang baik.

* Orang kelima mempunyai karier yang sukses, kesehatan baik, tetapi kurang menyukai aspek kesadaran dan nilai-nilai.

Resep Sehat Bahagia

Dengan menyadari pada aspek-aspek mana saja kita lebih menonjol, dan pada aspek-aspek mana saja kita masih memiliki kekurangan, kita akan dapat memilih pola hidup yang sesuai dengan kelebihan kita, sambil memperbaiki kekurangan kita.

Di sini, kita lebih banyak membahas tentang aspek Kesehatan, karena setiap orang bisa sehat dengan memperbaiki energi yang aktif pada aspek Kesehatannya. Ia dapat meningkatkan elemen yang aktif untuk kesehatan secara bertahap mulai dari 1, 2, 3, 4, atau mengaktifkan kelima elemennya dengan menjalankan kebiasaan hidup sehat. Salam Sehat Bahagia![ahg]

* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, pengembang online business, dan sedang menulis buku tentang sehat secara alami dengan metode Energi 5 Elemen, yang juga dapat dilihat di www.5elemen.com. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail[dot]com atau di nomor telepon: 0818116669.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.7/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Doa Minta Sakit Maag

snOleh: Sofa Nurdiyanti*

Suatu ketika saya pernah berdoa, doa yang saya kira tak akan diminta oleh orang lain. Saya dengan penuh kesadaran, berdoa kepada Allah agar diberi sakit maag hehehe…. Mungkin Anda akan menganggap saya bodoh, kurang bersyukur, atau bahkan gila karena berdoa diberi sakit. Tetapi, saya sungguh berdoa agar diberi sakit maag.

Cerita ini bermula ketika saya mengetahui banyak di antara teman-teman yang menderita sakit maag. Anak kuliahan tidak tahu kenapa sedikit banyak punya riwayat dengan sakit maag. Mungkin karena pola makan yang tidak teratur menyebabkan teman-teman saya memiliki sakit maag. Maklum saja, jauh dari rumah merupakan sebuah pengalaman baru di antara mayoritas teman-teman saya. Mengurus diri sendiri, mengerjakan tugas kuliah, mengikuti aktivitas di kampus, sehingga sering kali membuat saya dan teman-teman lupa waktu.

Cerita tentang mahasiswa yang semasa sekolah sehat dan ceria bisa jadi stres berat kalau tidak cepat-cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus. Kalau di rumah bisa makan tiga kali sehari, tidur siang, dan main bersama dengan teman-teman, rasanya hal itu seperti mimpi waktu kuliah. Euforia tentang dunia mahasiswa yang menjunjung kebebasan, idealis, dan mandiri bisa jadi hancur jika tak sanggup menyesuaikan ritme yang sungguh amat berbeda dengan masa sekolah.

Awal masa kuliah pun, menjadi sumber stres terbesar bagi saya saat itu. Menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sama sekali baru, belajar mengurus diri sendiri, dan dituntut untuk selalu up to date dengan informasi di kampus, sungguh sangat melelahkan bagi saya. Apalagi saya tidak pernah jauh dari rumah. Hidup berbalik 180 derajat, rasa cemas dan stres menjadi makanan sehari-hari. Bayangan saya akan dunia kampus yang menyenangkan seakan sirna. Semuanya di luar perkiraan saya.

Awal masa kuliah, saya belum bisa membagi waktu dengan baik. Makan sering kali terlupa begitu saja. Sering kali makan di sore hari sekaligus makan malam. Jadwal kuliah di semester pertama lebih banyak masuk pagi, sebelum jam 7 sudah harus di kampus. Sedangkan warung makanan rata-rata belum buka, jadi tidak sempat sarapan. Jeda kuliah sering kali malas turun dari lantai empat untuk mencari makan di luar kampus (saat itu belum dibangun kantin di dalam kampus karena ada perjanjian dengan masyarakat sekitar, masyarakatlah yang membuka kantin di luar kampus sebagai mata pencaharian mereka). Biasanya, saya akan membeli roti atau camilan di toko terdekat, bukan membeli makan di warung-warung yang pasti penuh pada jam makan siang. Jadilah saya hanya makan malam dengan menu penyetan karena pada malam hari jarang ada warung yang menjual sayur seperti waktu pagi.

Meski pola makan tidak teratur, alhamdulillah saya tidak pernah sakit maag. Hanya saja fisik saya menjadi lemah. Mudah lelah dan sakit-sakitan. Hal ini berpengaruh terhadap prestasi akademik di kampus. Saya merasa tidak bisa berprestasi seperti semasa sekolah di SMA. Ketika menyadari beberapa teman saya mempunyai sakit maag, terbersitlah rasa ingin tahu seperti apakah rasanya sakit maag. Kok saya belum pernah sakit maag, ya? Hehehe....

Mendengar cerita teman yang menderita sakit maag, sungguh membuat saya miris. Mereka bilang,Rasanya sakit banget kalau kambuh.” Mereka tidak bisa makan sembarangan. Harus makan nasi dulu, jangan sampai lupa sarapan dan kambuh. Ke mana-mana membawa obat pereda sakit maag. Kalau melihat hal itu, sungguh membuat saya merasa kasihan pada mereka. Sehingga, itu membuat saya berpikir, “Rasanya gimana, ya? Selain teman kuliah pun, ternyata ada lagi seorang teman yang juga terkena sakit maag. Jika melihatnya secara fisik, orang tidak akan mengira ia terkena maag. Dia berbadan tinggi besar dan relatif gemuk, tetapi tetap saja terkena sakit maag. Hal ini membuat saya semakin heran, kenapa mereka bisa terkena maag?

Mulai saat itu, antara sadar dan tidak, saya mempunyai satu keinginan, yakni ingin diberi sakit maag. Doa yang aneh ini pun mendapatkan jawaban dari Allah. Lebih baik dari yang saya minta dan membuat saya merefleksikan permintaan yang sungguh keterlaluan, yang baru saya sadari belakangan. Seperti salah satu bab favorit saya dari tetralogi Laskar Pelangi; “Tuhan tahu tetapi menunggu”. Diceritakan Ikal dan Arai mendapatkan balasan hukuman atas kejahilan mereka semasa kecil. Mereka mendapatkan balasan 16 tahun kemudian, yang sungguh membuat mereka menyadari kesalahannya. Seperti halnya saya, doa saya pun terjawab dengan cara yang sungguh tidak terduga.

Pada awalnya saya merasakan sakit perut selama sebulan, yang membuat saya berpikir, Jangan-jangan, dah kena maag, neh?” Respon saya yang pertama adalah senang karena akhirnya tahu rasanya sakit maag seperti apa, walaupun itu baru sebatas dugaan saja. Tetapi hal yang aneh terjadi, sakit yang saya rasakan hilang begitu saja. Membuat saya berpikir, masak maagnya sudah sembuh? Tetapi secara fisik, saya merasa cepat lelah dan lebih banyak berdiam diri karena kaki terasa sangat capek saat pergi dan pulang kuliah. Walaupun tiap hari sudah menempuh jarak yang lumayan jauh antara pondok pesantren dengan kampus, tetap saja saya merasa mudah lelah. Hal ini bukan karena saya manja atau tidak kuat berjalan jauh. Saya sudah terbiasa berjalan jauh sejak sekolah sehingga tak menjadi masalah yang berarti ketika harus berjalan pulang pergi setiap hari.

Selain jadwal kampus yang lumayan padat, saya juga menjadi santri di salah satu pondok pesantren bagi mahasiswa di dekat kampus. Walau capek, tetapi hal ini sudah menjadi niat saya dari awal. Saya ingin sekali mempunyai pengetahuan di bidang agama secara mendalam. Dengan begitu, jadwal kuliah dan pondok semakin membuat saya kelimpungan. Meski begitu, saya tetap merasa sanggup menjalani keduanya. Namun, satu yang tidak berubah, saya semakin sering lupa makan. Lebih banyak makan camilan sebagai pengganjal perut ketika lapar.

Sewaktu pergi berlibur ke rumah kakak di Tangerang, saya terkejut ketika salah seorang teman kakak saya bilang jika saya menderita penyakit tertentu. Penyakit yang semula saya duga hanya alergi berubah menjadi penyakit yang lumayan serius. Awalnya, saya berpikir mustahil menderita penyakit tersebut jika mengingat umur yang masih muda hehehe.... Sejak saat itu, saya harus lebih berhati-hati dalam menjaga pola makan saya. Mencoba menahan diri untuk tidak memakan makanan favorit dan belajar hidup sehat. Selama di rumah kakak, saya belajar menerapkan gaya hidup sehat dan berniat menjadi vegetarian secara bertahap mengingat pantangan makanan yang harus saya hindari.

Semangat di awal proses dan lesu di akhir, itulah yang terjadi pada saya. Sekembalinya dari Tangerang, godaan makanan favorit saya pun menghadang. Niat menjadi vegetarian terlupakan begitu saja. Akibatnya sudah bisa ditebak, saya menjadi cepat lelah dan penyakit lama kambuh lagi.

Jika mengingat semua yang saya alami sekarang, saya menyesal telah berdoa diberi sakit maag. Seharusnya, saya bersyukur dengan kesehatan yang diberikan oleh Allah pada saya, bukannya menantang Allah dan berdoa yang tidak-tidak. Mungkin saja di antara Anda ada yang punya pengalaman yang hampir sama dengan saya, walaupun dalam konteks yang berbeda. Sering kali kita kurang bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan. Dan, kita justru meminta sesuatu yang kita anggap benar karena sesuai dengan keinginan kita. Setelah kita diberi jawaban atas setiap doa yang kita minta, terkadang keraguan dan kekecewaan menjadi demo tak terbantahkan kepada Allah. Kenapa tidak sesuai dengan keinginan kita?

Banyak orang yang bilang, di setiap rencana Allah baik dan buruknya di mata kita tersimpan hikmah yang besar, jika kita bersabar. Karena, rencana Allah pasti baik bagi hambanya. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita walaupun terkadang kita meragukan-Nya. Mungkin, yang dapat membantu kita mengatasi segala keraguan yang ada adalah IMAN. Jika ada iman di hati, tak perlu ada keraguan yang patut kita sandarkan pada-Nya. Mulai saja dengan hal yang sederhana, senyum dan syukur atas semua nikmat-Nya. Dan, jangan sekali-kali menantang Allah dengan keinginan yang konyol seperti yang saya lakukan hehehe. HAMASAH!!![sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

All Pain is The Same

adOleh: Alexandra Dewi*

Selama kita masih menjadi yang namanya manusia, tentu kehidupan kita akan mengalami pasang surut, up and down, joy and pain, tawa dan air mata. Tidak ada yang namanya tra la la tra lili terus. Namun kebalikannya, on more positive not, tentu tidak ada yang namanya nelangsa seumur hidup. Hanya saja tidak tahu kenapa yang sering diingat adalah masa-masa nelangsa yang membuat banyak dari kita berubah.

Banyak sudut pandang ketika kita sedang diberi cobaan oleh yang Mahakuasa dalam jalan kehidupan kita. Ada pendapat begini, cobaan membuat kita lebih dekat kepada Tuhan. Ada yang berkata supaya kita menjadi lebih dewasa. Ada juga pendapat, mungkin itu karma. Namun, apa pun itu jenis cobaannya, dalam masa itu we experience: Pain.

Dalam keadaan mengalami pain, orang-orang yang dekat dengan kita biasa memberikan kalimat-kalimat yang tujuannya adalah untuk menghibur. Salah satu cara menghibur adalah dengan menceritakan kasus lain yang sama parah atau lebih parah dari sudut pandang si penghibur.

Contoh soal, seorang teman saya yang kehilangan pekerjaan. Dia dihibur oleh temannya dengan menceritakan bahwa ada kenalannya yang kena penyakit jantung dan harus dioperasi sehingga, jangankan kehilangan pekerjaan, tetapi si teman itu juga harus menguras isi tabungannya untuk biaya berobat. Tujuan membanding-bandingkan masalah si A dan si B ini adalah untuk memberi perspektif atau sudut pandang yang membuat si pemilik masalah merasa better; bahwa masalah yang dia alami tidak ada apa-apanya dibanding masalah orang lain (yang tentunya akan diberi contoh masalah orang lain yang lebih besar).

Namun, mungkin kita semua pernah mengalaminya. Walaupun teman kita sudah menceritakan pengalaman orang lain yang lebih parah dari keadaan yang sedang kita alamikita tentunya bersyukur masalah tidak separah atau seberat masalah pembandingtetapi bersyukurnya hanya sejam atau maksimal hari itu saja. Setelah itu, kita biasanya kembali tenggelam dalam masalah kita sendiri.

Tentu saja kita sadar jika kita harus memilih masalah mana yang harus dihadapi: kehilangan pekerjaan atau mengalami sakit jantung dan harus dioperasi? Tentu kita akan memilih kehilangan pekerjaan karena pekerjaan masih bisa dicari lagi sedangkan kesehatan tidak bisa di ganti. Namun, walau sadar akan pilihan itu, yaitu kehilangan pekerjaan, tetap saja painfull dan berat untuk kita, simply karena masalah itu adalah masalah kita.

Kita yang mengalami kepusingan, kemumetan, dan segala kekhawatiran akan masa depan. Masa depan dalam hal ini adalah bagaimana membayar segala biaya kehidupan di bulan yang akan datang. Belum lagi kalau sudah berkeluarga, tentu beban tersebut akan lebih berat lagi. While, kita bersimpati kepada cerita si orang yang sedang berjuang melawan penyakit jantung, tetapi dengan bersimpati kepadanya pun masalah kita masih ada di sana.

Sehingga, suatu kali saya membaca salah satu tulisan Dr. Phil, “I was in the hospital with my broken leg while I saw a guy came in with no leg. That is terrible! But, it doesnt make my broken leg hurt any less.” Maksudnya, “Saya sedang berada di rumah sakit dengan kaki yang patah dan saya melihat seorang lain masuk dengan kaki yang baru diamputasi. Itu sangat menyedihkan, tetapi tidak membuat kaki saya yang patah menjadi tidak sakit.”

Ketika saya membaca kalimat sederhana itu, akhirnya saya mulai berpikir bahwa membandingkan diri kita dengan orang lain, terutama dari sisi masalah, ternyata hanya akan membantu kita sejenak. Kasarnya seperti, Oh, puji Tuhan itu tidak terjadi terhadap saya.Tetapi, tetap saja kita akan kembali menggerutu soal masalah kita sendiri karena besar kecilnya, how painfull it is, small pain, big pain, it is pain and that pain is even more important because it is our pain. Sangat manusiawi, sangat real. Dan, it is time to get real.

Masalah kita harus kita hadapi, harus kita selesaikan, bukan hanya dengan membandingkan masalah kita dengan orang lain yang lebih parah. Tetapi, menyelesaikan masalah dengan segera, melakukan segala upaya, damage control, dan upaya lain yang menyelesaikan masalah itu. Dan, God bless you, jika anda sudah tidak bermasalah lagi, mudah-mudahan Anda terketuk hatinya untuk membantu orang lain yang bermasalah.

Sudah menjadi contoh umum bahwa kita harus tahu bagaimana untuk take good care of ourselves dulu. Harus bisa menolong diri kita sendiri dulu baru kita bisa menolong orang lain. Ada analogi begini, jika pesawat terpaksa akan melakukan pedaratan darurat, kita harus mengenakan alat bantu pada diri kita sendiri dulu, baru kemudian kepada anak kecil yang traveling bersama kita di pesawat itu.

Namun, pengalaman saya pribadi pun memberi saya pelajaran tentang bagaimana menolong orang lain pada saat kita bermasalah. Ternyata, langkah itu justru menolong diri kita sendiri juga. Dan, it is my personal belief that kindness, never go out of style and this world goes around. Saya baik kepada Anda, tidak pasti saya akan mendapat kebaikan yang sama dari Anda. Namun, somehow, someway, karena dunia ini berputar, saya akan menerima kebaikan dari orang lain.

Nah, jadi mana yang benar dalam hal ini? Should we care for ourselves first and foremost atau tetap membagikan kebaikan dalam keadaan apa pun yang sedang kita alami?

Akal sehat berkata, kita tidak bisa membantu orang lain kalau diri kita sendiri sedang sungsang sumbel atau gundah gulana. Tetapi, misteri kehidupan menunjukkan bahwa kadang di tengah badai dan kenelangsaan kita, kita malah bisa keluar lewat upaya kita untuk tidak terlalu memfokuskan kepada diri sendiri dan membantu sesama. So what should we do? Inilah yang namanya diperlukan instict, judgement call, dan kebijaksanaan dalam bertindak.

Manakah yang bijak? Baik terhadap orang lain apakah selalu benar? Kalau dilihat dari cerita orang yang diberi air susu lalu membalas dengan air tuba, apakah bijak bila kita tetap berbuat baik terhadapnya? Tentu, terlepas dari segala urusan agama, apakah sebaiknya kita mengorbankan kepentingan diri sendiri demi orang lain?

Anehnya, jawaban dari semua pertanyaan ini , yaitu dibutuhkannya instict, judgement call, dan ilmu bijak, ternyata hanya bisa didapat dari kita melalui berbagai macam pain dan membantu orang lain yang sedang experience pain in their life.

Saya tidak percaya orang lahir lahir langsung jadi bijaksana. Saya ragu ada orang lahir dengan instict dan judgement call yang selalu pas dan tepat untuk dipakai di setiap situasi dan setiap dilema kehidupan. Jadi, kalau sekarang Anda atau saya, from one time to another mengalami somekind of pain, apa pun masalah Anda, masalah saya, tidak ada salahnya menyadari kita bersama sedang dibentuk dan dibekali dengan segala yang kita perlukan untuk menjadi sesuatu yang lebih baik, di luat dugaan kita semua.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 4 votes)

The Power of Praise: Mengubah Dunia Lewat Pujian

msOleh: Miranda Suryadjaja*

Memberi pujian adalah jalan tercepat dan terpendek menuju hati seseorang.

~ Miranda Suryadjaja

Seringkah Anda dipuji orang? Atau lebih penting lagi, seringkah Anda memuji orang lain? Memberi pujian adalah jalan tercepat dan terpendek menuju hati seseorang. Terlalu sedikit dan terlalu jarang pujian diberikan, namun semua orang mengharap dan mendambakannya. Bahkan, ada orang yang secara tidak sadar memfokuskan seluruh upaya dalam hidupnya untuk mendapatkan pujian.

Apakah pujian sebenarnya? Definisi pujian yang paling sederhana adalah menyatakan sesuatu yang positif tentang seseorang, dengan tulus dan sejujurnya. Pujian yang akan saya bahas berikut ini adalah pujian yang disampaikan langsung pada dan di depan orang yang bersangkutan, bukan pada orang ketiga maupun di belakangnya.

Seseorang tumbuh menjadi lebih tinggi tatkala dipuji.

Tidak ada contoh yang lebih nyata daripada apa yang saya saksikan di club Toastmasters, sebuah international public speaking club yang banyak cabangnya di kota-kota besar Indonesia dan dunia. Di sinilah saya pertama kalinya melihat skill memuji dipraktikkan secara langsung dan konsisten dengan hasil yang sangat konsisten pula.

Seperti kebanyakan anggota Toastmasters, saya menjadi anggota di club ini karena saya sangat tidak pede tatkala harus berbicara di depan umum. Kalau harus berbicara di depan orang banyak, sering kali saya sampai tidak bisa tidur malam sebelumnya karena gelisah dan khawatir.

Pertama kali saya harus berdiri dan berbicara di depan anggota club, saya sangat gugup. Jantung saya bertalu-talu tak berirama memukul dinding dada, rongga mulut kering kerontang, peluh dingin bercucuran, dan telapak tangan basah berkeringat. Mereka hening mendengarkan dan semua mata dan perhatian dicurahkan pada saya. Belum pernah seumur hidup saya mendapat perhatian begitu terfokus dan besar selama 6 menit. Saya begitu yakin bahwa pidato saya sangat jelek dan memalukan.

Namun, setelah selesai berbicara semua anggota bertepuk tangan riuh. Saya kaget, “Apa yang mereka tepuki? Kemudian, MC dari meeting tersebut menyalami saya dan mengatakan hal-hal yang sekarang saya tidak ingat lagi. Namun intinya, dia memuji pidato saya serta hal-hal yang tidak pernah saya dengar sebelumnya tentang diri saya. Semua yang disampaikannya bernada positif.

Setelah si MC, majulah seorang evaluator yang mengevaluasi pidato saya. Dia memulai dengan memuji usaha saya sebagai pemula serta beberapa hal yang telah saya lakukan dengan baik. Misalnya, tidak membawa catatan, topik yang menarik, dan beberapa hal lain lagi yang sebelumnya tidak saya bayangkan akan mendapat pujian. Kemudian, ia juga memberi masukan tentang hal-hal yang dapat ditingkatkan untuk pidato berikutnya, tanpa menilai apa yang saya lakukan salah. Semua hal tadi dilakukannya dengan ramah dan suportif. Evaluasinya diakhiri dengan ucapan, “Saya tidak sabar menunggu pidatomu yang berikutnya.Yang saya alami, kata kritik tidak pernah dipakai di lingkungan Toastmasters.

Di tengah kekagetan saya, muncul rasa aneh, bahagia, senang, dan surprised yang susah dipaparkan dengan kata-kata. Tetapi yang jelas confidence atau pede saya langsung melonjak tinggi saat itu juga. Saya merasa dihargai, berarti, dan punya harapan baru. Kalau sebelumnya saya tidak pernah menganggap bahwa saya punya kemampuan untuk jadi seorang pembicara, anggapan itu seketika sirna. Sebagai gantinya, saya merasa bahwa bukan tidak mungkin satu saat nanti saya bisa bicara sebaik para senior di club saya. Pulang dari club hati saya berbunga-bunga, penuh gairah, dan semangat untuk menyiapkan tugas atau pidato saya berikutnya. Padahal, di club ini tidak ada guru, tidak ada batas waktu tugas, dan tidak ada nilai lulus atau tidak untuk setiap proyek yang kita lakukan.

Sebagaimana saya alami, saya lihat secara langsung bagaimana member-member yang bergabung setelah saya juga mengalami hal yang sama. Semua mengalami transformasi yang mirip; menjadi lebih pede serta terus tumbuh kembang menjadi lebih baik dan makin baik lagi. Di sini saya melihat bahwa kekuatan dari pujian yang diberikan secara tulus dengan maksud untuk men-support dan memberdayakan masing-masing anggota ternyata sangat ampuh dan efeknya seketika.

Belum lama ini saya memberikan seminar Effective Communication pada staf Bappeda lokal. Di sini saya praktikkan dan ajarkan skill memuji pada murid-murid saya. Kebanyakan dari mereka tidak terbiasa, bahkan ada yang sama sekali belum pernah dipuji maupun memuji seumur hidupnya. Ketika saya berikan pujian pada yang tidak pernah menerima pujian, saya bisa melihat dan merasakan bagaimana hati mereka merekah bagai kuncup bunga terkena tetesan air hujan pertama setelah kemarau panjang, yang kemudian mengembang dan penuh rasa sukacita.

Sesuatu yang selama ini terperangkap dan terpendam, telah terbebaskan. Rasa malu, tidak percaya diri, perasaan rendah diri seketika sirna digantikan oleh rasa percaya diri, dan keyakinan akan nilai dirinya. Matanya berbinar-binar, berdirinya lebih tegak, dan seketika terasa lebih ‘hidup’. Seiring dengan perubahan ini, sikapnya melembut; sikap keras, terkucil, ataupun ketidakberdayaan dengan cepat pudar digantikan oleh kelembutan dan welas asih.

Sekali lagi, saya menjadi saksi dari kekuatan pujian. Dan, rasa bahagia ini menular jauh lebih cepat daripada virus terganas yang kita kenal. Sebagai pengamat atau pemberi pujian, saya pun merasakan suka cita mendalam.

Bangsa kita memakai alasan bahwa kebiasaan memuji tidak sesuai dengan budaya Timur. Dengan alasan itu orang menganggap tidak perlu memuji dan sewajarnya tidak usah berharap untuk dipuji. Tetapi meski datang dari kebudayaan yang tidak biasa memuji, saya jamin tidak ada orang yang tidak berbunga-bunga hatinya apabila dipuji dengan tulus. Kata kunci di sini adalah tulus. Setiap orang bisa merasakan apabila pujian yang disampaikan padanya tidak bermuara dari hati yang memberikannya.

Di kalangan perkotaan dan masyarakat yang berpendidikan mungkin pandangan ini telah mulai mengalami pergeseran, dipengaruhi budaya barat yang kita tangkap lewat berbagai media massa. Para psikolog telah mulai mengajarkan untuk memuji anak agar mencapai prestasi yang maksimal. Namun, bagaimana perlakuan kita terhadap kaum yang marginal? Kalangan ekonomi rendah, pembantu, sopir pesuruh kantor, orang-orang dari strata ekonomi dan sosial terendah? Sering kali kebiasaan (baru) memuji tidak pernah singgah pada mereka, padahal mungkin merekalah yang paling membutuhkannya dan akan berkesempatan berubah paling banyak dari pujian yang tulus dari atasannya.

Mereka biasa paling sering disalahkan, dilecehkan, dan dikritik habis-habisan. Kritikan hanya akan mengerdilkan seseorang dan mematikan inisiatifnya. Sebaliknya, pujian akan menumbuhkan seseorang menjadi lebih kuat, berdaya, dan percaya diri.

Pujian membuat orang menjadi lebih baik. Dan, kemampuan memuji adalah skill yang sangat berguna untuk dikuasai. Orang yang sering dipuji cepat atau lambat akan belajar untuk memuji orang lain juga. Kalau kita sering saling memuji, kita akan lebih bahagia. Dan, kalau kita menjadi orang yang lebih bahagia, kebahagiaan akan cepat menyebar seperti virus, dan akan menjadikan dunia tempat yang lebih bahagia untuk dihuni.

Sekedar masukan, dalam diri setiap orang selalu ada hal yang bagus. Malahan, kalau kita mau kita bisa melatih diri untuk selalu pertama-tama melihat hal-hal yang positif dan sudah baik dalam diri seseorang, seperti yang dilakukan seorang evaluator di club Toastmasters di atas. Pasti ada yang baik dan bagus, karena Tuhan hanya menciptakan mahluk yang sempurna di mata-Nya. Kalau kita masih belum bisa memuji atau mencari sesuatu yang positif dalam diri orang lain, mungkin kacamata batin kita yang kotor dan perlu dibersihkan. Jangan lupa bahwa kita bisa mengubah hidup seseorang dengan sangat cepat hanya dengan seuntai pujian yang tulus.

Yuk kita coba ramai-ramai bikin hati orang di sekitar kita happy. Ayo kita buktikan efek dari memberi pujian dengan tulus.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putra. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

** Tulisan ini adalah bagian pertama dari seri tulisan The Power of Praise, The Power of Prayers and the Power of Faith (Kekuatan Pujian, Doa dan Keyakinan).

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Kenyamanan Hidup Pribadi dan Sosial

ekOleh: Eni Kusuma*

Rumusan orang mengenai kenyamanan hidup pastilah beragam. Maka, tak heran jika masing-masing memiliki definisinya sendiri. Makan enak, rumah mewah, penghasilan besar, dan sebagainya, mungkin menjadi bagian dari “isi” kenyamanan hidup dari kita semua. Sehingga, hal itu patut untuk diperjuangkan.

Tetapi, kenyamanan pribadi seperti di atas bukanlah segala-galanya bagi seseorang. Banyak orang yang telah memperoleh berbagai macam kenikmatan secara individu, tetapi justru merasa kesepian dan gelisah. Kenapa seperti itu? Tidak lain adalah ia telah melupakan kenyamanan yang lebih tinggi sebagai makhluk sosial yaitu kenyamanan sosial (istilah baru dari saya, hehehe…).

Di sini ia akan merasakan lebih bahagia ketika hidup di dalam komunitas tertentu. Lebih bahagia lagi jika bisa memberi kontribusi di dalamnya. Ia akan merasa hidupnya berguna, berarti, dan dihargai. Melalui komunitasnyalah ia bisa berekspresi, yang secara fitrah adalah sebuah kebutuhan. Orang yang hidup kaya raya cepat atau lambat akan mencapai puncak kejenuhan. Jika ia tidak bisa mengekspresikan dirinya maka ia akan merasa gelisah, tidak berguna, dan hidup terasa hampa. Meskipun segala kenikmatan telah dimilikinya.

Agar bisa berekspresi, seseorang butuh orang lain untuk mengapresiasi atau merespon ekspresinya. Bahkan, dengan pujian dan penghargaan. Ini adalah fitrah sosial sebagai manusia. Makanya, ia butuh hidup dalam komunitas tertentu. Karena sesungguhnya, salah satu bentuk kenyamanan hidupnya ada pada kehidupan sosial itu. Kenyamanan sosial ini akan mengantarkan seseorang untuk mencapai kenyamanan hidup yang lebih tinggi, lebih luas, dan lebih banyak.

Kita bisa membedakan lebih tinggi mana, apakah tingkat kenyamanan pribadi ataukah kenyamanan sosial, melalui gambaran di bawah ini.

Katakanlah soal makan enak. Kenikmatan makan adalah ketika ia bisa makan sampai kenyang. Yang menjadi parameter di sini adalah isi perut dan rasa di lidah. Jika sudah kenyang, makanan yang enak pun akan terasa tidak enak lagi. Dan, jika lidah sudah berulang kali merasakannya, semuanya akan membosankan. Mencoba mengejar lagi, mencari makanan yang lain, hasilnya sama saja. Betapa terbatasnya kenyamanan pribadi itu.

Demikian juga dengan penghasilan besar yang bisa untuk membeli rumah mewah, perhiasan, pakaian mahal, dan lain-lain. Awalnya sangatlah senang memiliki rumah mewah dan perhiasan mahal. Tetapi, itu tidak akan bertahan lama. Beberapa bulan atau tahun, perasaan itu sudah biasa lagi. Ketika ia hanya diukur untuk kepentingan pribadi, kenikmatannya menjadi demikian terbatas, tidak tahan lama dan semakin lama akan biasa bahkan membosankan. Makanya, supaya tidak bosan ia akan mengejar lagi dan lagi apa-apa yang belum ia punyai. Milik orang selalu menggiurkan. Dan, sering kali bosan dengan segala sesuatu yang telah dimiliki dan berulang kali dinikmati. Termasuk dalam urusan seksualitas. Maka, ia akan terjebak pada keserakahan.

Dalam kesempatan ini saya akan menyinggung sedikit tentang poligami. Apalagi sekarang marak kontroversi tentang berdirinya klub poligami di Bandung. Ketika poligami untuk kesenangan pribadi, maka poligami tak lebih adalah sebuah bentuk dari keserakahan manusia yang dilegalkan. Ini tak ada bedanya dengan sudah punya mobil, masih ingin punya mobil lagi lebih banyak. Karenanya sangat keliru kalau kita mencoba mengatasi desakan keinginan dan kesenangan pribadi dengan cara mengumbarnya agar tercapai kepuasan yang kita inginkan. Padahal, kepuasan pribadi tidak akan pernah terpuaskan. Jika berpoligami dibolehkan menurut agama yang mereka anut, apakah tidak keliru? Sedangkan di Kitab Suci mereka, tidak akan pernah ditemukan ayat yang membolehkan poligami karena alasan kesenangan pribadi.

Tentang berdirinya klub poligami yang asalnya dari Malaysia itu. Ini bukti bahwa mereka tidak nyaman dengan hidup mereka. Bosan, hampa, dan merasa diri tidak berarti meskipun telah memiliki empat orang istri dan kaya sekalipun. Makanya, mereka membangun komunitas agar mereka bisa mengekspresikan dirinya sehingga mendapat apresiasi atau bahkan penghargaan dan pujian dari komunitasnya tersebut. Sehingga, diharap hidup mereka tidak hampa lagi. Untuk itu masyarakat tidak perlu resah, kita semua memaklumi jika pemahamannya seperti itu.

Sangat terasa sekali bedanya, bukan? Ternyata kenyamanan pribadi itu sangat terbatas jika dibandingkan dengan kenyamanan sosial. Kita akan merasa sangat bahagia jika bisa memberikan kontribusi dan membantu orang lain. Semakin kita lakukan semakin kita bahagia dan puas. Bahkan, kebahagiaan dan kenyamanan kita tidak terbatas. Ini berarti kenyamanan yang lebih tinggi ada pada interaksi dan saling memberi manfaat. Kita boleh mengejar kenyamanan pribadi, tetapi tidak boleh mengumbarnya sehingga menjadi serakah. Karena kenyamanan pribadi itu cepat atau lambat akan mencapai titik kejenuhan. Sedangkan kenyamanan sosial tidak pernah mengalami titik jenuh. Karena sumbernya lebih banyak dan bersumber pada orang lain.

Demikiankah?[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox