Menariknya Mengambil Jalan yang Jarang Dilalui Orang

alexandra-dewi-rOleh: Alexandra Dewi*

Kita sering mendegar bahwa manusia senangnya mengambil jalan pintas. Daripada capek-capek sekolah dan belajar tahap demi tahap, dan karier merangkak dari bawah, mendingan jadi gigolo kalau ada modal tampang. Kan lebih cepat dapat uang? Itu soal pilihan karier. Jalan singkat lainnya adalah daripada diet sehat dan olahraga, capek, mendingan kalau ada dananya liposuction saja. Langsung kurus. Saya sendiri kalau ada jalan pintas, jalan cepat jadi kaya, cepat kurus, cepat ini dan itu, kemungkinan besar saya akan mengambilnya, terutama apabila sudah kefefet.

Namun ternyata, mengambil jalan pintas selain penuh dengan resiko; jadi gigolo bisa kehilangan harga diri belum lagi kalau ditangkap pihak berwajib, liposuction selain menguras kantong tentu merupakan operasi  besar berisiko tinggi. Nah, selain penuh risiko ternyata mengambil jalan pintas juga secara faktor kematangan mental kita akan membuat kita menjadi manusia yang kurang bahagia.

Pertama, apa pun yang kita dapatkan dengan usaha minimum atau gratisan, atau pada intinya didapatkan tanpa usaha keras, biasanya tidak kita hargai sepenuh hati. Makan dengan perut yang tidak lapar tidak akan seenak makan ketika kita sedang kelaparan. Jalan keluar dari suatu permasalahan yang kita temukan tidak akan membawa begitu rasa bahagia apabila masalah itu tidak muncul pada awalnya. There is no joy without sorrow. Tidak bisa dibedakan mana terang apabila tidak pernah melihat gelap.

So, all the process untuk menikmati kehidupan, seperti sebuah cycle, cycle kematian dan kehidupan. Tanpa pernah merasa kesepian (kematian) saya tidak akan tahu menghargai rasanya ditemani oleh teman-teman (kehidupan). Tanpa mengalami kesukaran finansial saya tidak akan tahu bagaimana menghargai uang. Tanpa kehilangan orang yang kita cintai kita tidak tahu bagaimana  bahagianya setelah kita berhasil melakukan proses letting go dan moving on. Tidak akan ada suatu transformasi yang significant dalam kehidupan kita apabila kita tidak bersedia melewati PAIN.

Hidup ini tidak bisa dibilang gampang. Life is hard. Begitu kita menyadari bahwa tidak pernah dijanjikan kepada kita bahwa hidup kita akan mudah, begitu kita menerima bahwa hidup ini memang sudah normal dan lumrah adalah susah, maka kita tidak akan merasakan lagi bahwa hidup ini susah. Inilah kehidupan, tidak lebih tidak kurang. Dan dalam menaunginya, apabila kita menyadari bahwa setiap pain and suffering bila kita lewati dengan kebijaksanaantidak mengambil jalan pintas dan dilalui dengan cara yang menyakitkan namun yang paling efektifjustru dari proses yang menyakitkan itulah kita dibentuk, ditransformasi menjadi manusia manusia yang luar biasa. Semakin kita bertambah usia, maka bertambahlah kebijaksanaan kita.

Bukan hanya bertambah angka usia tapi kematangan mentalnya ya segitu-gitu saja karena tidak pernah mau mencoba melalui tantangan hidup dengan cara yang menyakitkan. Realitas kehidupan dan kebenaran (truth) biasanya kita hindari apabila hal itu menyakitkan. Dan dari menghindari itu, kita hanya mengganti suatu realitas dengan jalan pintas. Cobalah kita mengambil jalan yang orang jarang lalui. Jalan pintas sudah penuh dengan orang. Jalan yang orang jarang lalui akan menuju ke suatu tempat yang tidak banyak orang yang bisa melihat, apalagi merasakan bagaimana rasanya tiba di tempat itu.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.8/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +8 (from 8 votes)

Menulis, Bernyanyi, dan Menggambar Mengembangkan Fungsi Otak

aleysius-hg-r1Oleh: Aleysius H. Gondosari*

Aktivitas-aktivitas kreatif ternyata dapat meningkatkan fungsi otak. Sebaliknya aktivitas yang tidak kreatif, menurunkan fungsi otak.

~ Aleysius H. Gondosari

Otak merupakan organ tubuh pada elemen kelima Eter. Dari analisis Energi 5 Elemen, saya mendeteksi kenaikan dan penurunan energi yang berhubungan dengan fungsi otak, tergantung kepada aktivitas yang dilakukan.

Fungsi Otak pada Anak Usia Balita, SD, SMP, SMA, 20-an, 30-an, 40-an, dan 50-an:

Anak usia balita umumnya banyak aktivitas sehingga fungsi otaknya mencapai 20%. Ketika duduk di SD, kegiatan belajar lebih banyak menghafal. Hal ini menyebabkan fungsi otak menurun menjadi 10%. Ketika naik SMP, kegiatan belajar semakin banyak menghafal, sehingga fungsi otak turun lagi menjadi 5%. Selanjutnya, sewaktu naik SMA kegiatan belajar semakin monoton sehingga fungsi otak turun lagi menjadi hanya 2%. Sewaktu masuk universitas, fungsi otak turun lagi menjadi hanya 1%.

Pada usia 20-an, rata-rata orang hanya menggunakan 1% dari kapasitas otaknya. Pada usia 30-an otak hanya digunakan 1/2% saja. Pada usia 40-an fungsi otak semakin menurun menjadi hanya 1/4%. Ketika memasuki usia 50-an otak yang digunakan semakin menurun menjadi hanya 0,05% saja.

Mengobrol, Menggambar, Menyanyi, Bermain Alat Musik, Menulis

Mengobrol dapat meningkatkan fungsi otak sebanyak 2%. Menggambar atau melukis juga dapat meningkatkan fungsi otak sebanyak 2%. Bermain alat musik juga dapat meningkatkan fungsi otak sebanyak 2%. Menyanyi dapat meningkatkan fungsi otak sebanyak 5%. Sementara menulis sebuah tulisan pendek juga dapat meningkatkan fungsi otak sebanyak 5%. Dengan menulis sebuah buku, fungsi otak akan meningkat sebanyak 10% hingga 20%. Menulis buku setebal Laskar Pelangi atau buku setebal Harry Potter dapat meningkatkan fungsi otak sebanyak 20%. Jadi, bila Anda ingin meningkatkan fungsi otak Anda kembali, berlatihlah menggambar, menyanyi, atau menulis.

Menonton TV dan Mendengar Lagu

Menonton TV hanya membuat otak berfungsi 1%. Mendengar lagu tanpa ikut bernyanyi membuat otak berfungsi sebanyak 1%. Jadi, sebaiknya ketika mendengar lagu Anda juga ikut bernyanyi sehingga fungsi otak meningkat menjadi 5%.

Dalam tulisan sebelumnya, saya telah menulis tentang seorang nenek berumur 98 tahun yang masih sehat dan senang menyanyi karaoke. Juga ada seorang nenek berumur 93 tahun yang setiap malam mengajar cucunya bernyanyi. Salam Sehat Bahagia![ahg]

* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, pengembang online business, dan sedang menulis buku tentang sehat secara alami dengan metode Energi 5 Elemen, yang juga dapat dilihat di www.5elemen.com. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail[dot]com atau di nomor telepon: 0818116669.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.8/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Samurai Sejati 10: Persepsi Konflik Bank Century

rmOleh: Risfan Munir*

Bagaimanakah Anda melihat masalah Bank Century yang menjadi topik berita beberapa minggu ini? Sebagai persoalan politik, persoalan hukum perbankan, persoalan tata negara, persoalan pidana korupsi? Dalam kebijakannya apakah betul secara ekonomi masalah Bank Century itu berdampak “sistemik” atau tidak? Dari adegan yang disiarkan media, kepada siapa Anda bersimpati, sebal, bingung?

Sikap kita dalam hal ini sangat dipengaruhi oleh persepsi, baik persepsi kita sendiri maupun sudut pandang dari jurnalis yang meliputnya. Jika persepsi kita dari awal sudah mengarah ke masalah keberpihakan politik, maka informasi yang kita tangkap, logika, argumentasi yang kita susun mengarah ke aspek politik (dukung pihak A atau B). Lain lagi kalau kita melihatnya dari perspektif teknis perbankan dan aturan perbankan yang ada.

Samurai legendaris Musashi berkali-kali menunjukkan pentingnya ‘menata persepsi’ sebelum dan selama bertarung. Sering dia mengosongkan persepsi (anggapan, dugaan, sudut pandang) agar tidak terkecoh oleh penampilan lawan, tapi sebaliknya ‘tampil aneh’ untuk membingungkan, atau mengacaukan persepsi, musuh bebuyutan yang sudah pernah mengenal dirinya.

Edward de Bono (2009) mengutip hasil riset yang dilakukan Prof. David Perkins of Harvard University yang menunjukkan bahwa “90 persen kesalahan dalam berpikir adalah kesalahan persepsi” (Edward de Bono, 2009). Kebanyakan orang mengartikan berpikir sebagai penggunaan logika, menyusun argumen. Mereka menyusun rangkaian sebab-akibat dari persoalan untuk memecahkannya dengan memperbaiki penyebabnya. Umumnya orang lupa soal beda persepsi dibalik logika tersebut. Padahal, kesimpulan yang diambil seseorang sudah diarahkan oleh persepsinya.

Betapa sering orang, atau kita, salah mendefinisikan persoalan. Anak yang kalau belajar selalu mengeluh pusing dianggap kurang cerdas, padahal mungkin dia butuh kacamata minus. Orang lain yang tidak mau makan makanan yang kita hidangkan kita anggap sombong, padahal ternyata dia pantang makanan pedas.

Mengapa dua orang atau lebih, dengan ilmu yang sama bisa berdebat seru? Ini sering terjadi karena perbedaan persepsi, beda sudut pandang. Contoh sederhananya soal kemacetan lalu lintas, yang satu menganggap itu persoalan jumlah/panjang jalan yang tak bisa mengimbangi pertumbuhan jumlah kendaraan; yang lain menganggap pertumbuhan jumlah kendaraanlah yang jadi sebab sehingga perlu dikendalikan. Perbedaan sudut pandang yang paling umum adalah pandangan tentang gelas “1/2 isi atau 1/2 kosong.” Pandangan optimis melihat sebagai 1/2 isi, sementara yang pesimis melihatnya kebalikannya.

Hal penting yang layak diperhatikan, bahwa logika sulit mengubah emosi dan sudut pandang orang, namun mengubah persepsi bisa mengubah emosi. Mereka yang dari awal berpihak kepada Pansus DPR, atau sebaliknya berpihak kepada Pemerintah sulit diyakinkan dengan logika, argumen yang berbeda dengan anggapan awalnya itu. Kita dapat menyaksikan dari media betapa emosionalnya masing-masing pihak, dan saling menyatakan logika dan argumen yang diyakininya.

Masalahnya ialah bagaimana caranya mengubah persepsi kita atau orang lain itu? Dalam hal ini ada dua aspek yang disarankan (De Bono, 2009): pertama dari sisi perilaku, kedua  menggunakan teknik tertentu.

Memainkan perilaku

Pertama, kreatif terhadap apa pun, tidak hanya berpikir untuk pemecahan masalah. Kita berpikir, mengamati, mencoba memahami  sesuatu sebaiknya bukan cuma untuk “memecahkan persoalan”, tetapi juga untuk belajar, memperkaya ide untuk mengembangkan visi, tujuan dan rencana pengembangan yang lebih luas. Misalnya, lingkungan tempat tinggal kita kena banjir. Kalau kita hanya berpikir tentang mengatasi persoalan, maka jawabannya pada soal banjir setempat. Padahal kalau kita melihatnya lebih luas, jawabannya bisa mencari rumah alternative, ide-ide mencari uang untuk pindah, karena banjir di situ ternyata akan permanen.

Kita mengamati sesuatu, mencoba memahami, misalnya Kasus Bank Century di atas, bukan untuk jadi hakim atau kurban konflik yang membuat stress, tetapi juga untuk “melatih sikap dan kemampuan berpikir” menanggapi polemik dalam era tsunami informasi sekarang ini.

Untuk itu kita diharapkan punya sikap yang tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan, apalagi menghakimi. Kosongkan dulu persepsi, pesan Musashi. Carilah penjelasan, informasi lebih banyak, yang mewakili beberapa sudut pandang. Mencoba memikirkan apa isu atau tujuan utamanya, dan apa saja faktor pendukung dan penyebabnya.

Di samping itu coba lihat pilihan-pilihan sebab, pilihan-pilihan penjelasan, dan pilihan-pilihan kesimpulan dan tindakan yang mungkin bisa diambil untuk menguatkan pemahaman, atau memecahkan persoalan, atau untuk pengenbangan (diri, organisasi, perusahaan) lebih lanjut.

Selanjutnya pikirkan pula konsekuensi-konsekuensi logis dari setiap kesimpulan yang kita ambil, tindakan-tindakan yang yang akan kita buat. Dan, coba kembangkan beberapa skenario pemikiran atas beberapa kesimpulan dan alternatif tindakan, dengan mengandaikan beberapa kemungkinan perubahan situasi lingkungan.

Menggunakan Teknik Ubah Persepsi

Pendekatan kedua dalam “memainkan persepsi” ialah dengan menerapkan teknik pengubah persepsi. Ada beberapa teknik yang bisa dicoba diterapkan dalam hal ini.

Teknik berpikir pertama ialah pahami atau gunakan cara berpikir orang lain, atau tiap pihak yang ada (berkonflik). Dalam buku saya Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati (Gramedia, 2009), teknik ini disebut “jadilah lawanmu”. Kalau kita akan memengaruhi persepsi lawan bicara atau audiens, cobalah fahami lebih dulu: dari sudut mana mereka memandang. Itu bisa dipengaruhi oleh tujuan, motif, yang latar belakang juga budaya mereka yang kondisi ekonomi, pendidikan, etnis, daerah dst.

Teknik pengubah persepsi kedua ialah dengan pengungkapan aspek positif, aspek negatif dan sisi menarik (PNM) dari tiap informasi, ide atau tantangan.

Jika sekelompok orang diminta menyampaikan pendapatnya, maka ada masing-masing kecenderungan mereka melihatnya dari satu sisi  saja. Bisa positif, bisa negatif. Namun kalau diminta menyatakan sisi positif, lalu sisi negatif, maka mau tak mau kita atau audiens memikirkan kedua sisi. Lalu memikirkan sisi ketiganya, yaitu sisi menarik, atau manfaat. Sehingga, kita atau audiens akan memikirkan aspek yang lebih pribadi “apa manfaat bagiku”.

Dengan memahami hal tersebut, selanjutnya dapat dicari titik temu, misalnya persamaan persepsi menyangkut “tujuan bersama”, kepedulian pada “isu yang sama”, yang dapat diangkat sebagai tema kerja sama. Bagaimanakah pendekatan, metode, cara atau pilihan bahasa yang sesuai dengan latar budaya mereka.

Permainan role-play, yaitu memerankan diri sebagai pihak-pihak yang berkonflik akan banyak membantu dalam hal ini. Misalnya sengketa dalam pembangunan lingkungan kota, ada peran warga setempat, peran pengembang (developer), peran pemerintah daerah, dan lainnya. Memerankannya secara bergantian membuat kita atau audiens merasakan bagaimana dan apa motif masing-masing pihak. Sehingga, diperoleh pemahaman atau strategi yang lebih efektif untuk mencapai kesepakatan.

Dengan demikian, jika kita dihadapkan pada persoalan atau membanjirnya informasi misalnya Kasus Bank Century, sebaiknya kita amati dulu, mencoba memahami, mencoba berbagai sudut pandang, posisi para pihak, dan tidak terlalu cepat berpihak atau jadi hakim apalagi jadi kurban konflik yang membuat stress. Justru sesungguhnya kita bisa memanfaatkannya untuk “melatih sikap dan kemampuan berpikir” menanggapi polemik dalam era tsunami informasi sekarang ini.[rm]

* Risfan Munir, penulis buku ”Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati” (Gramedia, November 2009) dan kolumnis tetap pada AndaLuarBiasa.com, Samuraisejati.blogspot.com dan penulis lepas Pembelajar.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Innovation @ Work

avanti-fontana-rOleh: Avanti Fontana*

“Sebagai seorang pekerja dalam sebuah perusahaan, ia menciptakan nilai manfaat yang lebih besar (menurut persepsi perusahaannya) dibanding uang atau imbalan yang harus perusahaan bayar kepadanya. Sebaliknya, ia juga melihat perusahaannya memberikan nilai manfaat yang jauh lebih besar kepadanya dibanding pengorbanan-pengorbanan dan kenikmatan-kenikmatan yang ia berikan untuk perusahaan di mana ia bekerja. Nilai manfaat apakah yang ia ciptakan? Nilai manfaat apakah yang perusahaan berikan untuknya?”

Tantangan bisnis sekarang dan mendatang adalah bagaimana berinovasi hingga hasilnya jauh melebihi harapan konsumen. Beyond customer’s imagination. Di satu sisi, sebagian orang dan perusahaan merasa masih berat dalam mengejar target keberhasilan inovasi. Target inovasi berupa kemampuan perusahaan dan individu-individu yang ada di dalam perusahaan. Targetnya adalah menciptakankan nilai manfaat atas barang atau jasa yang jauh lebih besar dibanding harga atau pengorbanan yang harus konsumen atau pengguna keluarkan. Targetnya adalah kinerja ekonomi dan sosial yang tinggi. Ini biasanya didahului oleh dicapainya kinerja teknis dan komersial.

Di sisi lain, banyak pula perusahaan sangat mendalami roh inovasi ini. Hal ini membuat output inovasi mereka luar biasa. Pertanyaannya, apa dan siapa penentu keberhasilan inovasi? Sementara, kita tahu bahwa inovasi adalah keberhasilan secara sosial ekonomi berkat diperkenalkannya cara baru atau kombinasi baru dari cara lama dalam mengubah input menjadi output. Hasil perubahan itu membawa perubahan besar atau drastis dalam hubungan antara nilai manfaat menurut persepsi konsumen dan harga yang konsumen harus bayar.

Menjadi menarik untuk melihat penentu keberhasilan inovasi dari sisi pandang input inovasi. Input inovasi yang paling sering diucapkan adalah iklim inovasi, lingkungan yang kondusif, struktur, people, dan culture. Dalam rutinitas pekerjaan, sering orang tidak sadar bahwa banyak hal bisa ia perbaiki. Mengubah cara duduk dari yang biasanya lunglai tanpa lurus tulang belakang menjadi duduk lebih tegak dan menerapkannya setiap saat pada saat sedang menulis di depan layar laptop atau desktop. Mengubah cara memimpin rapat dari yang biasanya tanpa agenda ketat menjadi dengan agenda ketat. Mengubah cara berkomunikasi dari tadinya lebih banyak berbicara dan mengarahkan menjadi lebih banyak mendengar dan bertanya.

Baru-baru ini saya berdialog dengan sekelompok supervisor dan manajer pada satu perusahaan besar yang berbasis di Jakarta. Tergambar di situ begitu banyaknya isu dan masalah dalam perusahaan ternyata bisa diselesaikan dengan cara yang lebih sederhana dan lebih efisien. Antara lain hanya dengan mengubah gaya mereka berkomunikasi, dari yang biasanya lebih banyak berbicara dan mengkritik serta menuding ke gaya komunikasi yang lebih banyak mendengar, memperhatikan, dan bertanya. Kebiasaan baik ini dapat menular dengan cepat sejalan dengan semakin seringnya kebiasaan ‘baru’ itu dipraktikkan.

Mengubah cara-cara kita bekerja merupakan cara kita mengubah cara-cara kita mengubah input menjadi output. Hasilnya adalah cara kerja yang lebih efisien dan sehat. Cara kerja lebih berkualitas. Cara kerja lebih menghasilkan tidak saja imbalan finansial tetapi juga non-finansial. Cara kerja lebih menggembirakan. Cara-cara ini dapat menunjang pencapaian tujuan-tujuan kerja yang lebih besar, seperti menghasilkan produk 100 buku per bulan oleh sebuah penerbitan besar, menghasilkan kunjungan toko 100 orang per hari dengan tingkat pembelian 100% (yang datang pasti membeli minimum satu produk), dan lain sebagainya.

Inovasi-inovasi dalam proses kita bekerja menghasilkan output penting dilakukan sebelum kita berpikir jauh-jauh untuk melakukan inovasi pada output itu sendiri. Ada individu dan perusahaan berlomba menghasilkan output sebaik mungkin dan pada saat yang sama lupa untuk melakukan perbaikan dan/atau perubahan-perubahan dalam proses kerja mereka dalam menghasilkan output. “The means are not justified by the ends.

Inovasi dalam bekerja dan pekerjaan juga berarti menemukan atau menciptakan peluang-peluang baru dalam melakukan pekerjaan. Contoh: biasanya bekerja di kantor lima hari kerja. Seorang karyawan mampu memenangkan hati pemimpin perusahaan untuk ia dapat bekerja di rumah tiga hari kerja dan dua hari kerja di kantor.[af]

* Avanti Fontana: fasilitator & coach inovasi, pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, penulis Innovate We Can! (Grasindo 2009). Sebagai analis inovasi bisnis, ia aktif meriset tema inovasi bisnis dan sosial, peran inovasi untuk kepemimpinan, indeks inovasi fungsional dan indeks inovasi nasional.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 4.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

From Zero to Zero

iyOleh: Iftida Yasar*

Kalau kita orang Islam mendapatkan kemalangan, baik itu kehilangan seseorang atau kehilangan suatu benda, atau mendapatkan musibah, kalimat yang biasanya diucapkan adalah “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun” yang artinya; semua yang berasal dari Allah akan kembali kepada Allah. Jika kalimat ini diresapi artinya, akan jelas tergambarkan bahwa kita ini sekadar menikmati, sekadar mampir sekejap untuk menumpang minum di suatu kedai. Dan selesai minum kita akan pergi. Artinya, kehidupan di dunia ini singkat, sekejap saja, dibandingkan nanti dengan kehidupan kita di akhirat. Kehidupan yang sangat singkat itu menjadi bekal kita di kemudian hari dalam menjalani kehidupan di dunia kekal yaitu akhirat.

Jika di dunia kita mendapatkan kesempatan mendapatkan rezeki yang lebih dibandingkan orang lain, bukan berarti kita adalah orang yang hebat yang bisa mendapatkannya sendiri tanpa izin Allah. Banyak orang yang merasa bahwa harta dunia yang diperolehnya karena jabatan, pangkat, dan kepercayaan orang lain itu jatuh dari langit. Ada juga yang merasa tidak ada campur tangan dari Yang Maha Kuasa dalam hal keberkahan yang diperolehnya. Ingat cerita tentang ”Karun”, seorang kaya raya yang tidak mau bersyukur dan berterima kasih kepada Allah. Bahkan, dengan sombongnya ia mengatakan semua kekayaannya didapatkan atas usahanya sendiri. Maka, Allah menghukumnya dengan menimbun dan menenggelamkan Karun ke dalam bumi. Makanya, sekarang kalau kita menemukan harta yang tertimbun di dalam tanah, maka itu disebut ”harta karun”.

Perjalanan kehidupan manusia seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Pada saat kita di atas jangan sombong dan selalu ingat bahwa ada kemungkinan kita akan berada di posisi bawah. Kalau kita sedang susahdalam arti tidak punya uang atau mampu memenuhi kebutuhan hidupjangan putus asa. Selalu berdoa dan berharap bahwa roda akan berputar ke atas. Jadi, selalu ada harapan dan keyakinan bahwa dengan kerja keras dan doa suatu saat kita akan selamat.

Ada yang sudah mendapat amanah dari Allah dalam bentuk harta kekayaan yang luar biasa dan keberkahan dalam mencari rezeki. Tetapi, ia tidak mau menafkahkan sebagian hartanya kepada orang lain. Ada juga yang seakan tidak pernah susah selalu mendapatkan kemudahan, karena apa yang diberikan kepadanya disampaikan lagi kepada orang yang membutuhkan. Sedekah, apalagi kepada orang yang sangat membutuhkan, akan membuat rezeki kita dilipatgandakan Allah.

Dalam melakoni usaha, kadang apa yang kita sudah bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun runtuh dengan begitu saja dalam sekejap mata. Banyak yang menjadi penyebabnya; bisa karena produk atau jasa yang kita berikan kepada pelanggan menjadi tidak layak jual lagi, atau karena kalah bersaing dengan produk dan layanan baru. Pada saat krisis global melanda dunia, banyak sekali perusahaan kecil, bahkan perusahaan raksasa seperti General Motor kebanggaan Amerika Serikat, juga bangkrut. Perusahaan kecil yang selama ini melayani atau menjadi subkontraktor perusahaan besar juga tutup karena dampak krisis.

Gaya hidup sang pemilik perusahaan juga berpengaruh terhadap kelanggengan jalannya perusahaan. Jika semua keuntungan digunakan untuk membeli berbagai barang mewah, maka bisa jadi tidak ada sisa keuntungan yang dialokasikan untuk investasi atau diversifikasi usaha. Semua barang mewah atau gaya hidup mewah seperti bepergian keluar negeri, tinggal di hotel yang mewah, dan membeli barang mewah yang tidak penting dapat membuat kita bangkrut. Maha jutawan almarhun Michael Jackson yang demikian kaya raya, meninggal dunia dengan meninggalkan hutang sebesar Rp 4 triliun. Sungguh suatu angka yang sangat fantastis. Yang mana kalau dibuat atau diinvestasikan dalam bentuk usaha rakyat akan menghasilkan ribuan unit usaha yang akan menyerap jutaan tenaga kerja.

Bisa juga apa yang kita miliki hilang, kita harus menanggung utang, atau harus bertanggung jawab atas kesalahan bawahan kita. Sebagai pimpinan sudah pasti bahwa keberhasilan adalah milik bersama dan layak dinikmati oleh semua pihak yang terlibat dalam melakukan usaha tersebut. Jika rugi, walaupun kerugian itu diakibatkan oleh kesalahan karyawan, apakah kita bisa berkata kepada pelanggan bahwa perusahaan tidak dapat melakukan pekerjaan atau tidak bertanggung jawab terhadap kesalahan karyawan? Dalam situasi seperti ini, perusahaan yang mempunyai komitmen tinggi akan mengambil alih tanggung jawab. Pada waktu pekerjaan itu diberikan kepada kita, sudah barang tentu nama perusahaan dan reputasinya memegang peranan penting dalam mendapatkan pekerjaan itu. Adalah wajar jika perusahaan kita mau menjaga reputasi dan kelanggengannya, maka perusahaan akan tetap berkomitmen menyelesaikan pekerjaan itu.

Apa pun yang terjadi dalam hal kehilangan seluruh harta benda, baik karena kesalahan kita sendiri maupun karena kesalahan karyawan, tetap yakin dan percaya bahwa kita yang tadinya lahir ke dunia tanpa membawa apa pun juga, atau dengan modal nol, lalu mendapatkan kesempatan memperoleh banyak rezeki, lalu kehilangan dan dalam kondisi nol lagi. Harta benda yang kita dapatkan adalah dengan modal kerja keras, kejujuran, keyakinan bahwa harta itu hanya titipan. Dalam keadaan nol, yang hilang hanya harta benda yang tadinya memang tidsak ada. Semangat, keyakinan dan kemampuan kita kembali bangkit tidak akan hilang dan tidak akan tergantikan. Pelanggan yang sudah mengenal kemampuan kita akan kembali kepada kita dan dengan usaha yang tidak pantang menyerah, Insya Allah kondisi nol akan naik menjadi seperti semula. Bahkan, mungkin jauh lebih baik. Orang yang mampu mengatasi masalahnya sebesar apa pun akan tetap bertahan dan kembali berjuang untuk meraih sukses.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Semangat, Semangat, Semangat!

ggOleh: Gagan Gartika*

Semangat membuat tubuh, jiwa, dan pikiran kita yang terasa lemas menjadi bangkit kembali.

~ Gagan Gartika

Untuk menyegarkan tubuh, pagi-pagi saya suka jalan kaki, sekitar rumah dan keliling stadion di Jakarta Utara. Kata dokter cukup berolahraga tigapuluh menit saja sehari, badan kita sudah sehat. Dan karena itu, saya mencoba menjalankan terapi dokter tersebut. Selain supaya menjadi sehat, biar hidup saya bisa semangat dan bergairah kembali.

Memang terbukti. Pak Jaya misalnya, semula berpenyakit stroke. Untuk melangkah ke depan rumah saja tak sanggup. Namun, ia paksakan agar bisa jalan. Ia sendiri menyesal ketika jatuh sakit. Ia ingin sekali berolahraga, tetapi selagi sehat malas banget sehingga badan hancur dan kolesterol tinggi. Untuk itu, meskipun selangkah dan selagi masih bisa berdiri, ia bertekad bisa melangkah lagi.

Seminggu kemudian, Pak jaya sudah bisa melangkah lebih jauh, meskipun masih di sekitar rumah. Tetapi sebulan kemudian, ia sudah bisa keliling stadion, sama seperti yang saya lakukan. Bahkan, bulan berikutnya ia terlihat mampu keliling dengan bersepeda.

Di stadion terlihat banyak orang berjalan kaki, berlari, dan berolahraga lainnya. Mereka lakukan kegiatan itu setiap pagi. Saya lihat berbagai cara orang ingin sehat. Mereka berjalan sambil mengobrol sama teman, meskipun baru bertemu saat berolahraga. Saya sendiri kadang ikut nimbrung, berbagi cerita sambil jalan pagi. Ada cerita  menggembirakan dan menyedihkan. Dan yang paling kasihan, ada teman yang setiap membuka usaha selalu rugi.

Saat awal, ceritanya, ia buka bengkel kendaraan motor bekerja sama dengan seorang ahli perbaikan kendaraan. Kebetulan ia keluar dari tempat kerjaan pas ketemu saya yang kebetulan baru pensiun. Tak lama dari situ, kerja sama pun terjadi, mereka mendirikan usaha bengkel. Ia kebagian mempersiapkan tempat dan peralatan bengkel, sementara temannya yang mengoperasikan.

Saat awal berusaha bengkel itu banyak pelanggan dan bengkel pun mengalami kemajuan. Namun saat pembagian hasil, sering mengalami kendala. Mereka merasa yang kerja atau bagian operasional langsung perlu mendapatkan bagian lebih. Sementara, teman saya menginginkan uang dikumpul terlebih dahulu—baru dibagi, lagian modal seharusnya kembali dahulu.

“Semula saya mengalah, namun lama-kelamaan ia malah semakin menjadi-jadi. Mengambil uang tanpa sepemgetahuan saya. Wah repot, pikirku. Ujungnya terjadi perceraian, usaha tak berlanjut meskipun dalam keadaan maju, jelas teman saya ini.

Ia menyesalkan kejadian tersebut. Tapi harus gimana? “Meskipun bengkel banyak pelanggan, dan saat awal usaha kita baik-baik saja, bahkan usaha dilakukan dengan semangat sekali, sebelum ada penlanggan, saya dan mereka gencar berpormosi, mulai mengontak tetangga, memperkenalkan dengan menyebar brosur, yang terus menerus, sehingga bengkel dikenal orang. Namun karena permasalahan itu tadi, setelah berhasil pembagian menjadi tidak jelas dan sering selisih pendapat, usaha menjadi bangkrut, meskipun dalam kemajuan dan banyak pelanggan”, paparnya,

Semangat, semangat, semangat!pekik pejalan kaki lainnya yang berpapasan dengan kami, mengingatkan kami agar berolahraga penuh semangat.

Pembicaraan pun terhenti karena stop press dari pejalan kaki tersebut. Kemudian kata teman saya, “Saya bekerja sama dalam membangun perumahan karena melihat kawannya yang berhasil bergerak di bidang itu. Saya menyaksikan sendiri dan datang ke kantornya. Perusahaan dia berhasil mengembangkan usaha properti. Melihat saya pensiun dan menganggur tak ada pekerjaan, saya diajak bergabung mengembangkan lahan baru.

Si teman ini melanjutkan ceritanya, “Karena melihat keberhasilannya, saya bergabung bersama teman lainnya kumpulkan dana untuk membebaskan lahan baru. Kemudian, proses perizinan dan pembebasan tanah dilakukan. Saya yakin banget akan berhasil karena ditangani orang yang berpengalaman. Tetapi, ternyata di luar dugaan proses pembebasan tanah itu tak mulus. Terjadi sengketa. Padahal, banyak uang sudah keluar. Akhirnya, karena tanahnya luas dan banyak uang mati dalam pengurusan tanah tersebut, proyek tak bisa berjalan. Dan, usaha kedua kembali gagal.

Begitulah, nasib setelah pensiun. Menurut teman saya ini, ternyata membuka lahan usaha tidak gampang dan mendingan bekerja saja. Dalam berusaha, katanya, penuh intrik dan tipuan yang belum pernah ditemukan saat bekerja sebelumnya. Belum lagi kita harus berani menanggung rugi. Uang hasil pensiun bisa terkuras habis bila usaha terus begini. “Lantas, harus bagaimana? Kalau diam saja di rumah menjadi jenuh. Ketika berusaha, malah rugi terus!” keluhnya.

“Semangat, semangat, semangat,” teriak pejalan kaki tadi mengingatkan kami saat berpapasan lagi.

Kami yang lagi seru-serunya mengobrol sambil berjalan kaki jadi kaget dan seakan diingatkan. Apa pun masalahnya, kita memang harus tetap semangat berusaha. Memang begitulah, membuka usaha baru tidak gampang karena kita perlu berkenalan dulu dengan usaha yang kita jalankan. Baik mengenai produk, pasar, konsumen, harga, letak lokasi, tenaga kerja, termasuk teman kerjasama, dll. Dalam hal ini saya teringat selagi saya bekerja di perusahaan baru, perusahaan garment asal Korea. Saat awal berpoduksi—untuk menyamakan ritme bekerja—perusahaan mulai melakukan pelatihan karyawan. Kemudian sebelum menerima pekerjaan untuk ekspor, perusahaan terlebih dahulu mengerjakan pekerjaaan subkontrak. Dalam hal ini perusahaan bekerja membantu pekerjaan perusahaan lain yang memang perlu bantuan dan kelebihan order. Pekerjaan subkontrak ini dipakai untuk latihan sehingga pekerjaan dari luar negeri tidak langsung diterima, tetapi lebih menerima pekerjaan asal domestik atau pekerjaan teman.

Enam bulan kemudian tenaga kerja sudah mahir. Mereka sudah seirama dalam mengerjakan sesuatu. Kelemahan bekerja dan kekompakan terus telah mengalami perbaikan selama trial produksi. Setelah hasilnya bagus, kompak, dan lancar barulah perusahaan mulai berani menerima order untuk tujuan ekspor. Dan akhirnya, sebagai tenaga bagian ekspor, saya mulai mengurus dokumen ekspor perdana peusahaan tersebut. Pengguntingan pita perdana oleh pejabat sebagai bukti ekspor perdana sukses. Dan kesuksesan tersebut karena ada kesamaan dalam ritme bekerja yang sudah terlatih sebelumnya; mulai dari pimpinan, karyawan, bagian produksi, cutting, jahit, quality control, bahan baku, packing, dan ekspor terpadu menjadi satu irama kekuatan sehingga usaha bisa berhasil.

“Semangat, semangat, semangat!pekik pejalan kaki yang tadi berpapasan. Memang, apa pun masalah yang dihadapi, kita harus tetap semangat menjalani kehidupan ini. Karena dengat semangat itulah kita sudah membuka peluang agar suatu saat kita bisa berhasil. Jangan lupa, “Semangat, semangat, semangat ya Pak!demikian pesan saya sambil berpisah mengakhiri olahraga jalan kaki pagi itu.[gg]

*Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (Simark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada dibidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Email: gagan@kumaitucargo.co.id atau website: www.silaturahmimarketing.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Packnomics

sri-julianti-rOleh: Sri Julianti*

Apa itu Packnomics? Packnomics adalah packaging/kemasan yang tidak hanya  ekonomis tetapi juga berdampak postif terhadap lingkungan. Istilah ini dipakai oleh Kevin Howard dalam seminarnya tentang sustainable packaging. Sering kali begitu mendengar istilah ekonomis, orang selalu mengaitkannya dengan barang murah dengan kualitas seadanya. Hal ini tidak 100 persen betul meskipun pemikiran orang pada umumnya seperti itu.

Packnomics adalah desain yang ekonomis, desain kemasan yang tidak berlebihan (Less Packaging), tetapi tetap melaksanakan fungsinya serta menghasilkan keuntungan dari penggunaan bahan, penggunaan ruangan/space, sarana gudang, transportasi, dan akhirnya meningkatkan keuntungan perusahaan secara total. Dan yang terpenting, dampak terhadap lingkungan juga akan lebih baik dibandingkan dengan overpack.

Memang, beberapa waktu yang lalu orang selalu merasa: Big is better, give more impression to the consumer.Produsen berlomba-lomba membuat kemasan yang besar atau kelihatan besar meskipun isinya sama atau bahkan lebih kecil. Kebetulan sekali di Indonesia belum ada peraturan yang mengikat berapa banyak free space yang diperbolehkan pada suatu kemasan. Misalnya, kemasan 100 gram seharusnya cukup menggunakan karton 150 x 230 x 30 milimeter. Produsen bisa saja membuat karton yang lebih besar dari ukuran tersebut. Memang ukuran kemasan yang besar kadang-kadang diperlukan untuk menunjang efisiensi mesin pengepak, tetapi perlu dipertimbangkan juga dengan teliti sebelum melakasanakannya.

Beberapa produsen, marketers, maupun packaging designer masih berkutat pada mind-set lama ini. Tetapi perlu saya ingatkan, saat ini konsumen lebih pandai dan kritis. Pada umumnya konsumen juga membaca declared nett dari produk tersebut sehingga konsumen tidak begitu mudah “tertipu” untuk membeli produk yang kemasannya (kelihatan) besar.

Untuk produsen skala besar, yang mempunyai team yang cukup lengkap, tentunya sudah mulai semakin cermat dan teliti dalam menentukan ukuran kemasan. Dan, memang ada pakem-pakem tertentu yang tidak mungkin dilanggar. Tetapi, mind-set membuat kemasan jauh lebih besar dari seharusnya masih disukai oleh sebagian besar produsen dan marketers.

Bila Anda pernah membeli suatu produk, coba perhatikan ukuran kemasan dan berapa berat bersih produk yang dikemas. Apa pun produk yang Anda beli, perhatikan kemasannya. Baik produk tradisional dengan kemasan modern seperti dodol, martabak, tahu goreng, dll, maupun produk makanan modern seperti susu dan cereal. Juga perhatikan produk kosmetik pada umumnya. Tampaklah kemasan produk yang Anda beli itu lebih besar dari yang seharusnya. Padahal dari sisi biaya, pasti dong kemasan yang ukurannya besar memerlukan biaya lebih besar juga dibandingkan produk dengan ukuran kemasan yang ”pas”.

Karena kompetisi di pasar dan biaya kemasan yang semakin tinggi sekarang ini, para produsen juga sudah mulai melirik konsep Packnomics & Small is beautiful. Less packaging, more value and support the enviroment better”. Packaging yang ekonomis, kecil itu indah, yang tidak berlebih namun memberikan nilai tambah, serta memberikan dampak yang lebih baik terhadap lingkungan.

Memang tidak mudah meyakinkan bagian pemasaran yang sering kali tidak yakin dengan kemasan yang kelihatan lebih kecil dari produk para pesaing. Apakah produk dengan kemasan lebih kecil akan kalah bersaing dengan produk pesaingnya? Tantangan ini harus dijawab oleh ahli packaging dan packaging designer-nya. Mereka harus membuat packaging-nya sedemikian rupa sehingga tidak ada dampak negatif terhadap penjualan produk tersebut.

Mungkin marketing akan bertanya, ”Lho, kalau lebih kecil ukurannya, kan kalah dengan produk pesaing?” Atau, pihak lain juga bertanya, Walah, kalau cuman mengecilkan ukuran 3 mm saja tidak ada gunanya. Hanya merepotkan bagian pengepakan!” Jangan khawatir, semua ini dapat Anda buktikan dengan data. Coba saja tunjukkan kemasan baru (ukuran dan grafisnya) kepada teman sekantor Anda, apakah mereka akan melihat ukuran yang berbeda? Pada umumnya mereka akan melihat grafis yang berbeda tanpa menyadari ukurannya memang berbeda. Memang Anda tidak dapat mengurangi ukuran kemasan secara drastis tanpa mempertimbangkan dampak negatifnya terhadap konsumen.

Kalau Anda sendiri tidak yakin juga, apakah pengurangan ukuran karton yang cuman 2-3 mm tadi dampaknya besar, Anda dapat menghitungnya. Mulai saja dari ukuran kardus luar (corrugated outer), kemudian berapa kardus per pallet, berapa space yang dapat dihemat, dan berapa kardus per truk atau container. Anda akan surprise begitu menghitung semua faktor ini.

Suatu hari saya membeli produk farmasi  berupa gel yang dikemas dalam tube dan karton. Wah, kartonnya dibuat sedemikian rupa agar tampak proporsional dan cantik sehingga melupakan kaidah Packnomincs.

Ukuran karton yang dipasarkan misalkan P x L x T, sedangkan seharusnya cukup P x  0.7L x T. Coba berapa yang seharusnya bisa dihemat dari sisi kartonnya sendiri? Logikanya sederhana saja, bila karton yang dibutuhkan menjadi lebih kecil, berarti biaya kemasan akan lebih murah. Tetapi, ini saja tidak cukup untuk meyakinkan bagian pemasaran untuk menghemat biaya. Karena, bagian pemasaran tidak memerlukan hal ini sebab toh penjualan mereka baik, target penjualan selalu tercapai, dan keuntungan cukup tinggi. Bila Anda tidak berhasil meyakinkan para marketers Anda karena ukurannya terlalu kecil, jangan berkecil hati. Anda dapat melakukannya secara bertahap.

Hal-hal positif lainnya dari pengurangan ukuran karton itu harus dipaparkan secara rinci dengan perhitungan secara ekonomis. Jika produk farmasi gel itu penjualannya katakan saja 10 juta per tahun, maka perhitungannya sebagai berikut:

Dari sisi ekonomis: Ukuran kotak yang lebih kecil, menyebabkan ukuran kardus luar (corrugated outer) menjadi berkurang à biaya kemasan akan berkurang. Ukuran kardus luar lebih kecil, maka untuk setiap pallet akan menampung lebih banyak produk. Akibatnya, setiap truk dapat menampung lebih banyak produk yang berarti mengurangi biaya tranpsortasi. Itu juga berarti mengurangi emisi karbon karena bahan bakar yang digunakan untuk mengangkut barang yang sama menjadi lebih sedikit. Gudang Anda akan lebih efisien karena dapat menampung lebih banyak produk.

Dari sisi dampak terhadap lingkungan: Berapa ton karton yang dapat dihemat? Berapa pohon yang tidak jadi ditebang untuk keperluan karton tersebut? Tahukah Anda bahwa untuk menghasilkan 900 kilogram kertas diperlukan kira-kira 24 pohon dengan diameter yang cukup besar. Berapa bahan bakar yang dapat dihemat untuk transportasi, ini berarti juga mengurangi emisi CO2.

Begitu ukuran kemasan dioptimalkan, semua keuntungan di atas akan dinikmati seperti bola salju yang berguling, semakin lama semakin besar keuntungan yang diperoleh. Bila dihitung secara rinci, hampir pasti Anda akan dapat meyakinkan bagian pemasaran untuk mengurangi ukuran karton tersebut. Bila anda berhasil dengan satu produk, maka akan dengan mudah untuk meyakinkan marketers untuk produk lainnya.

Itu hanya salah satu contoh dari karton produk farmasi dan hanya sebagian lebar karton yang dikurangi. Kalau kita tinjau dari semua sisi; panjang dan tinggi karton, ada kemungkinan juga masih dapat dioptimalkan. Belum lagi bila kita meninjau semua produk yang menggunakan kemasan karton dari kategori lain, seperti dodol, cereal, susu, teh, produk rumah tangga, kosmetik dll, tentunya akan banyak hal positif yang dapat dilakukan. Apalagi bila ditambahkan jenis kemasan lainnya, rasanya akan banyak sekali hal positif dan bermanfaat, baik untuk bisnis Anda, meningkatkan margin/keuntungan, plus membantu bumi tercinta ini.

Memang tidak semua kemasan di pasar overpack. Tetapi, ada banyak produk yang kemasannya dapat ditinjau ulang sesuai dengan konsep Packnomics tadi. Dengan memerhatikan banyaknya keuntungan yang didapat melalui konsep Packnomics tadi, mestinya bukan hal yang susah dan tak ada alasan bagi produsen untuk tidak melaksanakannya.

Saya menghimbau teman-teman, para marketers, ahli kemasan, desainer kemasan, produsen, dan pembuat mesin pengepak untuk saling bekerja sama agar produk yang dijual menggunakan kemasan dengan konsep Packnomics. Anda akan menikmati keuntungan, konsumen akan untung, demikian juga bumi tercinta ini. Mari kita giatkan Packnomics ini di lingkungan kerja kita, apakah kita seorang penjual kue tradisional, makanan modern, maupun produsen lainnya. Selamat berkarya.[sj]

* Sri Julianti adalah ahli packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Ia dapat dihubungi melalui e-mail: julipackaging@yahoo.com atau di website-nya: www.srijualianti.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Nyaman Menuruti Kata Hati

ekOleh: Eni Kusuma*

“Jangan abaikan ‘kata hati’.” Kita sering kali mendengar nasihat bijak ini. Memang benar “kata hati” adalah pengendali langkah dan pemberi informasi yang benar. Siapa pun kita, apa pun profesinya, jika selalu mendengarkan ‘kata hati’, maka senantiasa tepat dalam pengambilan keputusan untuk menentukan prioritas.

Dan ‘kata hati’ ini bersifat universal. Karena, dari ‘kata hati’ akan melahirkan kebenaran, keadilan, kasih, sayang, cinta, perdamaian dan sebagainya, yang bersifat universal pula.

Kegelisahan terasakan saat Prita Mulyasari terbelit hukum yang mengharuskan ia membayar denda sebesar ratusan juta rupiah. Apa yang Anda rasakan? Adalah dorongan kata hati untuk menolongnya. Sehingga, terkumpullah “koin untuk Prita”, bahkan lebih jika untuk membayar denda yang dibebankan kepadanya.

Perasaan ingin menolong, rasa kasih, sayang, dan perasaan ingin melindungi adalah sifat-sifat Sang Pencipta yang Maha-Penolong, Maha-Pengasih, Maha-Penyayang, dan Maha-Pelindung yang ditiupkan juga ke dalam jiwa manusia. Sehingga, manusia secara fitrah memiliki sifat-sifat mulia tersebut dari Tuhannya. Jika manusia menyalahi fitrahnya tersebut dengan berbuat keburukan, maka pastilah muncul perasaan tidak nyaman karena terus-menerus dinasihati oleh “kata hati”nya.

Berbagai kalangan dari orang tua sampai anak-anak, laki-laki, dan perempuan merasakan kesamaan rasa terhadap Prita. Rasa ingin menolong. Rasa ini bersifat universal karena semua manusia memiliki fitrah ini. Dan, berbagai kalangan juga merasakan kesamaan rasa “tidak suka atau merasa tidak adil bagi Prita”. Sebentuk rasa universal karena sebuah nilai keadilan tercabik-cabik.

“Kata hati” sering kali terabaikan oleh berbagai kepentingan sehingga ia tidak didengarkan untuk acuan pengambilan keputusan. Bagi orang yang berprinsip pada kepentingan politik, maka keputusannya diprioritaskan untuk keuntungan politik. Bagi orang yang berprinsip pada kepentingan tim suksesnya yang telah mengantarkannya ke singgasana kekuasaan, maka keputusan akan mementingkan tim suksesnya. Mereka yang berprinsip pada persahabatan maka keputusan yang diambil untuk melanggengkan persahabatan, tidak peduli mengorbankan banyak orang.

Kadang orang mengabaikan kata hati dalam pengambilan keputusan, bahkan menyimpang dengan “kata hati” karena banyak hal, antara lain, merasa tidak enak hati apalagi karena pernah ditolong atau takut diancam, dan lain-lain. Jika ini terjadi, maka kita akan mendapatkan keuntungan yang bersifat jangka pendek. Jika suatu saat terbongkar, itu akan menimbulkan kerugian jangka panjang karena krisis kepercayaan yang muncul di mana-mana. Dan pasti terbongkar cepat atau lambat. “Kata hati” adalah keseimbangan karena yang ditimbulkan oleh “kata hati” seperti kebenaran, keadilan, dll, memberikan keseimbangan. Keputusan yang menyimpang dari “kata hati” akan berakhir dengan menyedihkan karena segala sesuatu pasti menuju kepada keseimbangan.

Jika kita mendengarkan “kata hati” dalam pengambilan keputusan untuk menentukan prioritas kejujuran dan keadilan, serta mengesampingkan berbagai kepentingan, maka keuntungan jangka panjanglah yang diperoleh, bukan keuntungan jangka pendek. Mungkin juga kita akan menerima kerugian tetapi kerugian ini bersifat jangka pendek. Karena seperti uraian di atas, semua menuju kepada keseimbangan.

Contoh lain, dalam hubungan majikan terhadap pembantu rumah tangganya. Andai semua majikan dalam memperlakukan pembantunya sesuai dengan “kata hati”-nya, dan para pembantu juga bekerja dengan hatinya, maka akan tercipta kondisi kerja yang baik. Terutama para majikan di luar negeri, andaikan mereka dalam memperlakukan pekerja rumah tangganya sesuai dengan “kata hati”-nya, dengan mengabaikan stigma atau pandangan negatif yang terlanjur melekat pada PRT Indonesia (hal ini dikarenakan oleh kurang siap dan kurang terlatihnya para PRT Indonesia), maka tentu akan tercipta kondisi kerja yang baik. Adapun stigma yang terlanjur melekat pada PRT Indonesia adalah, bahwa PRT Indonesia itu bodoh, tidak becus kerja, lambat, malas, tidak pintar berbahasa Inggris, dan lain-lain. Jika kondisi kerja yang baik tercipta, maka PRT Indonesia tidak akan mengalami kejahatan perdagangan manusia atau trafficking di negeri sendiri oleh bangsa sendiri.

Saya yakin, majikan yang merasa takut penuh kecurigaan terhadap masuknya “orang asing” ke wilayah prifat mereka, sehingga memicu mereka berbuat kejam dan tidaklah nyaman dalam menjalani hidupnya sehari-hari. Tapi apa boleh buat, sering kali mereka dilindungi oleh negaranya.

Apa pun profesi kita, sebagai hakim, bos perusahaan, menteri, gubernur, majikan terhadap pembantunya bahkan sebagai presiden, pengambilan keputusan hendaknya dilandasi dengan “kata hati”. Sehingga, kita merasa nyaman dalam menjalani profesi kita dan nyaman pula dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari.

Demikiankah?[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

10 Kebiasaan Buruk Pencipta Kegagalan

relon-star-rOleh: Relon Star*

Banyak orang memimpikan hidup sukses, tapi menyingkirkan hal-hal yang penting untuk meraih sukses. Sejak me-release buku perdana saya berjudul Run or Die, saya berkesempatan bertemu banyak orang. Ada yang ramah, namun ada juga yang tidak. Padahal, satu saja kesimpulan saya sejak banyak berkeliling, relasi itu penting! Bahkan, sangat penting.

Baru saja saya sms-an dengan seorang rekan, mengenai rencana promo buku saya di luar kota. Dia menjawab agak ketus, padahal kita tinggal menentukan tanggal, dan semuanya beres. Saya bingung juga, padahal saya merasa tidak ada yang perlu dimasalahkan karena dia hanya perantara, bukan decision maker. Sebab, sang decision maker sudah memberikan lampu hijau untuk melakukan kegiatan promo di kotanya. Saya menjawab enteng semua sms masuk darinya. Bahkan ketika saya tahu beliau sedang mengurusi sebuah acara penting, saya mengirim sms padanya, “Sukses yah acaranya!” Dan, Anda tahu? Sms saya bertepuk sebelah tangan… hahaha … never mind.

Tapi jujur saja, sejak saat itu merasa harus membuat boundary setting terhadap orang tersebut. Bahaya juga nih kalau sikapnya terhadap saya kurang mengesankan. Dan lagi, kalau mau melibatkan emosi hehehe… ”Dia kan tahu siapa gue!? Cieee… (yang ini jangan ditiru).

Hmmm… kejadian ini membuat saya untuk kesekian kalinya harus mengurut dada. Tidak banyak orang mengerti bahwa menjaga hubungan baik dengan orang lain sangat penting untuk mewujudkan sukses.

Saking penasarannya saya, saya hunting di internet, maka ketemulah saya dengan opini berikut yang digagas oleh Napoleon Hill dalam bukunya berjudul Think Grow Rich. Aha! Ternyata pendapat saya benar, kepribadian yang buruk termasuk dalam 10 daftar yang Hill berikan sebagai salah satu penyebab kegagalan—di antara 9 lainnya.

Di luar 31 “daftar dosa” yang digulirkan oleh Hill, secara umum ada 10 kebiasaan kurang baik yang muaranya menciptakan kegagalan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun sebagai networker. Berikut 10 kebiasaan itu, yang mudah-mudahan bisa menambah gereget Anda untuk merubah hidup:

1. Kurang jelas tujuan hidup

Jika tidak punya tujuan jelas, baik dalam bisnis network marketing maupun kehidupan sehari-hari, maka Anda akan gagal. Hill melaporkan, 98 dari 100 orang tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam hidup. Maka, janganlah menjadi salah satu dari 98 orang itu. Sisihkan sebagian waktu, lakukan dengan tenang mengkaji lagi tentang apa yang sungguh-­sungguh Anda ingin lakukan dalam hidup dan bisnis. Tuliskan tujuan dan aspirasi itu. Selanjutnya bacalah semua itu dengan keras setiap harinya untuk selalu mengingatkan Anda akan tujuan tersebut.

2. Kurangnya ambisi untuk mencapai hasil lebih

Jika Anda termasuk tipe orang yang acuh terhadap hidup, tidak ada keinginan untuk maju ke depan, tidak ada keinginan untuk bekerja keras, Anda tidak akan mencapai sukses dalam segala hal. Antara pasrah dengan pesimis memang beda tipis. Banyak orang yang sudah dirasuki rasa nrimo saja. Padahal, kalau kita punya ambisi mencapai lebih, maka banyak hal yang dapat diraih. Ambisi tidak selalu dapat diasumsikan negatif. Karena ambisi itu baik, yang tidak baik ialah menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisi. Itu saja!

3. Kurang disiplin

Kurangnya pengendalian dan disiplin dapat menghancurkan hidup. Jadi, kita harus mengendalikan diri terhadap segala sesuatu yang negatif. Ini tentu tidak mudah. Jika tidak mampu mengendalikan diri secara disiplin, Anda akan dihancurkan oleh diri sendiri.

4. Terlalu berhati-hati

Ini merupakan penyebab umum yang akan mengakibatkan kegagalan. Setiap orang menghadapi semacam ketakutan yang akan menghambat untuk mencapai sukses. Banyak dari kita yang menjalani hidup hanya menunggu kapan kesempatan baik datang. Ingatlah, bahwa kesempatan baik tidak akan pernah datang, kecuali jika Anda mau bertindak. Kunci dari suatu kesuksesan adalah berani mengambil tindakan. Jadi bertindaklah dalam kondisi apa pun yang sedang dialami saat ini. Jika berani mengambil tindakan, maka Anda akan dikejutkan oleh betapa keberanian itu bisa mengubah hidup dan bisnis Anda menjadi lebih baik.

5. Kurang Teguh

Banyak orang yang dengan mudah menyerah. Banyak dari kita yang memulai segala sesuatu dengan baik, tetapi begitu mudahnya menyerah pada saat menghadapi persoalan. Begitu banyak orang yang mudah menyerah ketika mereka mulai mengalami kegagalan pertama dalam bisnisnya. Anda harus belajar untuk terus bertahan dalam menghadapi segala kesulitan. Jika Anda teguh dalam menghadapi kesulitan, maka kegagalan tidak dapat menghentikan Anda.

6. Kepribadian yang buruk

Nah, ini yang saya maksud. Karena punya kepribadian buruk, banyak orang meng­hindar, maka tidak ada harapan bagi Anda untuk sukses. Ingat, sukses datang dari penerapan suatu kekuatan yang diperoleh dari kerjasama dan dukungan dari or­ang lain. Kepribadian buruk tidak dapat mengikat orang untuk bersatu. Itu cenderung meng­akibatkan perpecahan.

7. Menginginkan sesuatu hal yang tidak berguna

Banyak orang menginginkan kaya secara cepat. Tidak mau bekerja keras, dan hanya mengharapkan orang lain yang bekerja buat mereka. Hal ini akan menyebabkan kegagalan.

8. Kurang konsentrasi dalam berusaha

Jika Anda tipe orang yang mudah berpindah pekerjaan karena berpikir pekerjaan yang sedang Anda tekuni saat ini terlalu lambat berkembang, dan menghasilkan uang yang sedikit, hal itu akan menghambat Anda menjadi sukses. Jika tergesa-gesa ingin menjadi kaya, sesungguhnya Anda sedang dalam kesulitan. Setiap orang akan melihat Anda sebagai orang yang tidak fokus, tidak tahu apa yang Anda inginkan. Belajarlah untuk berkonsentrasi terhadap semua usaha dalam rangka mencapai satu tujuan yang jelas.

9. Kurangnya antusiasme

Mereka akan melihat Anda sebagai orang yang tidak mampu me­yakinkan, jika Anda sendiri tidak antusias terhadap apa yang Anda tawarkan. Jika tidak bersemangat terhadap apa yang Anda lakukan, bagaimana Anda bisa meyakinkan orang lain? Ingatlah, antusiasme dapat menulari atau memengaruhi orang lain di sekitar Anda untuk mengikuti apa yang Anda inginkan.

10. Egois

Jika Anda termasuk tipe orang yang mau menang sendiri (egois), tidak mau mendengarkan pendapat or­ang lain, punya sikap selalu merasa yang terbaik, maka orang-orang akan melihat Anda sebagai orang yang tidak bisa diajak bekerja sama. Mereka akan menghindar dari Anda. Sikap yang mau menang sendiri akan menggagalkan Anda untuk sukses, baik sebagai networker maupun kehidupan sehari-hari.

Anda sudah mengetahui bahwa ada 10 hal yang bisa menggagalkan Anda untuk mencapai sukses—tidak hanya dalam bisnis network marketing, tetapi juga dalam kehidupan Anda sehari-hari. Apabila mau bekerja untuk meng­hilangkan sikap yang buruk tersebut, Anda akan sukses mencapai harapan dan impian Anda.

Demikian 10 hal yang diungkapkan oleh Napoleon Hill. Saya hanya menggandeng 10 opini tersebut, lalu mengemasnya dalam bahasa saya. Saya pikir 10 hal tersebut sangatlah sederhana, bahkan saya yakin Anda sudah tahu. Tapi kenapa masih ada yang menyebalkan? Hehehe… Berarti antara tahu dan mewujudkan, memang terdapat jurang pemisah yang sangat dalam. Bagaimana dengan Anda?[rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Ibu Bukannya Orang Indonesia?

lkkOleh: Lina Kartasasmita*

“Good teachers are costly, but bad teachers cost more.”

~ Bob Talbert

Sepuluh tahun lalu, seminggu sekali saya pergi berbelanja ke pasar swalayan di dekat rumah. Suatu kali saya melihat seorang anak berusia kira-kira sebelas tahun. Anak itu tampak mempunyai karakter yang baik dan berpakaian rapi. Dia tersenyum dan menghampiri saya yang agak kerepotan membawa barang belanjaan saya.

“Bu, boleh saya bantu?” dengan tersenyum anak laki-laki itu menawarkan jasa kepada saya.

Saya bertanya, Siapa nama kamu?”

Sigap dia menjawab, Udin, Bu.

Sejak perkenalan saya dengan Udin, dia selalu ada untuk membantu saya membawa barang belanjaan saya. Walaupun hanya bertemu seminggu sekali, saya cukup sering berbicang dengan Udin. Saya suka bertanya uang yang dia terima dengan menawarkan jasa akan dibelikan apa dan bagaimana pelajaran di sekolah. Rasanya saya cukup mengenal anak itu.

Saat itu bulan Mei 1998, terjadi kerusuhan di mana-mana. Beberapa hari saya tidak berani keluar rumah karena begitu mencekamnya suasana seperti yang saya saksikan di sekitar saya. Saya melihat orang-orang menjarah dan membakar toko-toko. Selang dua minggu saya memberanikan diri mengunjungi pasar swalayan tempat biasa saya berbelanja. Pasar swalayan itu tidak terkena dampak kerusuhan sama sekali. Tetapi, suasana mencekam masih terasa di sekitar pasar tersebut.

Udin tersenyum gembira melihat kedatangan saya. Dia bertanya, “Apa kabar, Bu? Kok Ibu tidak berbelanja beberapa minggu ini?

Saya menjawab, Saya tidak berani keluar rumah karena kerusuhan di mana-mana. Kamu di mana?

Udin bersemangat menceritakan, Oh saya ikut menjarah Bu menjarah ruko-ruko di dekat rumah saya.

Hati saya terkejut, sepertinya lenyaplah kebaikan di wajah Udin yang saya kenal selama ini. Saya bertanya, Kamu tidak kasihan dengan mereka?

“Tidak, Bu. Ayah saya bilang, saya boleh menjarah orang-orang keturunan itu karena mereka kaya dan tidak apa-apa menjarah mereka” Udin bercerita sambil sibuk membantu membawakan belanjaan saya.

Setelah menaruh barang belanjaan saya saya mengajak Udin duduk sebentar dan berkata, Udin, kamu tahu tidak kalau saya juga orang keturunan?”

Udin tampak terkejut. Lalu dia memandangi wajah saya dengan pandangan mata tidak percaya, Ibu bukannya orang Indonesia?”

Ya, saya orang Indonesia. Tetapi saya ini orang-orang yang disebut orang keturunan juga.

Wajah Udin memerah. Dia memandangi lantai. Saya melanjutkan, Din, apa yang dikatakan ayah kamu bahwa kamu boleh menjarah itu adalah salah. Siapa pun yang memiliki harta itu mereka juga bekerja keras untuk mendapatkannya. Mereka mungkin mengumpulkan bertahun-tahun untuk memiliki apa yang mereka punya. Dan, mereka juga mempunyai anak-anak yang harus mereka sekolahkan. Kamu tidak akan pernah tahu sampai di mana perjuangan mereka untuk memiliki semua yang tampaknya nyaman di mata kamu.

Mereka mungkin bangun lebih pagi dari kamu, berhemat untuk membangun rumah yang nyaman, dan banyak lagi yang mereka perjuangkan dalam hidup mereka, sama seperti perjuangan kamu. Yang jelas mereka punya hak yang sama untuk hidup di negeri ini sama seperti kamu,lanjut saya.

Udin tampak gelisah mendengar perkataan saya. Lalu saya bilang, Ya sudah saya mau pulang ya.... Semoga kamu tahu apa yang baik dan benar yang kamu harus lakukan dalam hidup kamu.

Udin memandangi saya dan berkata, Saya tidak tahu Ibu orang keturunan. Muka Ibu sama sekali berbeda dengan mereka….

Saya menepuk bahu Udin dan berkata, Apa pun warna kulit saya, apa pun warna mata saya, yang penting adalah warna hati saya. Kebaikan kita yang diperthitungkan Tuhan.

Sejak itu saya tidak pernah bertemu Udin lagi.

Satu hal yang sering kita lupakan bahwa kadang sebagai orang tua kita tidak mengajarkan kebenaran kepada anak-anak kita sehingga mereka tersesat di jalan kehidupannya. Sekarang saat saya menulis artikel ini, si Udin pastilah sudah berusia sekitar 21 tahun. Saya tidak pernah bertemu Udin lagi memang. Namun saya hanya berharap percakapan kami yang hanya sesaat itu bisa mengubah pandangannya yang salah. Ya semoga saja….[lk]

* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Tulisan-tulisan Lina terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 5 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox