From Zero to Zero

iyOleh: Iftida Yasar*

Kalau kita orang Islam mendapatkan kemalangan, baik itu kehilangan seseorang atau kehilangan suatu benda, atau mendapatkan musibah, kalimat yang biasanya diucapkan adalah “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun” yang artinya; semua yang berasal dari Allah akan kembali kepada Allah. Jika kalimat ini diresapi artinya, akan jelas tergambarkan bahwa kita ini sekadar menikmati, sekadar mampir sekejap untuk menumpang minum di suatu kedai. Dan selesai minum kita akan pergi. Artinya, kehidupan di dunia ini singkat, sekejap saja, dibandingkan nanti dengan kehidupan kita di akhirat. Kehidupan yang sangat singkat itu menjadi bekal kita di kemudian hari dalam menjalani kehidupan di dunia kekal yaitu akhirat.

Jika di dunia kita mendapatkan kesempatan mendapatkan rezeki yang lebih dibandingkan orang lain, bukan berarti kita adalah orang yang hebat yang bisa mendapatkannya sendiri tanpa izin Allah. Banyak orang yang merasa bahwa harta dunia yang diperolehnya karena jabatan, pangkat, dan kepercayaan orang lain itu jatuh dari langit. Ada juga yang merasa tidak ada campur tangan dari Yang Maha Kuasa dalam hal keberkahan yang diperolehnya. Ingat cerita tentang ”Karun”, seorang kaya raya yang tidak mau bersyukur dan berterima kasih kepada Allah. Bahkan, dengan sombongnya ia mengatakan semua kekayaannya didapatkan atas usahanya sendiri. Maka, Allah menghukumnya dengan menimbun dan menenggelamkan Karun ke dalam bumi. Makanya, sekarang kalau kita menemukan harta yang tertimbun di dalam tanah, maka itu disebut ”harta karun”.

Perjalanan kehidupan manusia seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Pada saat kita di atas jangan sombong dan selalu ingat bahwa ada kemungkinan kita akan berada di posisi bawah. Kalau kita sedang susahdalam arti tidak punya uang atau mampu memenuhi kebutuhan hidupjangan putus asa. Selalu berdoa dan berharap bahwa roda akan berputar ke atas. Jadi, selalu ada harapan dan keyakinan bahwa dengan kerja keras dan doa suatu saat kita akan selamat.

Ada yang sudah mendapat amanah dari Allah dalam bentuk harta kekayaan yang luar biasa dan keberkahan dalam mencari rezeki. Tetapi, ia tidak mau menafkahkan sebagian hartanya kepada orang lain. Ada juga yang seakan tidak pernah susah selalu mendapatkan kemudahan, karena apa yang diberikan kepadanya disampaikan lagi kepada orang yang membutuhkan. Sedekah, apalagi kepada orang yang sangat membutuhkan, akan membuat rezeki kita dilipatgandakan Allah.

Dalam melakoni usaha, kadang apa yang kita sudah bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun runtuh dengan begitu saja dalam sekejap mata. Banyak yang menjadi penyebabnya; bisa karena produk atau jasa yang kita berikan kepada pelanggan menjadi tidak layak jual lagi, atau karena kalah bersaing dengan produk dan layanan baru. Pada saat krisis global melanda dunia, banyak sekali perusahaan kecil, bahkan perusahaan raksasa seperti General Motor kebanggaan Amerika Serikat, juga bangkrut. Perusahaan kecil yang selama ini melayani atau menjadi subkontraktor perusahaan besar juga tutup karena dampak krisis.

Gaya hidup sang pemilik perusahaan juga berpengaruh terhadap kelanggengan jalannya perusahaan. Jika semua keuntungan digunakan untuk membeli berbagai barang mewah, maka bisa jadi tidak ada sisa keuntungan yang dialokasikan untuk investasi atau diversifikasi usaha. Semua barang mewah atau gaya hidup mewah seperti bepergian keluar negeri, tinggal di hotel yang mewah, dan membeli barang mewah yang tidak penting dapat membuat kita bangkrut. Maha jutawan almarhun Michael Jackson yang demikian kaya raya, meninggal dunia dengan meninggalkan hutang sebesar Rp 4 triliun. Sungguh suatu angka yang sangat fantastis. Yang mana kalau dibuat atau diinvestasikan dalam bentuk usaha rakyat akan menghasilkan ribuan unit usaha yang akan menyerap jutaan tenaga kerja.

Bisa juga apa yang kita miliki hilang, kita harus menanggung utang, atau harus bertanggung jawab atas kesalahan bawahan kita. Sebagai pimpinan sudah pasti bahwa keberhasilan adalah milik bersama dan layak dinikmati oleh semua pihak yang terlibat dalam melakukan usaha tersebut. Jika rugi, walaupun kerugian itu diakibatkan oleh kesalahan karyawan, apakah kita bisa berkata kepada pelanggan bahwa perusahaan tidak dapat melakukan pekerjaan atau tidak bertanggung jawab terhadap kesalahan karyawan? Dalam situasi seperti ini, perusahaan yang mempunyai komitmen tinggi akan mengambil alih tanggung jawab. Pada waktu pekerjaan itu diberikan kepada kita, sudah barang tentu nama perusahaan dan reputasinya memegang peranan penting dalam mendapatkan pekerjaan itu. Adalah wajar jika perusahaan kita mau menjaga reputasi dan kelanggengannya, maka perusahaan akan tetap berkomitmen menyelesaikan pekerjaan itu.

Apa pun yang terjadi dalam hal kehilangan seluruh harta benda, baik karena kesalahan kita sendiri maupun karena kesalahan karyawan, tetap yakin dan percaya bahwa kita yang tadinya lahir ke dunia tanpa membawa apa pun juga, atau dengan modal nol, lalu mendapatkan kesempatan memperoleh banyak rezeki, lalu kehilangan dan dalam kondisi nol lagi. Harta benda yang kita dapatkan adalah dengan modal kerja keras, kejujuran, keyakinan bahwa harta itu hanya titipan. Dalam keadaan nol, yang hilang hanya harta benda yang tadinya memang tidsak ada. Semangat, keyakinan dan kemampuan kita kembali bangkit tidak akan hilang dan tidak akan tergantikan. Pelanggan yang sudah mengenal kemampuan kita akan kembali kepada kita dan dengan usaha yang tidak pantang menyerah, Insya Allah kondisi nol akan naik menjadi seperti semula. Bahkan, mungkin jauh lebih baik. Orang yang mampu mengatasi masalahnya sebesar apa pun akan tetap bertahan dan kembali berjuang untuk meraih sukses.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Semangat, Semangat, Semangat!

ggOleh: Gagan Gartika*

Semangat membuat tubuh, jiwa, dan pikiran kita yang terasa lemas menjadi bangkit kembali.

~ Gagan Gartika

Untuk menyegarkan tubuh, pagi-pagi saya suka jalan kaki, sekitar rumah dan keliling stadion di Jakarta Utara. Kata dokter cukup berolahraga tigapuluh menit saja sehari, badan kita sudah sehat. Dan karena itu, saya mencoba menjalankan terapi dokter tersebut. Selain supaya menjadi sehat, biar hidup saya bisa semangat dan bergairah kembali.

Memang terbukti. Pak Jaya misalnya, semula berpenyakit stroke. Untuk melangkah ke depan rumah saja tak sanggup. Namun, ia paksakan agar bisa jalan. Ia sendiri menyesal ketika jatuh sakit. Ia ingin sekali berolahraga, tetapi selagi sehat malas banget sehingga badan hancur dan kolesterol tinggi. Untuk itu, meskipun selangkah dan selagi masih bisa berdiri, ia bertekad bisa melangkah lagi.

Seminggu kemudian, Pak jaya sudah bisa melangkah lebih jauh, meskipun masih di sekitar rumah. Tetapi sebulan kemudian, ia sudah bisa keliling stadion, sama seperti yang saya lakukan. Bahkan, bulan berikutnya ia terlihat mampu keliling dengan bersepeda.

Di stadion terlihat banyak orang berjalan kaki, berlari, dan berolahraga lainnya. Mereka lakukan kegiatan itu setiap pagi. Saya lihat berbagai cara orang ingin sehat. Mereka berjalan sambil mengobrol sama teman, meskipun baru bertemu saat berolahraga. Saya sendiri kadang ikut nimbrung, berbagi cerita sambil jalan pagi. Ada cerita  menggembirakan dan menyedihkan. Dan yang paling kasihan, ada teman yang setiap membuka usaha selalu rugi.

Saat awal, ceritanya, ia buka bengkel kendaraan motor bekerja sama dengan seorang ahli perbaikan kendaraan. Kebetulan ia keluar dari tempat kerjaan pas ketemu saya yang kebetulan baru pensiun. Tak lama dari situ, kerja sama pun terjadi, mereka mendirikan usaha bengkel. Ia kebagian mempersiapkan tempat dan peralatan bengkel, sementara temannya yang mengoperasikan.

Saat awal berusaha bengkel itu banyak pelanggan dan bengkel pun mengalami kemajuan. Namun saat pembagian hasil, sering mengalami kendala. Mereka merasa yang kerja atau bagian operasional langsung perlu mendapatkan bagian lebih. Sementara, teman saya menginginkan uang dikumpul terlebih dahulu—baru dibagi, lagian modal seharusnya kembali dahulu.

“Semula saya mengalah, namun lama-kelamaan ia malah semakin menjadi-jadi. Mengambil uang tanpa sepemgetahuan saya. Wah repot, pikirku. Ujungnya terjadi perceraian, usaha tak berlanjut meskipun dalam keadaan maju, jelas teman saya ini.

Ia menyesalkan kejadian tersebut. Tapi harus gimana? “Meskipun bengkel banyak pelanggan, dan saat awal usaha kita baik-baik saja, bahkan usaha dilakukan dengan semangat sekali, sebelum ada penlanggan, saya dan mereka gencar berpormosi, mulai mengontak tetangga, memperkenalkan dengan menyebar brosur, yang terus menerus, sehingga bengkel dikenal orang. Namun karena permasalahan itu tadi, setelah berhasil pembagian menjadi tidak jelas dan sering selisih pendapat, usaha menjadi bangkrut, meskipun dalam kemajuan dan banyak pelanggan”, paparnya,

Semangat, semangat, semangat!pekik pejalan kaki lainnya yang berpapasan dengan kami, mengingatkan kami agar berolahraga penuh semangat.

Pembicaraan pun terhenti karena stop press dari pejalan kaki tersebut. Kemudian kata teman saya, “Saya bekerja sama dalam membangun perumahan karena melihat kawannya yang berhasil bergerak di bidang itu. Saya menyaksikan sendiri dan datang ke kantornya. Perusahaan dia berhasil mengembangkan usaha properti. Melihat saya pensiun dan menganggur tak ada pekerjaan, saya diajak bergabung mengembangkan lahan baru.

Si teman ini melanjutkan ceritanya, “Karena melihat keberhasilannya, saya bergabung bersama teman lainnya kumpulkan dana untuk membebaskan lahan baru. Kemudian, proses perizinan dan pembebasan tanah dilakukan. Saya yakin banget akan berhasil karena ditangani orang yang berpengalaman. Tetapi, ternyata di luar dugaan proses pembebasan tanah itu tak mulus. Terjadi sengketa. Padahal, banyak uang sudah keluar. Akhirnya, karena tanahnya luas dan banyak uang mati dalam pengurusan tanah tersebut, proyek tak bisa berjalan. Dan, usaha kedua kembali gagal.

Begitulah, nasib setelah pensiun. Menurut teman saya ini, ternyata membuka lahan usaha tidak gampang dan mendingan bekerja saja. Dalam berusaha, katanya, penuh intrik dan tipuan yang belum pernah ditemukan saat bekerja sebelumnya. Belum lagi kita harus berani menanggung rugi. Uang hasil pensiun bisa terkuras habis bila usaha terus begini. “Lantas, harus bagaimana? Kalau diam saja di rumah menjadi jenuh. Ketika berusaha, malah rugi terus!” keluhnya.

“Semangat, semangat, semangat,” teriak pejalan kaki tadi mengingatkan kami saat berpapasan lagi.

Kami yang lagi seru-serunya mengobrol sambil berjalan kaki jadi kaget dan seakan diingatkan. Apa pun masalahnya, kita memang harus tetap semangat berusaha. Memang begitulah, membuka usaha baru tidak gampang karena kita perlu berkenalan dulu dengan usaha yang kita jalankan. Baik mengenai produk, pasar, konsumen, harga, letak lokasi, tenaga kerja, termasuk teman kerjasama, dll. Dalam hal ini saya teringat selagi saya bekerja di perusahaan baru, perusahaan garment asal Korea. Saat awal berpoduksi—untuk menyamakan ritme bekerja—perusahaan mulai melakukan pelatihan karyawan. Kemudian sebelum menerima pekerjaan untuk ekspor, perusahaan terlebih dahulu mengerjakan pekerjaaan subkontrak. Dalam hal ini perusahaan bekerja membantu pekerjaan perusahaan lain yang memang perlu bantuan dan kelebihan order. Pekerjaan subkontrak ini dipakai untuk latihan sehingga pekerjaan dari luar negeri tidak langsung diterima, tetapi lebih menerima pekerjaan asal domestik atau pekerjaan teman.

Enam bulan kemudian tenaga kerja sudah mahir. Mereka sudah seirama dalam mengerjakan sesuatu. Kelemahan bekerja dan kekompakan terus telah mengalami perbaikan selama trial produksi. Setelah hasilnya bagus, kompak, dan lancar barulah perusahaan mulai berani menerima order untuk tujuan ekspor. Dan akhirnya, sebagai tenaga bagian ekspor, saya mulai mengurus dokumen ekspor perdana peusahaan tersebut. Pengguntingan pita perdana oleh pejabat sebagai bukti ekspor perdana sukses. Dan kesuksesan tersebut karena ada kesamaan dalam ritme bekerja yang sudah terlatih sebelumnya; mulai dari pimpinan, karyawan, bagian produksi, cutting, jahit, quality control, bahan baku, packing, dan ekspor terpadu menjadi satu irama kekuatan sehingga usaha bisa berhasil.

“Semangat, semangat, semangat!pekik pejalan kaki yang tadi berpapasan. Memang, apa pun masalah yang dihadapi, kita harus tetap semangat menjalani kehidupan ini. Karena dengat semangat itulah kita sudah membuka peluang agar suatu saat kita bisa berhasil. Jangan lupa, “Semangat, semangat, semangat ya Pak!demikian pesan saya sambil berpisah mengakhiri olahraga jalan kaki pagi itu.[gg]

*Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (Simark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada dibidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Email: gagan@kumaitucargo.co.id atau website: www.silaturahmimarketing.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Packnomics

sri-julianti-rOleh: Sri Julianti*

Apa itu Packnomics? Packnomics adalah packaging/kemasan yang tidak hanya  ekonomis tetapi juga berdampak postif terhadap lingkungan. Istilah ini dipakai oleh Kevin Howard dalam seminarnya tentang sustainable packaging. Sering kali begitu mendengar istilah ekonomis, orang selalu mengaitkannya dengan barang murah dengan kualitas seadanya. Hal ini tidak 100 persen betul meskipun pemikiran orang pada umumnya seperti itu.

Packnomics adalah desain yang ekonomis, desain kemasan yang tidak berlebihan (Less Packaging), tetapi tetap melaksanakan fungsinya serta menghasilkan keuntungan dari penggunaan bahan, penggunaan ruangan/space, sarana gudang, transportasi, dan akhirnya meningkatkan keuntungan perusahaan secara total. Dan yang terpenting, dampak terhadap lingkungan juga akan lebih baik dibandingkan dengan overpack.

Memang, beberapa waktu yang lalu orang selalu merasa: Big is better, give more impression to the consumer.Produsen berlomba-lomba membuat kemasan yang besar atau kelihatan besar meskipun isinya sama atau bahkan lebih kecil. Kebetulan sekali di Indonesia belum ada peraturan yang mengikat berapa banyak free space yang diperbolehkan pada suatu kemasan. Misalnya, kemasan 100 gram seharusnya cukup menggunakan karton 150 x 230 x 30 milimeter. Produsen bisa saja membuat karton yang lebih besar dari ukuran tersebut. Memang ukuran kemasan yang besar kadang-kadang diperlukan untuk menunjang efisiensi mesin pengepak, tetapi perlu dipertimbangkan juga dengan teliti sebelum melakasanakannya.

Beberapa produsen, marketers, maupun packaging designer masih berkutat pada mind-set lama ini. Tetapi perlu saya ingatkan, saat ini konsumen lebih pandai dan kritis. Pada umumnya konsumen juga membaca declared nett dari produk tersebut sehingga konsumen tidak begitu mudah “tertipu” untuk membeli produk yang kemasannya (kelihatan) besar.

Untuk produsen skala besar, yang mempunyai team yang cukup lengkap, tentunya sudah mulai semakin cermat dan teliti dalam menentukan ukuran kemasan. Dan, memang ada pakem-pakem tertentu yang tidak mungkin dilanggar. Tetapi, mind-set membuat kemasan jauh lebih besar dari seharusnya masih disukai oleh sebagian besar produsen dan marketers.

Bila Anda pernah membeli suatu produk, coba perhatikan ukuran kemasan dan berapa berat bersih produk yang dikemas. Apa pun produk yang Anda beli, perhatikan kemasannya. Baik produk tradisional dengan kemasan modern seperti dodol, martabak, tahu goreng, dll, maupun produk makanan modern seperti susu dan cereal. Juga perhatikan produk kosmetik pada umumnya. Tampaklah kemasan produk yang Anda beli itu lebih besar dari yang seharusnya. Padahal dari sisi biaya, pasti dong kemasan yang ukurannya besar memerlukan biaya lebih besar juga dibandingkan produk dengan ukuran kemasan yang ”pas”.

Karena kompetisi di pasar dan biaya kemasan yang semakin tinggi sekarang ini, para produsen juga sudah mulai melirik konsep Packnomics & Small is beautiful. Less packaging, more value and support the enviroment better”. Packaging yang ekonomis, kecil itu indah, yang tidak berlebih namun memberikan nilai tambah, serta memberikan dampak yang lebih baik terhadap lingkungan.

Memang tidak mudah meyakinkan bagian pemasaran yang sering kali tidak yakin dengan kemasan yang kelihatan lebih kecil dari produk para pesaing. Apakah produk dengan kemasan lebih kecil akan kalah bersaing dengan produk pesaingnya? Tantangan ini harus dijawab oleh ahli packaging dan packaging designer-nya. Mereka harus membuat packaging-nya sedemikian rupa sehingga tidak ada dampak negatif terhadap penjualan produk tersebut.

Mungkin marketing akan bertanya, ”Lho, kalau lebih kecil ukurannya, kan kalah dengan produk pesaing?” Atau, pihak lain juga bertanya, Walah, kalau cuman mengecilkan ukuran 3 mm saja tidak ada gunanya. Hanya merepotkan bagian pengepakan!” Jangan khawatir, semua ini dapat Anda buktikan dengan data. Coba saja tunjukkan kemasan baru (ukuran dan grafisnya) kepada teman sekantor Anda, apakah mereka akan melihat ukuran yang berbeda? Pada umumnya mereka akan melihat grafis yang berbeda tanpa menyadari ukurannya memang berbeda. Memang Anda tidak dapat mengurangi ukuran kemasan secara drastis tanpa mempertimbangkan dampak negatifnya terhadap konsumen.

Kalau Anda sendiri tidak yakin juga, apakah pengurangan ukuran karton yang cuman 2-3 mm tadi dampaknya besar, Anda dapat menghitungnya. Mulai saja dari ukuran kardus luar (corrugated outer), kemudian berapa kardus per pallet, berapa space yang dapat dihemat, dan berapa kardus per truk atau container. Anda akan surprise begitu menghitung semua faktor ini.

Suatu hari saya membeli produk farmasi  berupa gel yang dikemas dalam tube dan karton. Wah, kartonnya dibuat sedemikian rupa agar tampak proporsional dan cantik sehingga melupakan kaidah Packnomincs.

Ukuran karton yang dipasarkan misalkan P x L x T, sedangkan seharusnya cukup P x  0.7L x T. Coba berapa yang seharusnya bisa dihemat dari sisi kartonnya sendiri? Logikanya sederhana saja, bila karton yang dibutuhkan menjadi lebih kecil, berarti biaya kemasan akan lebih murah. Tetapi, ini saja tidak cukup untuk meyakinkan bagian pemasaran untuk menghemat biaya. Karena, bagian pemasaran tidak memerlukan hal ini sebab toh penjualan mereka baik, target penjualan selalu tercapai, dan keuntungan cukup tinggi. Bila Anda tidak berhasil meyakinkan para marketers Anda karena ukurannya terlalu kecil, jangan berkecil hati. Anda dapat melakukannya secara bertahap.

Hal-hal positif lainnya dari pengurangan ukuran karton itu harus dipaparkan secara rinci dengan perhitungan secara ekonomis. Jika produk farmasi gel itu penjualannya katakan saja 10 juta per tahun, maka perhitungannya sebagai berikut:

Dari sisi ekonomis: Ukuran kotak yang lebih kecil, menyebabkan ukuran kardus luar (corrugated outer) menjadi berkurang à biaya kemasan akan berkurang. Ukuran kardus luar lebih kecil, maka untuk setiap pallet akan menampung lebih banyak produk. Akibatnya, setiap truk dapat menampung lebih banyak produk yang berarti mengurangi biaya tranpsortasi. Itu juga berarti mengurangi emisi karbon karena bahan bakar yang digunakan untuk mengangkut barang yang sama menjadi lebih sedikit. Gudang Anda akan lebih efisien karena dapat menampung lebih banyak produk.

Dari sisi dampak terhadap lingkungan: Berapa ton karton yang dapat dihemat? Berapa pohon yang tidak jadi ditebang untuk keperluan karton tersebut? Tahukah Anda bahwa untuk menghasilkan 900 kilogram kertas diperlukan kira-kira 24 pohon dengan diameter yang cukup besar. Berapa bahan bakar yang dapat dihemat untuk transportasi, ini berarti juga mengurangi emisi CO2.

Begitu ukuran kemasan dioptimalkan, semua keuntungan di atas akan dinikmati seperti bola salju yang berguling, semakin lama semakin besar keuntungan yang diperoleh. Bila dihitung secara rinci, hampir pasti Anda akan dapat meyakinkan bagian pemasaran untuk mengurangi ukuran karton tersebut. Bila anda berhasil dengan satu produk, maka akan dengan mudah untuk meyakinkan marketers untuk produk lainnya.

Itu hanya salah satu contoh dari karton produk farmasi dan hanya sebagian lebar karton yang dikurangi. Kalau kita tinjau dari semua sisi; panjang dan tinggi karton, ada kemungkinan juga masih dapat dioptimalkan. Belum lagi bila kita meninjau semua produk yang menggunakan kemasan karton dari kategori lain, seperti dodol, cereal, susu, teh, produk rumah tangga, kosmetik dll, tentunya akan banyak hal positif yang dapat dilakukan. Apalagi bila ditambahkan jenis kemasan lainnya, rasanya akan banyak sekali hal positif dan bermanfaat, baik untuk bisnis Anda, meningkatkan margin/keuntungan, plus membantu bumi tercinta ini.

Memang tidak semua kemasan di pasar overpack. Tetapi, ada banyak produk yang kemasannya dapat ditinjau ulang sesuai dengan konsep Packnomics tadi. Dengan memerhatikan banyaknya keuntungan yang didapat melalui konsep Packnomics tadi, mestinya bukan hal yang susah dan tak ada alasan bagi produsen untuk tidak melaksanakannya.

Saya menghimbau teman-teman, para marketers, ahli kemasan, desainer kemasan, produsen, dan pembuat mesin pengepak untuk saling bekerja sama agar produk yang dijual menggunakan kemasan dengan konsep Packnomics. Anda akan menikmati keuntungan, konsumen akan untung, demikian juga bumi tercinta ini. Mari kita giatkan Packnomics ini di lingkungan kerja kita, apakah kita seorang penjual kue tradisional, makanan modern, maupun produsen lainnya. Selamat berkarya.[sj]

* Sri Julianti adalah ahli packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Ia dapat dihubungi melalui e-mail: julipackaging@yahoo.com atau di website-nya: www.srijualianti.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Nyaman Menuruti Kata Hati

ekOleh: Eni Kusuma*

“Jangan abaikan ‘kata hati’.” Kita sering kali mendengar nasihat bijak ini. Memang benar “kata hati” adalah pengendali langkah dan pemberi informasi yang benar. Siapa pun kita, apa pun profesinya, jika selalu mendengarkan ‘kata hati’, maka senantiasa tepat dalam pengambilan keputusan untuk menentukan prioritas.

Dan ‘kata hati’ ini bersifat universal. Karena, dari ‘kata hati’ akan melahirkan kebenaran, keadilan, kasih, sayang, cinta, perdamaian dan sebagainya, yang bersifat universal pula.

Kegelisahan terasakan saat Prita Mulyasari terbelit hukum yang mengharuskan ia membayar denda sebesar ratusan juta rupiah. Apa yang Anda rasakan? Adalah dorongan kata hati untuk menolongnya. Sehingga, terkumpullah “koin untuk Prita”, bahkan lebih jika untuk membayar denda yang dibebankan kepadanya.

Perasaan ingin menolong, rasa kasih, sayang, dan perasaan ingin melindungi adalah sifat-sifat Sang Pencipta yang Maha-Penolong, Maha-Pengasih, Maha-Penyayang, dan Maha-Pelindung yang ditiupkan juga ke dalam jiwa manusia. Sehingga, manusia secara fitrah memiliki sifat-sifat mulia tersebut dari Tuhannya. Jika manusia menyalahi fitrahnya tersebut dengan berbuat keburukan, maka pastilah muncul perasaan tidak nyaman karena terus-menerus dinasihati oleh “kata hati”nya.

Berbagai kalangan dari orang tua sampai anak-anak, laki-laki, dan perempuan merasakan kesamaan rasa terhadap Prita. Rasa ingin menolong. Rasa ini bersifat universal karena semua manusia memiliki fitrah ini. Dan, berbagai kalangan juga merasakan kesamaan rasa “tidak suka atau merasa tidak adil bagi Prita”. Sebentuk rasa universal karena sebuah nilai keadilan tercabik-cabik.

“Kata hati” sering kali terabaikan oleh berbagai kepentingan sehingga ia tidak didengarkan untuk acuan pengambilan keputusan. Bagi orang yang berprinsip pada kepentingan politik, maka keputusannya diprioritaskan untuk keuntungan politik. Bagi orang yang berprinsip pada kepentingan tim suksesnya yang telah mengantarkannya ke singgasana kekuasaan, maka keputusan akan mementingkan tim suksesnya. Mereka yang berprinsip pada persahabatan maka keputusan yang diambil untuk melanggengkan persahabatan, tidak peduli mengorbankan banyak orang.

Kadang orang mengabaikan kata hati dalam pengambilan keputusan, bahkan menyimpang dengan “kata hati” karena banyak hal, antara lain, merasa tidak enak hati apalagi karena pernah ditolong atau takut diancam, dan lain-lain. Jika ini terjadi, maka kita akan mendapatkan keuntungan yang bersifat jangka pendek. Jika suatu saat terbongkar, itu akan menimbulkan kerugian jangka panjang karena krisis kepercayaan yang muncul di mana-mana. Dan pasti terbongkar cepat atau lambat. “Kata hati” adalah keseimbangan karena yang ditimbulkan oleh “kata hati” seperti kebenaran, keadilan, dll, memberikan keseimbangan. Keputusan yang menyimpang dari “kata hati” akan berakhir dengan menyedihkan karena segala sesuatu pasti menuju kepada keseimbangan.

Jika kita mendengarkan “kata hati” dalam pengambilan keputusan untuk menentukan prioritas kejujuran dan keadilan, serta mengesampingkan berbagai kepentingan, maka keuntungan jangka panjanglah yang diperoleh, bukan keuntungan jangka pendek. Mungkin juga kita akan menerima kerugian tetapi kerugian ini bersifat jangka pendek. Karena seperti uraian di atas, semua menuju kepada keseimbangan.

Contoh lain, dalam hubungan majikan terhadap pembantu rumah tangganya. Andai semua majikan dalam memperlakukan pembantunya sesuai dengan “kata hati”-nya, dan para pembantu juga bekerja dengan hatinya, maka akan tercipta kondisi kerja yang baik. Terutama para majikan di luar negeri, andaikan mereka dalam memperlakukan pekerja rumah tangganya sesuai dengan “kata hati”-nya, dengan mengabaikan stigma atau pandangan negatif yang terlanjur melekat pada PRT Indonesia (hal ini dikarenakan oleh kurang siap dan kurang terlatihnya para PRT Indonesia), maka tentu akan tercipta kondisi kerja yang baik. Adapun stigma yang terlanjur melekat pada PRT Indonesia adalah, bahwa PRT Indonesia itu bodoh, tidak becus kerja, lambat, malas, tidak pintar berbahasa Inggris, dan lain-lain. Jika kondisi kerja yang baik tercipta, maka PRT Indonesia tidak akan mengalami kejahatan perdagangan manusia atau trafficking di negeri sendiri oleh bangsa sendiri.

Saya yakin, majikan yang merasa takut penuh kecurigaan terhadap masuknya “orang asing” ke wilayah prifat mereka, sehingga memicu mereka berbuat kejam dan tidaklah nyaman dalam menjalani hidupnya sehari-hari. Tapi apa boleh buat, sering kali mereka dilindungi oleh negaranya.

Apa pun profesi kita, sebagai hakim, bos perusahaan, menteri, gubernur, majikan terhadap pembantunya bahkan sebagai presiden, pengambilan keputusan hendaknya dilandasi dengan “kata hati”. Sehingga, kita merasa nyaman dalam menjalani profesi kita dan nyaman pula dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari.

Demikiankah?[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

10 Kebiasaan Buruk Pencipta Kegagalan

relon-star-rOleh: Relon Star*

Banyak orang memimpikan hidup sukses, tapi menyingkirkan hal-hal yang penting untuk meraih sukses. Sejak me-release buku perdana saya berjudul Run or Die, saya berkesempatan bertemu banyak orang. Ada yang ramah, namun ada juga yang tidak. Padahal, satu saja kesimpulan saya sejak banyak berkeliling, relasi itu penting! Bahkan, sangat penting.

Baru saja saya sms-an dengan seorang rekan, mengenai rencana promo buku saya di luar kota. Dia menjawab agak ketus, padahal kita tinggal menentukan tanggal, dan semuanya beres. Saya bingung juga, padahal saya merasa tidak ada yang perlu dimasalahkan karena dia hanya perantara, bukan decision maker. Sebab, sang decision maker sudah memberikan lampu hijau untuk melakukan kegiatan promo di kotanya. Saya menjawab enteng semua sms masuk darinya. Bahkan ketika saya tahu beliau sedang mengurusi sebuah acara penting, saya mengirim sms padanya, “Sukses yah acaranya!” Dan, Anda tahu? Sms saya bertepuk sebelah tangan… hahaha … never mind.

Tapi jujur saja, sejak saat itu merasa harus membuat boundary setting terhadap orang tersebut. Bahaya juga nih kalau sikapnya terhadap saya kurang mengesankan. Dan lagi, kalau mau melibatkan emosi hehehe… ”Dia kan tahu siapa gue!? Cieee… (yang ini jangan ditiru).

Hmmm… kejadian ini membuat saya untuk kesekian kalinya harus mengurut dada. Tidak banyak orang mengerti bahwa menjaga hubungan baik dengan orang lain sangat penting untuk mewujudkan sukses.

Saking penasarannya saya, saya hunting di internet, maka ketemulah saya dengan opini berikut yang digagas oleh Napoleon Hill dalam bukunya berjudul Think Grow Rich. Aha! Ternyata pendapat saya benar, kepribadian yang buruk termasuk dalam 10 daftar yang Hill berikan sebagai salah satu penyebab kegagalan—di antara 9 lainnya.

Di luar 31 “daftar dosa” yang digulirkan oleh Hill, secara umum ada 10 kebiasaan kurang baik yang muaranya menciptakan kegagalan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun sebagai networker. Berikut 10 kebiasaan itu, yang mudah-mudahan bisa menambah gereget Anda untuk merubah hidup:

1. Kurang jelas tujuan hidup

Jika tidak punya tujuan jelas, baik dalam bisnis network marketing maupun kehidupan sehari-hari, maka Anda akan gagal. Hill melaporkan, 98 dari 100 orang tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam hidup. Maka, janganlah menjadi salah satu dari 98 orang itu. Sisihkan sebagian waktu, lakukan dengan tenang mengkaji lagi tentang apa yang sungguh-­sungguh Anda ingin lakukan dalam hidup dan bisnis. Tuliskan tujuan dan aspirasi itu. Selanjutnya bacalah semua itu dengan keras setiap harinya untuk selalu mengingatkan Anda akan tujuan tersebut.

2. Kurangnya ambisi untuk mencapai hasil lebih

Jika Anda termasuk tipe orang yang acuh terhadap hidup, tidak ada keinginan untuk maju ke depan, tidak ada keinginan untuk bekerja keras, Anda tidak akan mencapai sukses dalam segala hal. Antara pasrah dengan pesimis memang beda tipis. Banyak orang yang sudah dirasuki rasa nrimo saja. Padahal, kalau kita punya ambisi mencapai lebih, maka banyak hal yang dapat diraih. Ambisi tidak selalu dapat diasumsikan negatif. Karena ambisi itu baik, yang tidak baik ialah menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisi. Itu saja!

3. Kurang disiplin

Kurangnya pengendalian dan disiplin dapat menghancurkan hidup. Jadi, kita harus mengendalikan diri terhadap segala sesuatu yang negatif. Ini tentu tidak mudah. Jika tidak mampu mengendalikan diri secara disiplin, Anda akan dihancurkan oleh diri sendiri.

4. Terlalu berhati-hati

Ini merupakan penyebab umum yang akan mengakibatkan kegagalan. Setiap orang menghadapi semacam ketakutan yang akan menghambat untuk mencapai sukses. Banyak dari kita yang menjalani hidup hanya menunggu kapan kesempatan baik datang. Ingatlah, bahwa kesempatan baik tidak akan pernah datang, kecuali jika Anda mau bertindak. Kunci dari suatu kesuksesan adalah berani mengambil tindakan. Jadi bertindaklah dalam kondisi apa pun yang sedang dialami saat ini. Jika berani mengambil tindakan, maka Anda akan dikejutkan oleh betapa keberanian itu bisa mengubah hidup dan bisnis Anda menjadi lebih baik.

5. Kurang Teguh

Banyak orang yang dengan mudah menyerah. Banyak dari kita yang memulai segala sesuatu dengan baik, tetapi begitu mudahnya menyerah pada saat menghadapi persoalan. Begitu banyak orang yang mudah menyerah ketika mereka mulai mengalami kegagalan pertama dalam bisnisnya. Anda harus belajar untuk terus bertahan dalam menghadapi segala kesulitan. Jika Anda teguh dalam menghadapi kesulitan, maka kegagalan tidak dapat menghentikan Anda.

6. Kepribadian yang buruk

Nah, ini yang saya maksud. Karena punya kepribadian buruk, banyak orang meng­hindar, maka tidak ada harapan bagi Anda untuk sukses. Ingat, sukses datang dari penerapan suatu kekuatan yang diperoleh dari kerjasama dan dukungan dari or­ang lain. Kepribadian buruk tidak dapat mengikat orang untuk bersatu. Itu cenderung meng­akibatkan perpecahan.

7. Menginginkan sesuatu hal yang tidak berguna

Banyak orang menginginkan kaya secara cepat. Tidak mau bekerja keras, dan hanya mengharapkan orang lain yang bekerja buat mereka. Hal ini akan menyebabkan kegagalan.

8. Kurang konsentrasi dalam berusaha

Jika Anda tipe orang yang mudah berpindah pekerjaan karena berpikir pekerjaan yang sedang Anda tekuni saat ini terlalu lambat berkembang, dan menghasilkan uang yang sedikit, hal itu akan menghambat Anda menjadi sukses. Jika tergesa-gesa ingin menjadi kaya, sesungguhnya Anda sedang dalam kesulitan. Setiap orang akan melihat Anda sebagai orang yang tidak fokus, tidak tahu apa yang Anda inginkan. Belajarlah untuk berkonsentrasi terhadap semua usaha dalam rangka mencapai satu tujuan yang jelas.

9. Kurangnya antusiasme

Mereka akan melihat Anda sebagai orang yang tidak mampu me­yakinkan, jika Anda sendiri tidak antusias terhadap apa yang Anda tawarkan. Jika tidak bersemangat terhadap apa yang Anda lakukan, bagaimana Anda bisa meyakinkan orang lain? Ingatlah, antusiasme dapat menulari atau memengaruhi orang lain di sekitar Anda untuk mengikuti apa yang Anda inginkan.

10. Egois

Jika Anda termasuk tipe orang yang mau menang sendiri (egois), tidak mau mendengarkan pendapat or­ang lain, punya sikap selalu merasa yang terbaik, maka orang-orang akan melihat Anda sebagai orang yang tidak bisa diajak bekerja sama. Mereka akan menghindar dari Anda. Sikap yang mau menang sendiri akan menggagalkan Anda untuk sukses, baik sebagai networker maupun kehidupan sehari-hari.

Anda sudah mengetahui bahwa ada 10 hal yang bisa menggagalkan Anda untuk mencapai sukses—tidak hanya dalam bisnis network marketing, tetapi juga dalam kehidupan Anda sehari-hari. Apabila mau bekerja untuk meng­hilangkan sikap yang buruk tersebut, Anda akan sukses mencapai harapan dan impian Anda.

Demikian 10 hal yang diungkapkan oleh Napoleon Hill. Saya hanya menggandeng 10 opini tersebut, lalu mengemasnya dalam bahasa saya. Saya pikir 10 hal tersebut sangatlah sederhana, bahkan saya yakin Anda sudah tahu. Tapi kenapa masih ada yang menyebalkan? Hehehe… Berarti antara tahu dan mewujudkan, memang terdapat jurang pemisah yang sangat dalam. Bagaimana dengan Anda?[rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Ibu Bukannya Orang Indonesia?

lkkOleh: Lina Kartasasmita*

“Good teachers are costly, but bad teachers cost more.”

~ Bob Talbert

Sepuluh tahun lalu, seminggu sekali saya pergi berbelanja ke pasar swalayan di dekat rumah. Suatu kali saya melihat seorang anak berusia kira-kira sebelas tahun. Anak itu tampak mempunyai karakter yang baik dan berpakaian rapi. Dia tersenyum dan menghampiri saya yang agak kerepotan membawa barang belanjaan saya.

“Bu, boleh saya bantu?” dengan tersenyum anak laki-laki itu menawarkan jasa kepada saya.

Saya bertanya, Siapa nama kamu?”

Sigap dia menjawab, Udin, Bu.

Sejak perkenalan saya dengan Udin, dia selalu ada untuk membantu saya membawa barang belanjaan saya. Walaupun hanya bertemu seminggu sekali, saya cukup sering berbicang dengan Udin. Saya suka bertanya uang yang dia terima dengan menawarkan jasa akan dibelikan apa dan bagaimana pelajaran di sekolah. Rasanya saya cukup mengenal anak itu.

Saat itu bulan Mei 1998, terjadi kerusuhan di mana-mana. Beberapa hari saya tidak berani keluar rumah karena begitu mencekamnya suasana seperti yang saya saksikan di sekitar saya. Saya melihat orang-orang menjarah dan membakar toko-toko. Selang dua minggu saya memberanikan diri mengunjungi pasar swalayan tempat biasa saya berbelanja. Pasar swalayan itu tidak terkena dampak kerusuhan sama sekali. Tetapi, suasana mencekam masih terasa di sekitar pasar tersebut.

Udin tersenyum gembira melihat kedatangan saya. Dia bertanya, “Apa kabar, Bu? Kok Ibu tidak berbelanja beberapa minggu ini?

Saya menjawab, Saya tidak berani keluar rumah karena kerusuhan di mana-mana. Kamu di mana?

Udin bersemangat menceritakan, Oh saya ikut menjarah Bu menjarah ruko-ruko di dekat rumah saya.

Hati saya terkejut, sepertinya lenyaplah kebaikan di wajah Udin yang saya kenal selama ini. Saya bertanya, Kamu tidak kasihan dengan mereka?

“Tidak, Bu. Ayah saya bilang, saya boleh menjarah orang-orang keturunan itu karena mereka kaya dan tidak apa-apa menjarah mereka” Udin bercerita sambil sibuk membantu membawakan belanjaan saya.

Setelah menaruh barang belanjaan saya saya mengajak Udin duduk sebentar dan berkata, Udin, kamu tahu tidak kalau saya juga orang keturunan?”

Udin tampak terkejut. Lalu dia memandangi wajah saya dengan pandangan mata tidak percaya, Ibu bukannya orang Indonesia?”

Ya, saya orang Indonesia. Tetapi saya ini orang-orang yang disebut orang keturunan juga.

Wajah Udin memerah. Dia memandangi lantai. Saya melanjutkan, Din, apa yang dikatakan ayah kamu bahwa kamu boleh menjarah itu adalah salah. Siapa pun yang memiliki harta itu mereka juga bekerja keras untuk mendapatkannya. Mereka mungkin mengumpulkan bertahun-tahun untuk memiliki apa yang mereka punya. Dan, mereka juga mempunyai anak-anak yang harus mereka sekolahkan. Kamu tidak akan pernah tahu sampai di mana perjuangan mereka untuk memiliki semua yang tampaknya nyaman di mata kamu.

Mereka mungkin bangun lebih pagi dari kamu, berhemat untuk membangun rumah yang nyaman, dan banyak lagi yang mereka perjuangkan dalam hidup mereka, sama seperti perjuangan kamu. Yang jelas mereka punya hak yang sama untuk hidup di negeri ini sama seperti kamu,lanjut saya.

Udin tampak gelisah mendengar perkataan saya. Lalu saya bilang, Ya sudah saya mau pulang ya.... Semoga kamu tahu apa yang baik dan benar yang kamu harus lakukan dalam hidup kamu.

Udin memandangi saya dan berkata, Saya tidak tahu Ibu orang keturunan. Muka Ibu sama sekali berbeda dengan mereka….

Saya menepuk bahu Udin dan berkata, Apa pun warna kulit saya, apa pun warna mata saya, yang penting adalah warna hati saya. Kebaikan kita yang diperthitungkan Tuhan.

Sejak itu saya tidak pernah bertemu Udin lagi.

Satu hal yang sering kita lupakan bahwa kadang sebagai orang tua kita tidak mengajarkan kebenaran kepada anak-anak kita sehingga mereka tersesat di jalan kehidupannya. Sekarang saat saya menulis artikel ini, si Udin pastilah sudah berusia sekitar 21 tahun. Saya tidak pernah bertemu Udin lagi memang. Namun saya hanya berharap percakapan kami yang hanya sesaat itu bisa mengubah pandangannya yang salah. Ya semoga saja….[lk]

* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Tulisan-tulisan Lina terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 5 votes)

Automatis Diplomatis

adOleh: Alexandra Dewi*

Kalau mau sukses dalam menjalankan usaha, katanya harus bisa berdiplomasi. Tidak boleh menunjukkan perasaan atau pikiran kita secara terang-terangan. Bahkan, kepada yang berutang kepada perusahaan sekalipun, surat yang isinya menagih utang saja tidak berbunyi kasar. Isinya menagih tapi secara diplomatis. Yang berutang saja masih disebut YTH (Yang Terhormat). Sama seperti menulis surat penawaran harga atas jasa/barang yang kita perdagangkan.

Dalam menjalankan pertemanan, ternyata sama seperti perusahaan, kita harus diplomatis. Mengerti mana yang harus dikatakan, mana yang tidak, dan kalau dikatakan pun harus secara diplomatis. Mengapa saya menulis soal diplomatis ini? Karena saya baru mendengar cerita dua orang kawan lama, yang gara-gara kurang diplomatis, malah menjadi kurang harmonis hubungannya.

Begini ceritanya. Kedua kawan saya ini sebut saja Amanda dan Cindy. Mereka sudah saling kenal sejak SMP. Saya dengar Amanda sudah lama dalam keadaan ekonomi yang bisa dikatakan cukup sulit. Kalau tidak salah selepas SMA Amanda tidak sempat kuliah tapi langsung menikah dan punya anak. Lalu dia bercerai dan menikah lagi. Namun, karena satu dan lain hal, dari suami pertama ke suami yang sekarang, keadaan ekonominya belum bisa dibilang berkecukupan.

Cindy sempat kuliah dan sekarang bekerja di suatu perusahaan milik keluarga. Ketika Amanda bertanya apakah ada lowongan di perusahaan tempat Cindy bekerjatentu saja secara diplomatisCindy bisa menjawab bahwa soal menerima karyawan atau karyawati baru bukan wewenang Cindy. Toh, walau perusahaan milik keluarga, Cindy bukan pemilik atau pimpinan perusahaan yang berwenang menerima pegawai baru. Untung, jawaban diplomatis Cindy diterima dengan baik oleh Amanda.

Amanda kadang curhat kepada kawan lamanya bahwa biaya hidup di rumah tangganya sangat pas-pasan, dan berat sekali rasanya memenuhi kebutuhan dasar sekalipun. Kasihan dengan kawan lamanya, Cindy menawarkan penghasilan tambahan kepada Amanda. Caranya dengan memesan kue-kue untuk acara staff gathering yang akan diadakan oleh perusahaan tempat Cindy bekerja.

Amanda sendiri mengakui bahwa dirinya tidak bisa membuat kue. Tetapi omanya pandai memasak kue dan dari hasil masakan omanya itulah yang akan dijual kepada Cindy. Namun, karena tujuan memesan kue ini sebenarnya adalah untuk menolong teman, tentu Cindy tidak banyak bertanya. Ia memesan beberapa jenis kue yang mana salah satu jenis kuenya adalah tiramisu (yang harus diletakkan di lemari es sebelum disajikan).

Beberapa hari sebelum acara staff gathering, Cindy baru sadar bahwa di kantornya tidak ada lemari pendingin (kulkas). Ia pun segera meghubungi Amanda lewat telepon untuk membatalkan pesanan tiramisu. Setelah Amanda mendengar bahwa Cindy membatalkan pesanan salah satu jenis kue itu, Amanda marah “Lho, Cin! Aku udah order, lho!” Yang fatal, setelah berkata penuh amarah, Amanda menutup telepon secara tiba tiba. Mungkin di tengah-tengah rasa kecewa dan amarah, juga panik atau rasa tidak enak kepada omanya, dicampur lagi desakan kebutuhan keuangan keluarga. Akhirnya, Amanda kehilangan apa yang namanya diplomasi atau lebih simpelnya penguasaan diri.

Cindy yang merasa telah mencoba membantu tentu tidak terima teleponnya ditutup seperti itu oleh Amanda. Tapi hebatnya, teman saya si Cindy ini meneliti dulu apa yang salah pada dirinya sendiri. Ia mengakui ketika menjelaskan kepada Amanda bahwa kantornya tidak ada kulkas, ia sempat juga berkata, “Sorry, perusahaan aku bukan menjual kue. Jadi, aku enggak kepikir soal kue mana yang harus dikulkasin. Aku kan bukan tukang kue, Amanda…!” Cindy mengakui, kata-katanya itu pastinya menyinggung perasaan Amanda sehingga Amanda menutup telepon.

Akhirnya, Cindy menelepon Amanda kembali, “Amanda, sorry aku tadi mungkin berkata-kata kurang baik. Orderanku semua aku teruskan, termasuk yang tiramisu. Tapi, aku harus juga menerangkan bahwa ini adalah pesananku yang pertama dan terakhir yang aku pesan darimu. Sebab, aku enggak mau kita menjadi seperti ini…. berkelahi dan berselisih paham.”

Amanda juga berkata,Sorry Cindy, tadi aku tutup telepon.”

Cindy menjawab,Iya, enggak apa, sama-sama. Sorry, salah aku juga…”

Dari kalimat saling meminta maaf sepertinya urusan sudah selesai. Tetapi, seperti yang Cindy katakan tadi, ia tidak akan memesan kue lagi ke Amanda. Dilihat dari sisi usaha, bad for business. Dilihat dari sisi pertemanan, bad for friendship.

Itu dia. Diplomatis. Enggak heran tidak semua orang bisa jadi diplomat.

Dari mendengar cerita ini, yang mana saya tidak terlibat emosi di dalamnya, saya jadi berpikir bahwa berlatih penguasaan diri, berdiplomasi ternyata sangat amat penting dalam segala aspek kehidupan. Ada orang yang sepertinya memahami sekali dalam berdiplomasi. Mungkin nenek moyangnya sampai dianya semuanya keturunan diplomat tujuh turunan. Jadi, lahir-lahir memang dia sudah diplomatis. Namun, bagi saya atau Anda yang lahir-lahir bukanlah anak diplomat, ada baiknyakalau bukan sangat pentinguntuk menguasai ilmu diplomasi ini.

Cerita lain soal pemilik perusahaan A yang berutang kepada pemilik perusahaan B. Bila keduanya bertemu person to person secara tidak sengaja di sebuah restaurant, nasihat dari seseorang yang saya anggap sangat diplomatis menganjurkan yang diutangi untuk tidak menyebut apalagi menagih utang secara langsung. Bapak A yangwalau jengkel kepada Bapak Byang bisa enak-enaknya makan sushi tapi utang kepadanya. Bila mau diplomatis, harus pura-pura lupa soal itu dan berinteraksi biasa-biasa saja. Soal utang harus orang lain yang menagih, baik itu surat dari bagian keuangan di kantor, baik itu pihak ketiga lain seperti bank atau debt collector company. Kalau mau jengkel dan tidak bisa menahan jengkel dan langsung hajar bleh dengan mengutarakan apa yang plek-plekan ada di hati, maka tidak dianjurkan untuk menjadi pengusaha, apalagi jadi pengacara.

Anyway, mudah-mudahan cerita saya di atas mengingatkan kita semua bahwa setiap kali kita sedang emosi, atau sedang dalam keadaan yang kurang stabil (stres, letih, dll) sebaiknya kita yang bukan automatis diplomatis untuk menunda hal-hal yang mau kita katakan atau lakukan semalam saja. Pengalaman saya, kebanyakan kali, satu malam tidur yang nyenyak sering kali menyelamatkan saya dari hal-hal bodoh yang bisa dengan mudahnya saya ucapkan dengan secara tidak diplomatis.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Manfaat Komentar Positif

iyOleh: Iftida Yasar*

Dalam beberapa acara gathering atau acara kantor yang bersifat bergembira, biasanya kita memanggil organ tunggal lengkap dengan penyanyinya. Penyanyinya selalu tampil seronok dengan dandanan yang aduhai. Berdasarkan pengalaman ini, biasanya saya selalu berpesan kepada panitia agar penyanyinya, selain dapat menyanyi dengan baik, dia juga harus berdandan dengan tidak terlalu menor atau seksi. Sebab, biasanya ibu-ibu bisa merasa gerah melihatnya, dan juga para suami yang biasanya getol berjoget menjadi keok dan malu di depan keluarganya jika dipanggil menyanyi.

Tapi memang, mungkin sudah pakemnya atau standar para penyanyi itu untuk bergoyang dengan seksi dan sedikit senggol-senggolan dengan tamu laki-laki yang turut bernyanyi. Alhasil, kami jadi berkomentar mestinya para penyanyi tadi diberi pemahaman mengenai “how to know your customer”, bagaimana mengenal karakter pengundang apakah itu kantoran, rumahan, atau kawinan. Jika saja mereka mengenal karakter pengundangnya, dengan cepat mereka akan menyesuaikan diri, baik dandanan maupun cara berjoget dengan para bapak. Itu agar di rumah nanti para suami tidak dijewer atau dicemburui istri karena berjoget terlalu hot.

Kita juga gampang memberi komentar terhadap orang lain, baik penampilan fisiknya, caranya berbicara, berjalan, sampai mengomentari hasil pekerjaan orang lain. Ada yang memang mulutnya gatal dan usil jika melihat orang lain sepertinya kurang beres menurut ukurannya. Ada juga yang memang komentarnya bermanfaat dan dapat menjadi masukan yang berharga. Jangan sembarangan memberi komentar pada pertemuan pertama, lebih baik pelajari situasi, mendengarkan, dan jika sudah dapat mengetahui keadaan lebih baik baru boleh memberi komentar.

Dalam suatu perkenalan dengan seorang pejabat yang cukup tinggi di sebuah departemen, saya melihat bapak pejabat tersebut kakinya agak pincang dan diseret. Dengan maksud memberi perhatian (sok akrab), saya mengatakan, “Aduh kenapa Pak, habis jatuh, ya?” Beliau dan stafnya hanya senyum dan tidak berkomentar lebih jauh. Dan ternyata, belakangan saya baru tahu memang kakinya agak cacat.

Pernah juga saya mengunjungi seorang relasi yang baru melahirkan anak pertama kurang lebih 1 bulan yang lalu. Seperti biasa saya dengan sok akrab mengatakan, “Lucu ya rambutnya gundul baru dicukur, ya?” Ternyata, si ibu menjawab bahwa memang anaknya dari lahir tidak ada rambutnya alias gundul belum tumbuh..

Kalau mau memberikan komentar berikanlah dengan tulus dan dengan maksud membangun. Sebagai pengajar pada pelatihan pengembangan kepribadian saya selalu bertanya “Apa yang dilakukan jika teman kamu mempunyai bau badan?” Biasanya, topik ini menjadi bahan tertawaan dan jawabannya biasanya mereka enggan memberi tahu, membicarakan di belakang, atau menjauh tidak mau bergaul dengan si BB (Bau Badan).

Dalam kasus ini, saya menganjurkan agar mereka berani menolong teman tersebut dengan membicarakannya langsung. Atau, secara halus misalnya memberikan salah satu produk penghilang bau badan. Yang lain, secara diam-diam memberikan obat itu dalam amplop dengan catatan “Jangan tinggalkan rumah tanpa memakai produk ini. Hal ini jauh lebih konstruktif dibandingkan dengan membicarakan teman tadi di belakang.

Jika teman kita melakukan presentasi mengajukan suatu usulan proyek, bantulah dia dengan memberikan masukan yang membangun. Jika menurut kita sudah bagus katakanlah itu bagus. Tetapi, jika masih ada yang kurang berikanlah komentar agar usulan proyek itu dapat lebih disempurnakan. Jangan pelit memberikan komentar yang positif, apalagi merasa rugi jika komentar yang kita berikan kepada teman dapat menjadi perbaikan yang membuat teman tadi mendapatkan nilai lebih.

Pengetahuan dan pengalaman kita yang diberikan kepada orang lain melalui komentar kita bukan saja bermanfaat bagi si penerima. Tetapi, itu juga bermanfaat bagi kita karena kita akan terbiasa memberikan kontribusi yang positif bagi lingkungan kerja. Orang yang paling bermanfaat adalah orang yang bermanfaat banyak bagi orang lain.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Bisa, Ala Biasa

ggOleh: Gagan Gartika*

“Bisa ala biasa, sehingga apa pun bisa mahir dikerjakan asal terbiasa.”

~ Gagan Gartika

Meskipun Anda merasa bodoh atau kurang mampu, ketika menghadapi persoalan—tak perlu minder dan takut. Tapi kerjakan, sebab seorang yang tak bisa sekalipun, setelah mengerjakan pasti bisa, karena terbiasa. “Bisa ala biasa, kata isteri saya pede banget, saat meyakinkan dirinya agar bisa melaksanakan pekerjaan yang sulit sekalipun. Semboyan itu bisa mendorong seseorang yang belum bisa apa-apa dalam bekerja menjadi terbiasa bekerja, dan akhirnya mahir.

Saya mempunyai teman, Kolonel Tony Tambunan. Meskipun pangkatnya tinggi, ia keluar dari tentara dan beralih pada pekerjaan lain. Tentu karena mengerjakan sesuatu bukan pada bidangnya, yaitu berurusan dengan transportasi. Saat awal bekerja, ia tak bisa apa-apa sehingga sehari-harinya ia terus bertanya kepada bawahan agar pekerjaan yang merupakan tanggung jawabnya sebagai seorang manajer dapat dikerjakan. Meskipun sebagai pimpinan, ia tak malu bertanya pada anak buah. Misalnya, untuk mengetahui dokumen pengapalan, ia selalu menanyakan tentang persyaratan penerbitan dokumen, dukumen salah atau hilang, dan apakah perbaikan bisa menimbulkan masalah. Semua itu ditanyakan karena sebagai penandatangan Tony tidak mau bermasalah di kemudian hari.

Setiap hari Tony terus memelajari model bisnis sampai kepada model pengurusan dokumen. Ia memetakan persoalan secara keseluruhan soal pengiriman barang. Akhirnya, pekerjaan itu dikuasai karena ia menerapkan semboyan; bisa ala biasa.

Hebatnya, saat awal bekerja, hanya sebagai manajer, tetapi ketika ia pindah ke perusahaan lain, atau ditempat baru, Tony ini selalu dianggap sebagai seorang ahli transportasi sehingga dia diangkat menjadi seorang direktur perusahaan. Dan, orang baru disekitarnya menganggap dia piawai, apalagi didukung pangkatnya yang Kolonel, jadi semakin disegani.

Begitu juga bagi teman saya yang baru lulus perguruan tinggi, semula ia hanya sebagai mahasiswa PKL (Praktik Kerja Lapangan) dalam perusahaan pelayaran. Namun karena kegigihannya, ia menjadi ahli dalam menyandarkan dan melepas kapal. Dan berkat keahliannya, dia bisa bekerja di sana, dan bahkan sekarang tanpa dirinya perusahaan bisa sering kedodoran. Banyak kapal terhambat bongkar karena terlambat sandar. Banyak konsumen komplain dan biaya menjadi tinggi karena pengurusan dokumen terlambat. Anak muda ini bisa bekerja karena biasa. Bisa ala biasa.

Dalam mengurus perizinan di berbagai intansi pemerintah, misalnya saat mengurus STNK, KTP, surat-surat di Departemen Perdagangan, Departemen Kehakiman, Kantor Pajak, sering ada orang menawarkan jasanya agar mudah dan cepat pengurusan. Kita sendiri kadang sering kaku dan bingung dalam melakukan pengurusan. Banyak bertanya ke sana kemari, selain lambat akhirnya banyak biaya keluar. Tetapi melalui jasa mereka, yang terbiasa mengurus perizinan, selain biaya bisa ditetapkan segala urusan bisa cepat kelar. Mereka bisa mengurus cepat karena terbiasa. Jadi, bisa ala biasa.

Dengan begitu, kalau kita menerapkan semboyan bisa ala biasa dalam kehidupan, saat belajar atau saat ingin mendirikan usaha, kita akan cepat berhasil. Contoh, ketika kita melatih ingatan dalam mengembangkan vocabulary bahasa Inggris, memori kita akan kuat mengingatnya. Saat terjadi pemanggilan kata dan data tersimpan dalam memori akan cepat keluar. Selanjutnya, percakapan bahasa Inggris menjadi mahir karena otak pun kalau terlatih akan terbiasa berubah dan bertambah kuat. Bisa ala biasa.

Jadi, apaapun bisa dikerjakan dengan sukses karena kebiasaan kita dalam bekerja. Seorang sales akan jadi pedagang mahir karena terbiasa menawarkan. Seorang politikus akan pandai berkelit karena terbiasa berdebat. Seorang peneliti akan dapat menemukan sesuatu yang baru karena terbiasa meneliti seorang penunggang kuda. Pembalap, pemain sepak bola, akan bisa berlari kencang karena terbiasa bertanding. Seorang artis dan Master of Ceremony (MC) pandai berbicara karena biasa tampil di hadapan umum. Jadi, mereka bisa ala biasa.

Sehingga, bagi yang masih ketinggalan dalam berkeahlian, tak usah khawatir dan kerjakan terus. Lambat laun pekerjaan itu akan bisa dikuasai karena biasa. Begitu juga dalam memperluas jaringan, bagi mereka yang biasa bergaul, mereka akan mempunyai kenalan banyak dan relasi ada di mana-mana. Mereka akan mengetahui informasi baru dengan banyak teman sehingga tak akan lagi kesusahan dalam mendapatkan modal, meluaskan usaha, serta tak akan kesusahan dalam mencari solusi permasalahan.

Dalam hal permodalan, apabila orang berjejaring atau terbiasa bersilaturahmi dengan mereka yang memiliki dana dengan bunga pengembalian murah, mereka juga pasti mempunyai akses dalam hal mendapatkan dana. Dalam hal ini perusahaan perbankan, perusahaan pembiayaan, perusahaan leasing, penggadaian, asuransi, memang mereka ahli dalam bidang keuangan dan pendanaan. Mereka bisa menjadi perusahaan seperti itu karena tebiasa bergerak dan bergaul di bidangnya. Bisa ala biasa.

Dokter biasa membedah orang yang memiliki penyakit. Ia tak gentar dan pusing ketika harus memotong tangan orang, menyilet tubuh dengan berlumuran darah, karena memang sudah terbiasa. Pesulap bisa menghilangkan benda dan memainkan trik membuat penonton penasaran. Mereka pun bisa seperti itu karena biasa. Begitu juga mereka yang jadi pengacara, ahli pengurusan tanah, ahli beternak, ahli pertanian, keahlian tersebut timbul karena terbiasa. Jadi, bisa ala biasa.

Begitu ampuhnya prinsip bisa ala biasa bagi kehidupan seseorang. Maka, ketika saya menghadapi persoalan, saya sering tak berpikir panjang. Ketika ingin menguasai pekerjaan di mana saya terus saja mengerjakankarena saya yakin perkerjaan itu akan dapat dikuasai kalau sudah terbiasapekerjaan itu pun akhirnya saya kuasai dengan baik karena terbiasa.

Namun, tak semua pekerjaan dikerjakan sendiri karena keterbatasan waktu. Dalam hal ini saya akan menyerahkan pada ahlinya yang sudah terbiasa menangani pekerjaan. Begitu juga dalam menempatkan pegawai, saya sering menggunakan prinsip the right man in the right place. Menempatkan orang sesuai tempatnya agar pekerjaan bisa lancar. Bisa ala biasa.[gg]

* Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (Simark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada dibidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Email: gagan@kumaitucargo.co.id

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Superwoman Kampung

fiOleh: Fita Irnani*

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tema ini, Superwoman Kampung. Berawal dari ketertarikan saya akan sepak terjang seorang hawa di kampung saya. Tidak muluk-muluk tampaknya jika saya menggunakan istilah kampung untuk menyebut pemukiman saya. Sebuah kompleks perumahan yang wilayahnya mengalami perluasan bertahap. Alotnya transaksi pembebasan lahan dengan penduduk lokal rupanya sedikit menghambat pengembang mendulang kesepakatan harga jual. Kawasan pemukimannya sendiri tidak besar. Kawasan ini menginduk pada satu Rukun Warga, yang menaungi tiga Rukun Tetangga, berisi rata-rata lebih dari lima puluh KK disetiap RT.

Tidak bermaksud untuk berhiperbola ketika saya menggunakan istilah superworman. Sosoknya biasa saja, ibu rumah tangga dengan dua orang putri yang sopan dan pintar-pintar. Semula saya tidak mengenalnya, mengingat kami tidak berada dalam lingkungan RT yang sama. Dalam satu RT saja belum tentu 100 persen saya hafal penghuninya, apalagi beda RT? Ditambah aktivitas saya di kantor yang tidak menjamin keberadaan saya setiap saat full day di rumah (bukan bermaksud ngeles, lho). Kesempatan bebas bertemu tetangga hanya terjadi pada akhir pekan, sabtu dan minggu.

‘Kerjasama’ saya dengan ibu ini berawal dari ajakannya mengikuti kegiatan silaturahmi yang dikemas dalam bentuk arisan RW. Supaya lebih saling mengenal, katanya kala itu. Pesertanya tidak banyak. Dua puluh lima orang tapi dari berbagai RT. Ini artinya, sang ibu berhasil mengumpulkan peserta dari ujung ke ujung. Jangan salah, tidak hanya sebatas arisan RW saja, model arisan ekonomis yang bermodal seratus ribu rupiah per orang pun dia selenggarakan. Alasannya supaya mencakup berbagai kalangan.

Tidak berhenti pada arisan, ibu ini juga merambah pada bisnis kecil khas ibu-ibu RT. Segala musim tidak pernah sepi berdagang. Kue kering lebaran, tabungan kurban, buku dan alat tulis, seragam sekolah, semua dijajakan door to door antar-tetangga. Dari alas kaki, pakaian pria-wanita, tas, dompet hingga perlengkapan rumah tangga aneka merek.

Tidak jarang juga, si ibu mengambil peran sebagai event organizer yang mendatangkan aneka demo untuk ibu-ibu rumah tangga. Demo rias wajah, masak-memasak, demo tabung gas hemat energi, demo aneka alat masak. Semua dikoordinir sendiri. Belum lagi untuk perayaan-perayaan hari besar. Andilnya tidak pernah hilang, bahkan untuk menjadi vokalis karaoke pada acara 17-an.

Pernah saya bertanya mengenai kesibukannya ini. Dari sisi materi, saya rasa jauh dari yang namanya kurang. Alasannya hanya satu, aktivitas dan bisnis kecil yang dia jalankan semata-mata untuk menyibukan dirinya. Barangkali ini adalah cara terampuh membunuh kesepian lepas mengantar kedua putrinya bersekolah, sementara profesi suaminya yang seorang pelaut, tentu dapat diprediksi keberadaannya di rumah.

Cinta dan perhatian pada kedua buah hatinya kadang mengundang kecemburuan saya. Setiap pagi telaten menyuapi sebelum mengantar ke sekolah. Malam hari menemani mengerjakan PR. Beberapa kali saya temui jika kebetulan bertandang kerumahnya. Si ibu ini tidak sungkan pula merayakan ulang tahun putrinya pada acara arisan ibu-ibu RW.

Hilir mudik dari klien ke klien, dia lakukan dengan sepeda motor bebeknya. Setiap kali melaju di depan rumah saya, formasi duduknya tidak berubah, berbonceng tiga dengan kedua putrinya. Antar-jemput sekolah, sekadar bertandang ke kerabat, atau mengantar barang orderan klien.

Perannya menjadi ‘toa’ kampung, istilah saya untuk penyebar informasi terkini (seputar kampung tentunya), tidak diragukan lagi. Jadwal arisan, kelahiran, kedukaan, pengajian, hajatan, keamanan lingkungan, produk dagangan baru, setiap saat tersebar secara face to face atau via sms.

Saya sering membaca profil sukses superwoman Indonesia. Pendidikan tinggi, karier cemerlang, anak-anak pintar, keluarga yang bahagia, memimpin lebih dari satu perusahaan, plus social live after office hour. Luar biasanya mereka. Dua puluh empat jam yang dimiliki teralokasi super sempurna. Apa yang saya lakukan saat ini mungkin tidak mampu menandingi kesuperannya.

Hal yang menarik, menjadi super rupanya tidak melulu membutuhkan pendidikan tinggi, tidak perlu jebolan universitas manca negara, tidak perlu memiliki kerajaan bisnis, atau tidak perlu terlahir dari klan ‘berada’. Tergantung pada bagaimana mendefinisikan super itu sendiri. Untuk saya, apa yang dilakukan ibu tetangga saya ini sudah luar biasa bagi perempuan seprofesinya.

Pendidikan yang tidak tinggi, berbekal gaya komunikasi dan kehebatan bersosialisasi (yang entah dari mana belajarnya) dirinya membuka rintisan membangun jaringan, meski hanya seputaran kampung, toh sampai sekarang bisnis kecilnya tidak pernah mati. Kegiatan arisan saja bersambung jilid dua untuk tahun berikutnya.

Inisiatifnya dalam mengadakan acara-acara positif inilah yang menarik perhatian saya. Apa saja dikerjakan, peminatnya juga jangan ditanya. Bahasa gaulnya, “Nggak ada matinya”. Komitmennyalah yang patut dipuji. Bahkan ketika ‘tas kerjanya’ raib dirampas penjahat jalanan, tak kenal lelah beliau mendatangi satu per satu kliennya, sekadar mencatat ulang nomor handphone dan menyalin kembali catatan arisan dan tabungan kurban klien. Salah satu bentuk tanggung jawab si ibu rupanya.

Keberadaan figur seperti ini sesungguhnya sangat diperlukan dalam hidup bermasyarakat. Ketika sekelompok orang disibukkan dengan aktivitas di kantor (seperti saya), fungsi penggerak seperti ini sangat membantu sekali. Ibaratnya kalau semua orang sibuk di kantor, tentu perlu seseorang yang luwes yang mampu dan mau menyemarakkan kampung. Selain Pak RT tentunya, yah.

Ibu rumah tangga yang cerdik, pandai memanfaatkan waktu, percaya diri, mau mencoba dan pintar melihat peluang meskipun dalam skala kecil. Lingkungan kampung. Kelas RT. Kelas Kampung! Superwoman Kampung.[fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai Learning & Development Specialist pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox