Jangan Pernah Merasa Pensiun

gg1Oleh: Gagan Gartika*

“Pensiun sering menakutkan bagi seseorang sehingga untuk menghilangkan ketakutan tersebut kita perlu aktivitas lain agar jangan pernah merasa pensiun.

~ Gagan Gartika

Usia pensiun pegawai pemerintah rencananya akan dinaikkan dari batas usia 55 tahun menjadi 58 tahun. Bagi mereka yang usianya mendekati pensiun, mendengar berita itu pasti banyak yang bergembira. “Lumayan, waktu bekerja tambah tiga tahun. Dari pada di rumah mendingan tetap bekerja. Selain dapur tetap ngebul, waktu tak terbuang. Dan, kalau hanya di rumah saja bisa cepat tua,” ucap mereka yang mendukung.

Aneh memang, ketika bekerja dan banyak kegiatan raut wajah terlihat ceria. Tetapi, menjelang pensiun wajah mulai berkerut, terlihat kusam, mata mulai menerawang—melamunkan pekerjaan setelah pensiun. Kondisi ini banyak dirasakan khususnya oleh mereka calon pensiunan pegawai negeri.

Untuk itu, agar terhindar dari cepat keriput, kusam, lunglai, dan tak berkegiatan, sebaiknya Anda jangan pernah merasa pensiun. Meskipun telah berhenti bekerja usahakan tetap memiliki kegiatan lain. Agar pikiran bisa bergerak terus dan berkegiatan—apalagi Anda telah berpengalaman bekerjasumbangkan saja pengalaman itu pada generasi berikut atau untuk perusahaan yang perlu bantuan.

Hal ini banyak dilakukan sekalipun oleh para mantan Presiden Amerika Serikat. Mereka tak pernah mau diam dan malah bergerak terus dalam bidang sosial. Mereka membuat organisasi dermawan yang membantu masyarakat miskin atau membantu mereka yang terkena penyakit yang sulit disembuhkan. Sehingga, hidup mereka selalu diisi dengan berbagai kegiatan dan tak pernah merasa pensiun. Mereka tetap memelihara jaringannya dan masih bisa berbaur dengan sesama teman dan itu membuat umur mereka lebih panjang.

Di luar pegawai negeri atau pada perusahaan swasta, meskipun pegawainya telah masuk usia pensiun tetapi masih banyak dari mereka yang memilih tetap berkarya. Bahkan, seperti bekerja seumur hidup alias tak merasa pensiun sehingga banyak dari mereka malah masih kuat, tak kalah dari yang muda.

Juga bagi mereka yang punya banyak kegiatan di luar selain sebagai pegawai negeri biasanya juga lebih sering memilih cepat pensiun. Karena, waktu mereka lebih sering dialihkan untuk kegiatan mandiri dan menciptakan pekerjaan bagi orang lain. Atau, mereka lebih bisa memerhatikan dirinya sendiri dibanding saat harus terus mengabdi pada pekerjaan pemerintah.

Memang masing-masing orang memiliki alasan sendiri dan tergantung dari mana mereka memandang saat memilih pensiun. Bagi yang tak ada pekerjaan lagi, orang lebih nyaman melanjutkan pekerjaannya. Sementara bagi yang berkegiatan di luar, pasti mereka lebih senang mengambil pensiun muda.

Mereka yang cepat pensiun bisa saja waktunya digunakan untuk berwiraswasta atau mengajar. Pengalaman telah ada, jaringan juga luas, teman banyak—tinggal memaksimalkan jaringan dan temannya tersebut. Lebih istimewanya, waktu dan bekal pensiun sudah ada sehingga itu jadi modal dalam berkarier selanjutnya. Ini beda dibandingkan dengan mereka yang dari nol dan tak ada kekuatan ketika harus berjuang mendirikan perusahaan.

Namun, meskipun telah berpengalaman, ternyata masih banyak di antara mereka yang ketika terjun berbisnis malah tidak berhasil. Mungkin karena sebelumnya terbiasa menjadi orang gajian, sementara dalam wiraswasta harus mampu menggaji diri sendiri. Inilah yang membuat mereka belum terbiasa; ke mana-mana dengan ongkos sendiri, mulai modal, penyediaan tempat, peralatan, membayar karyawan dll. Terkadang setelah berinvestasi pengembaliannya tak kunjung tiba sehingga modal dan investasi bisa melayang. Kadang bila bekerjasama, ketika partner-nya enggak cocok, malah bisa tertipu. Inilah tantangan dalam berusaha.

Maka dari itu, mindset pegawai negeri perlu segera diubah menjadi mindset sebagai pelaku usaha. Biasa enak lalu harus berubah menjadi apa adanya. Biasa santai, mesti berubah menjadi berjuang keras. Biasa ada petunjuk berubah jadi mencari petunjuk, mencari terobosan-terobosan baru. Biasa dapat makan, sekarang harus siap berubah menjadi pemberi makan. Pokoknya serba mandiri. Kalau enggak mandiri tak ada penghasilan dan tak ada makan kita menjadi terbiasa berpikir, berelasi, bertemu orang, melalui berbagai media atau komunitas serta organisasi yang banyak bertebaran. Ujungnya, suatu saat kita bertemu keberhasilan yang menjadikan hidup kita tetap berseri dan tak pernah merasa pensiun.

Setidaknya ini yang dilakukan teman saya. Sebelumnya ia bekerja di bagian hukum dan perizinan perusahaan BUMN. Begitu pensiun, ia tak mau menganggur. Makanya, ia memasuki sebuah organisasi pengusaha di bisnis tranportasi dan pergudangan. Ternyata, keahliannya banyak diperlukan oleh para pengusaha. Akhirnya, sekarang ia menjadi bagian personalia dan perizinan, menimati kegiatan baru pada perusahaan swasta. Pengalaman kerjanya bisa diaplikasikan pada perusahaan tersebut.

Pada saat yang sama para pensiun lainnya masih banyak yang merenungi nasibnya. Mereka meraba-raba mencari tahu jalan baru dalam mengisi kehidupannya. “Kenapa saya bangkrut terus saat mendirikan usaha? Bahkan selalu tertipu Jadi, bagaimana ya cara berusaha yang benar?” tanya seorang pensiunan kepada saya.

Setelah saya selidiki, ternyata penyakitnya adalah ia mendirikan usaha yang bukan berdasar keahliannya sehingga uang pensiunnya habis. Dan jalan keluarnya, sebaiknya ia bekerja sesuai keahlian karena keahlian bisa mendukung kelancaran dalam berusaha. Selain itu, ia tidak perlu banyak belajar lagi. Jadi tinggal menyesuaikan ritme dan model berusaha. Dengan demikian waktu tidak terbuang percuma.

Selanjutnya, ketika telah berhasil dalam berbisnis, kita akan mengetahui bahwa perputaran uang yang lebih menguntungkan adalah dari pendirian perusahaan. Hasilnya bisa berlipat jauh dibanding dengan uang yang ditaruh dalam instrumen investasi lainnya, baik deposito, reksadana, atau lembaran saham yang risikonya juga tinggi.

Kini apa pun bidangnya yang Anda pilih dalam bekerja, yang paling penting Anda memiliki aktivitas sehingga Anda tak merasa tua lagi serta masih terus berpenghasilan. Janganlah Anda merasa pensiun, tetapi tetap bergerak terus. Antara lain, terus bersilaturahmi dengan teman kantor, menginventarisir teman lama, teman baru, dan masuk organisasi. Jangan lupa untuk tetap bergerak sesuai keahlian agar Anda bisa dihargai dan banyak yang membutuhkan. Anda tak akan pernah merasa kesepian, apalagi harus meratapi kesedihan dan ketakutan karena telah kehilangan kebanggaan dalam bekerja. Dan sekarang, bangkitlah dan janganlah merasa pensiun. Dngan banyak bersilturahmi dan ikut masuk komunitas baru maka kemajuan akab tetap dalam genggaman Anda.[gg]

* Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (Simark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada dibidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Email: gagan@kumaitucargo.co.id atau website: www.silaturahmimarketing.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Terapi Energi 5 Elemen: Yin, Yang, dan Keseimbangan Hormon pada Pria dan Wanita

ahgOleh: Aleysius H. Gondosari*

Wei Tsuei, seorang Master Traditional Chinese Medicine, menjelaskan dalam bukunya Roots of Chinese Culture & Medicine mengenai keseimbangan hormon dalam filsafat Yin dan Yang. Yin dan Yang merupakan simbol keseimbangan energi. Di dalam energi Yin terdapat benih Yang, dan di dalam energi Yang terdapat benih Yin.

Hormon Estrogen (Estradiol), Androgen (Testosteron), dan Indeks Keseimbangan:

Kita beranggapan bahwa hormon estrogen hanya dibutuhkan oleh wanita, dan hormon androgen hanya dibutuhkan oleh pria. Tetapi dari penelitian medis, diperoleh hasil bahwa baik wanita maupun pria membutuhkan kedua-duanya. Untuk mengukur keseimbangan energi hormon pada pria dan wanita, saya akan menggunakan Indeks Keseimbangan.

Wanita membutuhkan hormon estrogen sebanyak 0,07 – 0,17 mg/dl (tergantung pada fase siklus menstruasi), dan androgen sebanyak 0,5 mg/dl. Dengan kondisi ini, diperoleh nilai Indeks Keseimbangan hormon sebesar +50% untuk wanita.

Pria membutuhkan hormon estrogen sebanyak 0,024 mg/dl, dan androgen sebanyak 6,5 mg/dl. Dengan kondisi ini, diperoleh nilai Indeks Keseimbangan sebesar +50% untuk pria.

Sulit Hamil dan Menopause pada Wanita:

Wanita akan sulit hamil bila Indeks Keseimbangan hormon kurang dari +20%. Jadi bila ingin hamil, sebaiknya keseimbangan hormon ditingkatkan di atas +20%, dengan mengonsumsi makanan sehat yang sesuai.

Ketika menikah, istri saya belum bisa hamil, karena saat itu Indeks Keseimbangan hormonnya hanya +5%. Tetapi setelah mengonsumsi obat dan makanan yang cocok, Indeks Keseimbangan hormonnya naik mencapai +20%.

Ketika Indeks Keseimbangan hormon kurang dari +5%, wanita akan memasuki masa menopause. Menopause biasa terjadi pada usia 55 tahun, tetapi bisa saja terjadi pada usia di bawah itu. Untuk memperlambat menopause, sebaiknya keseimbangan hormon ditingkatkan pada kondisi minimal +10%, dengan mengonsumsi makanan sehat yang sesuai.

Makanan Sehat untuk Menjaga Keseimbangan Hormon pada Wanita:

Hormon sex terletak pada elemen kedua Air. Jadi hormon ini terutama membutuhkan makanan sehat elemen Air. Beberapa makanan sehat yang dapat menjaga Indeks Keseimbangan Hormon pada wanita adalah:

· Tempe segar: mempunyai Indeks Keseimbangan energi hormon untuk wanita = +20%. Indeks Manfaat = +20.

· Pepaya segar: Indeks Keseimbangan hormon = +30%. Indeks Manfaat = +5.

· Jambu biji: Indeks Keseimbangan hormon = +30%. Indeks Manfaat = +5.

· Air kelapa tua: Indeks Keseimbangan hormon = +40%. Indeks Manfaat = +30.

· Tomat: Indeks Keseimbangan hormon = +20%. Indeks Manfaat = +10.

· Semangka – daging buah yang merah dan putih dimakan bersama: Indeks Keseimbangan hormon = +30%, bagian daging buah yang merah saja: Indeks Keseimbangan hormon = 0%, bagian daging buah yang putih saja: Indeks Keseimbangan hormon = 0%. Jadi semangka harus dimakan bagian merah dan putih bersama-sama. Indeks Manfaat = +10.

· Terong: Indeks Keseimbangan hormon = +20%. Indeks Manfaat = +10.

· Daun katuk = +30%. Indeks Manfaat = +10.

· Daun pepaya = 0%.

· Apel hijau atau merah = +2%.

· Pir = +2%.

· Pisang = +2%.

· Nenas = +5%.

Tempe segar merupakan makanan sehat 4 elemen, mulai dari elemen kelima Eter, elemen keempat Udara, elemen ketiga Api, dan elemen kedua Air. Jadi, tempe juga bermanfaat untuk menjaga keseimbangan hormon sex. Menurut penelitian kesehatan, tempe segar memang mengandung hormon estrogen.

Daun pepaya, apel hijau, apel merah, pir, pisang, dan nenas kurang bermanfaat untuk keseimbangan hormon, tetapi makanan sehat ini tetap bermanfaat untuk fungsi kesehatan lainnya.

Makanan Sehat untuk Menjaga Keseimbangan Hormon pada Pria:

· Tempe segar: mempunyai Indeks Keseimbangan energi hormon untuk pria = +20%. Indeks Manfaat = +10.

· Pepaya segar: Indeks Keseimbangan hormon = +30%. Indeks Manfaat = +10.

· Jambu biji: Indeks Keseimbangan hormon = +20%. Indeks Manfaat = +5.

· Air kelapa tua: Indeks Keseimbangan hormon = +10%. Indeks Manfaat = +20.

· Tomat: Indeks Keseimbangan hormon = +30%. Indeks Manfaat = +5.

· Semangka – daging buah yang merah dan putih dimakan bersama: Indeks Keseimbangan hormon = +40%, bagian daging buah yang merah saja: Indeks Keseimbangan hormon = 0%, bagian daging buah yang putih saja: Indeks Keseimbangan hormon = 0%. Jadi semangka harus dimakan bagian merah dan putih bersama-sama. Indeks Manfaat = +10.

· Terong: Indeks Keseimbangan hormon = +20%. Indeks Manfaat = +10.

· Daun katuk = +0%.

· Daun pepaya = +20%. Indeks Manfaat = +10.

· Apel hijau atau merah = 0%.

· Pir = 0%.

· Pisang = +5%.

· Nenas = +0%.

Terlihat ada sedikit perbedaan pada beberapa jenis makanan untuk menjaga keseimbangan hormon pada wanita dan pria. Tetapi secara umum, makanan yang bermanfaat untuk wanita, juga bermanfaat untuk pria. Hal ini disebabkan oleh adanya konsep keseimbangan energi Yin dan Yang.

Buah-buahan Banyak Biji dan Buah-buahan Hasil Rekayasa Genetika Tanpa Biji:

Buah-buahan yang banyak bijinya umumnya bermanfaat untuk pria dan wanita. Jadi, berhati-hatilah bila ingin mengonsumsi makanan hasil rekayasa genetika yang sudah tidak berbiji, misalnya pepaya dan semangka tanpa biji. Menurut analisis Energi 5 Elemen, Indeks Keseimbangan hormon pada buah-buahan yang sudah tidak berbiji ini bernilai 0% sampai -3%. Jadi, buah-buahan ini bisa mengganggu keseimbangan hormon. Sebaiknya tetap mengonsumsi makanan alami yang masih banyak bijinya.

Salam Sehat Bahagia![ahg]

* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, praktisi kesehatan alami, dan sedang menyelesaikan buku tentang sehat secara alami dengan Terapi Energi 5 Elemen “The Secret of 5 Elements: Terapi Sehat Bahagia yang Murah dan Praktis“, yang juga dapat dilihat di www.5elemen.com. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail[dot]com atau di nomor telepon: 0818116669.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Underestimate, Over Estimate, Cover Up

adOleh: Alexandra Dewi*

Istilah jaim (jaga image) sudah menjadi istilah pembicaraan sehari-hari. Kita semuakalau mau jujurpastinya cukup sering melihat orang melakukan pekerjaan jaim tersebut, dan pada saat yang sama juga melakukan aktivitas jaim di kehidupan kita sehari-hari. Contohnya, saya tidak mungkin tertawa terbahak-bahak selepas ketika saya sedang tertawa di depan teman-teman dekat saya sendiri. Saya tak mungkin tertawa terbahak-bahak ketika, misalnya, saya sedang berada di depan kumpulan group ibu-ibu orang tua murid di sekolah anak saya, di mana saya tidak kenal dengan mereka. Dan, saya sangat tidak berharap ada kesan bahwa Mamanya si Jessie (nama anak saya) tidak bisa menjaga sikap, urakan, agak enggak beres, atau ketiga kesan itu kumpul menjadi satu.

Saya yakin, kita semua ada cerita sendiri-sendiri mengenai kapan dan mengapa aktivitas jaim ini kita lakukan. Namun kalau mau jujur, sebenarnya jaim itu adalah suatu aktivitas yang lumayan meletihkan. At least bagi saya. Capek deh kalau setiap saat harus jaim. Dan lagian, ternyata apa yang menurut kita sudah jaim belum tentu di pandangan orang lain yang melihatnya sudah seperti itu.

Contoh, suatu ketika saya pernah di-interview oleh wartawan sebuah majalah traveling. Mungkin, karena saya dianggap cukup sering traveling. Namanya interview, bohong-benar kalau on some level kita yang sedang di-interview tidak melakukan aktivitas jaim. Namun, terserah Anda mau percaya apa tidak, ada masa-masa di kehidupan kitamungkin dengan bertambah usia kita lama-lama tidak sadar sedang jaim atau memang itulah kita apa adanya.

Ketika copy majalah sampai di rumah, yang melakukan interview menulis mengenai  saya bahwa baginya kualitas terbesar saya adalah ‘her humble sincerity’. Anehnya, banyak orang bilang kalau enggak kenal saya beneran kelihatannya saya ini orangnya sombong. Jadi, Anda bisa bayangkan kalau kita harus jaim terus-menerus memikirkan apa pendapat orang mengenai diri kita. Betapa letihnya kita dan belum tentu juga ngefek. Sebab, kalau orang sudah ada pendapat tersendiri mengenai kita, rasanya akan cukup sulit mengubah image tersebut.

Anyway, tak lama kemudian wartawan yang begitu baiknya menyebut saya memiliki kualitas sebagai manusia yang humble (rendah hati) dan sincere (tulus) itu menghubungi saya. Dia bertanya apakah saya bersedia menjadi kontributor di  majalah tersebut. Saya jawab saya lihat dulu tulisan seperti apa yang dibutuhkan, dan beliau menjawab akan mengirim e-mail mengenai hal itu. Ketika e-mail saya buka, singkat kata wartawan tadi benar-benar over-estimate kemampuan saya, baik dari sisi menulis dalam bahasa asing maupun pengetahuan saya mengenai traveling. Sedangkan saya sendiri under-estimate pengetahuan sebagian orang mengenai apa yang mereka ketahui. Dan, pada saat yang sama over-estimate mengenai sebagian kelompok orang lagi mengenai apa yang mereka tahu.

Saya over-estimate bahwa kalau orang bisa menulis buku mengenai kesehatan, artinya dia pasti olahraga teratur tiga kali sehari. Saya over-estimate bahwa kalau orang memimpin suatu perusahaan pastinya dia serba tahu. Saya under-estimate bahwa orang yang baru lulus kuliah pasti tidak banyak tahu apa-apa. Ternyata tidak semuanya selalu seperti itu.

Saya pun akhirnya mencoba tetap humble dan sincere. Saya membalas e-mail wartawan itu dan berkata bahwa sepertinya kemampuan saya dalam hal ini sudah di-over-estimate. Saya belum sanggup menulis seperti contoh yang diberikan, namun saya bisa memberi beberapa tips lepasyang bila ada yang mau merangkumnya kembali dalam tulisan ke bahasa Inggrisminimal saya bersedia membantu, tulus tentunya.

Setelah kejadian itu saya berpikir, berapa kali saya over-estimate orang lain atau under-estimate dan mana yang lebih baik? Di-over-estimate atau di-under-estimate oleh orang lain? Well, jika orang lain over-estimate kita, artinya apa yang sebenarnya kita adalah KURANG dari apa yang dipikirkan orang, dan juga diharapkan dari orang itu. Sedangkan jika kita di-under-estimate oleh orang lain, artinya apa yang sebenarnya diri kita ini LEBIH dari apa yang orang pikir.

Maka dari itu kalau dipikir pikir lagi, walau dianggap remeh oleh orang lain, yang pasti lebih menyebalkan daripada dianggap  lebih dari apa adanya kita. At the end of the day, hanya kita yang tahu sesungguhnya kita itu seperti apa.

Sebagai penutup, ada kenalan saya yang cerita bahwa hobinya mengumpulkan mobil dan jam. Mungkin itu benar, mungkin itu jaim. Mungkin dengan ceritanya itu sebagian orang akan menganggap dia kaya raya, sebagian lagi akan menganggap dia suka pamer. Lalu, sebagian lagi mungkin hanya sirik, tapi lagi-lagi at the end of the day, hanya diri kita sendiri yang tahu, sebenar-benarnya dan sesungguh-sungguhnya kita itu siapa, bisa apa, dan tidak bisa apa. Dan, bila kita enggak suka dengan apa adanya kita itu, hanya kita juga yang tahu mesti diapakan dan apakah kita mau melakukannya.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: -1 (from 1 vote)

Kasih Sayang

lkkOleh: Lina Kartasasmita*

Seorang teman mengirim SMS kepada saya isinya: Lin, tulis mengenai hari kasih sayang untuk Valentine Day nih. Buat saya menulis itu harus dari hati. Tapi, bukan tidak mungkin untuk menulis tentang kasih sayang. Apalagi begitu hari Kasih Sayang sibuk dirayakan juga oleh generasi muda di Indonesia, di Facebook sudah banyak yang mengirimkan bunga dan coklat virtual. Ya, sepertinya tidak ada salahnya juga saya ikutan memberi tambahan sebuah tulisan.

Ketika orang menyatakan kasih sayang itu dengan bunga dan coklat. Saya terkesan dengan dua kenyataan akan kasih sayang yang saya lihat bersama teman-teman. Hari Sabtu itu, sebagai ketua panitia reuni saya mengumpulkan beberapa teman untuk mengunjungi guru-guru kami yang tidak dapat lagi hadir di reuni. Pertama adalah Pak Jon yang sudah hampir sepuluh tahun mengalami kelumpuhan akibat stroke. Kedua adalah Ibu Tjoan yang dulu cantik tapi sudah menderita parkinson selama bertahun-tahun. Apa yang menarik dari kunjungan saya itu adalah kasih sayang.

Pertama kali saya dan teman-teman mengunjungi rumah Pak Jon yang berada di sebuah gang, kami sangat-sangat terharu melihat beliau terbaring di tempat tidur dan tidak lagi dapat berbicara. Beliau adalah guru di Sekolah Menengah Pertama kami, beliau mengajar PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Pak Jon, seorang yang gagah dan bersuara jernih itu, kini tak lagi dapat bercerita tentang toleransi umat beragama, tidak lagi bisa mengajarkan artinya kerukunan antarsuku bangsa.

Satu hal yang kami semua rasakan sesuatu yang luar biasa adalah penampilan Pak Jon. Walaupun terbaring di tempat tidur, beliau mengenakan pakaian yang bersih dan rapi. Kami mulai mengamati perilaku istrinya yang ternyata merawat dengan penuh kasih. Ketika sang istri mengelus wajah Pak Jon, tampaklah kasih yang luar biasa. Walaupun sang istri mengurus segalanya sendiri, luar biasa rumah mereka tampak sangat bersih. Senyum di wajah sang istri itu mengingatkan kami semua yang hadir saat itu, bahwa ada kasih luar biasa dari seorang istri.

Seorang teman berkomentar, ”Luar biasa, rumahnya bersih sekali dan Pak Jon dirawat dengan sangat baik. Banyak orang yang mengalami kelumpuhan, dan dirawat oleh perawat saja sering kali tempat tidurnya masih tercium bau tidak enak. Ini luar biasa! Kamar Pak Jon bersih sekali” Berarti sang istri telah merawatnya dengan sepenuh hati. Itu hanya bisa terjadi karena adanya kasih.

Perjalanan kami lanjutkan dengan mengunjungi guru kami yang cantik Ibu Tjoan. Beliau dulu adalah guru Sekolah Dasar kelas satu. Ibu Tjoan masih dapat bercanda dengan kami dan mengingat kami, tetapi penyakit parkinsonnya harus diatasi dengan obat terus-menerus. Suami Ibu Tjoan adalah seorang yang penuh kasih sayang, begitu setia menjaga sang istri dan merawatnya terus-menerus.

Kedua kunjungan kami hari itu membawa pesan yang sarat akan kasih sayang. Bahwa, kasih sayang itu tidak luntur karena waktu dan tidak aus karena penyakit. Ketika orang sibuk menyatakan kasih sayang di hari Kasih Sayang, ada banyak orang yang tidak menyatakan kasih dengan bunga dan coklat, tetapi memberikan pengabdian dengan merawat sang kekasih.

Karena itu ada tertulis: Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong … (I Kor 13:4)

Selamat hari Kasih Sayang semua. Nyatakanlah kasih bukan hanya dengan bunga dan coklat, tapi nyatakan kasih hari lepas hari tanpa jemu dengan memberikan diri kita sendiri. Semoga setiap hari kita sanggup merayakan kasih sayang kepada sesama kita.[lk]

* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 1966, lulusan sarjana akuntansi yang memilih menjadi guru dan ibu rumah tangga. Aktif di Toastmaster Club, suka menulis dan mencintai dunia pendidikan. Tulisan-tulisan Lina terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Saat ini Lina sedang menyelesaikan penyusunan buku motivasi-inspiratif perdananya. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Saya Sudah Siap Mati

sj11Oleh: Sri Julianti*

Kami mengenal Lius dan keluarganya kira-kira 18 tahun yang lalu. Lius didiagnosis menderita kanker paru-paru sejak setahun yang lalu setelah menderita batuk selama dua bulan. Saat kami berkunjung pertama kali setelah diberitahu istrinya tentang penyakitnya, Lius bilang, “Mana mungkin aku percaya aku kena kanker? Lha wong aku ini sehat-sehat saja. Bahkan, dua bulan sebelumnya dokter bilang cuman bronchitis, kok sekarang tiba-tiba jadi kanker?

”Sudah tanya second opinion?” tanya saya.

”Ya, saya rencana ke dokter lain. Mungkin diagnosisnya yang salah timpal Lius.

Lius sangat tegar menghadapi penyakitnya. Dia mencari semua informasi di internet tentang bagaimana mengatasi penyakitnya maupun hidup dengan penyakit kankernya. Mulai dengan jus sayuran organik setiap pagi hari, makan beras merah, tidak makan daging, olahraga teratur, tidak boleh stres, dll.

Suatu hari saya dan suami menerima kabar gembira dari Lius. “Kata dokter lain paru-paruku basah. Dokter memberikan obat-obat bronchitis, kata Lius.

Saya dan suami ikut gembira. Tetapi, saya mengingatkan suami saya, “Papaku dulu awalnya juga dapat keterangan begitu, tetapi akhirnya kanker juga!

Betul juga, selang beberapa minggu kemudian, kondisi Lius drop dan dia harus kembali ke dokter pertamanya. Akhirnya, dia menyerah untuk menjalani chemotherapy. Banyak teman dan sanak keluarganya yang bersimpati kepadanya dengan memberikan bantuan obat, pinjaman mobil, juga bantuan moril.  Tetapi di lain pihak ada juga yang mencari peluang. Banyak juga yang menawarkan pengobatan alternatif seperti TCM (Traditional Chinese Medicine) yang harganya selangit maupun food supplement.

Lha, sebetulnya aku sih lebih pasrah kepada obat dokter dan pola makan. Tetapi, orang-orang ini lho menawarkan obat yang selangit harganya dengan janji yang selangit pula. Kalau mereka jamin aku sembuh, aku sih pasti pakai. Tapi kalau tidak ada jaminan sembuh, buat apa? Mereka ini membuatku jadi bingung dan frustrasi. Aku ini kan sakit, kok mereka juga mencari peluang dari orang yang sudah menderita…?begitulah luapan perasaan Lius.

Itulah dunia….

Tidak hanya mencari informasi, Lius juga mengunjungi sesama penderita kanker dan berbicara dengan mereka. Ada yang berobat ke luar negeri dengan biaya yang tidak sedikityang tidak mungkin dilakukan Lius karena kondisi ekonominya. Awalnya Lius masih bisa menyetir mengantar anak dan istrinya ke mana-mana. Tetapi, pelan dan pasti dia mulai kehilangan tenaga dan menyerahkan kendali keluarga kepada istri dan anaknya.

Setiap menjalani chemoteraphy kondisinya pasti drop untuk beberapa hari. Dan pada saat mulai membaik, dia harus menjalani chemoteraphy lagi. Susahnya lagi, tidak ada hal yang pasti sampai kapan dia harus menjalani chemoteraphy ini. Setelah kira-kira 12 kali chemoteraphy, dia bertanya lagi ke dokter yang merawatnya. “Berapa kali lagi saya harus menjalani chemoteraphy ini, Dok?”

Dokternya menjawab, “Wah tidak tahu pasti Tergantung penyakitnya, bisa saja sampai puluhan kali lagi.

Saat itu juga Lius memutuskan berhenti menjalani chemoteraphy dan hanya minum obat batuk penahan sakit bila perlu dan food supplement. Lha, bagaimana toh, kalau aku di-chemoteraphy terus dan enggak tahu kapan selesainya , buat apa? Sudahlah sekarang aku pasrah, aku minum obat saja dan mengatur pola makanku. Aku ini tidak apa-apa mati…. Tetapi untuk menuju ke sana itu lho Aku juga kepikiran mereka ini lho….” kata Lius sedih sembari merujuk pada keluarganya.

Pernyataan “aku siap mati tetapi menuju ke sana itu lho seperti ini sering saya dengar dari para penderita kanker yang saya kunjungi.

Pagi hari ketika saya baru tiba di kantor kira-kira jam 08.30, ada SMS dari suami saya yang mem-forward SMS anaknya Lius yang memberitahukan ayahnya sudah meninggal jam 07.00 pagi. Saya langsung berdoa di dalam hati untuk arwah Lius dan juga keluarga yang ditinggalkan. Malam harinya kami berkunjung ke rumah duka yang ramai dikunjungi teman-teman dan sanak famili almarhum.

Maria istri almarhum kelihatan lebih tabah. Dia cerita, sebetulnya malam hari jam 20.00-an rekam jantungnya sudah datar. Lalu, dokter menyuntikkan obat dan rekam jantungnya positif lagi. “Dan, tadi pagi rekam jantungnya datar lagi. Akhirnya, dia berangkat dengan tenang kisah Maria. Lius sudah pergi dan meninggalkan kami teman-temannya maupun keluarganya pada usia 62 tahun dengan meninggalkan istri dan dua orang putri yang menjelang dewasa.

Pada hari ketiga jenasah almarhum diberangkatkan ke tempat kremasi. Pemberangkatan dimulai dengan doa dan dihadiri oleh teman-teman dan kerabatnya. Mobil jenasah sudah siap sejak pagi hari, dan seorang Romo sudah siap di sebelah peti jenasah untuk memimpin doa. Setelah doa selesai, anaknya yang sulung memegang foto almarhum dan siap mengantar jenazah ayahnya ke tempat peristirahatan terakhir. Selamat jalan Lius Anda telah menyelesaikan ziarah di dunia ini dengan sempurna. Saatnya Anda berkumpul kembali bersama Bapa.[sj]

* Sri Julianti adalah praktisi packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: julipackaging[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 3.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Kenapa Orang Miskin Tetap Miskin

iy1Oleh: Iftida Yasar*

Jika kita dilahirkan dalam keadaan miskin, sudah dapat dipastikan kita berasal dari orang tua yang miskin, tinggal di perkampungan kumuh, bertetangga dengan orang miskin, dan kebanyakan saudara kita miskin. Karena miskin, kita tidak punya kesempatan sekolah. Kalaupun sekolah hanya SD atau paling banter SMP. Dengan pendidikan yang rendah, apa yang bisa kita lakukan? Akhirnya kita bekerja serabutan, apa adanya, asal bisa makan. Keterampilan yang apa adanya ditambah dengan keadaan yang terpaksa, akhirnya membuat kita mau saja menerima bayaran sesuai kerelaan atau belas kasihan mereka yang butuh jasa kita.

Begitu banyak orang yang seperti itu, bekerja tidak setiap hari. Dengan uang yang pas-pasan, makan sangat teratur; artinya pagi makan, siang belum tentu, atau sebaliknya lebih banyak puasa atau makan seadanya. Asupan makanan jauh dari bergizi karena sekadar mengisi perut. Akibatnya mereka kurang gizi, lemah, dan sakit-sakitan. Kalau sakit tidak punya uang, akhirnya banyak pula yang mati muda tanpa pernah menikmati senangnya kehidupan.

Ada puluhan juta orang miskin di negeri kita yang tercinta ini. Saudara kita yang kebetulan tidak mendapat kesempatan dan mendapatkan ujian dengan menjadi orang susah. Allah memang menciptakan manusia, ada yang kaya untuk membantu yang miskin, dan ada yang miskin agar orang kaya bersyukur serta tergerak hatinya untuk membantu.

Kemiskinan menjadi terstruktur jika suatu negara membiarkan korupsi merajalela. Uang negara yang diperuntukan bagi rakyat miskin agar mereka sejahtera malah dimakan oleh pejabat untuk menyejahterakan dirinya sendiri. Banyak anggaran dipersiapkan untuk membantu orang miskin yang berbentuk cash Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ini cukup membantu jika langsung diterima oleh si miskin tanpa potongan. Pembagian beras miskin lewat lurah juga sangat membantu jika tidak dijual ke pihak yang tidak berhak dengan harga yang lebih tinggi demi mendapat keuntungan. Rakyat yang terkena bencana atau tinggal di daerah terpencil akan sangat terbantu jika dibangun akses jalan dan fasilitas penunjang. Ini dimaksudkan agar masyarakat mampu mandiri dan menjual hasli buminya. Sayangnya mutu jalan dan infrastruktur dikorupsi sehingga sering sekali jalan baru dibangun sudah rusak.

Kenapa ada manusia yang tega memakan manusia lainnya? Mereka memenuhi perut sendiri dan perut anak istrinya dengan uang haram? Mereka membuat diri mereka kaya, tapi membuat orang lain semakin miskin. Banyak contoh di mana pejabat yang meninjau daerah bencana malah merepotkan. Apalagi jika ia adalah orang penting dari pusat. Anggaran malah habis untuk mempersiapakan kedatangannya. Aparat lokal dipersiapkan untuk menyambutnya dan berebut cari muka. Pejabatnya pun mungkin akan marah jika yang menyambut kedatangannya hanya sedikit.

Belum lagi makanan yang akan dimakan si pejabat haruslah istimewa dan banyak. Apalagi kalau si pejabat membawa rombongan ajudan , istri, dan keluarganya. Kok menengok bencana malahan menjadi merepotkan? Bukankah sebaiknya berikan saja doa restu dan audit pengunaan anggaran untuk menuntaskan kemiskinan dan menanggulangi bencana dengan baik?

Saya saja yang bukan siapa-siapa pernah mengalami dijemput dan diantar oleh banyak orang pemda, yang sebenaranya menurut ukuran saya yang swasta, itu semua sangat mubazir. Sebagai orang swasta kedatangan kita ke daerah cukup dijemput sopir saja yang akan membawa kita ke tempat acara atau tempat bencana.

Untuk mendapatkan BLT, Raskin (Beras Miskin), Jamkesmin (Jaminan Kesehatan Miskin), semuanya harus dicap miskin. Ada pengantar dari kelurahan untuk menyatakan bahwa kita miskin. Kalau perlu diberi seragam atau cap yang membedakan kasta kita adalah kasta miskin proletar yang berhak dapat bantuan. Di kelurahan sendiri juga rawan korupsi. Banyak kartu miskin malah diberikan kepada mereka yang tidak miskin. Apakah mereka ini sudah sedemikian rusak mentalnya dan tidak punya harga diri sehingga tidak malu mengaku miskin agar dapat bantuan dari pemerintah?

Kalau untuk mendapatkan BLT sontak pejabat desa, kecamatan, dan kabupaten berlomba-lomba mendata sebanyak mungkin warganya yang miskin. Bahkan, banyak data yang fiktif, ada data tapi orangnya sudah meninggal. Tapi, jika untuk laporan kemajuan desa, data yang dikeluarkan lain lagi. Pokoknya yang menggambarkan baagimana hebatnya aparat birokrat mengelola daerahnya. Dengan data dan laporan yang bagus, akan keluar lagi kucuran dana untuk program lainnya. Rakyat masih dijadikan alat untuk kepentingan para birokrat, belum diperlakukan dengan benar untuk mengangkat derajatnya agar mereka sejahtera.

Kalau rakyat masih mau dijadikan komoditas politik kepentingan para penguasa, dan mau dijadikan objek kemiskinan, mereka akan berkubang dalam lumpur kemiskinan. Cara berpikirnya adalah miskin, meminta-minta, dan mengggantungkan hidupnya pada orang lain. Jika birokrat masih menjadikan rakyat hanya sebagai alat untuk mendapatkan tambahan anggaran yang peruntukannya tidak sesuai dengan alokasi anggaran, akan terciptalah mental penguasa yang bobrok. Mereka miskin kasih sayang, miskin moral, dan miskin belas kasihan kepada`rakyat yang seharusnya mereka lindungi.

Kita harus memerangi keadaan seperti ini agar jangan sampai orang miskin tetap miskin. Orang miskin hanya dianggap sebagai angka; yang semakin besar jumlahnya semakin banyak bantuan yang diberikan. Sudah saatnya kita semua memperjuangkan suatu negara yang makmur, merdeka, sejahtera, di mana rakyatnya mempunyai harga diri dan semangat untuk mandiri. Masyarakat yang malu untuk meminta-minta dan berjuang untuk hidup secara bermartabat.

Sedih rasanya dalam bulan puasa misalnya, kita melihat bagaimana rakyat miskin yang memang biasa tidak makan malahan tidak puasa. Mereka di bulan suci tersebut malah berjejer di jalan, lengkap dengan anak-istri, bahkan membawa bayi sambil menadahkan tangannya. Manusia gerobak semakin hari semakin banyak saja berjejer di pinggir-pinggir jalan besar. Rasanya mustahil jika tidak ada yang mengorganisir. Begitu banyak gerobak itu mungkin ada juragan gerobak yang mengambil keuntungan dengan menyewakannya.

sOrang miskin mungkin menjadi putus asa dan tidak percaya lagi kepada Allah. Mereka mencari kasih sayang Allah sepanjang hidupnya, namun belum menemukannya dalam bentuk kesejahteraan. Rawan sekali jika kita membiarkan saudara kita tersebut semakin banyak saja yang bertambah miskin. Mereka nantinya bukan saja miskin harta, tapi juga miskin iman. Bisa tidak percaya lagi kepada kasih sayang Allah.

Bahkan, dikhawatirkandemi mengejar kebutuhan perut—mereka akan terperosok ke dalam perbuatan yang tidak bermartabat, seperti minta-minta dan bahkan berbuat kriminal. Bayangkan jika begitu banyak saudara kita yang miskin, ini juga akan membahayakan kita yang dianggap mampu tapi tidak mau membantu. Kemungkinan ada kecemburuan sosial dan kalau ada kejadian yang tidak diinginkan mereka akan gelap mata.

Jadi, jangan berbahagia apalagi tidak peduli terhadap orang miskin. Kita harus membantu mereka.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.4/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Menariknya Mengambil Jalan yang Jarang Dilalui Orang

alexandra-dewi-rOleh: Alexandra Dewi*

Kita sering mendegar bahwa manusia senangnya mengambil jalan pintas. Daripada capek-capek sekolah dan belajar tahap demi tahap, dan karier merangkak dari bawah, mendingan jadi gigolo kalau ada modal tampang. Kan lebih cepat dapat uang? Itu soal pilihan karier. Jalan singkat lainnya adalah daripada diet sehat dan olahraga, capek, mendingan kalau ada dananya liposuction saja. Langsung kurus. Saya sendiri kalau ada jalan pintas, jalan cepat jadi kaya, cepat kurus, cepat ini dan itu, kemungkinan besar saya akan mengambilnya, terutama apabila sudah kefefet.

Namun ternyata, mengambil jalan pintas selain penuh dengan resiko; jadi gigolo bisa kehilangan harga diri belum lagi kalau ditangkap pihak berwajib, liposuction selain menguras kantong tentu merupakan operasi  besar berisiko tinggi. Nah, selain penuh risiko ternyata mengambil jalan pintas juga secara faktor kematangan mental kita akan membuat kita menjadi manusia yang kurang bahagia.

Pertama, apa pun yang kita dapatkan dengan usaha minimum atau gratisan, atau pada intinya didapatkan tanpa usaha keras, biasanya tidak kita hargai sepenuh hati. Makan dengan perut yang tidak lapar tidak akan seenak makan ketika kita sedang kelaparan. Jalan keluar dari suatu permasalahan yang kita temukan tidak akan membawa begitu rasa bahagia apabila masalah itu tidak muncul pada awalnya. There is no joy without sorrow. Tidak bisa dibedakan mana terang apabila tidak pernah melihat gelap.

So, all the process untuk menikmati kehidupan, seperti sebuah cycle, cycle kematian dan kehidupan. Tanpa pernah merasa kesepian (kematian) saya tidak akan tahu menghargai rasanya ditemani oleh teman-teman (kehidupan). Tanpa mengalami kesukaran finansial saya tidak akan tahu bagaimana menghargai uang. Tanpa kehilangan orang yang kita cintai kita tidak tahu bagaimana  bahagianya setelah kita berhasil melakukan proses letting go dan moving on. Tidak akan ada suatu transformasi yang significant dalam kehidupan kita apabila kita tidak bersedia melewati PAIN.

Hidup ini tidak bisa dibilang gampang. Life is hard. Begitu kita menyadari bahwa tidak pernah dijanjikan kepada kita bahwa hidup kita akan mudah, begitu kita menerima bahwa hidup ini memang sudah normal dan lumrah adalah susah, maka kita tidak akan merasakan lagi bahwa hidup ini susah. Inilah kehidupan, tidak lebih tidak kurang. Dan dalam menaunginya, apabila kita menyadari bahwa setiap pain and suffering bila kita lewati dengan kebijaksanaantidak mengambil jalan pintas dan dilalui dengan cara yang menyakitkan namun yang paling efektifjustru dari proses yang menyakitkan itulah kita dibentuk, ditransformasi menjadi manusia manusia yang luar biasa. Semakin kita bertambah usia, maka bertambahlah kebijaksanaan kita.

Bukan hanya bertambah angka usia tapi kematangan mentalnya ya segitu-gitu saja karena tidak pernah mau mencoba melalui tantangan hidup dengan cara yang menyakitkan. Realitas kehidupan dan kebenaran (truth) biasanya kita hindari apabila hal itu menyakitkan. Dan dari menghindari itu, kita hanya mengganti suatu realitas dengan jalan pintas. Cobalah kita mengambil jalan yang orang jarang lalui. Jalan pintas sudah penuh dengan orang. Jalan yang orang jarang lalui akan menuju ke suatu tempat yang tidak banyak orang yang bisa melihat, apalagi merasakan bagaimana rasanya tiba di tempat itu.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Menulis, Bernyanyi, dan Menggambar Mengembangkan Fungsi Otak

aleysius-hg-r1Oleh: Aleysius H. Gondosari*

Aktivitas-aktivitas kreatif ternyata dapat meningkatkan fungsi otak. Sebaliknya aktivitas yang tidak kreatif, menurunkan fungsi otak.

~ Aleysius H. Gondosari

Otak merupakan organ tubuh pada elemen kelima Eter. Dari analisis Energi 5 Elemen, saya mendeteksi kenaikan dan penurunan energi yang berhubungan dengan fungsi otak, tergantung kepada aktivitas yang dilakukan.

Fungsi Otak pada Anak Usia Balita, SD, SMP, SMA, 20-an, 30-an, 40-an, dan 50-an:

Anak usia balita umumnya banyak aktivitas sehingga fungsi otaknya mencapai 20%. Ketika duduk di SD, kegiatan belajar lebih banyak menghafal. Hal ini menyebabkan fungsi otak menurun menjadi 10%. Ketika naik SMP, kegiatan belajar semakin banyak menghafal, sehingga fungsi otak turun lagi menjadi 5%. Selanjutnya, sewaktu naik SMA kegiatan belajar semakin monoton sehingga fungsi otak turun lagi menjadi hanya 2%. Sewaktu masuk universitas, fungsi otak turun lagi menjadi hanya 1%.

Pada usia 20-an, rata-rata orang hanya menggunakan 1% dari kapasitas otaknya. Pada usia 30-an otak hanya digunakan 1/2% saja. Pada usia 40-an fungsi otak semakin menurun menjadi hanya 1/4%. Ketika memasuki usia 50-an otak yang digunakan semakin menurun menjadi hanya 0,05% saja.

Mengobrol, Menggambar, Menyanyi, Bermain Alat Musik, Menulis

Mengobrol dapat meningkatkan fungsi otak sebanyak 2%. Menggambar atau melukis juga dapat meningkatkan fungsi otak sebanyak 2%. Bermain alat musik juga dapat meningkatkan fungsi otak sebanyak 2%. Menyanyi dapat meningkatkan fungsi otak sebanyak 5%. Sementara menulis sebuah tulisan pendek juga dapat meningkatkan fungsi otak sebanyak 5%. Dengan menulis sebuah buku, fungsi otak akan meningkat sebanyak 10% hingga 20%. Menulis buku setebal Laskar Pelangi atau buku setebal Harry Potter dapat meningkatkan fungsi otak sebanyak 20%. Jadi, bila Anda ingin meningkatkan fungsi otak Anda kembali, berlatihlah menggambar, menyanyi, atau menulis.

Menonton TV dan Mendengar Lagu

Menonton TV hanya membuat otak berfungsi 1%. Mendengar lagu tanpa ikut bernyanyi membuat otak berfungsi sebanyak 1%. Jadi, sebaiknya ketika mendengar lagu Anda juga ikut bernyanyi sehingga fungsi otak meningkat menjadi 5%.

Dalam tulisan sebelumnya, saya telah menulis tentang seorang nenek berumur 98 tahun yang masih sehat dan senang menyanyi karaoke. Juga ada seorang nenek berumur 93 tahun yang setiap malam mengajar cucunya bernyanyi. Salam Sehat Bahagia![ahg]

* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, pengembang online business, dan sedang menulis buku tentang sehat secara alami dengan metode Energi 5 Elemen, yang juga dapat dilihat di www.5elemen.com. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail[dot]com atau di nomor telepon: 0818116669.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.6/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Samurai Sejati 10: Persepsi Konflik Bank Century

rmOleh: Risfan Munir*

Bagaimanakah Anda melihat masalah Bank Century yang menjadi topik berita beberapa minggu ini? Sebagai persoalan politik, persoalan hukum perbankan, persoalan tata negara, persoalan pidana korupsi? Dalam kebijakannya apakah betul secara ekonomi masalah Bank Century itu berdampak “sistemik” atau tidak? Dari adegan yang disiarkan media, kepada siapa Anda bersimpati, sebal, bingung?

Sikap kita dalam hal ini sangat dipengaruhi oleh persepsi, baik persepsi kita sendiri maupun sudut pandang dari jurnalis yang meliputnya. Jika persepsi kita dari awal sudah mengarah ke masalah keberpihakan politik, maka informasi yang kita tangkap, logika, argumentasi yang kita susun mengarah ke aspek politik (dukung pihak A atau B). Lain lagi kalau kita melihatnya dari perspektif teknis perbankan dan aturan perbankan yang ada.

Samurai legendaris Musashi berkali-kali menunjukkan pentingnya ‘menata persepsi’ sebelum dan selama bertarung. Sering dia mengosongkan persepsi (anggapan, dugaan, sudut pandang) agar tidak terkecoh oleh penampilan lawan, tapi sebaliknya ‘tampil aneh’ untuk membingungkan, atau mengacaukan persepsi, musuh bebuyutan yang sudah pernah mengenal dirinya.

Edward de Bono (2009) mengutip hasil riset yang dilakukan Prof. David Perkins of Harvard University yang menunjukkan bahwa “90 persen kesalahan dalam berpikir adalah kesalahan persepsi” (Edward de Bono, 2009). Kebanyakan orang mengartikan berpikir sebagai penggunaan logika, menyusun argumen. Mereka menyusun rangkaian sebab-akibat dari persoalan untuk memecahkannya dengan memperbaiki penyebabnya. Umumnya orang lupa soal beda persepsi dibalik logika tersebut. Padahal, kesimpulan yang diambil seseorang sudah diarahkan oleh persepsinya.

Betapa sering orang, atau kita, salah mendefinisikan persoalan. Anak yang kalau belajar selalu mengeluh pusing dianggap kurang cerdas, padahal mungkin dia butuh kacamata minus. Orang lain yang tidak mau makan makanan yang kita hidangkan kita anggap sombong, padahal ternyata dia pantang makanan pedas.

Mengapa dua orang atau lebih, dengan ilmu yang sama bisa berdebat seru? Ini sering terjadi karena perbedaan persepsi, beda sudut pandang. Contoh sederhananya soal kemacetan lalu lintas, yang satu menganggap itu persoalan jumlah/panjang jalan yang tak bisa mengimbangi pertumbuhan jumlah kendaraan; yang lain menganggap pertumbuhan jumlah kendaraanlah yang jadi sebab sehingga perlu dikendalikan. Perbedaan sudut pandang yang paling umum adalah pandangan tentang gelas “1/2 isi atau 1/2 kosong.” Pandangan optimis melihat sebagai 1/2 isi, sementara yang pesimis melihatnya kebalikannya.

Hal penting yang layak diperhatikan, bahwa logika sulit mengubah emosi dan sudut pandang orang, namun mengubah persepsi bisa mengubah emosi. Mereka yang dari awal berpihak kepada Pansus DPR, atau sebaliknya berpihak kepada Pemerintah sulit diyakinkan dengan logika, argumen yang berbeda dengan anggapan awalnya itu. Kita dapat menyaksikan dari media betapa emosionalnya masing-masing pihak, dan saling menyatakan logika dan argumen yang diyakininya.

Masalahnya ialah bagaimana caranya mengubah persepsi kita atau orang lain itu? Dalam hal ini ada dua aspek yang disarankan (De Bono, 2009): pertama dari sisi perilaku, kedua  menggunakan teknik tertentu.

Memainkan perilaku

Pertama, kreatif terhadap apa pun, tidak hanya berpikir untuk pemecahan masalah. Kita berpikir, mengamati, mencoba memahami  sesuatu sebaiknya bukan cuma untuk “memecahkan persoalan”, tetapi juga untuk belajar, memperkaya ide untuk mengembangkan visi, tujuan dan rencana pengembangan yang lebih luas. Misalnya, lingkungan tempat tinggal kita kena banjir. Kalau kita hanya berpikir tentang mengatasi persoalan, maka jawabannya pada soal banjir setempat. Padahal kalau kita melihatnya lebih luas, jawabannya bisa mencari rumah alternative, ide-ide mencari uang untuk pindah, karena banjir di situ ternyata akan permanen.

Kita mengamati sesuatu, mencoba memahami, misalnya Kasus Bank Century di atas, bukan untuk jadi hakim atau kurban konflik yang membuat stress, tetapi juga untuk “melatih sikap dan kemampuan berpikir” menanggapi polemik dalam era tsunami informasi sekarang ini.

Untuk itu kita diharapkan punya sikap yang tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan, apalagi menghakimi. Kosongkan dulu persepsi, pesan Musashi. Carilah penjelasan, informasi lebih banyak, yang mewakili beberapa sudut pandang. Mencoba memikirkan apa isu atau tujuan utamanya, dan apa saja faktor pendukung dan penyebabnya.

Di samping itu coba lihat pilihan-pilihan sebab, pilihan-pilihan penjelasan, dan pilihan-pilihan kesimpulan dan tindakan yang mungkin bisa diambil untuk menguatkan pemahaman, atau memecahkan persoalan, atau untuk pengenbangan (diri, organisasi, perusahaan) lebih lanjut.

Selanjutnya pikirkan pula konsekuensi-konsekuensi logis dari setiap kesimpulan yang kita ambil, tindakan-tindakan yang yang akan kita buat. Dan, coba kembangkan beberapa skenario pemikiran atas beberapa kesimpulan dan alternatif tindakan, dengan mengandaikan beberapa kemungkinan perubahan situasi lingkungan.

Menggunakan Teknik Ubah Persepsi

Pendekatan kedua dalam “memainkan persepsi” ialah dengan menerapkan teknik pengubah persepsi. Ada beberapa teknik yang bisa dicoba diterapkan dalam hal ini.

Teknik berpikir pertama ialah pahami atau gunakan cara berpikir orang lain, atau tiap pihak yang ada (berkonflik). Dalam buku saya Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati (Gramedia, 2009), teknik ini disebut “jadilah lawanmu”. Kalau kita akan memengaruhi persepsi lawan bicara atau audiens, cobalah fahami lebih dulu: dari sudut mana mereka memandang. Itu bisa dipengaruhi oleh tujuan, motif, yang latar belakang juga budaya mereka yang kondisi ekonomi, pendidikan, etnis, daerah dst.

Teknik pengubah persepsi kedua ialah dengan pengungkapan aspek positif, aspek negatif dan sisi menarik (PNM) dari tiap informasi, ide atau tantangan.

Jika sekelompok orang diminta menyampaikan pendapatnya, maka ada masing-masing kecenderungan mereka melihatnya dari satu sisi  saja. Bisa positif, bisa negatif. Namun kalau diminta menyatakan sisi positif, lalu sisi negatif, maka mau tak mau kita atau audiens memikirkan kedua sisi. Lalu memikirkan sisi ketiganya, yaitu sisi menarik, atau manfaat. Sehingga, kita atau audiens akan memikirkan aspek yang lebih pribadi “apa manfaat bagiku”.

Dengan memahami hal tersebut, selanjutnya dapat dicari titik temu, misalnya persamaan persepsi menyangkut “tujuan bersama”, kepedulian pada “isu yang sama”, yang dapat diangkat sebagai tema kerja sama. Bagaimanakah pendekatan, metode, cara atau pilihan bahasa yang sesuai dengan latar budaya mereka.

Permainan role-play, yaitu memerankan diri sebagai pihak-pihak yang berkonflik akan banyak membantu dalam hal ini. Misalnya sengketa dalam pembangunan lingkungan kota, ada peran warga setempat, peran pengembang (developer), peran pemerintah daerah, dan lainnya. Memerankannya secara bergantian membuat kita atau audiens merasakan bagaimana dan apa motif masing-masing pihak. Sehingga, diperoleh pemahaman atau strategi yang lebih efektif untuk mencapai kesepakatan.

Dengan demikian, jika kita dihadapkan pada persoalan atau membanjirnya informasi misalnya Kasus Bank Century, sebaiknya kita amati dulu, mencoba memahami, mencoba berbagai sudut pandang, posisi para pihak, dan tidak terlalu cepat berpihak atau jadi hakim apalagi jadi kurban konflik yang membuat stress. Justru sesungguhnya kita bisa memanfaatkannya untuk “melatih sikap dan kemampuan berpikir” menanggapi polemik dalam era tsunami informasi sekarang ini.[rm]

* Risfan Munir, penulis buku ”Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati” (Gramedia, November 2009) dan kolumnis tetap pada AndaLuarBiasa.com, Samuraisejati.blogspot.com dan penulis lepas Pembelajar.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Innovation @ Work

avanti-fontana-rOleh: Avanti Fontana*

“Sebagai seorang pekerja dalam sebuah perusahaan, ia menciptakan nilai manfaat yang lebih besar (menurut persepsi perusahaannya) dibanding uang atau imbalan yang harus perusahaan bayar kepadanya. Sebaliknya, ia juga melihat perusahaannya memberikan nilai manfaat yang jauh lebih besar kepadanya dibanding pengorbanan-pengorbanan dan kenikmatan-kenikmatan yang ia berikan untuk perusahaan di mana ia bekerja. Nilai manfaat apakah yang ia ciptakan? Nilai manfaat apakah yang perusahaan berikan untuknya?”

Tantangan bisnis sekarang dan mendatang adalah bagaimana berinovasi hingga hasilnya jauh melebihi harapan konsumen. Beyond customer’s imagination. Di satu sisi, sebagian orang dan perusahaan merasa masih berat dalam mengejar target keberhasilan inovasi. Target inovasi berupa kemampuan perusahaan dan individu-individu yang ada di dalam perusahaan. Targetnya adalah menciptakankan nilai manfaat atas barang atau jasa yang jauh lebih besar dibanding harga atau pengorbanan yang harus konsumen atau pengguna keluarkan. Targetnya adalah kinerja ekonomi dan sosial yang tinggi. Ini biasanya didahului oleh dicapainya kinerja teknis dan komersial.

Di sisi lain, banyak pula perusahaan sangat mendalami roh inovasi ini. Hal ini membuat output inovasi mereka luar biasa. Pertanyaannya, apa dan siapa penentu keberhasilan inovasi? Sementara, kita tahu bahwa inovasi adalah keberhasilan secara sosial ekonomi berkat diperkenalkannya cara baru atau kombinasi baru dari cara lama dalam mengubah input menjadi output. Hasil perubahan itu membawa perubahan besar atau drastis dalam hubungan antara nilai manfaat menurut persepsi konsumen dan harga yang konsumen harus bayar.

Menjadi menarik untuk melihat penentu keberhasilan inovasi dari sisi pandang input inovasi. Input inovasi yang paling sering diucapkan adalah iklim inovasi, lingkungan yang kondusif, struktur, people, dan culture. Dalam rutinitas pekerjaan, sering orang tidak sadar bahwa banyak hal bisa ia perbaiki. Mengubah cara duduk dari yang biasanya lunglai tanpa lurus tulang belakang menjadi duduk lebih tegak dan menerapkannya setiap saat pada saat sedang menulis di depan layar laptop atau desktop. Mengubah cara memimpin rapat dari yang biasanya tanpa agenda ketat menjadi dengan agenda ketat. Mengubah cara berkomunikasi dari tadinya lebih banyak berbicara dan mengarahkan menjadi lebih banyak mendengar dan bertanya.

Baru-baru ini saya berdialog dengan sekelompok supervisor dan manajer pada satu perusahaan besar yang berbasis di Jakarta. Tergambar di situ begitu banyaknya isu dan masalah dalam perusahaan ternyata bisa diselesaikan dengan cara yang lebih sederhana dan lebih efisien. Antara lain hanya dengan mengubah gaya mereka berkomunikasi, dari yang biasanya lebih banyak berbicara dan mengkritik serta menuding ke gaya komunikasi yang lebih banyak mendengar, memperhatikan, dan bertanya. Kebiasaan baik ini dapat menular dengan cepat sejalan dengan semakin seringnya kebiasaan ‘baru’ itu dipraktikkan.

Mengubah cara-cara kita bekerja merupakan cara kita mengubah cara-cara kita mengubah input menjadi output. Hasilnya adalah cara kerja yang lebih efisien dan sehat. Cara kerja lebih berkualitas. Cara kerja lebih menghasilkan tidak saja imbalan finansial tetapi juga non-finansial. Cara kerja lebih menggembirakan. Cara-cara ini dapat menunjang pencapaian tujuan-tujuan kerja yang lebih besar, seperti menghasilkan produk 100 buku per bulan oleh sebuah penerbitan besar, menghasilkan kunjungan toko 100 orang per hari dengan tingkat pembelian 100% (yang datang pasti membeli minimum satu produk), dan lain sebagainya.

Inovasi-inovasi dalam proses kita bekerja menghasilkan output penting dilakukan sebelum kita berpikir jauh-jauh untuk melakukan inovasi pada output itu sendiri. Ada individu dan perusahaan berlomba menghasilkan output sebaik mungkin dan pada saat yang sama lupa untuk melakukan perbaikan dan/atau perubahan-perubahan dalam proses kerja mereka dalam menghasilkan output. “The means are not justified by the ends.

Inovasi dalam bekerja dan pekerjaan juga berarti menemukan atau menciptakan peluang-peluang baru dalam melakukan pekerjaan. Contoh: biasanya bekerja di kantor lima hari kerja. Seorang karyawan mampu memenangkan hati pemimpin perusahaan untuk ia dapat bekerja di rumah tiga hari kerja dan dua hari kerja di kantor.[af]

* Avanti Fontana: fasilitator & coach inovasi, pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, penulis Innovate We Can! (Grasindo 2009). Sebagai analis inovasi bisnis, ia aktif meriset tema inovasi bisnis dan sosial, peran inovasi untuk kepemimpinan, indeks inovasi fungsional dan indeks inovasi nasional.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 2.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox