Gadis Singkawang dan Matahari

hfOleh: Hanna Fransisca*

Siang itu teramat terik. Cahaya matahari garang serasa membakar tenggorokan.

Untuk melepas dahaga, saya duduk di warung pinggir jalan sambil menghirup segelas air tebu dingin.

Dari jauh saya melihat seorang lelaki tua berpakaian serba orange berdiri di bawah pohon. Berkali-kali ia mengelap keringat di dahinya dengan ujung baju, sambil tetap berdiri, lalu sebentar kemudian meneruskan pekerjaaannya. Berkawan debu, menyapu geraian dedaun kering yang berserak di jalan, sampah-sampah plastik, kertas-kertas, dan botol minuman. Debu-debu tebal terus berterbangan. Debu yang tak bakal nyaman untuk lobang hidung siapa pun. Termasuk, tentu saja untuk lelaki itu.

Lelaki itu, yang tengah asyik menikmati pekerjaannya, tiba-tiba mengingatkan saya pada cerita seorang teman yang beberapa saat lalu berkunjung kembali ke Indonesia. Berikut kisah teman, yang bagi saya sangat sulit untuk dilupakan.

Kau tahu, aku tak pernah membayangkan bagaimana hidup sebagai seorang penyapu. Barangkali setiap orang kalau bisa, tidak akan sudi menjadi seorang penyapu jalanan. Sebuah pekerjaan yang kuanggap kotor dan rendahan.

Awalnya aku memilih menikah dengan lelaki Taiwan demi mengangkat martabat keluarga. Demi perbaikan ekonomi yang lebih baik, begitulah yang aku niatkan dengan sungguh-sungguh. Maka aku menjalani hidup sebagaimana mestinya. Tanggung jawab sebagai seorang istri aku laksanakan tanpa banyak mengeluh. Seperti umumnya perempuan Singkawang yang lahir dan dibesarkan di lingkungan keras, tak ada kata mengeluh dari setiap keputusan yang telah ditetapkan. Begitulah, maka kami berketetapan menikah, lalu pergi ke Taiwan dan berharap kebahagiaan.

Awalnya kami berkomunikasi dengan bahasa tubuh, sebab pada saat itu aku belum pandai berbahasa Mandarin. Apa pekerjaan suamiku, aku tak tahu pasti. Bukan karena dia tidak bercerita padaku, melainkan aku tak paham apa yang dia ceritakan saat itu. Setiap hari dia berpakaian rapi, setelan jas dengan dasi. Tak lupa sepatu yang mengilat. Pada keluargaku di Indonesia, aku ceritakan dengan pasti bahwa suamiku orang kantoran. Aku sangat bangga menceriterakannya.

Setelah beberapa bulan di Taiwan, aku mulai bisa berbahasa Mandarin sedikit demi sedikit. Sungguh aku berusaha keras untuk itu. Jika ada kesempatan luang, aku selalu gunakan untuk berjalan-jalan, melihat-lihat suasana di sekitar tempat tinggalku. Tentu tak berani jauh-jauh. Sampai kemudian aku mempunyai seorang sahabat, yang kebetulan juga berasal dari Indonesia dan menikah dengan orang Taiwan setahun sebelum aku menikah. Bersama sahabatku itulah, aku berani menjelajahi jalan-jalan di Taiwan sedikit lebih jauh.

Aku sangat kagum dengan pemandangan jalan kota yang bersih. Temanku selalu memuji, “Kita sering melupakan jasa seorang tukang sapu yang rela membiarkan tubuh mereka kotor demi kebersihan orang banyak.” Saat itu kebetulan ada seorang penyapu jalanan yang sedang asyik menyapu jalan. Wajahnya tertunduk. Ia tampak serius. Tapi aku merasa mengenal postur tubuh itu. Aku perhatikan baik-baik. Wajahnya sedikit mirip wajah suamiku. Aku pikir itu kebetulan saja. Tuhan pasti menciptakan wajah yang sama di dunia.

Beberapa hari terlewatkan begitu saja. Entah kenapa di suatu saat yang lain, aku ingin melewati jalan itu lagi, jalan di mana aku menyaksikan lelaki yang berwajah sama dengan suamiku, sedang menyapu jalanan. Dugaanku benar. Aku menemukan lelaki itu kembali. Aku mencoba mempelajarinya lekuk tubuhnya dari seberang jalan. Terasa tak asing. Lelaki itu mengelap keringat. Ia sesekali menengadahkan kepala menatap langit, menarik napas panjang, dan membuangnya kencang-kencang. Tampak sekali ia kelelahan. Risau lantaran tak begitu percaya terhadap apa yang dilihat, aku buru-buru meninggalkan lelaki itu, dan kembali ke rumah.

Menjelang malam suamiku muncul di depan rumah. Memamerkan senyum ceria seperti biasanya, dan menunjukkan padaku sebungkus bebek panggang yang amat kusuka. Aku sering terharu dengan kebaikan dan perhatiannya padaku. Kupikir aku mulai jatuh cinta padanya setelah beberapa bulan aku menikah dengannya begitu saja.

Memikirkan kejadian siang, aku tidak bisa tidur sepanjang malam. Sementara suamiku sudah mendengkur dengan keras, aku perhatikan kembali wajahnya baik-baik. Wajah yang sama dengan tukang sapu yang dua kali kutemui di jalan yang sama. Ah, tidak mungkin. Suamiku orang kantoran. Aku sulit mendamaikan hati dan pikiran.

Esok paginya, diam-diam aku membuntuti suamiku ke kantornya. Ia melangkah keluar rumah dengan tegap, lengkap dengan jas dan dasi, dan tentu saja sepatu yang mengilat. Hatiku bergemuruh, mengharap dalam doa semoga apa yang kulihat kemarin itu keliru. Suamiku menghentikan bus dan aku merelakan diri untuk menyewa taksi. Benar, suamiku memasuki sebuah gedung perkantoran. Agak plong hatiku saat itu. Aku turun dan duduk di kantin seberang kantor untuk menikmati kelegaan yang baru saja kudapat, sambil menghirup segelas air putih. Tapi tak lama kemudian aku terperanjat. Seorang lelaki berpakaian seragam lengkap dengan topi dan sepatu bot keluar dari kantor itu. Aku yang belum bisa mengeja tulisan huruf-huruf kanji yang tertera di muka kantor itu, hanya mampu melongo.

Tangan lelaki itu menggengam sapu. Astaga, dia suamiku! Sungguh-sungguh suamiku. Aku ingin menjerit saat itu. Sulit rasanya takdir itu kuterima. Tapi sebisa mungkin aku menahan diri. Sekuat tenaga aku menenangkan diri. Setelah lelaki itu menghilang, aku kembali ke rumah dengan ribuan pikiran kacau.

Aku terlanjur membanggakan jas, dasi, dan sepatu suamiku yang selalu mengilat. Aku terlanjur membanggakan diri dalam surat-suratku ke kampung halaman bahwa suamiku bekerja di sebuah kantor besar di jantung Kota Taiwan. Aku yang kini kebingungan bagaimana menceritakan pada orang tuaku bahwa putri yang mereka banggakan, yang konon menikah dengan orang asing kaya, ternyata hanya menikahi seorang tukang sapu jalanan. Aku juga kebingungan apakah aku harus mempertanyakan itu pada suamiku, atau diam saja menunggu sampai dia yang bercerita. Sungguh aku serba tak tahu di saat itu.

“Saat kau memutuskan menikah dengan seseorang, maka terimalah dengan lapang dada kebaikan dan keburukan pasangan hidupmu. Di dapur kau berdua boleh hanya memakan nasi dan garam putih, tapi di luar sana orang-orang tak perlu tahu,” itu pesan nenekku yang kuanggap kolot saat aku akan berangkat. Tapi pepatah itu kini kembali terngiang, dan memaksa untuk direnungkan. Mengingat hal itu, ada sedikit ketenangan yang menyelimuti kegalauanku. Seperti mendapat pencerahan, aku berniat tidak menyinggung perasaan suamiku yang baik. Aku putuskan tidak bertanya.

Aku juga tak mau orang tuaku yang jauh di sana mencemaskan hidupku. Maka, aku putuskan tidak akan bercerita masalah kantor lagi pada mereka. Sejak saat itu aku belajar, belajar tidak terlalu membanggakan sesuatu yang hanya tampak dari luar saja. Dan aku pahami dengan baik, jika suamiku bisa membiarkan tubuhnya ditempeli debu jalanan dan kotoran demi kenyamanan orang banyak, kenapa aku tak bisa menyapu bersih debu di hatiku. Toh, keduanya sama mulia.

***

Begitulah saya melewati siang itu dengan sebuah kenangan. Saya menghirup tetes terakhir air tebu di meja. Menatap bangga pada lelaki dengan seragam oranye yang tengah berjuang di tengah kepulan debu. Di tengah badai debu kotor yang tentu saja semua tahu, tak akan nyaman bagi hidung siapa pun termasuk lelaki itu. Ribuan jalan-jalan di kota ini selalu membutuhkan sapu. Ratusan ribu kendaraan yang melintas di atasnya, barangkali tak pernah sempat bertanya kenapa daun-daun, plastik-plastik, serta sampah-sampah makanan yang dibuang dari jendela mobil, selalu lenyap ketika hari berganti. Mengingat hal itu, rasanya saya perlu sesekali untuk menghampirinya, barangkali hanya untuk sekadar mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.[hf]

* Hanna Fransisca adalah ibu dari empat anak yang sehari-hari bekerja di Singkawang Motor, Jl. Sultan Agung Km 27, Pondok Ungu, Bekasi Barat dan Bintang Perkasa Jaya Motor Jl. Mauk/Mohammad Toha No 1, Bugel, Tangerang. Ia gemar membaca, menulis puisi, cerpen, dan esai kehidupan. Hanna dapat dihubungi di pos-el: h4n4_1979[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.4/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 4 votes)

Bahan Bakar Pekerjaan Anda

asOleh: Andrew Abdi Setiawan*

Apa yang membuat seseorang rela bekerja dalam situasi yang sulit, penuh risiko, bahkan terkadang tidak menguntungkan bagi dirinya? Apa yang membuat seseorang tahan banting ketika harus menghadapi tantangan pekerjaan yang maha berat? Itu bukan lagi soal bakat, itu bukan lagi soal talenta, tapi soal gairah! Gairah lebih penting dibandingkan suatu program atau agenda pekerjaan. Gairah menciptakan dan memelihara api semangat untuk bekerja. Dengan kata lain, gairah adalah bahan bakar pekerjaan Anda, dan saya pula!

Apa itu gairah? Apakah gairah adalah keinginan? Masih belum pas! Gairah adalah keinginan yang AMAT BESAR! Izinkan saya menggambarkannya sebagai berikut: Satu kali seorang pemuda yang sombong datang kepada filsuf Socrates. Dengan wajah menyeringai ia berkata, “Socrates yang mulia, aku datang kepadamu untuk mendapatkan pengetahuan.”

Karena melihat kesombongannya, Socrates menuntunnya ke dalam air laut setinggi pinggang. Ia bertanya, “Katakan sekali lagi, apa yang kamu inginkan?”

“Pengetahuan,” jawab pemuda itu.

Ia lalu mencengkram pemuda tadi dan menenggelamkannya selama 30 detik. “Apa yang engkau inginkan?” tanya Socrates.

“Pengetahuan!” jawab pemuda itu sambil terbatuk-batuk.

Socrates kembali menenggelamkannya, kali ini lebih lama. Sewaktu pemuda tersebut muncul di atas air, Socrates bertanya, “Apa yang kamu inginkan?”

“Pengetahuan,” kata pemuda itu sambil menarik napas sebelum ia ditenggelamkan lagi.

Untuk terakhir kalinya, Socrates kembali menenggelamkannya dan lebih lama lagi waktunya. “Apa yang kamu inginkan?” Socrates bertanya saat pemuda itu muncul di atas air lagi.

Dengan batuk-batuk dan megap-megap, ia menjawab, “Udara . . . udara! Aku membutuhkan udara!”

Lantas Socrates berkata kepadanya, “Jika kamu menginginkan pengetahuan seperti kamu membutuhkan udara, maka kamu akan mendapatkan pengetahuan itu.”

Gairah adalah keinginan yang AMAT BESAR sebesar kebutuhan kita untuk menghirup udara setiap saatnya.

Seorang penulis dan editor, Norman Cousins, berkata, “Kematian bukanlah kerugian terbesar dalam hidup. Kerugian terbesar adalah apa yang mati dalam diri kita sementara kita masih hidup.” Tanpa gairah, maka pekerjaan kita akan bersifat rutinitas dan ritualitas. Amat membosankan! Tanpa gairah, maka pekerjaan kita akan mati terlebih dahulu sebelum kita mati. Amat ironis!

Bagaimana caranya membangkitkan dan memelihara gairah dalam bekerja? Renungkan ini, masalah apakah yang ada di tempat usaha/kantor yang paling membuat Anda prihatin? Apa dampaknya bila masalah tersebut dibiarkan terus-menerus? Kemudian, bayangkan dan rasakan bila Anda bisa menjadi salah satu alat yang dipakai Tuhan untuk menjawab masalah tersebut. Be available untuk membawa solusinya. Yang terakhir, senantiasalah bergaul dengan rekan-rekan yang memiliki keprihatinan yang sama. Mengapa? Sederhana, yaitu agar gairah bekerja Anda, khusus dalam menyelesaikan suatu masalah tetap terpelihara. Selamat bergairah![aas]

* Andrew Abdi Setiawan, seorang rohaniwan di kota Surakarta. Ia sedang menggeluti pelayanannya sebagai seorang WTC—writer, trainer/teacher, counselor. Tulisan “Mitos-mitos Hidup Lajang” tadi merupakan salah satu cuplikan dari sebuah buku saku yang segera diterbitkan oleh Penerbit Kanisius dalam waktu dekat. Selain itu, lewat Penerbit Kanisius, ia sudah menerbitkan buku tentang spiritualitas Kristen dalam Lebat tetapi Tak Berbuah. Untuk berhubungan lebih lanjut, silakan kirim pos-el ke: becomingwtc[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Berani Berkata Tidak Demi Kebaikan Diri dan Lingkungan

lhOleh: Lianny Hendranata*

Banyak orang tidak berani bilang TIDAK pada apa yang dimintakan pada dirinya. Maka yang terjadi, dia selalu berkata: Ya, ok, atau baiklah, sebagai pengganti kata menyanggupi sesuatu yang diminta darinya. Sepintas hal ini tidak ada yang bermasalah dan terkesan bagus jika kita selalu bisa menolong orang lain. Tetapi, apa yang terjadi di balik kata: Ya, ok, atau baiklah?

Dengan tidak mempunyai keberanian menolak—dengan kata lain tidak berani mengatakan tidak mau, tidak sanggup, tidak bisa, dan sebagainya—kita bisa membuat susah diri dan lingkungan kita sendiri. Mengapa ini bisa terjadi?

Banyak orang yang selalu bisa bilang ya pada setiap orang yang meminta apa pun padanya. Baik jasanya, bendanya, bahkan ide-ide, dan sebagainya. Maka, orang ini menjadi popular dalam pergaulan dan menjadi sosok yang bisa diandalkan oleh semua orang. Tetapi, apakah benar demikian adanya?

Ternyata setelah menyurvei, banyak orang yang begitu popular dalam pergaulan dan terkesan selalu siap sedia untuk membantu orang lain. Dengan perkataan ya di setiap saat, justru sosok ini adalah orang yang tidak tahu menghargai dirinya dan lingkungannya. Bahkan, menyusahkan dirinya sendiri, juga lingkungannya. Mengapa bisa demikian?

Coba kita tinjau contoh-contoh di bawah ini. Sadar atau tidak, Anda dan saya sering melakukannya. Contoh dari situasi yang sebenarnya kita ingin atau mau sejujurnya menjawab tidak. Ketika teman atau kerabat menelepon dan mengajak kita pergi ke mal, padahal kita sedang asyik menikmati liburan di rumah dengan membaca buku dan sejujurnya kita malas untuk pergi. Pikiran otomatis yang tidak realistis—untuk menghindar dengan berkata TIDAK—muncul karena yang keluar dari pikiran kita adalah: jika saya bilang tidak mau, bisa melukai dia, juga bisa menjadi marah; saya tidak punya alasan yang tepat untuk menolaknya; saya tidak enak karena dia teman atau kerabat dekat, dan sebagainya. Akhirnya, kita terpaksa menjawab: ok, ya, baiklah! Tetapi, hati kita tidak rela untuk pergi. Nah, apakah ini baik untuk diri kita dan lingkungan?

Dalam kejadian ini, yang dirugikan hanya pihak kita karena pergi dengan terpaksa. Lalu, masih ada contoh lain sebagai berikut. Teman atau kerabat meminta kesediaan Anda untuk menjadi penerima tamu dalam pesta pernikahan anaknya. Padahal, pada hari dan tanggal tersebut, ada juga acara syukuran teman sekantor yang baru sembuh dari sakit. Pikiran otomatis mengatakan, jika saya bilang tidak bisa, nanti dikira saya tidak mau rukun dengan teman atau kerabat. Tetapi jika bilang ya atau baiklah, saya juga tidak enak hati dengan teman yang mengundang syukuran. Nah, akhirnya pada keduanya Anda bilang ya, “Baiklah, saya akan datang dan memenuhi permintaan kamu.”

Ternyata, yang terjadi pada hari tersebut jarak tempuh yang cukup dan lalu lintas yang macet, membuat Anda terlambat untuk menjadi penerima tamu. Itu karena Anda tidak bisa bilang tidak, saat tetap ditahan oleh teman yang kangen karena sakit yang lama dan dalam suasana bersyukur. Akhirnya, penerima tamu dalam pesta tidak ada atau kurang lengkap karena Anda datang sangat terlambat.

Nah dalam hal ini, selain menyusahkan diri sendiri yang tidak mampu bilang; tidak bisa, tidak mau, tidak sanggup, maka pihak yang Anda sanggupi dengan berkata; ya saya bisa, ya saya mau, juga menjadi susah karena acaranya berantakan dengan ketidakhadiran atau keterlambatan Anda di pestanya.

Terbelenggu
Jika kita merasa harus bisa bilang YA, sedangkan sebenarnya dalam diri kita mau bilang TIDAK, saat itulah penting bagi kita untuk sadar dengan pola pikiran yang selama ini terbentuk. Tentu tidak masalah kalau kita sesekali memanipulasi pikiran kita sendiri dengan berkata ya, saat sebenarnya kita ingin mengatakan tidak. Untuk seterusnya berdasarkan pola pikiran yang tidak realistis itu membuat kita terjebak dalam permainan pikiran kita sendiri. Akhirnya, kita membuat diri seperti selalu harus baik/ramah dan bersedia menolong, tetapi justru lebih menyusahkan diri sendiri. Hal itu jelas terlihat pada ilustrasi cerita di atas.

Dengan demikian, penting bagi kita untuk mulai belajar mengenali pola pikiran sendiri yang selalu merasa bersalah jika berkata TIDAK. Kita harus belajar atau bersedia memulai untuk menabrak pola pikiran yang selama ini terbentuk dengan mengantisipasi risiko dari menjawab tidak kita juga bisa membuat pertanyaan kritis terhadap diri sendiri: Jika kita berkata tidak, apakah efeknya untuk diri kita dan lingkungan lebih baik atau malah merusak?

Belajar dari pengalaman dengan selalu menjawab YA, apakah selama ini hasilnya selalu baik untuk diri maupun lingkungan? Buat juga pertanyaan kritis pada diri sendiri, bahwa selama ini dengan selalu menjawab ya, sebenarnya kita menyakiti diri sendiri dan hanya menyenangkan orang lain. Kita harus belajar memahami pikiran dan perasaan kita sendiri dan tahu bahwa kita mempunyai hak penuh untuk mengatakan TIDAK, tanpa ada keharusan menjawab alasannya. Tidak bisa dimungkiri kita terbelenggu dengan pola kebiasaan, pola yang berpikir untuk bisa menjadi orang ramah, orang baik, dengan selalu siap menjawab ya. Sebaliknya, merasa bersalah jika sampai berkata TIDAK terhadap orang lain yang datang pada kita.

Untuk menjaga relasi sosial tetap berjalan baik, kita bisa mengganti kata TIDAK dengan kata-kata yang dianggap lebih halus. Kita bisa mengganti kata tidak dengan berkata,”Bukan selera saya, terima kasih” atau Saya sudah ada janji lain”. Yang paling umum menggantikan kata tidak untuk menolak sesuatu yang kita tidak mau perbuat adalah dengan mengatakan, Saya sangat sibuk atau “Jadwal saya sudah sangat padat”. Kata-kata atau kalimat itu terasa lebih luwes.

Pelahan tapi pasti, kita harus belajar untuk berani berkata TIDAK terhadap sesuatu yang bisa membuat diri dan lingkungan menjadi bermasalah, karena kita melakukan sesuatu dengan terpaksa, dan hal ini sebenarnya sesuatu yang bisa kita tolak karena memang tidak mau melaksanakannya.[lh]

* Lianny Hendranata adalah penulis enam buku kesehatan, kolomnis harian Suara Pembaruan, majalah Wanita & Kesehatan, portal Okezone.com, dan majalah Indonesie yang terbit di Belanda. Selain itu, ia adalah seorang pembicara seminar, instruktur healing energy, trainer autohipnosis, konsultan kesehatan energi aura dan cakra, instruktur kesehatan dan kecantikan dengan metode Tai Chi, sekaligus Direktur Srikandi Internusa dan Inspiration Centre. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: ray_and_mel[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 3.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

The Power of Self-Talk

dmOleh: Dodie Magis*

Self-talk atau pembicaraan pribadi (bicara pada diri sendiri) adalah sesuatu yang tampaknya sangat sederhana dan hampir tidak pernah dibahas. Namun, dampaknya sangat besar bagi diri kita. Self-talk adalah sesuatu yang sangat menentukan akan menjadi seperti apakah seseorang di masa mendatang. Self-talk adalah akar permasalahan psikologis yang paling utama, dari situlah kebiasaan, karakter, dan keyakinan seseorang terbentuk. Selama self-talk seseorang tetap positif, dia tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif dari luar. Hal negatif dari luar hanya akan berdampak negatif terhadap diri kita jika diperkuat dengan self-talk yang negatif. Pembahasan mengenai self-talk ini sangat penting sehingga penulis sengaja membahasnya dalam bab tersendiri agar lebih diperhatikan oleh pembaca.

Mengapa self-talk sangat perlu untuk diperhatikan?

Self-talk adalah hal yang sangat menentukan apakah seseorang akan menjadi orang baik atau tidak. Yang menentukan apakah seseorang akan menjaga kesehatannya atau tidak. Yang menentukan apakah seseorang memiliki rasa percaya diri tinggi atau rendah. Yang menentukan apakah seseorang akan menjadi orang penting atau malah menjadi seorang pecundang. Dan, yang menentukan apakah seseorang bisa maju dan berkembang atau hanya diam di tempat.

Ya, semuanya berasal dari self-talk. Tidak akan ada perubahan apa pun yang terjadi, sebelum diawali dengan self-talk. Anda tidak akan pernah jatuh cinta kepada seseorang sebelum Anda mengatakan pada diri sendiri; “Sepertinya, saya mulai jatuh cinta kepadanya”, atau “Saya rasa, mulai sekarang saya mencintainya”. Hanya saja, karena hal tersebut hampir tidak pernah dibahas, sehingga sering kali Anda tidak menyadarinya.

Memang ada kalimat dari orang bijak yang sebenarnya membahas tentang self-talk secara tersirat, kalimat tersebut berbunyi “Semuanya tergantung dari niatnya.Tetapi, sangat jarang orang yang mengerti bahwa yang dimaksud orang bijak tersebut adalah self-talk. Seseorang yang mengerjakan hal-hal positif hanya karena terpaksa disebabkan oleh tekanan dari lingkungan keluarganya, dia tidak akan pernah menjadi orang yang benar-benar baik/positif.

Seseorang yang berhenti menggunakan narkoba hanya karena tekanan dari keluarganya, tidak akan pernah benar-benar berhenti menggunakan narkoba. Mengapa demikian? Karena self-talknya bisa jadi masih bertentangan dengan anjuran keluarganya. Dan, selama self-talknya tidak berubah, orang tersebut akan tetap begitu walaupun banyak orang menasihatinya. Itulah sebabnya hypnosis tidak dapat diterapkan pada orang yang tidak ingin dihipnotis dan tidak ingin mencapai perubahan.

Mungkin para pembaca bertanya, lalu apa gunanya panti rehabilitasi, psikolog, psikiater, hypnotherapist, kalau seseorang tidak bisa berubah selama seseorang tidak mengubah self-talk-nya? Sekarang mari kita lihat, betapa banyak orang yang pergi ke ahli jiwa karena terpaksa disebabkan oleh tekanan dari keluarganya dan akhirnya tetap tidak berhasil. Itu dikarenakan self-talk-nya belum berubah. Orang yang bisa berubah karena bantuan ahli jiwa adalah orang yang dengan suka rela datang ke ahli jiwa untuk berubah, karena dia sudah pasti memiliki self-talk yang positif seperti, “Saya siap menerima nasihat dari ahli jiwa yang akan saya datangi, karena dia lebih tahu dari saya, karena dia dengan ilmu pengetahuannya mungkin bisa menolong saya.

Dan, karena self-talk-nya demikian, perlahan-lahan pikirannya terbuka untuk menerima saran dan nasihat dari luar. Sehingga, tanpa disadari orang tersebut terbujuk untuk mengganti self-talk-nya yang negatif dengan self-talk yang positif. Kalau sudah begitu, sebenarnya seorang ahli jiwa hanya membantu memperkuat tekad seseorang untuk berubah, dengan mengemukakan alasan-alasan yang logis dan masuk akal, tentunya dengan ilmu pengetahuan yang dikuasainya sehingga dengan sukarela orang tersebut mau berubah menjadi lebih baik.

Bagaimana self-talk bisa memengaruhi diri kita sedemikian besar?

Self-talk dapat memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap diri kita. Karena, self-talktanpa disadari oleh sebagian sangat besar dari kitasebenarnya sama saja dengan menyugesti dan memprogram alam bawah sadar kita. Padahal, seperti penulis kemukakan dari awal, alam bawah sadar memiliki pengaruh terhadap diri kita 9 kali lipat lebih kuat daripada pikiran sadar. Lalu, bagaimana mungkin seseorang bisa berubah menjadi lebih baik jika self-talk-nya masih negatif?

Bagaimana self-talk bekerja?

Secara lebih mendetail, dapat dijelaskan bagaimana self-talk bekerja secara bertahap sehingga memengaruhi pikiran bawah sadar kita. Pertama, self-talk memengaruhi tindakan kita, lalu lama-kelamaan tindakan kita tersebut berubah menjadi kebiasaan. Setelah tindakan tersebut menjadi kebiasaan, lama-lama menyatu dengan karakter/sifat Anda, dan setelah menyatu dengan sifat Anda, self-talk awal Anda mulai menjadi realitass dalam kehidupan Anda, yang akhirnya membuat Anda percaya bahwa keyakinan Anda memang benar. Dan setelah itu terjadi, self-talk awal Anda akan diperkuat oleh self-talk baru yang senada namun lebih kuat lagi. Kemudian, self-talk Anda tersebut akan bekerja secara bertahap seperti pada siklus pertama, namun dengan pengaruh yang semakin kuat. Begitulah seterusnya self-talk bekerja memengaruhi diri Anda tanpa henti.

Self-talk –> sugesti –> alam bawah sadar –> realitas

Jadi, dari keterangan di atas, kita bisa mengambil kesimpulan apa yang akan terjadi 1 tahun dari sekarang. Jika seseorang memiliki self-talk yang positif dan dilakukan secara terus-menerus, ya, seseorang tersebut akan menjadi jauh lebih positif daripada saat ini. Sebaliknya, self-talk yang negatif juga bekerja dengan cara yang sama untuk membuat diri kita menjadi sangat negatif. Maka dari itu, penulis mengingatkan kepada pembaca, seberat apa pun masalah yang Anda hadapi, janganlah sekali-kali mengatakan pada diri sendiri hal-hal yang negatif karena hal itu hanya akan merugikan diri kita sendiri.

Saya ingin berubah menjadi orang yang lebih baik, apa yang harus saya lakukan?

Ada banyak cara untuk mengubah diri menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tapi, sebelum Anda melakukan cara yang mana pun, yang perlu Anda lakukan pertama kali supaya Anda benar-benar bisa berubah menjadi orang yang lebih baik adalah; gantilah self-talk Anda dengan self-talk yang positif. Sering kali seseorang ingin berubah, namun kurang berhasil karena masih memiliki self-talk yang negatif. Misalnya, seseorang yang ingin berhenti menggunakan narkoba, tapi dia selalu berkata dalam hati, “Apa saya bisa ya untuk benar-benar berhenti menggunakan narkoba? Sejauh ini saya sudah mencoba berkali-kali untuk berhenti dan akhirnya tetap tidak bisa. Apa mungkin saya bisa benar-benar bebas dari narkoba? Saya rasa tidak, tapi tidak ada salahnya saya mencoba untuk berhenti.

Self-talk seperti ini hanya akan membuat usaha yang akan dilakukan gagal. Karena, dia sudah menyugesti diri sendiri bahwa dia sulit untuk bebas dari narkoba. Dan, karena self-talk pada akhirnya menjelma menjadi realitas, maka orang tersebut akan menemukan kenyataan bahwa dia memang tidak bisa terbebas dari narkoba. Untuk itu, hal pertama yang perlu dilakukan untuk bisa berubah menjadi lebih baik adalah dengan mengganti self-talk Anda dengan self-talk yang positif.

Anda tidak bisa menghilangkan kebiasaan Anda yang negatif hanya dengan menggantikannya dengan kebiasaan yang positif. Tapi, Anda bisa menghilangkan kebiasaan negatif Anda dengan mengganti self-talk Anda yang negatif dengan self-talk yang positif. Karena, self-talk Anda secara langsung memengaruhi tindakan Anda, dan selanjutnya tindakan Anda memengaruhi kebiasaan serta tingkah laku Anda yang pada akhirnya menjadi realitas dalam kehidupan Anda.

Contoh pengaruh self-talk dalam kehidupan nyata

Self-talk “Saya tampan, pandai, dan berbakat! Saya memiliki kelebihan dibandingkan orang lain, saya harus selalu unggul dalam berprestasi.

=> Memengaruhi caranya berjalan, bersikap, berbicara, dan bertingkah laku, menjadi orang yang ingin menguasai bidangnya dengan sempurna, menjaga gengsi, dan kehormatan (tindakan). => Akhirnya menjadi kebiasaan (habits).

=> kebiasaan dalam kurun waktu yang lama akan menyatu menjadi sifat/karakternya, jadilah ia sebagai orang yang percaya diri dan perfeksionis (karakter).

=> Karena kebiasaan dan karakternya mendukung dia untuk berhasil dan mendapat penghargaan, maka akhirnya dia benar-benar berhasil dan mendapat pengakuan dari lingkungannya serta tampil menarik (realitas).

=> Karena telah menjadi realitas, maka dia semakin percaya bahwa dia memang tampan, pandai, berbakat, dan memiliki kelebihan dibandingkan orang lain (believe).

=> Setelah dia semakin yakin bahwa dia hebat, muncullah self-talk baru yang senada dengan self-talk yang pertama namun dengan kadar yang lebih kuat lagi. “Saya memang hebat! Saya memang tampan, pandai, dan berbakat! Saya memang memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan orang lain pada umumnya. Saya akan semakin giat belajar dan berlatih supaya lebih hebat lagi.

=> Memengaruhi tindakan, kebiasaan, karakter, realitas, believe selanjutnya secara terus-menerus sampai ada self-talk baru yang menggantikan.

Bisa kita bayangkan akan menjadi seperti apakah orang seperti ini 10 tahun dari sekarang? Dia akan menjadi orang yang benar-benar unggul. Ini juga berlaku kebalikannya, maksudnya jika seseorang memiliki self-talk yang negatif secara terus-menerus, cepat atau lambat self-talk tersebut dapat merugikan bahkan menghancurkan dirinya sendiri. Untuk itu penulis berpesan, jagalah self-talk kita agar selalu positif sehingga dampaknya pun akan selalu positif dan menguntungkan bagi diri kita.

Yang perlu diperhatikan dalam self-talk

Ada satu hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan dalam self-talk kita, yaitu selain self-talk kita harus selalu positif supaya menghasilkan sesuatu yang juga positif. sahakan bentuk kalimat self-talk kita juga dalam bentuk kalimat yang positif. Karena pikiran bawah sadar kita cenderung untuk tidak membaca kata tidak atau negatif, jika self-talk kita terbiasa dengan bentuk kalimat yang negatif, kecenderungan pikiran bawah sadar kita justru membaca dan merekam sebaliknya.

Contoh self-talk positif namun dalam bentuk kalimat yang negatif adalah seperti ini, “Saya tidak khawatir” atau “Saya tidak takut”. Atau, “Saya tidak akan menggunakan narkoba lagi”. Maka, kecenderungannya, yang terbaca dalam pikiran bawah sadar Anda adalah “Saya khawatir”, “Saya takut”, “Saya akan menggunakan narkoba lagi”. Dan, Anda dapat membayangkan apa yang akan terjadi kemudian, kita akan mendapat reaksi sebaliknya dari self-talk yang kita ucapkan.

Lalu, bagaimana jika kita terlanjur mengucapkan self-talk positif namun dalam bentuk kalimat yang negatif, misalnya “Saya tidak takut”? Mudah saja, ikuti dengan self-talk positif dalam bentuk kalimat yang positif. Misalnya, terlanjur mengatakan “Saya tidak takut”, segera ikuti dengan “Saya berani!” Mungkin, memang tidak terlalu mudah pada mulanya dan perlu sedikit “paksaan”. Namun percayalah, seiring dengan berjalannya waktu, jika Anda berusaha secara sadar terus-menerus mengendalikan self-talk Anda agar senantiasa positif dan dalam bentuk kalimat yang positif, cepat atau lambat itu akan menjadi bagian dari bawah sadar Anda. Dan, itu akan membuat hidup Anda jauh lebih baik, lebih tenang, dan lebih bahagia. Anda juga akan merasakan diri Anda lebih mudah dalam merealisasikan tujuan dan mimpi-mimpi Anda. Semoga bermanfaat![dm]

* Dodie Magis adalah seorang Certified Hypnotherapist dari The International Center for Hypnosis Education & Research, USA, dan Romy Rafael Hypnosis Academy, Indonesia. Dodie adalah penulis buku Self Hypnosis. Jika Anda membutuhkan bantuan hypnotherapist profesional, silakan hubungi Dodie Magis, CHt. CP: 081804090126, pos-el: dodie_magis[at]yahoo[dot]co[dot]id, atau di blog-nya, http://dodiemagis.blogspot.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Melacak Jejak Foto Diri Anda

bpOleh: Bartholomius Padatu*

Definisikan diri Anda sekarang juga! Maka, Anda akan segera tahu bahwa Anda masih memiliki Pekerjaan Rumah yang belum dikerjakan. Siapa di dalam tubuh Anda? Apa kata orang tentang Anda? Yakinkah bahwa Anda mengenal diri Anda sesungguhnya? Pribadi seperti apa yang hendak Anda bangun di kemudian kehidupan Anda? Kepribadian seperti apa yang Anda kehendaki untuk diukirkan pada batu nisan jejak kehidupan Anda di bumi? Satu pernyataan dan beberapa pertanyaan di atas mesti Anda lirik dan niati untuk mengetahui segi penting melacak jejak jati diri Anda.

Pekerjaan mendefinisikan atau mengartikan siapa diri Anda tentu menjadi mudah bila yang dimaksudkan  untuk  sekadar memperkenalkan jati diri Anda pada level permukaan sebagaimana ditera di kartu-kartu tanda pengenal Anda seperti KTP, SIM, Kartu Mahasiswa, dll. Identitas ala kartu pengenal sesungguhnya jauh dari hakikat siapa sesungguhnya Anda. Banyak orang memiliki nama dengan kandungan filosofi yang dalam namun di panggung kehidupan berperilaku asimetris atau bertolak belakang. Dapat di sebut sebagai sampel; nama “Satria” namun perilaku terbaliknya disifati oleh karakter penakut. Seorang dengan nama “Indah” namun praktiknya menjadi pribadi semrawut dengan tampilan diri yang tidak terawat. Nama “Viktor” yang diasumsikan pemenang namun tidak menggelisahkan diri dengan usaha mendekatkan diri menaiki podium-podium penghormatan para juara. Lainnya lagi bernama “Bintang” sayangnya cahaya hidup redup di garisan wajah yang melulu cemberut. Kalau mau jujur dideret nama-nama lainnya, tentunya kita banyak menemukan kejanggalan-kejanggalan filosofis menyangkut makna di balik nama-nama.

Pemberian nama merupakan hadiah perdana di tahun awal kehidupan yang akan mengompaskan arah pertumbuhan Anda. Orang tua Anda bersusah payah merumuskan tatanan nilai hidup dalam kehidupan Anda agar  Anda mengenali aturan main kehidupan dunia ini selaras dengan nilai-nilai yang dikandungkan pada nama Anda. Persoalannya pada beberapa kasus (bisa jadi banyak) kehidupan kita tidak bergerak ke arah perwujutan nilai-nilai yang menjadikan diri kita seindah, sekuat, sejaya, dan sesukses makna nama-nama kita. Sayangnya pertumbuhan fisik tidak sejalan dengan pertumbuhan jiwa. Banyak orang fisiknya berkembang melebar dengan kecepatan tinggi (overwight) namun lamban dalam berpikir (sempit bidang berpikirnya), slow dalam merespon turbulensi kehidupan dengan percepatan informasi dan teknologi. Banyak tubuh yang bertumbuh meninggi namun dengan perkembangan jiwa yang rendah diri. Banyak pribadi yang masuk pada level penggolongan anak muda namun tua dalam pergerakan alias malas, tidak berinisiatif, tukang tidur, senang dengan kemiskinan. Ada beberapa di antaranya kagum pada kecantikan fisik namun jauh dari “kosmetik kesopanan”. Lainnya lagi cerdas secara kognitif namun tumpul dari segi sikap. Pada kelompok atau tipikal manusia lainnya adalah “bermain aman” bunglon dengan kepribadian, terus-menerus mengubah pembawaan diri berdasarkan “permintaan pasar” (tuntutan orang lain).

Lelucon membangun kepribadian yang asimetris (tidak sebagun dengan potensi diri) senantiasa berkelanjutan, teramat dekat dan mudah untuk mengamati jejak-jejaknya. Pribadi-pribadi copy paste marak dijumpai dalam lingkungan pergaulan kita. Beberapa di antaranya meniru kepribadian, bahkan dibela-belain dengan mengadakan lomba mirip Tokoh si A, Si B sehingga ia lupa keotentikan dirinya sendiri. Melatih warna suara mendekati suara pribadi tertentu juga sangat digandrungi, menirukan karakter suara, gaya, kostum penyanyi dianggap sebagai sebuah metamorfosa diri yang bernilai tinggi. Kita juga dapat menemukan pribadi yang senang bertutur ria dengan gaya bahasa tokoh idola tanpa terusik untuk melepaskan diri dan menemukan gaya tuturan sendiri. Pribadi-pribadi seperti ini pada akhirnya dikenal lahir sebagai” A”, dewasa sebagai” B”, meninggalkan kehidupan sebagai “ si C”.

Melanjutkan dan meragamkan upaya-upaya mulia para motivator senior, saya merasa perlu memberi ruang pemberdayaan diri bagi rekan-rekan sekalian untuk bersama-sama menepi sejenak dari riuhnya menjadi diri orang lain menuju penemuan diri sendiri dengan cara mendefinisikan diri. Hingga hari ini, sebagai sebuah fakta yang sulit untuk ditepis adalah munculnya problem atau masalah mengenal diri sendiri, membangun jati diri, memelihara jati diri.

Salah satu cara yang sederhana berdampak luar biasa dalam merumuskan jati diri adalah dengan bantuan kesan orang atau pribadi di luar diri kita. Anda tentu sebagian besar memiliki siklus kehidupan yang terekam dalam “Album foto diri” (kesan-kesan verbal). Gambar-gambar tahapan pertumbuhan Anda memang dapat merekam nilai-nilai hidup Anda. Sayangnya nilai tersebut terkadang dibangun melalui cara pandang ego Anda yang mendefinisikan nilai Anda dengan kaca mata pandang Anda sendiri. Artinya peluang bias nilai dapat saja terjadi.

Cara yang ditawarkan pada Anda sekalian adalah dengan melatih kepekaan Anda, kejelian Anda, kesadaran menerima nilai, mengelola nilai bagi Anda dari orang lain. Mengumpulkan “puzzle kesan” dari orang di luar diri Anda dapat menjadi cara yang ampuh meneropong kedalaman diri Anda. Interaksi yang bertemali dengan kehidupan orang lain memaksa mereka melakukan pelabelan nilai bagi Anda. Di mata orang Anda dapat saja dilabeli pemarah, pencemburu, baik hati, dermawan, pecundang, penyayang, pendendam, pengampun, pribadi penerima, pemuda boros, pelit, telat mikir, egois, sok cantik, pintar, super seksi, pembuat onar, negosiator ulung, dosen kreatif, pribadi bertalenta tinggi, unik, menyenangkan, membosankan, lucu, gagap, dan ribuan kesan-kesan lainnya.

Mengoleksi kesan-kesan tersebut tentunya menjadi penting untuk melihat kecenderungan kesan diri kita di mata orang lain. Memang untuk beberapa kasus kadang-kadang kesan tersebut dibuat atau manipulatif sifatnya sejalan dengan kepentingan pribadi orang lain. Namun, pengalaman mengajarkan saya untuk terus mengoleksi kesan apa saja yang pernah diberikan kepada saya dan mencari benang merah kesesuaian dengan fakta sesungguhnya dari diri saya. Dari Album kesan diri Anda akan terlihat beberapa pembenaran-pembenaran yang akan membuat Anda yakin bahwa jati diri Anda seperti apa wujudnya.

Sekalipun orang lain mengirim pesan lewat bahasa tubuh seperti memberi jempol pada Anda, saran saya kumpulkan isyarat tubuh yang diberikan bagi Anda. Masukkan isyarat tubuh tersebut sebagai bagian dari kesan yang akan membantu Anda mengerti keberadaan diri Anda yang sesungguhnya. Saya tekankan kembali, lakukan pencatatan kesan-kesan tersebut pada sebuah buku khusus agar mudah di lihat-lihat kembali.

Seiring dengan meluasnya pertemanan Anda, bertambahnya usia, meningkatnya kesadaran sketsa siapa diri Anda akan memodali Anda meyakinkan diri kearah mana pertumbuhan diri Anda kerjakan. Album kesan diri Anda akan mengompaskan perjalanan hidup Anda. Jangan khawatir dengan kesan-kesan yang manipulatif, beriringan dengan berjalannya waktu dan banyaknya kesan yang Anda terima Anda akan memiliki keterampilan mengenali kesan yang sekedar diucapkan untuk menyenangkan diri Anda sesaat.  Alam bawah sadar Anda akan memahami proses memisahkan kesan asli dan palsu. Nurani Anda akan memihak Anda untuk mendorong keluar berbagai kesan negatif yang dulunya terlanjur menjadi prinsip brilyan Anda namun menjadi prinsip perusak nomor satu. Dengan mengumpulkan sepotong-demi sepotong kesan yang tulus dari orang di sekitar Anda, suatu hari Anda akan memiliki keberanian membongkar gurita prinsip negatif dalam diri Anda. Proses koleksi kesan-kesan orang lain akan menjadi peta baru perubahan, penguatan, pelembutan, pengayaan, serta pemberdayaan potensi sejati diri Anda. Selamat menekuni profesi baru sebagai kolektor kesan-kesan diri. Ingatlah bahwa kesan-kesan tersebut adalah jejak-jejak penemuan jati diri Anda sejatinya.[blp]

* Bartholomius Padatu (disingkat BL Padatu) lahir samarinda 24 November 1974. Ia menikah dengan Selvy Handayani, S.E. dan dikaruniai seorang putri bernama Shekinah Jeshan Padatu. Padatu menamatkan studi S-1 di STT INTIM, Makassar 1993-1999, menikmati pembelajaran S-2 di Jurusan Administrasi Negara FISIPOL UGM Yogjakarta 2007-2009, dan studi S-3 sedang ditempuhnya pada 2009 di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif berkesenian teater, menulis naskah, dan mensutradarai pementasan-pementasan teater. Padatu senang bertemu dengan pribadi-pribadi pembelajar.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Orientasi Hidup, Luruskan!

maria-saumi-rOleh: Maria Saumi*

Kurang lebih sekitar enam bulan yang lalu, setelah sekian lama menderita sakit, ibunda tercinta saya dipanggil oleh Yang Mahakuasa. Tidak lama setelah itu, sekitar tiga bulan kemudian, ayahanda tercinta pun menyusul beliau dipanggil oleh-Nya. Kepergian kedua orang tua saya tersebut dapat dikatakan dalam rentang waktu yang hampir bersamaan. Jujur, kejadian besar itu memang telah membuat saya merasa putus asa dan sedih tiada terkira. Putusnya rasa pengharapan mengghinggapi diri saya.

Saya ternyata manusia biasa. Saya tentunya juga dapat berduka, sedih, dan juga putus asa. Kondisi tersebut membuat saya menjadi tidak dapat berpikir dan melakukan apa-apa yang berarti menurut saya. Otak dan pikiran saya terasa ”blank”. Saya tidak dapat memungkiri, kegamangan telah menghinggapi saya.

Efek dari respon saya terhadap kondisi atas peristiwa yang dialami salah satu di antaranya adalah saya tidak dapat menulis dalam beberapa waktu. Tulisan ini adalah tulisan pertama dari ”kembali”-nya saya. Tulisan yang hampir hanya berupa ungkapan hati dan pikiran saja. Saya mencoba untuk menggugah kembali kesadaran dalam diri saya bahwa saya sebelumnya pernah menulis. Menjadi penulis di website motivasi ini (Terkadang rasa malu menghinggapi saya. Kok bisa ya, penulis refleksi dan sedikit motivasi jadi down seperti saya begini?).

Bulan saat saya menulis tulisan ini adalah bulan Desember. Bulan kelahiran ibunda saya. Teringat kembali semua kenangan. Bilamana saya boleh mengulang suatu kejadian kenangan di masa kecil saya dengan orangtua saya. Terasa masih segar dalam ingatan saya. Saya masih balita waktu itu. Seperti biasanya seumuran balita, saya dipaksa tidur siang oleh ibunda saya.

”Tidur siang bagus untuk anak kecil,” kata ibunda saya waktu itu. ”Bisa jadi pinter, badannya enggak kurus gitu. Terus jadi pinter karena makannya banyak buat kekuatan otaknya,” lanjutnya.

Terasa cerewet di telinga saya waktu itu, tapi saat ini saya kangen akan kecerewetannya. Saya termasuk anak kecil yang susah makan. Saking sulitnya makan, saya pernah ”dicekoki” jamu-jamu nafsu makan kala itu. Sebagai anak kecil tentu saja saya lebih senang bermain daripada makan. Dengan demikian, ibunda saya mengimingi saya dengan segenggam permen, coklat, atau jajanan kecil seperti siomai, bubur, dan lainnya agar saya mau melahap makanan. Makanan-makanan seperti itulah yang akan diberikan apabila saya telah melaksanakan ”perintah-titahnya” untuk tidur siang.

Waktu itu sore hari. Reward saya sore itu adalah jajanan siomai. Walaupun sebagai anak kecil saya tergolong susah makan, tapi tidak dengan jajanan. Setelah mandi, wangi, rambut dikuncir kuda, dan berpakaian rapi, saya diajak ibunda berjalan-jalan sore di lingkungan sekitar rumah. Aktivitas itu membuat ibunda saya dapat asyik bertegur sapa, mengobrol ngalor-ngidul dengan ibu-ibu lainnya. Sedangkan saya dapat bermain berlarian dengan teman sebaya saya. Tibalah saatnya saya menikmati reward sore itu, sepiring siomai. Ada juga beberapa ibu lainnya yang juga memberikan jajanan siomai kepada anak-anaknya.

”Iiiiihhhh, enggak boleh begitu, enggak sopan ya!” nada suara ibu saya kala itu agak membentak saya ketika saya memperlihatkan piring yang ”tandas dan licin” kepadanya. Siomai sepiring telah habis. Tetapi, apa yang terjadi? Ternyata bentakan ibunda yang diikuti oleh jepitan jemarinya, yaitu jempol dan telunjuknya yang dijepitkan ke badan saya. Saya dicubit. Agak keras dan terasa sedikit sakit. Saya terperanjat dan kaget. Saya bukanlah anak kecil yang cengeng. Walaupun saya tidak menangis, tetapi saya merasa bersalah, juga bingung, keheranan.

Saya memang menghabiskan siomai sepiring penuh seperti titah ibunda saya. Tetapi, saya ”lebay” (berlebihan, bahasa gaul sekarang). Saya menambahinya dengan mempertemukan lidah saya dengan piring siomai tersebut demi memperlihatkan kepada ibunda bahwa saya adalah anaknya yang pintar yang telah menghabiskan makanannya….

Tujuan saya kala itu hanyalah ucapan yang saya kira akan keluar dari mulutnya, ”Anak Mama pintar, makanannya diabiskan.” Saya tidak menyangka aktivitas ”pamer” berakibat seperti itu. Sepertinya, ibunda saya kala itu malu dilihat oleh ibu-ibu lainnya, karena mungkin terkesan punya anak yang kampungan, tidak bisa mengajari anaknya sopan santun ketika makan hahaha…. Saya, kalau ingat kejadian itu, ingin tertawa rasanya. Antara saya dan ibunda ternyata terjadi missunderstanding (maaf ya Bunda).

Baru-baru ini peristiwa siomai itu seperti flash back di pikiran saya. Saya tersentak. Benar-benar tersentak. Ternyata selama ini saya terbiasa merasa selalu ingin menjadi anak yang baik, patuh, juga membanggakan bagi kedua orang tua saya. Dengan demikian, ketika keduanya telah meninggal dunia dan tidak lagi berada dekat dengan saya dalam arti harfiah, jujur saya kehilangan pedoman. Saya kehilangan pegangan. Saya mengandalkan kehadiran mereka dalam hidup saya. Terasa semua baik-baik saja apabila ada mereka. Saya juga merasa tidak ada lagi ”hal-hal” yang perlu dipertunjukkan atau diperlihatkan kepada mereka. Saya tidak dapat lagi membahagiakan dan membanggakan mereka. Dan, saya juga kehilangan tempat berkeluh kesah. ”Lalu, semua buat apa?” itu pikir saya yang naif.

Pikiran-pikiran itulah ternyata yang ”menghantui” saya beberapa bulan belakangan ini. Semua hal, selain kedua orang tua tercinta saya, bagi saya adalah tidak penting. Berbahaya sekali pikiran saya kala itu. Bayangkan, semua hal menjadi tidak penting di mata saya. Pasangan, kerjaan, teman-teman, bahkan uang pun menjadi tidak penting bagi saya dalam periode itu (sekarang sih penting lagi hehehe…).

Kesalahan saya adalah orientasi hidup saya yang telah terlalu terfokus kepada kedua orang tua. Prioritas utama saya adalah mereka, ketika mereka masih hidup. Menjadi kebanggan mereka adalah tujuan hidup saya. Jadi, ketika mereka sudah tidak ada secara fisik, saya pun ”terkapar” secara fisik, emosional, dan psikologis. Saya menjadi down. Tidak ada lagi tempat untuk ”berbangga”. Saya benar-benar mengandalkan kehadiran mereka dalam hidup saya.

Apa pun yang saya lakukan selama ini ternyata orientasinya adalah kedua orang tua saya. Saya merasa ini tidak sepenuhnya salah. Tetapi, ini tidak seratus persen benar. Karena, sebenarnya orientasi kita sebagai manusia adalah Tuhan, Allah SWT. Terbersit pula kutipan perkataan Mario Teguh: saya + TUHAN = cukup. Pernyataan itu benar-benar sangat ”menyengat” saya kali ini.

Hanya kepada Dia-lah orientasi kita fokuskan. Hanya kepada Dia pulalah hidup ini kita sandarkan. Hanya kepada Dia-lah kita bersandar untuk menyembah dan meminta pertolongan. ”Iyyakaana’ budu wa iyyaa kaa nasta’iin”. Bukankah tujuan Tuhan menciptakan kita manusia adalah tiada lain untuk beribadah kepada-Nya.[ms]

* Maria Saumi, lahir di Jakarta 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Lulusan dari Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia tahun 2000. Dia bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang investasi di daerah Sudirman, Jakarta, dengan spesialisasi futures trading investment. Maria dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at] yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Bahagia Tanpa Syarat

gnOleh: Guntur Novrizal*

Tulisan ini saya mulai dengan cerita tentang seorang tokoh bernama Nasrudin. Pada suatu hari, Nasrudin mencari sesuatu di halaman rumahnya yang penuh dengan pasir. Ternyata, Nasrudin sedang mencari jarum. Melihat Nasrudin yang sedang kebingungan, tetangganya merasa kasihan, akhirnya ia ikut membantu mencari jarum tersebut. Tetapi setelah sekian lama mereka mencari, jarum itu tidak ditemukan juga.

Dengan nada penasaran tetangganya bertanya,Memang jarumnya jatuh di mana?”

Dengan enteng Nasrudin menjawab,Jarumnya jatuh di dalam.

Lalu tetangganya bertanya lagi,Kalau jatuhnya di dalam, kenapa mencarinya di luar?”

Nasrudin menjawab dengan ekspresi tanpa dosa,Karena di dalam gelap, di luar kan terang…?

Cerita di atas bisa menjadi cermin bagi kita, seperti itulah yang sering kita lakukan untuk mencari kebahagiaan dalam hidup. Sering kali kita mencarinya di luar sehingga akhirnya tidak menemukan apa-apa. Sedangkan daerah di mana kebahagiaan itu bisa ditemukan justru luput dari pantauan kita.

Terlalu sering kita larut dalam perbandingan diri kita dengan orang lain. Yang tampak, seolah-olah rumput halaman tetangga selalu lebih hijau dibanding halaman kita. Seakan hati tidak terima kalau tetangga, teman, atau saudara kita mendapatkan pencapaian yang lebih baik dari kita. Berat rasanya hati untuk bisa bahagia kalau melihat hal tersebut. Apalagi bila ingat masa lalu posisi mereka di bawah kita, baik secara intelektual dan materi.

Ada lagi satu hal yang berbahaya dan bisa menyebabkan seseorang susah bahagia maupun mencapai kesuksesan. David J. Schwartz menyebutnya itu sebagai penyakit dalih yang banyak diderita oleh orang yang tidak bahagia dan tidak sukses. Karena, semakin banyak syarat yang kita tentukan untuk bahagia, akan semakin sulit bagi kita untuk bahagia. Semisal, kita akan merasa bahagia kalau sudah punya rumah sendiri sehingga kita bisa tenang menempatinya. Nyatanya, setelah kita punya rumah, kita juga tidak lantas bahagia karena kebahagiaan kita sudah berbeda lagi ukurannya. Begitu seterusnya sampai kita tidak pernah menemukan kebahagian karena syarat yang kita tetapkan terlalu banyak.

Padahal, mungkin kebahagiaan itu tidak jauh dari diri kita. Cuma terkadang banyak orang tidak sadar dengan itu. Coba kita tengok akan diri kita sekarang! Apa yang kurang dari kehidupan kita sekarang? Kita masih hidup dan ditemani oleh orang-orang yang sangat menyayangi kita. Ada orang tua yang sangat perhatian ke kita. Ada saudara yang akan membantu kita kalau kita mendapat kesusahan. Ada sahabat yang bisa kita ajak berbagi persoalan dalam hidup, seberat apa pun itu. Dan, bagi kita yang sudah punya amanah berupa anak, jaga dan rawat dengan baik. Bukankah tawanya, candanya, atau mungkin tangisnya bisa membuat kita bahagia? Selain itu, kita pun masih diberi kemampuan akal dan pikiran kita untuk bisa berpikir jernih dalam menyelesaikan semua masalah.

Jadikan semua itu menjadi sumber kebahagiaan kita. Cukupkan mereka saja yang menjadi alasan kita untuk bisa bahagia. Kondisi sesulit apa pun sekarang yang menimpa, hadapilah dengan penuh keikhlasan. Lalu, memintalah kepada Tuhan untuk diberikan kekuatan menyelesaikannya. Kunci terakhir untuk bahagia adalah dengan senantiasa mensyukuri atas apa pun yang sudah diberikan Tuhan kepada kita, baik itu berupa orang-orang yang peduli sama kita maupun materi yang sudah kita punya. Tentu dengan tidak mengabaikan bekerja keras lagi agar semua yang kita inginkan bisa tercapai. So, tak ada alasan lagi untuk tidak bahagia. Optimislah Anda memiliki semuanya. Maka, berbahagialah.[gn]

* Guntur Novizal lahir di Brebes pada 11 Noverber 1984. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jenderal Soedirman dengan predikat Cum Laude. Ketika masih aktif kuliah dulu pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Akuntansi UNSOED. Sekarang sehari-hari bekerja sebagai Marketing di salah satu Perusahaan Pembiayaan Perbankan di Jakarta. Bisa dihubungi di blog: www.gunturnovizal.tk, pos-el: vizal_jr[at]yahoo[dot]com, HP: 081548865435.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 4.5/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 3 votes)

Membangun Kepribadian Melalui “Internal Shift Control”

supOleh: Supandi, S.Pd, MM*

Barangsiapa bersyukur kepadaKu maka akan Aku tambah nikmatnya,

dan barangsiapa ingkar maka sesungguhnya adzabku sangat pedih.”

(QS. Ibrahim : 7 )

Kompetisi dalam meraih sebuah cita-cita sering kali diwarnai dengan adanya persaingan yang sungguh ketat. Hal ini terjadi hampir di semua moment penting. Seorang siswa lulusan SMA pada tahun pelajaran 2008/2009 yang hendak mengambil jurusan kedokteran UGM, dia harus bersaing dengan sekitar 120 siswa. Karena, dari hampir 12.000 pendaftar hanya tersedia kursi sebanyak 100 kursi. Pada awalnya, oleh sebagian masyarakat profesi guru dianggap sebagai sebuah pekerjaan yang kurang menjanjikan. Namun, dewasa ini profesi guru menjadi sebuah ajang kompetisi yang cukup ketat..

Hampir semua orang mengakui dahsyatnya sebuah upaya spiritual dalam rangka mewujudkan cita-citanya. Sebuah energi tanpa batas mereka hadirkan ke dalam relung hati seseorang. Energi tanpa batas mereka hadirkan melalui rangkaian doa dan usaha maksimal dengan keyakinan penuh.

Banyak orang dan barangkali termasuk diri Anda sudah bisa merasakan jawaban dari Tuhan atas upaya dan doa yang telah mereka lakukan. Jawaban dari Tuhan yang dimaksud adalah terkabulnya cita-cita yang didambakannya.

Ada dua keuntungan yang bisa diambil dari serangkaian upaya spiritual pascadikabulkannya doa. Pertama, perasaan puji syukur kepada Tuhan atas anugerah yang telah Dia berikan yang tentunya sangat berharga bagi kehidupan jangka panjang. Kedua, semakin menebalnya keyakinan akan keberadaan Tuhan dengan sifat-sifat-Nya. Dua di antara 99 sifat Tuhan YME (Asmaul Khusna) adalah Ar-rahman dan Ar-rahim (Mahapengasih dan Mahapenyayang).

Efek dari terkabulnya suatu doa sangat mungkin akan berimbas pada semakin tebalnya keimanan seseorang. Tak dapat dimungkiri bahwa tidak ada kekuatan hakiki yang bisa manusia dapatkan kecuali yang datangnya dari Tuhan. Kalaupun ada, itu hanya bersiafat semu. Sehingga, ketika Anda berhasil menggabungkan antara usaha dengan doa secara integrated maka perpaduan antara kedua unsur tersebut akan membentuk sebuah kekuatan super mind. Dengan super mind (pikiran super) manusia bisa melakukan apapun sesuai dengan positive thinking (pikiran positif), seperti keinginan kita, meraih cita-cita kita, menjadi lebih baik dan lebih bahagia (Wuryanano: 2006).

Yang menjadi bahan renungan selanjutnya adalah, “Sudahkah kita menyadari bahwa kondisi nyaman berupa nikmatnya iman akan senantiasa berjalan mulus bahkan meningkat?” Sudah bisakah kita mempertahankan kedekatan dengan Tuhan sebagaimana yang sudah kita bangun selama ini? Realitas yang kita jumpai dalam kehidupan ini tidaklah demikian adanya. Stabilitas keimanan seseorang sering kali digoncang oleh berbagai cobaan, ujian atau iming-iming.

Banyak orang gagal mempertahankan stabilitas keimanan pascatercapaianya keinginan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Satu di antara faktor yang paling popular dan sering menghiasi media massa adalah korupsi. Tentunya Anda dan saya tidak menginginkan hal ini terjadi pada diri ini. Jalinan cinta kasih dengan Sang Khalik jangan sampai pudar diterpa oleh embusan negative thinking (pikiran negative). Bukankah kita tidak mau dijauhi oleh Tuhan? Ingat syair lagu Tuhan milik Bimbo “Aku jauh Engkau jauh, aku dekat Engaku dekat. Hati adalah cermin, tempat pahala dan dosa berpadu”.

Secara implisit, Erbe Sentanu dalam bukunya Quantum Ikhlas mengingatkan kepada kita akan adanya pergeseran posisi pandang di dalam diri seseorang (internal shift) terkait dengan kondisi keimanan seseorang. Kondisi keimanan seseorang ataupun siapa pun orangnya dalam perjalanannya akan mengalami pergeseran. Dalam bahasa yang lebih ekstrim dapat dikatakan bahwa kondisi keimanan seseorang akan mengalami pasang surut bak air laut.

Sebagai orang bijak tentunya Anda minimal akan mempertahankan posisi seperti pada saat Anda berdoa untuk memohon agar cita-citanya tercapai. Bahkan, lebih beruntung lagi jika internal shif Anda meningkat. Jika hal ini terjadi berarti Anda telah berhasil membangun sebuah kepribadian yang baik. Kepribadian yang baik diawali dari prinsip yang kuat. Anda pun akan menjadi manusia yang kuat. Amin ya Rabbal’alamiin.[sup]

* Supandi lahir di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Saat Anda Tak Memiliki Waktu

faOleh: Fida Abbott*

Time is Money. Pernyataan ini sudah sangat umum kita dengar dan sudah tidak asing lagi bagi kita. Sebenarnya, apakah artinya? Menurut saya, pernyataan itu mengartikan bahwa waktu itu sangatlah berguna sehingga selayaknyalah kita bijaksana dalam memanfaatkannya.

Status sebagai seorang wanita yang telah berkeluarga dan telah memiliki putera-puteri, tentu sangat menguras tenaga dan pikiran, apalagi bila ada embel-embel berikutnya, yaitu bekerja di luar rumah ditambah melakukan beberapa aktivitas sukarelawan, plus kegiatan tulis-menulis. Ini belum seberapa bila dibandingkan ada anggota keluarga yang sakit. Siapakah yang paling repot? Tentu saja seorang ibu. Belum lagi setiap hari harus memikirkan kira-kira makanan apa yang akan disantap oleh keluarga, baik untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam, ditambah urusan sekolah yang paling tidak seorang ibu harus mempersiapkan keperluan sekolah atau membantu mengajar anak-anaknya.

Kondisi di atas adalah sebuah contoh yang saya alami sendiri. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana sibuknya diri saya? Bahkan dalam kurun waktu sekitar delapan bulan saya dapat menyelesaikan penulisan sebuah novel pertama saya tanpa melalaikan semua tugas satu pun di atas. Tambahan aktivitas tersebut sangat menguras energi, pikiran, dan emosi. Apalagi saya menulisnya dalam bahasa kedua saya, yaitu bahasa Inggris. Seminggu setelah menyelesaikan total penulisan tersebut, saya tak menyentuh notebook yang biasa saya gunakan untuk menulis novel. Saat itu pun saya baru sadar betapa besarnya energi, pikiran, dan emosi yang terlibat selama kurun waktu penulisannya. Kalau saya katakan tak ada satu pun kagiatan lainnya yang terganggu, berarti ada satu hal lainnya yang harus saya korbankan. Apakah itu? Tak lain adalah waktu tidur saya yang berkurang.

Saya sadar apabila ingin mencapai sesuatu tujuan yang diinginkan akan ada sesuatu yang harus saya korbankan, yaitu mengurangi waktu tidur. Bila Anda memiliki waktu tidur antara 8-10 jam per hari, maka saya berkurang setengahnya. Meskipun begitu ada sesuatu kenikmatan dan kepuasan dalam hati yang tak dapat dibayar oleh apa pun setelah menyelesaikannya hingga tuntas, dan itu merupakan obat yang mujarab sepanjang masa.

Kalau Anda pernah mendengar seorang yang belum berkeluarga dan menyukai dunia tulis-menulis mengatakan tak ada waktu untuk menulis, maka saya katakan untuk perlu mengoreksi pernyataannya. Hasrat yang tinggi disertai tekat bulat akan mengalahkan segalanya, termasuk waktu itu sendiri.

Kalau seorang ibu rumah tangga dengan segudang kegiatannya, baik di dalam dan di luar rumah, aktivitas online-nya, sukarelwan maupun yang tidak, maka saya yakin Anda-anda yang masih single, belum berkeluarga akan lebih jauh dapat melakukan hal-hal yang lebih besar daripada itu. Bagaimana? Setujukah Anda dengan pernyataan saya tersebut?[fa]

* Fida Abbott adalah Arek Suroboyo yang lahir pada 11 Pebruari 1970 di Surabaya dan sekarang tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia mengenal dunia tulis menulis sejak usia 8 tahun hasil didikan langsung ayahndanya, Imam Sujono, dan melahirkan cerpen remaja pertamanya berjudul “Kidung Kasih untuk Lintang” pada usia 13 tahun. Menulis merupakan aktivitas lulusan Pertanian jurusan Agronomi dari UPN ‘Veteran’ Surabaya ini. Fida memiliki beberapa pengalaman kerja di bidang landscape, dari proyek kecil hingga besar, dari perumahan tunggal, real estate, hingga hotel, kondominium, apartemen berbintang lima di Surabaya. Ia pernah berkarier di AIG-Lippo, jadi guru les privat, dan kini tercatat sebagai WALMART Associate, menjadi Redaktur Pelaksana Harian Online KabarIndonesia (HOKI), www.kabarindonesia.com sekaligus Direktur Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH). Tulisan-tulisannya tersebar di beberapa media online, antara lain di KabarIndonesia, Helium, Cross-Written, The Daily Avocado, dan ketiga blog-nya di www.fidaabbott.com, www.buanainspiration.blogspot.com dan www.abbottsbooks.com. Fida adalah penulis buku What Prayers does Mommy Teach Me, Dancing in My World, dan buku seri Amerindo Kitchen. Buku seri pertama Amerindo Kitchen sudah terbit dengan judul Fabulous Leftover Turkey.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Belajar dari Nick Vujicic, Sang Motivator dan Inspirator

twOleh: Tri Wahyuni*

Saya dan suami mengikuti acara CPW (Core Person Weekend) di Wonosalam, Jombang, awal bulan November tahun lalu. Salah satu pembicaranya bernama Yunita menyampaikan materi tentang sikap. Di sela-sela penyampaian materi tersebut Yunita menayangkan video durasi pendek. Video tersebut menampilkan Nick Vujicic, seorang pria berusia 26 tahun yang menjalankan hidupnya dengan sempurna. Awal video tersebut hanya memperlihatkan raut wajah Nick Vujicic yang bersemangat sambil memperkenalkan diri dihadapan kamera. Semula, saya pribadi begitu terpesona melihat wajahnya yang menarik dan tersenyum. Namun, ketika sorot kamera mengarahkan ke seluruh tubuhnya, saya sempat terenyuh melihatnya.

Nick Vujicic, adalah seorang pria yang menginspirasi banyak orang di dunia ini supaya selalu bersikap positif dan terus berani menghadapi kehidupan ini. Ternyata dia tidak memiliki kesempurnaan pada fisik tubuhnya karena tidak mempunyai tangan dan kaki sejak lahir. Sejenak saya tertegun. Nick Vujicic memang orang yang sangat luar biasa. Dalam ketidaksempurnaan fisik yang ia miliki, ia mampu memberi inspirasi dan semangat kepada orang lain yang memiliki fisik lebih sempurna darinya.

Video tersebut memperlihatkan kehidupan sehari-hari Nick Vujicic, mulai bangun tidur, melakukan aktivitas di kamar mandi, mengenakan pakaian, sampai mengisi kegiatan hari itu, semuanya ia lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Padahal, ia tidak memiliki tangan ataupun kaki seperti orang lain. Wajahnya tetap bersemangat.

Di session lain, ditunjukkan beberapa album foto Nick dari bayi sampai dewasa, yang semuanya menggambarkan bahwa Nick benar-benar menghargai kehidupan ini dengan penuh semangat dan antusias. Namun ada pula session selanjutnya di video tersebut, terlihat Nick mengungkapkan bahwa ia pun pernah merasakan saat down. Namun, hal itu tidak menjadi penghalang baginya untuk terus bangkit dan maju.

Tapi yang paling menyentuh adalah session video pada saat Nickdengan segala kesederhanaan yang ia milikimemberikan motivasi kepada para siswa sekolahan yang hadir untuk bertemu dengannya. Nickdengan penuh kesungguhanmemberikan motivasi yang sangat membekas di hati para siswa tersebut.

Nick, mungkin hanya pria biasa dengan kekurangan fisik. Namun, dengan keadaannya tersebut, ia tidak minder ataupun putus asa menghadapi dunia ini. Bahkan, Nick mampu menunjukkan kepada dunia siapa dirinya sekaligus menjadi inspirasi bagi setiap orang untuk tidak pernah menyerah dalam menghadapi kehidupan. Dunia ini begitu indah untuk diisi hal-hal yang positif dan bermanfaat.

Sobat, belajar kisah Nick Vujicic ini, permasalahan sikap dan pikiran adalah hal yang paling inti dan penting dalam hal ini. Sikap dan pikiran seorang Nick memang sangat luar biasa. Dari semua keterbatasan fisik yang ia miliki, ia mampu bersikap dan berpikir positif menghadapinya, dan bahkan ia mampu mengubahnya sebagai sumber kekuatan dalam hidupnya.

Pertanyaan saya sangatlah sederhana pada diri saya sendiri dan para sobat. Apakah selama ini kita dapat mampu bersikap dan berpikir positif dalam menghadapi semua hal yang terjadi dalam hidup kita? Bahkan, bila hal yang terjadi tersebut benar-benar merontokkan semangat kita dan membuat kita terpuruk serta merasa bahwa tidak ada jalan untuk menghadapi itu semua selain menyerahkan nasib.

Melihat sosok Nick dengan penuh aura positif yang dimilikinya, membuat kita harus intropeksi diri kembali. Tanpa kita sadari, begitu banyak anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita. Termasuk kesempurnaan fisik yang tidak dimiliki oleh Nick. Tapi, mengapa perasaan bersyukur dan sikap positif Nick malah lebih bermakna dari pada kita? Terlebih ia bisa begitu banyak menginspirasi dan membangkitkan semangat orang lain.

Sobat, semua memang tergantung dari sikap dan pikiran kita masing-masing. Bila kita selalu belajar bersikap dan berpikir positif, maka hal-hal positif pulalah yang akhirnya dapat kita tarik. Sedikit mengambil intisari dari buku The Secret tentang law of atraction atau hukum tarik-menarik. Saya jadi ingat satu pesan orang tua terdahulu agar kita selalu bersikap dan berpikir positif. Dengan begitu kita akan menarik hal-hal positif kepada diri kita. Karena itulah sobat, tariklah hal-hal yang positif di sekitar kita. Buang jauh-jauh hal-hal negatif ke laut saja hahaha….

Nick mengajarkan banyak hal pada saya pribadi dan semua orang tentunya. Tidak hanya tentang sikap dan berpikiran positif saja. Tetapi, tentang arti semangat dan perjuangan hidup yang ia di wujudkan melalui kehidupan yang ia jalani dengan penuh rasa syukur dan menginspirasi banyak orang untuk berubah lebih positif dan baik.[tw]

* Tri Wahyuni, yang lahir di Samarinda tanggal 1 Mei, adalah lulusan Universitas Brawijaya, Malang. Selain menjadi ibu rumah tangga, ia juga berprofesi sebagai pengusaha dan sekarang sedang membangun aset secara profesional. Hobi menulis dilakukannya sejak duduk di bangku sekolah. Selama ini, Tri lebih banyak menulis artikel opini, sekaligus belajar menulis sastra secara otodidak, dan telah dipublikasikan di sejumlah media cetak maupun internet. Akftivitasnya menulis dilakoni dengan sepenuh hati dan dengan motivasi maupun dukungan suami tercinta. Tri dapat di hubungi pos-el: aryamandira[at]telkom[dot]net.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox