Menjadi Pemenang Sejati di Tengah Krisis Ala Renald Khasali

Sri JuliantiOleh: Sri Julianti*

Kondisi krisis finansial yang mula-mula terjadi di Amerika Serikat, yang kemudian merambat ke Eropa dan negara-negara lain, menimbulkan tanda tanya dan rasa was-was pada kita. Meskipun krisis belum terjadi, tetapi tak ayal lagi banyak perusahaan melakukan langkah-langkah pengamanan dengan berbagai macam cara untuk mengurangi risiko yang di tanggungnya. Langkah-langkah pengamanan dapat berupa penundaan investasi, pengurangan ongkos produksi, biaya training, biaya travelling, dll. Alhasil, perusahaan airline misalnya, mengalami penurunan jumlah penumpang, perusahaan jasa training atau konsultan mengalami penurunan permintaan, dan banyak perusahaan melakukan PHK.

Padahal, kalau diamati dan berdasarkan fakta yang ada, krisis yang terjadi di satu negara belum tentu akan terjadi di negara lainnya. Tetapi, embusan awan krisis yang begitu pekat, akhirnya memengaruhi sikap mental kita, walaupun krisis belum betul-betul terjadi. Dalam setiap krisis, setidaknya ada dua tipe manusia, yang satu resah dan selalu bertanya, ”Aduh! Bagaimana nanti?”, dan yang satunya lagi tak peduli dan berujar, ”Bagaimana nanti saja!”

Dalam konteks inilah, menarik sekali untuk membandingkan Mazhab Awan Gelap berdasarkan pemikiran Thomas Friedman, yang menyatakan bahwa bumi itu datar (the world is flat) dan Mazhab Terang–Gelap berdasarkan pemikiran Christopher Columbus, yang menyatakan bahwa bumi itu bulat. Walaupun tidak semua orang sepaham dengan Mazhab Awan gelap–termasuk sang penulis buku Renald Khasali—tetapi kedua mazhab itu digunakan untuk mengkaji fakta-fakta di lapangan.

Berdasarkan pengalaman krisis tahun 1998, dengan munculnya bisnis baru ataupun pengusaha baru akibat badai krisis, Renald berusaha membangkitkan motivasi pembaca dengan menyebutkan bahwa krisis adalah kabar gembira (bad news is good news). Krisis adalah gabungan antara bencana dan kesempatan. Yang terpenting dalam menghadapi krisis adalah semangat untuk MENANG, semangat dan keyakinan untuk menang. Menurut Renald, dalam masa krisis inilah diuji siapa yang Pemenang Semu dan siapa yang Pemenang Sejati.

Dikatakan juga bahwa dunia ini serba kompleks dan paradoks. Misalnya, bahaya yang tafsiran paradoksnya menguntungkan dan masuk. Juga pada Bab Relaksasi, constraint disebutkan ada macam, yaitu structural (skala dan skup usaha), resource (uang/modal, SDM, waktu), dan strategic (menyangkut produk dan pasar). Meskipun krisis mengharuskan kita melakukan down shifting, downcosting, tetapi janganlah menyebabkan kekakuan yang ujungnya menyebabkan bencana untuk perusahaan.

Memang setiap orang berbeda-beda dalam mengartikan krisis. Hal ini tergantung kepada penginderaan fisik (sensing), pengalaman hidup (social-psychology), keilmuan (validity & reality), dan kebajikan (filosofi). Renald Khasali juga menekan pentingnya core belief sebagai pemenang sejati yang memiliki pengaruh yang sangat penting agar kita tidak terombang-ambing atau tidak punya pegangan. Belief dikatakan sebagai jangkar hidup seseorang, dan inilah yang membedakan Anda dari orang lain.

Menurut saya, sistematika buku ini tidak cukup mudah diikuti. Karena, bab-babnya terdiri dari enam bab dengan masing-masing terdiri dari dua sampai tujuh subbab (subbahasan). Kurang jelas perpindahaan dari bab utama ke subbab, juga gambar-gambar yang disajikan. Tetapi, buku ini boleh dikata sudah mencakup pembahasan cara menghadapi krisis. Dan, boleh dikatakan ini lebih sebagai buku motivasi ketimbang buku pemasaran. Walaupun judulnya Marketing Therapy, tetapi buku ini juga dapat digunakan oleh orang yang bukan bergerak di bidang marketing.

Jadi, menurut saya, buku ini boleh diibaratkan sebagai buku motivasi buat semua orang yang sedang menghadapi krisis, apa pun bentuknya.

Yang menarik dan beda dengan buku-buku marketing lainnya, buku ini sangat kaya dengan gagasan tentang bagaimana menjadi pemenang sejati. Memang, apa yang dipaparkan renald Khasali dalam buku ini bukanlah gagasan-gagasan yang sama sekali baru. Tetapi, gagasan menjadi pemenang sejati di masa krisis ini akan membangkitkan semangat kita untuk tidak cemas, dan tetap berani mencari semua peluang dan kesempatan yang ada.

Simak saja pada bab 4, hal 149, yang membahas tentang Core Belief. Di sana diberikan kuosioner dan scoring-nya, dan dilanjutkan dengan terapi kekuatan yang memberikan contoh dari film Kungfu Panda. Malahan, itu masih dilanjutkan lagi dengan judul khusus Kungfu Panda lengkap dengan gambarnya, untuk membahas tentang belief, confidence, dan trust. Core belief ini sangat penting untuk bekal menjadi pemenang sejati.

Memang, buku ini tak luput dari aneka kelemahan. Semisal, tata letak story box yang lebih dari dua halaman menyulitkan pembaca untuk menyamakan antara bab bahasan dan story box-nya. Juga kata-kata yang menganalogikan krisis dengan awan gelap, kadang terasa didramatisir, sehingga membingungkan pembaca. Gagasan-gagasan yang tidak dieksplorasi secara lebih mendalam, solusi tidak fokus dan detail, itu juga termasuk kelemahan buku ini. Marketing therapy yang di dalam judul, hanya menekankan semangat kemenangan, tidak dieksplorasi lebih mendalam, khususnya soal bagaimana solusi di bidang marketingnya itu sendiri.

Namun, pada situasi seperti sekarang, buku sejenis ini layak untuk dibaca dan dijadikan “penyegar” pikiran, khususnya bagi para pengusaha dan terutama para sales dan marketing team. Buku ini juga bisa dibaca oleh orang awan yang terkena imbas krisis, agar dapat berpikir dengan kepala dingin. Jadi, masih banyak hal positif yang bisa diambil ketimbang memikirkan kekurangannya.[sj]

* Sri Julianti adalah seorang pakar, konsultan, dan praktisi packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el:

DATA BUKU

bk-mtk-incrisisMarketing in Crisis – Marketing Therapy

Judul Buku: Marketing in Crisis – Marketing Therapy – Menyerang Pasar dan Mengambil Manfaat dari Krisis Ekonomi

Penulis: Rhenald Kasali

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Maret 2009

ISBN : 978-979-22-4435-9

Tebal : xi + 206 hal

Ukuran : 16 x 24 cm

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Sukses dengan Sikap Positif

Aleysius H. GondosariOleh : Aleysius H. Gondosari

“Semua orang dapat mengubah kehidupannya dengan mengubah sikap mereka.”

Andrew Carnegie

“Sikap adalah hal kecil yang membuat perubahan besar.”

Winston Churchill

“Temuan terbesar generasi saya adalah bahwa seorang manusia
dapat mengubah kehidupan mereka dengan cara mengubah sikap.”

William James

Untuk sukses, kecakapan teknis perlu didukung oleh sikap positif. Demikian yang dikatakan oleh Roger Fritz, presiden Organization Development Consultants. Sikap positif memengaruhi setiap aspek kehidupan kita. Selain kesuksesan, sikap positif juga merupakan faktor berpengaruh untuk menciptakan komunikasi yang efektif, menghindari kelelahan fisik dan mental, memperbaharui ketrampilan kita, dan menciptakan iklim kesuksesan. Cara kita memandang kesulitan dan masalah dapat menunjukkan perbedaan antara kesuksesan dan kegagalan.

Sikap tidak saja meliputi cara kita melihat dunia di sekitar kita, tetapi juga cara kita menerjemahkan situasi, kondisi, dan tindakan orang lain. Dengan kata lain, reaksi atau sudut pandang orang lain perlu diperhitungkan. Sikap positif tanpa interaksi tidak ada artinya.

Ada perbedaan yang sangat jelas antara sikap negatif dengan sikap positif. Sikap negatif dapat menimbulkan kecerobohan, ketidaktahuan, fatalisme, sinisme, kemalasan, kenekatan, dan terlalu percaya diri. Sebaliknya sikap positif akan menuntun pada perencanaan ke depan, menyemangati yang lain, menunjukkan apresiasi, kesaksamaan, kesungguhan, dan kesiagaan.

Kita dapat memulai sikap positif dengan menemukan kesenangan dalam hal-hal yang sederhana, serta mengambil yang terbaik dari situasi yang terburuk. Kita perlu menyadari bahwa tak seorang pun memiliki segalanya, dan setiap orang dalam hidupnya mempunyai kepedihan yang bercampur dengan kebahagiaan. Triknya adalah, bagaimana membuat tawa melebihi air mata.

Buku ini sangat bermanfaat bagi orang-orang yang ingin belajar bagaimana mencapai sukses melalui sikap positif. Agar pembaca dapat segera mempraktekkan sikap positif, buku ini dilengkapi dengan berbagai daftar periksa untuk melakukan penilaian sikap positif, serta saran-saran dan cara-cara untuk meningkatkan sikap positif. Melalui buku ini, kita dapat belajar bagaimana meraih kesuksesan dalam komunikasi, relasi, pekerjaan, dan bisnis dengan cara meningkatkan sikap positif, yaitu :

  • Mengukur Positive Attitude Quotient (PAQ) atau kecerdasan sikap positif Anda
  • Menilai sikap Anda melalui diri Anda sendiri dan rekan sejawat Anda
  • Mengatasi sikap-sikap negatif
  • Mempelajari hal-hal yang harus dan yang tidak boleh dilakukan saat menghadapi atasan
  • Menjadi komunikator dan seorang pendengar yang lebih baik
  • Mengatasi penolakan untuk melakukan perubahan di tempat kerja
  • Menolak saran tanpa menimbulkan sakit hati
  • Memberikan dan menanggapi kritik dari anggota tim
  • Menyatakan ketidaksepahaman kepada karyawan dan rekan sejawat tanpa menimbulkan suasana tidak nyaman
  • Mengatasi kelelahan mental dan stres

* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, pengembang online business, dan sedang menulis buku tentang sehat secara alami dengan metode Energi 5 Elemen. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail.com atau di nomor telepon: 0818116669.

Power of AttitudeJudul Buku : The Power of a Positive Attitude – Kunci Kesuksesan Sejati Anda

Oleh : Roger Fritz

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009

ISBN : 978-979-22-4486-1

Tebal : xiii + 186

Ukuran : 13,5 x 17 cm

Jumlah Bab : 10

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Sebuah Pilihan Bagi Kemajuan Indonesia

Aleysius H. GondosariOleh: Aleysius H. Gondosari*

Buku ini diterbitkan dalam rangka memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, yaitu dengan lahirnya organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. Gramedia mengundang para penulis, pembicara, dan motivator yang telah memberi insprirasi dan motivasi kepada banyak orang untuk berbagi ide, semangat, keprihatinan, ilmu, keahlian, dan kemampuan kepada masyarakat Indonesia. Dalam buku ini terdapat 12 nama yang menyumbangkan tulisannya, yaitu : Adi W. Gunawan, Anand Krishna, Andrew Ho, Anthony Dio Martin, Darmadi Darmawangsa, Gede Prama, Ida Kuraeny, James Gwee, Jamil Azzaini, Sonny Vin, Tommy Siawira, Tung Desem Waringin.

Buku ini sangat menarik untuk dibaca, karena memberi kesempatan untuk belajar dari para trainer dan motivator terkemuka di Indonesia, dan melihat berbagai topik sukses dari berbagai sudut pandang, yaitu tentang sukses itu sendiri, rahasia sukses, mind set, motivasi, optimisme, positif, kreatif, inovasi, emosi, respons, kecerdasan, spiritual, energi, profesional, hukum universal, dan passion.

Adi W. Gunawan, pakar Mind Technology, menulis tentang rahasia Mindset sebagai kunci sukses. Selain mindset, untuk sukses diperlukan (1) impian, (2) yakin, (3) syukur, (4) pasrah, dan (5) doa. Selain itu, Adi juga mengajarkan bagaimana Berguru Kepada Diri Sendiri dengan cara hening.

Anand Krishna, pendiri Yayasan Anand Ashram, menulis tentang Total Success, bahwa setiap orang berhak atas keberhasilan sempurna, karena semuanya sudah tersedia di dalam dirinya. Setiap orang menentukan dirinya sendiri untuk sukses. Anand Krishna mengatakan, Anda tidak membutuhkan motivator….. Karena Anda bukanlah jiwa yang lemah.” Anand Krishna mengajukan dua pertanyaan : (1) Apakah kita bekeja demi Kepuasan Diri, Kebahagiaan Diri atau sekadar untuk Mencari Uang? (2) Apakah pekerjaan saya hanya memuaskan dan membahagiakan diri saya atau juga membahagiakan orang lain?

Selain itu, Anand yang cinta Indonesia juga mengulas tentang pentingnya Pilihan kemajuan yang harus diambil oleh Indonesia. Pilihannya adalah apakah Indonesia akan memilih kesejahteraan dan kemakmuran manusia Indonesia secara menyeluruh dan merata, ataukah memperbanyak jumlah supermal, pencakar langit, perumahan, dan perkantoran mewah. Melangkah menuju kehancuran atau perbaikan dan kemajuan melalui sektor pendidikan dan ekonomi.

Andrew Ho, Mr. The BEST, menulis tentang Inspirasi Kreatif dan Menikmati Kehidupan. Ada berbagai cara untuk memperoleh inspirasi kreatif, yaitu bersikap terbuka, mencintai pekerjaan, mencari solusi, menyegarkan pikiran, memperluas wawasan, berpikir kreatif, optimis, berpikir positif, memadukan ilmu pengetahuan dengan semangat kerja, memanfaatkan ide orang lain untuk menciptakan ide baru.

Anthony Dio Martin, penulis buku bestseller Kecerdasan Emosional dan Pengembangan Pribadi, mengulas tentang Emosi sebagai motor kesuksesan. Kebiasaan menunda merupakan sabotase emosi terhadap goal kita. Anthony memberikan dua tip menggunakan emosi untuk mencapai sukses. Pertama, kaitkan goal kita dengan emosi yang menyenangkan. Kedua, memperbesar rasa sakit seandainya kita tidak melakukannya.

Dalam tulisan yang kedua, Dari Arggg! Menjadi Aha!: Mengatasi Pembajakan Amydala untuk Kesuksesan Anda, Anthony memberi tip bagaimana mengubah respons yang negatif dan tidak terkendali dalam menghadapi situasi yang tidak menyenangkan menjadi respons yang positif dan efektif. Pertama, bersikaplah antisipatif. Kedua, tekanlah tombol “PAUSE”. Ketiga, pastikan Anda memikirkan apa saja pilihan Anda. Keempat, pastikan Anda sempat memikirkan akibat jangka panjangnya.

Darmadi Darmawangsa, The Master of Motivation, membuka rahasia tentang 7 Powerful Steps to Boost Your Esteem. Dengan bertumbuhnya rasa percaya diri, orang akan lebih berani mengambil resiko dan lebih berani menghadapi kegagalan, akan menjadi lebih sukses dalam hidup, dan membawa kedamaian dan kebahagiaan di hati karena bangga menjadi dirinya yang sebenarnya.

Dalam 7 Langkah Dahsyat Meraih Impian Anda, Darmadi menjabarkan 7 langkah efektif agar mimpi dapat tercapai, yaitu (1) Impikanlah! (2) Percayalah! (3) Lihatlah! (4) Ceritakanlah! (5) Rencanakanlah! (6) Kerjakanlah! (7) Rayakanlah!

Gede Prama, Sang Jejak Spiritual, membahas tentang kecerdasan sukses dalam tulisannya Success Intelligence, dalam analogi Menanak Nasi Kehidupan, ketika kita mulai memasak nasi, api dibuat sebesar-besarnya. Namun, begitu airnya mendidih serta jumlah air mendekati habis, api segera dikecilkan. Demikian pula, dalam kehidupan, pada tingkat tertentu, diperlukan kecerdasan kesuksesan dalam bentuk keberanian untuk mengatakan cukup pada uang (mengecilkan api kompor), dengan rasa syukur dan perasaan berkecukupan, untuk membuka jendela kehidupan yang serba indah.

Pada tahap awal uang memang pendorong energi, kekuatan yang membuat hidup lebih hidup. Namun tanpa kecerdasan kesuksesan yang cukup, uang akan membuat manusia lapar dan semakin lapar. Kesadaran akan bahaya baru muncul, ketika semuanya sudah terbakar habis. Oleh sebab itu, di umur 40 tahun jangan lupa belajar mengecilkan kompor melalui rasa bersyukur dan rasa berkecukupan.

Dalam tulisan Success As A Journey: Dari Sukses yang Membakar Menuju Sukses yang Bergetar, Gede Prama mengingatkan agar orang jangan terbakar oleh sukses, tetapi mendidik diri untuk hidup berkecukupan. Perasaan berkecukupan adalah kekayaan teragung. Dalai Lama mengatakan, Contentment is the greatest wealth.” Ketika kita merasa berkecukupan dan berhenti mencari, ada satu pintu kehidupan yang terbuka: keheningan. Berbeda dari kegiatan mencari yang super sibuk, keheningan hanya menjadi saksi dari apa saja yang terjadi. Kesadaran yang tidak memilih. Bagi Gede Prama, keheningan sempurna itulah yang paling menggetarkan.

Ida Kuraeny, Ratu Agen Asuransi Indonesia, mengajarkan 3 Langkah Menjadi Wiraniaga Profesional. Bagi Ida, semua pekerjaan memberi kesempatan kepada kita semua untuk sukses, tanpa melihat siapa yang melakukannya. Ketiga langkah tersebut adalah: (1) Membangun semangat sebagai pemenang, (2) Mengundang kesuksesan ke dalam kehidupan sehari-hari, (3) Memberikan energi dalam kehidupan.

James Gwee, Indonesia’s Favourite Trainer, dalam tulisan Tas Ayah, ia menceritakan tentang pentingnya melatih keterampilan dan kemampuan yang akan menjadikan kita kuat dalam hidup ini. Dalam Matematika Anak, James Gwee mengajarkan tentang pentingnya belajar dari masalah yang diberikan kehidupan kepada kita, seperti halnya kita akan naik tingkat bila berhasil menyelesaikan masalah dalam pelajaran Matematika.

Jamil Azzaini, sang Inspirator Sukses Mulia, menjadikan To Be Sebagai Kendali Hidup. Ada dua kata penting yang dapat kita jadikan sebagai pedoman hidup, yaitu To Have, keinginan untuk “memiliki” sesuatu, dan To Be, keinginan untuk “menjadi. Perbedaannya terletak pada titik tujuan atau fokus yang dikejar. Orang-orang visioner memilih To Be sebagai kendali hidup.

Sonny Vin, Spesialis Motivasi dan Pengembangan Diri, membahas tentang hukum universal, yaitu The Law Of Attraction. Sonny mengembangkan 3 prinsip The Law Of Attraction - (1) Ask, (2) Believe, dan (3) Receive - menjadi 7 langkah yang masuk akal, yaitu (1) Ask - Impian yang masuk akal (2) Believe - Ciptakan kondisi yang membuat Anda percaya (3) Tulis impian yang spesifik (4) Umumkan kepada orang lain sebagai “pendorong” semangat (5) Receiving - Tanggap membaca peluang (6) Menggunakan Leverage untuk mencapai tujuan (7) Take Action! Sekarang juga.

Dalam Semakin Banyak Anda Memberi Akan Semakin Banyak Menerima Sony mengajarkan pentingnya prinsip memberi dalam mengejar impian kita. Memberi merupakan Hukum Utama atau Universal Laws. Sony mengajarkan cara memberi berdasarkan aturan, yaitu: (1) Dengan rasa tulus dan ikhlas, dan (2) Tidak selalu dalam bentuk uang.

Tommy Siawira, Coach dan Certified NLP Trainer, mengatakan bahwa dalam Anda Berpotensi Untuk Menjadi Yang Terbaik, setiap orang mampu berprestasi. Keyakinan yang sangat kuat merupakan sebuah kekuatan pendorong untuk mencapai tujuan.

Dalam tulisan berikutnya, Tommy menjelaskan pentingnya Passion sebagai bahan bakar untuk mencapai puncak prestasi.

Tung Desem Waringin, Pelatih Sukses No. 1 Indonesia, mengajarkan tentang The Most Powerful Secret untuk kaya. Napoleon Hill telah mewawancarai 500 orang terkaya pada zamannya dan semuanya mengikuti rahasia sederhana yang sama dalam menciptakan kekayaan, yaitu Semua Kekayaan Diciptakan Dalam Pikiran Manusia.[ahg]

* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, pengembang online business, dan sedang menulis buku tentang sehat secara alami dengan metode Energi 5 Elemen. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail.com atau di nomor telepon: 0818116669.

bkindbkitDATA BUKU

Judul Buku: Indonesia…BANGKIT!!!

Oleh: Adi W. Gunawan dkk.

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009

ISBN: 978-979-22-4333-8

Tebal: viii + 235

Ukuran: 13,5 x 20 cm

Jumlah Tulisan: 21

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Membangun Rumah Kebahagiaan

abdul muid badrunOleh: Abdul Muid Badrun*

Tempo hari saya berkirim SMS ke Arvan Pradiansyah, penulis buku The 7 Laws of Happiness, untuk meresensi bukunya dan disambut dengan baik. Sengaja saya kirim SMS karena memang sejak awal saya sangat menyukai tulisan-tulisannya. Buku pertamanya You Are a Leader (2003), buku kedua Life is Beautiful (2004), dan buku ketiga Cherish Every Moment (2007), semuanya begitu memesona dan menjadi bestseller di pasaran. Sehingga, hadirnya buku The 7 Laws of Happiness (2008) ini semakin mempertebal positioning Arvan sebagai penulis buku-buku laris dan bermutu dalam bidang pengembangan diri.

Ada ungkapan bijak dari Dave Gardner, ”Success is getting what you want, happiness is wanting what you get.” Ungkapan sederhana ini menunjukkan bahwa kesuksesan berbeda dengan kebahagiaan. Jika kita amati secara saksama, sudah begitu banyak buku yang mengupas dan menjelaskan bagaimana cara menjadi orang sukses. Sukses di sini identik dengan pencapaian sesuatu (sifatnya material-kuantitatif). Namun, masih banyak yang belum menyadari, bahwa kesuksesan tersebut ternyata tidak identik dengan kebahagiaan (happiness). Karena, yang terakhir ini lebih bersifat spiritual-kualitatif.

Kebahagiaan memang intangible dan bersifat relatif, tergantung dari sudut mana orang melihat. Perumpamaan pengendara mobil mewah melihat penarik becak dengan enaknya bisa tidur pulas tanpa masalah setelah bekerja, daripada dirinya yang bermobil mewah namun tak bisa menikmati tidur pulas karena tertimpa banyak masalah, setidaknya mengartikulasikan relativitas kebahagiaan itu. Boleh jadi si penarik becak juga akan beranggapan sama, bahwa enak sekali si pengendara mobil mewah itu, ke mana-mana ada yang melayani, sampai buka pintu mobil saja ada yang membukakan.

Melalui buku The 7 Laws of Happiness ini, Arvan menunjukkan kepada kita semua bahwa sifat relatif dari kebahagiaan itu dikendalikan oleh pikiran. Lebih lanjut, Arvan menjelaskan bahwa menjaga pikiran adalah kunci dari kebahagiaan (hal. 35-39). Jika Anda ingin bahagia, maka jagalah pikiran anda agar tetap berpikiran positif terhadap segala sesuatu, begitu saya menyimpulkannya. Karena itu, otak yang menjadi alat (tool) pikiran harus senantiasa dipelihara agar tetap sehat dalam operasionalnya. Bagaimana caranya? Anda bisa baca selengkapnya di halaman 40-60 buku ini.

Sejatinya, cara membaca buku ini tidaklah sulit. Meski tergolong buku tebal (jika dibandingkan dengan buku-buku Arvan sebelumnya), tapi kerangka teori buku ini sudah sangat jelas disampaikan sejak awal. Inilah kelebihan Arvan dibanding penulis-penulis buku pengembangan diri lainnya. Bangunan teori (meski di Pengantar Arvan membantah bukunya bukan buku teori) yang disampaikan penulis buku ini memberikan pesan, bahwa ada tujuh pikiran yang mesti kita pilih untuk mengantarkan kita pada ruang kebahagiaan. Tiga pikiran pertama terkait dengan diri kita sendiri, yaitu sabar (patience), syukur (gratefulness), dan sederhana (simplicity). Tiga pikiran kedua berkaitan hubungan kita dengan orang lain, yaitu kasih (love), memberi (giving), dan memaafkan (forgiving). Satu pikiran terakhir yang menjadi puncak adalah berkaitan hubungan kita dengan Sang Pencipta yaitu berserah (surrender).

Arvan mengakui bahwa bangunan teori praktis yang ditulis di buku ini bukanlah sesuatu yang baru. Jika kita membaca bukunya yang kedua yang menjadi bestseller, yaitu Life is Beautiful, konsep tentang kesabaran, bersyukur, rela memaafkan, pasrah, ikhlas, dan lain sebagainya sudah pernah dibahas. Hanya bedanya, di buku Life is Beautiful konsepnya masih berserakan. Nah, di buku The 7 Laws of Happiness ini, konsep-konsep luhur nan agung tersebut dikumpulkan agar terbentuk bangunan konsep teori yang utuh, mudah diingat, dan ada tahap-tahapannya. Sehingga, penerapannya mudah dilakukan (aplicable) oleh siapa saja. Begitu harapan penulis buku.

Saat ini, di tengah dominasi kultur masyarakat yang serba instan, membangun rumah kebahagiaan, bagi saya bukanlah sesuatu yang mudah. Sabar yang menjadi fondasi utama bangunan bagi kebanyakan orang masih terasa sulit. Orang yang sabar terkesan lambat meski esensinya tidak. Karena jika kita bersabar maka kebahagiaan terasa mudah dirasakan. Sabar di sini saya maknai sebagai sikap proaktif mengendalikan emosi dan nafsu untuk tujuan sesaat.

Arvan menempatkan sabar sebagai fondasi dan pasrah sebagai plafon bangunan, dan bukan tanpa alasan. Bagi saya, dua jalan itulah yang menjadi intisarinya, jika kita mau memeras saripati buku The 7 Laws of Happiness. Jika sabar sudah mewujud dalam perilaku, maka hanya kepasrahanlah tempat mengembalikan segala masalah. Karenanya, sabar dan pasrah bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Hadirnya buku ini, yang oleh penulisnya dianggap masterpiece, akan semakin mempertebal keyakinan kita bahwa sejatinya yang dicari dalam hidup bukanlah kesuksesan, namun lebih pada kebahagiaan yang abadi. Bukankah agama juga mengajarkan pada kita berdoa agar senantiasa hidup dalam kebahagiaan (fiddunyaa hasanah) dan mati pun juga dalam kebahagiaan (aakhiroti hasanah)? Bagaimana menurut Anda?[amb]

*Abdul Muid Badrun adalah seorang peresensi, entrepreneur, dan Associates Researcher Circle of Information and Development (CID), Jakarta.

DATA BUKU

Judul Buku: The 7 Laws of Happiness; Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia

Penulis: Arvan Pradiansyah

Penerbit: Kaifa, Bandung

Cetakan: Pertama, September 2008

Tebal: 423 halaman

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Menjadi Pemimpin Sejati Seperti Gajah Mada

Aleysius H. GondosariOleh: Aleysius H. Gondosari*

Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa pada tahun 1331, ketika ia diangkat sebagai Mahapatih Majapahit. Sumpah ini termuat dalam kitab Pararaton. Gajah Mada bersumpah tidak akan makan palapa, sebelum seluruh Nusantara dikalahkan, yaitu Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang (Semananjung), Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik (Singapura). Ini adalah visi besar Gajah Mada.

Baru 597 tahun kemudian, setelah Sumpah Palapa diikrarkan, pada tanggal 28 Oktober 1928 Sumpah Persatuan itu terdengar menggelegar lagi sebagai Sumpah Pemuda. Setelah itu, baru tanggal 1 Juni 1945, nilai-nilai dan ideologi Pancasila Gajah Mada diperkenalkan kembali oleh Soekarno dalam sidang BPUPKI.

Dengan visi Sumpah Pemuda yang tidak lain adalah reinkarnasi Sumpah Palapa, serta Pancasila yang tidak lain adalah way of life Gajah Mada, tanggal 17 Agustus 1945 berdirilah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apakah yang menjadi rahasia sukses Gajah Mada, sehingga mampu mempersatukan seluruh Nusantara, yang baru diwujudkan kembali 587 tahun kemudian?

Gajah Mada adalah seorang anak desa dari kalangan kebanyakan, yang terbukti berhasil membentuk sebuah negara besar, yang teritorialnya kira-kira sama dengan bentangan Irlandia sampai pegunungan Kaukasia (lebih luas dari NKRI sekarang). Gajah Mada telah membuat sesuatu yang hampir mustahil dilakukan orang-orang pada zamannya. Tentu akan muncul banyak pertanyaan dalam diri kita:

  • Misteri apakah yang menjadi kunci sukses seorang Gajah Mada?
  • Misteri apakah yang ada di balik suksesnya mewujudkan Sumpah Palapa yang legendaris itu?
  • Misteri apakah yang menuntun Gajah Mada bisa meniti karier dari prajurit biasa sampai mencapai puncak karier sebagai mahapatih atau perdana menteri?
  • Misteri apakah yang membentuk seorang Gajah Mada, sehingga mampu menjadi CEO Negara Majapahit yang heterogen dengan segala permasalahannya; heterogen dengan suku, bahasa, dan agamanya; dengan wilayah yang begitu luas, terdiri dari ribuan pulau dan terpisah-pisah oleh lautan?

Mohamad Hendratmoko dengan nama pena Bhre Tandes, mempelajari misteri ini selama dua tahun. Ternyata, misteri sukses Gajah Mada terletak pada kuatnya keyakinan dan konsistensi Gajah Mada dalam menjalankan prinsip-prinsip utama kepemimpinan Astadasa Kottamaning Prabhu, yaitu 18 Prinsip-Prinsip atau Kaidah-Kaidah Utama Kepemimpinan Efektif. Prinsip-prinsip tersebut bersumber dari filsafat dan way of life yang diyakininya.

Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa yang bersumber dari ajaran Mpu Tantular, dan mencerminkan spiritualitas Jawa yang bersifat holistic spirituality, memberi inspirasi pandangan hidup pada Gajah Mada. Mpu Tantular maupun Mpu Prapanca menemukan esensi Ketuhanan Yang Esa, esensi Buddha dan esensi Shiwa sebenarnya satu.

Pandangan spiritualitas semesta ini mewarnai kehidupan Gajah Mada, termasuk perilaku kepemimpinannya. Pandangan hidup tersebut membentuk visi Trihita Wacana. Visi ini menjiwai Astadasa Kottamaning Prabhu.

Inti Trihita Wacana adalah terciptanya hidup harmoni, yaitu untuk mencapai kebahagiaan dunia (jagaddhita) dan akhirat (moksa), dan di dalam kehidupan ini harus dijaga hubungan harmonis antara:

  1. Manusia dan Tuhan
  2. Manusia dan alam
  3. Manusia dan manusia (sesama manusia)

Penghayatan dan pengamalan Trihita Wacana akan membentuk sebuah kualitas hidup yang sekarang dikenal dengan kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ) secara utuh dan seimbang. Astadasa Kottamaning Prabhu mencerminkan keutuhan dan keseimbangan ketiga kecerdasan tersebut.

Secara garis besar, kaidah kepemimpinan Gajah Mada dapat diklasifikasikan menjadi tiga dimensi, yaitu: spiritual, moral, dan manajerial.

Dimensi Spiritual terdiri dari tiga prinsip, yaitu Wijaya: tenang, sabar, bijaksana; Masihi Samasta Bhuwana: mencintai alam semesta; dan Prasaja: hidup sederhana.

Dimensi Moral terdiri dari enam prinsip, yaitu Mantriwira: berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan; Sarjawa Upasama: rendah hati; Tan Satrsna: tidak pilih kasih; Sumantri: tegas, jujur, bersih, berwibawa; Sih Samasta Bhuwana: dicintai segenap lapisan masyarakat dan mencintai rakyat; Nagara Gineng Pratijna: mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, golongan, dan keluarga.

Dimensi Manajerial terdiri dari sembilan prinsip, yaitu Natangguan: Mendapat dan menjaga kepercayaan dari masyarakat; Satya Bhakti Prabhu: loyal dan setia kepada nusa dan bangsa; Wagmiwag: pandai bicara dengan sopan; Wicaksaneng Naya: pandai diplomasi, strategi, dan siasat; Dhirotsaha: rajin dan tekun bekerja dan mengabdi untuk kepentingan umum; Dibyacitta: lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain; Nayaken Musuh: menguasai musuh dari dalam dan dari luar; Ambek Paramartha: pandai menentukan prioritas yang penting; Waspada Purwartha: selalu waspada dan introspeksi untuk melakukan perbaikan.

Buku ini terdiri dari lima bagian utama. Bagian I berisi tentang latar belakang kehidupan dan karier Gajah Mada dari seorang anak desa hingga menjadi seorang Mahapatih Majapahit.

Bagian II membahas tentang Dimensi Spiritual. Bagian III membahas tentang Dimensi Moral. Bagian IV membahas tentang Dimensi Manajerial. Sedangkan Bagian V membahas tentang Refleksi, belajar dari Gajah Mada.

Selain prinsip-prinsip, di dalam buku ini juga terdapat latihan-latihan meditasi dan kontemplasi sebagai bimbingan praktis untuk meningkatkan ESQ.

Buku ini merupakan buku yang menarik dan layak dibaca oleh orang-orang yang ingin belajar tentang moral, manajemen, dan kepemimpinan dan bagi orang yang ingin menjadi pemimpin yang lebih paripurna.[ahg]

* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, pengembang online business, dan sedang menulis buku tentang sehat secara alami dengan metode Energi 5 Elemen. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail.com atau di nomor telepon: 0818116669.

bk-gjh-madaDATA BUKU

Judul Buku: 18 Rahasia Sukses Pemimpin Besar Nusantara – Gajah Mada

Penulis: Bhre Tandes

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007

ISBN : 978-979-22-3021-5

Tebal : xi + 122 hal

Ukuran : 13,5 x 20 cm

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Belajar dari Begawan Entrepreneur

ambOleh: Abdul Muid Badrun*

Alkisah, ada dua orang profesor yang sedang berdebat panjang lebar tentang ilmu mereka. Satu sama lain berusaha mengungguli dan menjadi pemenang dalam dalam debat tersebut. Salah satu profesor menyatakan, Saya sudah tahu banyak hal dalam hidup ini, sudah membaca sekian banyak teori dan buku. Jadi saya tahu semuanya.” Profesor yang satunya juga tidak mau kalah dan menyatakan hal yang sama. Salah satu profesor tadi tinggalnya di seberang sungai. Seperti biasa ketika mau pulang, profesor tadi selalu minta bantuan si tukang perahu.

Ketika mau naik perahu, profesor tadi dengan sombong bilang ke tukang perahu, “Coba tanya apa saja pasti aku akan jawab karena saya tahu semuanya…!”

Namanya juga tukang kayu bodoh yang tidak berpendidikan dan tidak punya pengetahuan, ia asal saja bertanya, “Profesor tahu tentang ilmu berenang?”

Wow, tahu dong! jawab sang profesor dengan sombong dan menerangkan banyak hal tentang bagaimana ilmu berenang. Sepertinya, semua teori berenang yang ia kuasai sudah disampaikan ke si tukang perahu.

Nah, ketika sang profesor sedang menjelaskan semuanya, tiba-tiba angin dan badai datang yang mengakibatkan perahu yang ditumpanginya terbalik ke sungai. Ternyata, si profesor itu kelelep dan megap-megap di sungai serta minta tolong sama si tukang perahu yang dianggap bodoh tersebut. Akhirnya, si tukang perahu menolong sang profesor yang tidak bisa berenang. Padahal, sebelumnya sudah menerangkan ilmu berenang secara detail.

Ilustrasi cerita di atas menggambarkan dengan jelas betapa antara TAHU dan BISA sangat jelas perbedaannya. Hal ini dijelaskan secara gamblang oleh Bob Sadino dalam buku yang ditulis Edy Zaqeus dengan judul Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila! (Kintamani, 2009).

Sekilas, membaca buku ini terasa banget aroma Bob Sadino yang selama ini kita kenal sebagai entrepreneur nyentrik. Ciri khas itu selalu ditampilkan dengan celana pendek jinsnya yang selalu dipakai ke mana saja Bob beraktivitas dan menemui tamu-tamunya. Tak jarang hal ini memunculkan keheranan dari banyak orang yang melihatnya. Hal itu bisa dilihat di lampiran buku ini (hal. 178-199).

Buku yang diangkat secara apik oleh Edy Zaqeus ini, benar-benar menceritakan sosok Bob Sadino sebagai seorang entrepreneur sejati. Bahkan, saya menyebutnya Bob adalah tokoh begawan entrepreneur Indonesia. Jiwa entrepreneurship Bob sudah mulai tampak ketika Bob lulus SMA tahun 1953 (umur 20 tahun). Saat itu, Bob merasa gelisah karena kerja di tempat orang lain (Unilever dan Djakarta Llyod) yang membuatnya tidak merasakan kebebasan yang sebenarnya.

Pertentangan batin ini membuat Bob Sadino muda memutuskan keluar dari perusahaannya dan keluar dari zona kenyamanan hidup yang ia miliki saat itu. Tahun 1967 (umur 34 tahun), Bob memulai hidupnya dari nol lagi. Yang mengherankan, saat itu Bob muda memilih untuk memiskinkan diri” karena menurutnya selama ini ia merasa hidupnya serba kecukupan. Makanya, ia ingin merasakan bagaimana rasanya jadi orang miskin! Sungguh sebuah revolusi mental yang luar biasa yang tidak dimiliki anak muda sekarang.

Dengan pilihan miskin ini, Bob seperti diberikan pelajaran yang berharga. Sampai akhirnya Bob menemukan hidupnya kembali ketika ia mulai berbisnis telur ayam negeri. Dari sinilah kesuksesan bisnis Bob Sadino dimulai. Yang menarik dan bisa jadi pelajaran kita semua adalah ketahanan mental (persistent factor) Bob Sadino yang membawanya sampai ke puncak bisnis seperti saat ini. Inilah yang belum banyak dimiliki oleh pebisnis pemula di Indonesia. Gagal adalah kesuksesan yang tertunda, jika kita punya ketahanan mental yang kuat.

Buku yang tediri dari 11 bab dan 201 halaman (plus 14 halaman pembuka) ini, sarat akan pikiran dan kisah hidup Bob Sadino. Namun, jika kita memerasnya, ada satu saripati yang bisa kita nikmati sama-sama yaitu Roda Bob Sadino (RBS), saya lebih suka menyebutnya The Entrepreneur Quadrant ala Bob Sadino. Di dalam RBS ini dijelaskan perbedaan antara orang TAHU, BISA, TERAMPIL, dan AHLI. Semuanya bisa dibaca di halaman 13-31. Ilustrasi di awal tulisan ini menjelaskan betapa belajar ilmu TAHU tidak cukup jika tidak belajar ilmu BISA. Perguruan Tinggi (PT) Indonesia menurut Bob adalah pabrik ilmu tahu dan bukan ilmu bisa. Akibatnya, PT gagal menjawab masalah pengangguran di Indonesia. Karena, lulusan yang dihasilkannya tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Oleh karena itu, hadirnya buku ini semakin menyakinkan kita semua bahwa pilihan hidup menjadi entrepreneur adalah pilihan tepat untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan di Indonesia. Kita harus menyakini pilihan ini. Ingat petuah bijak what you get is what you believe”, yang artinya; jika Anda yakin maka Anda akan mendapatkan apa pun yang Anda inginkan.

Figur Bob Sadino yang ditulis dalam buku ini menjadi motivasi dan penyemangat hidup. Apa pun kegagalan yang kita alami harus kita lalui dengan baik. Saya sangat terinspirasi dengan pesan Bob Sadino dalam salah satu kesempatan di Jakarta, “Cukup satu langkah awal, ada kerikil saya singkirkan. Melangkah lagi. Bertemu duri saya sibakkan. Melangkah lagi. Terhadang lubang saya saya lompati. Melangkah lagi. Bertemu api saya mundur. Melangkah lagi. Maju dan berjalan terus mengatasi masalah.” Bagaimana menurut Anda?[amb]

* Abdul Muid Badrun adalah alumnus FE UGM, Motivator, Entrepreneur, tinggal di Yogyakarta. Alamat: Jl. Wahid Hasyim 108, Dabag CC Depok Sleman, Yogyakarta, Hp. 0811 335 362, E-Mail: abdulmuidbadrun[at]yahoo[dot]com.

bkbobgilaDATA BUKU

Judul Buku: Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!

Penulis: Edy Zaqeus

Penerbit: Kintamani Publishing, Bekasi

Cetakan: Pertama, Januari 2009

Tebal Buku: xiv + 201 halaman

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Sulut Pikiran dan Pecahkan Kotak Belenggu

Oleh: Rina Suci Handayani*

bkprovokasiDATA BUKU

Judul: Provokasi

Oleh: Prasetya M. Brata

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2008

ISBN: 978-979-22-3720-7

Tebal: xxxvi + 246 hal

Ukuran: 13 x 20 cm

Tidak banyak orang yang mau merasa beruntung. Bagi segelintir orang, keberuntungan adalah barang langka ibarat jarum dalam tumpukan jerami. Namun bagi Prasetya M. Brata, penulis buku Provokasi, keberuntungan adalah masalah menyiasati pikiran. Tidak ada kata nasib buruk’ dan nasib baik’ dalam kamus hidupnya. Siapa pun bisa beruntung asalkan mau beruntung. Bersiaplah membuka cakrawala dan hati Anda menuju keberuntungan bersama Provokasi.

Judul yang menantang, itu yang tersirat dari buku Provokasi yang ditulis oleh Prasetya M. Brata. Dikemas dengan cover hitam elegan, buku yang sudah dicetak untuk kali kedua pada 10 Agustus 2008 ini mendapatkan sambutan positif dari pencinta buku jenis mind opener atau motivasi. Tidak sedikit yang kecele dengan judulnya yang terkesan politis. Tetapi, buku ini memang pantas dibaca oleh para politisi kita, supaya mereka lebih tersulut memberikan yang terbaik untuk negaranya.

Isinya ringan disajikan dalam bahasa yang popular, sederhana, menyulut, dan berani. Pengalaman keseharian dan aktivitas penulis tampak jelas menjadi inspirasi utama Provokasi. Bergelut dengan manusia dan sisi kemanusiaannya membuat Prasetya mampu menyajikan kasus-kasus humanis, yang kerap disepelekan dalam keseharian, menjadi sajian yang menyentuh, bersemangat, provokatif, dan menggelitik.

Gundah

Akal dan hati berada dalam satu badan namun belum tentu satu suara. Apakah rasa gundah itu lebih dulu muncul dari dalam hati lalu menuju akal untuk mencari solusinya? Atau sebaliknya? Akal menganalisis tetapi bila tidak sesuai dengan hati maka muncullah rasa gundah itu. Jawabnya sama saja ketika Anda disodori pertanyaan mana yang lebih dulu ada, ayam atau telur. Kegundahan pulalah yang menjadi titik balik Prasetya membuat sebuah blog di halaman elektronik. Inilah cikal bakal Prasetya pada akhirnya merilis sebuah buku yang diberi genre berbeda dari beberapa pembacanya.

Penerbitnya sendiri menggolongkan Provokasi termasuk kategori buku motivasi. Saat peluncuran buku ini tanggal 16 Mei 2008 yang lalu, terpampang dengan jelas di backdrop panggung diskusi bahwa buku ini dikategorikan sebagai buku mind opener. Seorang pembaca lain yang berprofesi sebagai jurnalis harian ekonomi di Jakarta lebih suka mengatakan buku ini adalah buku bergenre pengembangan diri atau self improvement.

Terlepas dari pilihan genre Provokasi, toh kentara betul gaya bahasanya memang menyulut alias provokatif. Dan, pada dasarnya jenis buku ini jamak beredar di pasar buku. Jadi, kalau dilihat dari genre buku Provokasi adalah buku yang tidak istimewa, kecuali Anda pro genre buku jenis ini, tentu bisa saja berkata lain.

Kondisi keseharian di Jakarta mendesak Prasetya untuk menuangkan kegundahannya akan perbedaan atas fakta kehidupan dan keyakinan, nilai, dan program yang ada di kepala penulis yang diakuinya berasal dari orang tua, guru, penataran P4, pramuka, dan lain-lain. Prasetya ramah dalam berkisah, alhasil puzzle kehidupan penulis tersaji dengan renyah dan mudah dicerna. Kisah-kisahnya yang secara jujur menguak pribadi penulis tidak sungkan dituliskannya. Ketika penulis menilai orang lain berdasarkan tafsirnya sendiri, yang mengarah menjadi prasangka dan mencoba mengatasinya agar prasangka tidak menjerumuskannya dalam pikiran negatif.

Suatu saat di sebuah perjalanan santai di Yogyakarta, penulis yang akrab disapa Prass ini terduduk di depan sepasang manusia yang berbeda ras. Seorang perempuan kulit putih dan lelaki lokal alias pribumi. Apa yang dilihatnya dari akivitas kedua insan itu diolahnya hanya berbekal pengalaman dan pengetahuan masa lalu Prass. Inilah yang dia katakan nyaris menjerumuskannya dalam prasangka yang memang jelas-jelas dilarang oleh Tuhan. Prass mengakui, bahwa ia hanya mengira-ngira tentang sepasang manusia itu. Padahal, perkiraannya itu belum tentu sesuai dengan kenyataannya. Kalau hal ini terjadi bisa timbul dampak yang menyebabkan ’korban’ Prass ini mungkin saja teraniaya karena hasil mengira-ngira itu.

Itulah yang Tuhan hindarkan dari sebagian prasangka, men-dzholimi orang lain yang bisa berakibat orang tersebut terfitnah, padahal belum tentu perkiraan Anda itu benar. Hati-hati, apa yang Anda lihat belum tentu sesuai dengan kenyataan. Penting untuk cek dan cek ulang sebelum menbuat pernyataan dalam benak Anda, begitu yang ingin Prass sampaikan lewat kisah Prasangka. Apa yang dituliskannya sangat mencerminkan karakter pria yang kesehariannya sibuk memberi training seputar pengembangan sumber daya manusia ini.

Berani Sekaligus Menyentuh

Siapa yang tidak bangun ketika disiram seember air sangat dingin? Kalau tidak bangun namanya terlalu. Ini penulis lakukan di kisah yang diberinya judul Hormatilah Orang yang Tidak Berpuasa. Provokasi ini mengundang pro dan kontra, yang pasti ibarat air dingin yang disiramkan kepada orang yang tertidur lelap. Responnya, ada yang bangun kemudian sadar, tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai gangguan di saat kondisi nyaman, maka timbullah kemarahan.

Menyentuh karena manusia hanya memberikan apa yang dia miliki. Kehormatan adalah hal yang harus dimiliki diri sendiri sebelum menghormati orang lain. Prasetya memecah comfort zone pembaca dengan sudut pandang yang keluar dari kotak, pakem, atau norma yang selama ini telanjur mengakar.

Apakah Anda bisa menebak? Ya, tidak sedikit kontra untuk tulisannya yang satu ini. Tetapi Prass tidak kapok menulis hal yang dianggap tidak lazim ini. Hormatilah Orang yang Tidak Berpuasa (2), dituliskannya untuk menjawab komentar yang masuk. Pertanggungjawaban Prass untuk tulisan yang satu ini memang membutuhkan keberanian, pasalnya ini adalah area publik yang cenderung dinilai sensitif. Apalagi di tengah komunitas muslim yang mendominasi, namun mengapa Prass justru terlihat membela yang minoritas ketimbang yang mayoritas? Prass punya argumen sendiri dalam bahasa yang lagi-lagi menyulut. Sungguh berani.

Pecinta Angklung

Lima tahun saya bersahabat dengan Angklung, alat musik tradisional khas Jawa Barat. Berkat jadi pemain angklung saya sudah mentas di Istana Negara, menghibur tamu negara saat Megawati menjabat sebagai presiden. Saya juga pecinta budaya Indonesia, termasuk reog yang pernah demo di depan kedutaan Malaysia sekitar bulan Februari 2008. Saat angkutan umum yang saya tumpangi melintas melewati pendemo tersebut, saya tersenyum bahagia mendukung para penari reog untuk bisa mendemo Malaysia sampai mereka kecut. Emosi negatif saya terpancing keluar berupa energi negatif berbentuk rasa kesal.

Persamaan angklung dan reog? Sama-sama diklaim oleh Malaysia. Sempat mendidih juga darah nasionalisme saya. Sampai akhirnya saya sampai di halaman 108 buku Provokasi dengan judul yang lagi-lagi berani, Malingsia. Hmm, perlahan-lahan darah saya mendingin kembali. Tidak saya sangka ternyata penulis mengapresiasi kasus ini, saya sebagai pecinta angklung jadi lebih terbuka. Ini memang masalah bersama, aset yang harus dipertahankan tapi apa masalahnya? Penulis mengembalikan kepada tafsir pembaca yang sedikit diwarnai teori isi teko ala Aa Gym. Saya kembali bertanya kepada diri sendiri, jadi apa masalahnya?

Miskin Selamanya

Ketika saya masih di bangku SD kelas enam di tahun 1989, saya masih ingat guru saya bilang negara kita adalah negara berkembang. Begitu pula ketika saya SMP, SMA, sampai perguruan tinggi. Indonesia adalah negara berkembang. Lha, kapan mekarnya, ya? Malah katanya sekarang jadi layu? Apa yang bikin layu? Apa karena kelamaan berkembangnya? Menurut saya, mungkin karena kita masih ‘miskin’.

Sangat menarik ketika saya membaca tulisan Prasetya, “Insya Allah Anda miskin terus.” Penulis yang selama 39 tahun hidupnya berada di dunia logika ini tidak segan-segan menuliskan sebuah pernyataan yang dihindari kebanyakan orang dan pemerintah: miskin. Mana ada negara yang mau jadi negara miskin.

Jika saya telaah lagi, pada dasarnya diri saya sendirilah yang membuat saya merasa miskin. Di tulisan ini Prasetya menyajikan sebuah menu andalan yang saya namakan Yakin’. Ketika saya yakin bahwa saya miskin, ya itulah saya. Ketika saya yakin saya tidak layak, ya itulah saya. Dan, yakin bukan hanya milik hati seorang manusia saja, tetapi juga milik sebuah bangsa karena bangsa terdiri dari berjuta-juta hati manusia. Kalau melihat sekeliling dalam keseharian, saya jadi sedikit mengerti mengenai kenapa Indonesiaku ini sulit termotivasi dan masih ‘miskin’.

Mind Set is Matter

Tidak ada gading yang tak retak. Prass berpendapat bahwa keberuntungan yang selalu dinikmatinya bisa datang dalam bentuk apa pun. Kritik tajam maupun pujian bagi Provokasi adalah keberuntungan yang baginya diibaratkan mutiara. Mutiara memang keras namun indah dan diperebutkan. Intan juga keras namun mahal harganya. Berbagai tulisan di Provokasi pada intinya menyulut pembaca bahwa semua bisa mudah dan menjadi beruntung asalkan kita mau. Siasati pikiran karena itulah titik awal keberuntungan yang didambakan setiap insan.

Tidak perlu berpikir berdarah bila bisa berpikir mudah. Bila berpikir bahwa menerbitkan sebuah buku itu harus berdarah-darah, maka itulah yang terjadi. Tetapi sebaliknya, jika berpikir bahwa menerbitkan buku itu mudah maka itulah yang terjadi,” katanya suatu saat dalam sebuah diskusi. Pernyataannya memang sudah dibuktikan, Prasetya sama sekali tidak memiliki rekam jejak sebagai penulis, tetapi impian berjuta penulis untuk menerbitkan sebuah buku telah lebih dulu dicapainya. Jadi, apa yang salah bila belajar dari apa yang sudah dijalankannya, meyiasati pikiran meraih keberuntungan?

Nasib Anda hari ini Andalah yang menentukan karena memang manusialah yang menentukan nasibnya. Bukan orang lain. Tuhan saja sudah mendelegasikan tugas menentukan nasib kepada manusia. Nasib tergantung dari mind set dan usaha. Yup, mind set is matter and mind opener is important. Provokasi cuma setitik dari lautan buku motivasi, mind opener, atau self improvement atau apa pun itu yang membanjiri dunia literatur.

Provokasi yang pasti tidak sepopular The Secret karya Rhonda Bryne, namun saya sangat terprovokasi mengubah mind set ketika tiba di kisah: Pulang. Saya jadi iri dengan yang sudah berpulang dan benar-benar menanti pulang. Keluar dari kotak berpikir bahwa pulang yang selama ini ditanamkan tabu untuk dibicarakan bahkan dipikirkan menjadi wajib hukumnya untuk saya bicarakan dan pikirkan setiap detik. Siapa yang tidak bahagia ketika pulang? Kalau tidak bahagia namanya terlalu.[rsc]

* Rina Suci Handayani adalah seorang wartawan, tinggal di Taman Wijaya Permai, Taktakan, Serang, Banten. Ia dapat dihubungi melalui nomor telepon 081321190873 atau pos-el: bright_solemio@yahoo.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!

bkbobgilaBob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!

Oleh: Edy Zaqeus

Penerbit: Kintamani Publishing, 2009

Tebal: xiv + 202 hal

Ukuran: 16 x 23,8 cm

ISBN: 978-979-19074-1-5

Harga: Rp169.000 (hard cover)

PENDAHULUAN

Buku ini berangkat dari gagasan yang teramat sederhana, bahwa salah satu cara yang bisa kita tempuh untuk memerangi pengangguran dan kemiskinan di negeri ini adalah dengan menempuh jalan entrepreneurship, kewirausahaan, atau kewiraswastaan. Mengapa jalan kewiraswastaan? Sebab, inilah jalan yang—sepanjang sejarah peradaban manusia—terbukti mampu menggerakkan perekonomian suatu masyarakat, bangsa, atau negara. Jalan ini pula yang telah melahirkan bangsa-bangsa besar, maju, mapan, dan makmur secara ekonomi.

Namun yang tak kalah pentingnya, jalan kewiraswastaan adalah cara-cara yang bisa dijalankan oleh hampir setiap individu yang memang tergerak untuk melakukannya. Inilah jalur bagi siapa saja yang ingin memperbaiki kehidupannya. Semua orang, berangkat dari tingkatan sosial ekonomi apa pun, bila menginginkan untuk menjalankannya, ya pastilah ada peluang dan kesempatan.

Berikutnya, setiap berlangsungnya sebuah usaha atau bisnis, biasanya akan mendatangkan efek ikutan berupa terserapnya tenaga kerja dan sumber daya ekonomi, serta rentetan usaha-usaha lainnya. Semua seperti terkoneksi membentuk suatu rantai, jejaring, atau bahkan suatu sistem interdependensi, dan bersama-sama menggerakkan roda ekonomi suatu masyarakat.

Persoalannya kemudian, bagaimana cara berwiraswasta itu? Bagaimana supaya jalan wiraswasta bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan pengangguran dan kemiskinan? Lalu, kalau ditarik ke tataran lebih besar, bagaimana caranya menggerakkan masyarakat supaya mau memilih jalan wiraswasta sebagai salah satu pilihan untuk meningkatkan kehidupan mereka?

Pertanyaan-pertanyaan besar tersebut coba dijawab oleh buku ini dengan mengetengahkan pengalaman dan gagasan-gagasan seorang pengusaha agroindustri yang sukses, yaitu Bob Sadino, pendiri Kemchicks Group. Sebagaimana yang kita kenal, Bob Sadino adalah seorang pengusaha yang benar-benar berangkat dari nol, tetapi kemudian berhasil mengembangkan bisnisnya hingga besar dan bertahan hingga lebih dari 40 tahun. Itulah sebabnya, ia tergerak untuk berbagi pengalaman dan gagasan tentang kewiraswastaan supaya semakin banyak lagi orang mau menekuninya.

Semula, buku ini dirancang sebagai sebuah buku panduan kewiraswastaan yang berisi tuntutan atau cara-cara menjalankan usaha. Tetapi, dalam perjalanan penggalian materi buku ini, ditemukan sesuatu yang lebih esensial lagi selain soal cara dan teknik berbisnis. Apa itu? Temuan itu adalah tentang mindset atau kerangka berpikir seorang entrepreneur atau wiraswastawan sejati. Soal mindset wiraswasta ini menjadi begitu penting mengingat entrepreneurship atau kewiraswastaan sesungguhnya adalah sebuah pilihan hidup yang lengkap dengan pranata dan nilainya yang khas sekali.

Ketika kewiraswastaan difokuskan ke masalah mindset, maka terkuaklah segala “penyakit” yang menyebabkan bidang ini belum menjadi pilihan utama masyarakat kita, yang sejatinya butuh kendaraan-kendaraan “tercepat” untuk meningkatkan taraf hidupnya. Dan, di sinilah, serta melalui buku inilah, kita akan dapatkan sumbangan pemikiran Bob Sadino yang cukup berarti, semisal tentang konsep kompetensi bernama Roda Bob Sadino (RBS), konsep kematangan spiritual bernama Lingkaran Bob Sadino (LBS), serta sandaran-sandaran bagi calon wiraswastawan.

Tidak itu saja, melalui galian-galian jurnalistik, buku ini menyuguhkan pemikiran-pemikiran Bob yang begitu sederhana tentang perbaikan sistem pendidikan kita. Dengan konsep RBS kita bisa menelusuri masalah-masalah paling mendasar dalam sistem pendidikan sekarang. Tak lupa, gagasan-gagasan Bob tentang langkah-langkah apa yang bisa dilakukan supaya makin banyak “orang kampus” menempuh jalan wiraswasta.

Lalu, bagi pembaca yang membutuhkan kiat-kiat sukses ala Bob Sadino, buku ini juga memberikan sebagian kecil saja dari begitu banyaknya pengalaman sukses tokoh agrobisnis sekaligus selebritis ini. Sebab, bila sudah menyangkut cara sukses berwiraswasta, Bob lebih suka mendorong orang supaya berani belajar dari pengalamannya sendiri, serta menemukan cara-cara terbaik dari pengalaman tersebut. Ini merupakan tantangan dan lecutan khas ala Bob Sadino.

Soal sandaran spiritual bagi wiraswastawan juga menjadi bagian dari pemikiran Bob Sadino yang coba ditawarkan kepada kita semua. Tanpa sandaran spiritual, yang akan dibahas dalam bab mengenai Lingkaran Bob Sadino (LBS), maka pastilah ada yang kurang dalam diri si wiraswastawan. Tanpa dimensi spiritual, keseimbangan—sebagai suatu kondisi ideal dalam bidang apa pun—tidak akan bisa dinikmati. Dan, itu bisa berarti berkurangnya “kenikmatan” menjadi seorang wiraswasta sejati.

Gagasan menjadikan wiraswasta sebagai suatu gerakan nasional untuk membangkitkan perekonomian Indonesia ternyata juga tidak bisa lepas dari dimensi ketatanegaraan. Sekilas, tampak agak jauh relevansinya dengan tema kewiraswastaan. Tetapi, melalui galian yang cermat, akhirnya terkuak betapa gerakan wiraswasta nasional membutuhkan seorang pemimpin nasional yang berlatar belakang wiraswasta, atau pastinya memiliki jiwa kewiraswastaan (entrepreneurship). Dan, justru pada topik bahasan inilah Bob telah memberikan sumbangan-sumbangan gagasan kepemimpinan ideal yang tampaknya malah sering lepas dari perhatian kita semua.

Akan tetapi, perlu digarisbawahi di sini, Bob Sadino adalah sosok yang unik, nyeleneh, fenomenal, dan memliki gaya yang khas dalam membeberkan gagasan-gagasannya. Bahkan, sebagaimana terukir sebagai judul buku ini, memang tak sedikit orang yang menganggap Bob Sadino itu gila! Sebagian dari kita yang pernah mengenali Bob secara langsung, baik dari sosok penampilan, cara bersikap, atau cara berbicaranya, barangkali cukup mafum dengan segala kontroversi yang diciptakannya.

Tetapi, bagi pembaca yang mungkin baru pertama kali berkenalan dengan Bob melalui buku ini, peringatan perlu disampaikan. Bahwa, akan ada kejutan-kejutan kecil di buku ini, yang mungkin membutuhkan kearifan serta perenungan sebelum sembarang kesimpulan dijatuhkan. Walaupun, Bob sendiri tidak pernah mau peduli dengan apa pun penyimpulan dan penyebutan khalayak atas dirinya. Termasuk sebutan “gila”, yang menurutnya justru merupakan suatu bentuk “kekaguman” terselubung atas kiprah dan pemikirannya.

Terakhir, perlu ditekankan pula di sini, bahwa buku ini hanyalah buku sederhana yang cuma bisa mencatat atau mengulas kulit-kulit luar dari kedalaman buah pikiran seorang Bob Sadino. Siapa pun pembaca buku ini, yang sebelumnya pernah kenal, berbincang, berdiskusi, atau bahkan berkerja sama dengan Bob Sadino, pasti bisa merasakan kurangnya buku ini. Dan tetap saja, Bob Sadino adalah sosok yang jauh lebih bisa “dinikmati” apabila dia “disantap” langsung, bak menyantap produk-produk Kemchicks yang sohor itu.

Selamat membaca.

Edy Zaqeus

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.1/10 (15 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Perjumpaan di Serambi Iman

Pengantar Oleh: Prof. Dr. Siti Musdah Mulia*

bkserambiimanDATA BUKU:

Judul: Perjumpaan di Serambi Iman

Oleh: Nicolas J. Woly

Penerbit: BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2008

Tebal: xxii+600 hal

ISBN: 978-979-687-464-4

Ukuran: 15×23 cm

Kata Pengantar

Buku yang tergelar di hadapan anda berjudul Pertemuan di Serambi Iman karya Nicolas J. Woly, merupakan karya ilmiah yang unik dan menantang. Unik karena temanya sangat spesifik, yaitu mengupas soal doa bersama di antara berbagai komunitas agama yang berbeda. Sebelum era reformasi acara doa bersama ini sangat sering dijumpai di Indonesia. Sayangnya, tradisi yang amat baik ini belakangan sudah mulai dihindari sebagai respons terhadap fatwa MUI tahun 2005 yang mengharamkan pluralisme, sekularisme dan liberalisme. Doa bersama dianggap sebagai salah satu bentuk implementasi paham pluralisme tersebut. Meskipun fatwa tersebut menuai kecaman dan protes sengit dari berbagai kalangan, khususnya kelompok agama yang pro-demokrasi dan pluralisme, namun pihak MUI tetap tidak peduli. Fatalnya lagi, banyak umat Islam memandang fatwa MUI sebagai peraturan yang mengikat dan harus diikuti, padahal sebagai fatwa posisinya tidak lebih dari hasil ijtihad, bisa benar dan bisa salah. Karena itu, tidak harus diterima, apalagi diamalkan.

Selain unik, kandungan buku ini menyodorkan pandangan keagamaan yang menantang umat beragama, khususnya di kalangan Kristen dan Islam, mempertanyakan kembali pandangan-pandangan teologis mereka. Sebagai umat beragama yang baik, tentu kita yakin akan kebenaran ajaran agama masing-masing. Kita yakin bahwa agama selalu mendorong ke arah kebaikan, kedamaian dan keharmonisan umat manusia. Akan tetapi, keyakinan itu sering paradoks dengan realitas yang ada. Di masyarakat selalu timbul permusuhan dan perseteruan karena alasan-alasan keagamaan. Sepanjang tahun 2005 secara kasat mata kita menyaksikan sejumlah kasus di negeri ini, seperti pengusiran orang-orang Ahmadiyah dan pembakaran terhadap masjid mereka; pembakaran gereja dan larangan umat Kristen melakukan ritual di gereja mereka; penangkapan terhadap pemimpin kelompok agama yang mengajarkan salat dengan dua bahasa; dan penangkapan terhadap tokoh-tokoh agama yang dituduh mengajarkan faham sesat.

Mengapa timbul benturan di antara penganut agama yang meyakini agamanya mengajarkan kebaikan dan kedamaian? Jawabannya simpel saja. Umat beragama umumnya selalu memandang keselamatan hanya bagi diri mereka, sedangkan penganut agama lain dipandang kafir dan sesat sehingga harus ”diselamatkan”. Bahkan, ada kecenderungan umat beragama menafikan eksistensi agama dan komunitas keagamaan lainnya. Pada umumnya, secara normatif kita meyakini Tuhan hanya satu, Dialah Pencipta manusia dan alam semesta. Keyakinan seperti ini membawa kita mengakui bahwa semua manusia adalah sederajat dan setara. Ironisnya, dalam realitas sehari-hari tidak sedikit yang menolak pandangan kesetaraan tersebut atas nama agama.

Membaca isi buku ini mengingatkan saya pada pengalaman selama berada di Prancis tahun 2006 lalu. Ketika itu saya mengambil program Visiting Professor di EHESS. Selama berada di negara itu saya mengisi hari-hari Minggu dengan mengunjungi beberapa gereja tua yang bersejarah. Saya selalu memilih waktu kunjungan ke gereja-gereja tersebut bersamaan dengan prosesi misa agar saya pun dapat menyaksikan secara langsung bagaimana saudara-saudara saya umat Kristen melaksanakan ibadah di gereja mereka. Saya bersyukur karena dapat masuk ke gereja dan menyaksikan kebaktian tanpa halangan sedikit pun, walaupun saya mengenakan jilbab, kostum yang sangat eksklusif karena secara eksplisit menyimbolkan identitas diri dan keagamaan saya.

Menarik sekali bahwa pada saat-saat prosesi ibadah berlangsung, saya tidak merasa terganggu sedikit pun. Sebaliknya, saya malah menikmati lagu-lagu kebaktian, ceramah pastor dan lantunan doa demi doa yang disampaikan oleh para pemimpin agama di gereja tersebut. Bahkan, kehadiran di gereja itu menambah rasa keimanan saya kepada Allah, Sang Pencipta. Saya semakin yakin akan kebenaran agama saya sendiri. Pengalaman saya membuktikan dengan nyata bahwa dengan menyaksikan ibadah dan doa dari komunitas agama lain justru menambah pengalaman dan tingkat spiritualitas seseorang. Pengalaman saya yang indah itu dapat pula dirasakan, baik oleh sesama Muslim maupun penganut agama lain dengan dua syarat: Pertama, bersedia terlebih dahulu membersihkan diri dari semua prasangka negatif (prejudice) terhadap agama lain; dan kedua, bersedia menata dalam dirinya suatu sikap penghargaan, toleransi dan positive thinking terhadap penganut agama lain.

Saya menyimak dan merenungi isi nyanyian, ceramah dan doa yang disampaikan dalam gereja. Menurut saya, secara substansial isinya tidak berbeda dengan apa yang disampaikan di masjid-masjid, yakni mengajak manusia untuk menyembah dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang; menyuruh berbuat baik kepada orangtua, mencintai sesama manusia dan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Melarang manusia berbuat jahat, ingkar dan durhaka, serta merusak lingkungan alam semesta. Alangkah indahnya, jika lebih banyak lagi orang Islam yang menyaksikan kegiatan misa di gereja, sebaliknya pun demikian, banyak juga di antara saudara-saudara saya penganut Kristen menyaksikan kegiatan keagamaan di masjid-masjid.

Pertanyaan kritis muncul, mengapa semua tuntunan agama yang ideal dan luhur itu tidak terwujud secara nyata dalam kehidupan pemeluk agama tersebut? Mengapa agama umumnya tidak dapat mengubah sikap manusia yang serakah dan suka menghabisi sesamanya. Agama tidak membuat manusia saling mencintai sesamanya, seperti selalu disampaikan dalam ceramah dan dilantunkan dalam nyanyian dan doa, baik di dalam masjid maupun di gereja. Dari sini saya lalu memahami mengapa ada orang-orang yang menganjurkan untuk hidup tanpa agama, seperti A.N. Wilson, seorang novelis dan wartawan dari Inggris.

Wilson menulis sebuah buku berjudul Against Religion: Why We Should Try to Live Without It (Melawan Agama: Mengapa Kita Harus Mencoba Hidup Tanpa Agama?). Bagian pendahuluan buku itu memaparkan pandangan Wilson yang mengecam agama dengan sangat kritis: ”Alkitab (Bibel) mengatakan bahwa cinta uang adalah akar segala kejahatan. Mungkin lebih benar lagi kalau dikatakan bahwa cinta Tuhan adalah akar segala kejahatan. Agama adalah tragedi umat manusia. la mengajak kepada yang paling luhur, paling murni, paling tinggi dalam jiwa manusia. Akan tetapi, kenyataannya hampir tidak ada sebuah agama pun yang tidak ikut bertanggung jawab atas berbagai kerusuhan, tirani dan penindasan kebenaran. Marx menggambarkan agama sebagai candu rakyat; tetapi agama jauh lebih berbahaya daripada candu. Kalau candu membuat orang tertidur, maka sebaliknya agama tidak membuat orang tertidur. Agama justru mendorong orang untuk menganiaya sesamanya; agama membuat orang membanggakan diri dan kelompoknya, serta merendahkan kelompok lain; agama membuat orang bersikap arogan dan sektarian, hanya memandang diri dan kelompoknya saja yang benar dan mengklaim kebenaran bagi agama mereka sendiri”.

Kecaman Wilson terhadap agama patut menjadi renungan kita bersama para penganut agama. Bahwa dalam beragama, selalu ada potensi konflik dan perusakan atau permusuhan yang amat berbahaya. Jika pandangan Wilson diketengahkan ke publik, pasti banyak kelompok agama menyanggahnya sambil mengajukan argumentasi pembelaan terhadap agama. Para pembela agama akan mengatakan bahwa meskipun konflik dan permusuhan atas nama agama senantiasa muncul di kalangan para penganut agama, namun agama tidak dapat dipersalahkan. Yang salah ialah para penganutnya, karena tidak memahami sekaligus mempraktikkan ajaran agama secara benar.

Sekilas tampak jawaban itu benar. Tidak demikian bagi seorang yang kritis. Sebab, begitu mudah membalik argumen itu dengan mengatakan: kalau agama itu sungguh-sungguh benar, tetapi tidak mampu membenahi perilaku para pemeluknya, lalu bagaimana membuktikan kebenaran agama itu? Dan apa gunanya agama yang benar, tetapi tidak mempengaruhi watak dan perilaku para pemeluknya?

Senada dengan Wilson, Nurcholish Madjid, pionir pemikir Muslim di Indonesia menulis sebagai berikut. ”Kita semuanya mengetahui bahwa sebelum Zaman Industri, perang banyak terjadi atas dorongan agama. Setelah Zaman Industri tiba, perang banyak didorong oleh rebutan harta. Dan kita tidak dapat begitu saja menilai bahwa perang atas nama agama adalah lebih mulia daripada perang atas nama harta, kecuali jika kita termasuk dan ada dalam pihak golongan agama yang berperang itu sendiri. Jika kita berada dalam agama ketiga, di luar dua agama yang sedang berperang, kita akan tersenyum mengejek karena memandang bahwa peperangan yang terjadi antara dua agama (yang bukan agama kita itu) adalah suatu ironi dan tragedi, karena perang itu merupakan usaha saling menghancurkan oleh dua pihak yang (dalam pandangan kita) sarna-sama palsu (karena kedua agama itu bukan agama kita sendiri dan tidak seperti agama kita sendiri). Jadi perang itu adalah suatu perang atas nama kepalsuan, dari kedua pihak, yang membuat perang semacam itu tidak masuk akal. Karena itu perang atas nama harta tentunya masih lumayan lebih baik, karena masih lebih masuk akal! Suatu logika yang tidak terlalu buruk!”

Tapi jika kita termasuk dan berada di pihak suatu agama yang berperang dengan agama lain, maka dengan sendirinya perang itu adalah perjuangan sebuah kebenaran melawan dan menghancurkan kepalsuan. Adakah nilai hidup yang lebih tinggi daripada perjuangan menegakkan kebenaran melawan kepalsuan? Kita pun akan meyakini adanya unsur kesucian dalam perang serupa itu, sehingga mati di dalamnya adalah kehormatan yang besar, sebagai syahid atau martir. Dan pandangan itulah yang sering salah kaprah disebut dengan jihad dalam masyarakat Muslim. Dilema bahwa agama mengajak kepada kebaikan, dan semakin orang yakin kepada agamanya, adalah semakin baik. Akan tetapi, realitasnya justru ”orang baik” itu semakin kuat membenarkan dirinya untuk tidak toleran kepada orang lain, bahkan merasa berhak mengejar-ngejar orang yang tidak sepaham dengan dirinya, dan ironisnya ia justru menjadi sumber konflik itu sendiri.

Solusi yang ditawarkan Nicolas J. Woly dalam buku ini cukup realistis, yakni dialog agama. Ia menyodorkan sebuah istilah yang menggugah, yakni ”pertemuan di serambi iman” yang kemudian dipilihnya menjadi judul buku. Para pemuka agama ditantang untuk menggagas sebanyak mungkin pertemuan di serambi iman dalam bentuk dialog agama. Dialog hendaknya dimulai dengan melakukan rekonstruksi terhadap konsep misionarisme yang dalam Islam dikenal dengan konsep dakwah amar makruf nahi munkar.

Konsep amar makruf nahi munkar pada dasarnya lebih menekankan makna kasih sayang, yakni agar manusia saling mengasihi sesamanya. Sikap saling mengasihi di antara sesama manusia inilah yang pada hakikatnya akan mewujudkan kebajikan dan melenyapkan kejahatan di masyarakat. Menurut saya, dakwah merupakan tugas yang harus dijalankan oleh agama, tetapi persoalannya, bagaimana merumuskan kembali tugas dakwah itu agar sejalan dengan prinsip toleransi dan penghargaan positif terhadap agama-agama lain. Ini demi kepentingan agar tidak menimbulkan kecurigaan dan prasangka-prasangka negatif yang mungkin mengarah pada timbulnya berbagai konflik yang tidak diinginkan.

Pemahaman distortif terhadap konsep misionarisme ini sering pula diperparah oleh berbagai kepentingan politis dari kelompok-kelompok tertentu. Masuknya berbagai pengaruh politik dalam kehidupan umat beragama di Indonesia setidaknya disebabkan oleh adanya tiga faktor. Pertama, adanya kecenderungan pada pihak-pihak tertentu, terutama yang memiliki wewenang dan kekuasaan, untuk menyalahgunakan kekuasaan atau wewenangnya. Kedua, masih rendahnya pemahaman dan kesadaran umat beragama terhadap esensi ajaran agama mereka masing-masing. Dan, ketiga, fakta bahwa penegakan hukum (law enforcement) di negeri ini masih sangat lemah dan seringkali pula bersifat diskriminatif.

Sebagai langkah awal dalam dialog, perlu segera disosialisasikan pengertian bahwa agama pada dasarnya bukan merupakan tujuan hidup manusia, melainkan hanyalah sebuah jalan menuju Tuhan. Akan tetapi, kebanyakan penganut agama telah telanjur menjadikan agama sebagai tujuan. Bahkan, tidak sedikit yang mempertuhankan agama!

Akhir kata, saya mengapresiasi setinggi-tingginya karya tulis ini sebagai sebuah upaya merajut kerukunan, keharmonisan dan kedamaian hakiki menuju masa depan Indonesia yang lebih demokratis dan beradab. Doa saya, semoga buku ini kelak menjadi perekat di antara Muslim dan Kristen, dua komunitas agama yang selama ini sering menjauh satu sama lain, padahal mereka berasal dari bapak yang satu, Nabi Ibrahim. Amin.

* Prof. Dr. Siti Musdah Mulia M.A., lahir di Bone, Sulawesi Selatan pada 3 Maret 1958. Ia dikenal sebagai tokoh feminis muslim terkenal di Asia. Pendidikan S-1 ditempuh di Jurusan Bahasa & Sastra Arab, Fakultas Adab, IAIN Alaudin, Makassar (1982). Pendidikan S-2 ditempuh di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dalam bidang Sejarah Pemikiran Islam (1992). Pendidikan S-3 ditempuh di tempat yang sama di bidang kajian Pemikiran Politik Islam (1997). Pada tahun 2008 menerima Yap Thiam Hien Award, sebuah penghargaan di bidang HAM. Ia telah menulis sekurang-kurangnya 18 buku bidang kajian hukum dan politik Islam, perempuan, sejarah, dll.

** Catatan: Kata Pengantar Prof. Dr. Siti Musdah Mulia M.A., di atas dimuat atas izin dari penerbit BPK Gunung Mulia. Info penerbit: publishing[at]bpkgm[dot]com atau www.bpkgm.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.8/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

63 Ayat Titipan untuk Para Capres

Oleh: Edy Zaqeus*

DATA BUKU

bk-63-ayatJudul: 63 Ayat Dasar Seandainya Saya Jadi Presiden

Oleh: Dr. Todung Lumban Toruan

Penerbit: Pustaka Mina, Jakarta, 2008

Halaman: 236 hal

ISBN: 978-979-3756-35-6

Harga: Rp 35.000,-

Terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden AS jelas menumbuhkan kegairahan tersendiri di kalangan para politisi nasional, terlebih bagi mereka yang mengharapkan adanya perubahan politik pada pemilu 2009 nanti. Tak ayal lagi, sejumlah politisi, baik muka baru maupun muka lama, serasa tambah bersemangat saja untuk maju sebagai calon presiden. Alhasil, saat ini muncul begitu banyak nama capres, dan diperkirakan akan semakin ramai pula mendekati pemilu legislatif dan pemilu presiden ke depan.

Tapi, kalau diamati dengan lebih saksama, barangkali bisa dirasakan adanya keganjilan dalam dinamika bursa capres ala Indonesia ini. Mudah sekali menemukan sosok yang meminati kursi kepresidenan, namun susah amat mengetahui platform politiknya, terlebih detail program yang akan dikampanyekan atau diusung untuk mendulang suara pemilih. Makanya, apa yang sering kita saksikan dalam iklan-iklan politik para tokoh politik maupun parpol—baik di media cetak maupun elektronik—hanyalah serangkaian slogan-slogan tanpa kejelasan program politik ke depan.

Dalam konteks itulah, menarik rasanya mengintip buku sederhana karya Dr. Todung Lumban Toruan yang berjudul 63 Ayat Dasar Seandainya Saya Jadi Presiden (Pustaka Mina, 2008). Menilik judulnya, buku ini seolah cukup ambisius untuk digunakan—oleh penulisnya—sebagai alat kampanye calon presiden. Tapi, sejauh yang bisa dikorek informasinya dari forum publik, penulisnya sendiri justru tidak (atau belum?) memaksudkan bukunya sebagai jembatan untuk meraih kursi RI-1. Malahan, penulisnya menitipkan gagasan-gagasan dalam buku ini kepada setiap partai politik atau bakal calon presiden, supaya mereka menjadikannya sebagai pedoman berkampanye atau memerintah nantinya.

Sistematika buku ini cukup mudah diikuti, karena bab-babnya terdiri dari 63 tulisan pendek—barang tiga sampai lima halaman—yang berisi pembahasan topik-topik pemerintahan terpenting. Kalau kita pakai parameter ipoleksosbudhankam, boleh dikata buku ini sudah mencakup semua unsur dalam akronim populer era Orde Baru tersebut. Jadi, buku ini bisa diibaratkan sebagai “GBHN” yang siap dipromosikan di masa kampanye atau sungguh-sungguh dijalankan sebagai program pemerintahan.

Yang menarik, beda dengan buku-buku analisis politik lainnya, buku ini sangat kaya dengan gagasan alternatif. Tidak selalu baru memang, tetapi ketika gagasan-gagasan alternatif tersebut dikompilasi dalam buku semacam ini, terasa ada kekuatan lebihnya. Mengapa? Sebab, buku ini tidak sekadar menganalisis kelemahan-kelemahan pelaksana pemerintahan dan jalannya pembangunan. Namun, buku ini juga mengajukan pikiran-pikiran atau gagasan-gagasan yang sarat dengan alternatif solusi. Pendek kata, tidak hanya mengkritik, tetapi juga punya solusi secara gagasan.

Dari 63 Ayat ala Todung ini, simak misalnya Ayat 7 yang menyatakan, gubernur, bupati, dan walikota harus magang di luar negeri supaya bisa mempercepat pembangunan nasional (hal. 33-35). Lalu, ada Ayat 20 yang mengajukan pemikiran supaya kurs rupiah disamakan dengan kurs mata uang internasional (hal. 74-76). Juga ada Ayat 36, dengan gagasan supaya pemerintah memudahkan dan mengratiskan pengurusan sertifikat tanah (hal. 131-134). Atau, Ayat 41 yang menganjurkan supaya ada pemanfaatan pulau-pulau kosong secara produktif (150-153).

Dihadapkan pada suhu politik yang bakal menghangat, akan mudah sekali mendapati komentar atau analisis yang sarat dengan kecaman. Lihat saja berita-berita di media massa atau acara-acara debat di televisi sudah menunjukkan indikasi tersebut. Bagi mereka yang jeli, akan terasa sekali, betapa sulitnya menemukan ide-ide atau pemikiran-pemikiran yang bernas, berbobot, bisa dipertanggungjawabkan, kaya dengan solusi, dan bersifat produktif bagi masyarakat.

Memang, buku karya pegiat bidang pendidikan ini tak luput dari aneka kelemahan. Semisal, gagasan-gagasan yang tidak dieksplorasi secara lebih mendalam, solusi sering tidak fokus dan detail, atau bahkan kelemahan elementer seperti soal tata bahasa dan ejaan. Bahkan, ada saja ketidaktelitian editor (atau bahkan tanpa editor?) yang bisa menurunkan “wibawa” penulisnya, contohnya meloloskan keterangan mata uang Singapura adalah ringgit, bukan dollar Singapura (hal. 75).

Namun, pada situasi seperti sekarang, buku sejenis ini, yang memang tidak banyak jumlahnya, layak untuk dibaca dan dijadikan “penyegar” pikiran, atau bahkan “tonikum” bagi kekayaan wawasan kebangsaan kita. Buku ini juga bisa jadi contoh bagi siapa pun yang ingin memberikan kontribusi pemikiran kepada masyarakat. Jadi, masih banyak hal positif yang bisa diambil ketimbang memikirkan kekurangannya.[ez]

* Edy Zaqeus adalah editor AndaLuarBiasa.com.


VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox