Melacak Jejak Foto Diri Anda
Editor | Kolom Lepas | February 16th, 2010 | No Comments »
Oleh: Bartholomius Padatu*
Definisikan diri Anda sekarang juga! Maka, Anda akan segera tahu bahwa Anda masih memiliki Pekerjaan Rumah yang belum dikerjakan. Siapa di dalam tubuh Anda? Apa kata orang tentang Anda? Yakinkah bahwa Anda mengenal diri Anda sesungguhnya? Pribadi seperti apa yang hendak Anda bangun di kemudian kehidupan Anda? Kepribadian seperti apa yang Anda kehendaki untuk diukirkan pada batu nisan jejak kehidupan Anda di bumi? Satu pernyataan dan beberapa pertanyaan di atas mesti Anda lirik dan niati untuk mengetahui segi penting melacak jejak jati diri Anda.
Pekerjaan mendefinisikan atau mengartikan siapa diri Anda tentu menjadi mudah bila yang dimaksudkan untuk sekadar memperkenalkan jati diri Anda pada level permukaan sebagaimana ditera di kartu-kartu tanda pengenal Anda seperti KTP, SIM, Kartu Mahasiswa, dll. Identitas ala kartu pengenal sesungguhnya jauh dari hakikat siapa sesungguhnya Anda. Banyak orang memiliki nama dengan kandungan filosofi yang dalam namun di panggung kehidupan berperilaku asimetris atau bertolak belakang. Dapat di sebut sebagai sampel; nama “Satria” namun perilaku terbaliknya disifati oleh karakter penakut. Seorang dengan nama “Indah” namun praktiknya menjadi pribadi semrawut dengan tampilan diri yang tidak terawat. Nama “Viktor” yang diasumsikan pemenang namun tidak menggelisahkan diri dengan usaha mendekatkan diri menaiki podium-podium penghormatan para juara. Lainnya lagi bernama “Bintang” sayangnya cahaya hidup redup di garisan wajah yang melulu cemberut. Kalau mau jujur dideret nama-nama lainnya, tentunya kita banyak menemukan kejanggalan-kejanggalan filosofis menyangkut makna di balik nama-nama.
Pemberian nama merupakan hadiah perdana di tahun awal kehidupan yang akan mengompaskan arah pertumbuhan Anda. Orang tua Anda bersusah payah merumuskan tatanan nilai hidup dalam kehidupan Anda agar Anda mengenali aturan main kehidupan dunia ini selaras dengan nilai-nilai yang dikandungkan pada nama Anda. Persoalannya pada beberapa kasus (bisa jadi banyak) kehidupan kita tidak bergerak ke arah perwujutan nilai-nilai yang menjadikan diri kita seindah, sekuat, sejaya, dan sesukses makna nama-nama kita. Sayangnya pertumbuhan fisik tidak sejalan dengan pertumbuhan jiwa. Banyak orang fisiknya berkembang melebar dengan kecepatan tinggi (overwight) namun lamban dalam berpikir (sempit bidang berpikirnya), slow dalam merespon turbulensi kehidupan dengan percepatan informasi dan teknologi. Banyak tubuh yang bertumbuh meninggi namun dengan perkembangan jiwa yang rendah diri. Banyak pribadi yang masuk pada level penggolongan anak muda namun tua dalam pergerakan alias malas, tidak berinisiatif, tukang tidur, senang dengan kemiskinan. Ada beberapa di antaranya kagum pada kecantikan fisik namun jauh dari “kosmetik kesopanan”. Lainnya lagi cerdas secara kognitif namun tumpul dari segi sikap. Pada kelompok atau tipikal manusia lainnya adalah “bermain aman” bunglon dengan kepribadian, terus-menerus mengubah pembawaan diri berdasarkan “permintaan pasar” (tuntutan orang lain).
Lelucon membangun kepribadian yang asimetris (tidak sebagun dengan potensi diri) senantiasa berkelanjutan, teramat dekat dan mudah untuk mengamati jejak-jejaknya. Pribadi-pribadi copy paste marak dijumpai dalam lingkungan pergaulan kita. Beberapa di antaranya meniru kepribadian, bahkan dibela-belain dengan mengadakan lomba mirip Tokoh si A, Si B sehingga ia lupa keotentikan dirinya sendiri. Melatih warna suara mendekati suara pribadi tertentu juga sangat digandrungi, menirukan karakter suara, gaya, kostum penyanyi dianggap sebagai sebuah metamorfosa diri yang bernilai tinggi. Kita juga dapat menemukan pribadi yang senang bertutur ria dengan gaya bahasa tokoh idola tanpa terusik untuk melepaskan diri dan menemukan gaya tuturan sendiri. Pribadi-pribadi seperti ini pada akhirnya dikenal lahir sebagai” A”, dewasa sebagai” B”, meninggalkan kehidupan sebagai “ si C”.
Melanjutkan dan meragamkan upaya-upaya mulia para motivator senior, saya merasa perlu memberi ruang pemberdayaan diri bagi rekan-rekan sekalian untuk bersama-sama menepi sejenak dari riuhnya menjadi diri orang lain menuju penemuan diri sendiri dengan cara mendefinisikan diri. Hingga hari ini, sebagai sebuah fakta yang sulit untuk ditepis adalah munculnya problem atau masalah mengenal diri sendiri, membangun jati diri, memelihara jati diri.
Salah satu cara yang sederhana berdampak luar biasa dalam merumuskan jati diri adalah dengan bantuan kesan orang atau pribadi di luar diri kita. Anda tentu sebagian besar memiliki siklus kehidupan yang terekam dalam “Album foto diri” (kesan-kesan verbal). Gambar-gambar tahapan pertumbuhan Anda memang dapat merekam nilai-nilai hidup Anda. Sayangnya nilai tersebut terkadang dibangun melalui cara pandang ego Anda yang mendefinisikan nilai Anda dengan kaca mata pandang Anda sendiri. Artinya peluang bias nilai dapat saja terjadi.
Cara yang ditawarkan pada Anda sekalian adalah dengan melatih kepekaan Anda, kejelian Anda, kesadaran menerima nilai, mengelola nilai bagi Anda dari orang lain. Mengumpulkan “puzzle kesan” dari orang di luar diri Anda dapat menjadi cara yang ampuh meneropong kedalaman diri Anda. Interaksi yang bertemali dengan kehidupan orang lain memaksa mereka melakukan pelabelan nilai bagi Anda. Di mata orang Anda dapat saja dilabeli pemarah, pencemburu, baik hati, dermawan, pecundang, penyayang, pendendam, pengampun, pribadi penerima, pemuda boros, pelit, telat mikir, egois, sok cantik, pintar, super seksi, pembuat onar, negosiator ulung, dosen kreatif, pribadi bertalenta tinggi, unik, menyenangkan, membosankan, lucu, gagap, dan ribuan kesan-kesan lainnya.
Mengoleksi kesan-kesan tersebut tentunya menjadi penting untuk melihat kecenderungan kesan diri kita di mata orang lain. Memang untuk beberapa kasus kadang-kadang kesan tersebut dibuat atau manipulatif sifatnya sejalan dengan kepentingan pribadi orang lain. Namun, pengalaman mengajarkan saya untuk terus mengoleksi kesan apa saja yang pernah diberikan kepada saya dan mencari benang merah kesesuaian dengan fakta sesungguhnya dari diri saya. Dari Album kesan diri Anda akan terlihat beberapa pembenaran-pembenaran yang akan membuat Anda yakin bahwa jati diri Anda seperti apa wujudnya.
Sekalipun orang lain mengirim pesan lewat bahasa tubuh seperti memberi jempol pada Anda, saran saya kumpulkan isyarat tubuh yang diberikan bagi Anda. Masukkan isyarat tubuh tersebut sebagai bagian dari kesan yang akan membantu Anda mengerti keberadaan diri Anda yang sesungguhnya. Saya tekankan kembali, lakukan pencatatan kesan-kesan tersebut pada sebuah buku khusus agar mudah di lihat-lihat kembali.
Seiring dengan meluasnya pertemanan Anda, bertambahnya usia, meningkatnya kesadaran sketsa siapa diri Anda akan memodali Anda meyakinkan diri kearah mana pertumbuhan diri Anda kerjakan. Album kesan diri Anda akan mengompaskan perjalanan hidup Anda. Jangan khawatir dengan kesan-kesan yang manipulatif, beriringan dengan berjalannya waktu dan banyaknya kesan yang Anda terima Anda akan memiliki keterampilan mengenali kesan yang sekedar diucapkan untuk menyenangkan diri Anda sesaat. Alam bawah sadar Anda akan memahami proses memisahkan kesan asli dan palsu. Nurani Anda akan memihak Anda untuk mendorong keluar berbagai kesan negatif yang dulunya terlanjur menjadi prinsip brilyan Anda namun menjadi prinsip perusak nomor satu. Dengan mengumpulkan sepotong-demi sepotong kesan yang tulus dari orang di sekitar Anda, suatu hari Anda akan memiliki keberanian membongkar gurita prinsip negatif dalam diri Anda. Proses koleksi kesan-kesan orang lain akan menjadi peta baru perubahan, penguatan, pelembutan, pengayaan, serta pemberdayaan potensi sejati diri Anda. Selamat menekuni profesi baru sebagai kolektor kesan-kesan diri. Ingatlah bahwa kesan-kesan tersebut adalah jejak-jejak penemuan jati diri Anda sejatinya.[blp]
* Bartholomius Padatu (disingkat BL Padatu) lahir samarinda 24 November 1974. Ia menikah dengan Selvy Handayani, S.E. dan dikaruniai seorang putri bernama Shekinah Jeshan Padatu. Padatu menamatkan studi S-1 di STT INTIM, Makassar 1993-1999, menikmati pembelajaran S-2 di Jurusan Administrasi Negara FISIPOL UGM Yogjakarta 2007-2009, dan studi S-3 sedang ditempuhnya pada 2009 di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif berkesenian teater, menulis naskah, dan mensutradarai pementasan-pementasan teater. Padatu senang bertemu dengan pribadi-pribadi pembelajar.
Oleh: Maria Saumi*
Oleh: Guntur Novrizal*
Oleh: Supandi, S.Pd, MM
Oleh: Fida Abbott*
Oleh: Tri Wahyuni*
Oleh: Nurainun*
Oleh: Lily Choo*
Oleh: Hanna Fransisca*