Makna di Balik Derita

aasOleh: Ade Asep Syarifuddin

Seorang psikiater, Victor Emil Franklin, suatu hari dipaksa hidup di camp konsentrasi NAZI. Ayah, ibu, saudara, dan isterinya dibunuh semua. Ia sendiri dipaksa menyaksikan berbagai bentuk penyiksaan dan penderitaan. Satu hal yang ia amati dalam pengalaman tragis itu adalah banyaknya tawanan yang meninggal dunia karena ketakutan dan putus asa, bahkan sebelum disiksa. Sementara ada sekelompok tawanan yang disiksa bagaimanapun, dalam penderitaan seperti apa pun, mereka tetap tegar bertahan dan bahkan akhirnya selamat seperti dirinya.

Orang-orang yang bertahan ini kemudian diteliti oleh sang psikiater. Dan ternyata ditemukan fakta bahwa mereka bisa bertahan karena memiliki meaningful life. Mereka bisa menemukan makna di balik penderitaan. Mereka bisa mengatasi ketakutan karena ada makna di balik ketakutan tersebut. Dalam bahasa Nietzhe, “If you know the why, your can bear any how“. Jika Anda tahu untuk apa Anda menderita, maka Anda akan bisa menahan penderitaan seberat apa pun.

Cerita di atas benar-benar menginspirasi kita untuk memberikan makna terhadap segala hal yang terjadi pada diri kita, terutama hal-hal yang tidak enak dengan sebuah gambaran yang menyenangkan. Setiap hari silih berganti datang sesuatu yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Kebanyakan kita akan tertawa apabila menemukan kebahagiaan, dan sebaliknya akan menangis apabila menemukan hal-hal yang menyedihkan. Itu tidak keliru karena orang pada umumnya memaknai sesuatu persis seperti yang dirasakan oleh perasaan pada saat itu.

Namun apabila kita memaknai sesuatu seperti yang dilihat dan didengar dan dirasakan apa adanya, maka akibatnya hidup kita akan sangat rentan untuk berubah setiap saat. Pagi hari mendengar kabar mendapat hadiah, langsung gembira tiada tara. Beberapa jam kemudian mendengar keluarga ada yang sakit langsung menangis. Sore hari bisa jadi tertawa kembali, begitu seterusnya.

Kita hidup dibagi dua, yang pertama hidup jangka pendek dan yang kedua jangka panjang. Agar kita memiliki pola hidup yang konstan, semangat yang stabil dan mental yang kokoh, maka setiap orang harus membuat rancangan dan gambaran hidup di akhir nanti akan seperti apa.

Seseorang yang dicap teroris tidak lagi memiliki ketakutan berhadap-hadapan dengan senjata dan bom. Makna apa di balik kenekatan mereka tersebut? Mereka memiliki keyakinan bahwa melawan Amerika itu adalah jihad fi sabilillah. Sementara jihada balasannya adalah surga. Barangsiapa yang meninggal karena jihad, dia akan bertemu dengan bidadari di surga. Tidak heran kalau mereka menjadi sangat nekat dan tidak lagi memiliki rasa takut, karena makna di balik itu sangat mendalam.

Atau contoh sederhana lain, seorang ibu yang hamil selama 9 bulan, bukan tanpa penderitaan. Di awal-awal kehamilan, biasanya struktur tubuh berubah, dan dengan sendirinya kimia tubuhpun memengaruhi fisik secara langsung. Ada rasa mual, rasa tidak nyaman, muntah, tidak enak badan, dan lain-lain. Bulan semakin berjalan bukannya tidak ada risiko tambahan, bebanpun semakin bertambah. Tapi mengapa seorang ibu tetap masih bertahan, bahkan tersenyum ketika hamil? Itu karena dia membayangkan bayi mungil yang lucu sebentar lagi akan menemani dia dan menjadi teman hidupnya. Harga kehamilan 9 bulan dengan diiringi rasa sakit dan tidak nyaman nyaris tidak terasa karena memiliki makna lain.

Atau seorang ayah yang nekat masuk ke dalam kobaran api yang sedang menyala. Ia langsung masuk tanpa tanya sana sini. Ternyata dia mau menolong anaknya yang ada di dalam rumah yang terbakar tersebut. Bagi kita yang tidak memiliki niat di balik kenekatan tersebut, rasa-rasanya tidak akan coba-coba mendekati api yang sedang berkobar. Dan banyak lagi cerita-cerita lain yang menunjukkan heroism, dan secara logika tidak masuk akal orang tersebut melakukannya.

Kalau dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, kitapun bisa melakukan hal-hal yang agak nekat tersebut untuk kepentingan dan kebaikan kita di masa mendatang. Seseorang yang bekerja sangat disiplin—bangun pagi-pagi, berangkat ke kantor, mengadakan rapat, dan pergi menemui klien. Kemudian sore harinya rapat kembali. Dia melakukannya berulang kali setiap hari. Ada dua kemungkinan reaksi karyawan yang melakukan rapat dan disiplin tiap hari. Karyawan pertama akan merasa terbebani karena merasa lelah dan capek. Sementara karyawan kedua merasa sangat bersemangat karena dia sadar dia akan mendapatkan reward atau penghargaan dari perusahaannya.

Kasus para pekerja Jepangpun menjadi contoh lain yang patut ditiru. Di Jepang memang memiliki jam kerja yang sama dengan di Indonesia, 8 jam, termasuk istirahat 1 jam. Tetapi bukannya 8 jam-1 jam, melainkan 8 jam + 1 jam istirahat. Alhasil jam kerja totalnya adalah 9 jam. Hanya memang ketika bekerja, mereka benar-benar bekerja, tidak lagi dibarengi dengan kegiatan lain yang tidak mendukung pekerjaan. Sementara orang Indonesia, ketika jam kerja masih menyempatkan diri untuk berleha-leha—entah itu untuk merokok, ngegosip, dan ngobrol tidak karu-karuan dengan teman-temannya. Para pekerja di Jepangpun memiliki makna bahwa dengan bekerja mereka memiliki harga diri dan kebanggaan yang tinggi karena bisa membangun negaranya lewat pekerjaan mereka. Tidak heran dengan semangat bekerjanya, Jepang menjadi negara yang sangat diperhitungkan di dunia.

Satu contoh lagi yang bisa dijadikan analogi betapa penderitaan yang kita alami bisa memiliki makna yang sangat dalam. Hal ini terjadi pada orang yang berpuasa. Logikanya tubuh membutuhkan nutrisi untuk aktivitas dan kegiatan sehari-hari. Tapi karena ingin meraih sesuatu makna yang lebih dalam, seseorang melakukan puasa seharian, tidak makan, tidak minum. Hanya kekuatan makna di balik puasa tersebut sajalah yang bisa membuat seseorang bertahan dan bahkan gembira menjalankan puasa. Bahkan sebagian orang sama sekali tidak merasakan lapar atau haus secara berlebihan karena sudah biasa.

Pertanyaan selanjutnya, apa tujuan Anda di masa mendatang? Apakah Anda benar-benar yakin bahwa tujuan hidup tersebut memberikan arti yang sangat dalam bagi Anda? Kalau ya, pasti Anda akan mau membayar harganya, apa pun itu dan tidak ada tawar menawar. Ini bukti dari kesungguhan seseorang untuk mengejar makna yang berefek pada eksistensi diri, dan harapan yang akan datang. Semua pekerjaan menjadi sangat ringan ketika ada pemaknaan di balik penderitaan. [aas]

* Ade Asep Syarifuddin adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan, surat kabar harian lokal di bawah naungan Jawa Pos Group. Awal kariernya di Harian Radar Cirebon tahun 1999 selama 4 tahun, kemudian ke Radar Banyumas 3 tahun, dan terakhir pada tahun 2007 menerbitkan Harian Radar Pekalongan. Profesinya adalah sebagai jurnalis yang juga hobi menulis persoalan-persoalan pengembangan diri, mindset, NLP, pendidikan, dll. Ade bisa dihubungi di asepradar[at]gmail[dot]com dan blog http://langitbirupekalongan.blogspot.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Tanpa Memori Tak Ada Jiwa

nsnOleh: Nur Sari Ningrum

Memori merupakan jiwa yang melekat pada bagian diri manusia, yang tak terpisah oleh waktu selama manusia itu hidup.

Coba bayangkan bila dalam otak kita tidak ada memori yang tersimpan? Bagaimanakah kita menjalani hidup? Baik memori itu manis ataupun pahit bagi pengalaman hidup kita. Seharusnya hal yang patut kita lakukan adalah mensyukurinya, karena Tuhan masih perkenankan memori kita itu masih ada dan tersimpan baik dalam otak.

Kalau tidak demikian maka kita akan kesulitan dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari, karena kita dituntut untuk selalu melahirkan ide-ide baru dalam setiap waktu dan setiap hal yang akan kita lakukan. Menjadi manusia baru dan mengenal orang-orang serta benda-benda yang sama meski kita sudah mengenalnya. Jika kita tidak mempunyai memori tentang itu semua maka akan jadi menjenuhkan bagi orang di sekitar kita karena harus memperkenalkannya secara berulang pada kita.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah cerita dari pengalaman dosen yang mempunyai seorang putri berusia 18 tahun yang cantik dan unggul dalam bidang desain grafis, sayangnya putri tersebut mengalami gangguan tentang LTM (Long Term Memory). LTM adalah bagian memori yang relatif permanen. Jadi putri tersebut tidak dapat mengingat memori dalam jangka waktu yang panjang sehingga tidak dapat fokus dalam mengingat memori tersebut. Memori tersebut mengalami gangguan pada episodic memory (informasi tentang kapan sesuatu itu terjadi dan hubungan antar kejadian) dan procedural memory (mencakup cara melakukan sesuatu).

Hal ini mengakibatkan putri tersebut harus dihadapkan pada situasi yang sulit. Ia harus selalu mengenal segala sesuatunya sebagai hal yang baru, meski sudah mengenalnya berulang kali. Untuk mengenal saudara dalam anggota keluarganya saja, harus diingatkan setiap saat. Ketika sedang berkomunikasi anggota keluarga tersebut selalu menyebutkan namanya sendiri untuk mengingatkan putri tersebut. Kemudian untuk menjalani aktivitasnya sehari-hari dalam melakukan sesuatu ia dibantu dengan sebuah catatan mengenai serangkaian hal yang harus dilakukan dari cara ia mandi, mencuci pakaian sampai cara makan serta cara mencuci peralatan makannya.

Begitu pula dalam mengingat kejadian baik yang telah, sedang, dan akan terjadi selalu terhambat. Semua itu karena tidak ada memori yang tersimpan dalam jangka panjang, hanya menjalani hal yang sedang dilakukan saja dan seketika itu juga akan hilang. Namun dengan dukungan dari keluarga yang penuh kasih sayang maka hal itu menjadi hal biasa dihadapinya.

Coba kita bayangkan jika hal tersebut menimpa kita, bagaimana kita akan mengahadapinya? Maka bersyukurlah kita terhadap Tuhan yang telah memberikan memori untuk kita simpan secara baik dalam otak kita. Kita mudah melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan memori yang ada dan tersimpan. Kita juga dapat mengakses secara cepat untuk mengingat kembali memori yang kita perlukan setiap saat.

Tidak perlu lagi mengenal hal-hal yang baru apabila kita sudah mengenalnya dalam memori kita. Itulah kelebihan yang kita miliki selama memori itu tersimpan secara baik. Maka di sinilah arti dari memori itu berlaku yaitu memori merupakan jiwa manusia itu hidup, karena kalau tidak ada memori maka kita tidak dapat mengenal, mengingat sesuatu, dan kita tak dapat pula melakukan apa-apa.

Sayangnya, terkadang manusia masih saja mengeluh terhadap memori yang dimilikinya karena terdapat bagian pengalaman yang pahit apabila diingat sehingga manusia cenderung berusaha melupakannya dan tidak menganggap memori itu ada. Dalam salah satu teori psikologi kognitif, hal ini sering disebut dengan motivated forgetting yaitu lupa terjadi karena adanya dorongan atau usaha untuk melupakan, biasanya hal-hal atau peristiwa yang tidak mengenakkan.

Hal ini dilakukan secara sengaja untuk melupakan dan berusaha menghilangkannya karena dihadapkan pada sesuatu yang tidak menyenangkan bagi manusia. Manusia itu takut apabila peristiwa itu terulang kembali sehingga bagaimanapun caranya seseorang melakukan motivated forgetting.

Seperti yang dilakukan oleh teman saya, untuk melupakan ayahnya yang telah sengaja meninggalkannya dan menyakiti hati ibunya, ia rela dan secara sengaja melupakan ayahnya. Untuk mengingat dan mengenalnya kembali saja tidak mau. Bahkan sampai ayahnya meninggal pun ia tidak ingin mengetahuinya. Ia juga tidak menjalin tali persaudaraan dengan keluarga ayahnya sepeninggal ayahnya.

Seandainya kita mau menyadari dan merenunginya segala sesuatunya pasti mempunyai segi positif di balik sisi negatifnya. Jika kita mampu bersikap bijak pada situasi tersebut maka tidak akan sia-sia memori itu ada bila kita mengingatnya. Hal ini dimaksudkan agar kita belajar dari pengalaman yang sudah kita miliki, didukung dengan memori yang tersimpan dalam otak kita masing-masing. Kita tidak lagi mengeluh karena memori yang dimiliki meskipun tidak menyenangkan tapi selalu bermanfaat. Ini memberikan makna terhadap setiap pengalaman sekaligus jiwa dari manusia itu hidup. Apabila tidak ada memori, maka tidak ada jiwa bagi eksistensi manusia itu ada.

Menurut Frankl dalam teorinya berpendapat bahwa “Apa yang berarti dalam eksistensi manusia, bukan semata-mata nasib yang menantikan kita, tetapi cara bagaimana kita menerima nasib itu”. Frankl percaya bahwa arti dapat ditemukan dalam semua situasi, termasuk penderitaan dan kematian. Dia menulis, hidup adalah menderita, tetapi untuk menemukan suatu arti dalam penderitaan seseorang ialah tetap dalam keadaan hidup.

Pandangan Frankl tentang kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan akan arti. Kemauan akan arti dan arti kehidupan adalah kebutuhan kita yang terus-menerus mencari bukan diri kita melainkan suatu arti untuk memberi maksud bagi eksistensi kita. Semakin kita mampu mengatasi diri kita, memberi diri kita kepada suatu tujuan atau kepada seseorang akan menjadikan kita manusia sepenuhnya. Arti yang kita cari memerlukan tanggung jawab pribadi yaitu untuk menemukan cara kita sendiri dan tetap bertahan di dalamnya segera setelah ditemukan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam situasi serta kondisi apapun baik bahagia ataupun menderita seseorang diharuskan dapat mengetahui akan arti dari keadan tersebut. Sebagaimana sebuah pengalaman yang menyenangkan ataupun tidak tetap dapat diterima, karena telah menjadi bagian dari memori kita. Tetap bertahan dalam keadaan apapun apalagi setelah mengetahui arti dari semua itu. Sebagai manusia yang sehat secara psikologis dan menjadi manusia yang berfungsi sepenuhnya maka kita dituntut untuk bertanggung jawab secara pribadi untuk menemukan arti dari setiap pengalaman yang telah menjadi bagian memori kita.

Memori merupakan suatu kelebihan yang kita miliki untuk mengingat pengalaman serta memberikan arti pada pengalaman tersebut. Dengan begitu kita dapat melihat gambaran kepribadian diri sendiri, dengan memori yang dimiliki. “Dengan memori itu juga memberikan jiwa pada kehidupan kita. Untuk mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan dan memberikan nilai atau arti pada pengalaman yang sudah terjadi. Kalau tidak demikian maka kita tidak mempunyai jiwa dari eksisitensi manusia hidup tanpa bisa melakukan apa-apa karena kita tidak menyimpan suatu memori yang berarti.

* Nur Sari Ningrum adalah mahasiswi psikologi semester lima, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia senang menulis puisi dan mempunyai motto hidup: Hidupkan hidupmu agar lebih hidup. Cita-citanya menjadi konselor seusai menamatkan kuliahnya nanti. Nur Sari Ningrum dapat dihubungi melalui pos-el: sari_psychology[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Anjing Menggonggong Tidak Menggigit

lc2Oleh: Lily Choo*

Di pagi hari 2010, saya berkesempatan menikmati makan pagi bersama teman di Hotel Renaissance Melaka. Kami melanjutkan bahasan semalam mengenai tidak amannya beberapa wilayah di Malaysia, dari perampokan, penjambretan, dan pencurian. Sebenarnya saya punya banyak cerita tentang betapa bahayanya jalanan di negara Jiran ini, namun tidak sepatah pun keluar dari mulut. Tidak berniat menambah seinci atau bahkan satu sentimeter kekuatiran teman saya ini dengan kisah nyata. Adanya wanita Indonesia yang mengantar ibunya berobat di Melaka terpaksa dirawat setelah jatuh terhempas di aspal karena ada yang menjambret tas tangannya dari atas motor. Beliau malah menghembuskan nafas lebih cepat daripada ibunya yang sakit.

Rupanya temanku sering membaca berita kriminal di Malaysia sehingga rasa kuatir dan cemas terpancar di wajahnya dan terdengar di setiap perkataan mereka. Banyak penjambret motor mengakibatkan yang korban jambret kehilangan uang dan nyawa. Tidak heranlah bila sang suami tetap tidak memperbolehkan kami berjalan kaki menikmati udara malam tahun baru di Melaka. Suami adalah kepala keluarga, maka dari itu kami tidak berbantahan lagi dengannya.

Pagi itu sang suami berkeinginan menyewa mobil van. Dengan alasan kami semua, yang berjumlah enam orang dewasa dan tiga kurcaci cilik tidak terpencar dalam dua mobil. Alasan kedua, tidak perlu parkir mobil. Memang agak ribet mencari parkir di kota Melaka bila sedang musim liburan. Ketiga, agar tidak salah jalan. Menurutnya badan saya boleh tinggal di Melaka namun pikiran saya tidak. Jadi, mana berani mengambil resiko tersesat di jalan bersama saya? Yang ada, seorang teman tersesat bersama saya di Kuala lumpur selama tiga jam ditambah dengan jalanan macet total disertai hujan lebat. Untung tangki bensin saya isi penuh. Keempat, yang terpenting alasannya adalah keamanan mobil mewahnya yang bernomer plat negeri Singapura. Duh Gusti… Memang barang mewah itu susah jaganya. Lebih susah dan ribet daripada jaga anak kecil.

“Daripada mobil kita yang kena baret dan rusak, lebih baik mobil sewa yang kena baret.

Kurang lebih begini motonya, yang tak berbeda dengan moto semalam ketika kami hendak jalan kaki keluar dari hotel.

“Daripada kita kena baret dan luka karena jalan kaki, lebih baik mobil yang kena baret dan rusak.

Memang teman yang satu ini amat sangat antik, selalu keluar dengan pernyataan antik. Saya dan sang istri tetap berkeberatan sewa mobil karena tidak masuk akal harga yang ditawarkan oleh penyewa mobil di Melaka. Namun sang suami tak kalah keberatannya bila kami berjalan-jalan dengan mobilnya. Mulailah beliau membahas bagaimana tidak amannya mobil-mobil Singapura di Negara jiran ini. Memang banyak kasus seperti ini di beberapa negara bagian di Malaysia dan tentunya tidak mengherankan bila hal ini juga banyak terjadi di Jakarta. Sebagai info, mereka ini adalah penduduk Jakarta. Jadi seharusnya tidak perlu heran bila kejahatan seperti ini bisa saja terjadi di mana-mana.

Sang istri yang tidak tahan lagi dengan segala cerita kejahatan berkata, “Makanya kita harus menarik semua yang baik dan positif ke dalam pikiran kita. Law of attraction ya. Betul gak Ly?”

Uhukkkk!!!!! Serasa tertumbuk perut saya dan asam lambung terdesak keluar. Senyum saya berkembang tak sempurna, alias nyengir kuda akibat penyakit gila saya kambuh. Saya geli sendiri. Secara pribadi saya setuju dan percaya akan law of attraction ini, namun tiba-tiba saya tersedak dan tergelak lagi. Ditambah melihat sang suami yang sudah ingin menjawab pernyataan istrinya.

“Saya setuju dengan law of attraction tapi saya mempunyai jawaban untuk hukum ini juga,” suara saya menahan jawaban dari sang suami.

Ada cerita di mana seekor anjing mengonggong sekeras dan segalak-galaknya ketika seorang lelaki mendekatinya. Reflek yang masih bagus membuat lelaki tersebut lari sekuat-kuatnya. Ia kuatir akan gonggongan anjing galak dan lebih kuatir lagi dengan gigitannya. Tak heran pula bila si anjing turut berlari sekencang-kencangnya mengejar sang lelaki. Yang empunya anjing kaget dan turut berlari sekuat dan sekencang si lelaki dan anjingnya.

“Jangan lari!” teriaknya kepada si lelaki dan anjing.

Si lelaki lari tambah kencang lagi sambil berteriak, “Kenapa tidakkkkkk……..?!”

Sang empunya anjing ngos-ngosan mengejar dan berteriak untuk terakhir kalinya, “Tidakkah kamu tahu ada pepatah yang mengatakan, anjing menggonggong itu tidak menggigit?”

Si lelaki berlari dan berlari. Si anjing mengejar dan mengejarnya.

“Saya tahu pepatah itu tapi apakah si anjing tahu akan pepatah itu?” kata lelaki itu sambil berlari dan berlari tak keruan.

Gubrakkkkkkkk! Kedua teman saya tersedak beneran dan tergelak bersamaan. Hahaha

Bolehlah kita berpikiran positif. Bolehlah kita berpikiran yang baik-baik. Bolehlah kita berpikiran yang indah-indah. Namun sekeliling kita tidak selamanya berlaku demikian. Sekeliling kita tetap saja berpikiran buruk, berpikiran negatif, berpikiran jorok, berpikiran porno. Lho… Lho… Lho… Makin ditarik makin banyak ya. Buktinya, banyak penjahat, pencopet dan penjambret di mana-mana. Buktinya, teman saya dihipnotis di shopping mall sehingga uang dan perhiasannya ludes. Buktinya, koran penuh akan berita kriminal, berita pembunuhan, berita korupsi hingga berita selingkuh, dari dalam dan luar negeri.

Bagaimana dunia ini mau tentram, damai, sejahtera, penuh sukacita bila masih banyak manusia yang belum bertobat, belum sadar, belum waras atau belum eling akan betapa negatifnya mereka? Bila yang bertobat masih juga dikelilingi oleh penjahat, penagih dadah, penagih sex, dan penagih uang. Bagaimana yang bertobat bisa bertahan dalam pertobatannya? Ayo dipikirkan...

Temanku selalu nyeletuk, Iman boleh kuat tapi imin tidak lho. Hihihi….. Iman itu ‘I’-nya satu, sedangkan imin itu ‘I’-nya ada dua. Bila satu dilawan dengan dua, sudah pasti tidak imbang.

Pernahkah terpikir untuk menyebarkan kepada yang negatif-negatif ini akan adanya law of attraction? Penyebaran dalam bentuk perkataan, perbuatan, dan tulisan. Hm… Seperti yang saya lakukan saat ini. Lebih baik memuji diri sendiri karena kebanyakan orang tidak suka memuji, apalagi buat diri saya. Terpikir mengajak banyak orang untuk memiliki otak yang waras, pikiran yang waras. Teringat ketika saya pelayanan berkunjung ke penjara, memang tidak mudah dikelilingi bahkan berbicara dengan mereka yang pernah berdiam di dunia hitam dan gelap. Paling tidak, kita terpikir untuk memulainya dari keluarga sendiri, mengajak keluarga tercinta selalu berpikiran positif setiap hari, setiap detik.

Mari kita berusaha bersama-sama di tahun 2010 ini, seperti cerita di atas baik lelaki maupun si anjing boleh sama-sama tahu akan pepatah yang ada dan sama-sama menyakini akan kebenaran law of attraction. Dengan harapan banyak dari antara mereka boleh jadi orang yang positif. Boleh memulainya dari berpikiran positif dan kemudian berlanjut ke tindakan positif. Tentulah dunia akan jauh lebih aman, damai dan sejahtera.[ly]

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Payung Tuaku yang Jelek

ss-sugeng-santosoOleh: Sugeng Santoso*

Dengan agak terkejut saya bertanya, “Haaah, mana payung saya mbak?” Baru saya tinggal 40 menit, payung yang saya titipkan sudah hilang raib entah kemana.

“Tadi saya lihat kok pak, tapi kemana ya sekarang?” tanyanya kembali.

Sebuah perbincangan yang menarik ketika saya sedang mensurvei sebuah alternatif tempat untuk training yang akan kami adakan bagi salah satu perusahaan FMCG terbesar di Indonesia.

“Mbak tadi kan saya titipkan dan tinggal di sini karena saya harus melihat tempat Anda untuk acara outbound kami nantinya. Lha sekarang kemana?” tanya saya kembali.

“Saya sudah ditunggu untuk meeting kembali di Jakarta pada pukul 18.00 ini. Jadi saya harus cepat meluncur kesana,” lanjut saya.

Terlihat enggan, staf tersebut masuk ke dalam ruangan, dan tidak sampai lima menit kembali bersama satu orang temannya. Katanya, “Mungkin dibawa para orang bank yang baru saja selesai training di tempat kami ini pak.”

“Bapak kan tadi melihat rombongan mereka banyak sekali, kami tidak sempat melihat satu persatu.”

Sedikit berpikir saya menimpali, “Maksud Anda, seorang dari rombongan peserta training salah satu bank terbesar di Indonesia itu, dengan sengaja dan tahu benar bahwa itu bukan payungnya, mengambil dan menyimpannya untuk dibawa pulang? Itu tuduhan mencuri lho,” lanjut saya.

Agak terkejut mereka berdua terdiam. Seorang temannya langsung bergabung, dan mencoba mencari sebentar, dan kemudian mengatakan, “Tidak dapat kami temukan pak!”

Tidak sengaja, saya mendengar sedikit celotehan di belakang ruangan oleh para staf tadi, “…Ah cuma payung  aja….”

Setelah berbasah-basah diguyur hujan lebat, dan menjalani tiga meeting marathon hari itu dari Jakarta menuju wilayah Bogor. Dan harus kembali ke Jakarta untuk meeting kembali dengan perut keroncongan karena sudah dengan sengaja melewatkan makan siang untuk mengejar ketepatan waktu, mendengar celotehan seperti itu membuat emosi negatif saya bergerak naik.

Untung sebagai seorang personal dan business development coach saya terbiasa mengontrol reaksi saya atas hal-hal yang tidak memberikan kontribusi positif. Saya segera teringat akan identitas saya yang selalu saya afirmasikan setiap hari, ”Saya adalah orang yang sabar, cerdas, bijaksana, ….”

Saya tergoda untuk sedikit berbagi pelajaran.

Dengan nada mulai saya buat ketus saya berkata, “Mbak tadi kata Anda cuma payung aja… Boleh tidak gelas dan tatakan gelas tersebut saya bawa balik untuk saya?” sambil saya menunjuk gelas yang ada di mejanya.

“Wah ya tidak boleh pak, itukan milik tempat ini!” jawabnya.

Lho kan cuma gelas? Lha nasib payung saya bagaimana?” saya menimpali.

Saya melanjutkan, “Saya tidak mau tahu, pokoknya Anda cari solusinya! Saya sudah akan berangkat kembali ke Jakarta dan sudah ditunggu meeting kembali.”

Setelah menunggu sekian lama tanpa solusi, akhirnya saya mencoba memberi solusi, “Saya mau tempat ini mengganti payung saya. Berikan saya pengganti payung yang paling besar dan paling bagus untuk penggantinya sekarang juga.”

Sedikit terkejut akan permintaan saya dan terlihat tidak rela, mereka tetap tidak bergerak.

Kemudian seorang dari mereka berkata, “Mungkin dibawa si A ke toilet atas kali.”

Di dalam hati saya berkata, “Hmm… bagus juga, Anda mulai mau berfikir dan bertanggung jawab dibandingkan hanya sekedar menimpakan kesalahan dan menuduh pada rombongan orang bank yang tidak tahu menahu.”

Segera ia meminta temannya untuk menyusul si A yang sedang ke toilet tersebut sedemikian lamanya.

Tapi saya tidak mau menunggu, “Ok, bapak, ibu, saya jalan sekarang, dan payung di depan itu saya ambil sebagai pengganti payung saya.” Sambil berpamitan dan berjalan, saya ambil payung mereka dari tempatnya.

Ketika mobil saya mulai meluncur, dengan tiba-tiba seseorang mengejar dan memberhentikan mobil saya.

“Pak, ini payung bapak.”

Lho ketemu juga akhirnya. Tuh kan pak, kalau bapak mau belajar untuk sedikit memikirkan orang lain, toh akhirnya payung ini ditemukan. Dan memang ternyata di tempat bapak kan, bukan diambil orang? Terima kasih pak,” jawab saya.

“Yang itu, mana payung kami, tolong dikembalikan,” lanjutnya.

“O.. tentu, silahkan ini payung Anda pak. Terima kasih sudah mau bertanggung jawab pak. Saya pamit ya,” lanjut saya.

Mobil meluncur kembali, dan saya tersenyum.

Di dalam hati saya berkata, “Selamat bapak, ibu, teman-teman di tempat ini. Hari ini Anda telah belajar untuk berempati, mengambil tanggung jawab, tidak berfokus mencari gampang dengan menimpakan kesalahan kepada orang lain, berfikir untuk mencari solusi, dan tentunya meningkatkan customer service Anda dengan menangani pelanggan menyebalkan seperti saya.”

Terima kasih untuk payung tua dan jelek yang selalu menemani saya selama musim hujan ini.

Dan saya berkata kepada diri sendiri, “Selamat Sugeng, hari ini Anda telah belajar untuk bersabar,  berfikir jernih, dan berbagi pelajaran kepada orang lain. Sekarang segera cari roti dan teh manis untuk memberi perhatian pada tubuhmu ya…”

“Lapar juga aku akhirnya…”[SS]

* Sugeng Santoso adalah seorang Your browser may not support display of this image.Business Performance Coach dari Brian Tracy’s Focal Point Coaching – USA, Penulis Tetap Seputar Pengembangan Bisnis dan Pribadi di Majalah Pengusaha dan Majalah Media Kawasan, Penulis Buku Best Seller “Beyond Productivity”, Life Performance and Personal Development Coach, Your browser may not support display of this image.Motivational Trainer, Certified Firewalk/ Fire-eater/ Glasswalk Trainer.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Memberdayakan Fungsi Strategis KCP

Oleh A. Heru Kristanto*

Dalam sebuah struktur organisasi perbankan, termasuk Bank BTN, fungsi outlet sangatlah penting sebagai delivery channel kepada para nasabah. Outlet-outlet tersebut berupa Kantor Cabang (KC), Kantor Cabang Pembantu (KCP), dan juga Kantor Kas (KK) termasuk ATM. Kinerja sebuah bank sangat didukung oleh keberadaan dari outlet-outlet tersebut, karena outlet tersebut menyebar pada titik di mana para nasabah tinggal dan merasa lebih dekat dengan keberadaan bank tersebut. Namun, kehadiran outlet-outlet tersebut terutama outlet sekelas KCP sering kali belum dapat berfungsi secara optimal, sehingga belum memberikan kontribusi yang cukup bagi kinerja KC induknya. Bahkan beberapa KCP mengalami kemunduran (decline), stagnan, atau mengalamai penurunan aset. Padahal aktivitas bisnis di wilayahnya tetap tumbuh dan menjadi rebutan bank pesaing.

Bank BTN sebagai salah satu bank yang menggeluti bisnis ritel, sudah seyogyanya mempunyai banyak outlet yang menyebar di titik-titik konsentrasi nasabah. Dengan demikian para nasabah merasa nyaman dan merasa dekat jika ingin bertransaksi dengan Bank BTN. Outlet-outlet tersebut merupakan perpanjangan tangan dari KC, sehingga segala aktifitas bisnis dapat dikendalikan dan dilakukan di outlet tersebut terlebih lagi di KCP. Dalam struktur organisasi, KCP merupakan outlet terbesar dibawah KC, sehingga mempunyai prototipe organisasi yang mirip dengan KC. Dengan demikian, KCP lebih merupakan organisasi KC mini. Makanya jabatan Kepala KCP sering disebut sebagai branch manager junior (BM Jr).

Sebelum terbentuk cikal bakal KCP, biasanya dilakukan suatu riset studi kelayakan terhadap nilai potensi bisnis yang dapat diraih KCP di wilayah tersebut. Data bisnis dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti BPS, BI, observasi pasar, kehadiran bank pesaing, dan sumber-sumber terpercaya lainnya. Oleh karena itu, jika KCP sudah terbentuk, sangatlah wajar jika KCP tersebut diekspektasikan menjadi suatu outlet yang dapat mendukung kinerja KC. Misalnya, KCP diharapkan akan menambah aset dan laba. Selain itu, kehadiran KCP juga diharapkan mampu mewakili kehadiran Bank BTN di wilayah tersebut. Jika Bank BTN mampu hadir di setiap wilayah konsentrasi nasabah, maka akan membantu proses branding Bank BTN agar lebih dikenal dan dekat dengan nasabahnya. Positioning yang diharapkan dari nasabah adalah Bank BTN ada dimana-mana.

Tidak dapat dimungkiri bahwa keberhasilan KCP untuk tumbuh dan berkembang tidak lepas dari peranan Kepala KCP beserta seluruh staf yang ada didalamnya. Tidak jarang ada beberapa KCP yang stagnan, bahkan mengalamai decline, artinya asetnya tidak berkambang bahkan cenderung turun dan tidak dapat bersaing di wilayah bisnis tersebut. Tetapi banyak juga KCP yang terus tumbuh berkembang, bahkan menjadi cikal bakal terbentuknya KC baru karena adanya peningkatan aset dan kinerja dari KCP tersebut. Tentu kondisi yang terakhir ini yang sangat diharapkan, karena hal itu menunjukkan bahwa investasi pembentukan KCP dinilai manajemen telah berhasil.

Upaya dalam memberdayakan fungsi strategis KCP agar dapat mendukung kinerja KC dalam menumbuhkan aset dan laba, serta agar KCP tersebut terus tumbuh dan berkembang di wilayah bisnis lingkungannya, dapat dilakukan dengan beberapa hal berikut ini.

Pertama, KCP harus diberikan target yang realistis dan menantang. Targetnya adalah suatu target yang disesuaikan dengan potensi bisnis di wilayahnya dan harus dicapai dengan kerja keras. Jangan lupa bahwa target tersebut harus dituangkan dalam kontrak manajemen antara KC dengan KCP. Dengan kontrak manajemen, maka segala sesuatu akan menjadi terukur dan lebih bertanggung jawab. Kontrak manajemen tersebut harus terus dikawal sepanjang tahun agar target yang ditetapkan akan tercapai. Tentu didalamnya diperlukan bimbingan dan monitoring dari KC induknya. Jika target tidak tercapai dalam periode tertentu, misalnya dua tahun berturut-turut tidak tercapai, maka sudah sepantasnya dilakukan rotasi terhadap kepala KCP tersebut. Akan tetapi jika target tercapai, maka pemberian insentif layak diberikan untuk menambah motivasi pencapaian target berikutnya.

Kedua, kenali dengan baik lingkungan sekitar KCP dengan membuat suatu analisis potensi bisnis yang ada di wilayah kerjanya. Semua potensi bisnis yang ada harus dibidik, mulai dari sekolah, industri, wirausaha, UKM, perumahan, komunitas tertentu, perorangan, dan lain-lain. Dengan analisis potensi bisnis ini nantinya akan menjadi suatu alat yang mendukung pencapaian kinerja atau target yang telah ditetapkan. Manajer yang baik adalah seseorang yang mampu mengenal lingkungan kerjanya dengan baik, rinci, dapat menjelaskan kondisi pasar, dan nasabah yang menjadi binaan atau targetnya.

Ketiga, membuat rencana kerja harian, mingguan, dan bulanan. Rencana kerja ini harus tertulis rinci, terukur, dan terencana. Rencana kerja juga harus dilaksanakan dengan konsisten dan disiplin oleh semua jajaran KCP. Rencana kerja ini berupa daftar (list) calon nasabah potensial yang akan diprospek di wilayah KCP. Calon nasabah beragam, mulai dari nasabah perorangan, instansi, sekolah, developer, wirausaha, UKM, dll. Rencana kerja inilah yang menjadi dasar kegiatan marketing dan mengembangkan bisnis di KCP. Semakin banyak dan lengkap rencana kerja yang dibuat akan semakin mendukung kinerja KCP.

Keempat, membuat database semua nasabah, dimulai dari nasabah prima sampai dengan nasabah yang baru. Database ini sangat penting dan banyak manfaatnya. Ibarat kartu pasien yang memuat riwayat kesehatan pada suatu rumah sakit, maka database nasabah ini juga akan berfungsi untuk mengetahui riwayat nasabah mulai saat pertama kali menjadi nasabah hingga bertahan sampai sekarang. Dengan adanya database ini, maka jajaran KCP akan dapat mengenal dan melakukan maintenance nasabah dengan baik, baik itu nasabah individu maupun nasabah lembaga. Dengan sentuhan yang terus dilakukan oleh pihak bank, maka nasabah pasti akan merasa senang dan nyaman, sehingga diharapkan akan lebih mencintai Bank BTN.

Kelima, selalu melakukan riset pasar dan benchmarking terhadap keberadaan bank-bank pesaing untuk mengetahui perkembangan, sekaligus mengetahui share Bank BTN (KCP) di wilayah tersebut. Hal ini sangat penting dilakukan, agar pertumbuhan kinerja KCP signifikan dengan pertumbuhan market share yang diperolehnya. Jika market share semakin besar porsinya dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun, hal tersebut membuktikan bahwa KCP tersebut telah berhasil merebut dan memenangkan persaingan di wilayah kerjanya. Itu yang harus selalu dijaga dan dipertahankan.

Dengan melakukan hal-hal tersebut secara kontinyu dan konsisten, penulis yakin bahwa peran KCP yang strategis dalam mendukung kinerja KC induknya akan terwujud. Hal ini membuat KCP akan tumbuh berkembang menjadi outlet andalan dan kemungkinan akan menjadi cikal bakal terbentuknya KC baru. Jika organisasi semakin maju dan berkembang, sudah dapat dibayangkan bahwa kesejahteraan para pegawai akan ikut meningkat dan peluang kenaikan jabatan yang lebih tinggi akan terbentang di depan mata. Semoga!

* A. Heru Kristanto adalah alumnus Sarjana Teknik UNS, Surakarta, dan saat ini menjadi praktisi perbankan serta peminat bidang pemasaran dan properti. Heru dapat dihubungi melalui blog: http://aherukristanto.blogspot.com, email : masmuheru[at]gmail[dot]com, atau mobile phone: 0811 570 4966.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Strategi Mengurangi Beban Pajak Secara Sah

arles-oposungguOleh: Arles Ompusunggu

‘’In this world nothing can be said to be certain except death and tax.’’

~ Benjamin Franklin

Semua orang menyadari bahwa mati dan pajak adalah dua hal yang tidak terlelakkan. Secara mutlak bahwa kematian tidak mungkin ditunda karena setiap insan manusia pasti mati, tetapi kewajiban pajak walaupun pasti terjadi namun bisa dihindari melalui strategi perencanaan pajak yang tidak melanggar ketentuan Undang-Undang Perpajakan.

Pertanyaan yang menggelitik adalah apakah ada cara atau mekanisme untuk menghindari pajak menjadi zero tax payment? Beberapa strategi yang perlu diketahui oleh wajib pajak (WP) yang dapat digunakan sebagai alat perencanaan pajak untuk menghemat beban pajak di akhir tahun. Penulis merefleksikan pada artikel Stephen Fishman dengan judul ”Seven steps to lower your taxes” dengan kondisi yang berlaku di Indonesia sebagai berikut.

Satu, upayakan mendapatkan penghasilan yang bebas pajak. Perlu diketahui bahwa klasifikasi penghasilan menurut UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan (PPh) pada dasarnya mendefinisikan penghasilan ke dalam tiga kelompok yaitu, (1) penghasilan yang merupakan objek pajak (pasal 4 ayat 1); (2) penghasilan yang dikenakan tarif final (pasal 4 ayat2), dan (3) penghasilan yang bukan objek pajak (pasal 4 ayat 3). Nah bisa saja penghasilan yang kita peroleh selama setahun dikelompokkan dalam penghasilan bebas pajak. Banyak cara untuk mendapatkan penghasilan yang bukan merupakan objek pajak atau merupakan penghasilan yang telah dikenakan secara final sehingga tidak perlu dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) PPh akhir tahun. Misalnya dengan menjual aset yang berasal dari hibah orang tua kemudian hasilnya didepositokan maka akan terhindar dari pengenaan pajak penghasilan di akhir tahun.

Kedua, ambil keuntungan adanya kredit pajak selama tahun berjalan. Melalui pengakuan kredit pajak yang telah dibayar sendiri (angsuran tahun berjalan) maupun yang dipotong (dipungut) pihak ketiga maka akan tercapai pembebanan pajak yang seefisien mungkin. Pengertian kredit pajak adalah pajak yang dibayar di muka kepada negara yang dipotong atau dipungut pihak lain dari penghasilan yang diterima. Pajak ini dikenal dengan nama witholding tax dan pajak yang dibayar di muka. Dalam hal ini sebenarnya masyarakat pembayar pajak diwajibkan terlebih dahulu melunasi angsuran pajak dan pajak atas pemotongan serta pemungutan.

Jadi, negara sebenarnya belum berhak mengklaim penerimaan atas pajak-pajak dibayar di muka hingga perhitungan final oleh wajib pajak melalui mekanisme pelaporan SPT di akhir tahun. Kecuali atas pajak-pajak yang dikenakan tarif final seperti penghasilan dari transaksi saham dibursa efek, bunga deposito, penghasilan dari transaksi jual beli tanah dan bangunan, penghasilan dari persewaan harta tanah atau bangunan, dan transaksi pemajakan atas penghasilan tertentu yang ditetapkan pemajakannya dengan Peraturan Pemerintah.

Sering terjadi tanpa disadari bahwa pajak yang dibayar di muka sebenarnya bisa menutupi perhitungan pajak terutang tetapi karena ketidaktahuan atau ketelodoran wajib pajak sehingga bukti pembayaran pajak tersebut gagal untuk dikreditkan. Penyebabnya seperti bukti potong dari penerima jasa atau yang membayarkan tidak ada, cacat, atau hilang sehingga merugikan wajib pajak sendiri.

Ketiga, tunda (tangguhkan) pembayaran pajak terutang tanpa dikenakan sanksi administrasi (penalti) oleh kantor pajak. Menunda pembayaran pajak hingga batas akhir masa pembayaran merupakan fasilitas pinjaman kredit tanpa bunga dari pemerintah. Sebagaimana diketahui pembayaran pajak terdiri atas pembayaran masa dan pembayaran akhir tahun. Setiap bulan setoran masa yang wajib dibayarkan sendiri merupakan angsuran PPh, pasal 25 wajib dibayar paling lambat tanggal 15 setiap bulan. Sedangkan sisa pajak kurang bayar hasil perhitungan final berdasarkan self assesment yang dilakukan oleh wajib pajak harus disetor paling lambat akhir bulan Maret tahun berikutnya untuk PPh kurang bayar orang pribadi dan akhir April tahun berikutnya bagi setoran akhir PPh Badan. Sesuai konsep nilai waktu dari uang maka kesempatan penghematan dari penundaan pembayaran pajak hingga last minute merupakan peluang yang sah menurut undang-undang.

Keempat, maksimisasi tax deduction. Semakin besar pengurang atau biaya usaha maka akan semakin kecil beban pajak terutang. Komposisi biaya yang bisa mengurangi penghasilan kena pajak bergantung kepada jenis dan sumber penghasilan yang diperoleh wajib pajak. Bagi pekerja yang semata-mata hanya memperoleh penghasilan dari pemberi kerja maka maksimisasi pengurang pajak dilakukan dengan menerapkan Penghasilan Tidak Kena Pajak dan Biaya Jabatan yang besarnya masing-masing 15.840.000 rupiah (diri sendiri, tidak kawin) dan 6 juta rupiah setahun. Sedangkan bagi wajib pajak yang memiliki usaha atau pekerjaan bebas maka jumlah biaya yang dapat mengurangi penghasilan neto sangat fleksibel bergantung pada jenis usaha dan pelaksanaan kewajiban pembukuan dan pencatatan akuntansi.

Orang pribadi yang mempunyai usaha dapat memilih menggunakan pembukuan atau tidak dengan batas treshold omset setahun yang diatur dalam pasal 14 ayat 2 UU No. 36 Th 2008 sebesar 4,8 milar rupiah. Jika tidak menggunakan metode pembukuan maka pengenaan pajak secara deem profit atau norma penghitungan. Artinya berapapun omset akan dikenakan penghasilan neto berdasarkan persentasi tertentu berdasarkan Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. Sebagai contoh, pedagang eceran barang kelontong di Jakarta dengan omset setahun 2 miliar rupiah maka penghasilan neto KLU 62200 berdasarkan Keputusan Dirjen Pajak Nomor 536/PJ/2000 tanggal 29 Desember 2000 adalah 30% atau sebesar 600 juta rupiah. Yang menjadi dasar pengenaan PPh tarif berlapis pasal 17. Bandingkan apabila wajib pajak yang bersangkutan menyelenggarakan pembukuan akan bisa membebankan segala tetek bengek biaya usaha sehingga penghasilan neto tidak sebesar jika menggunakan norma penghitungan.

Kelima, usahakan untuk mendapat pengurangan lapisan tarif pajak PPh pasal 17. Pengurangan lapisan tarif pajak tertinggi dapat dicapai melalui penggeseran penghasilan kena pajak (pasal 4 ayat 1 UU PPh) menjadi penghasilan yang dikenakan tarif final (pasal 4 ayat 2 UU PPh) seperti saham, deposito, dividen (khusus yang diterima perseorangan), real estate, dan penghasilan yang bukan objek pajak (pasal 4 ayat 3 UU PPh) seperti hibah serta sumbangan. Konteks pengurangan pajak ini hanya relevan untuk penghasilan yang diperoleh wajib pajak orang pribadi sedangkan untuk wajib pajak badan sejak tahun pajak 2009 telah dikenakan single tarif sebesar 28% dan mulai tahun pajak 2010 akan turun menjadi 25%.

Keenam, usahakan untuk dapat menggeser beban pajak ke pihak lain (tax shifting to others). Apabila penghasilan Anda sudah terkena lapisan tarif pajak penghasilan yang tertinggi misalnya tarif 30% maka secara substansi beban pajak terutang dapat digeser. Ke pihak terkait yang masih berada dalam lapisan tarif pajak yang lebih rendah seperti memberikan hibah kepada anak Anda. Namun dalam hal ini yang mendapat pembebasan pajak adalah si penerima hibah. Sedangkan bagi si pemberi tetap merupakan penghasilan yang dikenakan pajak pada saat pertama kali memperolehnya.

Ketujuh, ambil keuntungan dari status SPT dan pengecualian pajak (tax exemption). Berbagai pengecualian yang dapat mengurangi beban pajak dapat disiasati apabila kita jeli mengelola penghasilan yang merupakan objek pajak dan bagian mana yang dapat menjadi pengecualian pajak. Tentu tidak mudah untuk merealisasikan dan mengarahkan secara awam tanpa direkomendasikan oleh perencana pajak yang handal. Namun yang perlu disikapi adalah bahwa UU Pajak Penghasilan memberikan ruang yang cukup lebar kepada masyarakat untuk menghindar dari pajak. Seperti contoh apabila perseorangan membentuk usaha partnership maka atas penghasilan yang dibagikan kepada masing-masing partner sesuai pasal 4 ayat 3 huruf i UU No. 36 Tahun 2008 bukan penghasilan yang dikenakan pajak penghasilan sehingga menjadi bebas pajak secara sah menurut Undang-Undang Pajak. Selamat mencoba dan sukses untuk pembaca yang budiman.[ao]

* Arles Omposunggu adalah praktisi perpajakan.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Gadis Singkawang dan Matahari

hfOleh: Hanna Fransisca*

Siang itu teramat terik. Cahaya matahari garang serasa membakar tenggorokan.

Untuk melepas dahaga, saya duduk di warung pinggir jalan sambil menghirup segelas air tebu dingin.

Dari jauh saya melihat seorang lelaki tua berpakaian serba orange berdiri di bawah pohon. Berkali-kali ia mengelap keringat di dahinya dengan ujung baju, sambil tetap berdiri, lalu sebentar kemudian meneruskan pekerjaaannya. Berkawan debu, menyapu geraian dedaun kering yang berserak di jalan, sampah-sampah plastik, kertas-kertas, dan botol minuman. Debu-debu tebal terus berterbangan. Debu yang tak bakal nyaman untuk lobang hidung siapa pun. Termasuk, tentu saja untuk lelaki itu.

Lelaki itu, yang tengah asyik menikmati pekerjaannya, tiba-tiba mengingatkan saya pada cerita seorang teman yang beberapa saat lalu berkunjung kembali ke Indonesia. Berikut kisah teman, yang bagi saya sangat sulit untuk dilupakan.

Kau tahu, aku tak pernah membayangkan bagaimana hidup sebagai seorang penyapu. Barangkali setiap orang kalau bisa, tidak akan sudi menjadi seorang penyapu jalanan. Sebuah pekerjaan yang kuanggap kotor dan rendahan.

Awalnya aku memilih menikah dengan lelaki Taiwan demi mengangkat martabat keluarga. Demi perbaikan ekonomi yang lebih baik, begitulah yang aku niatkan dengan sungguh-sungguh. Maka aku menjalani hidup sebagaimana mestinya. Tanggung jawab sebagai seorang istri aku laksanakan tanpa banyak mengeluh. Seperti umumnya perempuan Singkawang yang lahir dan dibesarkan di lingkungan keras, tak ada kata mengeluh dari setiap keputusan yang telah ditetapkan. Begitulah, maka kami berketetapan menikah, lalu pergi ke Taiwan dan berharap kebahagiaan.

Awalnya kami berkomunikasi dengan bahasa tubuh, sebab pada saat itu aku belum pandai berbahasa Mandarin. Apa pekerjaan suamiku, aku tak tahu pasti. Bukan karena dia tidak bercerita padaku, melainkan aku tak paham apa yang dia ceritakan saat itu. Setiap hari dia berpakaian rapi, setelan jas dengan dasi. Tak lupa sepatu yang mengilat. Pada keluargaku di Indonesia, aku ceritakan dengan pasti bahwa suamiku orang kantoran. Aku sangat bangga menceriterakannya.

Setelah beberapa bulan di Taiwan, aku mulai bisa berbahasa Mandarin sedikit demi sedikit. Sungguh aku berusaha keras untuk itu. Jika ada kesempatan luang, aku selalu gunakan untuk berjalan-jalan, melihat-lihat suasana di sekitar tempat tinggalku. Tentu tak berani jauh-jauh. Sampai kemudian aku mempunyai seorang sahabat, yang kebetulan juga berasal dari Indonesia dan menikah dengan orang Taiwan setahun sebelum aku menikah. Bersama sahabatku itulah, aku berani menjelajahi jalan-jalan di Taiwan sedikit lebih jauh.

Aku sangat kagum dengan pemandangan jalan kota yang bersih. Temanku selalu memuji, “Kita sering melupakan jasa seorang tukang sapu yang rela membiarkan tubuh mereka kotor demi kebersihan orang banyak.” Saat itu kebetulan ada seorang penyapu jalanan yang sedang asyik menyapu jalan. Wajahnya tertunduk. Ia tampak serius. Tapi aku merasa mengenal postur tubuh itu. Aku perhatikan baik-baik. Wajahnya sedikit mirip wajah suamiku. Aku pikir itu kebetulan saja. Tuhan pasti menciptakan wajah yang sama di dunia.

Beberapa hari terlewatkan begitu saja. Entah kenapa di suatu saat yang lain, aku ingin melewati jalan itu lagi, jalan di mana aku menyaksikan lelaki yang berwajah sama dengan suamiku, sedang menyapu jalanan. Dugaanku benar. Aku menemukan lelaki itu kembali. Aku mencoba mempelajarinya lekuk tubuhnya dari seberang jalan. Terasa tak asing. Lelaki itu mengelap keringat. Ia sesekali menengadahkan kepala menatap langit, menarik napas panjang, dan membuangnya kencang-kencang. Tampak sekali ia kelelahan. Risau lantaran tak begitu percaya terhadap apa yang dilihat, aku buru-buru meninggalkan lelaki itu, dan kembali ke rumah.

Menjelang malam suamiku muncul di depan rumah. Memamerkan senyum ceria seperti biasanya, dan menunjukkan padaku sebungkus bebek panggang yang amat kusuka. Aku sering terharu dengan kebaikan dan perhatiannya padaku. Kupikir aku mulai jatuh cinta padanya setelah beberapa bulan aku menikah dengannya begitu saja.

Memikirkan kejadian siang, aku tidak bisa tidur sepanjang malam. Sementara suamiku sudah mendengkur dengan keras, aku perhatikan kembali wajahnya baik-baik. Wajah yang sama dengan tukang sapu yang dua kali kutemui di jalan yang sama. Ah, tidak mungkin. Suamiku orang kantoran. Aku sulit mendamaikan hati dan pikiran.

Esok paginya, diam-diam aku membuntuti suamiku ke kantornya. Ia melangkah keluar rumah dengan tegap, lengkap dengan jas dan dasi, dan tentu saja sepatu yang mengilat. Hatiku bergemuruh, mengharap dalam doa semoga apa yang kulihat kemarin itu keliru. Suamiku menghentikan bus dan aku merelakan diri untuk menyewa taksi. Benar, suamiku memasuki sebuah gedung perkantoran. Agak plong hatiku saat itu. Aku turun dan duduk di kantin seberang kantor untuk menikmati kelegaan yang baru saja kudapat, sambil menghirup segelas air putih. Tapi tak lama kemudian aku terperanjat. Seorang lelaki berpakaian seragam lengkap dengan topi dan sepatu bot keluar dari kantor itu. Aku yang belum bisa mengeja tulisan huruf-huruf kanji yang tertera di muka kantor itu, hanya mampu melongo.

Tangan lelaki itu menggengam sapu. Astaga, dia suamiku! Sungguh-sungguh suamiku. Aku ingin menjerit saat itu. Sulit rasanya takdir itu kuterima. Tapi sebisa mungkin aku menahan diri. Sekuat tenaga aku menenangkan diri. Setelah lelaki itu menghilang, aku kembali ke rumah dengan ribuan pikiran kacau.

Aku terlanjur membanggakan jas, dasi, dan sepatu suamiku yang selalu mengilat. Aku terlanjur membanggakan diri dalam surat-suratku ke kampung halaman bahwa suamiku bekerja di sebuah kantor besar di jantung Kota Taiwan. Aku yang kini kebingungan bagaimana menceritakan pada orang tuaku bahwa putri yang mereka banggakan, yang konon menikah dengan orang asing kaya, ternyata hanya menikahi seorang tukang sapu jalanan. Aku juga kebingungan apakah aku harus mempertanyakan itu pada suamiku, atau diam saja menunggu sampai dia yang bercerita. Sungguh aku serba tak tahu di saat itu.

“Saat kau memutuskan menikah dengan seseorang, maka terimalah dengan lapang dada kebaikan dan keburukan pasangan hidupmu. Di dapur kau berdua boleh hanya memakan nasi dan garam putih, tapi di luar sana orang-orang tak perlu tahu,” itu pesan nenekku yang kuanggap kolot saat aku akan berangkat. Tapi pepatah itu kini kembali terngiang, dan memaksa untuk direnungkan. Mengingat hal itu, ada sedikit ketenangan yang menyelimuti kegalauanku. Seperti mendapat pencerahan, aku berniat tidak menyinggung perasaan suamiku yang baik. Aku putuskan tidak bertanya.

Aku juga tak mau orang tuaku yang jauh di sana mencemaskan hidupku. Maka, aku putuskan tidak akan bercerita masalah kantor lagi pada mereka. Sejak saat itu aku belajar, belajar tidak terlalu membanggakan sesuatu yang hanya tampak dari luar saja. Dan aku pahami dengan baik, jika suamiku bisa membiarkan tubuhnya ditempeli debu jalanan dan kotoran demi kenyamanan orang banyak, kenapa aku tak bisa menyapu bersih debu di hatiku. Toh, keduanya sama mulia.

***

Begitulah saya melewati siang itu dengan sebuah kenangan. Saya menghirup tetes terakhir air tebu di meja. Menatap bangga pada lelaki dengan seragam oranye yang tengah berjuang di tengah kepulan debu. Di tengah badai debu kotor yang tentu saja semua tahu, tak akan nyaman bagi hidung siapa pun termasuk lelaki itu. Ribuan jalan-jalan di kota ini selalu membutuhkan sapu. Ratusan ribu kendaraan yang melintas di atasnya, barangkali tak pernah sempat bertanya kenapa daun-daun, plastik-plastik, serta sampah-sampah makanan yang dibuang dari jendela mobil, selalu lenyap ketika hari berganti. Mengingat hal itu, rasanya saya perlu sesekali untuk menghampirinya, barangkali hanya untuk sekadar mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.[hf]

* Hanna Fransisca adalah ibu dari empat anak yang sehari-hari bekerja di Singkawang Motor, Jl. Sultan Agung Km 27, Pondok Ungu, Bekasi Barat dan Bintang Perkasa Jaya Motor Jl. Mauk/Mohammad Toha No 1, Bugel, Tangerang. Ia gemar membaca, menulis puisi, cerpen, dan esai kehidupan. Hanna dapat dihubungi di pos-el: h4n4_1979[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (10 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 5 votes)

Bahan Bakar Pekerjaan Anda

asOleh: Andrew Abdi Setiawan*

Apa yang membuat seseorang rela bekerja dalam situasi yang sulit, penuh risiko, bahkan terkadang tidak menguntungkan bagi dirinya? Apa yang membuat seseorang tahan banting ketika harus menghadapi tantangan pekerjaan yang maha berat? Itu bukan lagi soal bakat, itu bukan lagi soal talenta, tapi soal gairah! Gairah lebih penting dibandingkan suatu program atau agenda pekerjaan. Gairah menciptakan dan memelihara api semangat untuk bekerja. Dengan kata lain, gairah adalah bahan bakar pekerjaan Anda, dan saya pula!

Apa itu gairah? Apakah gairah adalah keinginan? Masih belum pas! Gairah adalah keinginan yang AMAT BESAR! Izinkan saya menggambarkannya sebagai berikut: Satu kali seorang pemuda yang sombong datang kepada filsuf Socrates. Dengan wajah menyeringai ia berkata, “Socrates yang mulia, aku datang kepadamu untuk mendapatkan pengetahuan.”

Karena melihat kesombongannya, Socrates menuntunnya ke dalam air laut setinggi pinggang. Ia bertanya, “Katakan sekali lagi, apa yang kamu inginkan?”

“Pengetahuan,” jawab pemuda itu.

Ia lalu mencengkram pemuda tadi dan menenggelamkannya selama 30 detik. “Apa yang engkau inginkan?” tanya Socrates.

“Pengetahuan!” jawab pemuda itu sambil terbatuk-batuk.

Socrates kembali menenggelamkannya, kali ini lebih lama. Sewaktu pemuda tersebut muncul di atas air, Socrates bertanya, “Apa yang kamu inginkan?”

“Pengetahuan,” kata pemuda itu sambil menarik napas sebelum ia ditenggelamkan lagi.

Untuk terakhir kalinya, Socrates kembali menenggelamkannya dan lebih lama lagi waktunya. “Apa yang kamu inginkan?” Socrates bertanya saat pemuda itu muncul di atas air lagi.

Dengan batuk-batuk dan megap-megap, ia menjawab, “Udara . . . udara! Aku membutuhkan udara!”

Lantas Socrates berkata kepadanya, “Jika kamu menginginkan pengetahuan seperti kamu membutuhkan udara, maka kamu akan mendapatkan pengetahuan itu.”

Gairah adalah keinginan yang AMAT BESAR sebesar kebutuhan kita untuk menghirup udara setiap saatnya.

Seorang penulis dan editor, Norman Cousins, berkata, “Kematian bukanlah kerugian terbesar dalam hidup. Kerugian terbesar adalah apa yang mati dalam diri kita sementara kita masih hidup.” Tanpa gairah, maka pekerjaan kita akan bersifat rutinitas dan ritualitas. Amat membosankan! Tanpa gairah, maka pekerjaan kita akan mati terlebih dahulu sebelum kita mati. Amat ironis!

Bagaimana caranya membangkitkan dan memelihara gairah dalam bekerja? Renungkan ini, masalah apakah yang ada di tempat usaha/kantor yang paling membuat Anda prihatin? Apa dampaknya bila masalah tersebut dibiarkan terus-menerus? Kemudian, bayangkan dan rasakan bila Anda bisa menjadi salah satu alat yang dipakai Tuhan untuk menjawab masalah tersebut. Be available untuk membawa solusinya. Yang terakhir, senantiasalah bergaul dengan rekan-rekan yang memiliki keprihatinan yang sama. Mengapa? Sederhana, yaitu agar gairah bekerja Anda, khusus dalam menyelesaikan suatu masalah tetap terpelihara. Selamat bergairah![aas]

* Andrew Abdi Setiawan, seorang rohaniwan di kota Surakarta. Ia sedang menggeluti pelayanannya sebagai seorang WTC—writer, trainer/teacher, counselor. Tulisan “Mitos-mitos Hidup Lajang” tadi merupakan salah satu cuplikan dari sebuah buku saku yang segera diterbitkan oleh Penerbit Kanisius dalam waktu dekat. Selain itu, lewat Penerbit Kanisius, ia sudah menerbitkan buku tentang spiritualitas Kristen dalam Lebat tetapi Tak Berbuah. Untuk berhubungan lebih lanjut, silakan kirim pos-el ke: becomingwtc[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Berani Berkata Tidak Demi Kebaikan Diri dan Lingkungan

lhOleh: Lianny Hendranata*

Banyak orang tidak berani bilang TIDAK pada apa yang dimintakan pada dirinya. Maka yang terjadi, dia selalu berkata: Ya, ok, atau baiklah, sebagai pengganti kata menyanggupi sesuatu yang diminta darinya. Sepintas hal ini tidak ada yang bermasalah dan terkesan bagus jika kita selalu bisa menolong orang lain. Tetapi, apa yang terjadi di balik kata: Ya, ok, atau baiklah?

Dengan tidak mempunyai keberanian menolak—dengan kata lain tidak berani mengatakan tidak mau, tidak sanggup, tidak bisa, dan sebagainya—kita bisa membuat susah diri dan lingkungan kita sendiri. Mengapa ini bisa terjadi?

Banyak orang yang selalu bisa bilang ya pada setiap orang yang meminta apa pun padanya. Baik jasanya, bendanya, bahkan ide-ide, dan sebagainya. Maka, orang ini menjadi popular dalam pergaulan dan menjadi sosok yang bisa diandalkan oleh semua orang. Tetapi, apakah benar demikian adanya?

Ternyata setelah menyurvei, banyak orang yang begitu popular dalam pergaulan dan terkesan selalu siap sedia untuk membantu orang lain. Dengan perkataan ya di setiap saat, justru sosok ini adalah orang yang tidak tahu menghargai dirinya dan lingkungannya. Bahkan, menyusahkan dirinya sendiri, juga lingkungannya. Mengapa bisa demikian?

Coba kita tinjau contoh-contoh di bawah ini. Sadar atau tidak, Anda dan saya sering melakukannya. Contoh dari situasi yang sebenarnya kita ingin atau mau sejujurnya menjawab tidak. Ketika teman atau kerabat menelepon dan mengajak kita pergi ke mal, padahal kita sedang asyik menikmati liburan di rumah dengan membaca buku dan sejujurnya kita malas untuk pergi. Pikiran otomatis yang tidak realistis—untuk menghindar dengan berkata TIDAK—muncul karena yang keluar dari pikiran kita adalah: jika saya bilang tidak mau, bisa melukai dia, juga bisa menjadi marah; saya tidak punya alasan yang tepat untuk menolaknya; saya tidak enak karena dia teman atau kerabat dekat, dan sebagainya. Akhirnya, kita terpaksa menjawab: ok, ya, baiklah! Tetapi, hati kita tidak rela untuk pergi. Nah, apakah ini baik untuk diri kita dan lingkungan?

Dalam kejadian ini, yang dirugikan hanya pihak kita karena pergi dengan terpaksa. Lalu, masih ada contoh lain sebagai berikut. Teman atau kerabat meminta kesediaan Anda untuk menjadi penerima tamu dalam pesta pernikahan anaknya. Padahal, pada hari dan tanggal tersebut, ada juga acara syukuran teman sekantor yang baru sembuh dari sakit. Pikiran otomatis mengatakan, jika saya bilang tidak bisa, nanti dikira saya tidak mau rukun dengan teman atau kerabat. Tetapi jika bilang ya atau baiklah, saya juga tidak enak hati dengan teman yang mengundang syukuran. Nah, akhirnya pada keduanya Anda bilang ya, “Baiklah, saya akan datang dan memenuhi permintaan kamu.”

Ternyata, yang terjadi pada hari tersebut jarak tempuh yang cukup dan lalu lintas yang macet, membuat Anda terlambat untuk menjadi penerima tamu. Itu karena Anda tidak bisa bilang tidak, saat tetap ditahan oleh teman yang kangen karena sakit yang lama dan dalam suasana bersyukur. Akhirnya, penerima tamu dalam pesta tidak ada atau kurang lengkap karena Anda datang sangat terlambat.

Nah dalam hal ini, selain menyusahkan diri sendiri yang tidak mampu bilang; tidak bisa, tidak mau, tidak sanggup, maka pihak yang Anda sanggupi dengan berkata; ya saya bisa, ya saya mau, juga menjadi susah karena acaranya berantakan dengan ketidakhadiran atau keterlambatan Anda di pestanya.

Terbelenggu
Jika kita merasa harus bisa bilang YA, sedangkan sebenarnya dalam diri kita mau bilang TIDAK, saat itulah penting bagi kita untuk sadar dengan pola pikiran yang selama ini terbentuk. Tentu tidak masalah kalau kita sesekali memanipulasi pikiran kita sendiri dengan berkata ya, saat sebenarnya kita ingin mengatakan tidak. Untuk seterusnya berdasarkan pola pikiran yang tidak realistis itu membuat kita terjebak dalam permainan pikiran kita sendiri. Akhirnya, kita membuat diri seperti selalu harus baik/ramah dan bersedia menolong, tetapi justru lebih menyusahkan diri sendiri. Hal itu jelas terlihat pada ilustrasi cerita di atas.

Dengan demikian, penting bagi kita untuk mulai belajar mengenali pola pikiran sendiri yang selalu merasa bersalah jika berkata TIDAK. Kita harus belajar atau bersedia memulai untuk menabrak pola pikiran yang selama ini terbentuk dengan mengantisipasi risiko dari menjawab tidak kita juga bisa membuat pertanyaan kritis terhadap diri sendiri: Jika kita berkata tidak, apakah efeknya untuk diri kita dan lingkungan lebih baik atau malah merusak?

Belajar dari pengalaman dengan selalu menjawab YA, apakah selama ini hasilnya selalu baik untuk diri maupun lingkungan? Buat juga pertanyaan kritis pada diri sendiri, bahwa selama ini dengan selalu menjawab ya, sebenarnya kita menyakiti diri sendiri dan hanya menyenangkan orang lain. Kita harus belajar memahami pikiran dan perasaan kita sendiri dan tahu bahwa kita mempunyai hak penuh untuk mengatakan TIDAK, tanpa ada keharusan menjawab alasannya. Tidak bisa dimungkiri kita terbelenggu dengan pola kebiasaan, pola yang berpikir untuk bisa menjadi orang ramah, orang baik, dengan selalu siap menjawab ya. Sebaliknya, merasa bersalah jika sampai berkata TIDAK terhadap orang lain yang datang pada kita.

Untuk menjaga relasi sosial tetap berjalan baik, kita bisa mengganti kata TIDAK dengan kata-kata yang dianggap lebih halus. Kita bisa mengganti kata tidak dengan berkata,”Bukan selera saya, terima kasih” atau Saya sudah ada janji lain”. Yang paling umum menggantikan kata tidak untuk menolak sesuatu yang kita tidak mau perbuat adalah dengan mengatakan, Saya sangat sibuk atau “Jadwal saya sudah sangat padat”. Kata-kata atau kalimat itu terasa lebih luwes.

Pelahan tapi pasti, kita harus belajar untuk berani berkata TIDAK terhadap sesuatu yang bisa membuat diri dan lingkungan menjadi bermasalah, karena kita melakukan sesuatu dengan terpaksa, dan hal ini sebenarnya sesuatu yang bisa kita tolak karena memang tidak mau melaksanakannya.[lh]

* Lianny Hendranata adalah penulis enam buku kesehatan, kolomnis harian Suara Pembaruan, majalah Wanita & Kesehatan, portal Okezone.com, dan majalah Indonesie yang terbit di Belanda. Selain itu, ia adalah seorang pembicara seminar, instruktur healing energy, trainer autohipnosis, konsultan kesehatan energi aura dan cakra, instruktur kesehatan dan kecantikan dengan metode Tai Chi, sekaligus Direktur Srikandi Internusa dan Inspiration Centre. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: ray_and_mel[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 3.3/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

The Power of Self-Talk

dmOleh: Dodie Magis*

Self-talk atau pembicaraan pribadi (bicara pada diri sendiri) adalah sesuatu yang tampaknya sangat sederhana dan hampir tidak pernah dibahas. Namun, dampaknya sangat besar bagi diri kita. Self-talk adalah sesuatu yang sangat menentukan akan menjadi seperti apakah seseorang di masa mendatang. Self-talk adalah akar permasalahan psikologis yang paling utama, dari situlah kebiasaan, karakter, dan keyakinan seseorang terbentuk. Selama self-talk seseorang tetap positif, dia tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif dari luar. Hal negatif dari luar hanya akan berdampak negatif terhadap diri kita jika diperkuat dengan self-talk yang negatif. Pembahasan mengenai self-talk ini sangat penting sehingga penulis sengaja membahasnya dalam bab tersendiri agar lebih diperhatikan oleh pembaca.

Mengapa self-talk sangat perlu untuk diperhatikan?

Self-talk adalah hal yang sangat menentukan apakah seseorang akan menjadi orang baik atau tidak. Yang menentukan apakah seseorang akan menjaga kesehatannya atau tidak. Yang menentukan apakah seseorang memiliki rasa percaya diri tinggi atau rendah. Yang menentukan apakah seseorang akan menjadi orang penting atau malah menjadi seorang pecundang. Dan, yang menentukan apakah seseorang bisa maju dan berkembang atau hanya diam di tempat.

Ya, semuanya berasal dari self-talk. Tidak akan ada perubahan apa pun yang terjadi, sebelum diawali dengan self-talk. Anda tidak akan pernah jatuh cinta kepada seseorang sebelum Anda mengatakan pada diri sendiri; “Sepertinya, saya mulai jatuh cinta kepadanya”, atau “Saya rasa, mulai sekarang saya mencintainya”. Hanya saja, karena hal tersebut hampir tidak pernah dibahas, sehingga sering kali Anda tidak menyadarinya.

Memang ada kalimat dari orang bijak yang sebenarnya membahas tentang self-talk secara tersirat, kalimat tersebut berbunyi “Semuanya tergantung dari niatnya.Tetapi, sangat jarang orang yang mengerti bahwa yang dimaksud orang bijak tersebut adalah self-talk. Seseorang yang mengerjakan hal-hal positif hanya karena terpaksa disebabkan oleh tekanan dari lingkungan keluarganya, dia tidak akan pernah menjadi orang yang benar-benar baik/positif.

Seseorang yang berhenti menggunakan narkoba hanya karena tekanan dari keluarganya, tidak akan pernah benar-benar berhenti menggunakan narkoba. Mengapa demikian? Karena self-talknya bisa jadi masih bertentangan dengan anjuran keluarganya. Dan, selama self-talknya tidak berubah, orang tersebut akan tetap begitu walaupun banyak orang menasihatinya. Itulah sebabnya hypnosis tidak dapat diterapkan pada orang yang tidak ingin dihipnotis dan tidak ingin mencapai perubahan.

Mungkin para pembaca bertanya, lalu apa gunanya panti rehabilitasi, psikolog, psikiater, hypnotherapist, kalau seseorang tidak bisa berubah selama seseorang tidak mengubah self-talk-nya? Sekarang mari kita lihat, betapa banyak orang yang pergi ke ahli jiwa karena terpaksa disebabkan oleh tekanan dari keluarganya dan akhirnya tetap tidak berhasil. Itu dikarenakan self-talk-nya belum berubah. Orang yang bisa berubah karena bantuan ahli jiwa adalah orang yang dengan suka rela datang ke ahli jiwa untuk berubah, karena dia sudah pasti memiliki self-talk yang positif seperti, “Saya siap menerima nasihat dari ahli jiwa yang akan saya datangi, karena dia lebih tahu dari saya, karena dia dengan ilmu pengetahuannya mungkin bisa menolong saya.

Dan, karena self-talk-nya demikian, perlahan-lahan pikirannya terbuka untuk menerima saran dan nasihat dari luar. Sehingga, tanpa disadari orang tersebut terbujuk untuk mengganti self-talk-nya yang negatif dengan self-talk yang positif. Kalau sudah begitu, sebenarnya seorang ahli jiwa hanya membantu memperkuat tekad seseorang untuk berubah, dengan mengemukakan alasan-alasan yang logis dan masuk akal, tentunya dengan ilmu pengetahuan yang dikuasainya sehingga dengan sukarela orang tersebut mau berubah menjadi lebih baik.

Bagaimana self-talk bisa memengaruhi diri kita sedemikian besar?

Self-talk dapat memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap diri kita. Karena, self-talktanpa disadari oleh sebagian sangat besar dari kitasebenarnya sama saja dengan menyugesti dan memprogram alam bawah sadar kita. Padahal, seperti penulis kemukakan dari awal, alam bawah sadar memiliki pengaruh terhadap diri kita 9 kali lipat lebih kuat daripada pikiran sadar. Lalu, bagaimana mungkin seseorang bisa berubah menjadi lebih baik jika self-talk-nya masih negatif?

Bagaimana self-talk bekerja?

Secara lebih mendetail, dapat dijelaskan bagaimana self-talk bekerja secara bertahap sehingga memengaruhi pikiran bawah sadar kita. Pertama, self-talk memengaruhi tindakan kita, lalu lama-kelamaan tindakan kita tersebut berubah menjadi kebiasaan. Setelah tindakan tersebut menjadi kebiasaan, lama-lama menyatu dengan karakter/sifat Anda, dan setelah menyatu dengan sifat Anda, self-talk awal Anda mulai menjadi realitass dalam kehidupan Anda, yang akhirnya membuat Anda percaya bahwa keyakinan Anda memang benar. Dan setelah itu terjadi, self-talk awal Anda akan diperkuat oleh self-talk baru yang senada namun lebih kuat lagi. Kemudian, self-talk Anda tersebut akan bekerja secara bertahap seperti pada siklus pertama, namun dengan pengaruh yang semakin kuat. Begitulah seterusnya self-talk bekerja memengaruhi diri Anda tanpa henti.

Self-talk –> sugesti –> alam bawah sadar –> realitas

Jadi, dari keterangan di atas, kita bisa mengambil kesimpulan apa yang akan terjadi 1 tahun dari sekarang. Jika seseorang memiliki self-talk yang positif dan dilakukan secara terus-menerus, ya, seseorang tersebut akan menjadi jauh lebih positif daripada saat ini. Sebaliknya, self-talk yang negatif juga bekerja dengan cara yang sama untuk membuat diri kita menjadi sangat negatif. Maka dari itu, penulis mengingatkan kepada pembaca, seberat apa pun masalah yang Anda hadapi, janganlah sekali-kali mengatakan pada diri sendiri hal-hal yang negatif karena hal itu hanya akan merugikan diri kita sendiri.

Saya ingin berubah menjadi orang yang lebih baik, apa yang harus saya lakukan?

Ada banyak cara untuk mengubah diri menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tapi, sebelum Anda melakukan cara yang mana pun, yang perlu Anda lakukan pertama kali supaya Anda benar-benar bisa berubah menjadi orang yang lebih baik adalah; gantilah self-talk Anda dengan self-talk yang positif. Sering kali seseorang ingin berubah, namun kurang berhasil karena masih memiliki self-talk yang negatif. Misalnya, seseorang yang ingin berhenti menggunakan narkoba, tapi dia selalu berkata dalam hati, “Apa saya bisa ya untuk benar-benar berhenti menggunakan narkoba? Sejauh ini saya sudah mencoba berkali-kali untuk berhenti dan akhirnya tetap tidak bisa. Apa mungkin saya bisa benar-benar bebas dari narkoba? Saya rasa tidak, tapi tidak ada salahnya saya mencoba untuk berhenti.

Self-talk seperti ini hanya akan membuat usaha yang akan dilakukan gagal. Karena, dia sudah menyugesti diri sendiri bahwa dia sulit untuk bebas dari narkoba. Dan, karena self-talk pada akhirnya menjelma menjadi realitas, maka orang tersebut akan menemukan kenyataan bahwa dia memang tidak bisa terbebas dari narkoba. Untuk itu, hal pertama yang perlu dilakukan untuk bisa berubah menjadi lebih baik adalah dengan mengganti self-talk Anda dengan self-talk yang positif.

Anda tidak bisa menghilangkan kebiasaan Anda yang negatif hanya dengan menggantikannya dengan kebiasaan yang positif. Tapi, Anda bisa menghilangkan kebiasaan negatif Anda dengan mengganti self-talk Anda yang negatif dengan self-talk yang positif. Karena, self-talk Anda secara langsung memengaruhi tindakan Anda, dan selanjutnya tindakan Anda memengaruhi kebiasaan serta tingkah laku Anda yang pada akhirnya menjadi realitas dalam kehidupan Anda.

Contoh pengaruh self-talk dalam kehidupan nyata

Self-talk “Saya tampan, pandai, dan berbakat! Saya memiliki kelebihan dibandingkan orang lain, saya harus selalu unggul dalam berprestasi.

=> Memengaruhi caranya berjalan, bersikap, berbicara, dan bertingkah laku, menjadi orang yang ingin menguasai bidangnya dengan sempurna, menjaga gengsi, dan kehormatan (tindakan). => Akhirnya menjadi kebiasaan (habits).

=> kebiasaan dalam kurun waktu yang lama akan menyatu menjadi sifat/karakternya, jadilah ia sebagai orang yang percaya diri dan perfeksionis (karakter).

=> Karena kebiasaan dan karakternya mendukung dia untuk berhasil dan mendapat penghargaan, maka akhirnya dia benar-benar berhasil dan mendapat pengakuan dari lingkungannya serta tampil menarik (realitas).

=> Karena telah menjadi realitas, maka dia semakin percaya bahwa dia memang tampan, pandai, berbakat, dan memiliki kelebihan dibandingkan orang lain (believe).

=> Setelah dia semakin yakin bahwa dia hebat, muncullah self-talk baru yang senada dengan self-talk yang pertama namun dengan kadar yang lebih kuat lagi. “Saya memang hebat! Saya memang tampan, pandai, dan berbakat! Saya memang memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan orang lain pada umumnya. Saya akan semakin giat belajar dan berlatih supaya lebih hebat lagi.

=> Memengaruhi tindakan, kebiasaan, karakter, realitas, believe selanjutnya secara terus-menerus sampai ada self-talk baru yang menggantikan.

Bisa kita bayangkan akan menjadi seperti apakah orang seperti ini 10 tahun dari sekarang? Dia akan menjadi orang yang benar-benar unggul. Ini juga berlaku kebalikannya, maksudnya jika seseorang memiliki self-talk yang negatif secara terus-menerus, cepat atau lambat self-talk tersebut dapat merugikan bahkan menghancurkan dirinya sendiri. Untuk itu penulis berpesan, jagalah self-talk kita agar selalu positif sehingga dampaknya pun akan selalu positif dan menguntungkan bagi diri kita.

Yang perlu diperhatikan dalam self-talk

Ada satu hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan dalam self-talk kita, yaitu selain self-talk kita harus selalu positif supaya menghasilkan sesuatu yang juga positif. sahakan bentuk kalimat self-talk kita juga dalam bentuk kalimat yang positif. Karena pikiran bawah sadar kita cenderung untuk tidak membaca kata tidak atau negatif, jika self-talk kita terbiasa dengan bentuk kalimat yang negatif, kecenderungan pikiran bawah sadar kita justru membaca dan merekam sebaliknya.

Contoh self-talk positif namun dalam bentuk kalimat yang negatif adalah seperti ini, “Saya tidak khawatir” atau “Saya tidak takut”. Atau, “Saya tidak akan menggunakan narkoba lagi”. Maka, kecenderungannya, yang terbaca dalam pikiran bawah sadar Anda adalah “Saya khawatir”, “Saya takut”, “Saya akan menggunakan narkoba lagi”. Dan, Anda dapat membayangkan apa yang akan terjadi kemudian, kita akan mendapat reaksi sebaliknya dari self-talk yang kita ucapkan.

Lalu, bagaimana jika kita terlanjur mengucapkan self-talk positif namun dalam bentuk kalimat yang negatif, misalnya “Saya tidak takut”? Mudah saja, ikuti dengan self-talk positif dalam bentuk kalimat yang positif. Misalnya, terlanjur mengatakan “Saya tidak takut”, segera ikuti dengan “Saya berani!” Mungkin, memang tidak terlalu mudah pada mulanya dan perlu sedikit “paksaan”. Namun percayalah, seiring dengan berjalannya waktu, jika Anda berusaha secara sadar terus-menerus mengendalikan self-talk Anda agar senantiasa positif dan dalam bentuk kalimat yang positif, cepat atau lambat itu akan menjadi bagian dari bawah sadar Anda. Dan, itu akan membuat hidup Anda jauh lebih baik, lebih tenang, dan lebih bahagia. Anda juga akan merasakan diri Anda lebih mudah dalam merealisasikan tujuan dan mimpi-mimpi Anda. Semoga bermanfaat![dm]

* Dodie Magis adalah seorang Certified Hypnotherapist dari The International Center for Hypnosis Education & Research, USA, dan Romy Rafael Hypnosis Academy, Indonesia. Dodie adalah penulis buku Self Hypnosis. Jika Anda membutuhkan bantuan hypnotherapist profesional, silakan hubungi Dodie Magis, CHt. CP: 081804090126, pos-el: dodie_magis[at]yahoo[dot]co[dot]id, atau di blog-nya, http://dodiemagis.blogspot.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.6/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +8 (from 8 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox