Memperkaya Diri Lewat Kegagalan

rsOleh: Relon Star*

“Orang yang mencoba melakukan sesuatu namun gagal,

adalah jauh lebih baik daripada mereka yang tidak

mencoba apa pun, namun berhasil”

~ Lloyd Jones

Tidak ada seorangpun yang mau gagal. Bahkan tidak ada orang yang merancangkan kegagalan singgah di hidupnya. Namun terkadang kita perlu memiliki sedikit kisah tentang kegagalan hidup, supaya berkaca dari kegagalan dan mengambil langkah yang lebih cerdas untuk membenahi kehidupan kita.

Aku termasuk dalam deretan orang yang pernah gagal. Bahkan gagal dalam rentang waktu yang cukup lama yaitu selama tujuh tahun. Entah kenapa, orang sealim diriku (ehem!) bisa terlibat jauh dalam dunia narkotika dan obat-obatan terlarang. Padahal, menurut guruku di sekolah, aku ini termasuk anak yang cerdas loh! Bahkan suatu kali guru Bahasa Indonesia pernah berusaha menjebakku dalam sebuah ujian harian. Ia memberikan pertanyaan yang sangat sulit, supaya aku tidak bisa menjawabnya. Namun di luar dugaan, semua pertanyaan bisa kujawab. (Ini pengakuan beliau ketika aku menjumpainya untuk diwawancara seputar kisahku dulu semasa sekolah, demi keperluan penulisan buku perdanaku).

Menjadi orang gagal selama tujuh tahun, cukuplah membuatku jera. Ketika teman-temanku yang lain sudah menginjak bangku kuliah, aku masih bingung bin bengong jika ditanya soal masa depan. Tak seorang pun sependapat bahwa aku bisa memiliki masa depan gilang gemilang. Tetapi untunglah penulis skenario hidupku membuat kisah yang berbeda dalam hidupku. Karena setelah aku putar haluan—dari seorang mantan morfinis menjadi penulis—kini hidupku berbeda. Bahkan kegagalan tersebut kini menjadi harta karun yang berharga bagiku, karena melalui kisahku berjuang lepas dari jerat candu narkoba, kini aku dapat memperkaya iman orang lain yang merasa hidupnya hancur, tapi merasa punya teman: seorang mantan morfinis … yang kini sukses menjadi penulis.

Kalau Anda mau menambahkan diriku dalam daftar teman Anda, silahkan saja. Asalkan Anda terinspirasi dengan kisahku, dan mulai menciptakan kisah sukses Anda sendiri … yang pernah gagal tetapi bisa bangkit kembali.

Anda tidak dapat menghubungkan titik demi titik di dalam kehidupan ini dengan melihat ke depan. Anda hanya dapat melihat titik-titik tersebut terhubungkan ketika Anda melihat ke belakang. Anda mungkin tidak memahami kegagalan demi kegagalan saat ini, tetapi percayalah suatu saat nanti Anda akan sangat mengerti dan menghargai nilai dari kegagalan.

Ingatlah, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Dan, setiap kegagalan adalah batu loncatan penting untuk sebuah kesuksesan, semua bergantung pada bagaimana Anda melihatnya.

Kalau Anda menyebutkan satu nama dari seseorang yang sudah sukses sekarang, coba perhatikan dengan seksama bagaimana kehidupannya … tentu ia pernah mengalami kegagalan. Bahkan mungkin daftar kegagalannya lebih banyak dari yang kita ketahui, dan yang kita sendiri pernah alami.

Kalau kita mau jujur, kegagalan dapat memberikan sumbangsih yang besar bagi kita jika mau mengambil makna dari kegagalan tersebut, lalu mengambil langkah yang lebih cerdas untuk mencetak sukses di masa mendatang.

Berapa banyak orang di dunia ini yang pernah mengalami kegagalan, namun ketika ia bangkit dari keterpurukan, maka ada masa depan baru di hidupnya. Aku salah satunya. Kini aku menyikapi kegagalan dengan pandangan yang berbeda. Bahkan aku menyulap kegagalanku ini menjadi harta karun yang berharga, karena banyak orang yang terinspirasi begitu mendengar kisah hidupku. Tanpa adanya kisah masa gelapku, aku tidak dapat bercerita banyak tentang kisah suksesku kini, karena ceritanya diawali dari masa gagal selama tujuh tahun.[rs]

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (51 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +32 (from 32 votes)

Design Thinking for Innovation

afOleh: Avanti Fontana*

“Semua lebih pandai dari setiap dari kita.”

Apa itu pemikiran desain atau berpikir desain? Mengapa itu perlu dalam berinovasi? Apa pentingnya bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitar kita tentang kebutuhan mereka? Apa perlunya mengamati perilaku konsumen atau calon konsumen dari produk-produk (barang atau jasa) yang sudah dan akan kita hasilkan atau perbarui?

Pernahkah kita menggantung sesuatu tidak pada tempatnya atau tempat yang diperuntukan untuk itu hanya karena alatnya tidak ada. Pernahkan kita melihat orang-orang melakukan sesuatu bukan pada tempatnya. Menulis nomor telepon di telapak tangan. Mencatat sesuatu yang penting di atas tisu bekas atau tisu makan? Pernahkah kita melihat rekan, anggota keluarga atau bahkan kita sendiri melakukannya? Menggaruk punggung yang gatal dengan benda-benda yang cukup panjang dan runcing tapi tidak terlalu tajam seperti badan pensil, pulpen, atau penggaris? Sebaliknya, cukup seringkah kita melihat produk-produk di sekitar kita yang indah warna dan bentuk namun kurang berfungsi alias kurang bermanfaat? Mungkin kita pernah mengalami membeli produk menarik dan kita rasa cukup inovatif, namun tidak berapa lama setelah pembelian, belum sampai satu bulan, karena kita salah tekan atau pencet, produk itu menjadi tidak berfungsi. Produk itu hanya menjadi pajangan atau rongsokan kosong.

Design thinking merupakan pendekatan yang perlu dilakukan dalam berinovasi. Di mana letak pentingnya pendekatan ini? Pertama kita ingat bahwa inovasi itu tidak sekedar menciptakan produk baru, barang atau jasa baru. Inovasi lebih dari itu. Keberhasilan secara sosial dan ekonomi karena diperkenalkannya cara baru atau kombinasi baru dari cara lama dalam mengubah input menjadi output sedemikian rupa sehingga menghasilkan perubahan besar pada MANFAAT yang dirasakan oleh konsumen dibanding dengan HARGA atau pengorbanan yang ia perlu keluarkan untuk memperoleh manfaat tersebut.

Pendekatan pemikiran desain menuntut disiplin para produsen inovator sebelum menghasilkan produk yang akan dipersembahkan kepada konsumen atau pengguna. Pusat pemikiran ini adalah pelanggan atau konsumen atau secara umum saya sebut customers atau pelanggan. Inovator harus mampu menciptakan permintaan tidak hanya menyuplai produk. Untuk sampai ke sini, converting needs into demand, kata Peter Drucker. Inovator perlu melakukan proses inovasi secara bertahap, dan pada setiap tahap melibatkan pandangan, perspektif serta konteks lingkungan sosial ekonomi budaya di mana pelanggan berada.

Empat tahapan pendekatan ini yang dapat penulis ringkas di sini adalah (1) mengerti apa kebutuhan pelanggan dan konteks di mana kebutuhan itu muncul; (2) mengamati bagaimana pelanggan biasa berperilaku dan menggunakan produk-produk yang sudah ada; (3) melakukan brainstorming di dalam organisasi inovator untuk menggali ide sebanyak mungkin yang bertujuan memberikan nilai manfaat sebesarnya untuk pelanggan yang sudah dipilih atau diputuskan. Brainstorming penting dilakukan pada setiap tahap dalam proses inovasi, mulai dari penggalian inspirasi, pengumpulan ide hingga seleksi ide, dan implementasi berupa kegiatan pengembangan produk hingga produksi dan komersialisasi, produk sampai di pasar yang di tuju. Setiap kegiatan itu memerlukan komunikasi interaktif antara calon pelanggan, produsen inovator, dan pelanggan pendukung (supporting customers). Dengan ini proses inovasi menjadi betul-betul bertumpu dan berangkat dari apa yang dibutuhkan pelanggan atau calon pelanggan, yang sering jika tidak diamati seterusnya, akhirnya menjadi tidak disadari adanya kebutuhan itu. Kita bisa belajar banyak dari praktik perusahaan yang telah menerapkan design thinking, antara lain IDEO, termasuk pelopor pendekatan ini. [AF]

*Avanti Fontana: fasilitator & coach inovasi, pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, penulis Innovate We Can! (Grasindo 2009). Pembaca tertarik mengikuti Workshop Innovation & Design Thinking, silakan kontak kami di imed@avantifontana.com atau SMS INFO di 0813 – 1862 – 1970.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.4/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

You What You Are

iyOleh: Iftida Yasar*

Kalau kita baca atau lihat iklan mobil BMW dikatakan bahwa “You What You Drive”. Dimana pesan yang ingin disampaikan adalah ketika mengendarai mobil bergengsi kita tidak perlu lagi meninggikan mutu diri, sebab mobil itu sudah menunjukan siapa kita. Apapun pekerjaan dan siapapun kita tidak menjadi penting, yang penting kalau sudah mampu menaiki BMW kita akan dihargai karena masuk dalam golongan orang yang hebat dan keren. Mulai dari pandangan dan komentar kagum orang lain sampai kemudahan tempat parkir diberikan kepada mereka yang mengendarai mobil ini. Sedangkan masalah mobil keren itu didapatkan dari hasil korupsi misalnya atau menyewa menjadi tidak penting lagi.

Banyak sekali orang terkecoh dengan gaya hidup seperti itu. Kita menjadi tidak percaya diri kalau belum memakai barang bermerek. Saya sendiri adalah orang yang gaptek dengan teknologi telepon genggam. Yang penting bagi saya adalah fungsinya, bukan fitur canggih dan selalu berubah dengan cepat setiap saat. Selama hampir dua tahun saya memakai telepon genggam yang sama dengan model sederhana. Karena sudah terlalu lama maka warnanya menjadi dekil, apalagi telepon genggam itu berwarna putih. Teman dan staf di kantor selalu berkomentar melihat handphone yang selain sudah berwarna putih tua juga sudah mulai pudar angkanya.

“Ganti dong handphone-nya, masak bos handphone-nya jelek bener!

Ada juga komentar lain, ”Buat apa uang banyak disimpan-simpan, beli dong barang bagus.. Pelit banget.

Akhirnya oleh kantor, saya dibelikan handphone yang paling canggih dan mahal, yang sebetulnya tidak saya gunakan dengan maksimal. Satu hal yang akhirnya saya suka dari handphone itu adalah saya bisa mengirim SMS tanpa membuat pegal tangan karena bentuknya seperti laptop kecil.

Banyak orang yang tidak percaya diri jika tidak dilengkapi dengan barang mahal dari merek terkenal. Mulai dari rambut yang tertata rapi made in salon, baju model sekarang, tas, perhiasan, jam tangan, dan sepatu semuanya dari merek terkenal. Alasannya adalah tuntutan pekerjaan atau pergaulan yang mengharuskan ia berdandan, melengkapi diri dengan barang merek terkenal yang asli.

Golongan yang mendewakan hal ini adalah golongan berada yang menilai ke-bonafide-an seseorang adalah dari apa yang dipakainya. Mereka akan tahu jika barang yang dipakai seseorang palsu dan ini akan membuat kita susah untuk masuk ke lingkungan mereka. Bayangkan berapa anggaran yang harus dialokasikan untuk mendapatkan predikat bonafide.

Dimana kita makan juga menjadi ukuran ke-bonafide-an seseorang. Bagi yang memposisikan diri sebagai profesional muda, ga keren kayak-nya kalau makan di kantin atau pesan di kantor. Biasanya pada jam makan siang, berbondong-bondong mereka pergi mencari makan siang di kafe yang banyak berada di sekitar perkantoran. Dengan dalih untuk memperluas networking, pulang dari kantor mereka akan menghabiskan waktu untuk clubbing atau hanya sekedar kongkow dan ngobrol di kedai kopi. Uang dan energi mereka seakan tidak terbatas, rumah hanya menjadi sekedar tempat untuk numpang tidur.

Kalau semua dilakukan dengan dukungan pandapatan yang jelas dan besar, hal ini menjadi tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah jika lebih besar pasak daripada tiang, apalagi jika gaya hidup semu itu ditopang oleh hutang dari kartu kredit. Dalam tiga bulan pertama mungkin kita bisa mempertahankan gaya hidup seperti ini, tapi memasuki bulan keempat cashflow menjadi kacau. Hal ini dikarenakan semua uang dipakai untuk membayar tagihan minimum kartu kredit ditambah dengan bunganya yang mencekik leher. Semua gaya hidup yang kelihatan glamour hanya semu belaka akan berakhir dengan malapetaka.

Hidup dengan lilitan hutang adalah mimpi buruk, bukan saja untuk kita, tapi juga keluarga dan lingkungan kantor. Bukan hanya si pengemplang hutang saja yang akan dikejar oleh debt collector tapi juga orang rumah dan orang kantor akan repot menghadapi hal ini. Mereka tidak segan untuk menelpon dan menggunakan kata yang tidak sopan sampai mengancam kepada siapa saja yang dianggap menyembunyikan keberadaan kita.

Saya punya teman yang sampai trauma karena pada suatu hari TV, kulkas sampai sofa diangkut oleh para debt collector tersebut. Ada juga teman lain yang mertuanya sampai stroke dan harus masuk rumah sakit berbulan-bulan karena kaget mendapati menantunya yang tinggal serumah mempunyai hutang yang begitu banyak. Yang lebih mengerikan, ada juga yang harus berakhir di penjara karena menipu di berbagai tempat untuk berhutang dan tidak dapat melunasinya.

Saya sendiri termasuk tipe orang yang susah menabung, rasanya gatal kalau melihat uang ditangan langsung dibelikan barang yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan. Berdasarkan pengalaman pribadi saya selalu menikmati keadaan untuk memiliki barang yang mahal dengan cara berhutang. Jika cicilan sudah lunas maka langsung otak ini berputar mau hutang apa lagi ya? Mulai dari panci, microwave, TV layar lebar sampai mobil adalah hasil dari berhutang.

Rasanya lega dan bangga bisa memiliki barang bagus serta mahal dari hasil kerja keras menyisihkan uang tiap bulan untuk mencicil. Saking seringnya berhutang dengan catatan pembayaran cicilan yang sangat bagus, maka tawaran hutang pun selalu mengalir lancar. Saya adalah “pelanggan yang dapat dipercaya dan memenuhi kriteria bonafide”. Begitu cicilan terakhir lunas langsung ditawarkan hutang baru lagi, baik dari bank untuk Kredit Tanpa Agunan, sampai perusahaan leasing mobil. Saking seringnya membeli mobil dengan cara kredit, perusahaan leasing langganan saya menjadi banyak dan mereka dengan senang hati meluluskan permintaan saya membeli mobil apa saja tanpa harus melengkapi persayaratan administrasi apapun.

Menurut saya tidak ada yang salah dengan berhutang, asal dilakukan dengan bijaksana dan sesuai dengan kemampuan kita. Jaga reputasi sebagai penghutang yang dapat dipercaya. Jadi, jangan terkecoh dengan jargon “You What You Drive”, You What You Wear”, atau “ You What You Have”, apalagi kalau kita tidak mampu. Penting bagi kita untuk mengenal diri sehingga dapat menilai dengan jelas siapa diri kita, apa yang kita butuhkan, dan bagaimana kemampuan kita. “You What You Are”, kita apa adanya adalah lebih penting dengan segala kelebihan dan kekurangannya. [iy]

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Consumer Safety

sj1Oleh: Sri Julianti*

Beberapa waktu yang lalu, saya membuka website Food Review, dan mencoba menjawab pertanyaan di website tersebut. Pertanyaannya adalah, “Kasus keracunan makanan disebabkan oleh?” Jawaban yang tersedia adalah makanan olahan, makanan restoran, makanan catering, dan makanan kaki lima. Saya langsung memilih makanan catering. Dan begitu saya kirimkan ternyata keracunan makanan catering memberikan angka sekitar 42%, peringkat utama dari keracunan makanan. Peringkat berikutnya adalah makanan kaki lima, sedangkan makanan restoran, dan olahan menduduki peringkat terakhir serta dalam presentase yang hampir sama. Data ini dapat diartikan bermacam-macam tergantung dari sudut mana kita meninjaunya. Saya tidak akan membahas data ini lebih lanjut, tetapi bahsan saya akan fokus kepada consumer safety.

Masih ingat peristiwa susu yang mengandung melamin di China? Korban dan keluarganya tentunya sangat sedih dan berapa pun uang pengganti dan pengobatan yang diberikan oleh produsen susu, tidak akan dapat menggantikan masa depan anak dan keluarganya. Di sisi lain kerugian yang dialami oleh pabrik susu adalah pejabat tinggi di pabrik susu tersebut yang dihukum mati atau seumur hidup oleh pemerintah China dan ribuan buruh yang kehilangan pekerjaan karena pabrik tersebut tidak boleh beroperasi lagi. Sudah tak terhitung lagi kerugian material dan dampak psikologis dari kejadian ini. Belum lagi dampak ini juga merambah ke negara lainnya.

Produk kosmetik, mainan anak-anak juga pernah berkali-kali dilarang beredar oleh pemerintah karena kandungan logam berat, mainan anak-anak maupun produk lainnya. Teman kuliah saya menggunakan pearl cream, semacam foundation dan akhirnya seluruh wajahnya jadi “rusak” akibat logam berat. Akhirnya dia harus dirawat seorang dokter kulit untuk memulihkan kulit wajahnya dengan biaya yang tidak sedikit.

Banyak contoh lain, produk baby walker yang tidak stabil dan dapat menyebabkan anak mudah terguling bila menggunakan baby walker tersebut. Jaket anak-anak lengkap dengan topinya yang di lengkapi tali, menyebabkan anak mudah terjerat lehernya.

Ketika anak saya masih sekolah di Taman Kanak-kanak, salah seorang temannya meninggal dunia karena terjerat alat fitnes di kamar pamannya. Beritanya sangat mengejutkan dan orang tuanya sangat shock, demikian juga kami yang mengenalnya.

Pernah mendengar atau membaca anak-anak yang tercekik kantong plastik? Kantong plastik yang jatuh di wajah dan mulut anak ketika anak rebahan akan mencekik mereka, dan menyebabkan mereka tidak dapat bernapas. Kejadian ini banyak terjadi di negara lain yang pada umumnya anak-anak tidak didampingi penjaga (baby sister atau anggota keluarga yang lainnya) seperti di Indonesia. Alat magnet dapat menyebabkan anak sakit parah bila tertelan, bahkan sampai meninggal dunia.

Rumah Anda dan peralatannya juga dapat menyebabkan bahaya kepada anggota keluarga. Seperti, kabel listrik, stop kontak, pisau dll. harus di tempatkan pada tempat yang seharusnya. Baik produsen maupun konsumen dilindungi hak-hak dan kewajibannya oleh undang-undang. Pihak produsen harus bertanggung jawab terhadap keamanan produk yang dibuatnya selama konsumen mengikuti cara pakai yang disarankan. Konsumen akan terlindungi bila dia menggunakan produk tersebut sesuai dengan cara yang di sarankan produsen. Kita sebagai orang tua juga harus bertanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri dan anggota keluarga.

Standar keamanan adalah standar yang di desain untuk menjamin keamanan produk, aktivitas, jasa atau proses dll. Secara undang-undang, baik konsumen maupun produsen mempunyai hak dan kewajibannya masing-masing, dan jika kewajiban ini di langgar tentunya akan ada sanksinya. Di Indonesia, undang-undang ini pun ada dan di lapangan di kontrol oleh departemen terkait (Misal, BPOM dan DepKes) dan Yayasan Lembaga Konsumen yang berada di pihak konsumen. Di negara maju, masyarakatnya amat kritis, sehingga mereka tidak akan segan-segan mengkomplain dan mengajukan produsen ke pengadilan bila produknya tidak aman. Tetapi sebaliknya, ada juga konsumen yang “nakal” dengan tujuan “tertentu” untuk mengkomplain produsen atas hal-hal yang tidak realistik.

Di negara kita pun tidak kurang maraknya berita di koran tentang keracunan makanan yang menyebabkan jatuhnya korban bahkan sampai meninggal, meskipun fokusnya masih pada produk makanan. Kalau ada akibat pasti ada penyebabnya.

Apa saja sih penyebab bahaya? Penyebab bahaya ini dapat di golongkan dalam empat hal:

  • Bahaya keracunan
  • Bahaya microbiologi
  • Bahaya fisik
  • Bahaya merusak lingkungan

Contohnya, sesorang makan bakmi goreng, apa saja kemungkinan bahaya yang dapat saja terjadi? Keracunan (bakminya kadaluwarsa, saosnya dari bahan yang non food grade), microbiologi (tempat penggorengan, bahan tidak higienis, dan tempat menyajikan), fisik (ada campuran paper klip, staples, dan pecahan piring), bahaya merusak lingkungan (bila bakmi tersebut dibungkus oleh packaging yang tidak ramah lingkungan)

Contoh pada bahan kemasan seperti pewarna, tinta, cara penggunaan, dan proses daur ulang bila packaging-nya sudah tidak digunakan.

Misalnya kemasan kaleng untuk makanan dan minuman dari kaleng, apa saja bahaya yang mungkin terjadi? Bahaya keracunan, jika bahan pelapis pada kaleng rusak dan bahan kaleng bereaksi dengan produknya. Bahaya microbiologi, bila proses selama pengemasan tidak sempurna atau formulasi produk tidak cukup menahan tumbuhnya microbiologi. Bahaya fisik, jika kaleng tersebut ada bagian yang tajam, terutama pada bagian pembukanya atau pada bagian sambungan kaleng. Bila ada bagian yang tajam, tangan konsumen atau petugas toko atau restoran dapat terluka. Bahaya merusak lingkungan, tidak terjadi karena semua bahan kemasan kaleng dapat didaur ulang

Untuk produk farmasi, digunakan child resistance proof cap (tutup yang tidak dapat dibuka oleh anak-anak), hal ini dimaksudkan untuk keamanan anak-anak.

Barang-barang seperti sendok kecil, jepit rambut, penghapus pensil, magnet, kancing dll. yang kecil sekali ukurannya, akan membahayakan bila tertelan anak-anak. Produk dari bahan plastik seperti styrofoam yang sering digunakan untuk wadah makanan, sebaiknya tidak digunakan pada makanan panas, karena terjadi migrasi dari residu stiren yang membahayakan kesehatan. Kantong kresek berwarna hitam, yang dibuat plastik daur ulang dan tidak jelas sumber dan higienisnya, dianjurkan tidak digunakan untuk makanan.

Melalui media, baik koran maupun elektronik, BPOM maupun instansi terkait sudah cukup aktif mengeluarkan himbauan agar masyarakat maupun produsen lebih berhati-hati dalam memilih kemasan makanan. Hal ini harus diperluas untuk menjangkau lapisan masyarakat kelas menengah kebawah, seperti penjual makanan kaki lima agar mereka pun dapat memproduksi makanan yang aman bagi anak-anak kita.

Bila Anda sebagai pedagang atau produsen UKM, mungkin Anda berpikir, “Wah… Buat apa ya repot-repot memikirkan yang sulit ini, toh produk yang kami buat selama ini tidak pernah ada kejadian seperti contoh di atas?” Bila Anda produsen, Anda punya tanggungjawab moral untuk keamanan konsumen Anda, dan berguna untuk menjamin kelangsungan bisnis Anda.

Tanda-tanda bahaya lengkap dengan tulisan awas bahaya, barang beracun, hindari dari jangkauan anak-anak pada umumnya sudah dikomunikasikan oleh produsen pada kemasannya. Bila konsumen teliti, mestinya peringkatan ini langsung dimengerti oleh konsumen. Tanda peringatan ini pada umumnya digunakan pada bahan kimia, insektisida, pestisida, pembasmi nyamuk, bahan mudah terbakar, dan mudah meledak. Untuk bahan makanan, minuman, dan kosmetik tentunya tidak dengan cara yang langsung seperti itu, tetapi disampaikan pada cara pakai atau peringatan lainnya.

Misalnya, jangan menggunakannya, bila kaleng rusak atau bila merasa kulit Anda panas setelah menggunakan produk ini, hentikan pemakaian. Sebagai konsumen Anda bertanggungjawab juga terhadap keamanan diri sendiri dan orang sekitar Anda.

Bila Anda sebagai konsumen, Anda harus membaca, mengerti isi produk, dan peringatan yang dicetak di kemasannya. Bila toh masih terjadi sesuatu, segera hubungi alamat, nomor telpon, atau nomor hotline yang tertera pada kemasannya, kemudian sampaikan keluhan Anda. Produsen akan segera memberikan respon. Tetapi mungkin saja karena birokrasi internal atau tidak kompetennya bagian hotline service, sehingga responnya dirasa lambat.

Beberapa undang-undang penting yang mengatur hak-hak dan kewajiban produsen dan konsumen adalah sebagai berikut.

  • UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen
  • UU No. 23/1992 tentang Kesehatan
  • UU No. 2/1981 tentang Metrologi Legal
  • UU No. 18/2002 tentang Sisnas dan Iptek

Khusus untuk Industri Makanan, undang-undang yang penting selain diatas adalah

  • UU No. 7/1996 tentang Pangan
  • PP No. 69/1999 tentang Label dan Iklan Pangan
  • PP No. 102/2000 tentang Standardisasi Nasional.

Kita bertanggung jawab untuk menjaga keamanan diri kita sendiri dan orang di sekitar kita.[sj]

*Sri Julianti adalah praktisi packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui e-mail : julipackaging@yahoo.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Jangan Pernah Merasa Pensiun

gg1Oleh: Gagan Gartika*

“Pensiun sering menakutkan bagi seseorang sehingga untuk menghilangkan ketakutan tersebut kita perlu aktivitas lain agar jangan pernah merasa pensiun.

~ Gagan Gartika

Usia pensiun pegawai pemerintah rencananya akan dinaikkan dari batas usia 55 tahun menjadi 58 tahun. Bagi mereka yang usianya mendekati pensiun, mendengar berita itu pasti banyak yang bergembira. “Lumayan, waktu bekerja tambah tiga tahun. Dari pada di rumah mendingan tetap bekerja. Selain dapur tetap ngebul, waktu tak terbuang. Dan, kalau hanya di rumah saja bisa cepat tua,” ucap mereka yang mendukung.

Aneh memang, ketika bekerja dan banyak kegiatan raut wajah terlihat ceria. Tetapi, menjelang pensiun wajah mulai berkerut, terlihat kusam, mata mulai menerawang—melamunkan pekerjaan setelah pensiun. Kondisi ini banyak dirasakan khususnya oleh mereka calon pensiunan pegawai negeri.

Untuk itu, agar terhindar dari cepat keriput, kusam, lunglai, dan tak berkegiatan, sebaiknya Anda jangan pernah merasa pensiun. Meskipun telah berhenti bekerja usahakan tetap memiliki kegiatan lain. Agar pikiran bisa bergerak terus dan berkegiatan—apalagi Anda telah berpengalaman bekerjasumbangkan saja pengalaman itu pada generasi berikut atau untuk perusahaan yang perlu bantuan.

Hal ini banyak dilakukan sekalipun oleh para mantan Presiden Amerika Serikat. Mereka tak pernah mau diam dan malah bergerak terus dalam bidang sosial. Mereka membuat organisasi dermawan yang membantu masyarakat miskin atau membantu mereka yang terkena penyakit yang sulit disembuhkan. Sehingga, hidup mereka selalu diisi dengan berbagai kegiatan dan tak pernah merasa pensiun. Mereka tetap memelihara jaringannya dan masih bisa berbaur dengan sesama teman dan itu membuat umur mereka lebih panjang.

Di luar pegawai negeri atau pada perusahaan swasta, meskipun pegawainya telah masuk usia pensiun tetapi masih banyak dari mereka yang memilih tetap berkarya. Bahkan, seperti bekerja seumur hidup alias tak merasa pensiun sehingga banyak dari mereka malah masih kuat, tak kalah dari yang muda.

Juga bagi mereka yang punya banyak kegiatan di luar selain sebagai pegawai negeri biasanya juga lebih sering memilih cepat pensiun. Karena, waktu mereka lebih sering dialihkan untuk kegiatan mandiri dan menciptakan pekerjaan bagi orang lain. Atau, mereka lebih bisa memerhatikan dirinya sendiri dibanding saat harus terus mengabdi pada pekerjaan pemerintah.

Memang masing-masing orang memiliki alasan sendiri dan tergantung dari mana mereka memandang saat memilih pensiun. Bagi yang tak ada pekerjaan lagi, orang lebih nyaman melanjutkan pekerjaannya. Sementara bagi yang berkegiatan di luar, pasti mereka lebih senang mengambil pensiun muda.

Mereka yang cepat pensiun bisa saja waktunya digunakan untuk berwiraswasta atau mengajar. Pengalaman telah ada, jaringan juga luas, teman banyak—tinggal memaksimalkan jaringan dan temannya tersebut. Lebih istimewanya, waktu dan bekal pensiun sudah ada sehingga itu jadi modal dalam berkarier selanjutnya. Ini beda dibandingkan dengan mereka yang dari nol dan tak ada kekuatan ketika harus berjuang mendirikan perusahaan.

Namun, meskipun telah berpengalaman, ternyata masih banyak di antara mereka yang ketika terjun berbisnis malah tidak berhasil. Mungkin karena sebelumnya terbiasa menjadi orang gajian, sementara dalam wiraswasta harus mampu menggaji diri sendiri. Inilah yang membuat mereka belum terbiasa; ke mana-mana dengan ongkos sendiri, mulai modal, penyediaan tempat, peralatan, membayar karyawan dll. Terkadang setelah berinvestasi pengembaliannya tak kunjung tiba sehingga modal dan investasi bisa melayang. Kadang bila bekerjasama, ketika partner-nya enggak cocok, malah bisa tertipu. Inilah tantangan dalam berusaha.

Maka dari itu, mindset pegawai negeri perlu segera diubah menjadi mindset sebagai pelaku usaha. Biasa enak lalu harus berubah menjadi apa adanya. Biasa santai, mesti berubah menjadi berjuang keras. Biasa ada petunjuk berubah jadi mencari petunjuk, mencari terobosan-terobosan baru. Biasa dapat makan, sekarang harus siap berubah menjadi pemberi makan. Pokoknya serba mandiri. Kalau enggak mandiri tak ada penghasilan dan tak ada makan kita menjadi terbiasa berpikir, berelasi, bertemu orang, melalui berbagai media atau komunitas serta organisasi yang banyak bertebaran. Ujungnya, suatu saat kita bertemu keberhasilan yang menjadikan hidup kita tetap berseri dan tak pernah merasa pensiun.

Setidaknya ini yang dilakukan teman saya. Sebelumnya ia bekerja di bagian hukum dan perizinan perusahaan BUMN. Begitu pensiun, ia tak mau menganggur. Makanya, ia memasuki sebuah organisasi pengusaha di bisnis tranportasi dan pergudangan. Ternyata, keahliannya banyak diperlukan oleh para pengusaha. Akhirnya, sekarang ia menjadi bagian personalia dan perizinan, menimati kegiatan baru pada perusahaan swasta. Pengalaman kerjanya bisa diaplikasikan pada perusahaan tersebut.

Pada saat yang sama para pensiun lainnya masih banyak yang merenungi nasibnya. Mereka meraba-raba mencari tahu jalan baru dalam mengisi kehidupannya. “Kenapa saya bangkrut terus saat mendirikan usaha? Bahkan selalu tertipu Jadi, bagaimana ya cara berusaha yang benar?” tanya seorang pensiunan kepada saya.

Setelah saya selidiki, ternyata penyakitnya adalah ia mendirikan usaha yang bukan berdasar keahliannya sehingga uang pensiunnya habis. Dan jalan keluarnya, sebaiknya ia bekerja sesuai keahlian karena keahlian bisa mendukung kelancaran dalam berusaha. Selain itu, ia tidak perlu banyak belajar lagi. Jadi tinggal menyesuaikan ritme dan model berusaha. Dengan demikian waktu tidak terbuang percuma.

Selanjutnya, ketika telah berhasil dalam berbisnis, kita akan mengetahui bahwa perputaran uang yang lebih menguntungkan adalah dari pendirian perusahaan. Hasilnya bisa berlipat jauh dibanding dengan uang yang ditaruh dalam instrumen investasi lainnya, baik deposito, reksadana, atau lembaran saham yang risikonya juga tinggi.

Kini apa pun bidangnya yang Anda pilih dalam bekerja, yang paling penting Anda memiliki aktivitas sehingga Anda tak merasa tua lagi serta masih terus berpenghasilan. Janganlah Anda merasa pensiun, tetapi tetap bergerak terus. Antara lain, terus bersilaturahmi dengan teman kantor, menginventarisir teman lama, teman baru, dan masuk organisasi. Jangan lupa untuk tetap bergerak sesuai keahlian agar Anda bisa dihargai dan banyak yang membutuhkan. Anda tak akan pernah merasa kesepian, apalagi harus meratapi kesedihan dan ketakutan karena telah kehilangan kebanggaan dalam bekerja. Dan sekarang, bangkitlah dan janganlah merasa pensiun. Dngan banyak bersilturahmi dan ikut masuk komunitas baru maka kemajuan akab tetap dalam genggaman Anda.[gg]

* Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (Simark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada dibidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Email: gagan@kumaitucargo.co.id atau website: www.silaturahmimarketing.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Terapi Energi 5 Elemen: Yin, Yang, dan Keseimbangan Hormon pada Pria dan Wanita

ahgOleh: Aleysius H. Gondosari*

Wei Tsuei, seorang Master Traditional Chinese Medicine, menjelaskan dalam bukunya Roots of Chinese Culture & Medicine mengenai keseimbangan hormon dalam filsafat Yin dan Yang. Yin dan Yang merupakan simbol keseimbangan energi. Di dalam energi Yin terdapat benih Yang, dan di dalam energi Yang terdapat benih Yin.

Hormon Estrogen (Estradiol), Androgen (Testosteron), dan Indeks Keseimbangan:

Kita beranggapan bahwa hormon estrogen hanya dibutuhkan oleh wanita, dan hormon androgen hanya dibutuhkan oleh pria. Tetapi dari penelitian medis, diperoleh hasil bahwa baik wanita maupun pria membutuhkan kedua-duanya. Untuk mengukur keseimbangan energi hormon pada pria dan wanita, saya akan menggunakan Indeks Keseimbangan.

Wanita membutuhkan hormon estrogen sebanyak 0,07 – 0,17 mg/dl (tergantung pada fase siklus menstruasi), dan androgen sebanyak 0,5 mg/dl. Dengan kondisi ini, diperoleh nilai Indeks Keseimbangan hormon sebesar +50% untuk wanita.

Pria membutuhkan hormon estrogen sebanyak 0,024 mg/dl, dan androgen sebanyak 6,5 mg/dl. Dengan kondisi ini, diperoleh nilai Indeks Keseimbangan sebesar +50% untuk pria.

Sulit Hamil dan Menopause pada Wanita:

Wanita akan sulit hamil bila Indeks Keseimbangan hormon kurang dari +20%. Jadi bila ingin hamil, sebaiknya keseimbangan hormon ditingkatkan di atas +20%, dengan mengonsumsi makanan sehat yang sesuai.

Ketika menikah, istri saya belum bisa hamil, karena saat itu Indeks Keseimbangan hormonnya hanya +5%. Tetapi setelah mengonsumsi obat dan makanan yang cocok, Indeks Keseimbangan hormonnya naik mencapai +20%.

Ketika Indeks Keseimbangan hormon kurang dari +5%, wanita akan memasuki masa menopause. Menopause biasa terjadi pada usia 55 tahun, tetapi bisa saja terjadi pada usia di bawah itu. Untuk memperlambat menopause, sebaiknya keseimbangan hormon ditingkatkan pada kondisi minimal +10%, dengan mengonsumsi makanan sehat yang sesuai.

Makanan Sehat untuk Menjaga Keseimbangan Hormon pada Wanita:

Hormon sex terletak pada elemen kedua Air. Jadi hormon ini terutama membutuhkan makanan sehat elemen Air. Beberapa makanan sehat yang dapat menjaga Indeks Keseimbangan Hormon pada wanita adalah:

· Tempe segar: mempunyai Indeks Keseimbangan energi hormon untuk wanita = +20%. Indeks Manfaat = +20.

· Pepaya segar: Indeks Keseimbangan hormon = +30%. Indeks Manfaat = +5.

· Jambu biji: Indeks Keseimbangan hormon = +30%. Indeks Manfaat = +5.

· Air kelapa tua: Indeks Keseimbangan hormon = +40%. Indeks Manfaat = +30.

· Tomat: Indeks Keseimbangan hormon = +20%. Indeks Manfaat = +10.

· Semangka – daging buah yang merah dan putih dimakan bersama: Indeks Keseimbangan hormon = +30%, bagian daging buah yang merah saja: Indeks Keseimbangan hormon = 0%, bagian daging buah yang putih saja: Indeks Keseimbangan hormon = 0%. Jadi semangka harus dimakan bagian merah dan putih bersama-sama. Indeks Manfaat = +10.

· Terong: Indeks Keseimbangan hormon = +20%. Indeks Manfaat = +10.

· Daun katuk = +30%. Indeks Manfaat = +10.

· Daun pepaya = 0%.

· Apel hijau atau merah = +2%.

· Pir = +2%.

· Pisang = +2%.

· Nenas = +5%.

Tempe segar merupakan makanan sehat 4 elemen, mulai dari elemen kelima Eter, elemen keempat Udara, elemen ketiga Api, dan elemen kedua Air. Jadi, tempe juga bermanfaat untuk menjaga keseimbangan hormon sex. Menurut penelitian kesehatan, tempe segar memang mengandung hormon estrogen.

Daun pepaya, apel hijau, apel merah, pir, pisang, dan nenas kurang bermanfaat untuk keseimbangan hormon, tetapi makanan sehat ini tetap bermanfaat untuk fungsi kesehatan lainnya.

Makanan Sehat untuk Menjaga Keseimbangan Hormon pada Pria:

· Tempe segar: mempunyai Indeks Keseimbangan energi hormon untuk pria = +20%. Indeks Manfaat = +10.

· Pepaya segar: Indeks Keseimbangan hormon = +30%. Indeks Manfaat = +10.

· Jambu biji: Indeks Keseimbangan hormon = +20%. Indeks Manfaat = +5.

· Air kelapa tua: Indeks Keseimbangan hormon = +10%. Indeks Manfaat = +20.

· Tomat: Indeks Keseimbangan hormon = +30%. Indeks Manfaat = +5.

· Semangka – daging buah yang merah dan putih dimakan bersama: Indeks Keseimbangan hormon = +40%, bagian daging buah yang merah saja: Indeks Keseimbangan hormon = 0%, bagian daging buah yang putih saja: Indeks Keseimbangan hormon = 0%. Jadi semangka harus dimakan bagian merah dan putih bersama-sama. Indeks Manfaat = +10.

· Terong: Indeks Keseimbangan hormon = +20%. Indeks Manfaat = +10.

· Daun katuk = +0%.

· Daun pepaya = +20%. Indeks Manfaat = +10.

· Apel hijau atau merah = 0%.

· Pir = 0%.

· Pisang = +5%.

· Nenas = +0%.

Terlihat ada sedikit perbedaan pada beberapa jenis makanan untuk menjaga keseimbangan hormon pada wanita dan pria. Tetapi secara umum, makanan yang bermanfaat untuk wanita, juga bermanfaat untuk pria. Hal ini disebabkan oleh adanya konsep keseimbangan energi Yin dan Yang.

Buah-buahan Banyak Biji dan Buah-buahan Hasil Rekayasa Genetika Tanpa Biji:

Buah-buahan yang banyak bijinya umumnya bermanfaat untuk pria dan wanita. Jadi, berhati-hatilah bila ingin mengonsumsi makanan hasil rekayasa genetika yang sudah tidak berbiji, misalnya pepaya dan semangka tanpa biji. Menurut analisis Energi 5 Elemen, Indeks Keseimbangan hormon pada buah-buahan yang sudah tidak berbiji ini bernilai 0% sampai -3%. Jadi, buah-buahan ini bisa mengganggu keseimbangan hormon. Sebaiknya tetap mengonsumsi makanan alami yang masih banyak bijinya.

Salam Sehat Bahagia![ahg]

* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, praktisi kesehatan alami, dan sedang menyelesaikan buku tentang sehat secara alami dengan Terapi Energi 5 Elemen “The Secret of 5 Elements: Terapi Sehat Bahagia yang Murah dan Praktis“, yang juga dapat dilihat di www.5elemen.com. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail[dot]com atau di nomor telepon: 0818116669.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.8/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Underestimate, Over Estimate, Cover Up

adOleh: Alexandra Dewi*

Istilah jaim (jaga image) sudah menjadi istilah pembicaraan sehari-hari. Kita semuakalau mau jujurpastinya cukup sering melihat orang melakukan pekerjaan jaim tersebut, dan pada saat yang sama juga melakukan aktivitas jaim di kehidupan kita sehari-hari. Contohnya, saya tidak mungkin tertawa terbahak-bahak selepas ketika saya sedang tertawa di depan teman-teman dekat saya sendiri. Saya tak mungkin tertawa terbahak-bahak ketika, misalnya, saya sedang berada di depan kumpulan group ibu-ibu orang tua murid di sekolah anak saya, di mana saya tidak kenal dengan mereka. Dan, saya sangat tidak berharap ada kesan bahwa Mamanya si Jessie (nama anak saya) tidak bisa menjaga sikap, urakan, agak enggak beres, atau ketiga kesan itu kumpul menjadi satu.

Saya yakin, kita semua ada cerita sendiri-sendiri mengenai kapan dan mengapa aktivitas jaim ini kita lakukan. Namun kalau mau jujur, sebenarnya jaim itu adalah suatu aktivitas yang lumayan meletihkan. At least bagi saya. Capek deh kalau setiap saat harus jaim. Dan lagian, ternyata apa yang menurut kita sudah jaim belum tentu di pandangan orang lain yang melihatnya sudah seperti itu.

Contoh, suatu ketika saya pernah di-interview oleh wartawan sebuah majalah traveling. Mungkin, karena saya dianggap cukup sering traveling. Namanya interview, bohong-benar kalau on some level kita yang sedang di-interview tidak melakukan aktivitas jaim. Namun, terserah Anda mau percaya apa tidak, ada masa-masa di kehidupan kitamungkin dengan bertambah usia kita lama-lama tidak sadar sedang jaim atau memang itulah kita apa adanya.

Ketika copy majalah sampai di rumah, yang melakukan interview menulis mengenai  saya bahwa baginya kualitas terbesar saya adalah ‘her humble sincerity’. Anehnya, banyak orang bilang kalau enggak kenal saya beneran kelihatannya saya ini orangnya sombong. Jadi, Anda bisa bayangkan kalau kita harus jaim terus-menerus memikirkan apa pendapat orang mengenai diri kita. Betapa letihnya kita dan belum tentu juga ngefek. Sebab, kalau orang sudah ada pendapat tersendiri mengenai kita, rasanya akan cukup sulit mengubah image tersebut.

Anyway, tak lama kemudian wartawan yang begitu baiknya menyebut saya memiliki kualitas sebagai manusia yang humble (rendah hati) dan sincere (tulus) itu menghubungi saya. Dia bertanya apakah saya bersedia menjadi kontributor di  majalah tersebut. Saya jawab saya lihat dulu tulisan seperti apa yang dibutuhkan, dan beliau menjawab akan mengirim e-mail mengenai hal itu. Ketika e-mail saya buka, singkat kata wartawan tadi benar-benar over-estimate kemampuan saya, baik dari sisi menulis dalam bahasa asing maupun pengetahuan saya mengenai traveling. Sedangkan saya sendiri under-estimate pengetahuan sebagian orang mengenai apa yang mereka ketahui. Dan, pada saat yang sama over-estimate mengenai sebagian kelompok orang lagi mengenai apa yang mereka tahu.

Saya over-estimate bahwa kalau orang bisa menulis buku mengenai kesehatan, artinya dia pasti olahraga teratur tiga kali sehari. Saya over-estimate bahwa kalau orang memimpin suatu perusahaan pastinya dia serba tahu. Saya under-estimate bahwa orang yang baru lulus kuliah pasti tidak banyak tahu apa-apa. Ternyata tidak semuanya selalu seperti itu.

Saya pun akhirnya mencoba tetap humble dan sincere. Saya membalas e-mail wartawan itu dan berkata bahwa sepertinya kemampuan saya dalam hal ini sudah di-over-estimate. Saya belum sanggup menulis seperti contoh yang diberikan, namun saya bisa memberi beberapa tips lepasyang bila ada yang mau merangkumnya kembali dalam tulisan ke bahasa Inggrisminimal saya bersedia membantu, tulus tentunya.

Setelah kejadian itu saya berpikir, berapa kali saya over-estimate orang lain atau under-estimate dan mana yang lebih baik? Di-over-estimate atau di-under-estimate oleh orang lain? Well, jika orang lain over-estimate kita, artinya apa yang sebenarnya kita adalah KURANG dari apa yang dipikirkan orang, dan juga diharapkan dari orang itu. Sedangkan jika kita di-under-estimate oleh orang lain, artinya apa yang sebenarnya diri kita ini LEBIH dari apa yang orang pikir.

Maka dari itu kalau dipikir pikir lagi, walau dianggap remeh oleh orang lain, yang pasti lebih menyebalkan daripada dianggap  lebih dari apa adanya kita. At the end of the day, hanya kita yang tahu sesungguhnya kita itu seperti apa.

Sebagai penutup, ada kenalan saya yang cerita bahwa hobinya mengumpulkan mobil dan jam. Mungkin itu benar, mungkin itu jaim. Mungkin dengan ceritanya itu sebagian orang akan menganggap dia kaya raya, sebagian lagi akan menganggap dia suka pamer. Lalu, sebagian lagi mungkin hanya sirik, tapi lagi-lagi at the end of the day, hanya diri kita sendiri yang tahu, sebenar-benarnya dan sesungguh-sungguhnya kita itu siapa, bisa apa, dan tidak bisa apa. Dan, bila kita enggak suka dengan apa adanya kita itu, hanya kita juga yang tahu mesti diapakan dan apakah kita mau melakukannya.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.4/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 7 votes)

Kasih Sayang

lkkOleh: Lina Kartasasmita*

Seorang teman mengirim SMS kepada saya isinya: Lin, tulis mengenai hari kasih sayang untuk Valentine Day nih. Buat saya menulis itu harus dari hati. Tapi, bukan tidak mungkin untuk menulis tentang kasih sayang. Apalagi begitu hari Kasih Sayang sibuk dirayakan juga oleh generasi muda di Indonesia, di Facebook sudah banyak yang mengirimkan bunga dan coklat virtual. Ya, sepertinya tidak ada salahnya juga saya ikutan memberi tambahan sebuah tulisan.

Ketika orang menyatakan kasih sayang itu dengan bunga dan coklat. Saya terkesan dengan dua kenyataan akan kasih sayang yang saya lihat bersama teman-teman. Hari Sabtu itu, sebagai ketua panitia reuni saya mengumpulkan beberapa teman untuk mengunjungi guru-guru kami yang tidak dapat lagi hadir di reuni. Pertama adalah Pak Jon yang sudah hampir sepuluh tahun mengalami kelumpuhan akibat stroke. Kedua adalah Ibu Tjoan yang dulu cantik tapi sudah menderita parkinson selama bertahun-tahun. Apa yang menarik dari kunjungan saya itu adalah kasih sayang.

Pertama kali saya dan teman-teman mengunjungi rumah Pak Jon yang berada di sebuah gang, kami sangat-sangat terharu melihat beliau terbaring di tempat tidur dan tidak lagi dapat berbicara. Beliau adalah guru di Sekolah Menengah Pertama kami, beliau mengajar PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Pak Jon, seorang yang gagah dan bersuara jernih itu, kini tak lagi dapat bercerita tentang toleransi umat beragama, tidak lagi bisa mengajarkan artinya kerukunan antarsuku bangsa.

Satu hal yang kami semua rasakan sesuatu yang luar biasa adalah penampilan Pak Jon. Walaupun terbaring di tempat tidur, beliau mengenakan pakaian yang bersih dan rapi. Kami mulai mengamati perilaku istrinya yang ternyata merawat dengan penuh kasih. Ketika sang istri mengelus wajah Pak Jon, tampaklah kasih yang luar biasa. Walaupun sang istri mengurus segalanya sendiri, luar biasa rumah mereka tampak sangat bersih. Senyum di wajah sang istri itu mengingatkan kami semua yang hadir saat itu, bahwa ada kasih luar biasa dari seorang istri.

Seorang teman berkomentar, ”Luar biasa, rumahnya bersih sekali dan Pak Jon dirawat dengan sangat baik. Banyak orang yang mengalami kelumpuhan, dan dirawat oleh perawat saja sering kali tempat tidurnya masih tercium bau tidak enak. Ini luar biasa! Kamar Pak Jon bersih sekali” Berarti sang istri telah merawatnya dengan sepenuh hati. Itu hanya bisa terjadi karena adanya kasih.

Perjalanan kami lanjutkan dengan mengunjungi guru kami yang cantik Ibu Tjoan. Beliau dulu adalah guru Sekolah Dasar kelas satu. Ibu Tjoan masih dapat bercanda dengan kami dan mengingat kami, tetapi penyakit parkinsonnya harus diatasi dengan obat terus-menerus. Suami Ibu Tjoan adalah seorang yang penuh kasih sayang, begitu setia menjaga sang istri dan merawatnya terus-menerus.

Kedua kunjungan kami hari itu membawa pesan yang sarat akan kasih sayang. Bahwa, kasih sayang itu tidak luntur karena waktu dan tidak aus karena penyakit. Ketika orang sibuk menyatakan kasih sayang di hari Kasih Sayang, ada banyak orang yang tidak menyatakan kasih dengan bunga dan coklat, tetapi memberikan pengabdian dengan merawat sang kekasih.

Karena itu ada tertulis: Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong … (I Kor 13:4)

Selamat hari Kasih Sayang semua. Nyatakanlah kasih bukan hanya dengan bunga dan coklat, tapi nyatakan kasih hari lepas hari tanpa jemu dengan memberikan diri kita sendiri. Semoga setiap hari kita sanggup merayakan kasih sayang kepada sesama kita.[lk]

* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Tulisan-tulisan Lina terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Saat ini Lina sedang menyelesaikan penyusunan buku motivasi-inspiratif perdananya. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Saya Sudah Siap Mati

sj11Oleh: Sri Julianti*

Kami mengenal Lius dan keluarganya kira-kira 18 tahun yang lalu. Lius didiagnosis menderita kanker paru-paru sejak setahun yang lalu setelah menderita batuk selama dua bulan. Saat kami berkunjung pertama kali setelah diberitahu istrinya tentang penyakitnya, Lius bilang, “Mana mungkin aku percaya aku kena kanker? Lha wong aku ini sehat-sehat saja. Bahkan, dua bulan sebelumnya dokter bilang cuman bronchitis, kok sekarang tiba-tiba jadi kanker?

”Sudah tanya second opinion?” tanya saya.

”Ya, saya rencana ke dokter lain. Mungkin diagnosisnya yang salah timpal Lius.

Lius sangat tegar menghadapi penyakitnya. Dia mencari semua informasi di internet tentang bagaimana mengatasi penyakitnya maupun hidup dengan penyakit kankernya. Mulai dengan jus sayuran organik setiap pagi hari, makan beras merah, tidak makan daging, olahraga teratur, tidak boleh stres, dll.

Suatu hari saya dan suami menerima kabar gembira dari Lius. “Kata dokter lain paru-paruku basah. Dokter memberikan obat-obat bronchitis, kata Lius.

Saya dan suami ikut gembira. Tetapi, saya mengingatkan suami saya, “Papaku dulu awalnya juga dapat keterangan begitu, tetapi akhirnya kanker juga!

Betul juga, selang beberapa minggu kemudian, kondisi Lius drop dan dia harus kembali ke dokter pertamanya. Akhirnya, dia menyerah untuk menjalani chemotherapy. Banyak teman dan sanak keluarganya yang bersimpati kepadanya dengan memberikan bantuan obat, pinjaman mobil, juga bantuan moril.  Tetapi di lain pihak ada juga yang mencari peluang. Banyak juga yang menawarkan pengobatan alternatif seperti TCM (Traditional Chinese Medicine) yang harganya selangit maupun food supplement.

Lha, sebetulnya aku sih lebih pasrah kepada obat dokter dan pola makan. Tetapi, orang-orang ini lho menawarkan obat yang selangit harganya dengan janji yang selangit pula. Kalau mereka jamin aku sembuh, aku sih pasti pakai. Tapi kalau tidak ada jaminan sembuh, buat apa? Mereka ini membuatku jadi bingung dan frustrasi. Aku ini kan sakit, kok mereka juga mencari peluang dari orang yang sudah menderita…?begitulah luapan perasaan Lius.

Itulah dunia….

Tidak hanya mencari informasi, Lius juga mengunjungi sesama penderita kanker dan berbicara dengan mereka. Ada yang berobat ke luar negeri dengan biaya yang tidak sedikityang tidak mungkin dilakukan Lius karena kondisi ekonominya. Awalnya Lius masih bisa menyetir mengantar anak dan istrinya ke mana-mana. Tetapi, pelan dan pasti dia mulai kehilangan tenaga dan menyerahkan kendali keluarga kepada istri dan anaknya.

Setiap menjalani chemoteraphy kondisinya pasti drop untuk beberapa hari. Dan pada saat mulai membaik, dia harus menjalani chemoteraphy lagi. Susahnya lagi, tidak ada hal yang pasti sampai kapan dia harus menjalani chemoteraphy ini. Setelah kira-kira 12 kali chemoteraphy, dia bertanya lagi ke dokter yang merawatnya. “Berapa kali lagi saya harus menjalani chemoteraphy ini, Dok?”

Dokternya menjawab, “Wah tidak tahu pasti Tergantung penyakitnya, bisa saja sampai puluhan kali lagi.

Saat itu juga Lius memutuskan berhenti menjalani chemoteraphy dan hanya minum obat batuk penahan sakit bila perlu dan food supplement. Lha, bagaimana toh, kalau aku di-chemoteraphy terus dan enggak tahu kapan selesainya , buat apa? Sudahlah sekarang aku pasrah, aku minum obat saja dan mengatur pola makanku. Aku ini tidak apa-apa mati…. Tetapi untuk menuju ke sana itu lho Aku juga kepikiran mereka ini lho….” kata Lius sedih sembari merujuk pada keluarganya.

Pernyataan “aku siap mati tetapi menuju ke sana itu lho seperti ini sering saya dengar dari para penderita kanker yang saya kunjungi.

Pagi hari ketika saya baru tiba di kantor kira-kira jam 08.30, ada SMS dari suami saya yang mem-forward SMS anaknya Lius yang memberitahukan ayahnya sudah meninggal jam 07.00 pagi. Saya langsung berdoa di dalam hati untuk arwah Lius dan juga keluarga yang ditinggalkan. Malam harinya kami berkunjung ke rumah duka yang ramai dikunjungi teman-teman dan sanak famili almarhum.

Maria istri almarhum kelihatan lebih tabah. Dia cerita, sebetulnya malam hari jam 20.00-an rekam jantungnya sudah datar. Lalu, dokter menyuntikkan obat dan rekam jantungnya positif lagi. “Dan, tadi pagi rekam jantungnya datar lagi. Akhirnya, dia berangkat dengan tenang kisah Maria. Lius sudah pergi dan meninggalkan kami teman-temannya maupun keluarganya pada usia 62 tahun dengan meninggalkan istri dan dua orang putri yang menjelang dewasa.

Pada hari ketiga jenasah almarhum diberangkatkan ke tempat kremasi. Pemberangkatan dimulai dengan doa dan dihadiri oleh teman-teman dan kerabatnya. Mobil jenasah sudah siap sejak pagi hari, dan seorang Romo sudah siap di sebelah peti jenasah untuk memimpin doa. Setelah doa selesai, anaknya yang sulung memegang foto almarhum dan siap mengantar jenazah ayahnya ke tempat peristirahatan terakhir. Selamat jalan Lius Anda telah menyelesaikan ziarah di dunia ini dengan sempurna. Saatnya Anda berkumpul kembali bersama Bapa.[sj]

* Sri Julianti adalah praktisi packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: julipackaging[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 3.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Kenapa Orang Miskin Tetap Miskin

iy1Oleh: Iftida Yasar*

Jika kita dilahirkan dalam keadaan miskin, sudah dapat dipastikan kita berasal dari orang tua yang miskin, tinggal di perkampungan kumuh, bertetangga dengan orang miskin, dan kebanyakan saudara kita miskin. Karena miskin, kita tidak punya kesempatan sekolah. Kalaupun sekolah hanya SD atau paling banter SMP. Dengan pendidikan yang rendah, apa yang bisa kita lakukan? Akhirnya kita bekerja serabutan, apa adanya, asal bisa makan. Keterampilan yang apa adanya ditambah dengan keadaan yang terpaksa, akhirnya membuat kita mau saja menerima bayaran sesuai kerelaan atau belas kasihan mereka yang butuh jasa kita.

Begitu banyak orang yang seperti itu, bekerja tidak setiap hari. Dengan uang yang pas-pasan, makan sangat teratur; artinya pagi makan, siang belum tentu, atau sebaliknya lebih banyak puasa atau makan seadanya. Asupan makanan jauh dari bergizi karena sekadar mengisi perut. Akibatnya mereka kurang gizi, lemah, dan sakit-sakitan. Kalau sakit tidak punya uang, akhirnya banyak pula yang mati muda tanpa pernah menikmati senangnya kehidupan.

Ada puluhan juta orang miskin di negeri kita yang tercinta ini. Saudara kita yang kebetulan tidak mendapat kesempatan dan mendapatkan ujian dengan menjadi orang susah. Allah memang menciptakan manusia, ada yang kaya untuk membantu yang miskin, dan ada yang miskin agar orang kaya bersyukur serta tergerak hatinya untuk membantu.

Kemiskinan menjadi terstruktur jika suatu negara membiarkan korupsi merajalela. Uang negara yang diperuntukan bagi rakyat miskin agar mereka sejahtera malah dimakan oleh pejabat untuk menyejahterakan dirinya sendiri. Banyak anggaran dipersiapkan untuk membantu orang miskin yang berbentuk cash Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ini cukup membantu jika langsung diterima oleh si miskin tanpa potongan. Pembagian beras miskin lewat lurah juga sangat membantu jika tidak dijual ke pihak yang tidak berhak dengan harga yang lebih tinggi demi mendapat keuntungan. Rakyat yang terkena bencana atau tinggal di daerah terpencil akan sangat terbantu jika dibangun akses jalan dan fasilitas penunjang. Ini dimaksudkan agar masyarakat mampu mandiri dan menjual hasli buminya. Sayangnya mutu jalan dan infrastruktur dikorupsi sehingga sering sekali jalan baru dibangun sudah rusak.

Kenapa ada manusia yang tega memakan manusia lainnya? Mereka memenuhi perut sendiri dan perut anak istrinya dengan uang haram? Mereka membuat diri mereka kaya, tapi membuat orang lain semakin miskin. Banyak contoh di mana pejabat yang meninjau daerah bencana malah merepotkan. Apalagi jika ia adalah orang penting dari pusat. Anggaran malah habis untuk mempersiapakan kedatangannya. Aparat lokal dipersiapkan untuk menyambutnya dan berebut cari muka. Pejabatnya pun mungkin akan marah jika yang menyambut kedatangannya hanya sedikit.

Belum lagi makanan yang akan dimakan si pejabat haruslah istimewa dan banyak. Apalagi kalau si pejabat membawa rombongan ajudan , istri, dan keluarganya. Kok menengok bencana malahan menjadi merepotkan? Bukankah sebaiknya berikan saja doa restu dan audit pengunaan anggaran untuk menuntaskan kemiskinan dan menanggulangi bencana dengan baik?

Saya saja yang bukan siapa-siapa pernah mengalami dijemput dan diantar oleh banyak orang pemda, yang sebenaranya menurut ukuran saya yang swasta, itu semua sangat mubazir. Sebagai orang swasta kedatangan kita ke daerah cukup dijemput sopir saja yang akan membawa kita ke tempat acara atau tempat bencana.

Untuk mendapatkan BLT, Raskin (Beras Miskin), Jamkesmin (Jaminan Kesehatan Miskin), semuanya harus dicap miskin. Ada pengantar dari kelurahan untuk menyatakan bahwa kita miskin. Kalau perlu diberi seragam atau cap yang membedakan kasta kita adalah kasta miskin proletar yang berhak dapat bantuan. Di kelurahan sendiri juga rawan korupsi. Banyak kartu miskin malah diberikan kepada mereka yang tidak miskin. Apakah mereka ini sudah sedemikian rusak mentalnya dan tidak punya harga diri sehingga tidak malu mengaku miskin agar dapat bantuan dari pemerintah?

Kalau untuk mendapatkan BLT sontak pejabat desa, kecamatan, dan kabupaten berlomba-lomba mendata sebanyak mungkin warganya yang miskin. Bahkan, banyak data yang fiktif, ada data tapi orangnya sudah meninggal. Tapi, jika untuk laporan kemajuan desa, data yang dikeluarkan lain lagi. Pokoknya yang menggambarkan baagimana hebatnya aparat birokrat mengelola daerahnya. Dengan data dan laporan yang bagus, akan keluar lagi kucuran dana untuk program lainnya. Rakyat masih dijadikan alat untuk kepentingan para birokrat, belum diperlakukan dengan benar untuk mengangkat derajatnya agar mereka sejahtera.

Kalau rakyat masih mau dijadikan komoditas politik kepentingan para penguasa, dan mau dijadikan objek kemiskinan, mereka akan berkubang dalam lumpur kemiskinan. Cara berpikirnya adalah miskin, meminta-minta, dan mengggantungkan hidupnya pada orang lain. Jika birokrat masih menjadikan rakyat hanya sebagai alat untuk mendapatkan tambahan anggaran yang peruntukannya tidak sesuai dengan alokasi anggaran, akan terciptalah mental penguasa yang bobrok. Mereka miskin kasih sayang, miskin moral, dan miskin belas kasihan kepada`rakyat yang seharusnya mereka lindungi.

Kita harus memerangi keadaan seperti ini agar jangan sampai orang miskin tetap miskin. Orang miskin hanya dianggap sebagai angka; yang semakin besar jumlahnya semakin banyak bantuan yang diberikan. Sudah saatnya kita semua memperjuangkan suatu negara yang makmur, merdeka, sejahtera, di mana rakyatnya mempunyai harga diri dan semangat untuk mandiri. Masyarakat yang malu untuk meminta-minta dan berjuang untuk hidup secara bermartabat.

Sedih rasanya dalam bulan puasa misalnya, kita melihat bagaimana rakyat miskin yang memang biasa tidak makan malahan tidak puasa. Mereka di bulan suci tersebut malah berjejer di jalan, lengkap dengan anak-istri, bahkan membawa bayi sambil menadahkan tangannya. Manusia gerobak semakin hari semakin banyak saja berjejer di pinggir-pinggir jalan besar. Rasanya mustahil jika tidak ada yang mengorganisir. Begitu banyak gerobak itu mungkin ada juragan gerobak yang mengambil keuntungan dengan menyewakannya.

sOrang miskin mungkin menjadi putus asa dan tidak percaya lagi kepada Allah. Mereka mencari kasih sayang Allah sepanjang hidupnya, namun belum menemukannya dalam bentuk kesejahteraan. Rawan sekali jika kita membiarkan saudara kita tersebut semakin banyak saja yang bertambah miskin. Mereka nantinya bukan saja miskin harta, tapi juga miskin iman. Bisa tidak percaya lagi kepada kasih sayang Allah.

Bahkan, dikhawatirkandemi mengejar kebutuhan perut—mereka akan terperosok ke dalam perbuatan yang tidak bermartabat, seperti minta-minta dan bahkan berbuat kriminal. Bayangkan jika begitu banyak saudara kita yang miskin, ini juga akan membahayakan kita yang dianggap mampu tapi tidak mau membantu. Kemungkinan ada kecemburuan sosial dan kalau ada kejadian yang tidak diinginkan mereka akan gelap mata.

Jadi, jangan berbahagia apalagi tidak peduli terhadap orang miskin. Kita harus membantu mereka.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.8/10 (12 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +8 (from 8 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox