Melacak Jejak Foto Diri Anda

bpOleh: Bartholomius Padatu*

Definisikan diri Anda sekarang juga! Maka, Anda akan segera tahu bahwa Anda masih memiliki Pekerjaan Rumah yang belum dikerjakan. Siapa di dalam tubuh Anda? Apa kata orang tentang Anda? Yakinkah bahwa Anda mengenal diri Anda sesungguhnya? Pribadi seperti apa yang hendak Anda bangun di kemudian kehidupan Anda? Kepribadian seperti apa yang Anda kehendaki untuk diukirkan pada batu nisan jejak kehidupan Anda di bumi? Satu pernyataan dan beberapa pertanyaan di atas mesti Anda lirik dan niati untuk mengetahui segi penting melacak jejak jati diri Anda.

Pekerjaan mendefinisikan atau mengartikan siapa diri Anda tentu menjadi mudah bila yang dimaksudkan  untuk  sekadar memperkenalkan jati diri Anda pada level permukaan sebagaimana ditera di kartu-kartu tanda pengenal Anda seperti KTP, SIM, Kartu Mahasiswa, dll. Identitas ala kartu pengenal sesungguhnya jauh dari hakikat siapa sesungguhnya Anda. Banyak orang memiliki nama dengan kandungan filosofi yang dalam namun di panggung kehidupan berperilaku asimetris atau bertolak belakang. Dapat di sebut sebagai sampel; nama “Satria” namun perilaku terbaliknya disifati oleh karakter penakut. Seorang dengan nama “Indah” namun praktiknya menjadi pribadi semrawut dengan tampilan diri yang tidak terawat. Nama “Viktor” yang diasumsikan pemenang namun tidak menggelisahkan diri dengan usaha mendekatkan diri menaiki podium-podium penghormatan para juara. Lainnya lagi bernama “Bintang” sayangnya cahaya hidup redup di garisan wajah yang melulu cemberut. Kalau mau jujur dideret nama-nama lainnya, tentunya kita banyak menemukan kejanggalan-kejanggalan filosofis menyangkut makna di balik nama-nama.

Pemberian nama merupakan hadiah perdana di tahun awal kehidupan yang akan mengompaskan arah pertumbuhan Anda. Orang tua Anda bersusah payah merumuskan tatanan nilai hidup dalam kehidupan Anda agar  Anda mengenali aturan main kehidupan dunia ini selaras dengan nilai-nilai yang dikandungkan pada nama Anda. Persoalannya pada beberapa kasus (bisa jadi banyak) kehidupan kita tidak bergerak ke arah perwujutan nilai-nilai yang menjadikan diri kita seindah, sekuat, sejaya, dan sesukses makna nama-nama kita. Sayangnya pertumbuhan fisik tidak sejalan dengan pertumbuhan jiwa. Banyak orang fisiknya berkembang melebar dengan kecepatan tinggi (overwight) namun lamban dalam berpikir (sempit bidang berpikirnya), slow dalam merespon turbulensi kehidupan dengan percepatan informasi dan teknologi. Banyak tubuh yang bertumbuh meninggi namun dengan perkembangan jiwa yang rendah diri. Banyak pribadi yang masuk pada level penggolongan anak muda namun tua dalam pergerakan alias malas, tidak berinisiatif, tukang tidur, senang dengan kemiskinan. Ada beberapa di antaranya kagum pada kecantikan fisik namun jauh dari “kosmetik kesopanan”. Lainnya lagi cerdas secara kognitif namun tumpul dari segi sikap. Pada kelompok atau tipikal manusia lainnya adalah “bermain aman” bunglon dengan kepribadian, terus-menerus mengubah pembawaan diri berdasarkan “permintaan pasar” (tuntutan orang lain).

Lelucon membangun kepribadian yang asimetris (tidak sebagun dengan potensi diri) senantiasa berkelanjutan, teramat dekat dan mudah untuk mengamati jejak-jejaknya. Pribadi-pribadi copy paste marak dijumpai dalam lingkungan pergaulan kita. Beberapa di antaranya meniru kepribadian, bahkan dibela-belain dengan mengadakan lomba mirip Tokoh si A, Si B sehingga ia lupa keotentikan dirinya sendiri. Melatih warna suara mendekati suara pribadi tertentu juga sangat digandrungi, menirukan karakter suara, gaya, kostum penyanyi dianggap sebagai sebuah metamorfosa diri yang bernilai tinggi. Kita juga dapat menemukan pribadi yang senang bertutur ria dengan gaya bahasa tokoh idola tanpa terusik untuk melepaskan diri dan menemukan gaya tuturan sendiri. Pribadi-pribadi seperti ini pada akhirnya dikenal lahir sebagai” A”, dewasa sebagai” B”, meninggalkan kehidupan sebagai “ si C”.

Melanjutkan dan meragamkan upaya-upaya mulia para motivator senior, saya merasa perlu memberi ruang pemberdayaan diri bagi rekan-rekan sekalian untuk bersama-sama menepi sejenak dari riuhnya menjadi diri orang lain menuju penemuan diri sendiri dengan cara mendefinisikan diri. Hingga hari ini, sebagai sebuah fakta yang sulit untuk ditepis adalah munculnya problem atau masalah mengenal diri sendiri, membangun jati diri, memelihara jati diri.

Salah satu cara yang sederhana berdampak luar biasa dalam merumuskan jati diri adalah dengan bantuan kesan orang atau pribadi di luar diri kita. Anda tentu sebagian besar memiliki siklus kehidupan yang terekam dalam “Album foto diri” (kesan-kesan verbal). Gambar-gambar tahapan pertumbuhan Anda memang dapat merekam nilai-nilai hidup Anda. Sayangnya nilai tersebut terkadang dibangun melalui cara pandang ego Anda yang mendefinisikan nilai Anda dengan kaca mata pandang Anda sendiri. Artinya peluang bias nilai dapat saja terjadi.

Cara yang ditawarkan pada Anda sekalian adalah dengan melatih kepekaan Anda, kejelian Anda, kesadaran menerima nilai, mengelola nilai bagi Anda dari orang lain. Mengumpulkan “puzzle kesan” dari orang di luar diri Anda dapat menjadi cara yang ampuh meneropong kedalaman diri Anda. Interaksi yang bertemali dengan kehidupan orang lain memaksa mereka melakukan pelabelan nilai bagi Anda. Di mata orang Anda dapat saja dilabeli pemarah, pencemburu, baik hati, dermawan, pecundang, penyayang, pendendam, pengampun, pribadi penerima, pemuda boros, pelit, telat mikir, egois, sok cantik, pintar, super seksi, pembuat onar, negosiator ulung, dosen kreatif, pribadi bertalenta tinggi, unik, menyenangkan, membosankan, lucu, gagap, dan ribuan kesan-kesan lainnya.

Mengoleksi kesan-kesan tersebut tentunya menjadi penting untuk melihat kecenderungan kesan diri kita di mata orang lain. Memang untuk beberapa kasus kadang-kadang kesan tersebut dibuat atau manipulatif sifatnya sejalan dengan kepentingan pribadi orang lain. Namun, pengalaman mengajarkan saya untuk terus mengoleksi kesan apa saja yang pernah diberikan kepada saya dan mencari benang merah kesesuaian dengan fakta sesungguhnya dari diri saya. Dari Album kesan diri Anda akan terlihat beberapa pembenaran-pembenaran yang akan membuat Anda yakin bahwa jati diri Anda seperti apa wujudnya.

Sekalipun orang lain mengirim pesan lewat bahasa tubuh seperti memberi jempol pada Anda, saran saya kumpulkan isyarat tubuh yang diberikan bagi Anda. Masukkan isyarat tubuh tersebut sebagai bagian dari kesan yang akan membantu Anda mengerti keberadaan diri Anda yang sesungguhnya. Saya tekankan kembali, lakukan pencatatan kesan-kesan tersebut pada sebuah buku khusus agar mudah di lihat-lihat kembali.

Seiring dengan meluasnya pertemanan Anda, bertambahnya usia, meningkatnya kesadaran sketsa siapa diri Anda akan memodali Anda meyakinkan diri kearah mana pertumbuhan diri Anda kerjakan. Album kesan diri Anda akan mengompaskan perjalanan hidup Anda. Jangan khawatir dengan kesan-kesan yang manipulatif, beriringan dengan berjalannya waktu dan banyaknya kesan yang Anda terima Anda akan memiliki keterampilan mengenali kesan yang sekedar diucapkan untuk menyenangkan diri Anda sesaat.  Alam bawah sadar Anda akan memahami proses memisahkan kesan asli dan palsu. Nurani Anda akan memihak Anda untuk mendorong keluar berbagai kesan negatif yang dulunya terlanjur menjadi prinsip brilyan Anda namun menjadi prinsip perusak nomor satu. Dengan mengumpulkan sepotong-demi sepotong kesan yang tulus dari orang di sekitar Anda, suatu hari Anda akan memiliki keberanian membongkar gurita prinsip negatif dalam diri Anda. Proses koleksi kesan-kesan orang lain akan menjadi peta baru perubahan, penguatan, pelembutan, pengayaan, serta pemberdayaan potensi sejati diri Anda. Selamat menekuni profesi baru sebagai kolektor kesan-kesan diri. Ingatlah bahwa kesan-kesan tersebut adalah jejak-jejak penemuan jati diri Anda sejatinya.[blp]

* Bartholomius Padatu (disingkat BL Padatu) lahir samarinda 24 November 1974. Ia menikah dengan Selvy Handayani, S.E. dan dikaruniai seorang putri bernama Shekinah Jeshan Padatu. Padatu menamatkan studi S-1 di STT INTIM, Makassar 1993-1999, menikmati pembelajaran S-2 di Jurusan Administrasi Negara FISIPOL UGM Yogjakarta 2007-2009, dan studi S-3 sedang ditempuhnya pada 2009 di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif berkesenian teater, menulis naskah, dan mensutradarai pementasan-pementasan teater. Padatu senang bertemu dengan pribadi-pribadi pembelajar.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Orientasi Hidup, Luruskan!

maria-saumi-rOleh: Maria Saumi*

Kurang lebih sekitar enam bulan yang lalu, setelah sekian lama menderita sakit, ibunda tercinta saya dipanggil oleh Yang Mahakuasa. Tidak lama setelah itu, sekitar tiga bulan kemudian, ayahanda tercinta pun menyusul beliau dipanggil oleh-Nya. Kepergian kedua orang tua saya tersebut dapat dikatakan dalam rentang waktu yang hampir bersamaan. Jujur, kejadian besar itu memang telah membuat saya merasa putus asa dan sedih tiada terkira. Putusnya rasa pengharapan mengghinggapi diri saya.

Saya ternyata manusia biasa. Saya tentunya juga dapat berduka, sedih, dan juga putus asa. Kondisi tersebut membuat saya menjadi tidak dapat berpikir dan melakukan apa-apa yang berarti menurut saya. Otak dan pikiran saya terasa ”blank”. Saya tidak dapat memungkiri, kegamangan telah menghinggapi saya.

Efek dari respon saya terhadap kondisi atas peristiwa yang dialami salah satu di antaranya adalah saya tidak dapat menulis dalam beberapa waktu. Tulisan ini adalah tulisan pertama dari ”kembali”-nya saya. Tulisan yang hampir hanya berupa ungkapan hati dan pikiran saja. Saya mencoba untuk menggugah kembali kesadaran dalam diri saya bahwa saya sebelumnya pernah menulis. Menjadi penulis di website motivasi ini (Terkadang rasa malu menghinggapi saya. Kok bisa ya, penulis refleksi dan sedikit motivasi jadi down seperti saya begini?).

Bulan saat saya menulis tulisan ini adalah bulan Desember. Bulan kelahiran ibunda saya. Teringat kembali semua kenangan. Bilamana saya boleh mengulang suatu kejadian kenangan di masa kecil saya dengan orangtua saya. Terasa masih segar dalam ingatan saya. Saya masih balita waktu itu. Seperti biasanya seumuran balita, saya dipaksa tidur siang oleh ibunda saya.

”Tidur siang bagus untuk anak kecil,” kata ibunda saya waktu itu. ”Bisa jadi pinter, badannya enggak kurus gitu. Terus jadi pinter karena makannya banyak buat kekuatan otaknya,” lanjutnya.

Terasa cerewet di telinga saya waktu itu, tapi saat ini saya kangen akan kecerewetannya. Saya termasuk anak kecil yang susah makan. Saking sulitnya makan, saya pernah ”dicekoki” jamu-jamu nafsu makan kala itu. Sebagai anak kecil tentu saja saya lebih senang bermain daripada makan. Dengan demikian, ibunda saya mengimingi saya dengan segenggam permen, coklat, atau jajanan kecil seperti siomai, bubur, dan lainnya agar saya mau melahap makanan. Makanan-makanan seperti itulah yang akan diberikan apabila saya telah melaksanakan ”perintah-titahnya” untuk tidur siang.

Waktu itu sore hari. Reward saya sore itu adalah jajanan siomai. Walaupun sebagai anak kecil saya tergolong susah makan, tapi tidak dengan jajanan. Setelah mandi, wangi, rambut dikuncir kuda, dan berpakaian rapi, saya diajak ibunda berjalan-jalan sore di lingkungan sekitar rumah. Aktivitas itu membuat ibunda saya dapat asyik bertegur sapa, mengobrol ngalor-ngidul dengan ibu-ibu lainnya. Sedangkan saya dapat bermain berlarian dengan teman sebaya saya. Tibalah saatnya saya menikmati reward sore itu, sepiring siomai. Ada juga beberapa ibu lainnya yang juga memberikan jajanan siomai kepada anak-anaknya.

”Iiiiihhhh, enggak boleh begitu, enggak sopan ya!” nada suara ibu saya kala itu agak membentak saya ketika saya memperlihatkan piring yang ”tandas dan licin” kepadanya. Siomai sepiring telah habis. Tetapi, apa yang terjadi? Ternyata bentakan ibunda yang diikuti oleh jepitan jemarinya, yaitu jempol dan telunjuknya yang dijepitkan ke badan saya. Saya dicubit. Agak keras dan terasa sedikit sakit. Saya terperanjat dan kaget. Saya bukanlah anak kecil yang cengeng. Walaupun saya tidak menangis, tetapi saya merasa bersalah, juga bingung, keheranan.

Saya memang menghabiskan siomai sepiring penuh seperti titah ibunda saya. Tetapi, saya ”lebay” (berlebihan, bahasa gaul sekarang). Saya menambahinya dengan mempertemukan lidah saya dengan piring siomai tersebut demi memperlihatkan kepada ibunda bahwa saya adalah anaknya yang pintar yang telah menghabiskan makanannya….

Tujuan saya kala itu hanyalah ucapan yang saya kira akan keluar dari mulutnya, ”Anak Mama pintar, makanannya diabiskan.” Saya tidak menyangka aktivitas ”pamer” berakibat seperti itu. Sepertinya, ibunda saya kala itu malu dilihat oleh ibu-ibu lainnya, karena mungkin terkesan punya anak yang kampungan, tidak bisa mengajari anaknya sopan santun ketika makan hahaha…. Saya, kalau ingat kejadian itu, ingin tertawa rasanya. Antara saya dan ibunda ternyata terjadi missunderstanding (maaf ya Bunda).

Baru-baru ini peristiwa siomai itu seperti flash back di pikiran saya. Saya tersentak. Benar-benar tersentak. Ternyata selama ini saya terbiasa merasa selalu ingin menjadi anak yang baik, patuh, juga membanggakan bagi kedua orang tua saya. Dengan demikian, ketika keduanya telah meninggal dunia dan tidak lagi berada dekat dengan saya dalam arti harfiah, jujur saya kehilangan pedoman. Saya kehilangan pegangan. Saya mengandalkan kehadiran mereka dalam hidup saya. Terasa semua baik-baik saja apabila ada mereka. Saya juga merasa tidak ada lagi ”hal-hal” yang perlu dipertunjukkan atau diperlihatkan kepada mereka. Saya tidak dapat lagi membahagiakan dan membanggakan mereka. Dan, saya juga kehilangan tempat berkeluh kesah. ”Lalu, semua buat apa?” itu pikir saya yang naif.

Pikiran-pikiran itulah ternyata yang ”menghantui” saya beberapa bulan belakangan ini. Semua hal, selain kedua orang tua tercinta saya, bagi saya adalah tidak penting. Berbahaya sekali pikiran saya kala itu. Bayangkan, semua hal menjadi tidak penting di mata saya. Pasangan, kerjaan, teman-teman, bahkan uang pun menjadi tidak penting bagi saya dalam periode itu (sekarang sih penting lagi hehehe…).

Kesalahan saya adalah orientasi hidup saya yang telah terlalu terfokus kepada kedua orang tua. Prioritas utama saya adalah mereka, ketika mereka masih hidup. Menjadi kebanggan mereka adalah tujuan hidup saya. Jadi, ketika mereka sudah tidak ada secara fisik, saya pun ”terkapar” secara fisik, emosional, dan psikologis. Saya menjadi down. Tidak ada lagi tempat untuk ”berbangga”. Saya benar-benar mengandalkan kehadiran mereka dalam hidup saya.

Apa pun yang saya lakukan selama ini ternyata orientasinya adalah kedua orang tua saya. Saya merasa ini tidak sepenuhnya salah. Tetapi, ini tidak seratus persen benar. Karena, sebenarnya orientasi kita sebagai manusia adalah Tuhan, Allah SWT. Terbersit pula kutipan perkataan Mario Teguh: saya + TUHAN = cukup. Pernyataan itu benar-benar sangat ”menyengat” saya kali ini.

Hanya kepada Dia-lah orientasi kita fokuskan. Hanya kepada Dia pulalah hidup ini kita sandarkan. Hanya kepada Dia-lah kita bersandar untuk menyembah dan meminta pertolongan. ”Iyyakaana’ budu wa iyyaa kaa nasta’iin”. Bukankah tujuan Tuhan menciptakan kita manusia adalah tiada lain untuk beribadah kepada-Nya.[ms]

* Maria Saumi, lahir di Jakarta 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Lulusan dari Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia tahun 2000. Dia bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang investasi di daerah Sudirman, Jakarta, dengan spesialisasi futures trading investment. Maria dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at] yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Bahagia Tanpa Syarat

gnOleh: Guntur Novrizal*

Tulisan ini saya mulai dengan cerita tentang seorang tokoh bernama Nasrudin. Pada suatu hari, Nasrudin mencari sesuatu di halaman rumahnya yang penuh dengan pasir. Ternyata, Nasrudin sedang mencari jarum. Melihat Nasrudin yang sedang kebingungan, tetangganya merasa kasihan, akhirnya ia ikut membantu mencari jarum tersebut. Tetapi setelah sekian lama mereka mencari, jarum itu tidak ditemukan juga.

Dengan nada penasaran tetangganya bertanya,Memang jarumnya jatuh di mana?”

Dengan enteng Nasrudin menjawab,Jarumnya jatuh di dalam.

Lalu tetangganya bertanya lagi,Kalau jatuhnya di dalam, kenapa mencarinya di luar?”

Nasrudin menjawab dengan ekspresi tanpa dosa,Karena di dalam gelap, di luar kan terang…?

Cerita di atas bisa menjadi cermin bagi kita, seperti itulah yang sering kita lakukan untuk mencari kebahagiaan dalam hidup. Sering kali kita mencarinya di luar sehingga akhirnya tidak menemukan apa-apa. Sedangkan daerah di mana kebahagiaan itu bisa ditemukan justru luput dari pantauan kita.

Terlalu sering kita larut dalam perbandingan diri kita dengan orang lain. Yang tampak, seolah-olah rumput halaman tetangga selalu lebih hijau dibanding halaman kita. Seakan hati tidak terima kalau tetangga, teman, atau saudara kita mendapatkan pencapaian yang lebih baik dari kita. Berat rasanya hati untuk bisa bahagia kalau melihat hal tersebut. Apalagi bila ingat masa lalu posisi mereka di bawah kita, baik secara intelektual dan materi.

Ada lagi satu hal yang berbahaya dan bisa menyebabkan seseorang susah bahagia maupun mencapai kesuksesan. David J. Schwartz menyebutnya itu sebagai penyakit dalih yang banyak diderita oleh orang yang tidak bahagia dan tidak sukses. Karena, semakin banyak syarat yang kita tentukan untuk bahagia, akan semakin sulit bagi kita untuk bahagia. Semisal, kita akan merasa bahagia kalau sudah punya rumah sendiri sehingga kita bisa tenang menempatinya. Nyatanya, setelah kita punya rumah, kita juga tidak lantas bahagia karena kebahagiaan kita sudah berbeda lagi ukurannya. Begitu seterusnya sampai kita tidak pernah menemukan kebahagian karena syarat yang kita tetapkan terlalu banyak.

Padahal, mungkin kebahagiaan itu tidak jauh dari diri kita. Cuma terkadang banyak orang tidak sadar dengan itu. Coba kita tengok akan diri kita sekarang! Apa yang kurang dari kehidupan kita sekarang? Kita masih hidup dan ditemani oleh orang-orang yang sangat menyayangi kita. Ada orang tua yang sangat perhatian ke kita. Ada saudara yang akan membantu kita kalau kita mendapat kesusahan. Ada sahabat yang bisa kita ajak berbagi persoalan dalam hidup, seberat apa pun itu. Dan, bagi kita yang sudah punya amanah berupa anak, jaga dan rawat dengan baik. Bukankah tawanya, candanya, atau mungkin tangisnya bisa membuat kita bahagia? Selain itu, kita pun masih diberi kemampuan akal dan pikiran kita untuk bisa berpikir jernih dalam menyelesaikan semua masalah.

Jadikan semua itu menjadi sumber kebahagiaan kita. Cukupkan mereka saja yang menjadi alasan kita untuk bisa bahagia. Kondisi sesulit apa pun sekarang yang menimpa, hadapilah dengan penuh keikhlasan. Lalu, memintalah kepada Tuhan untuk diberikan kekuatan menyelesaikannya. Kunci terakhir untuk bahagia adalah dengan senantiasa mensyukuri atas apa pun yang sudah diberikan Tuhan kepada kita, baik itu berupa orang-orang yang peduli sama kita maupun materi yang sudah kita punya. Tentu dengan tidak mengabaikan bekerja keras lagi agar semua yang kita inginkan bisa tercapai. So, tak ada alasan lagi untuk tidak bahagia. Optimislah Anda memiliki semuanya. Maka, berbahagialah.[gn]

* Guntur Novizal lahir di Brebes pada 11 Noverber 1984. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jenderal Soedirman dengan predikat Cum Laude. Ketika masih aktif kuliah dulu pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Akuntansi UNSOED. Sekarang sehari-hari bekerja sebagai Marketing di salah satu Perusahaan Pembiayaan Perbankan di Jakarta. Bisa dihubungi di blog: www.gunturnovizal.tk, pos-el: vizal_jr[at]yahoo[dot]com, HP: 081548865435.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 4.5/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 3 votes)

Membangun Kepribadian Melalui “Internal Shift Control”

supOleh: Supandi, S.Pd, MM*

Barangsiapa bersyukur kepadaKu maka akan Aku tambah nikmatnya,

dan barangsiapa ingkar maka sesungguhnya adzabku sangat pedih.”

(QS. Ibrahim : 7 )

Kompetisi dalam meraih sebuah cita-cita sering kali diwarnai dengan adanya persaingan yang sungguh ketat. Hal ini terjadi hampir di semua moment penting. Seorang siswa lulusan SMA pada tahun pelajaran 2008/2009 yang hendak mengambil jurusan kedokteran UGM, dia harus bersaing dengan sekitar 120 siswa. Karena, dari hampir 12.000 pendaftar hanya tersedia kursi sebanyak 100 kursi. Pada awalnya, oleh sebagian masyarakat profesi guru dianggap sebagai sebuah pekerjaan yang kurang menjanjikan. Namun, dewasa ini profesi guru menjadi sebuah ajang kompetisi yang cukup ketat..

Hampir semua orang mengakui dahsyatnya sebuah upaya spiritual dalam rangka mewujudkan cita-citanya. Sebuah energi tanpa batas mereka hadirkan ke dalam relung hati seseorang. Energi tanpa batas mereka hadirkan melalui rangkaian doa dan usaha maksimal dengan keyakinan penuh.

Banyak orang dan barangkali termasuk diri Anda sudah bisa merasakan jawaban dari Tuhan atas upaya dan doa yang telah mereka lakukan. Jawaban dari Tuhan yang dimaksud adalah terkabulnya cita-cita yang didambakannya.

Ada dua keuntungan yang bisa diambil dari serangkaian upaya spiritual pascadikabulkannya doa. Pertama, perasaan puji syukur kepada Tuhan atas anugerah yang telah Dia berikan yang tentunya sangat berharga bagi kehidupan jangka panjang. Kedua, semakin menebalnya keyakinan akan keberadaan Tuhan dengan sifat-sifat-Nya. Dua di antara 99 sifat Tuhan YME (Asmaul Khusna) adalah Ar-rahman dan Ar-rahim (Mahapengasih dan Mahapenyayang).

Efek dari terkabulnya suatu doa sangat mungkin akan berimbas pada semakin tebalnya keimanan seseorang. Tak dapat dimungkiri bahwa tidak ada kekuatan hakiki yang bisa manusia dapatkan kecuali yang datangnya dari Tuhan. Kalaupun ada, itu hanya bersiafat semu. Sehingga, ketika Anda berhasil menggabungkan antara usaha dengan doa secara integrated maka perpaduan antara kedua unsur tersebut akan membentuk sebuah kekuatan super mind. Dengan super mind (pikiran super) manusia bisa melakukan apapun sesuai dengan positive thinking (pikiran positif), seperti keinginan kita, meraih cita-cita kita, menjadi lebih baik dan lebih bahagia (Wuryanano: 2006).

Yang menjadi bahan renungan selanjutnya adalah, “Sudahkah kita menyadari bahwa kondisi nyaman berupa nikmatnya iman akan senantiasa berjalan mulus bahkan meningkat?” Sudah bisakah kita mempertahankan kedekatan dengan Tuhan sebagaimana yang sudah kita bangun selama ini? Realitas yang kita jumpai dalam kehidupan ini tidaklah demikian adanya. Stabilitas keimanan seseorang sering kali digoncang oleh berbagai cobaan, ujian atau iming-iming.

Banyak orang gagal mempertahankan stabilitas keimanan pascatercapaianya keinginan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Satu di antara faktor yang paling popular dan sering menghiasi media massa adalah korupsi. Tentunya Anda dan saya tidak menginginkan hal ini terjadi pada diri ini. Jalinan cinta kasih dengan Sang Khalik jangan sampai pudar diterpa oleh embusan negative thinking (pikiran negative). Bukankah kita tidak mau dijauhi oleh Tuhan? Ingat syair lagu Tuhan milik Bimbo “Aku jauh Engkau jauh, aku dekat Engaku dekat. Hati adalah cermin, tempat pahala dan dosa berpadu”.

Secara implisit, Erbe Sentanu dalam bukunya Quantum Ikhlas mengingatkan kepada kita akan adanya pergeseran posisi pandang di dalam diri seseorang (internal shift) terkait dengan kondisi keimanan seseorang. Kondisi keimanan seseorang ataupun siapa pun orangnya dalam perjalanannya akan mengalami pergeseran. Dalam bahasa yang lebih ekstrim dapat dikatakan bahwa kondisi keimanan seseorang akan mengalami pasang surut bak air laut.

Sebagai orang bijak tentunya Anda minimal akan mempertahankan posisi seperti pada saat Anda berdoa untuk memohon agar cita-citanya tercapai. Bahkan, lebih beruntung lagi jika internal shif Anda meningkat. Jika hal ini terjadi berarti Anda telah berhasil membangun sebuah kepribadian yang baik. Kepribadian yang baik diawali dari prinsip yang kuat. Anda pun akan menjadi manusia yang kuat. Amin ya Rabbal’alamiin.[sup]

* Supandi lahir di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.2/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Saat Anda Tak Memiliki Waktu

faOleh: Fida Abbott*

Time is Money. Pernyataan ini sudah sangat umum kita dengar dan sudah tidak asing lagi bagi kita. Sebenarnya, apakah artinya? Menurut saya, pernyataan itu mengartikan bahwa waktu itu sangatlah berguna sehingga selayaknyalah kita bijaksana dalam memanfaatkannya.

Status sebagai seorang wanita yang telah berkeluarga dan telah memiliki putera-puteri, tentu sangat menguras tenaga dan pikiran, apalagi bila ada embel-embel berikutnya, yaitu bekerja di luar rumah ditambah melakukan beberapa aktivitas sukarelawan, plus kegiatan tulis-menulis. Ini belum seberapa bila dibandingkan ada anggota keluarga yang sakit. Siapakah yang paling repot? Tentu saja seorang ibu. Belum lagi setiap hari harus memikirkan kira-kira makanan apa yang akan disantap oleh keluarga, baik untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam, ditambah urusan sekolah yang paling tidak seorang ibu harus mempersiapkan keperluan sekolah atau membantu mengajar anak-anaknya.

Kondisi di atas adalah sebuah contoh yang saya alami sendiri. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana sibuknya diri saya? Bahkan dalam kurun waktu sekitar delapan bulan saya dapat menyelesaikan penulisan sebuah novel pertama saya tanpa melalaikan semua tugas satu pun di atas. Tambahan aktivitas tersebut sangat menguras energi, pikiran, dan emosi. Apalagi saya menulisnya dalam bahasa kedua saya, yaitu bahasa Inggris. Seminggu setelah menyelesaikan total penulisan tersebut, saya tak menyentuh notebook yang biasa saya gunakan untuk menulis novel. Saat itu pun saya baru sadar betapa besarnya energi, pikiran, dan emosi yang terlibat selama kurun waktu penulisannya. Kalau saya katakan tak ada satu pun kagiatan lainnya yang terganggu, berarti ada satu hal lainnya yang harus saya korbankan. Apakah itu? Tak lain adalah waktu tidur saya yang berkurang.

Saya sadar apabila ingin mencapai sesuatu tujuan yang diinginkan akan ada sesuatu yang harus saya korbankan, yaitu mengurangi waktu tidur. Bila Anda memiliki waktu tidur antara 8-10 jam per hari, maka saya berkurang setengahnya. Meskipun begitu ada sesuatu kenikmatan dan kepuasan dalam hati yang tak dapat dibayar oleh apa pun setelah menyelesaikannya hingga tuntas, dan itu merupakan obat yang mujarab sepanjang masa.

Kalau Anda pernah mendengar seorang yang belum berkeluarga dan menyukai dunia tulis-menulis mengatakan tak ada waktu untuk menulis, maka saya katakan untuk perlu mengoreksi pernyataannya. Hasrat yang tinggi disertai tekat bulat akan mengalahkan segalanya, termasuk waktu itu sendiri.

Kalau seorang ibu rumah tangga dengan segudang kegiatannya, baik di dalam dan di luar rumah, aktivitas online-nya, sukarelwan maupun yang tidak, maka saya yakin Anda-anda yang masih single, belum berkeluarga akan lebih jauh dapat melakukan hal-hal yang lebih besar daripada itu. Bagaimana? Setujukah Anda dengan pernyataan saya tersebut?[fa]

* Fida Abbott adalah Arek Suroboyo yang lahir pada 11 Pebruari 1970 di Surabaya dan sekarang tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia mengenal dunia tulis menulis sejak usia 8 tahun hasil didikan langsung ayahndanya, Imam Sujono, dan melahirkan cerpen remaja pertamanya berjudul “Kidung Kasih untuk Lintang” pada usia 13 tahun. Menulis merupakan aktivitas lulusan Pertanian jurusan Agronomi dari UPN ‘Veteran’ Surabaya ini. Fida memiliki beberapa pengalaman kerja di bidang landscape, dari proyek kecil hingga besar, dari perumahan tunggal, real estate, hingga hotel, kondominium, apartemen berbintang lima di Surabaya. Ia pernah berkarier di AIG-Lippo, jadi guru les privat, dan kini tercatat sebagai WALMART Associate, menjadi Redaktur Pelaksana Harian Online KabarIndonesia (HOKI), www.kabarindonesia.com sekaligus Direktur Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH). Tulisan-tulisannya tersebar di beberapa media online, antara lain di KabarIndonesia, Helium, Cross-Written, The Daily Avocado, dan ketiga blog-nya di www.fidaabbott.com, www.buanainspiration.blogspot.com dan www.abbottsbooks.com. Fida adalah penulis buku What Prayers does Mommy Teach Me, Dancing in My World, dan buku seri Amerindo Kitchen. Buku seri pertama Amerindo Kitchen sudah terbit dengan judul Fabulous Leftover Turkey.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Belajar dari Nick Vujicic, Sang Motivator dan Inspirator

twOleh: Tri Wahyuni*

Saya dan suami mengikuti acara CPW (Core Person Weekend) di Wonosalam, Jombang, awal bulan November tahun lalu. Salah satu pembicaranya bernama Yunita menyampaikan materi tentang sikap. Di sela-sela penyampaian materi tersebut Yunita menayangkan video durasi pendek. Video tersebut menampilkan Nick Vujicic, seorang pria berusia 26 tahun yang menjalankan hidupnya dengan sempurna. Awal video tersebut hanya memperlihatkan raut wajah Nick Vujicic yang bersemangat sambil memperkenalkan diri dihadapan kamera. Semula, saya pribadi begitu terpesona melihat wajahnya yang menarik dan tersenyum. Namun, ketika sorot kamera mengarahkan ke seluruh tubuhnya, saya sempat terenyuh melihatnya.

Nick Vujicic, adalah seorang pria yang menginspirasi banyak orang di dunia ini supaya selalu bersikap positif dan terus berani menghadapi kehidupan ini. Ternyata dia tidak memiliki kesempurnaan pada fisik tubuhnya karena tidak mempunyai tangan dan kaki sejak lahir. Sejenak saya tertegun. Nick Vujicic memang orang yang sangat luar biasa. Dalam ketidaksempurnaan fisik yang ia miliki, ia mampu memberi inspirasi dan semangat kepada orang lain yang memiliki fisik lebih sempurna darinya.

Video tersebut memperlihatkan kehidupan sehari-hari Nick Vujicic, mulai bangun tidur, melakukan aktivitas di kamar mandi, mengenakan pakaian, sampai mengisi kegiatan hari itu, semuanya ia lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Padahal, ia tidak memiliki tangan ataupun kaki seperti orang lain. Wajahnya tetap bersemangat.

Di session lain, ditunjukkan beberapa album foto Nick dari bayi sampai dewasa, yang semuanya menggambarkan bahwa Nick benar-benar menghargai kehidupan ini dengan penuh semangat dan antusias. Namun ada pula session selanjutnya di video tersebut, terlihat Nick mengungkapkan bahwa ia pun pernah merasakan saat down. Namun, hal itu tidak menjadi penghalang baginya untuk terus bangkit dan maju.

Tapi yang paling menyentuh adalah session video pada saat Nickdengan segala kesederhanaan yang ia milikimemberikan motivasi kepada para siswa sekolahan yang hadir untuk bertemu dengannya. Nickdengan penuh kesungguhanmemberikan motivasi yang sangat membekas di hati para siswa tersebut.

Nick, mungkin hanya pria biasa dengan kekurangan fisik. Namun, dengan keadaannya tersebut, ia tidak minder ataupun putus asa menghadapi dunia ini. Bahkan, Nick mampu menunjukkan kepada dunia siapa dirinya sekaligus menjadi inspirasi bagi setiap orang untuk tidak pernah menyerah dalam menghadapi kehidupan. Dunia ini begitu indah untuk diisi hal-hal yang positif dan bermanfaat.

Sobat, belajar kisah Nick Vujicic ini, permasalahan sikap dan pikiran adalah hal yang paling inti dan penting dalam hal ini. Sikap dan pikiran seorang Nick memang sangat luar biasa. Dari semua keterbatasan fisik yang ia miliki, ia mampu bersikap dan berpikir positif menghadapinya, dan bahkan ia mampu mengubahnya sebagai sumber kekuatan dalam hidupnya.

Pertanyaan saya sangatlah sederhana pada diri saya sendiri dan para sobat. Apakah selama ini kita dapat mampu bersikap dan berpikir positif dalam menghadapi semua hal yang terjadi dalam hidup kita? Bahkan, bila hal yang terjadi tersebut benar-benar merontokkan semangat kita dan membuat kita terpuruk serta merasa bahwa tidak ada jalan untuk menghadapi itu semua selain menyerahkan nasib.

Melihat sosok Nick dengan penuh aura positif yang dimilikinya, membuat kita harus intropeksi diri kembali. Tanpa kita sadari, begitu banyak anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita. Termasuk kesempurnaan fisik yang tidak dimiliki oleh Nick. Tapi, mengapa perasaan bersyukur dan sikap positif Nick malah lebih bermakna dari pada kita? Terlebih ia bisa begitu banyak menginspirasi dan membangkitkan semangat orang lain.

Sobat, semua memang tergantung dari sikap dan pikiran kita masing-masing. Bila kita selalu belajar bersikap dan berpikir positif, maka hal-hal positif pulalah yang akhirnya dapat kita tarik. Sedikit mengambil intisari dari buku The Secret tentang law of atraction atau hukum tarik-menarik. Saya jadi ingat satu pesan orang tua terdahulu agar kita selalu bersikap dan berpikir positif. Dengan begitu kita akan menarik hal-hal positif kepada diri kita. Karena itulah sobat, tariklah hal-hal yang positif di sekitar kita. Buang jauh-jauh hal-hal negatif ke laut saja hahaha….

Nick mengajarkan banyak hal pada saya pribadi dan semua orang tentunya. Tidak hanya tentang sikap dan berpikiran positif saja. Tetapi, tentang arti semangat dan perjuangan hidup yang ia di wujudkan melalui kehidupan yang ia jalani dengan penuh rasa syukur dan menginspirasi banyak orang untuk berubah lebih positif dan baik.[tw]

* Tri Wahyuni, yang lahir di Samarinda tanggal 1 Mei, adalah lulusan Universitas Brawijaya, Malang. Selain menjadi ibu rumah tangga, ia juga berprofesi sebagai pengusaha dan sekarang sedang membangun aset secara profesional. Hobi menulis dilakukannya sejak duduk di bangku sekolah. Selama ini, Tri lebih banyak menulis artikel opini, sekaligus belajar menulis sastra secara otodidak, dan telah dipublikasikan di sejumlah media cetak maupun internet. Akftivitasnya menulis dilakoni dengan sepenuh hati dan dengan motivasi maupun dukungan suami tercinta. Tri dapat di hubungi pos-el: aryamandira[at]telkom[dot]net.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Teruslah Bermimpi

nunOleh: Nurainun*

“Bermimpilah, Tuhan akan memeluk mimpimu.”

~ Arai-Sang Pemimpi

Film Laskar Pelangi yang telah tenar pada beberapa tahun terakhir ini patut di beri acungan jempol. Sampai saat ini, mungkin hanya film inilah satu-satunya film Indonesia yang menggambarkan semangat juang tinggi untuk mencapai mimpi. Pada film tersebut digambarkan bagaimana perjungan dan semangat anak-anak Melayu Belitong yang mempunyai keterbatasan materi. Tapi, mereka tak pernah takut bermimpi. Hal tersebutlah yang membawa SD Muhammadiyah, tempat mereka mengenyam pendidikan sekolah menjadi SD yang dapat mengungguli SD PN Timah sebagai juara bertahan di tanah Belitong pada tahun-tahun sebelumnya.

Seseorang yang ingin sukses adalah orang yang tak pernah takut bermimpi. Dan, dengan itu pulalah orang tersebut tidak tinggal diam dan duduk manis di rumah untuk mencapai mimpinya. Kekutan mimpi membuat sang pemimpi mampu bekerja keras untuk mewujudkan impiannya. Mengenai pencapaian mimpi tersebut tergantung seberapa besar usaha yang dilakukan oleh sang pemimpi. Jika ia ingin cepat mencapai mimpinnya, tak mungkinlah ia akan bermalas-malasan saja. Tentu ia akan melakukan berbagai proses yang pastinya tak semudah membalikkan telapak tangan.

Perlu diketahui bahwasannya tujuan akhir yang diinginkan oleh sang pemimpi tidak harus menjadi patokan utama dalam kesuksesan seseorang. Ada kalanya seseorang harus mengalami kegagalan terlebih dahulu untuk menuju kesuksesan dalam mencapai mimpinya. Hal ini yang terkadang membuatnya stres, putus asa, dan tak mau bangkit lagi menyusun mimpi kembali. Sayang sekali.

Seharusnya, hal tersebut dapat dihindari apabila kita menyadari bahwa yang terpenting adalah proses dalam pencapaian mimpi tersebut, bukan hasil yang akan dicapai. Dalam perjalanan mencapai mimpi banyak sekali hal-hal yang dapat kita ambil sebagai pelajaran hidup. Yang mana hal-hal tersebut dapat memberi kekuatan untuk pantang menyerah dalam mewujudkan impian.

Misalnya, seorang Ikal, tokoh fiksi dalam film Laskar Pelangi yang menjadi pembuka tulisan di atas. Sepanjang perjalanannya mencapai mimpi untuk pergi ke Perancis, ia bertemu dengan sahabat-sahabat dan guru yang luar biasa, yang membuatnya terus bersemangat dalam mewujudkan impiannya menuju kota tercantik di dunia itu. Yang mana apabila pun ia tak dapat mencapai mimpinya, ia akan sangat beruntung bisa bertemu dan berjuang bersama-sama orang-orang yang luar biasa seperti teman-teman dan gurunya tersebut.

Dalam hal ini, benarlah kata sebagian orang yang mengatakan bahwa kesuksesan adalah sebuah proses, bukan hasil. Dengan pandangan seperti ini, maka tidak ada kata putus asa dalam pencapaian mimpi. Karena, yang terpenting adalah proses dan perjalanan bagaimana mencapai mimpi tersebut, bukan hasil akhir sesuai yang diinginkan.

Waktu saya masih duduk di bangku yang setara dengan SMA, mimpi saya adalah dapat melanjutkan studi di tanah Jawa. Seperti yang orang-orang inginkan, saya juga ingin menjadi yang terbaik bagi diri saya sendiri, orang tua, dan orang-orang yang ada di sekitar saya, supaya dapat menghantarkan saya menjadi yang terbaik di hadapan Sang Pencipta. Saya ingin sekali memijakkan kaki di tanah Jawa, tanah di mana nenek moyang saya menjalani kehidupannya dulu.

Berkat usaha dan doa yang saya dan orang-orang di sekitar saya lakukan, setelah melalui berbagai macam seleksi, akhirnya saya diamanahkan oleh Allah SWT untuk menyelesaikan studi S-1 saya di tanah Jawa dengan tanpa mengeluarkan biaya. Ya, saya mendapatkan beasiswa, sesuatu yang menurut saya adalah hal menyenangkan sekaligus berat. Karena, saya harus mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah di amanahkan kepada saya, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Dan skarang, saya masih di sini, akan terus bermimpi karena saya menyadari bahwa keberadaan saya di sini merupakan salah satu wujud dari mimpi-mimpi saya beberapa tahun yang lalu.

Terakhir, saya katakan: Janganlah pernah takut bermimpi! Dan, berusahalah mencapai mimpi tersebut tanpa lelah. Yakinlah! Kekuatan mimpi akan menggerakkan kaki Anda agar melangkah, berjalan, dan berlari mengejarnya.[nun]

* Nurainun adalah alumni Pesantren Tekologi Riau, mahasiswa Universitas Airlangga Jurusan Fisika Fakultas Sains & Teknologi, anggota Comunity of Santri Scholar of Religious Affair (CSS MoRA). Ia dapat dihubungi pos-el: pienung_5[at]yahoo[dot]com atau Hp:08983787803.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

GBU

lc2Oleh: Lily Choo*

“Ly, lu jangan keseringan pakai kata GBU, dong!” tegur teman saya yang antik dan unik saat kami berada di rumah makan Hao Chek. “Masak lu aja yang GBU. Gua tiap hari juga GBU. Gua Butuh Uang!” rupanya, teman saya ini tahu sekali kebiasaan saya yang sering menggunakan kata ‘GBU’ dalam setiap SMS dan komen di Facebook.

Gubrakkkkk! Saya tertawa ngakak. Memang, teman yang satu ini paling kreatif sedunia. Bersama teman yang satu ini, kerutan dan garis-garis ketuaan di sekitar mulut dan mata saya tambah dalam. Tawa yang satu menuju tawa lainnya hanya butuh waktu paling lama 10 menit! Bayangkan, frekuensi ketawa bersamanya. Tukul saja kalah!

“Sebenarnya, gua kasihan banget ama lu juga. Kenapa sampai tiap hari, tiap saat lu beri tahu ke gua soal GBU? Memangnya bisnis lu seret?” tanyanya dengan lugu namun penuh makna. Entah dia bertanya beneran (ini jarang terjadi) atau ngeledek beneran, rasanya sudah tidak ada bedanya buat saya.

Selain saya tertawa akan singkatan dari GBU itu, dalam hati sebenarnya, sedalam-dalamnya, dan sesungguhnya, saya ini malu. Kenapa saya malas sekali menulis lengkap akan kalimat “God bless you” dan seenaknya membuat singkatannya menjadi GBU? Di mana rasa hormat dan takut akan Tuhan? Niat enggak sih untuk memberkati teman dengan kalimat ‘God bless you’? Entah sudah berapa ratus kali atau sudah ribuan kali saya gunakan kata ‘GBU’ ini. Entah sudah berapa banyak teman saya mengirimkan kata ‘GBU’ ini. Satu kata yang saya dapat setelah tertawa akan GBU tersebut, MALU!

Teringat cerita dari Kitab Perjanjian Lama, bagaimana suci dan kudusnya nama ALLAH. Untuk menyebut ALLAH pun, manusia tidak berani. Ada hukum tertulis “Janganlah menyebut Tuhan ALLAH-mu dengan sembarang”. Bila salah sebut, hukuman mati adalah sangsinya. Oleh sebab itu ditambahkanlah kata di depannya menjadi Tuhan ALLAH atau Gusti ALLAH. Dalam penulisan pun tidak boleh sembarangan, harus huruf besar semuanya. Gawatnya lagi adalah bila yang menyebut dan menulis nama ALLAH ini tidak suci dan kudus luar dalam, hukuman mati di tempat buat orang tersebut sudah pasti terjadi. Bayangkan hal ini, bulu kuduk saya pun berdiri.

Kenapa tidak terpikir pula bila manusia saja marah, menganggap saya tidak sopan, kurang ajar, dan belagu bila saya panggil namanya begitu saja? Terutama mereka yang memiliki gelar ‘DR’ atau ‘dr’, tidak terkira besar maupun kecil tetaplah harus dilafalkan dengan bunyi ‘doktor’ dan ‘dokter’ dulu sebelum menyebut namanya. Dan, bagaimana saya diajarkan sejak kecil lagi, bahwa kepada yang lebih tua, saya harus memanggil mereka dengan kata tambahan: bapak, ibu, tante, om, abang, kakak, dan bahkan kepada yang lebih muda saya juga mesti merendah dengan menyebutnya adik. Nah, bila kepada manusia saja saya tahu harus hormat dan respek, apalagi kepada Tuhan? Malah seenaknya saya singkat namanya dengan huruf ‘G’ saja. Sesak rasanya dada saya, terasa kurang ajarnya saya selama ini.

Mengapa pula saya sebagai manusia bermartabat dan beradab di abad ini, memakai nama ALLAH dengan sesukanya, seenaknya, kapan saja, dan di mana saja? Bahkan, termasuk pelecehan dengan kalimat ‘Oh My God’ atau ‘OMG’. Setiap kali saya terkejut (terutama berita yang menyedihkan dan mendukakan) saya mengeluarkan kata-kata ini. Contoh ketika kaki saya terinjak orang di bus, saya pun menjerit ‘Oh my God’. Hingga seorang teman dari Penang memberitahukan bila saya sering menyebut ‘Oh my God’ setiap kali saya terkejut. Tidak heranlah bila banyak kejadian ‘Oh my God’ akan muncul di hadapan saya. Terasa pedih di ulu hati, kata-katanya telak mengena buat saya.

Kerennya lagi, banyak sebutan baru termasuk salah satunya ciptaan teman saya hahaha…. Beginilah bila yang sesat menulis, sukanya melempar batu sembunyi tangan. Teman saya ini (bukan saya ya….) kesal membaca banyaknya singkatan seperti ‘GBU’ dan ‘JLU’. Akhirnya, dia balas dengan singkatan juga ‘PTL’. Yang terima balas tanya via SMS, “Apa itu ‘PTL’? Dengan tenang dia jawab balik, ‘Praise the Lord’. Hehehe…. Tidak terbayangkan bila dia membaca catatan saya ini. Moga-moga dia juga sudah bertobat bersama saya. Tidak semena-mena dan sesuka-suka menyingkat kata maupun kalimat, terutama yang menyangkut nama dan sebutan untuk Tuhan ALLAH, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Mestinya Tuhan ALLAH mengerti semua bahasa, bukan? Kalau begitu, boleh dong saya tulis ‘GBU’, ‘JLU’, dan ‘PTL’. Tuhan mengerti bahasa, berarti mengerti juga singkatan. Bahasa itu ya cuma bahasa, yang penting itu hati. Tuhan kan tahu hati dan pikiran kita? Hehehe…. Benar juga. Kok tiba-tiba ada suara mengatakan, “Ly, apa yang tersurat itu pasti keluar dari yang tersirat. Apa yang tersirat itu pasti akan keluar tersurat.” Jadi,no comment’ lagi. Tidak ada koma, hanya titik. Tidak ada tawar-menawar, hanya harga mati. Sama Tuhan kok tawar-menawar ya? Nanti berkat saya ditawar sama Tuhan, bagaimana?

Lagipula, bila saya hendak memberikan salam dan berkat dengan kalimat ‘God bless you’ itu kenapa mesti disingkat segala? Mengapa malas mengetiknya? Mengapa mesti berhemat kata? Toh sudah pada pakai BBM maupun YM, ya…? Kan tidak ada beda harganya untuk ketik ‘GBU’ atau ‘God bless you’? Sama-sama gratis, bo! Supaya singkat waktunya? Ya, bedanya sekian detik toh…. Kok perhitungan sih sama Tuhan dan teman? Niat sedikit dong kalau mau memberikan salam dan menyampaikan berkat ke teman-teman. Ayo, makin malulah saya ketika memikirkan hal ini kembali dan kembali. God bless you all.[lc]

* Lily Choo adalah seorang pebisnis perempuan berusia 37 tahun yang lebih sering beredar di antara Jakarta, Malaysia, dan Singapura. Ia berminat pada bidang leadership, anak-anak, wisata, menulis, dan kesehatan. Lily dikarunai dua anak perempuan yang cantik yang senantiasa menjadi inspirasi hidupnya. Lily mengaku sebagai perempuan biasa yang punya mimpi besar untuk menjalani hidup yang luar biasa serta menjadi inspirasi bagi semua perempuan di seluruh penjuru dunia. Lily dapat dihubungi melalui pos-el: lily.choo@gmail.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Numpang Adem

Hanna Fransisca AndaLuarBiasa.comOleh: Hanna Fransisca*

Suara langkah kaki itu sudah akrab di telinga saya. Langkah terseret dengan tekanan telapak yang berat menapak. Perempuan itu muncul di ruang kerja. Rambut pendek dengan ujung menguning pecah-pecah, selalu itu ciri pertama yang paling diingat. Seperti dugaan semula, dan tentu saja dari kebiasaan yang selalu diucapkan, dia akan menyapa saya dengan kalimat yang sama.

“Numpang adem ya, Non.”

Kalimat itu lebih menyerupai mantra bagi saya. Setelah itu dia akan menawarkan dagangannya. Bihun goreng, bakmi goreng, nasi uduk, permen kecil, beberapa macam penganan, dan air mineral. Sudah lama dia tak peduli huruf-huruf kapital berwarna merah yang terpampang besar di pintu masuk: YANG TIDAK BERKEPENTINGAN DILARANG MASUK. Barangkali perempuan itu pura-pura bodoh, atau dia memang buta huruf. Saya hanya mampu menerka-nerka. Mantra numpang adem itu selalu saja berhasil menjadi sihir, membuat hati kami yang berada di ruang kerja itu tunduk dan menaruh empati pada perempuan itu. Maka, kami selalu membiarkannya duduk sebebas-bebasnya. Menikmati sejuknya udara AC. Bahkan, kami membeli dagangannya. Benar-benar ia menikmati numpang adem, alias numpang udara dingin, sekaligus numpang rezeki.

Belakangan perempuan itu tidak hanya numpang adem untuk tubuhnya yang berkeringat. Dia juga numpang adem di tenggorokan. Di meja kerja kami memang selalu tersedia air mineral dalam kemasan gelas untuk para tamu. Beberapa toples permen kecil juga ikut menghias di sana. Perempuan itu awalnya meminta dengan wajah memelas.

“Haus. Di luar panas. Saya minta satu ya aquanya,” dia kerap menyebut air mineral itu aqua, meski mereknya bukan Aqua. Tanpa menunggu jawaban dia mengambil sedotan. Lantas menancapkan sedotan itu ke gelas plastik dan menyedotnya sampai dia merasa lega. Kebiasaan dia yang lain (yang kemudian juga bertambah), yakni sebelum pamit dia akan membuka toples dan mengambil segenggam permen. Setelah itu ia berlalu.

Tingkah perempuan itu, dengan kebiasaannya yang semakin bertambah, tentu saja tidak berarti membuat kami tenang-tenang saja. Dari mulai numpang adem, kemudian numpang haus, dan terakhir numpang permen, membuat beberapa di antara kami mulai serius memerhatikannya. Bahkan, ada yang mulai gerah dan mengatakan, “Siapa sih sebetulnya dia?”

Pada mulanya, seperti telah diceritakan di awal, kami semua memang menaruh simpati dan empati. Setiap gajian atau di saat kami memiliki rezeki lebih, tak jarang di samping membeli (bahkan memborong) jajanan kecil pada perempuan itu, kami kadang kala juga memberi harga lebih padanya. Sekadar tip untuk tempat kami bersyukur. Tapi akhir-akhir ini, beberapa di antara teman saya, ada yang mulai acuh setiap perempuan itu masuk ruangan. Ada yang mulai berkata sedikit keras, menyuruh kami untuk bertindak.

“Besok jangan kasih dia masuk. Orang ini mulai tidak tahu diri. Jangan diberi hati!”

“Iya. Setuju. Kita boleh saja kasihan sama dia. Tapi tak berarti dia boleh seenaknya. Bayangkan, setiap hari dia mengambil segelas minuman. Kemudian permen-permen. Sebulan jika dijumlah, jadi berapa? Dia sendiri menjual minuman. Kenapa harus mengambil di meja kita?”

Begitulah teman-teman saya mulai ribut dan gerah.

***

Esok harinya saya dengar lagi suara langkah kaki yang sama. Suara sandal jepit diseret dengan langkah kecil yang berat. Kali ini diiringi suara batuk. Seperti biasa, dia memulai lagi kalimat yang sama.

“Numpang adem ya, Non?”

Aneh. Tak seorang pun bergerak untuk mengusirnya. Mantra “numpang adem” itu memang hebat, pikir saya. Kami hanya saling memandang dan diam. Lalu, kami sama-sama menatap wajah kusut pucat yang tidak seperti sebelumnya. Dia mulai mengambil minuman. Kali ini tanpa permisi. Barangkali dia sudah merasa menjadi bagian dari kami, sehingga dia merasa punya hak untuk mengambil tanpa permisi. Lagi-lagi kami hanya diam dan saling memandang.

Dia tidak duduk lebih lama seperti hari-hari lalu. Lima menit kemudian, setelah segelas air usai dia teguk, dia mengambil beberapa gelas lain dan menaroh dalam boks asongannya. Dia mengambil juga segenggam permen, dan menaroh di tepi boks asongannya itu. Tangan kanannya kembali ingin menjamah toples, tapi sebuah bentakan keras (yang tentu saja suara bentakan itu juga mengagetkan kami semua), menghentikan tangannya tepat di bibir toples.

“Hei!! Kau pikir kami ini nenekmu yang harus mengasihanimu setiap hari! Sudah bagus kau kami biarkan masuk dan minum seenaknya. Sekarang kau malah menginjak kepala kami. Kau pikir kami yang ada di sini siapa, ha!? Jadi kau mau jual air mineral dan permen-permen yang kau ambil itu!? Enak sekali,” suara salah seorang teman saya itu melengking seperti halilintar.

Saya lihat wajah perempuan itu pucat. Tapi sebentar kemudian ia dengan cepat bisa menguasai keadaan, dan berkata pelan, “Heran. Orang-orang berkecukupan macam kalian kok bisa sepelit ini.”

Akibat dari jawaban ini tentulah bukan perkara mudah. Teman saya serentak bangkit dari tempat duduknya, dan mencengkram tangan perempuan itu. Ia ingin menyeretnya ke luar. Melihat hal itu, entah kenapa hati saya mendadak tidak tega.

“Sudahlah,” saya coba menenangkan teman saya. Di luar dugaan, saya justru yang kena imbasnya.

“Kau juga punya andil besar dalam hal ini. Membiarkan dia begitu saja. Kita boleh mengasihani orang lain, tapi harus dengan cara yang mendidik. Bukan memanjakan atau malah menjerumuskan!

Kali ini saya yang tersuruk. Dalam hati membenarkan perkataan teman saya itu.

“Asal tahu ya, Bu. Kita boleh miskin. Boleh susah. Tapi tak berarti harus melalukan tindakan tidak terpuji seperti yang Ibu lakukan. Ibu pikir sendiri sekarang, siapa yang rugi? Besok-besok kami semua tidak akan lagi sudi belanja sama Ibu. Ibu juga tak boleh lagi numpang adem di sini. Kalau Ibu tetap nekat saya akan telepon polisi dengan alasan Ibu menganggu ketertiban dan keamanan di sini,” bentak teman saya seolah belum puas juga. Saya lihat perempuan itu tertunduk dan menangis.

Berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan kemudian ia memang tak pernah lagi datang ke kantor kami. Tapi entah kenapa, bayangan tubuhnya yang ringkih, suara langkahnya yang berat seperti diseret, aroma keringat, serta sapaan “numpang adem” yang bagaikan sihir di telinga kami itu, selalu saja seperti beban yang tak pernah hilang dari ingatan. Diam-diam saya masih merindukan wajah itu muncul tiba-tiba di depan pintu. Karena bagaimanapun, ia telah memberi pelajaran paling berharga dalam hidup. Minimal menjadi cermin bagi saya untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan yang menyangkut masa depan.[hf]

* Hanna Fransisca adalah ibu dari empat anak yang sehari-hari bekerja di Singkawang Motor, Jl. Sultan Agung Km 27, Pondok Ungu, Bekasi Barat dan Bintang Perkasa Jaya Motor Jl. Mauk/Mohammad Toha No 1, Bugel, Tangerang. Ia gemar membaca, menulis puisi, cerpen, dan esai kehidupan. Hanna dapat dihubungi di pos-el: h4n4_1979[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.8/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Inovasi Ala Printer Tiga Dimensi

Oleh: Doharman Sitepu*

Beruntung sekali pada tanggal 6 November 2009 yang lalu, saya ‘dipaksa’ oleh seorang teman berkunjung ke sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengerjaan lembaran baja (sheet metal works). Saat itu jam menjelang pulang kantor, jadi saya merasa setengah terpaksa turut serta pada kunjungan tersebut. Namun karena hal itu berkenaan dengan project yang saya kelola, saya pun ‘memaksa’ diri sendiri ikut serta. Selanjutnya, yang kami bahas bukanlah bisnis sheet metal works-nya, melainkan usaha baru yang belum genap satu tahun. Perusahaan yang kami kunjungi itu mencoba menyasar pasar di Tanah Air dengan produk teknologi 3D Printing yang ditemukan oleh Objet USA tahun 1998.

Ceritanya, setelah menyudahi pembicaraan tentang sheet metal Works, kembali lagi (kali ini saya dan teman saya) ‘dipaksa’ melihat sesuatu oleh pemilik usaha yang ada di kawasan Lippo-Cikarang itu. Mereka adalah sole distributor-nya di Indonesia dan dengan antusias mempromosikan 3D printing. Mendengar kata 3D printing, saya pun berubah jadi antusias juga.

Setelah berbincang dan menyaksikan demo 3D printing, saya dapat berbagi tentang printer ini.Ternyata cara kerja printer ini persis seperti pembuatan kue lapis. Tintanya terbuat dari epoxy yang akan kering dengan cepat apabila terkena udara. Print head bergerak bolak-balik layaknya printer biasa, bedanya print head ini bekerja seperti mengecat lapis demi lapis (layer by layer), hingga terbentuk deposit yang sesuai dengan bentuk 3D data yang dikirim komputer.

Apabila Anda memiliki desain (part drawing) dalam format 3D data, misalnya design dari sebuah kunci Inggris, maka untuk memperoleh benda utuhnya Anda cukup mem-print benda tersebut. Kemudian dalam tempo tidak lebih dari 20 menit, jadilah “kunci Inggris” Anda, dan Anda dapat mengevaluasi kunci itu, baik dari sisi design graphics-nya, dimensinya, maupun uji mekanisnya. Karena hasilnya adalah berupa prototype skala satu berbanding satu, kecuali kekuatan kunci yang hanya terbuat dari epoxy itu, semua fungsi sudah mewakili aslinya, persis kunci Inggris.

Contoh lain, apabila kran air di rumah Anda rusak, dan Anda memiliki 3D data-nya, maka selang 20 menit kemudian Anda dapat mengganti kran air tersebut (tentu dengan tingkat kekerasan setara plastik/epoxy) dengan cara mem-print-nya. Setelah selesai di-print, cukup dibilas pakai air untuk pembersihan, dan siap dipakai. Itulah gambaran dahsyatnya alat ini. Masih banyak kegunaan alat yang satu ini, yang akan saya ulas selanjutnya.

Sebagai seorang engineer yang telah menekuni bidang design dan manufacturing komponen otomotif bertahun-tahun, saya merasakan bahwa babak baru akan segera tiba dengan adanya alat ini. Tapi, apabila saya salah ataupun ketinggalan informasi tentang hal di atas, maka saya minta maaf, berarti saya harus belajar lebih banyak lagi.

Berawal dari kebutuhan manusia akan berbagai macam produk dalam menunjang hidup sehari-hari, maka telah banyak cara (methods) yang telah ditempuh oleh manusia untuk mempermudah dan mempersingkat pekerjaan dalam merealisasi sebuah produk (products realization).

Katakanlah apabila seorang designer akan membuat dashboard sebuah mobil, ataupun men-design sebuah velg baru. Pada era pradigital, langkah awal yang dilakukan adalah membuat sketch dari product tersebut, kemudian setelah mengalami beberapa tahap pengkajian/pengujian di atas kertas (ferification), maka langkah selanjutnya adalah membuat moke-up 1-1 (satu banding satu) dari design tersebut. Sesuai dengan eranya, maka pembuatan pun dilakukan dengan cara manual. Biasanya dilakukan oleh ahli moke-up atau prototype. Mereka membuatnya dengan cara manual dibantu dengan alat atau mesin sederhana. Demikian juga bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu ataupun bahan yang ringan dan mudah dibentuk. Langkah selanjutnya adalah melakukan fitting pada fungsi ataupun posisi part tersebut pada induknya. Apabila itu adalah dashboard, maka di-fitting pada posisi dashboard, dan apabila itu adalah velg, maka di-fitting pada roda kendaraan. Langkah selanjutnya adalah uji visual dan performance secara skala penuh. Dalam tahap ini dapat dilakukan uji gerak/mekanisme dari benda tersebut. Demikian juga akan dilakukan pengujian kelaikan visual, apakah sudah memadai ditinjau dari sisi marketing, safety, ergonomy, economic, dan lain-lain.

Dari beberapa tahapan ini, akan didapatkan feedback yang akan diumpankan kembali pada design awalnya. Apabila tahap design telah selesai, tibalah waktunya pada pembuatan alat bantu produksi. Untuk Otomotif biasanya disebut tahapan pembuatan tooling (tooling stages). Setelah tooling selesai dibuat, barulah mass production dapat dilakukan. Hasilnya, kita dapat merasakan kegunaan dari berbagai produk, mulai dari alat transportasi, electronik, kesehatan, pendidikan, dan home appliances lainnya.

Dapat dibayangkan betapa lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan (developing) sebuah produk. Mulai dari design concept pertama sampai dengan pengujianya, kemudian dilanjutkan dengan design concept kedua sampai pada tahap pengujian juga hingga dicapai design yang diinginkan (approved). Setelah itu masuk ke tooling stage, barulah mass production dapat dilakukan. Konon pada tahun 80-an membutuhkan waktu 5 tahun untuk mengembangkan sebuah kendaraan, mulai dari design sampai dengan initial mass production .

Era selanjutnya adalah dengan era Computer Aided Design (CAD). Penulis sewaktu duduk di bangku kuliah masih diajarkan CAD dua dimensi, yang penggunaanya sangat sukar dan kurang menarik. Pada 1985, IPTN sudah memakai software design yang masih berbasis 2D (dua dimensi) Crime 2.

Era berikutnya adalah penerapan software 3D (tiga dimensi). Di Indonesia dimulai pada tahun 90-an. Perkembangan software 3D pada dekade ini sangat ramai, bagaikan jamur di musim hujan. Developer software pada umumnya berasal dari Amerika dan Eropa. Sedangkan Jepang mengaku meninggalkan segmen bisnis ini akibat sengitnya persaingan. Mereka akhirnya memutuskan untuk focus pada manufacturing saja. Dalam hal urusan software untuk men-design mencukupkan diri sebagai user saja. Sebut saja misalnya Togo, sebuah software yang dikembangkan Toyota, yang akhirnya mereka sendiri tidak memakainya, dan malah memakai Pro-E untuk urusan desain mesin dan yang komponen bergerak, dan UG untuk komponen statis (keduanya buatan Amerika).

Untuk mendesain sebuah mobil pada era ini sangatlah singkat dibandingkan dengan zaman moke-up kayu. Pada umumnya verifikasi bentuk dan dimensi telah dapat dilakukan dengan bantuan komputer. Pada tahun 2000-an Jepang sebagai pioneer dalam dunia manufacturing otomotif meng-claim bahwa lead time pengembangan sebuah mobil cukup dilakukan dalam tempo dua tahun. Untuk itu mereka harus menyiapkan satu model baru setiap dua tahun. Manurut pengamatan pasar di Jepang, pada umumnya orang sudah segan membeli model yang telah berumur dua tahun. Oleh karena itu, pasarnya pun sudah menurun drastis pada awal tahun ketiga. Untuk menstimulasi pasar, maka dilakukan perubahan-perubahan di sana-sini, baik perubahan sebagian (minor change) maupun perubahan total (major change) pada sebuah produk.

Belakangan, untuk melayani semakin pendeknya lead time pergantian model, terutama otomotif, maka kemampuan untuk membuat prototype pun harus dapat mengimbangi. Maka untuk itu muncullah sebuah bisnis baru yang disebut rapid prototyping (pembuatan model kilat).

Berbagai macam cara ditempuh, mulai dari laser cutting, high speed machining, hingga 3D printing seperti yang sedang kita bahas.

Fungsi Lain 3D Printing

Kita akan membahas beberapa aplikasi dari 3D printing ini. Seperti telah dijelaskan di atas, mulai dari pembuatan prototype kunci inggris, kran air, turbine-impeller, hair-drier, velg, dashboard, sampai pembuatan enginee-block. Semua part yang disebut di atas adalah untuk konsumsi industri automotif, dan home appliances.

Satu lagi aplikasi yang luar biasa adalah dalam bidang kesehatan. Sebagai contoh kasus, untuk seorang pasien yang mengalami kecelakaan, sehingga mengalami retak pada tulang tengkorak kepalanya, dan membutuhkan penggantian pada bagian tulang yang retak tersebut. Langkah pertama adalah men-scanning tengkorak kepala yang bersangkutan dengan CT/MRI. Selanjutnya, data ini dikonversi ke dalam data yang dapat dibaca software 3D seperti Solidworks. Lalu dilakukan evaluasi di komputer, misalnya identifikasi bagian tulang yang harus dibuang, dan meng-copy bagian tersebut dengan pengganti (bisanya terbuat dari platina atau sejenis). Kemudian mengevaluasi assembly part pengganti itu terhadap mekanisme gerakan tulang rahang. Apabila pengkajian telah rampung, maka tibalah waktunya untuk mengevaluasi secara real melalui moke-up kepala, dengan jalan mem-print out data tersebut.

Setelah mendapatkan moke-up kepala hasil print, kita dapat melakukan evaluasi yang lebih tajam lagi ketimbang evaluasi virtual di komputer. Dari hasil evaluasi ini, maka ditemukanlah bentuk tulang pengganti yang telah dikaji dan diyakini paling sesuai terhadap si pasien. Setelah membuat 3D data dilakukan lagi print out untuk memperoleh model tulang pengganti. Selanjutnya model part ini dipesan pada ahli pembuat tulang pengganti.

Sekarang tibalah waktunya untuk melakukan operasi terhadap si pasien. Setelah bagian yang bermasalah dibuka, maka tulang pengganti siap untuk di-install pada tempatnya. Langkah selanjutnya tinggal menutup bekas operasi yang dilakukan. Praktis bukan? Lalu, apa bedanya dengan cara konvensional? Ya, operasi tidak perlu dilakukan dua kali. Biasanya operasi yang pertama dilakukan untuk mempelajari dan mengukur bagian yang rusak, sehingga dapat memesan tulang pengganti berdasarkan ukuran tersebut. Tapi, sering ditemukan masalah ketidaksesuaian bentuk dan ukuran antara tulang pengganti dengan tulang asli, karena kurang akuratnya pengukuran dan bentuk. Hal ini malah dapat mengakibatkan operasi yang berulang-ulang.[ds]

* Doharman Sitepu adalah seorang praktisi manajemen dalam dunia manufaktur pembuatan komponen automotif. Bidang yang didalami adalah Tooling Engineering dan Plant Improvement. Sekarang bekerja di kawasan Industri Jababeka-Cikarang sebagai Engineering Manager. Alumni AOTS Yokohama Kenshu Center-SMEs & Mold, Dies Industry, Alumni Workhsop “Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller Batch XII.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox